A/N: Assalamualaikum. Waalaikumsalam. Eh kok njawab sendiri sih. Ahaha *?*

Oke, pertama: Maaf baru update sekarang. Saya sengaja nungguin sampe puasa biar baca ficnya juga kerasa lapernya. Oke, ngeles.

Kedua; maaf kalo humornya makin maksa. Yang namanya tenggelam di kolam angst itu susah keluar. Apaan sih.

Dan ketiga; SAYA SUDAH KELAS SEMBILAN, SAUDARA-SAUDARA! Astaga saya udah ga inosen lagi... Apabangetdeh.

Dan keempat alias terakhir; alarm para anggota Organization XIII di sini beda dari kemaren. Diganti tiap hari soalnya. Ehehehh #dor

Oke lah. Enjoy saja.

.

Warning: Genre menyerempet romance, mengandur unsur OOC, dan sedikit aroma BL di beberapa titik...dan lain-lain. *kabur* PAIR BERTEBARAN!


Possible pairing muncul: DemyxZexion, AkuRoku, LeonCloud, XemnasSaix, dan lain-lain, kawan.


Disclaimer: Kingdom Hearts selamanya milik Square Enix dan Disney... Dan merek, karakter maupun lagu-lagu yang muncul di fanfic ini ya punya pemiliknya :| I just own this crazy fic


Puasa Ala Organization XIII


Chapter 4 - Sahur ala Xaldin dan Hari Ketiga


The Castle That Never Was, 02.00

Sinta dan Jojo—maksud saya, Xaldin terlihat sedang berseliweran di dapur istana putih berbatu granit (?) megah itu. Wajahnya terlihat tenang namun mencurigakan, seperti Naoya dari Shin Megami Tensei Devil Survivor. Eh, kok bisa.

"Fufufu. Pasti semuanya akan menyukai ini." gumamnya misterius. Matanya bergelimang—err, bersinar dalam kegelapan. Lalu tawa seram ala Maleficient yang udah kerasukan arwahnya Jenova (?) menggema di dapur.

Sebaiknya, kita tinggalkan manusia—nobody—sinting ini, skip waktunya dan kita tengok (lagi) kegiatan makhluk-makhluk lain di sini. Tunggu.

Sini mana?


Xemnas's Room

Abang ketua organisasi nobody berambut perak yang sayangnya-enggak-begitu-ganteng-dan-mirip-kayak-Sepiroth itu masih berenang(?) di alam mimpinya. Bertemu dan bercinta dengan Saix di taman. Piknik dan menikmati udara hangat di taman. Apa-apaan?

Mendadak, bibirnya terbuka. Monyong gitu. Dan suara dengkuran yang lebih mirip suara truk lewat pun muncul, menggema dalam ruangan. Meninggalkan jejak-jejak kehidupan dan peradaban yang telah lama hilang. Eh seriusan ini apaan.

Dan kemudian, handphonenya yang stay cool di atap—maksud saya, meja kamarnya—berbunyi. Bergetar. Menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Ini apa-apaan? Bahasanya serius amat. Oke, lanjoet.

Dasar kau keong racun

Oke, saya tahu ini OOC. Seorang Xemnas yang kejam dan bersahaja (cuih) itu memasang alarm dengan lagu Keong Racun? , dunia sudah mau terbit. Eh. Salah banget.

Xemnas pun terbangun. Ketap-ketip. Menyisir rambutnya dengan tampang (sok) cool, mematikan alarm handphonenya dan berjalan dengan santai ke ruang makan.

...tunggu dulu.

Xemnas, kau masih pakai boxer.


Xigbar's Room

Sang sniper ber-eyepatch ala Kenpachi dari Bleach itu masih terlelap dalam tidurnya. Mulutnya setengah terbuka dan wajahnya jadi mirip Barnacle Boy dari Spongebob Squarepants. Cuma, yang ini terlihat lebih tua. Saya cuma bercanda, Xigbar. Jangan sentuh senjata itu. Turunkan senapanmu-TURUNKAN! Oke lanjut.

Abang sniper yang imut—errsebenernyagaimutjugasih—itu berguling-guling di kasurnya dalam tidur. Kemudian ngiler. Membentuk benua Australia di kasurnya. Ih ngilernya serem. Kabur yuk. Enggak lah bercanda. TURUNKAN SENAPANMU, XIGBAR.

Benda mengkilat berwarna hitam dan—ehm—sedikit stipping pink di meja Xigbar layarnya menyala. Ketap-ketip ala lampu disko, kemudian—

Aku terjatuh... Aku terjatuh lagi di pelukanmu...

Oke. Silakan sweatdrop dan jawdrop, saudara-saudara. Seorang Xigbar yang macho(?), berotot(?), keren dan awesome (jiah) itu memasang alarm dengan lagu dari ST 12? Astaganagabonarjadidua, deh.

Sepasang—bukan, bukan sepasang, cuma satu yang dipajang—mata Xigbar pun terbuka. Menyebarkan aroma melati di ruangan dan mengeluarkan suara 'hii hi hi hi hii'. Tunggu, itu Kuntilanak.

Mata Xigbar terbuka dengan dramatisnya. Ia pun duduk di tempat tidurnya, berdiri di lantai dan berjoget nggak jelas ala Sepen Aiken (Seven Icon, maksudnya) sambil nyanyi "GAK GAK GAK KUAAAT, GAK GAK GAK KUAAAAT". Astaga.

Setelah selesai melakukan ritual(?) bangun paginya, Xigbar nyengir aneh. Kemudian nyelonong ke luar kamar dengan tampang yang (sangat) berdosa.


