ALOHA! Saya kembali dengan chapter empat :3 sebelumnya maaf banget aku lupa bales review QwQ jadi aku bales review buat chapter dua disini yaaa

Luca Marvell: Yup, cuma sekilas doing sih tentang gimana mereka bisa ketemu, selebihnya yaaaaa... yaaaaaaaa gitu OwO

Hanazono yuri: YOOOOSH!

Kuchiki ruru: Aih senengnya kalo ngga ngebosenin :"D kelas 3 SMA :3

GaemSJ: Wkwk jadi speechless, okei :D

Firebolt2030: YES YES UDAH KULANJUTIN YAAASSS

HestyEclair: Aku terhura baca reviewmu, makasih bangetttt walopun kurasa aku masih jauh dari author lainnya yang jauh lebih bagus kalo soal pendeskripsian, apalagi soal diksi yang puitis(?), tapi kalo menurutmu jadi ringan dan bikin enjoy aku udah cukup seneng ^^ hai, ganbarimasu :D

caesarpuspita: Salam kenal! Hehehe belajar untuk terbiasa, disini hurt/comfortnya belom mulai banget loh :b happy ending gak yaaa AwA

Hai, sempet bingung biasanya daridulu seenggaknya satu chapter bisa narik sepuluh review tapi kali ini ngga sampe segitu, mungkin karena musim ujian waktu itu? :"D atau mungkin ada yang kurang dari saya? :v hay ohayo kalo ada pendapat yang mau dikeluarkan dari cerita saya, keluarkan saja lewat review yaaa :D kalogitu langsung aja ya ke chapter empat~


.

.

DISCLAIMER:
All characters belongs to Masashi Kishimoto. Satusatunya milik aye cuma plot.

.

.

WARNING:
AU, typo nyelip, bisa jadi OOC.

.

.

The Diary

~Kimi to Deai~

Page 4: Fever

© nadilicious

.

.


"Aku pastinya akan membawa Hinata!"

"Aku... mungkin Tenten?"

"Aku akan pergi dengan Karui!"

"Anak kelas C, ya?"

"Aku... dengan serangga-seranggaku."

"Tamaki dari kelas B menggemaskan, lho."

"Bukannya dia suka pada Sasuke?"

"Masa bodo! Aku akan mencoba, bagaimana dengan kau, heh?"

"Ini sangat merepotkan... apa kita harus membawa pasangan?"

"Prom night itu lebih sah jika membawa pasangan! Bukannya kau dekat dengan Temari-senpai sejak kita kelas 10?"

"B-bodoh!"

"Temari-senpai? Kakaknya Gaara?"

"Gaara? Apakah ada seseorang di pikiranmu?"

"Matsuri."

"Eh!? Matsuri dari kelas B?"

"Teme, kau akan membawa siapa?"

"Tidak ada."

"Ayolaaah~"

Saat ini, Naruto, Sasuke, Kiba, Shino, Neji, Lee, Shikamaru, Chouji, dan Gaara sedang duduk-duduk di meja kantin luar sambil membahas tentang siswi yang akan mereka ajak untuk berpasangan dengan mereka pada acara penyambutan adik-adik kelas 10 yang bertema Prom Night. Naruto sudah pasti mengajak Hinata, Neji akan berusaha mengajak Tenten, sebuah keajaiban bagi Chouji untuk mengabaikan makanannya dan mengajak seorang perempuan bernama Karui dari kelas 11-C, Shino tidak bisa memikirkan yang lain selain serangga-serangganya, Kiba akan berusaha mengajak sekaligus mengalihkan perasaan seorang siswi kelas 11-B bernama Tamaki yang diketahui menyukai Sasuke, Shikamaru digoda teman-temannya untuk mengajak seorang senior yang bernama Temari yang merupakan kakak kandung dari Gaara, sementara Gaara sendiri akan mengajak siswi bernama Matsuri dari kelas 11-B, Sasuke sama sekali tidak peduli dengan siapa yang akan ia ajak. Lee?

