Passion

Pair:

Kim Namjoon x Kim Seokjin

Slight:

Kim Taehyung x Jeon Jungkook

Rate: M

Length: Parts

Summary:

It's like some kind of my wildest dream that become true. / NamJin, GS! Seokjin and Jungkook. / The continuation story from 'Desire'.

Notes:

All Seokjin's POV

.

.

.

.

Part 3: Wedding Day and … the other things..

Aku masih bermimpi.

Sumpah, aku masih bermimpi cantik dengan posisi tidur menyerupai Princess Aurora ketika tiba-tiba saja Jungkook mendobrak masuk ke kamarku dengan master key yang dia minta dari hotel. Aku tidak ingat banyak kecuali Jungkook yang melompat penuh semangat ke atas kasur dan menyibak selimutku tanpa basa-basi.

Aku menggerung malas dan dengan menahan kantuk yang masih membayang aku berusaha mengusir Jungkook yang berakhir sia-sia karena gadis dengan gigi kelinci itu justru menyeretku ke bawah shower dan tanpa basa-basi langsung menyalakannya tanpa mengatur suhunya terlebih dahulu.

Dan airnya dingin sekali, dammit!

Aku mengeluarkan sumpah serapah dengan lancarnya pada Jungkook yang tertawa ceria kemudian menuangkan satu botol shampoo ke atas kepalaku.

Yeah, aku tidak bercanda, dia benar-benar menumpahkan satu botol shampoo dan sekarang aku beraroma seperti strawberry dan cokelat karena itulah aroma shampooku.

Kemudian dia mengusapkan seluruh cairan lengket shampoo itu ke seluruh kepalaku dan membilasnya dengan sangat tidak manusiawi. Mataku beberapa kali kemasukkan busa dan aku bersumpah kalau mataku terkena iritasi ringan di hari pernikahanku maka aku akan mencolok mata Jungkook dengan jepit rambutku.

Setelah sesi mandi bersama dengan Jungkook yang tidak manusiawi dan mengakibatkan kotornya kamar mandi hotel karena penuh dengan busa sabun dan shampoo serta sangat becek, akhirnya aku berhasil keluar dari kamar mandi dengan kondisi kepala dan tubuh yang terbalut handuk.

Kemudian Jungkook membantuku untuk memakai body lotion, deodorant, bahkan dia juga memberikan lotion khusus untuk daerah selangkanganku karena dia bilang aku akan mengenakan gaun yang rapat dan seharian ini kakiku akan terbungkus sehingga sebaiknya aku memberikan lotion di bagian itu agar tidak iritasi.

Aku sadar Jungkook hanya membantu persiapan awal di hari besarku karena setelahnya ada lima orang gadis yang masuk ke kamarku dan mulai mempersiapkan tubuhku untuk acara besar hari ini. Jungkook menatapku dengan senyum lebar kemudian dia berlalu dari kamarku untuk menjemput pacarnya yang katanya akan segera tiba di bandara.

Aku tersenyum padanya dan membiarkan seorang wanita menghampiriku dan mulai mengeringkan rambutku yang berantakan dan amat sangat basah. Kemudian setelahnya yang kuingat hanya berbagai peralatan kecantikan yang disodorkan padaku.

Aku tidak ingat berapa lama waktu berlalu. Tapi aku yang tadinya sangat mirip dengan anjing basah perlahan-lahan mulai berubah menjadi seorang puteri. Mataku terpaku menatap pantulan diriku yang masih dirias. Mereka fokus menyelesaikan wajahku terlebih dahulu sebelum kemudian merapikan rambutku.

"Cantik sekali.." gumamku kagum pada bayangan wajahku sendiri di cermin.

Salah satu gadis periasku tertawa kecil, "Seorang pengantin wanita memang harus cantik. Aku yakin calon suamimu nanti akan sangat terkejut."

Bibirku tertarik membentuk senyuman kecil, "Aku bahkan ragu dia tahu aku pengantin wanitanya setelah kami dilarang bertemu untuk beberapa hari ini."

Kelima gadis periasku memekik kegirangan seperti gadis sekolahan yang bertemu idol kesukaan mereka di jalan.

"Oh, aku iri sekali!"

"Kudengar calon suamimu sangat tampan. Kau sangat beruntung!"

"Kalian pasti sangat cocok! Aku harap kalian bahagia!"