Vexen's Room

Ruangan nomor empat ini terasa dingin. Dinding-dindingnya ditempeli es. Entah karena pemiliknya ingin, atau hanya iseng. Sementara sang penghuni kamar sedang ngorok (mendengkur) dengan indahnya, sampai-sampai suaranya seperti gergaji yang sedang menggergaji(?) kayu untuk dibuat meja atau lemari. Eh, OOC.

Vexen masih berguling nyaman di tengah balutan selimut Spongebob Squarepants miliknya. Yang bergambar makhluk kuning kotak dan bintang laut pink karya babang Stephen Hillenburg.

Wajah tua(?)nya terlihat aman tertib lancar asri sehat nyaman rindang bersih—apa-apaan ini. Sang nobody pengendali es itu masih tertidur di tempatnya dengan tenang. Seakan-akan nggak ada hal yang akan menyerangnya tiba-tiba. Emang nggak ada, kan.

Benda elektronik kotak berwarna hitam dengan stripping biru di atas lemari(?) milik Vexen bergetar. Layar LCDnya menyala-nyala. Dan bunyi menggelegar pun membahana di seantero ruangan.

Just be friends, all we gotta do, just be friends. It's time to say good bye...

Tiba-tiba lagu Just Be Friends milik Megurine Luka dari Vocaloid menggema. Membuat handphone Vexen bergetar hebat. Kemudian terjatuh perlahan dari atas lemari. Perlahan. Lemah. Rapuh. Jatuhnya ke atas kasur tapi.

Vexen masih nyenyak. AC alami yang melapisi dinding kamarnya membuatnya hanyut dalam alam mimpinya yang hanya hitam dan putih, namun hal itu bukanlah sebuah mimpi buruk. Oh, ternyata sedang bermimpi berhasil mengalahkan Xemnas (?).

Namun, mimpinya terusik ketika tiba-tiba handphonenya bergetar membunyikan alarm. Bisa saja sih dia mematikan alarm lalu melanjutkan tidurnya, namun Ia kapok setelah mengalami hal mengerikan karena mematikan alarm dan tidur kembali; bermimpi dimakan gurita berwarna pink. Eh?

Ia pun terbangun. Menabrak dinding kamarnya yang sudah bermetamorfosis menjadi lapisan es. Otomatis, wajahnya membeku dan menempel di dinding.

...

"UHGYAAAAAAAAAA!"

Vexen, malangnya nasibmu...


Lexeaus's Room

Pemuda super kalem ini ternyata nggak tidur, tapi meditasi. Yep, bukan tidur, tapi meditasi. Eh, sama apa nggak sih?

"UHGYAAAAAAAAAA!"

Lexeaus membuka mata kanannya. Yang kiri masih tertutup dalam meditasi yang indah (?). Ia mendengar jeritan maut (?) Vexen yang secara nggak langsung kamarnya di depannya juga.

Lexeaus menggaruk kepalanya yang ketombean dan penuh kutu loncat. Eh, maksud saya, yang tidak gatal. Ada apa sampai Vexen menjerit seperti sekarat habis ketemu Xemnas yang memakai baju balet begitu?

Ia kemudian menatap jam dinding berbentuk Donal bebek di kamarnya. Ternyata diam-diam dia ngefans sama si bebek biru nan ceria ini, saudara-saudara! Oke, kembali ke cerita.

"Oh. Sudah saatnya sahur." gumamnya kalem. Dia kemudian ngeloyor ke luar tanpa menghiraukan teriakan kematian Vexen yang kedua kalinya.

Oh, Vexen. Nasibmu malang sekali.


Zexion's Room

Pemuda berambut biru keperakan dengan model emo dan mirip Minato dari Persona 3 (lah) ini masih terlelap di dunia impiannya. Di mana dia dan Demyx bisa berlari dan bercanda bersama di bukit berumput yang hangat nian disinari matahari. ECIEEEH (?)

Zexion senyum-senyum sendiri dalam tidurnya. Perasaannya yang diam-diam disimpannya untuk Demyx tercurah dalam mimpinya. Ih cikiciw, romantis amat. Eit, Zexion, jangan serang saya.

Sang pemuda emo ini masih tersenyum manis dalam tidurnya (cieh #plak). Ia memeluk bantal kedua yang disimpannya di samping kasur, dan memeluknya erat. "Demyx..."

Dan tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka.

Merasa hawa-hawa orang—maksud saya nobody—di depan pintu kamarnya, Zexion terbangun. Membuka matanya dengan indah. Kalo dilihat slow motion lama-lama kayak Sephiroth. Kok?

Kedua orb biru itu terbuka ketika melihat seorang makhluk tanpa hati yang biasa kita sebut nobody (halah) dengan kepala mirip sulak (?) dengan warna blonde kusam yang barusan dia sebut namanya itu muncul di depan pintu kamarnya. Yap, Demyx. "Ada yang manggil?"

Zexion blushing. Tampangnya memancarkan pertanyaan (atau pernyataan?) 'Lo-sekali-lagi-muncul-mendadak-kayak-gitu, lo-gue END'. Eh apaansih.

Demyx cuma nyengir melihat wajah Zexion yang memerah bagaikan bunga mawar di pagi hari (bah). Ia mendekati Zexion kemudian menyentuh pipi Zexion yang masih merona sebelum berbisik, "Ah, ah, kau pasti kangen aku ya~?"

Wajah Zexion makin merona, sebelum kemudian menimpuk(?) Demyx dengan bantal yang entah sejah kapan dipegangnya itu. Demyx hanya tertawa-tawa riang, sementara Zexion masih blushing dan malu-malu tikus. Eh.