"Aku akan berusaha keras untuk membawa Sakura-san! Uwooooo!"

Begitulah yang ia katakan ketika ia melihat Sakura sedang berjalan di koridor lantai dasar, tepat satu lantai dengan para siswa ini. Mengajak seorang Madonna Konoha Private School?

"Aku juga mau mengajak Sakura-chan..." kata Naruto sambil melihat ke arah Sakura.

"Apalagi aku," kata Kiba.

"Tapi dia sudah mempunyai kekasih," sambung Neji, lalu meneguk secangkir teh.

"Pikir saja dengan akal sehatmu, orang seperti dia itu susah untuk dirayu, bentengnya kuat sekali," kata Shikamaru mengenai Sakura.

"Dia bilang, dia sudah empat tahun berpacaran dengan Shisui," kata Naruto.

"Shisui? Uchiha Shisui, siswa kelas 11-C?" tanya Chouji, sedikit terkejut sehingga tidak jadi menyuapi nasi dengan kuah kari ke dalam mulutnya.

"Saudaramu?" tanya Shino sambil menoleh ke Sasuke.

"Aa," jawab Sasuke singkat.

"Kalau sudah empat tahun, akan semakin susah untuk mengalihkan perasaannya," kata Neji.

"Mereka terus bersama dalam waktu yang cukup lama," kata Gaara, sambil melihat ke dalam secangkir teh hijaunya.

"Lalu, aku harus mengajak siapa..." kata Lee, lalu membaringkan kepalanya ke atas meja.

"Jadi, yang belum memikirkan pasangannya adalah Lee, Sasuke, dan Shino?" kata Kiba sambil mengabsen.

"Masa bodo," kata Sasuke, lalu meneguk teh tawar yang ada di dalam termos miliknya.

Sementara itu, Sakura berjalan kembali ke kelasnya setelah ia memberikan tugas PRnya kepada guru kimia, Kabuto-sensei. Sakura selalu menjadi yang pertama untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya dan langsung menyerahkannya kepada guru mata pelajaran yang bersangkutan, dengan tujuan supaya dia mempunyai banyak waktu santai dan tidak terbebani dengan tugas-tugas lainnya.

"Yo, jidat!" Ino memanggil Sakura saat siswi berambut merah muda itu baru saja masuk ke dalam kelas.

"Apa, Ino?" balas Sakura sambil berjalan ke arah mejanya yang digabung dengan meja milik Hinata, Tenten, dan Ino supaya mereka bisa makan bersama saat istirahat.

"Sini, sini! Kami meminta bantuanmu!" kata Ino, menepuk-nepuk ke meja Sakura, dengan maksud menginginkan temannya itu untuk segara duduk di kursinya karena ada hal yang harus ia bicarakan.

"Ada apa?" tanya Sakura, sambil duduk di kursinya dan mengeluarkan bekalnya.

"Menurutmu, aku dan Tenten cocoknya pergi dengan siapa saat acara penyambutan adik kelas?" tanya Ino.

"Hanya kami berdua yang belum mempunyai pasangan diantara kita berempat," kata Tenten dengan wajah memelas.

"Hinata, mah, pasti akan pergi bersama Naruto!" kata Ino sambil melirik ke arah Hinata, dengan Hinata yang tersenyum malu.

"Apakah tidak ada seseorang dalam pikiranmu? Tenten, kupikir kau sedang dekat dengan Hyuga Neji-san?" tanya Sakura, menyebut nama sepupu Hinata.

"Eh? M-memang begitu, tetapi..." Tenten pun tersenyum malu.

"Hah? Kalau begitu, kau sudah mendapatkan pasanganmu!" kata Ino dengan nada cemburu.

"Kau yakin belum memikirkan seseorang? Kupikir ada cukup banyak siswa yang menyukaimu," kata Sakura.

"Rata-rata dari siswa di angkatan kita itu bukan tipeku! Lagipula, mereka bukan menyukaiku, tapi menyukaimu!" kata Ino, membalas perkataan Sakura.

