Title : "My Sweet Namja"

Author :

Main Cast : Park Jimin

Min Yoongi

Other Cast : BTS members

Genre : romance (maybe)

Legth : chaptered

Summary :"hey Jimin.. bagaiman kalau kita taruhan! Jika kau berhasil membuat namja galak penjaga perpustakaan itu tertarik padamu aku akan menuruti semua keinginanmu". "namja sialan!" . "aku mulai menyukainya" . "kau sudah gila park jimin!"

Note : ff ini murni pemikiran saya, jika ada alur atau watak dari tokoh yang mirip dengan ff lain itu bukanlah unsur kesengajaan. Don't be plagiat~

Happy Reading

My Sweet Namja

"apa jangan-jangan dia itu kekasih si galak ya?" Jimin bertanya pada dirinya sendiri, kemudia ia kembali memukul pelan kepalanya. Merasa frustasi karena sampai sekarang Jimin masih tidak memperoleh info apapun tentang namja taruhannya itu.

"aish.. pokoknya aku harus mendapatkan namja itu dan memenangkan taruhan ini!"

.

.

.

.

.

Chapter 4

"arghh! Hujannya kenapa belum reda-reda sih?" gerutu namja bersurai hitam yang kini masih berdiri di depan sebuah toko buku, sesekali ia terlihat menggosokkan kedua tangannya –berusaha menghangatkan diri.

"hey Jimin!" terdengar sebuah teriakan tak jauh dari samping kiri Jimin, Jimin-pun langsung menoleh. Dan sedetik kemudian wajahnya menunjukkan ekspresi malas.

"heung.. apa?" jawab Jimin dengan nada datar, ternyata yang memanggilnya tadi adalah sahabatnya –Kim Namjoon– yang menyuruh dia melakukan taruhan bodoh untuk mendapatkan hati seorang Min Yoongi.

"kenapa menatapku dengan wajah menyebalkanmu itu hhuh? Bagaimana perkembanganmu untuk mendapatkan namja galak itu?" Namjoon memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket miliknya, sepertinya mereka berdua tengah kedinginan akibat hujan yang tak kunjung reda sejak hampir satu jam yang lalu.

"aish diam saja kau hyung! pokoknya kau tunggu beresnya saja.." Jimin kembali menggosokkan kedua tangannya agar sedikit hangat, Namjoon sedikit melirik ke arah kantung plastik yang sejak tadi di bawa Jimin. Merasa penasaran, ia-pun menarik agak kasar kantung plastik tersebut. Lalu sedikit melongokkan kepalanya kedalam kantong plastik tersebut. Dan sedetik kemudian terdengar Namjoon tertawa agak keras, membuat Jimin yg berdiri di sebelahnya menatap tajam ke arah temannya tersebut.

"whahahaha.. aduh.. benar ini buku semua kau yang beli Jimin?" Namjoon masih tertawa sambil memegangi perutnya karena geli melihat buku-buku penuh warna yang Jimin beli.

"yak! Berhenti menertawaiku hyung! itu bukan untukku.. aishh" Jimin mengerag frustasi, karena sudah 2 orang –termasuk namja galak– yang mengejeknya gara-gara ia membeli buku-buku penuh warna tersebut.

"ahahaha.. lalu kau membelinya untuk siapa? anak tetanggamu hah? Hhahaha" Namjoon masih saja tertawa mengejek Jimin, Jimin langsung menarik kasar kantong plastik yang sejak tadi sudah berpindah tangan darinya.

"hhuh.. bukan urusanmu hyung, aku pulang dulu ya, annyeong" Jimin mendengus kesal lalu dengan cepat menuju berjalan menuju parkiran untuk mengambil motornya dan segera pulang kerumah, meninggalkan Namjoon di depan toko sendiri yang masih terbengong-bengong karena kelakuan Jimin barusan.

.

.

.

Jimin memutuskan untuk mampir sebentar ke rumah Jungkook saat ia kebetulan lewat di depan rumahnya, sepertinya Jungkook juga baru pulang dari keluar bersama kekasihnya. Jimin segera memarkirkan motor miliknya di halam depan rumah Jungkook, dengan segera ia menghampiri Jungkook yang tengah ngobrol di teras depan bersama Taehyung.

"annyeong" Jimin menyapa Taehyung dengan nada ramah dan di balas dengan senyuman oleh Taehyung.

"temanmu Kook-ah?" tanya Taehyung pada kekasihnya.

"sekaligus hyung tentunya hehe, duduklah Jimin hyung" ucap Jungkook segera mempersilakan Jimin untuk duduk di kursi yang masih kosong.