Ah, mereka memang romantis. (?)


Saix's Room

Lah—orangnya gak ada, pemirsa! Ah, pasti udah jalan ke ruang makan. Lanjut ke kamarnya Axel aja, yuuu.


Axel's Room

Sang pemuda berambut merah njegrak ihik-ihik (?) ini masih tidur dan bermimpi dengan indah. Tunggu, mimpinya nggak begitu indah. Karena dia bertemu makhluk(?) berambut merah yang selalu bawa tonfa kemana-mana yang mengaku bekerja sebagai Turk. Iya, iya. Itu Reno. Eh. Tumben nggak mimpiin Roxas.

Si rambut merah ini berguling-guling kesana-kemari di kasurnya, karena di dalam mimpinya tiba-tiba Reno menyerangnya. Yah, yang namanya menghindar itu kan berbagai macam yak.

Axel berguling di kasurnya sekali lagi. Entah apa yang dimimpikannya sampai berguling begitu, author aja nggak tau.

Ia terus berguling. Berguling. Berguling. Kemudian benda padat di mejanya bergetar, menggelegar.

Today I don't feel like doing anything~

Oke, nobody ini ternyata pancen (Jawa: Memang) gahoel. Lagu alarmnya aja The Lazy Song-nya bang Bruno Mars. Bukan, bukan Bruno Jupiter. Bukan Bruno Earth juga, itu sepupunya(?). Oke, lanjut.

Sesuai dengan lagunya, Axel yang masih tidur makin nyenyak. Makin malas makin ngantuk maka makin nyenyak. Makin nyenyak makin makmur. Oke, ini emang nggak nyambung.

Axel masih terus berguling. Berguling. KAPAN JATUHNYA, BANG? Ahem.

Yap, kata kerja yang saya sebutkan tadi panjang umur, sepupu-sepupu saya sekalian. Axel pun terjatuh dengan indah dari kasurnya yang tinggi.

Gedubrak!

"Anying!" umpat Axel otomatis, sebelum kemudian menampar dirinya sendiri yang belum sadar sepenuhnya. Refleks muslim(?) yang hebat, ya.

Sepasang mata emerald si rambut pyro ini terkunci pada benda padat merah yang bergetar sambil berjoget dan berformance dengan indah di meja kecilnya. Benda itu menari-nari-tunggu, hapenya Axel bisa hidup juga?-sambil bermain biola(?), membuat pemiliknya cengo di tempat.

"...Eh? Hapenya bunyi... Udah sahur dong?" gumam Axel separo sadar. Ia kemudian menolehkan kepalanya dengan gerakan 'JEGLEK-CLING'(?), menatap ke arah jam merah yang berbentuk api di kamarnya.

"...oh yeah, udah sahur... Ke ruang makan, ah."

Dan sang pemuda pyro ini meninggalkan kamar tanpa mematikan alarm handphonenya yang masih berformance dengan indahnya.


Luxord's Room

Wait—Anda semua bingung kenapa nggak ke tempat Demyx dulu? Yah, Demyxnya kan tadi udah mejeng di kamarnya Zexion. The power of love! Ehem. Oke, lanjut.

Mari kita tengok keadaan paman yang berpopopopopopokerface(?) ini.

Si abang ganteng berambut putih cepak yang makin membuat wajahnya kayak mbah-mbah lansia ini masih pulas. Mimpi sedang berjudi entah dengan siapa, kemudian menang telak berkali-kali dengan ngehe super. Yah, bagi dia udah berapa hari ga judi kan penat juga yak. Mukanya poker face. Udah mirip kayak ledi Gaga. Eh ya nggak lah.

Ia berguling di kasurnya dengan nyaman dan nyenyak dan aman dan tentram. Mimpinya sungguh indah sampai Ia melayang ke awan. Oke, ini memang khayal parah.

Ia terus bermimpi, sampai akhirnya handphone di mejanya berbunyi. Membunyikan alarm yang cihuy.

Po-po-po-po-poker face

Oke. Saking kangennya sama kartu, poker maupun judi, Luxord rela sampai memasang lagunya Lady Gaga yang Poker Face. Udah mukanya poker face, alarmnya poker face, si Gambler yang dinas(?) di kamarnya juga pasang poker face sambil main poker sama Gambler yang lainnya, handphonenya diberi casing yang gambarnya kayak kartu poker, temanya—ah, skip saja bagian ini, kepanjangan.

Luxord mengerang ketika lagu Poker Face menyusup ke telinganya dan merusak mimpinya yang indah dan keren tadi.

Nobody dengan nomor 10 itu meraih handphonenya yang tergeletak dengan manis (meskipun nggak dikasih gula ataupun madu) di mejanya, kemudian melemparnya. Yang secara kebetulan tapi juga tidak sengaja (halah) mengenai kepala sang Gambler yang lagi asik bergamble dengan Gambler lainnya.

Dan Gambler itu pun marah besar.

Gambler mengambil handphone Luxord yang kini tergeletak di lantai, menggumamkan sesuatu tidak jelas yang kalau diartikan dalam bahasa manusia kurang lebih artinya "Dia itu, alarmnya sudah nyala masih tidur lagi!".

Gambler mendekati tubuh Luxord yang masih menggelinjang di kasur. Kemudian mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan melempar handphone Luxord langsung ke kepala paman berambut putih ini.

"ADOOOOOOOH, MAMIIIIII!"

Makanya Luxord, kalau ada alarm bangun...


Marluxia's Room

Mari kita tengok kamar pemuda berambut punky dengan muka yang mirip bunga mawar ini, saudara-saudara sekalian! Dan, kita intip koleksi fotonya, yuk.

