Title : Let Me Love You Again, Next Time.
Length : Chaptered
Main Pair : Sehun x Luhan (GS)
Genre : Family, Drama, Tragedy, Angst.
Chapter 4
Petir bersahut – sahutan dihiasi suara rintik hujan yang menari-nari mengikuti arah angin membuat Jae Hyun merapatkan selimut yang tersampir dibahunya. Ia sedang menikmati cup ramennya di depan televisi. Tenang, Jae Hyun tentu saja sudah makan malam, ajuma sudah membuatkannya makan malam yang enak sebelum pulang. Hanya saja suasana hujan badai seperti ini sangat tepat untuk menikmati ramen dengan kuah yang mengepul panas ditemani sekaleng cola dan tayangan kesukaan, bukan? Apalagi jika kalian sendirian di rumah, seperti Jae Hyun. Sehun sudah kembali ke jadwal syutingnya yang padat, Luhan selalu sibuk dengan kuliahnya. Terkadang Jae Hyun berpikir untuk membawa teman – temannya menginap di rumah, namun ia menepis pikiran itu, karena Luhan dan Sehun akan membunuhnya ketika mereka pulang dan mendapati rumah berantakan. Ayolah, tidak ada teman Jae Hyun yang mengerti kata 'bersih' dan 'rapi'
Suara hujan yang deras beserta volume televisi yang terlalu besar membuat Jae Hyun tidak sadar saat seseorang membuka pintu dan masuk.
"Kau sendirian?" suara itu mengejutkan Jae Hyun yang tengah terfokus pada televisi. Ia menoleh dan mendapati Sehun berjalan ke arahnya.
"Noona belum pulang. Tumben sekali kau sudah pulang hyung, ini baru pukul delapan" Jae Hyun meneruskan makannya dengan cepat, takut Sehun akan meminta ramennya.
"Aku tidak akan memintanya! Makanlah pelan – pelan!" seru Sehun kesal setelah menghempaskan diri di sofa yang sama dengan Jae Hyun.
"Badai memberikan waktu istirahat lebih, syuting hari ini dihentikan"
Jae Hyun tidak merespon perkataan Sehun, keduanya kembali sibuk dengan dunia masing – masing, Jae Hyun dengan ramen dan televisinya, dan Sehun yang mencari posisi nyaman untuk bersandar dan memejamkan mata.
"Hyung, aku rasa noona terjebak hujan dikampusnya. Coba kau telfon hyung" perintah Jae Hyun dengan tidak sopan.
Sehun membuka matanya dan mengeluarkan ponsel dari saku, namun saat akan menekan tombol panggil jarinya terhenti. Kejadian beberapa hari yang lalu membuatnya kembali dihinggapi perasaan tidak nyaman.
"Dia pasti pulang bersama temannya" Sehun kembali memasukkan ponselnya ke saku.
"Memang seberapa banyak teman yang noona punya?"
"Kau saja yang telfon" Sehun berkilah.
"Tanganku sedang occupied" jawab Jae Hyun santai.
Sehun berdecak sebal, ia tahu Jae Hyun sama sepertinya yang khawatir karena Luhan belum pulang, tapi anak itu benar – benar tidak bisa diharapkan. Sambil mengomel tanpa suara Sehun menelpon nomor Luhan, namun hanya dijawab oleh operator.
"Ponselnya tidak aktif"
"Mungkin kehabisan baterai" Jae Hyun kembali menyahut.
"YA! Kau mau aku bagaimana kalau begitu!" teriak Sehun kesal.
"Jemput hyung! Jemput! Kau mau aku menjemputnya dengan sepeda motor?!" Jae Hyun menjawab berteriak membuat ia memuncratkan remah ramen yang sedang ia kunyah.
Sehun bangkit dengan kesal dari sofa dan naik menuju kamarnya. Tak lama kemudian ia keluar setelah mengganti baju sambil membawa kunci mobil.
"Hyung aku ikut!"
"Tidak perlu! Kau tidak berguna!" jawab Sehun kesal sambil lalu.
