Ohayou! Konichiwa! Konbawa!
.
Terima kasih banyak untuk apresiasi RnR sekalian pada fic ini, Yosei-tachi. Saya senang sekali.
Oh iya, kalau ada yang mau fangirling RoWen bareng saya, silakan hubungi via PM/email/sosmed. Dengan senang hati saya akan fangirling! ;D
.
I will survive~
Dozo, Minna-sama!
.
Disclaimer: Hiro Mashima
Waning: Alternate Reality, TWT, OOC, OC, typos, OOT, crack-pair.
.
Have a nice read! ^_~
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
"Hei, apa kau tahu di mana Megami-sama berada?"
"HIIII!"
"Beritahu kami di mana Megami-sama berada!"
"D-di kuil mu-mungkin! Pergi sana, hush!"
Orang-orang yang tengah berlalu-lalang dan ketiban sial menjadi tempat bertanya, mundur teratur karena risih ataupun ketakutan. Seorang bocah laki-laki kecil melongo memandangi ketiga individu ekstraordinari di hadapannya.
"Di mana Megami-sama, oi, Bocah?!"
"Fairy … Tale?"
TING!
Sebuah bohlam imajiner menyala terang-benderang bak sengat matahari di puncak tahtanya. Akhirnya mereka mengingat lagi suatu tempat surgawi yang selalu diinformasikan sang dewi.
"Oh, Bocah, terima kasih! Tunggulah kami, Megami-sama!"
Bocah itu menoleh pada ayahnya yang was-was karena dihampiri ketiga orang aneh tersebut. Inosen dia bertanya seraya menunjuk ketiga entitas yang berjalan dengan gaya aneh.
"Otou-san, kenapa pantat mereka berguncang terus?"
.
#~**~#
A Fairy Tail Fanfiction,
.
Damsel in Distress
.
Chapter 4
"Fight X Save X Shyness"
.
By: Light of Leviathan
#~**~#
.
Lagi-lagi sesi permintamaafan terjadi, kali ini lebih heboh dan sarat penyesalan. Antara para penyihir Fairy Tail yang sempat salah paham pada yang sempat jadi tertuduh penyebab maskot guild itu menangis. Usai mendengar kisah Romeo dan Juliet yang diceritakan ulang oleh Master Mavis—dan tangis berderai akibat akhir cerita cinta yang begitu tragis, mereka beramai-ramai bersujud meminta maaf dan membujuk Romeo agar tidak marah lagi dan berhenti menggerutu.
Romeo Conbolt memaafkan mereka, tentu saja. Dia melakukannya disertai seutas senyuman lebar, disambut oleh sorak-sorai ramai dan pelukan maut serta tepukan di bahu dari anggota-anggota Fairy Tail. Mau tidak mau, keceriaan kembali ke pangkuan nuansa ruah riuh yang senantiasa melekati guild itu.
Senja perlahan beranjak malam tatkala Alzack dan Bisca datang kembali ke markas guild yang bertahta di puncak bukit terpencil itu. Mereka lekas menjemput Asuka yang tertidur pulas digendong oleh Master Makarov, lalu pamit pulang mendahului yang lainnya.
Biasanya, Romeo akan selalu mengikuti apa pun yang Natsu lakukan—termasuk kegiatan yang nyaris menghancurkan guild mereka berulang kali, atau setidaknya memantau apa pun yang dilakukan pemuda yang sudah ia anggap seperti kakak kandungnya sendiri. Namun kali ini ia tidak melakukan hal tersebut.
Aneh, bukan? Ah, tidak juga. Sama seperti yang lainnya, Romeo sedang menonton perseteruan kekanak-kanakan antara Natsu dan Gajeel. Remaja laki-laki berusia tiga belas tahun itu duduk bersandar pada meja bar panjang, penuh minat memerhatikan dengan kagum pada Natsu yang bergulat dengan Gray—yang lagi-lagi si penyihir es itu sudah membuang bajunya entah kemana. Pertarungan itu makin dimeriahkan oleh Gajeel—tentu saja, dan Elfman yang awalnya ingin melerai tapi justru ikut bertarung, dan para pria yang sebenarnya hendak menghentikan pertarungan itu malah menjadi korban.