Marluxia masih lelap. Rupanya dia kalo tidur terlihat ganteng, saudara-saudara. Eh.

Seperti yang kita tahu sebelumnya, kamar Marluxia penuh dengan koleksi foto. Foto yang berserakan bertambah. Ada foro Sora lagi nyuri sendalnya Merlin (?), Saix lagi melukin kucing, Roxas lagi gelundungan sama Axel di Twilight Town, Hayner lagi ngelempar bola bekel ke Seifer, Vivi lagi melayang (?), bahkan fotonya Leon sama Cloud yang diam-diam mojok juga ada. Eih mesraaaa (?).

Sekuntum mawar meraaaaaah~

Alarm handphone Marluxia berbunyi. Lagunya dangdut. Marluxia yang terbangun dan masih setengah sadar menari-nari secara reflek. Lalu mengeluarkan sekuntum mawar merah yang entah didapatnya dari mana dan diletakkannya di mana.

"Yang kau berikaaan~ Kepadakuuuu~" Kini Marluxia ikut nyanyi. Joget-joget di atas kasur, tak peduli kini ada Dragon, Gambler, Samurai dan Dancer nyasar yang kini sweatdrop, ngintip si Marluxia dari jendela luar.

Lama-lama si Dancer mulai terbawa suasana. Awalnya cuma mengangguk-anggukkan kepala perlahan, lalu ajeb-ajeb kayak orang dugem, kemudian mulai ikutan joget. Terus gayanya kayak merayu Samurai. Samurai cuma bisa sweatdrop.

Tiba-tiba lagu berhenti. Dancer kecewa. Samurai lega. Dragon sama Gambler malah main poker. Tapi nggak poker face, nanti dimarahi Luxord sama Lady Gaga.

Setelah lagu berhenti, Marluxia pun tersadar sepenuhnya. Menatap jam di handphonenya dan mengamatinya dengan seksama, lalu keluar kamar.

Setelah itu, Dancer dan Samurai menyelinap masuk untuk memborong foto-foto yang mereka temukan.

Sementara Dragon dan Gambler? Menghilang ditelan langit.


Roxas's Room

Kenapa nggak ke kamarnya Larxene? Err, wanita itu udah terlanjur nonjok author sebelum sempat menyentuh pintu kamarnya seinci pun. Makanya, langsung ke kamarnya Roxas yuuuu.

Di kamar berwallpaper papan catur ini Roxas masih terlelap, ditemani dua makhluk(?) Samurai yang sedang bermain bersama handphone-nya Roxas yang bisa hidup. Dan mereka main tennis, saudara-saudara! Khayal? Yah, si hape cuma jadi wasit, lah. Gampang, kan? Nah, jangan tabok saya.

Roxas memeluk gulingnya yang bermotif kotak-kotak juga, sama seperti wallpaper dinding kamarnya. Dasar pengggemar kotak-kotak. Untung wajahnya nggak ikutan kotak-kotak.

Roxas bernafas. Ya iyalah, kalo nggak mati, kan? Lanjut. Ia terlihat tenang dalam tidurnya. Saking tenangnya, orang yang panikan pasti mengira dia sudah pergi ke dunia 'sana'. Err, bahasa nobody-nya sih menghilang. Bahasa manusia-nya sih... You know what I mean, right?

Kedua Samurai yang tadi kita bicarakan(?) itu kini bermain lompat tali. Entah bagaimana caranya, pokoknya mereka berdua main lompat tali. Nggak peduli itu siang, sore, pagi, Senin ataupun Selasa mereka selalu main lompat tali. Oke ini nggak nyambung.

Si hape yang dari tadi cuma ngeliatin kedua Samurai yang selalu bermain layaknya kakak-adik kandung yang gak pernah akur itu kini bergetar. Alarmnya bunyi. Dia kemudian lompat-lompat ke meja. Mengumandangkan alarm yang menggelegar dunia.

To aru kotoba ga kimi ni tsukisasani-

Roxas, kenapa alarm yang kau pasang Mosaic Roll punya Gumi dari Vocaloid? Apakah kau benci alter ego-mu? Memang siapa alter ego-mu? Bukannya kau yang alter ego dari Sora? Lalu kenapa Goofy sukanya ngomong 'ahyuck'? Kenapa ada bebek bisa bicara? Kenapa ada tikus jadi raja? Lalu kenapa bentuk bumi bulat? Kenapa Zack harus mati? Nggak nyambung!

"Ngh... Author sama alarm berisik..." gumam Roxas pelan sambil meraih handphonenya yang tergeletak di meja perlahan tapi pasti. Lho, kau bisa dengar apa yang saya katakan? Keren.

"Ya bisa denger dong. Orang ditulis." Oh...pinter—eh, apa yang kita lakukan? Kayak orang gila.

"Kau yang gila, author." Jreb.

Kembali ke cerita, Roxas. Jangan menyimpang.

"Halah, palingan kau malas meladeniku kan? Sudah kehabisan kata-kata?"

KEMBALI KE CERITA!

Roxas, masih memegang handphonenya yang masih memutar lagu Mosaic Roll—alarmnya, maksud saya—kini mengusap matanya dengan innocent. Wajar aja Axel cinta sama Roxas, kalau bangun tidur wajah bagai dewi~ A—abaikan.

Ia menguap. Ngantuk. Bangun jam tiga tiap hari itu ternyata tidak semudah yang dibayangkannya. Apalagi kalau dia kelelahan itu tidurnya bisa sampai akhir zaman es. Lebay.