"Tsk! Kudoakan kau mengidap darah tinggi!" teriak Jae Hyun tidak terima yang dijawab Sehun dengan hempasan pintu.
.
.
Sehun memacu mobilnya dengan pelan saat memasuki gerbang kampus Luhan, kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan untuk melihat siapa tahu Luhan tengah berteduh di gedung terdekat. Dan benar saja! Luhan tengah menopang dagunya sambil menatap hujan di gazebo terdekat gerbang.
"Mau sampai kapan dia duduk disitu?" bisik Sehun pada dirinya sendiri.
Sehun berhenti di dekat Luhan dan membunyikan klaksonnya. Luhan yang melamun menatap hujan turun terkejut dan mencoba melihat dengan jelas ke arah mobil yang berhenti di depannya. Setelah memastikan tidak banyak orang disekitar, Sehun menurunkan kaca mobil agar Luhan bisa melihatnya.
Luhan tersenyum saat melihat Sehun dibalik kemudi kemudian berlari sambil menutupi kepalanya dengan map plastik yang ia bawa. Dengan gerakan cepat Luhan masuk dan duduk dikursi penumpang. Sehun mengambil handuk kecil dibalik kursi Luhan dan menyerahkannya pada gadis yang tengah sibuk menggosok – gosok poninya itu, "Gomawo".
"Sampai kapan kau berencana duduk seperti orang bodoh disitu?" tanya Sehun sambil kembali menjalankan mobil.
"Sampai hujannya reda, mungkin" jawab Luhan asal sambil mengeringkan rambut dan bahunya yang sedikit basah.
"Aku rasa tidak dalam waktu dekat. Kenapa mematikan ponselmu?" Sehun bertanya dengan mata yang terfokus pada jalanan, atau mungkin berusaha fokus.
"Baterai ponselku habis, terlalu jauh untuk kembali ke kelas dan mengecasnya" Luhan kembali menjawab seadanya kemudian duduk dengan tenang setelah selesai mengeringkan diri dan melempar handuk ke jok belakang.
"Geunde, kenapa oppa sudah pulang?" tanya Luhan seolah baru saja sadar bahwa Sehun yang datang menjemputnya.
"Sutradara terlalu malas untuk syuting di cuaca seperti ini"
"Bilang saja kau yang mengomel tentang cuaca agar pulang cepat" entah kenapa hari ini Luhan sedang ingin membuat Sehun kesal.
"Terserah padamu" bisik Sehun setelah menghela napas panjang.
"Bangunkan aku jika sudah sampai" Luhan mengambil posisi nyaman untuk tidur tidak peduli dengan Sehun yang menatapnya kesal.
.
.
Sehun butuh waktu satu jam untuk kembali ke rumah akibat hujan deras, ia harus berhati – hati melewati jalanan yang mulai digenangi air. Setelah masuk ke dalam garasi dan mematikan mesin mobil Sehun menatap Luhan yang masih tertidur sambil bersandar pada pintu. Sehun membuka seat-beltnya dan berniat membangunkan Luhan, namun gerakannya terhenti saat Luhan bergumam tidak jelas dalam tidurnya, membuat fokus Sehun beralih pada bibir yang sedikit terbuka itu. Ia memperhatikannya cukup lama, namun Sehun segera menggeleng untuk mengeluarkan pikiran aneh yang hinggap dikepalanya, "Mungkin aku terlalu lelah"
"Ya, kita sudah sampai! Bangunlah" seru Sehun setelah hati kemudian segera keluar dari mobil mendahului Luhan yang baru meregangkan tubuhnya.
.
.
.
Di Minggu pagi yang cerah ini, Jae Hyun tengah memandikan 'kekasih' kesayangan di halaman belakang sambil menggumamkan lagi – lagu yang menyenangkan.
"Tumben kau mencuci motormu sendiri?" remeh Luhan mendekat sambil membawa jus jeruknya dan duduk di ayunan sambil menggoyangkan kakinya.
"Hari ini aku akan berpetualang bersamanya Noona! Kami akan melakukan date paling romantis, menyusuri jalanan hingga waktu malam~" jawab Jae Hyun dengan penuh penghayatan dan ekspresi jenaka.
