"Dia in house guest. Penghuni Oriental Suite. Kamarnya nomor 3319. Dia tidak pernah komplain atau pesan yang aneh-aneh selain in room dining untuk sarapan jam 5 pagi setiap hari. Malah kadang-kadang pihak guest relation yang menelponnya setiap hari untuk mengecek keperluannya."
Itu adalah penuturan ayahnya ketika Atsushi menanyakan perihal kakak kelasnya yang tampan, Dazai Osamu, yang entah kenapa bisa tahu nama Taiwan Nakajima Sanosuke, ayahnya Atsushi. Ayahnya bekerja sebagai asisten manager bagian guest relation di Mandarin Hotel, di daerah Nihonbashi. Dan Dazai ternyata tinggal di salah satu kamar termahal di hotel itu sejak empat tahun silam.
"Empat tahun?!" Atsushi terperanjat. "Sekamar itu harganya berapa?"
"Semalamnya saja sudah lebih dari ¥190.000." Tutur ayahnya. "Dan anak itu tinggal sendirian di hotel. Ayahnya membayar tagihan kamar setiap enam bulan sekali. Tapi tagihan makan dan pengeluaran lain ia bayar sendiri pakai kartu debit."
"Tou-san tahu banyak soal dia, ya." Gumam Atsushi.
"Habis memang aku yang mengurus segala keperluannya. Dia tamu VIP." Ayahnya tertawa canggung. "Aku juga tahu kalau dia satu sekolah denganmu. Tapi ayah tidak pernah bilang. Karena dia kakak kelasmu, siapa tahu kalian malah tidak saling kenal."
"Awalnya tidak." Atsushi menggumam. "Dan aku kaget waktu dia tahu nama Taiwan tou-san."
"Oh, iya. Soalnya aku baru mengurusnya tiga tahun belakangan. Saat aku baru-barunya pindah dari Mandarin Hotel Taipei. Dazai-sama tahu aku orang Taiwan, dan dia lebih suka memanggilku dengan nama Taiwan."
"Dia kaya banget berarti, ya." Atsushi bergumam.
"Kalau dilihat dari harga kamar yang ditinggalinya, memang." Ayahnya menimpali. "Tapi dia tampak tidak senang tinggal di hotel."
Atsushi teringat bagaimana cerita tentang kehidupan masa lalu Dazai. Ia membiarkan ayahnya siap-siap pergi kerja, sementara ia menenggelamkan diri dengan berlatih lagu baru yang diminta Ranpo. Ayahnya memberi kecupan singkat sebelum pergi dan Atsushi kini tinggal sendiri dirumah.
TRING!
Atsushi melirik ponselnya. Ada sebuah pesan pribadi dari akun instageramnya.
rashomon: [oy, jinko]
rashomon: [main nggak?]
rashomon: [aku di taman yang kemarin]
Gadis berambut kelabu keperakan itu melihat jam. Ia mengganti pakaiannya, mencari sepatu olahraga dan membalas pesan dari Akutagawa.
[Setengah jam lagi aku kesana].
"Lama banget!"
Atsushi berlari sprint setelah Akutagawa menerornya lewat pesan. Si kakak kelas ceking itu terbatuk. Ia menunggu Atsushi di taman ini selama empat puluh lima menit. Mukanya yang supet jutek terlihat dua kali lebih ketus.
"Warui na... " Atsushi membalas. "Lagian ngajaknya dadakan."
"Soalnya aku tahu kau pasti nganggur."
"Sembarangan. Sotoy ih kayak paranormal."
"Kalau kau ada urusan pasti kau menolak, kan?"
Atsushi terperangah. Benar juga, sih.
"1 on 1 lagi, nih?" Tanya Atsushi sambil perenggangan. "Bawa inhaler, nggak? Aku nggak mau jadi tertuduh kasus pembunuhan karena mengajakmu sparing lho, ya!"
"Iyalah. Mau 3 on 3 sama siapa memang? Tiang jemuran tetangga?" Akutagawa melakukan dribble dan drive untuk pemanasan.
"Tokoro de..." Atsushi menguncir rambutnya. "Ini sudah masuk bulan kedua tahun ajaran baru, kenapa kau masih sibuk main basket? Nggak belajar atau gimana, gitu?"
Akutagawa mematung. Ia berbalik dan membuang muka.
"...ini dimana? Aku siapa...?"
"WOY APA-APAAN REAKSIMU?!" Atsushi menjerit kesal. Ia menghela nafas dan menggaruk tengkuknya dengan canggung. "Apa jangan-jangan kau sengaja sibuk main basket biar nggak belajar, ya?"