"Kau tidak turun ke medan laga, eh, Bocah?"
Sapaan dengan nada khas ketus itu mengalihkan atensi penyihir api kecil tersebut pada exceed putih yang mengajaknya berkonversasi. Ia tersenyum ringan dan menggeleng sekilas. "Nanti saja jika kemampuanku sudah cukup untuk menghadapi yang lainnya, Charle. Lagipula, Erza-Nee sebentar lagi pasti akan marah besar, aku tidak mau kena murkanya."
Charle tidak membalas jawaban Romeo. Turut memandang pada rutinitas lazim di ruang pandangnya yang selalu membuat markas Fairy Tail ini nyaris hancur setiap hari. Ia lalu mengerling pada gadis kecil kesayangannya yang tampak khawatir dan panik, sama seperti penyihir-penyihir wanita lainnya.
"Wendy, kau tidak berpikir untuk mengobati para lelaki bodoh itu jika mereka terluka, 'kan?" tanya Charle retoris. Pertanyaan yang dilontarkannya kontan menyebabkan Romeo menoleh pada gadis bersurai biru tua itu.
Wendy menggulirkan pandangan ke segala arah tatkala merasakan Charle menghunjamkan tatapan tajam padanya. "Ta-tapi, jika pertarungan mereka saja sesengit ini, mereka pasti akan te-terluka—"
"Itu pertarungan sia-sia dan konyol. Kau terlalu memanjakan mereka, Wendy," ujar Charle mengingatkan. "Kau hanya buang-buang tenaga."
Wendy menundukkan kepalanya. Tidak tahu harus merespon apa pada perkataan Charle. Hingga ia tersentak ketika mendengar gelak tawa geli seseorang, refleks ia menoleh pada sumber suara.
"Kau memang sangat baik hati, Wendy-Nee," sahut Romeo sembari mengangsurkan cengiran geli, "tapi, ada baiknya kau simpan saja energi sihirmu—benar kata Charle. Toh, walaupun nanti mereka babak-belur, tetap akan bertengkar lagi sampai ada sesuatu atau seseorang menghentikan mereka." Tuturnya ringan.
Sejenak Wendy tenggelam dalam lamunan, memikirkan baik-baik perkataan Romeo. Tak lama kelereng mata hazelnya menatap putra tunggal Macao itu, ada sorot yang tersirat dari mata anak laki-laki itu yang lagi-lagi berhasil meyakinkannya. Akhirnya, senyum lega terbit di wajah manisnya. Ia menghembuskan napas panjang lalu mengangguk pada Romeo. "Baiklah kalau begitu, Romeo-san."
Charle memicingkan matanya. Hanya perasaannya saja, atau memang Wendy-nya tersayang jadi banyak tersenyum pada bocah api di sebelahnya? Seperti ada relasi tak kasat mata mengkoneksikan sepasang muda-mudi tersebut. Exceed itu berdeham dengan lagak acuh tak acuh. Ia mengibaskan ekornya yang diikat seutas pita pink dengan anggun. "Omong-omong, jangan sampai kita pulang terlalu larut malam, Wendy."
Romeo turun dari kursi yang didudukinya, menengokkan kepala pada dunia di luar bangunan mungil guild mereka. Dijumpainya langit senja nyaris pudar sempurna di batas horizon, hampir tergantikan seutuhnya oleh permadani malam. Ketika ia hendak menoleh pada Charle dan berujar sesuatu pada exceed betina yang disukai Happy itu, ia tak menyangka gadis kecil yang akhir-akhir ini sering ditolong olehnya itu tengah meniru apa yang dilakukannya. Hal ini menyebabkan jarak mereka begitu dekat lagi. Mengantisipasi kekalutannya—atau itu sebutannya pada sesuatu yang ia rasakan tiap berdekatan dengan si dragon slayer langit—Romeo melangkah mundur sekali. Meminimalisir jarak di antara mereka.