"Aigoo.. aigoo. Aku rasa aku harus mencarikanmu yeojachingu sungguhan, kau tidak masalah dengan wanita yang lebih tua bukan?" ujar Luhan sambil mendecakkan lidah prihatin.
Sehun yang melihat kedua dongsaengnya dari lantai dua tersenyum maklum mendengar ocehan mereka. Ini yang membuatnya menyukai berada di rumah di hari libur.
.
.
"Hyung! Noona! Aku pergi!"
"Jangan pulang terlalu larut!"
"Araseo noona! Kanda!"
Dan keheningan kembali menyelimuti rumah besar itu. Luhan yang sedari tadi berbaring di sofa menatap tidak minat pada televisi dihadapannya.
"Huwaa aku bosan sekali" keluh Luhan bergerak gerak tidak jelas hingga melorot kelantai.
"Jamkan! Kenapa Oh Sehun sialan itu tidak keluar dari kamar sedari tadi?" bisiknya bangkit dan segera berlari menuju kamar Sehun.
"Ya! Oh Seh—"
Hening. Bumi seperti berhenti berputar, tidak ada yang bergerak atau bernapas, mungkin?
"KYAA! DASAR CABUUUUL!" EOMMAAA!" Luhan berteriak sekuat tenaganya sambil menutup mata
"YA! APA YANG KAU LAKUKAN! KELUAR!" balas Sehun berteriak sambil menutupi tubuhnya dengan bersembunyi dibalik tempat tidur. Ia baru saja selesai mandi dan tengah menikmati musik yang diputarnya sebelum mengenakan pakaian.
Seketika Luhan membanting pintu dan berdiri kaku didepan kamar Sehun, yang sudah tertutup tentunya. Namun belum sempat Luhan menarik napas dengan benar ia harus kembali oleng karena Sehun membuka pintu kamar tiba – tiba –setelah mengenakan pakaian dengan kilat.
"Akh!" Luhan meringis sakit saat pantatnya mendarat di lantai.
"YA!" Sehun kembali berteriak pada Luhan yang tengah terduduk di dekat kakinya.
"Knock—YAAA!" Sehun beteriak frustasi sambil mengacak – acak rambutnya.
"M-mian, oppa, tolong aku, aduh sakit sekali. Sepertinya tulangku patah. Bagaimana ini?" Luhan masih tidak bergerak dari posisinya sambil memegang pinggang.
Melihat itu Sehun segera berjongkok, "Gwaenchanha? Makanya ketok dulu sebelum masuk, bagaimana ini?" Sehun ikut panik melihat Luhan yang tengah menahan sakit.
"Apanya yang bagaimana! Bantu aku berdiri! Cepat ke rumah sakit bodoh!" Luhan balas berteriak sambil mengulurkan tangannya.
Dan dengan segala teriakan dan keribetan yang terjadi selama perjalanan ke rumah sakit, Luhan akhirnya mendapat pertolongan dan beristirahat setelah menjalani CT scan. Sehun yang duduk disamping tempat tidur Luhan –tanpa penyamaran apapun hanya bisa sesekali menoleh takut pada dongsaengnya yang selalu menyalak setiap mata mereka bertemu atau ketika Sehun membuka mulutnya.
"Noona!" Jae Hyun masuk ke ruang rawat setengah berari dengan napas terengah – engah.
"Apa yang terjadi hyung?!" Sehun memandang Jae Hyun dengan wajah dibuat semenyedihkan mungkin, membuka mulutnya untuk menjawab, namun segera dipotong oleh Luhan "Hyungmu hampir membunuhku! Akh!"
Tidak terima dengan tudingan Luhan, Sehun berdiri dari kursinya, "Jika kau mengetuk sebelum masuk ke kamarku semua ini tidak akan terjadi! Delapan puluh persen ini salahmu! Dasar cabul!"
"Mwo?! Akh!" Luhan mengerang sakit saat akan menendang Sehun dengan kakinya. Jae Hyun yang melihat mereka berdua akhirnya menengahi dan membantu Luhan untuk kembali meluruskan kakinya.