Masih dalam keadaan mengantuk, Roxas berjalan keluar dari kamarnya dengan mata setengah ditutup.

Duak.

"Aww!"

...makanya, kalau jalan jangan sambil tidur.


The Kitchen That Never Was (?)

Semua sudah berkumpul. Wajahnya Vexen masih setengah beku. Demyx sama Zexion malah mojok. Kepalanya Roxas benjol habis kejeduk dinding. Lexeaus masih meditasi meskipun itu udah di ruang makan. Marluxia joget-joget sambil nyebar-nyebar bunga. Xigbar masih senyum mencurigakan. Saix pundung di pojokan, meskipun Xemnas sudah pakai celana. (?)

"Roxas, kenapa kepalamu benjol?" tanya Axel khawatir. Roxas hanya meringis nggak jelas, nggak mau jawab. Memalukan, sih.

Tak lama kemudian Xaldin keluar dari dapur. Membawa dua piring besar pasta yang terlihat menggiurkan. Untung si Dragon gak ikutan dimasak.

Para anggota Organization XIII terlihat ngiler. Sudah kepengen menyantap pasta itu. Benar saja, saat Xaldin meletakkan piring itu di meja, anggota lain langsung menyerbu pasta itu.

Namun, apa yang terjadi?

Roxas menutup mulutnya pakai tangan. Vexen wajahnya kayak siap meledak—esnya sampai mencair, Xemnas dan Saix sok jaim, cuma kipas-kipas, sementara si Axel tambah lahap, makanannya Vexen langsung diincar.

Apa yang terjadi?

"PEDAAAAAAAAAAAAAAAASS!"

Yap, dugaan Anda semua benar. Pastanya terlalu pedas. Dasar naga (?).

"Masa pedas, sih? Enak, tau!" sahut Axel, masih menyantap pastanya. Roxas menatapnya tajam. "Bagimu yang berelemen api memang enak. Bagi Vexen ini neraka, kawan!" Oh, Roxas mendadak bijak! A-abaikan.

Axel nggak peduli, masih menyantap pastanya dengan lahap. Bahkan bagiannya Vexen dimakan. Lexeaus seakan-akan tidak terpengaruh dengan kepedasan pasta itu, masih santap melahap pasta itu perlahan.

Yah, walaupun enak, sayang terlalu pedas.


The Castle That Never Was, 07.00

Semuanya berkumpul. Wajahnya Vexen masih amburadul dan tidak karuan, sementara wajahnya Axel udah kayak Reno kesambet setan mesum—bukannya Reno memang mesum?—seakan telah menerima kenikmatan surgawi. Apaan coba?

Roxas hanya bisa bengong melihat ekspresi pasangannya (pasangan dalam hal tjintah atau pasangan dalam kerja, terserah pembaca) yang seakan berkata 'ahhh-tadi-pagi-dapat-nikmat-surgawi' itu.

"Yak, semua sudah berkumpul, kan? Kalau begitu, akan kubentuk kalian dalam tim lagi. Axel dan Roxas, kalian ke Twilight Town. Larxene dan Vexen, kalian ke Underworld, ya. Lexeaus dan Luxord, kalian ke Agrabah. Xaldin dan Xigbar, kalian ke Halloween Town. Demyx dan Zexion, kalian ke...Christmas Town saja, ya. Marluxia...kau sendirian saja, ya? Kau ke Hollow Bastion saja." jelas Saix panjang lebar. Marluxia tersenyum tanpa arti(?), dalam hati berkata 'aku harus siap membawa kamera'.

"Oke. Begitu saja pembagiannya. Sekarang, bubar!"

"Yes, sir!"


Twilight Town, 13.00

Axel dan Roxas kini sudah berada di Twilight Town. Kedua pasangan itu hanya diam, menanti semakhluk(?) Heartless yang datang—namun percuma, yang ada juga cuma Dusk lewat sambil joget poco-poco. Hanya kesunyian yang menghiasi detik demi detik kedua nobody ini, sampai akhirnya Roxas membuka mulut untuk berbicara.

"...tempat ini sudah aman dari para Heartless, kan? Kenapa Saix memerintahkan kita untuk... Ke sini?" gumamnya pelan. Manik birunya menatap ke segerombolan anak—Hayner, Pence dan Olette tepatnya—yang kini pergi ke toko untuk membeli tiga—empat, soalnya Pence beli dua—stik sea-salt ice cream.

Axel hanya menatap Roxas. Ia hanya tersenyum tipis, kemudian menepuk kepala Roxas pelan.

"Nah, nah, Roxas... Kalau saja kita tidak dalam bulan puasa, pasti kubelikan sea-salt ice cream, kok."

...krik.

"Bukan itu maksudku, Axel!" pekik Roxas, membuat Hayner kaget dan menjatuhkan sea-salt ice cream yang dipegangnya tadi. "Maksudku bukan itu—dan—aku—"

"Sudah, sudah, aku mengerti." potong Axel, sedikit panik melihat ekspresi Roxas yang mau menangis. "Aku mengerti, saking inginnya sea-salt ice cream itu kau ingin menangis. Jadi seharusnya tidak kukatakan hal seperti tadi."

Roxas menepuk kepalanya. Bukan itu yang dia maksudkan, yang dia maksudkan itu kan dia iri(?) melihat pertemanan Hayner, Pence dan Olette.

"BUKAN ITUUUUU!" Jerit Roxas, kini membuat Pence kaget sampai-sampai kedua es krim yang dipegangnya terlempar dan menjatuhkan punya Olette. Olette ikut menjerit, namun jeritannya jelas jauh lebih girly dari Roxas. Ya iya lah, yang cowok siapa yang cewek siapa.