"Lalu, kau menginginkan lelaki yang seperti apa?" tanya Sakura, lalu menyuapi dirinya dengan sepotong daging ayam dan nasi.

"Siapa ya..." Ino pun berusaha mengingat-ingat para siswa di angkatan mereka.

"Rinji? Dia orang yang sangat santai," Ino menyebutkan salah satu siswa di angkatan mereka, Rinji dari kelas 11-D, berambut coklat tua yang sedikit panjang dan berbola mata hitam.

"Dia santai, tapi aku mengenali tiap mantan kekasihnya dan mereka berkata bahwa Rinji tidak pernah menganggap hubungan mereka itu serius," kata Sakura, memberikan informasi kepada Ino.

"Bagaimana dengan Mikoshi?" tanya Ino, menyebutkan siswa dari kelas 11-B yang berambut coklat bermodel spike dan berbola mata hitam, serta menggunakan kacamata yang frame-nya berbentuk bulat.

"Banyak sekali teman-teman Mikoshi yang bercerita bahwa Mikoshi ingin fokus pada pendidikan terlebih dahulu," Sakura menyambungi lagi.

"Kalau begitu... Karashi?" Ino pun menyebut nama teman sekelasnya yang berambut panjang yang diikat menjadi ekor kuda, berwarna coklat terang, dan berbola mata abu-abu gelap.

"Tidak masalah," kata Sakura sambil melirik ke arah Ino.

"Jadi, aku hadir dengan siapa ya..." Ino membaringkan tubuhnya lemas di atas mejanya.

"Tenang saja," Hinata menepuk bahu Ino, "mungkin saja akan ada yang mengajakmu secara langsung ditengah-tengah pesta."

"Kuharap sih begitu," kata Ino.

"Apakah kau akan pergi bersama Shisui?" tanya Tenten kepada Sakura secara tiba-tiba.

"Mungkin..." kata Sakura.

"Memangnya kenapa? Kalian itu terkenal sebagai pasangan yang paling populer di Konoha Private School, lho," kata Tenten, menyebutkan faktanya bahwa memang Sakura dan Shisui adalah pasangan yang paling populer di sekolah mereka.

"Iya, bahkan saat pesta penyambutan angkatan kita tahun lalu yang bertemakan Street Style, kalian berdua terlihat sangat cocok berdiri disamping satu sama lain," kata Ino sambil bernostalgia disaat pesta penyambutan angkatan mereka tahun lalu, dengan tema yang mengharuskan mereka memakai pakaian yang sekiranya cocok dipakai saat sedang pergi keluar rumah atau ala artis yang sedang berjalan-jalan.

"Jika memungkinkan, aku akan pergi bersama Shisui-kun, kok," kata Sakura.

"Aku yakin pasti kalian akan terlihat cocok berdua!" kata Tenten, sambil menepuk bahu Sakura.

"Apalagi jika ada sesi dansa, kalian pasti terlihat sangat mesra~" kata Ino sambil membayangkan Sakura dan Shisui ditengah-tengah sesi berdansa bersama pasangan.

"Hei, itu berlebihan..." kata Sakura sambil tertawa garing.

"Hei, gaun apa yang akan kau pakai?" tanya Ino kepada Hinata.

"Eh!? A-Aku... gaun tanpa lengan dengan warna krem sebagai warna dasar dan bermotif bunga warna-warni, panjangnya sampai setengah pergelangan kakiku..." Hinata mencoba mengingat-ingat gaun yang ia punya di dalam lemarinya yang ia akan pakai ke Prom Night.

"Sepertinya cocok untukmu!" kata Tenten sambil membayangkan gaun yang akan dipakai Hinata.

"Bagaimana denganmu?" tanya Sakura pada Tenten.

"Aku punya gaun berwarna hijau tua, berlengan panjang, kerahnya sedikit rendah, panjang dressnya mencapai ujung kakiku, dan bagian atasnya sedikit ketat di tubuhku," kata Tenten.