"Kau benar, Charle. Kita harus segera pulang," ucap Wendy yang berada di samping Romeo. Dialihkannya tatapan ramah menyiratkan tanya pada Romeo.
Seolah paham apa yang hendak Wendy sampaikan, buru-buru Romeo berkata, "Aku akan pulang bersama Otou-san dan Wakaba Ojii-san." Dan bersusah payah memfokuskan atensi pada pemandangan kisruh di aula mungil guild reyot mereka.
Penyihir yang dulu berasal dari guild Caitshelter itu mengangguk mengerti. Charle terbang rendah mengitarinya. Ia ikut menatap kericuhan yang tak jua kelar. Bahkan pada tahap ini, berbagai properti mulai beterbangan ke seluruh penjuru guild. "Kita harus berpamitan."
Charle berdecak seraya mengedikkan bahu. "Berpamitan itu berarti harus menunggu mereka selesai bertengkar—akan makan waktu lama. Aku tidak mau tahu bahaya di sepanjang perjalanan dari perbukitan menuju asrama kita, jika kita pulang terlalu larut malam."
Kendati sepasang matanya terfokus pada keributan di hadapannya, namun perhatiannya masih terpusat pada percakapan antara gadis bersurai biru tua itu dengan exceed kesayangannya. "Kalian tinggal di asrama?" tanyanya sekasual mungkin.
"Iya. Bersama penyihir-penyihir perempuan lain di Fairy , walaupun setelah tujuh tahun, kami pindah ke asrama yang lebih sederhana dan murah harga sewanya—" Wendy menatap Romeo sembari mengangguk atas jawaban yang dilontarkan titisan penyihir api ungu lengket itu.
Saat Wendy menjawab pertanyaan yang diajukan remaja laki-laki tanggung di hadapannya itu, sebuah benda laknat melayang ke arahnya dilemparkan oleh Natsu. Charle melotot jijik melihat benda itu. Romeo yang memang sedari tadi terkonsentrasi pada pertarungan tentu juga melihat benda tersebut terarah menuju gadis yang berada di sampingnya, membelalakkan mata tak percaya.
"Wendy, awas—!" Charle menutup matanya, tak kuasa melihat temannya itu akan ternoda oleh benda entah-punya-siapa yang terlempar tepat ke arahnya.
Wendy hendak menoleh dan hampir mengetahui property macam apa yang tersasar padanya, ketika ia merasakan tarikan kencang di pergelangan persiapan apalagi peringatan, ia refleks terbawa gaya itu. Dan merasakan seseorang melindunginya dari benda nista itu.
Hening beberapa jenak.
"Wendy-Nee, kau tak apa-apa?" Suara itu sontak membuat Wendy mendongak, menemukan wajah khawatir Romeo tepat berada di depannya.
Wendy mulai mencerna situasi macam apa yang terjadi padanya. Semua terjadi begitu cepat. Tadi ada sesuatu melayang, teriakan panik Charle, tarikan kuat, matanya sempat terpejam, sentuhan di bahu, hangat… eh?
Ternyata tangan yang menyentuh bahunya adalah kedua tangan Romeo. Ah, tadi ia ditarik olehnya karena putra Macao itu pasang badan untuk memproteksi dirinya dari sesuatu. Kepalanya berada di ceruk leher berkulit tan yang mengeluarkan aroma maskulin khas remaja laki-laki dan terendus ruang penciuman tajam khas dragon slayer, tangannya bertumpu pada dada pemuda bersurai ungu melawan gravitasi itu.