"Geumanhae cheom! Ini rumah sakit! Jadi ceritakan padaku apa yang terjadi" Jae Hyun menatap hyung dan noonanya dengan kedua tangan di pinggang.
"Aku terjatuh saat oppa membuka pintu" cerita Luhan ragu – ragu
"Dia masuk ke kamarku saat aku b-baru selesai mandi" Sehun menyambung dengan wajah merah padam.
"Tapi aku langsung keluar Jae Hyun-ah! Makanya saat oppa membuka pintu lagi aku terjatuh.." Luhan memainkan kedua telunjuknya seperti anak kecil yang ketahuan berbohong.
"Baiklah, jadi noona masuk ke kamar hyung saat Sehun hyung baru selesai mandi, kemudian karena kaget noona langsung keluar menutup pintu, kemudian Sehun hyung kembali membuka pintu dan noona terjatuh. Noona..." Jae Hyun memberi jeda kalimatnya dan menatap Luhan horor, "Kau melihatnya?!" Jae Hyun menutup mulutnya tidak percaya.
"YA!" seru Luhan dan Sehun bersamaan.
Dan akibat 'kecelakaan' itu Luhan harus absen dari kuliahnya untuk sementara waktu dan berdiam diri dikamarnya dengan semua kebutuhan dibantu oleh ajuma. Namun kesialan sepertinya tidak mau beranjak begitu saja dari Luhan, dengan keadaan kedua orang tuanya tidak berada di rumah, Sehun yang kembali sibuk syuting dan Jae Hyun berangkat ke sekolah setiap hari, kini ajuma harus cuti selama beberapa hari karena suaminya dirawat di rumah sakit akibat stroke. Selamat Xi Luhan!
Luhan meraih ponselnya yang terletak di nakas samping tempat tidur dan men-dial nomor Jae Hyun, sayang sepertinya dongsaeng satu – satunya yang ia miliki itu tidak bisa diharapkan sekarang. Satu – satunya orang yang bisa ia mintai tolong hanya.. Sehun.
"Oh kau mengangkatnya! Oppa! Kau pulang pukul berapa?" Luhan merasa seperti Tuhan sedang memberikan pertolongan padanya sekarang.
"Wae? Aku masih ada scene setelah ini" jawab Sehun setengah hati.
"Aku mohon bantu aku kali ini. Ajuma harus pergi ke rumah sakit karena suaminya. Aku benar – benar harus ke kamar mandi oppa~ Aku bersalah, aku tidak akan mengulanginya lagi, huh?"
Sehun tersenyum diseberang mendengar permohonan Luhan, kemudian ia kembali mengulum senyumnya dan memasang tampang dingin—walau Luhan pasti tidak akan melihatnya, "Aku rasa satu jam lagi. Aku tutup"
.
.
Dan sejak saat itu, rutinitas Sehun setelah pulang dari jadwal syutingnya adalah masuk ke kamar Luhan dan menggendong dongsaengnya itu ke kamar mandi, kemudian kembali menggendongnya ke kasur, mengambilkan makananannya dan menunggu Luhan selesai meminum obatnya. Setelah Luhan tertidur, Sehun akan kembali ke kamarnya untuk mandi dan tidur.
"Kenapa lama sekali? Aku benar – benar butuh ke kamar mandi sekarang" Luhan segera mengangkat kedua tangannya saat melihat Sehun membuka pintu. Dengan wajah malas Sehun menggendong Luhan ke kamar mandi kemudian menunggu di depan pintu. Sehun meregangkan tubuhnya, ia benar – benar lelah dengan syuting hari ini.
"Aku sudah selesai" Sehun membuka pintu kamar mandi dan kembali menggendong Luhan menuju tempat tidurnya. Namun entah karena terlalu lelah atau Luhan yang bertambah berat Sehun terhuyung saat meletakkan Luhan ke atas tempat tidur sehingga ia terjatuh menimpa dongsaengnya itu.