"Aah, kapan kekasihku menikahiku dan memberikan pesta seperti ini?"

"Kapan aku punya kekasih?"

Aku tertawa kecil mendengar celotehan riang mereka yang terdengar seperti kicauan burung.

"Ya ampun, sayang sekali kita hanya akan bertemu selama seharian ini. Kalian sangat menyenangkan." ujarku seraya tertawa lagi.

Salah satu dari kelima gadis periasku tertawa dan meraih gaun pertama yang akan aku kenakan hari ini. "Kalau begitu sebaiknya kita tidak terlambat. Gaun pertamanya yang ini, kan?"

Aku melirik gaun yang berada di tangannya dari cermin di hadapanku, "Ya, yang itu."

"Kalau begitu untuk siang nanti adalah yang ini?" ujar salah satu periasku yang lain seraya menunjuk mermaid dressku.

"Yap, itu gaun kedua."

"Lalu yang ini?" periasku mengangkat gaun ketiga dan wajahnya mendadak memerah. "Ow, ini seksi sekali."

Aku menggigit bibirku, "Yeah, itu.. untuk nanti malam."

Dan kelima gadis periasku kembali memekik dengan antusias.

.

.

.

.

.

.

Perkiraanku soal gaun pertama ini tidak salah.

Gaunnya berat. Sangat

Belum ditambah dengan wedding veilku yang panjangnya menyaingi panjang rok yang aku kenakan.

Kalau tidak ada ayahku yang menggenggam tanganku, aku tidak yakin aku bisa berjalan menuju altar tanpa terpeleset atau tersandung gaunku sendiri.

Yah, walaupun begitu aku agak kasihan pada ayahku. Aku yakin lengan atasnya akan memerah karena aku mencengkramnya begitu erat untuk menjaga keseimbangan. Aku dan ayahku berjalan bersama menuju altar berada yang ditempatkan di sebuah gazebo di pinggir tebing yang bagian bawahnya langsung terhubung ke pantai.

Ini ide ibu Namjoon.

Tadinya dia malah ingin mencoba melakukan upacara pernikahanku di bawah air seperti apa yang dia lihat di internet beberapa hari lalu. Tapi ketika aku dengan paniknya menjerit dan mengatakan kalau aku tidak bisa berenang, ibu Namjoon menyerah dan memutuskan untuk mengadakan upacara di gazebo saja.

Aku tersenyum pada Namjoon yang menatapku dari altar dengan mata membulat dan wajah terkejut. Untungnya dia tersadar berkat suara cekikikan khas dari ibunya yang duduk di kursi paling depan. Aku menahan tawa dan senyumku bertambah semakin lebar saat Namjoon menuruni anak tangga altar untuk menyambutku yang berdiri di sebelah ayahku.

Namjoon menerima tanganku yang disodorkan pada ayahku dan ayahku menatapnya dalam-dalam.

"Jaga dia untukku."

Namjoon mengangguk pasti, "Tentu, aku akan bersamanya seumur hidupku."

Mataku memanas saat ayahku benar-benar melepaskan tanganku dan berjalan menuju kursinya di sebelah ibuku. Rasanya aku benar-benar akan menangis kalau saja Namjoon tidak memutar tubuhku untuk menaiki altar bersamanya.

Aku memalingkan pandanganku ke depan dan seorang pastur menyambutku dengan senyum teduhnya.

"Baiklah, mari kita mulai acaranya."

.

.

.

.

.

.

.

Setelah acara pemberkatan, kami akan melangsungkan pesta di taman dan malamnya ada semacam after party di pinggir pantai. Aku berdiri di sebelah Namjoon yang sejak tadi menggandeng tanganku dengan senyum lebar di wajahnya.

"Kau akan merobek bibirmu kalau tersenyum seperti itu." bisikku padanya dengan hati-hati.

Namjoon tertawa dan dia menatapku, "Aku terlalu bahagia karena sekarang kau sudah menjadi milikku." Namjoon menundukkan kepalanya dan mengecup pipiku.

Aku terkikik dengan gembira kemudian balas mengecup pipi Namjoon dengan malu-malu.

"Ehem! Kalian mau ke kamar sekarang?"

Aku dan Namjoon menjauhkan diri dan aku melihat Jungkook di sana dan dia sedang berdiri bersama V. Mataku memperhatikan pakaian Jungkook dan aku menahan diri untuk tidak memutar bola mataku. Pakaian Jungkook itu seksi sekali.