Axel hanya menggaruk kepalanya. Sistem otaknya mulai lemot. Kalau Roxas nggak mau sea-salt ice cream, lalu dia mau apa?

"...kalau bukan itu, kau mau apa? Permen?"

Roxas menjerit lagi. Seifer yang entah sejak kapan berjalan di sekitar sana sambil membawa bola terkejut, lalu bola yang dipegangnya jatuh. Kemudian bola itu berguling dan membuat Hayner terpeleset kemudian terjatuh menimpa Pence. Nasibnya Hayner dan kawan-kawannya naas, kawan.

Sementara si Axel, cuma bisa garuk-garuk kepala sambil memasang tampang bego.

Lalu apa yang diinginkan Roxas?

"Lalu kamu inginnya apa? Cinta?"

Roxas hanya bisa menendang badan Axel dengan penuh cinta. (?)


Underworld, Unknown Timeline (?)

Larxene dan Vexen nggak bergerak sesenti pun dari tempat mereka berdiri. Yah, sebagai pengguna petir dan es yang awesome, mereka cukup berdiri dan jeder-jeder atau kretek-kretek saja. Membuat Heartless di sana lari tunggang langgang karena menerima thermal shock. Kok ilmiah begini.

"Bah, nggak seru." omel Larxene, masih menyerang heartless yang lari ketakutan dan tunggang langgang kesana kemari. Vexen cuma angguk-angguk-yang lebih tepat dibilang ajeb-ajeb.

"Nggak seru sama sekali." omel Larxene lagi, melemparkan kunai listrik (?) miliknya ke seheartless (?) Heartless yang entah apa sebabnya warnanya nggak hitam.

"UGHYAAAA!" Uwo, heartlessnya bisa ngomong! Tunggu. Suara itu...

Larxene dan Vexen menghentikan aktifitasnya setelah mendengar suara yang tidak jelas tadi. Mereka menolehkan kepala mereka, menatap ke arah makhluk kecil seukuran Heaerless namun berwarna pink kemerahan. Ya, itu si Phil.

"Kau mahkluk apa?" tanya Vexen dengan flat. Phil cuma menatap mereka dengan tatapan tidak jelas. Makin ditatap makin tidak jelas. Makin tidak jelas makin ditatap. Apaan ini maksudnya?

Phil langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan arogan. "Namaku Phil. Siapa kalian, sampai masuk ke wilayah tercinta-ku ini?" Halah, ngayal.

Kedua nobody di depan makhluk yang nggak jelas asal-usulnya itu pun saling bertatapan satu sama lain. Seakan-akan bisa telepati, mereka berdua menyeringai.

Dan jeritan Phil pun terdengar sampai ke Colliseum, membuat Hercules berguling dari singgasananya (?).


Hollow Bastion, 13.00

Karena author gatel pengen ngintip apa yang dilakukan Marluxia di sini, langsung saja ke abang penjual mawar (?) ini ye.

Marluxia ternyata sedang menghajar(?) para heatless dengan Graceful Dahlia-nya yang keren sekali. Bah.

Ia terus membersihkan jalan dengan cara membasmi sepuluh heartless dalam satu tebasan Graceful Dahlia. Entah bagaimana caranya, pokoknya dia bisa begitu. Apaan coba.

Rambut pink jabriknya berkibar-kibar ditiup angin. Wajahnya yang (sebenernya nggak begitu) tampan itu memancarkan sinar ultraviolet dan para heartless pun mati karena penuaan kulit (?). Apaan.

"Ah~ Rasakan serangan Graceful Dahlia-ku yang manis ini! Heaa~" Oke, Marluxia sudah mulai gila.

Ia terus membasmi, membasmi, membasmi, dan membasmi heartless pake baygon—bukan, pakai Graceful Dahlia-nya yang kini bersinar cerah diterpa sinar ultraviolet. Ini maksudnya apaan ya?

Sampai akhirnya Marluxia kecapekan sendiri, lalu bersandar pada dinding.

Suatu kesalahan besar bagi Marluxia yang sedang puasa.

"Heartlessnya nggak ngurang-ngurang..." Suara gentle yang menurut author agak childish. Marluxia mengangkat alisnya mendengar suara itu. Ingin mengintip, tapi apa daya kamera belum siap (?).

"Benar juga, ya. Kenapa heartlessnya sebanyak ini..." Suara gentle lain yang lebih berat dari suara tadi. Marluxia langsung mengeluarkan kamera digitalnya, begitu menyadari bahwa yang dibalik tembok itu adalah Cloud dan Leon yang lagi diserbu heartless.

"Ugh, capek..."

"Sebentar lagi mau habis, kok."

"Tapi tanganku capek..."

"Salahmu sendiri pake pedang segede gajah gitu."

Marluxia berusaha menahan tawa mendengar percakapan nggak jelas itu. Pedang segede gajah? Bah, Leon punya sense humor garing juga rupanya.

"Jangan mengejek pedang ini! Pedang ini sudah menyelamatkan banyak nyawa, tahu!"

"Terserahlah. Lagipula pedang lain juga bisa kan."

Marluxia benar-benar sudah ingin tertawa. Cloud sama Leon sama-sama kepala batu, rupanya. Apalagi respon dan humor garing yang dilontarkan oleh Leon tadi itu benar-benar membuat heartless yang ingin menyerang Marluxia kabur ke tempat di depan rumahnya si Merlin. Kok? Oh, rupanya mukanya Marluxia jadi kayak pedobear. Eh.