"A-apa yang—?" Pertanyaan itu semembingungkan situasi dan kondisi yang dialami Wendy sekarang, namun tidak dimengerti olehnya. Lagipula, sedikit-banyak ia merasa terkejut dengan posisinya sekarang.
Charle bergegas terbang menghampiri keduanya. Ia tidak lagi memikirkan soal posisi Wendy yang seolah sedang dipeluk Romeo. Exceed betina satu-satunya di Fairy Tail itu terlalu mengkhawatirkan Wendy, ia tidak mau anak perempuan yang merawatnya sejak kecil itu ternoda. "Refleks bagus, Bocah!" serunya pada Romeo. Lalu ia menyentuh lengan Wendy, memastikan kawannya itu baik-baik saja.
Romeo melepaskan Wendy, raut serius menggurati ekspresinya. "Kau dan Charle sebaiknya mundur dulu, atau lebih baik cepat pulang. Aku akan menyelesaikan masalah ini."
Charle lekas menarik Wendy mundur menuju tepian meja bar. Meskipun Wendy masih tidak begitu mengerti apa yang sebenarnya terjadi padanya. Kenapa Charle tadi panik tapi sekarang terlihat marah? Kenapa ia bisa jatuh ke pelukan Romeo?
Romeo berbalik dan memungut benda yang tadi sempat menyentuh punggungnya, mengacungkannya tinggi-tinggi dengan ujung-ujung tangannya. "Boxer ini punya siapa? Dan siapa yang melempar boxer ini?" serunya tegas.
Serentak seluruh atensi terpusat padanya, aula yang sudah tidak karuan itu disergap kesunyian. Mendengar pertanyaan yang digaungkan oleh murid Totomaru itu, otomatis Natsu dan Gray yang sama-sama sedang saling mengepalkan tinju menunjuk satu sama lain.
"Itu boxer jelek punyamu, Mata Sayu!" sengit Natsu dengan pelototan maut terhujam pada rivalnya.
"Tapi kau yang melempar celanaku, Mata Sipit!" desis Gray tajam dengan mata terpicing tak mau kalah pada Natsu.
Romeo menghentakkan langkah. Ia menghampiri sepasang rival itu dan melemparkan telak pada keduanya boxer milik Gray itu. "Berhenti bertengkar, Niisan-tachi! Kalian tidak hanya akan menghancurkan markas Fairy Tail lagi, tapi juga menjatuhkan korban. Jika masih belum puas bertarung, lakukan di luar! Di tempat terbuka, di lapangan, di mana saja terserah! Asal jangan di sini."
Natsu dengan jijik menyentak boxer hitam itu, sementara Gray merenggut miliknya sembari mengenakannya. Keduanya membuang muka kesal dan saling mengumpat satu sama lain.
Erza melebarkan senyum lega. Akhirnya ada juga penyihir pria yang bisa diandalkan untuk mengendalikan situasi dan kondisi yang hampir tidak terkontrol seperti tadi. Padahal ayahnya saja tidak memiliki kharisma unik seperti putranya. "Jika kalian tidak menuruti perkataan Romeo, aku akan memperkenalkan kalian dengan penderitaan seribu tahun," lugasnya dingin dengan nada sarat mengintimidasi.
Lekas para pria saling menjauhkan satu sama lain, meski masih saling menyengatkan deathglare. Lucy dan beberapa penyihir wanita lainnya tersenyum lega. Serahkan pada Titania no Erza untuk membuat suasana ricuh emosional berganti menjadi gidik ngeri dan desis ketakutan.
"Ano saa, Erza, bilang pada mereka juga untuk membersihkan dan merapikan guild kembali seperti semula," usul Mirajane riang dari balik meja bar.
Erza tersenyum—terlihat mengerikan di mata para lelaki. "Dengar kata Mirajane? Laksanakan jika tidak mau aku—!"
"Iya, iyaaaa~" koor serempak terkoordinir dengan gerakan kocar-kacir panik penyihir-penyihir biang rusuh di Fairy Tail itu.