Akutagawa berbalik. "Bukan gitu. Aku...jenuh belajar. Jadi anak kelas 12 itu capek. Banyak PR banyak tugas, banyak tryout."
"Wajar, kan? Namanya juga mau lulus." Atsushi menimpali. "Kalau gitu, kita main satu set saja. Terus kutemani kau belajar."
"Ogah. Mending aku main sama tembok."
"Akutagawa-san, kau ini keras kepala banget, sih..."
"Aku nggak mau dinasehati sama anak yang kerjanya ngeband terus."
"Tapi aku tetap mengerjakan semua tugas dan PR-ku, hey!"
Akutagawa mendengus. Ia mendribble lagi bolanya.
"Ya sudah. Satu set saja."
"Aku nggak jamin kau bakalan belajar kalau pulang, sih."
"Aku janji." Akutagawa membalas cepat. "Kau ikut kerumahku. Temani aku belajar."
Atsushi mendengus. "Nggak mau."
"Kheh!" Akutagawa tercekat. "Kenapa? Tidak ada yang menyuruhmu menolak tawaranku!"
"Memangnya kenapa aku harus terima? Memang kau ini siapa?"
"Aku..." Akutagawa terbatuk-batuk. Jeda sebentar menandakan mungkin Akutagawa sedang memikirkan jawaban. "Uhuk...uhmm...aku ini senpai-mu!"
"Itu juga aku sudah tahu, elah." Atsushi merenggangkan pundaknya. "Kalau begitu, hari ini kita main basket saja. Besok kalau mau belajar bareng, ajakannya jangan ajakan main basket. Ngerti nggak, Akutagawa-senpai?"
Penekanan kata senpai membuat alis tipis Akutagawa berkedut. Ia menggeram pelan dan kemudian memasang kuda-kuda, mulai mendribble bola.
"Ya sudah." Sergahnya. "Tapi aku mau tetap main."
Atsushi mendengus. Ia meladeni tantangan Akutagawa. Bersimba peluh melawan pemain yang lebih berpengalaman. Meskipun pertahanannya penuh celah, bukan berarti mencetak angka di ring adalah perkara mudah. Kalau saja Akutagawa 20kg lebih berisi dari sekarang mungkin Atsushi akan kalah telak. Dia tidak hanya cepat dan tangkas. Teknik bermainnya matang sekali. Caranya menggunakan feint dan keterampilannya mengubah tempo benar-benar menakjubkan. Atsushi beberapa kali mendapat kesempatan merebut bola karena Akutagawa tidak cukup tangguh melawannya soal main fisik yang wajar terjadi di basket semisal body bumping atau counter attack setelah bloking.
DRUKK!
DUK. DUK. DUK. DUK...
BRUKKHHH!
Akutagawa ambruk, lututnya kandas di lapangan. Nafasnya yang pendek kini menjadi tercekat, berubah menjadi sengau-sengau aneh. Atsushi mematung, nampak bingung dan ketakutan ketika si kakak kelas dengan susah payah merogoh kantongnya dan menghela inhaler dalam-dalam. Ia tidak melakukan apa-apa sampai akhirnya Akutagawa bisa membenahi dirinya sendiri. Batuk-batuknya tetap terdengar seram, namun lebih baik daripada sesak nafasnya.
"Apa?!" Hardiknya menjawab tatapan Atsushi.
"Akutagawa-san, mungkin kau akan memukulku kalau aku mengatakan hal ini..." Atsushi mereguk liur. "Kurasa memang seharusnya kau rehat dulu dari basket."
Manik kelam itu tampak kalut. Airmukanya bercampur antara marah, kecewa, sedih dan putus asa. Atsushi duduk di sebelahnya, menatap langit senja yang sudah berganti malam redup tanpa cahaya bulan, namun penuh dengan pendar lampu seluruh penjuru bumi. Ia memungut bola basket Akutagawa dan menjadikannya sanggaan lutut.
"Aku tidak bilang berhenti. Istirahat." Tuturnya. "Artinya kau bisa main lagi besok. Atau lusa. Atau minggu depan."
"Tapi-"
"Tidak main basket bukan berarti akhir dunia." Balas Atsushi. "Lagian kau juga tidak mati kalau sehari tidak main, kan?"
Akutagawa tidak membalas. Ia menyeka keringat di dagunya. Lalu ia batuk-batuk lagi. Atsushi menepuk-nepuk punggung si kakak kelas karena khawatir. Namun sepertinya cuma batuk biasa.