"Ya! Kau berat sekali!" Luhan memukul mukul punggung Sehun yang masih menimpanya. Sehun mengangkat kepalanya "Aku rasa kau bertambah—" Sehun menghentikan kalimatnya saat wajahnya tepat berada di depan wajah Luhan. Matanya menatap bulu mata lentik yang bergerak – gerak karena Luhan mengedipkan matanya, kemudian turun ke bibir ranum yang tengah cemberut itu. Untuk beberapa saat, semua seperti slow motion dimata Sehun.
Melihat wajah Sehun dari jarak begitu dekat entah mengapa membuat ekspresi cemberut Luhan mengendur, ia seperti terhisap ke dalam pusaran tak kasat mata pada iris Sehun.
"Hyung! Bantu aku!"
Sehun terlonjak kaget dan segera berlari meninggalkan kamar Luhan. Sedangkan Luhan? Ia akhirnya bernapas setelah menahan kontraksi paru – parunya selama beberapa detik.
"Apa – apaan ini?" bisik Luhan sambil menggosok dada kirinya tidak nyaman.
.
.
.
Luhan sudah kembali kuliah seperti biasa. Semuanya kembali normal, kedua orang tua mereka sudah pulang, dan ajuma sudah kembali bekerja. Kehidupan kembali berjalan normal, tidak ada lagi kehebohan – kehebohan aneh yang dibuat tiga bersaudara karena mereka kembali sibuk dengan kegiatan masing – masing. Bahkan untuk duduk bersama saat makan malam pun mereka sudah tidak ada waktu lagi. Bertemu saat sarapan pun juga terjadi jika mereka semua sama – sama berangkat pagi hari.
Malam ini Luhan sedang ingin menikmati bir kalengnya sebelum tidur. Setelah menyelesaikan tugasnya, ia turun menuju dapur untuk mengambil beberapa kaleng bir dingin dan duduk sebentar di taman. Tadinya begitu, sebelum Luhan tanpa sengaja bertemu dengan Sehun yang sepertinya baru selesai mandi. Sebagian besar ruangan telah gelap karena ini sudah tengah malam, hanya ada penerangan dari lampu meja yang terletak di beberapa sudut ruangan yang memberi penerangan.
"Kau minum?" Sehun yang tadinya berhenti kembali melanjutkan langkahnya ke arah Luhan yang baru saja menutup pintu lemari pendingin, Ikut mengambil beberapa kaleng bir dari lemari pendingin.
Luhan hanya menjawab dengan alis yang dinaikan saat Sehun mengangkat sebungkus cemilan di depan wajahnya.
Menikmati bir di taman belakang yang dirawat oleh eommanya adalah favorit Luhan saat jenuh mendatanginya. Ditemani lampu taman yang redup, lagu – lagu dari serangga malam dan semilir angin yang lembut mampu membuat Luhan merasa nyaman seperti baru saja mengonsumsi sedatif yang membuat kepalanya terasa ringan. Kemudian Luhan akan mengantuk, dan masuk untuk menjemput mimpinya. Ya, seharusnya itu yang terjadi, namun kehadiran Sehun yang mengekor Luhan duduk di gazebo kayu tak beratap itu membuat Luhan kesulitan mencapai kantuknya, walaupun ia sudah menghabiskan dua kaleng bir.
Luhan membuka kaleng ketiganya, meminumnya beberapa teguk sebelum memeluk lututnya dan menghembuskan napas panjang. Sehun yang sedari tadi diam tidak tahan lagi untuk menahan mulutnya, "Ada yang kau khawatirkan?"
Luhan kembali menghembuskan napasnya, "Aku juga tidak tahu apa yang aku khawatirkan" jawab Luhan sambil memandang langit gelap yang menjadi background pepohonan rendah dihadapannya.
Sehun menoleh, memperhatikan Luhan yang masih memandang jauh ke depan, "Kalau begitu aku lebih pintar darimu, aku tahu apa yang aku khawatirkan"
"Mweonde?" tanya Luhan setengah hati masih dengan tatapan jauh ke depan
Sehun memberi jeda cukup lama sebelum menjawab, "Neo". Tidak puas dengan jawaban Sehun, Luhan balas menatap Sehun dengan sebelah alis terangkat, "Huh?"