Mavis tersenyum ceria melihat Fairy Tail generasi sekarang tampak begitu hidup dan dilimpahi cahaya kehidupan dengan caranya sendiri. Imaji guild Fairy Tail di masa lalu yang dulu hanya berada di angan mimpinya, telah terealisasikan sempurna. Ia sungguh merasa bahagia bisa berada di sini dan menyaksikan semuanya dengan mata kepala sendiri. Iris layaknya zamrud itu menyorotkan rasa senang yang meluap-luap.
"Terima kasih," bisiknya pada Fairy Tail, kendati tak satu pun mendengar karena sibuk dengan urusan masing-masing.
Kembali pada para peri. Penyihir-penyihir wanita sepakat untuk pulang bersama menuju rumah masing-masing yang sekarang mereka tinggali, setelah memastikan pekerjaan membersihkan dan merapikan guild kembali seperti semula dilaksanakan oleh para penyihir pria dengan benar.
Charle dan Wendy merasa lega karena ternyata ada teman pulang bersama. Mereka tidak perlu khawatir pulang larut malam atau bahaya tak terduga yang mungkin mereka hadapi, mengingat mereka akan pulang bersama.
Penyihir perempuan yang tetap ada untuk mengawasi pekerjaan para penyihir lelaki hanyalah Kinana, Mirajane dan Lisanna. Sementara yang lainnya berpamitan pulang. Dengan semangat berceloteh—bergosip kasarnya, mereka berjalan satu per satu keluar guild.
Wendy yang awalnya membuntuti mereka, tiba-tiba menghentikan langkah. Charle tidak menyadari hal ini karena ia sedang mengobrol dengan Lucy dan Erza, konstan mengikuti pergerakan yang lainnya, tidak menyadari absennya Wendy dari sisinya.
Gadis bersurai biru itu berdiri tepat sebelum satu langkah mengantarkannya melewati pintu guild Fairy Tail. Sejenak ia merasa ragu, namun detik berikutnya ia memantapkan hati untuk menoleh ke belakang mencari sosok itu.
Seseorang yang dicarinya itu berdiri dengan kedua lengan tersimpan di belakang kepala dan mengawasi kepergiannya. Wendy sedikit terkejut mengetahui ternyata sosok itu sedang menatapnya dan berdiri tak jauh darinya, hal ini menyebabkan mereka bertemu pandang.
"Aku dan Charle—" Wendy angkat bicara. Awalnya merasa ragu—entah kenapa ada keskeptisan menjalar dalam dirinya, tapi lagi-lagi mimik ramah tanpa dapat dibantah itu terekspresikan lagi padanya. Meyakinkannya untuk melanjutkan apa yang hendak ia katakan. "—akan pulang bersama yang lainnya."
Cengiran lebar terukir di wajahnya. "Syukurlah. Tidak baik kau dan Charle pulang hanya berdua malam-malam seperti ini, Wendy-Nee."
Lega tak bernama menyusup dalam hatinya. Wendy mengangguk ringan. Gadis bermata sewarna hazel itu mengembangkan seutas senyum untuk sosok di hadapannya.
"Terima kasih sudah menolongku lagi, Romeo-san." Wendy membungkukkan badan sekilas, menunjukkan rasa hormat dan betapa ia berterima kasih pada seseorang yang juga sama-sama mengagumi Natsu Dragneel sebagai persona yang mengagumkan.
Romeo mengangkat sebelah alisnya. Kerutan samar muncul di dahinya—pertanda heran. Ia memiringkan kepala tanda tak mengerti, menyebabkan Wendy terkikik geli karenanya. "Aku tidak melakukan apa pun—"
"—tadi Romeo-san melindungiku dari lemparan celananya Gray-san," Wendy memotong perkataan Romeo. "Kalau aku sempat kena, mungkin sekarang aku masih menangis karena hal itu."