"Aku..." Akutagawa tersengal. Kalimatnya putus karena batuk. "Tahun lalu dipanggil untuk main di tim basket nasional U-19. Lalu, tiga bulan setelah pelatihan aku dikeluarkan."
"Eh?" Atsushi menoleh. "Serius?"
Akutagawa mengangguk. "Semenjak aku main basket, asmaku bisa dibilang sembuh. Aku mulai batuk-batuk seperti ini sejak awal musim dingin tahun lalu. Latihannya gila, kerasnya nggak ketulungan."
"Ah, kau tidak bilang kalau kau punya asma, ya?"
"Nggak lah. Atlet nasional tidak boleh punya riwayat sakit semacam itu." Akutagawa menyahut. "Waktu itu aku lagi latihan, lalu batuk sampai muntah darah. Aku dibawa ke rumah sakit dan dirawat sepanjang libur musim dingin."
"Karena kelelahan dan asma?"
"Uhm. Dokter bilang sebagian jaringan paru-paruku kolaps. Udaranya terhambat disana dan mengakibatkan pneumotoraks. Katanya kondisiku tidak akan cukup kuat untuk terus bertahan sebagai seorang atlet pro. Mereka mengeluarkanku baik-baik. Dan saat pertandingan resmi antar sekolah, aku juga lebih banyak duduk di bangku cadangan. Pelatih hanya membolehkanku main maksimal dua set. Bahkan mereka memintaku jadi manager saja."
"Pantas saja Higuchi melarangmu main basket."
"Damare!" Sentak Akutagawa.
"Tidak, dengar aku dulu. Maksudku, dia pasti khawatir orang yang dia sayang mungkin bakal mati kalau terus mengejar apa yang benar-benar dia suka. Kau pasti tidak bisa melihat sampai sana, kau pasti merasa Higuchi melarangmu main basket lagi karena dipikiranmu Higuchi cuma mau mengekangmu sebagai pacarnya."
Akutagawa terdiam. Ia merenung. Atsushi merasa bersalah mengatakan hal ini tapi ia yakin hal ini yang terbaik. Lagipula, Akutagawa sebenarnya merupakan pemain basket yang handal. Ia merasa lemah dan tidak berdaya karena keterbatasan fisik menghambatnya meraih impian. Hal seperti itu tentu saja merasa menyakitkan. Atsushi sedikit banyak paham perasaan si kakak kelas judes itu.
"Jinko..." katanya. "Apa yang kau lakukan kalau kau dilarang ngeband?"
"Hah?" Atsushi terdiam. "Aku tidak pernah dilarang."
"Kan 'kalau'." Balas Akutagawa.
"Aku akan membuat orangtuaku mengerti dengan cara baik-baik. Aku tetap mengerjakan PR dan belajar. Tetap merawat rumah juga. Kalau aku lelah, aku istirahat. Aku tahu batasanku. Gitu aja." Atsushi menyentil kening Akutagawa pelan.
"Oy! Nggak sopan! Aku setahun lebih tua, tahu!" Geramnya.
"Terus kenapa? Setahun lebih tua tapi tidak lebih pintar dan tidak lebih bijak. Silakan bilang aku kurang ajar!" Atsushi membalas sengit.
"Kheh!"
"Mau bilang apa lagi?!"
GREBB!
"Aduduh! Sakiiitttt!"
Atsushi terpekik ketika Akutagawa mencengkram kepalanya dan mengacak-acak rambutnya sampai kusut. Lelaki kurus itu berdiri, merenggangkan badan sedikit dan menoleh pada Atsushi.
"Aku lapar," katanya. "Ayo makan ramen."
"Asyik dijajanin!" Atsushi melompat bangun, memungut barang-barangnya dan bola basket.
"Idih, ge-er banget." Akutagawa mendecih.
"Lagian ajakannya menggoda banget. Kirain dijajanin." Atsushi merengek palsu.
"Yaudah, asal tidak 10 mangkok." Akutagawa mengalah.
"Yatta~~"
Warung ramen yang dituju mereka berdua tidak jauh. Dan juga besar. Dan ternyata ramai sekali. Keduanya duduk di counter dimana Atsushi bisa melihat juru masaknya menguleni adonan mie dan meracik setiap mangkuk dari balik jendela kaca. Akutagawa melihat layar sentuh menu dan nampak sudah menjatuhkan pilihannya.
"Mau makan apa?"