"—gyaa! Ah, gara-gara kau mengajakku ngomong, sih!"

"Yang ngomong duluan juga siapa, ya."

Marluxia tertawa tanpa suara (?). Cuma mulutnya kebuka terus ekspresinya kayak Reno kesambet Rude (?). Mencoba mengatasi rasa gelinya yang kelebihan takaran, dia mengelap lensa kamera digitalnya dengan sapu tangan warna pink dengan hiasan gambar mawar di sudutnya. Eh...

"Peduli am—" Duk, "Gyaa!"

"Cloud, awas!"

Suara gedubrak kedua pun terdengar jelas. Memiliki jiwa paparazzi amatir yang menghasilkan banyak munny dengan foto, Marluxia langsung mengintip keluar tembok dengan cepat.

Sekali lagi; suatu kesalahan BESAR bagi Marluxia yang sedang puasa.

Menatap pemandangan di depannya, Marluxia melongo. Cloud yang terjatuh dan tergeletak di lantai memejamkan matanya, sementara entah bagaimana caranya Leon bisa berada di atasnya. Gayanya seperti—bayangkan sendiri, deh.

Marluxia (dan author juga, sebenernya) pun berdoa supaya puasanya nggak batal.


Christmas Town, Unknown Timeline (?)

Demyx dan Zexion pun sampai di Christmas Town. Mereka membasmi berbagai macam heatless, bahkan mereka sempat melongo ketika melihat heartless yang berbentuk persis seperti kotak mainan. Ada yang berbentuk mesin permen, pula. Demyx jadi lapar tuh.

"Zexion, kok heartless-heartless di sini bikin ngiler sih...?" gumam Demyx sambil menatap heartless mesin permen dengan wajah yang berkata 'aku-lapar-dan-ingin-permen-tapi-lagi-puasa'. Bahkan kloning airnya pun ikut lesu dan kuyu, seakan-akan kelaparan juga. Zexion menghela nafas, dan malah baca buku.

"Kau ini. Kita sedang puasa. Tahan nafsumu." gumam Zexion, masih membaca bukunya yang ternyata puisi yang kondang di game Final Fantasy VII. Yep, LOVELESS. Zexion jadi Genesis wannabe (?), tuh.

Demyx cuma merengut sambil memainkan gitarnya, membuat kloning airnya menari-nari dengan kaki yang beku. Christmas Town kan bersalju. "Nafsu apa? Nafsu bercinta?"

Entah kenapa, Zexion blushing. Mengeluarkan buku lain (karena dia terlalu 'eman-eman' kalau memakai LOVELESS) yang ukurannya lumayan besar, ia menimpukkan buku itu ke kepaka Demyx. Si blonde kusam(?) cuma mengaduh ketika buku yang lumayan besar dan tebal itu bertemu kontak dengan kepalanya yang malang.

"Aduh! K—kok dipukul, sih?" protes Demyx sambil memegangi kepalanya yang (untungnya) tidak benjol. Zexion cuma mendengus pelan, menyembunyikan wajahnya yang masih memerah di balik buku LOVELESS yang dibacanya. Demyx mengangkat alis.

"...LOVELESS? Apa kau butuh cinta, kawan?" Mendengar celetukan tanpa mikir dari Demyx, Zexion makin membenamkan wajahnya dalam halaman-halaman LOVELESS. Biarlah kalau sampai wajahnya tercetak LOVELESS, jadi Genesis wannabe itu nggak salah juga kan. Nggak nyambung coba.

Melihat reaksi kimia—coret—Zexion yang agak aneh, Demyx pun mengerti. Ia menyeringai dengan wajah yang kelihatan ingin mengerjai orang, sebelum kemudian mendekatkan tubuhnya ke Zexion. Masih menyeringai, si blonde yang jago bermain sitar ini pun berbisik perlahan,

"Apa kau mau cintaku, ne, Zexion~?"

Nasib Demyx pun berakhir sama seperti Axel.


Halloween Town, Unknown Timeline (lagi)

Xaldin dan Xigbar cuma senyum-senyum nggak jelas ketika melihat heartless-heartless di sekitar mereka langsung musnah diserbu Dragon dan juga kena tembakan mautnya Xigbar. Mereka cuma duduk-duduk sambil nggosip ala bapak-bapak arisan. Apaan?

Saking asyiknya menggosip, mereka tidak menyadari bahwa sang anjing setan lewat di dekat mereka.

Bahkan kedua nobody (agak) tua itu pun tidak menyadari akan adanya kehadiran setan skeleton jangkung berjubah hitam di dekat mereka.

"BOO!"

Xigbar kaget. Xaldin melongo. Kedua bapak-bapak arisan ini lemot juga rupanya.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

...

Satu menit.

"ASTAGANAGABONARJADIDUA!" Xaldin OOC, saudara-saudara.

Sementara itu, para Dragon yang masih mengejar para heartless pun bersin. Berpandangan seakat berkata 'kayaknya tadi ada yang manggil'.

Setan skeleton berjubah hitam itu—Jack Skellington, of course—cuma bisa garuk-garuk kepala bingung. Soalnya gak bisa sweatdrop sih, makanya bisanya garuk-garuk kepala. Maksudnya apa coba.

Xigbar cuma mangap tanpa ekspresi. Sementara ekspresinya Xaldin udah kayak Cloud yang liat Sephiroth hidup lagi terus nari samba tanpa pake baju. BLAH.

Menyadari jaket dan celana hitam—seragamnya—yang dipakai Xaldin dan Xigbar, Jack pun mengingat dua nobody yang datang ke sana dua hari lalu. Pemuda tinggi berambut merah jegrak aserehe(?) dan pemuda mungil berambut blonde miring kanan eha-ehe(?), alias si Axel dan Roxas.