Dia memakai off-shoulder dress berwarna soft pink yang pendeknya hanya ¾ pahanya dan rambutnya digelung dengan gelungan simple yang manis serta dihiasi dengan jepit mutiara di kepalanya. Wajah Jungkook diberi make-up tipis dan dia terlihat sangat cantik, seperti dewi yang nakal.

Jungkook menatap Namjoon, "Kenalkan, ini Kim Taehyung, pacarku."

Aku membulatkan mataku, "Itu nama aslinya?" pekikku.

Jungkook mengangguk riang, "Karena sekarang dia sudah resmi milikku, aku akan mengizinkan kalian mengetahui nama aslinya."

Taehyung tertawa kemudian dia menjabat tangan Namjoon, "Hai, selamat atas pernikahan kalian."

Namjoon mengangguk ringan, "Kapan kau dan Jungkook menyusul?"

Jungkook dan Taehyung saling berpandangan kemudian keduanya tertawa. Taehyung merangkul pinggang Jungkook dengan intim, "Nah, aku masih mau menikmati waktuku dengan kelinciku yang nakal sebelum aku melamarnya."

Aku tersenyum melihat Jungkook dan Taehyung, aku bisa melihat kalau mereka saling memiliki satu sama lain dan baru kali ini Jungkook membawa pasangan di acara yang dihadiri oleh teman dekatnya. Jungkook tidak pernah memperkenalkan teman kencannya kecuali padaku dan jika melihat betapa bahagianya Jungkook saat memperkenalkan Taehyung, aku yakin dia serius dengan pria ini.

"Seokjin!"

Seruan gembira itu mengalihkan perhatian kami dan aku melihat JM atau Jimin tengah tersenyum lebar padaku kemudian sebelum aku sempat memproses dia sudah berlari kecil menghampiriku dan memelukku erat-erat hingga aku terangkat dari tanah.

"Ow!" pekikku kaget.

Jimin tertawa renyah dan menurunkan tubuhku tanpa melepas pelukannya di pinggangku, "Ah, aku patah hati karena kau menikah. Seharusnya aku langsung melamarmu saja saat kita bertemu di Seattle."

Aku tersenyum gugup dan ketika aku melirik Namjoon, ekspresinya keruh luar biasa.

Taehyung tertawa keras dan menepuk bahu band-matenya. "Itu benar, Jimin terpuruk selama dua hari ketika Jungkook memberikan undangan pernikahanmu pada kami."

Jimin mengangguk-angguk kemudian aku merasakan pegangan Jimin padaku terlepas dan ternyata itu karena Namjoon yang menarikku menjauh darinya.

"Well, kalau begitu kau terlambat, Tuan. Dia milikku sekarang." Namjoon berujar dengan nada tegas.

Jimin tertawa lagi, "Yeah, aku tahu. Aku tidak segila itu untuk merebut istri orang."

"Seokjin, akhirnya.."

Suara halus yang aku kenali sebagai suara Yoongi membuatku berbalik dan aku melihatnya berdiri di belakangku. Aku ingat Yoongi baru tiba pagi ini dan kelihatannya dia baru saja selesai merias diri dan langsung mencariku.

"Yoongi!" pekikku senang.

Yoongi tertawa dan mengucapkan selamat seraya memelukku.

"Uh, aku masih agak jet-lag." Yoongi mengurut dahinya perlahan, "Aku datang tepat saat kau mengucapkan 'Saya bersedia', aku benar-benar panik karena kupikir aku terlambat. Bahkan aku berada di upacara pemberkatanmu hanya dengan pakaian santai." Yoongi menunjuk gaunnya, "Aku baru saja berganti pakaian tadi karena ibumu mengerutkan dahi tidak suka melihatku berkeliling dengan celana panjang dan sepatu boots."

Aku tertawa kecil, "Terima kasih sudah datang, Yoong. Kalau kau jet-lag sebaiknya kau menghindari alkohol hari ini."

Yoongi mengangguk kecil, "Yeah, aku akan mencari kopi." Kemudian mata kecil Yoongi tidak sengaja tertuju pada yang lainnya, "Oh, hai semuanya, aku sepupu Seokjin, Min Yoongi."

Namjoon mengangguk dan Jungkook tersenyum lebar, dia mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Yoongi tapi tiba-tiba saja Jimin menyela dengan cepat.