Atsushi mendekat, scrolling layar dan baru lihat gambar menunya saja ia sudah tergugah. Akutagawa mengetuk-ngentukkan jarinya ke meja dengan tidak sabar, sampai akhirnya Atsushi memilih semangkuk tantanmen, dengan es teh, semangkok nasi dan pudding mangga.
"Beneran kau makan ramen pakai nasi?!" Akutagawa nampak sangat terkejut.
"Memang selalu pakai nasi. Kuahnya enak, tapi terlalu asin kalau diminum langsung. Nyelekit di tenggorokan." Balas Atsushi.
"Udah gitu pakai pesan dessert juga..." Akutagawa cuma bisa geleng-geleng. "Pantes badanmu bongsor."
"Ehee...habis mau gimana lagi. Makanku banyak..." Atsushi terkekeh pelan. "Akutagawa-san memang nggak suka makan?"
"Nggak gitu juga." Akutagawa memainkan sendoknya. "Aku cuma makan seperlunya saja. Kalau benar-benar lapar."
"Cuma sekedar ganjel perut?"
"Iya."
Atsushi mengerenyit iri. "Enak banget hidupmu. Uang jajannya utuh tidak raib karena kebanyakan jajan."
Makanan mereka datang. Si kakak kelas memesan sesuatu yang nampaknya enak seperti mie yang digoreng garing dan disiram dengan kuah kental dari tumisan daging dan sayuran. Akutagawa berbisik ittadakimasu dan makan dengan tenang dan khidmat. Atsushi sebaliknya. Kuahnya panas dan pedas, bikin makin semangat untuk diganyang. Bunyi seruputannya sedikit terdengar heboh. Bahkan Akutagawa belum habis setengah ketika Atsushi menambahkan nasi ke dalam kuah ramen miliknya karena mienya sudah tandas.
"Makannya lama banget, senpai." Keluh Atsushi.
"Bawel." Desis Akutagawa yang berhenti menyuap.
"Kenapa? Udahan?"
Akutagawa menggeleng. "Sebentar. Aku pegal mengunyah."
"Ululu kaciaaaaaan~" Atsushi memasang ekspresi kawaii yang terlalu dibuat-buat. "Mau dikunyahin nggak?"
"Mati saja sana, bangsat."
Atsushi memberengut. "Ih, kasar banget kata-kata-ummm!"
Akutagawa menjejalkan sesuap makanannya ke mulut Atsushi yang masih mengunyah. Tekstur renyah-basah yang begitu kontras di mulut terasa luar biasa. Apa tadi nama menunya? Sialan, ini jauh lebih enak dari mie yang dipesan Atsushi tadi. Selain teksturnya mantap, rasa kuah tumisannya juga sedap. Atsushi menatap piring makan cowok judes itu beberapa saat, lalu memilih fokus menghabiskan makanannya. Kalau kata Ranpo, rumput tetangga lebih hijau. Tapi kalau kata Kenji, piring makan sebelah terlihat lebih menggoda. Atsushi takut matanya dicolok pakai sumpit kalau ia berani mencomot sesuap lagi makanan dari piring Akutagawa.
"Oy, Jinko..." gumam Akutagawa. "Ayo buat kesepakatan."
"Hhhm?" Atsushi mengangkat kepalanya dengan raut wajah bertanya.
"Bantu aku untuk rehat dari kecanduan basket." Katanya. "Lalu aku akan membantumu mengatur uang jajan."
"Nggak ada untungnya." Atsushi menggumam. "Aku nggak mau."
Akutagawa terdiam. Ia pelan-pelan mulai makan, sementara Atsushi sudah beres berikut cuci mulutnya. Dalam kekosongan mereka cuma ada suara kriuk-kriuk yang membuat Atsushi cuma bisa merutuk dalam hati. Ia mulai menimbang-nimbang apakah lebih baik ia tambah seporsi lagi ketimbang disiksa secara batin dengan bunyi laknat yang membuatnya terbayang-bayang dengan rasa enaknya?
SRUUUK!
"Asma itu nggak nular. Kau tidak bakalan sakit kalau makan sepiring berdua denganku." Gumam Akutagawa.
"Tapi, itu kan makananmu." Balas Atsushi tak enak hati ketika melihat Akutagawa menyodorkan piringnya.
"Mukamu melas gitu. Aku jadi perihatin." Akutagawa membalas lambat-lambat sambil mengunyah. "Buruan, sebelum aku berubah pikiran."