"Hm? Seragam kalian sama seperti dua orang yang ke sini dua hari lalu. Yang rambutnya merah dan satunya blonde itu." komentar Jack tiba-tiba. Xigbar langsung menutup mulutnya, sementara wajahnya Xaldin jadi kayak Yuffie yang menemukan harta karun terpendam di rumahnya Merlin.

"Ah, maksudmu Axel dan Roxas?" celetuk Xaldin kemudian. Wajah Jack menjadi cerah—padahal dia sendiri nggak tahu namanya siapa.

"Ah ya, siapa lah nama kedua orang itu! Pokoknya mereka berdua dua hari yang lalu ke sini." kata Jack sambil menari salsa. Xigbar sweatrdop.

"Lalu apa yang dilakukan mereka di sini?" tanya Xigbar, menggaruk pipinya yang berkerut karena penuaan. JANGAN TEMBAK SAYA.

"Mereka membasmi heartless, tentu saja. Tapi, mereka juga melakukan adegan mesra!" jawab Jack bersemangat. Wajahnya Xigbar dan Xaldin jadi kayak bapak-bapak fanboy pedo yang ternyata menyimpan doujin AkuRoku dan RikuSora di kamar mereka. Maksudnya apa.

Dan entah bagaimana caranya, AkuRoku Fanboy pun terbentuk saat itu juga.


Agrabah, 16.00

Ini dia yang terakhir dan belum kita tengok dari tadi: Lexeaus dan Luxord. Mari kita tengok, kawan.

Di tengah padang pasir itu, terlihatlah dua nobody yang sedang duduk di pasir tanpa berkata ataupun melakukan apa-apa.

Lexeaus sedang meditasi (LAGI), sementara Luxord malah ketiduran sambil senderan di punggung Gambler yang lagi bergamble dengan Gambler kedua, bukan ketiga. Apaan.

...

Sungguh sunyi.


The Castle That Never Was; 18.00

Adzan magrib berkumandang dari radio punya Xemnas. Axel yang badannya masih cenat-cenut bekas ditendang Roxas pun menghela nafas lega. Roxas malah pundung di bawah meja. Lexeaus bangun dari meditasinya. Luxord bangun dari tidurnya. Marluxia menghela nafas lega karena akhirnya bisa mencetak foto LeonCloud yang tadi didapatnya dengan berdoa supaya puasanya gak batal. Xemnas sama Saix cuma lirik-lirikan, namun penuh cinta (?). Xigbar dan Xaldin senang, akhirnya hasrat fanboy mereka bisa terlampiaskan tanpa takut puasa batal. Demyx lega karena bisa makan. Sementara Zexion bingung karena entah harus senang atau takut dan waswas kalau di'serang' Demyx tiba-tiba.

Ketiga belas nobody ini pun meminum teh manis hangat yang disajikan oleh Xaldin tadi.

"Akhirnyaaaa~" celetuk Demyx senang. Akhirnya rasa hausnya hilang! Bukan akhirnya bisa ngerjain Zexion, bukan. Zexion cuma garuk-garuk rambut. Kepedean, dia.

Xemnas pun tersenyum dengan wajah (sok) bijak. "Nah, yang mengkoordinasi makanan untuk besok berarti Vexen, ya!"

Vexen menyeringai. Roxas pundung. Axel bengong.

Apakah sahur dan buka besok penuh dengan es?


To Be Continued


A/N: Iya, iya. Bagian buka-nya emang agak garing. Soalnya saya nyelesaiin ini pagi-pagi. Jadi feel buka-nya nggak kerasa. KEKEKE.

Dan, maaaaaaf banget. Hintsnya bertebaran ye? Namanya juga fangirl nggak inosen.

Nah. Chapter berikutnya kan Vexen. Pasti penuh es, dong?

Pokoknya, stay tuned! XD


Omake


Setelah tarawihan bersama, Marluxia pun mengendap-endap dan kabur dari The Castle That Never Was. Sambil menyamar, tentunya.

Nobody dengan rambut pink ini ternyata mau menjual hasil cetakan fotonya tadi dan foto-foto kemarin. Lumayan buat penghasilan tambahan. Nobody ini pun meluncur menuju Hollow Bastion.

Sesampainya di Hollow Bastion, Marluxia pun menggelar tikar di dekat rumah Merlin. Dan kebetulan sekali, Yuffie yang sedang bersama Sora lewat di sana.

"Sora! Ada yang pameran foto, tuh! Lihat yuk!" Pameran? Enak aja! Ini ada harganya, tau, batin Marluxia dalam hati. Namun si nobody berambut pink ini cuma tersenyum ketika dua orang tadi akhirnya mendekat dan melihat-lihat foto yang digelarnya.

Yuffie dan Sora asik melihat. Bahkan mereka malah tertawa ketika menemukan foto ketika mereka sedang senam poco-poco di depan rumah Merlin. Nggak tau malu deh yaaa (?).

Dan, sepasang bola mata Yuffie menangkap foto yang baru dicetaknya tadi.

Wanita ninja dengan sifat sangat childish ini pun mengambil foto yang menggelitik sense fangirl-nya. Melihatnya, kemudian wajahnya mencerah seperti diterangi pakai senter yang dubsdubsdubs itu (?).

"KYAAAAA! LEON DAN CLOUD UDAH JADIAAAAN!"

Oh, andaikan si brunet dan blonde itu tahu siapa yang menjual foto itu, mereka pasti sudah membunuhnya.

-Omake: END-