"Aku Park Jimin! Pleasure to meet you, Princess~"

Yoongi menaikkan sebelah alisnya, "Eeh, ya, terima kasih."

Aku terkikik saat melihat pandangan mata Jimin yang jelas-jelas terpesona pada Yoongi.

Well, kurasa Yoongi sudah menemukan pasangannya.

.

.

.

.

.

.

.

Mataku tidak bisa berhenti dari menatap tubuhku yang terbalut gaun super pendek itu. Gaun ini amat sangat terbuka, dada atasku terlihat mengintip sementara punggungku terbuka lebar dan gaun ini panjangnya hanya setengah pahaku dan dia melekat dengan begitu sempurna seperti kulit kedua di badanku.

"Aku tidak mau memakai ini untuk after-party." ujarku untuk kesekian kalinya.

Jungkook yang sedang menyemprotkan parfum ke tubuhnya menoleh ke arahku, "Pestanya akan diadakan di pantai, jadi memakai pakaian yang pendek itu wajar, kan?"

Aku menghela napas dan melirik Jungkook yang mengenakan sebuah cocktail dress berwarna maroon dengan lengan panjang dan panjang gaun sekitar 5 cm di atas lutut. Seluruh bagian dari gaun itu ditutupi kain brokat berwarna maroon dan bagian dalamnya menggunakan lapisan gaun berwarna hitam yang terlihat seperti tube dress.

Jungkook tersenyum puas melihat penampilannya, "Siip, sempurna!"

"Gaunmu terlihat lebih normal daripada gaunku."

Jungkook tertawa, dia meraih sesuatu yang terlihat seperti cardigan putih tipis yang panjang dan memberikannya padaku, "Oke, pakai ini. Tapi berjanjilah kau akan membukanya ketika kau dan Namjoon mendapatkan sudut yang agak privat di pantai." Jungkook mengedipkan matanya dengan gaya nakal padaku dan aku menahan diri untuk tidak melemparnya dengan sandalku.

Kemudian Jungkook langsung menarikku keluar dan ketika kami berjalan bersama di lorong, kami berpapasan dengan Yoongi yang baru saja keluar dari kamarnya dengan menggunakan baby doll dress berwarna coklat muda dan dilengkapi dengan cardigan rajut.

"Oh, kalian." Yoongi memperhatikan penampilanku dan dahinya mengerut seketika, "Pakaian apa itu, Jin?"

"Pakaian malam pertama~" dendang Jungkook dengan begitu bersemangat kemudian dia menarikku dan Yoongi untuk turun ke pantai.

After-party kali ini hanya dihadiri olehku dan Namjoon, Jungkook, Taehyung, Yoongi, Jimin, Hoseok, juga beberapa rekan bisnis terdekat Namjoon dan beberapa teman dekatku saat kuliah. Ketika kami tiba di pantai, ada satu api unggun besar di sana sementara di sisi kiri ada meja bar beserta bartender dan di sisi kanan ada seorang DJ dan beberapa orang yang menari di depan meja DJ itu.

"Wow," gumamku.

Jungkook mengedarkan pandangannya dan memekik memanggil Taehyung saat dia melihat pria itu di depan meja bartender. Taehyung menoleh ke arah kami dan dia bergegas menghampiri kami kemudian memeluk Jungkook dan menciumnya dalam-dalam.

Suara lenguhan dan kecipak erotis terdengar dari mereka berdua hingga aku dan Yoongi hanya bisa terpaku dengan wajah bodoh.

"Oh, astaga." Yoongi mengangkat kedua tangannya dan berjalan menjauh dari Jungkook dan Taehyung yang sekarang sudah semakin intim karena Taehyung sudah menggendong Jungkook seperti koala dan tangan kanannya aktif meremas bokong Jungkook.

Aku masih terpaku menatap mereka hingga aku merasakan tangan hangat seseorang menutup mataku dan menarikku menjauh. Ketika tangan itu menjauh, aku baru menyadari kalau yang menutup mataku adalah Namjoon.

"Seharusnya kau langsung pergi saat melihat mereka sudah menebar adegan dewasa." Namjoon berujar seraya membenarkan rambutku yang agak berantakan saat tertiup angin pantai.

"Uuh, ya. Aku hanya agak terkejut."

Namjoon tersenyum kemudian pandangan matanya turun menatap dada atasku yang agak menyembul dari gaunku. "Gaun ini.."