Mendengar itu Romeo refleks memutar sepasang bola matanya disertai terkekeh geli. "Itu bukan hal besar, Wendy-Nee."
"Tapi, aku tetap ingin berterima kasih, Romeo-san." Wendy memakukan tatapannya lurus pada Romeo. Sejenak mereka saling berpandangan.
Romeo menemukan kepolosan tak terjamah yang jernih tersirat dari sepasang kelereng hazel cemerlang di bawah pendar lampu guild Fairy Tail. Atensi gadis di hadapannya terfokus hanya padanya. Kendati ia berpikiran bahwa ia tidak melakukan hal besar—hanya menolong satu-satunya penyihir perempuan dari trio dragon slayer itu agar tidak ternoda oleh lemparan asal boxer Gray, namun ia tahu Wendy akan kecewa apabila ia menolak rasa terima kasih dan hormat gadis itu.
Mengalah teriring sehela napas namun bukan dalam makna kalah, Romeo menganggukkan kepala ringan. Anggukkan sederhana darinya itu bahkan bisa membuat raut wajah inosen itu semakin cerah.
"Terima kasih, Romeo-san!" ucap Wendy senang. Tepat setelah ia berkata seperti itu, suara Charle—yang sudah menyadari ketiadaan Wendy—terdengar memanggil-manggilnya. Senyumnya sedikit surut. "Uhm… aku harus pulang sekarang."
Romeo—tidak tahu harus berkata apa—hanya menganggukkan kepala lagi. Entah kenapa sedikit terbersit kekecewaan karena waktu kebersamaan mereka terpaksa dipangkas. Astaga… Romeo mengumpat dalam hati. Pikiran kecewa apa tadi itu?
Wendy membalikkan badan. Baru satu langkah ia berhenti lagi, tepat di pintu, ia menoleh pada Romeo. Menemukan sosok sebaya dirinya itu setelah tujuh tahun masih menatap dirinya, hangat. "Matta ashita, Romeo-san."
"Jaa nee." Romeo melambaikan tangan sekilas. Ia teringat sesuatu tatkala menatap punggung gadis kecil dengan rambut diikat dua itu. "Hati-hati di jalan dan awas jatuh, Wendy-Nee!" katanya memperingatkan.
Wendy nyaris terjungkal mendengar seruan inosen Romeo. Ia meringis salah tingkah. Benar juga, pikirnya. Jika kali ini ia terjatuh, tidak akan ada yang menolong dan membantunya bangun sebaik anak laki-laki dengan mark khas Fairy Tail terukir di lengan itu. Romeo tidak setiap waktu berada di sisinya untuk datang menolongnya.
"I-iya. Aku akan lebih berhati-hati. Terima kasih, Romeo-san," tanggap gadis kecil itu dengan senyum malu. Walaupun sekarang ia tengah menundukkan kepala, entah bagaimana terilustrasikan jelas ekspresi ramah Romeo sekarang yang entah kenapa membuat denyar aneh bergelung di relung hati. Wendy membungkukkan badan sekilas, lalu beranjak untuk menyusul kawan-kawannya yang telah mendahuluinya.
Romeo menggeleng-gelengkan kepala. Cengiran geli bermain di wajahnya. Terus memandang hingga siluet seseorang yang akhir-akhir ini menjadi dekat dengannya itu hilang menembus kepekatan malam dan rimbunnya hutan perbukitan.
Ah, rasanya jadi tidak sabar menanti hari esok segera tiba.
.
Tsuzuku
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Ohohoho~ fluffy ini tidak akan bertahan lama. Bersiaplah. Duhai RnR-ku! XD
Apa scene RnR-nya terlalu dewasa dan kurang polos khas anak-anak? Kalau iya, tolong saya diingatkan. Terima kasih.
.
Terima kasih sudah menyempatkan membaca. Kritik dan sarannya selalu ditunggu. ^_^
.
Sweet smile,
Light of Leviathan (LoL)