"emm Kookie aku pamit dulu ya? ini sudah sore.." Taehyung segera bangkit, dan mengambil jaket miliknya yang tersampir di kursi. Sebelum kemudian mengacak lembut puncak kepala Jungkook membuat sang pemilik tersenyum. Sedang Jimin memperhatikan pasangan yang tengah ber lovey-dovey itu dengan tatapan malas. Setelah Taehyung benar-benar pergi, Jimin segera menatap Jungkook dengan tajam, Jungkook yang merasa di pandangi segera menoleh.

"apa?"

"bagaimana tugasmu mencari info tentang si galak itu?" Jimin mulai menginterogasi Jungkook, sedang Jungkook malah menunduk memainkan ujung pakaiannya, lalu kembali menatap Jimin takut-takut.

"eng.. anu itu hyung.. a-aku tidak bisa membantumu.. s-soalnya itu dia—ternyata kakaknya Tae Hyung"

"aishh.. kau kan sudah berjanji Jungkook-ah, lalu aku harus bagaimana?!" Jimin mengerang frustasi mendengar jawaban namja bersurai merah gelap di depannya yang kini tengah menunduk.

"m-mian hyung.. aju benar-benar minta maaf~" Jungkook kembali menatap Jimin yang kini tengah mengacak-acak rambutnya sendiri.

"aishh.. ne ne.. aku akan berusaha sendiri, aku pamit pulang dulu" Jimin langsung berdiri dan segera menyambar kunci motornya dengan kasar, sebelum kemudian ia pergi ke halaman rumah Jungkook. Sepertinya Jimin benar-benar terlihat frustasi hanya karena memikirkan tentang taruhannya dengan Namjoon dan Hoseok. Jungkook jadi merasa tidak enak pada Jimin karena tak bisa membantunya. Tapi mau bagaimana lagi? Dia tidak mau berurusan dengan kakak kekasihnya sendiri, apalagi kalau sekarang ini kakak kekasihnya tengah di jadikan bahan taruhan oleh Jimin.

.

.

.

.

Yoongi menggeliat tak nyaman saat cahaya matahari menerobos masuk ke dalam kamarnya melalui celah-celah jendela kamarnya. Ia sedikit mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina miliknya. Yoongi bermaksud membungkus dirinya dengan selimut tebalnya lagi jika saja tidak ada suara pintu kamar yang terbuka dengan cukup keras, Yoongi sedikit memanyunkan bibirnya saat tau yang melakukan hal barusan itu Jin.

"aish hyungie.. kau mengganggu saja, aku masih mengantuk" kini posisi Yoongi sedang duduk menyadar di kepala ranjang masih dengan selimut yang ia lilitkan di tubuhnya, juga mata yang setengah terpejam dengan bibir yang mengerucut lucu. Membuat Jin yang melihat itu terkekeh, adik angatnya yang satu ini sangat menggemaskan di matanya. Jin segera duduk di tepian ranjang sebelum kemudian mengacak gemas suari karamel itu membuat pemiliknya semakin menatapnya dengan pandangan kesal, sementara Jin kembali terkekeh melihat hal itu.

"kkk mian.. aku mengganggu tidurmu ne? aku hanya ingin mengajakmu ke panti asuhan yang biasa kau datangi.. ada banyak pakaian sumbangan dari kampus hyung. mau menemani hm?" tanya Jin lembut saat menyadari Yoongi masih terlihat mengantuk, sepertinya semalam ia begadang lagi untuk membaca buku barunya. Mendengar ajakan Jin barusan membuat kedua mata sipit itu seketika melebar, membuat Jin semakin gemas saja dengan tingkah adiknya ini.

"panti asuhan? Ah kenapa tidak bilang dari tadi? Yoongi mandi dulu ya hyung.. tunggu di depan" Yoongi dengan cepat melompat dari kasurnya sebelum kemudian ia berlari masuk ke kamar mandi, Jin menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Yoongi yang dengan cepat terlihat begitu semangat saat mendengar akan berkunjung ke panti asuhan.

Sekitar setengah jam kemudian terlihat Yoongi keluar dari kamarnya dengan berpakain sedikit 'berbeda' dari biasanya. Kini ia mekai celana denim warna biru gelap, sneaker putih, dan hoodie santai berwarna senada dengan sneaker yang ia kenakan. Terlihat err.. lebih manis dari sebelumnya. Jin menatap Yoongi dengan pandangan yang sulit di artikan, pasalnya Yoongi tak pernah memakai pakaian yang seperti itu saat akan berpergian.

"tumben sekali memakai pakaian seperti itu?" tanya Jin kemudian –masih tak sadar ada yang kurang yang biasanya selalu di pakai Yoongi– saat mereka sudah berada di dalam mobil.