Aku menggigit bibirku kemudian menatap sekeliling, aku dan Namjoon masih berada di wilayah pesta walaupun kami sudah berada di bagian pinggir. Aku menatap mata Namjoon dan mencoba meyakinkan diriku sendiri kalau pria ini adalah suamiku dan dia berhak atas semua yang ada padaku.

"Ada yang ingin kutunjukkan padamu." ujarku dengan nada menahan gugup.

Namjoon mengangguk kemudian aku segera menariknya menjauhi suasana pesta. Aku menemukan batu karang besar di pinggir pantai dan tanpa pikir panjang aku langsung menarik Namjoon ke balik batu besar itu.

"Ada apa, sayang?" tanya Namjoon.

Aku memainkan bagian depan cardiganku, "Ibumu dan Jungkook memilih gaun ini untuk.. uh.. malam pertama kita." Aku mendongak dan menatap mata Namjoon, "Aku ingin menunjukkannya."

Kemudian jemariku bergerak perlahan untuk membuka cardigan yang membungkus tubuhku, kain berwarna putih itu jatuh di bawah kakiku dan aku melihat mata Namjoon melebar.

Kakiku bergerak gelisah karena gugup, pandangan mata Namjoon benar-benar menembus diriku. "Jadi, bagaimana?"

Namjoon mengangkat pandangannya dan menatap mataku, "Kau harus bersyukur aku sudah memesan seluruh hotel dan pantai ini untuk pribadi."

"Eh?" ujarku bingung namun aku tidak bisa memproses lebih jauh saat Namjoon sudah menciumku dengan dalam dan mendorongku hingga tubuhku terdesak diantara batu karang dan dirinya.

Namjoon menciumku dengan begitu liar sementara tangannya aktif memijat payudaraku hingga aku tidak tahan untuk tidak mendesah lirih. Yaah, separuh akal sehatku masih bekerja untuk tahu kalau kami masih berada di pinggir pantai.

Namjoon menggeram kemudian dia meraih tanganku untuk menyentuh sesuatu dari dirinya yang terasa separuh menegang. Aku merona hebat dan mencoba menarik tanganku tapi Namjoon menahannya, dia justru menggerakkan tangannya sehingga tanganku menggesek miliknya.

Aku merasakannya, untuk pertama kalinya aku merasakan bagaimana rasanya menyentuh bukti gairah laki-laki dan aku tidak tahu bagaimana harus bereaksi selain merona.

Karena aku masih polos, aku memutuskan untuk mencoba mengeksplor daging keras itu dengan meremasnya dan memijatnya lembut. Tapi sentuhan ringan dariku justru membuahkan geraman nafsu dari Namjoon hingga dia membalik badanku menghadap karang dan tanpa aba-aba menarik turun gaunku hingga perut dan payudaraku terbebas seutuhnya dari gaun.

Aku menggigil merasakan dinginnya angin pantai membelai payudaraku yang telanjang tapi Namjoon tidak berhenti. Dengan satu tangan yang aktif meremas dan memijat payudaraku, mulutnya bergerak menyusuri punggungku yang terbuka kemudian menaikkan gaunku hingga melewati pantatku.

"Wow, kau juga tidak memakai apapun di balik sini?" gumam Namjoon takjub saat dia melihat aku tidak memakai pakaian dalam di bawah rok gaunku.

Aku mendesah saat angin membelai bagian bawah tubuhku yang terbuka. Aku merasakan sebentuk jari panjang yang hangat membelai lipatanku dan aku merasakan cairanku meluber dengan perlahan.

"Damn! Kau terlihat sangat menggiurkan." Namjoon berujar dengan suara rendah kemudian aku merasakannya menyibak pipi pantatku kemudian aku merasakan jilatan panjang di lipatan basahku.

Aku menjerit kecil dan mencengkram batu karang di hadapanku. Namjoon menjilati diriku dengan begitu perlahan hingga kakiku gemetar dan tanpa sadar aku membungkuk serta mendekatkan tubuh bagian bawahku padanya.

"A-aah.." desahku tertahan. Aku menutup mulutku dengan telapak tangan karena aku benar-benar khawatir akan ada orang lain yang melihat kami di balik batu karang.

Namjoon terus menjilatku hingga aku mencapai klimaks pertamaku dan disaat aku terengah-engah karena klimaks pertamaku, aku merasakan sesuatu hendak menerobos diriku dan aku tahu itu Namjoon.