"Kalau gaunmu tidak bermotif, mungkin kau bisa ramaikan dengan memakai beberapa aksesoris," kata Sakura, sebagai siswi yang terkenal sebagai trendsetter di sekolahnya.

"Ide bagus," kata Tenten, "bagaimana denganmu, Ino?"

"Panjang gaunku sampai ke lutut saja, tanpa lengan, berwarna aqua blue, atasannya berbentuk korset namun dilapisi brokat bermotif bunga berwarna silver," kata Ino sambil membayangkan gaun miliknya.

"Pakai sepatu tinggi berwarna silver dan jangan memakai aksesoris yang berlebihan," kata Sakura sambil membayangkan Ino menggunakan gaun yang tadi dideskripsikan olehnya.

"Bagaimana dengan Sakura-chan?" tanya Hinata.

"Gaunku sedikit rumit..." kata Sakura sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Kenapa?" tanya Tenten penasaran.

"Sebenarnya, itu adalah gaun tanpa lengan dan one-shoulder, tapi kain pelapis untuk bagian bahunya transparan, jadi tidak begitu kelihatan kalau itu adalah gaun one-shoulder, bagian korset di atas berwarna putih, bagian pinggang ditutup dengan tali berwarna silver, bagian rok yang mulai dari pinggang adalah gradasi dari warna putih ke warna hot pink yang panjangnya sampai ke ujung kakiku,"

"Gaunmu jauh lebih menarik! Apalagi dengan warna gradasi," Ino membayangkan wujud gaun Sakura.

"Sakura memang tau bagaimana membuat semua mata memandanginya," puji Tenten.

"Tapi aku tidak pernah bermaksud begitu..." kata Sakura sambil tersenyum canggung.


Sasuke sedang menikmati makanannya sambil mengerjakan PR di meja makan. Sesuai saran dari kakaknya, ia tidak boleh mengurung diri terlalu lama di dalam kamar dan harus menikmati semua ruangan di dalam dorm-nya. Sangat merepotkan baginya, tapi apa boleh buat. Ia pun makan sambil mengerjakan PR-nya di ruang makan, padahal ia ingin bersantai-santai di dalam kamarnya seharian sampai hari esok.

"Jika dikalikan..." gumam Sasuke sambil mengerjakan PR fisika. Sasuke memang sudah ahlinya dalam pelajaran ini. Ia sama sekali tidak ada kesulitan dan sangat mudah untuk mengerti setiap rumus, karena ia selalu fokus memperhatikan langkah-langkah kerjanya.

"Sedikit lagi," gumamnya lagi lalu menyuapi mulutnya dengan nasi dan potongan ayam katsu yang dimasak oleh Madam untuk semua murid di dorm-nya. Dari lima belas nomor, Sasuke sudah mengerjakan sepuluh nomor dan akan istirahat selama lima menit sebelum ia memulai lagi.

Ia pun membayangkan tentang Prom Night yang akan diadakan tidak lama lagi. Ia tidak begitu menyukai pesta, jika itu bukan karena acara berkumpul bersama keluarga Uchiha. Apalagi sekumpulan perempuan yang melihat kepada dirinya seperti ia makhluk yang sangat sempurna. Sebenarnya ia tidak suka diperlakukan seperti itu. Ia lelah dengan kelakuan tiap perempuan yang ia temui di sekolahnya, yang pastinya rata-rata dari mereka menggilai dirinya seperti dewa, apalagi dengan perempuan yang tiba-tiba berhenti dan melihat ke arahnya saat ia sedang berjalan-jalan di luar. Ia ingin bertemu dengan perempuan yang walaupun melihat dirinya, perempuan itu tidak menjadi gila saat melihatnya, namun sikapnya biasa-biasa saja, seperti...