Atsushi menyambar cepat sumpitnya dan mulai berbagi makan dengan si kakak kelas. Oh, astaga! Ia akan ingat baik-baik restoran ini, dan pergi sendiri untuk makan menu yang namanya ia tidak tahu tersebut. Tidak butuh waktu lama sampai semuanya bersih, meski Atsushi lebih banyak membantu. Akutagawa berbisik gochisousama deshita dan menandaskan minumannya.
"Fuaaah, kenyang bangetttt!" Atsushi menyeka mulutnya. "Sankyuu, Akutagawa-san."
"Makanmu banyak banget." Gumam si kakak kelas. "Pantesan semok."
"Halus banget bahasamu. Aku tahu kok kalau aku memang gemuk." Balas Atsushi pesimis.
"Nggak." Akutagawa menyangkal. "Kalau gendut kan perutmu yang besar. Tapi..." Akutagawa menggantung kalimatnya, lalu ia memalingkan wajahnya yang bersemu padam. "Nggak jadi."
"Ayo pulang." Gumam Atsushi. "Bayar, gih."
"Kouhai begini enaknya dibuang kemana, yaa..."
Meski merutuk, Akutagawa tetap membayar penuh. Ia dan Atsushi berjalan pulang. Akutagawa tinggal tiga blok dari taman itu, yang berarti jarak rumahnya dan taman itu sekitar 3 km. Itu jarak yang lumayan kalau ditempuh dengan jalan kaki. Atsushi sempat heran apakah si kakak kelas ringkih nan jompo itu benar-benar jalan kaki sejauh itu?
"Uhm." Akutagawa menyahut. "Aku sudah biasa jalan jauh, sih."
"Nggak minta jemput orang rumah?" Tanya Atsushi.
"Nggak ada orang dirumah."
"Orangtua?"
Akutagawa terdiam. Atsushi sampai menoleh karena ia berhenti melangkah.
"Ayah sudah lama tidak ada." Katanya. "Ibu, baru dua tahun yang lalu meninggal."
Atsushi tercekat. "Go...gomen...jadi, Akutagawa-san tinggal sama siapa?"
"Adikku." Katanya sendu.
"Masalah bayaran sekolah dan kebutuhan rumah?"
Akutagawa menatap Atsushi. "Ada."
"Masih punya orang dewasa yang ngurus?"
Akutagawa mengangguk.
"Akutagawa-san, maaf aku tidak tahu kondisimu. Aku kembalikan uangmu..."
"Nggak perlu. Orangtuaku memang sudah tidak ada. Tapi aku ini nggak miskin." Hardik Akutagawa dingin.
"Su...sumimasen..."
SRUK SRUK SRUK
"Nggak usah pasang tampang sedih gitu." Katanya. Tangan ramping itu kembali menepuk-nepuk kepala Atsushi. "Aku baik-baik saja."
"De...demo..." Atsushi melirik malu, tak enak hati. "Aku...aku cuma punya seorang ayah. Ibuku meninggal saat aku masih kecil sekali. Kalau lagi di rumah dan ayahku kerja, bawaannya sepi banget. Aku pernah berpikir minta ayahku menikah lagi, tapi..aku sadar bahwa menikah itu tidak mudah. Jadi...selagi ayahku masih ada, aku lebih pilih peluk dan cium dia dan merawatnya sebaik yang aku bisa."
"Good." Balas Akutagawa. "Orangtua itu memang bawel dan menjengkelkan. Tapi mereka sudah memberimu kehidupan di dunia ini."
Atsushi terdiam sejenak. "Dazai-san juga hidup tanpa orangtua."
"Dazai?" Ekspresi Akutagawa berubah, nampak melembut. "Ah, iya. Tapi nasib kami berbeda. Dia punya semua yang aku dan kau tidak punya."
"Tapi harta tidak bisa menggantikan kasih sayang orangtua, kan?"
"Naif sekali bicaramu." Akutagawa berujar kelam. "Memangnya kau pernah jadi orang kaya kayak dia?"
"Akutagawa-san! Kasar betul bicaramu!" Hardik Atsushi.
"Itu kenyataaan." Akutagawa membalas. "Aku sekelas dengannya. Kami bisa dibilang dekat karena faktor itu. Memang faktor bahwa ia tumbuh tanpa orangtua itu sedih dan dramatis, tapi kau nggak kenal Dazai yang sesungguhnya."
"Dazai yang sesungguhnya?"