"memangnya aku terlihat aneh ya hyung kalau memakai pakaian seperti ini? Apa aku perlu ganti pakaian seperti biasanya?" Jin segera menggelengkan kepalanya cepat lalu tersenyum ke arah Yoongi.

"jangan.. begitu saja, adikku terlihat semakin manis kalau begitu" ucap Jin masih dengan tersenyum tanpa sadar jika perkataannya barusan itu menimbulkan rona merah samar di kedua pipi Yoongi. Demi apa, walaupun Jin masih membubuhkan kata 'adik' saat berbicara begitu, tetap saja mereka bukanlah saudara kandung dan perkataan itu membuat Yoongi sedikit—tersipu.

.

.

.

.

Di saat yang bersamaan Jimin sedang melajukan motornya dengan kecepatan sedang, terlihat ia membawa 2 kardus sedang yang ia letakkan di bagian belakang motornya. Jimin menghentikan motornya di sebuah bangunan yang cukup luas, dengan pagar tanaman hidup yang mengelilingnya menambah kesan asri bangunan tersebut. Jimin segera melepaskan ikatan tali pada kardus-kardus yang hendak ia bawa ke dalam. Dengan wajah tak lepas dari senyuman Jimin melangkahkan kakinya ke dalam, sesekali ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling sebelum kemudian ia kembali tersenyum.

"hhah.. sudah lama aku tidak kemari ck gara-gara kesibukan kuliah sih kkk" kalian pasti penasaran sedang ada di mana namja tampan yang selalu memakai eyeliner tebal ini. Jadi mari kita lihat—kedua manik hitam itu sedikit menyipit berusaha memperjelas pengelihatannya saat ia memandangi segerombolan anak kecil yang tengah tertawa bersama sambil memainkan sesuatu di tengah-tengah mereka. Tapi bukan itu yang membuatnya begitu penasaran, melainkan dengan seorang namja yang memakai hoodie putih yang kini tengah duduk menyamping. Jimin tidak bisa melihatnya begitu jelas karena namja yang kini tengah bermain dengan anak-anak itu menutupi kepalanya dengan penutup hoodie miliknya. Tanpa sadar Jimin melangkahkan kakinya mendekat ke arah segerombolan anak-anak yang tengah bermain tersebut.

"permi—si" Jimin melebarkan matanya ketika namja yang membuatnya penasaran tadi sedikit mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang bersuara barusan.

"kau lagi?!" teriak mereka bersamaan, membuat beberapa anak yang tengah bermain disana kaget. ya namja itu adalah Yoongi. Jadi ternyata Jimin juga tengah berkunjung ke panti asuhan yang sama dengan Yoongi. Suatu kebetulan yang menyenangkan bukan?

"ishh dunia ini sempit sekali sih?" Yoongi mnggerutu pelan, sementara Jimin sedikit menyeringai saat menyadari ada kesempatan untuk mendekati targetnya.

"mungkin kita... jodoh" ucap Jimin asal membuat Yoongi kembali mendelik ke arahnya, baru saja ia akan membalas ucapan tidak sopan yang di lontarkan Jimin, sebuah suara kecil dari arah sampingnya membuatnya mengurungkan niat tersebut.

"Jimin oppa~" suara gadis kecil yang duduk di sebelah Yoongi membuat Jimin menghentikan seringaiannya, tatapannya kembali melembut sebelum kemudian ia ikut berjongkok seperti yang lain dan menaruh kardus yang dibawanya.

"hey.. Yuki-ya~ kau merindukan oppa? Kkk kemarilah.." Jimin sedikit merentangkan tangannya yang di sambut dengan gembira oleh gadis kecil yang memanggilnya tadi. Ia segera berdiri dan menghambur ke pelukan Jimin, sementara Yoongi yang melihat hal itu sedikit terkesan dengan Jimin, oke garis bawahi hanya SEDIKIT! Ia tak mengira namja dengan dandanan badboy itu bisa bersikap selembut ini pada anak-anak di panti asuhan disini. Dan.. mereka terlihat akrab dengan Jimin.

'apa dia sering kemari? Kenapa aku tak pernah melihatnya ya?' Yoongi mendadak penasaran dengan namja bermarga Park di depannya ini.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Note : hai.. hai.. maaf sebelumnya karena update untuk chap 4 lama -_- ini karena saya sangat sibuk akhir-akhir ini dan mungkin untuk beberapa mingu ke depan. Jadi maaf jika membuat para readers menunggu terlalu lama hehe. Terimakasih untuk kalian semua yang sudah setia menunggu update-an ff ini, terimaksih juga untuk yang sudah me-riview. untuk chapter selanjutnya tetap di tunggu ya? and the last.. RnR Please~ :D