Seperti dilanda disorientasi sesaat, Luhan baru merasa kesadarannya kembali saat Sehun menahan kepala Luhan untuk memperdalam ciumannya. Tidak ada lumatan berlebihan atau bunyi aneh yang akan membuat seisi rumah bangun. Luhan hanya mengerjapkan matanya berkali – kali, berdebat dengan dirinya sendiri, seharusnya disaat seperti ini ia mendorong Sehun menjauh, menampar atau menendang selangkangannya, tapi entah kenapa ada bagian di dalam dirinya yang menahan Luhan untuk melakukan semua itu.
Sehun melepaskan ciumannya dan menunduk sehingga Luhan bisa mencium bau sampo yang digunakan oppa-nya itu. "Mian" bisik Sehun sebelum pergi meninggalkan Luhan yang masih berusaha menyatukan nyawa – nyawanya yang berterbangan.
.
.
Sehun tidak bisa tidur malam itu, ia merutuki dirinya sendiri sambil bergerak-gerak kesana kemari seperti cacing kepanasan. Sesekali ia memukul kepalanya seperti orang bodoh dan berakhir duduk ditempat tidur hingga pagi menjelang.
"Jae Hyun-ah, hyungmu tidak ada jadwal pagi ini?" Nyonya Oh bertanya pada putranya yang tengah menghabiskan makanan terburu – buru.
"Molla. Aku buru – buru eomma. Aku pergi dulu!" Jae Hyun segera berlari meninggalkan Luhan dan Nyonya Oh yang baru saja duduk di meja makan.
"Kenapa anak itu buru – buru sekali?" Tuan Oh yang baru keluar dari kamar segera mengambil tempat diujung meja.
"Aku juga tidak tahu" Nyonya Oh menjawab setengah tertawa, "Ah, aku lupa membuat kopimu, sebentar yeobo" Nyonya Oh bangkit dari kursinya setelah mengambil sepotong roti bakar.
Luhan hanya diam, menghabiskan sarapan dengan pelan. Sepertinya pikirannya masih berterbangan karena Luhan tidak menjawab saat Tuan Oh memanggilnya. Sehingga pria paruh baya itu harus menyentuh pundak putrinya.
"Ne?" Luhan menatap Tuan Oh kebingungan.
"Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Tuan Oh lembut.
"Ah-aniyo appa, aku berangkat dulu kalau begitu. Eomma! Aku pergi!" Luhan segera kabur untuk menghindari pertanyaan lebih lanjut dari orang tuanya.
"Apa anak – anak sedang bertengkar?" Tanya Tuan Oh sambil menerima kopinya dari sang istri.
"Ani, Jae Hyun tidak pernah bilang apa – apa padaku" jawab Nyonya Oh kembali duduk di meja makan.
"Mungkin perasaanku saja, tapi mereka terlihat kurang bersemangat akhir – akhir ini" Nyonya Oh tersenyum menenangkan, suaminya kadang terlalu khawatir menurutnya.
"Aku pergi dulu!" pamit Sehun dengan tampang lusuh dengan kantong mata besar setelah mendadak muncul di meja makan dan menghabiskan jusnya.
"Kau tidak sarapan Sehun-a? Hati – hati dijalan!" seru Nyonya Oh tepat sebelum terdengar suara pintu tertutup. Sehun sebenarnya sudah keluar dari kamarnya saat Jae Hyun berpamitan, namun ia menunggu Luhan berpamitan juga untuk turun.
Sehun mengikuti Luhan yang berjalan pelan menuju halte. Setelah berdebat dengan pikirannya sendiri Sehun menginjak gas lebih dalam dan mendahului Luhan, "Terkutuk kau Oh Sehun!" bisik Sehun frustasi pada dirinya sendiri.
Luhan mengangkat kepalanya saat mendengar deru mobil cukup kencang melewatinya, 'mobil Sehun oppa' pikir Luhan
.
.
.
To be continue