Aku menjerit tertahan saat Namjoon memasukkan dirinya dengan sekali hentak ke dalam tubuhku.

Namjoon memelukku dari belakang dan memijat payudaraku yang menggantung bebas, "Sssh, jangan terlalu keras atau mereka akan mendengarnya." bisiknya rendah hingga aku merasa kakiku semakin gemetar dan cairanku meluber semakin banyak.

Namjoon mencium telingaku, "Aku akan bergerak."

Kemudian Namjoon mulai menggerakkan pinggulnya dan aku kehilangan kata-kata untuk mengekspresikan apa yang aku rasakan saat aku merasakan miliknya bergerak di dalam tubuhku dan menggesek dinding terdalamku dengan gerakan yang begitu sensual dan panas.

Namjoon menggeram rendah, "Sial, kau begitu sempit."

Aku melenguh pelan dan meraih tangannya untuk memijat payudaraku lagi.

"Hmm, kau belajar dengan cepat, sayang." bisik Namjoon kemudian tangannya bergerak memijat payudaraku tanpa menghentikan gerakannya di bawah sana.

Aku dan Namjoon sama sekali tidak mempedulikan keadaan, kami hanya bergerak mengejar kepuasan kami masing-masing hingga aku memekik karena klimaksku dan Namjoon menggeram seraya menyemburkan semua cairan miliknya di dalam tubuhku.

Aku terengah-engah sementara Namjoon mencabut miliknya dari dalam tubuhku dan merapikan penampilanku. Namjoon mengecup dahiku yang berkeringat, "Kau hebat sekali."

Aku tersenyum dan mengecupnya lembut, "Kau juga. Aku tidak pernah tahu kalau seks akan terasa sehebat itu."

Namjoon tertawa kemudian dia menggendongku di punggungnya, "Aku akan membawamu ke kamar."

Ketika kami keluar dari balik batu karang dan kembali ke pesta, sebagian besar orang di sana sudah berkurang. Tapi aku masih bisa melihat Jungkook dan Taehyung yang berpelukan di depan api unggun dan Hoseok yang sedang menari bersama seorang gadis yang tidak aku kenal. Kemudian kepalaku berputar dan aku melihat Yoongi sedang berdiri bersama dengan Jimin di meja bartender.

"Seokjin?"

Suara Jungkook membuatku mengalihkan pandangan dan aku melihat Jungkook berdiri dari posisi duduknya untuk menghampiriku.

Namjoon berdehem, "Ah, kami akan kembali ke kamar."

Jungkook mengerutkan dahinya tidak mengerti tapi kemudian dia mengangguk paham dan tersenyum jahil saat melihat kondisiku yang kepayahan dan juga pakaian Namjoon yang agak berantakan dan kusut.

"Hmm, aku tidak tahu kalian seliar itu." Jungkook terkikik geli kemudian dia mengibaskan sebelah tangannya, "Yasudah, sana."

Aku menatap Jungkook dengan tatapan sengit karena dia meledekku lagi sementara Jungkook hanya tertawa dengan begitu menggemaskan. Helaan napas keluar dari mulutku kemudian aku menyamankan posisiku di bahu Namjoon.

"Seokjin,"

"Ya?"

"Sekarang kau milikku, kan?"

Aku tersenyum, "Ya, aku milikmu."

Aku tersenyum dan menggerakkan kepalaku untuk mengintip ekspresi Namjoon dan aku melihatnya tersenyum dengan lebar. Dan entah kenapa tapi hal itu benar-benar membuatku gembira hingga aku tidak tahan untuk tidak mendekatkan bibirku ke telinganya dan berbisik, "Bagaimana kalau kita lanjutkan yang tadi di kamar?"

Namjoon menoleh menatapku dan aku menatapnya dengan pandangan nakal.

"Wow, kau penuh dengan kejutan, sayang."

Dan aku tertawa saat mendengar itu keluar dari mulutnya.

The End

.

.

.

.

.

Yeaaayyy!

Passion selesaaaiiii~

Aku tidak ahli untuk adegan NC tapi kuharap ini sudah cukup memuaskan. Hahaha

Kalau kurang panas, kalian bacanya di sebelah kompor yang menyala saja. Haha

See ya!

.

.

.

.

Review?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Coming Soon..

The next series..

"Affair"

.

.

.

I will release it if you stop being a Silent Reader in all of my story.