"Dia itu 'bandel'," Akutagawa menatap Atsushi sejenak. "Aku mengerti kalau semua cewek di Ishiyama pasti kepincut sama tampangnya. Tapi saranku, jangan menilai orang dari luarnya saja."
"Itu juga aku sudah tahu." Balas Atsushi ketus. "Meskipun Akutagawa-san itu ceking, judes, batuk-batuk, ringkih, jompo, keras kepala dan asal jeplak, ternyata orangnya baik."
GREPPPP!
"Adududududuhhhh!" Atsushi menjerit ketika Akutagawa kembali mencengkram ubun-ubunnya.
"Apa-apaan itu? Kenapa kebanyakan jeleknya?!" Akutagawa protes.
"Ha...habisnya kan aku cuma ngomong apa adanya..."Atsushi memelas.
Akutagawa terkesiap. Ia kini gantian mencubit pipi Atsushi sampai melar.
"Aduuuh! Salahku apa lagi?!" Atsushi merengek.
"Nggak ada. Aku cuma gemas karena ada perempuan sebebal kau di dunia ini." Katanya polos. "Aku nyebrang ke jalan sana."
"Jadi kita pisah disini?"
"Memang nggak bisa pulang sendiri?"
"Memang kalau aku bilang nggak, kau mau mengantarku pulang?"
"Ogah. Peduli setan."
"Kalau aku hilang, gimana?"
"Ke kantor polisi, lah." Balas Akutagawa ketus. "Bodoh, deh."
Atsushi membungkuk pamit, namun Akutagawa cuma melambai singkat sebelum menyebrang jalan dan hilang dari pandangan. Ia memasuki rumah dan langsung membilas diri. Main basket malam-malam membuatnya jadi sangat mengantuk. Ia berbaring telungkup, membiarkan rambutnya yang panjang dan setengah basah mengering secara alami. Ia mengecek ponselnya, sekedar notifikasi tak penting. Tidak ada chat. Besok ia latihan band seperti biasa. Jumat nanti gantian Tanizaki yang mau bawa gitar katanya. Makan malam untuk ayahnya sudah ada di kulkas, siap dihangatkan di microwave nantinya. Atsushi memeluk bantal, mengundang kantuk ke dalam malamnya ketika ia tanpa sadar mengusap rambutnya sendiri, lalu naik ke ubun-ubun. Atsushi mengusap pelan kepalanya sendiri.
Kenapa Akutagawa selalu menyentuh kepalanya? Kenapa pula ia suka mengacak-acak rambut Atsushi kalau ia kalah adu mulut?
DEG DEG
DEG DEG
"Ukh..."
Atsushi membenamkan wajahnya ke bantal.
Padahal yang diacak-acak rambut, tapi Atsushi merasa malah hatinya yang dibuat berantakan.
Chapter 4 done!
Author sudah dengan teliti mengoreksi segala percakapan Atsushi dengan bapaknya. Dan yes, memang bapaknye atsushi meng-address dirinya sendiri dengan kata "aku" dibandingkan "ayah" atau "tou-san". Hal ini biar lebih mirip dengan budaya di tiongkok (berdasarkan percakapan author dengan temen kerja yang betulan dari RRC), katanya memang orangtua (terutama ayah) meng-address dirinya dengan sebutan "aku" bahkan ke anak-anaknya sendiri. Kan kalau di Indo kebanyakan bapak-bapak meng-address dirinya dengan sebutan "ayah" atau "papa" ke anaknya, tergantung bagaimana si anak memanggil bapaknya. Ini berdasarkan presepsi author. Silakan dikoreksi kalau salah, mohon jangan dihujat. Author lemah sama julitan netijen huhuuuu
Yes, yes, abang Dazai kita yang cetar itu in house di hotel. Nama hotelnya sudah agak di blur, tetapi kalau kalian mau googling hotel tersebut beneran ada di daerah Tokyo, dan rate kamarnya juga segitu (ya karena author research hahahaha sombong dikit gapapa lah yaa /gagitujuga). Jangan tanya kenapa Dazai saya buat seperti itu. Suka-suka saya, dong. Dazai kan punya saya /dibacokfans
Apalagi, ya...
Capek bor kebanyakan ngebacot. Tapi kek yang sepi gitu kalau fanfic nggak ada bacotan author dibawahnya. Jadilah, silakan kalian skip kalau kalian nggak suka baca author note. Maafin ya kalau tidak ada author note yang berarti di bawah sini. Author cuma berusaha membuat pembaca senang membaca fic ini.
Hahahaha, udah deh ya. Sampai ketemu di chapter depan!