'Sakura...' bayangan Sakura pun muncul di kepala Sasuke. Ia masih ingat betul saat ia tidak sengaja menabrak siswi itu saat ia sedang buru-buru ke aula serbaguna. Biasanya, perempuan lain akan berteriak histeris karena telah menabrak dirinya yang dicap sebagai siswa tertampan di sekolahnya dan pamer kepada teman-temannya, namun beda dengan Sakura. Siswi itu bersikap biasa saja, bahkan mengajaknya berkenalan, layaknya orang biasa yang baru saja bertemu. Apalagi paras cantiknya, kelembutan suaranya, dan keramahan Sakura. Siswi itu memperlakukan Sasuke seperti orang yang biasa-biasa saja, tidak seperti perempuan yang lainnya.

Ah, andai saja Sasuke tidak menjaga jarak dari perempuan, pasti dia sudah mengajak ngobrol Sakura dan menjadi teman dekatnya di kelas. Sasuke ingin sekali mendapatkan kesempatan untuk mengobrol bersama Sakura, bukan hanya waktu berdua saja atau bertiga dengan Naruto, tetapi di dalam keramaian kelas atau sekolah. Ia sangat ingin berada di dekat Sakura.

Kenapa?

Ia merasakan aura kehangatan dari siswi itu. Siswi yang memperhatikan segalanya dengan detail, sangat menjaga hubungannya dengan sahabatnya, bertahan lama dengan kekasihnya, peduli dengan semua orang, menjadi panutan bagi semua murid di sekolahnya, berprestasi dan dipuji para guru, selalu mengikuti berita-berita terkini, banyak sekali yang menyukainya—baik siswa maupun siswi—dan banyak yang berharap bisa menjadi pacarnya. Perasaan Sasuke sama saja seperti para murid lainnya; ia ingin dekat dengan Sakura.

Tapi, sudah pasti bahwa Sakura akan pergi ke Prom Night bersama Shisui, bukan dirinya. Atau malah bersama...

"Uchiha-san?"

Suara seorang perempuan pun mengejutkan Sasuke dari lamunannya. Sasuke pun menoleh ke belakang, dan...

"Sakura?"

"Ah, maaf, apa aku mengejutkanmu?" tanya Sakura, setelah melihat Sasuke sedikit loncat dari duduknya dan langsung menoleh kepada dirinya.

"Tidak apa-apa," Sasuke merasa sangat terkejut. Saat membayangi seorang perempuan, perempuan itu sendiri pun muncul secara tiba-tiba. Untung saja ia tidak menggumamkan kalimat-kalimat yang aneh.

"Apakah kau mengantuk sehingga aku membangunkanmu?" tanya Sakura sambil masuk ke dalam ruang makan dan duduk di kursi di depan Sasuke.

"Tidak," jawab Sasuke singkat sambil melihat ke Sakura.

"Syukurlah," kata Sakura, "aku sedikit bingung saat melihatmu disini, bersandar di punggung kursi dan menghadap ke atap."

"Tidak apa-apa," kata Sasuke untuk kedua kalinya.

"Saat kupikir lagi, aku tidak pernah melihat dirimu yang sangat santai dan terlihat seperti sedang tidak fokus seperti itu, biasanya kau selalu fokus di kelas dan memasang wajah serius," kata Sakura.

"Kau memperhatikanku?" tanya Sasuke, matanya sedikit melotot.

"Ya... hanya sedikit," wajah Sakura sedikit memerah, "terkadang, aku suka memerhatikan gerak-gerik kalian semua di dalam kelas untuk mengenal kalian lebih jauh."

"Oh," kata Sasuke, yang padahal berharap besar selama ini Sakura memperhatikannya terus. Hanya pada dirinya seorang.

Sakura pun melihat ke buku yang berada di hadapan Sasuke, lalu ia bertanya, "kau mengerjakan PR fisika?"

"Iya," jawab Sasuke, "lima nomor lagi dan aku akan selesai."

"Hmm..." Sakura pun menelusuri tulisan Sasuke, "aku mengerjakan dari nomor terakhir, aku baru mengerjakan sampai nomor lima, tetapi bagaimana cara kau mengerjakan nomor tujuh? Aku sedikit bingung dengan soal yang itu."

"Aku bukan orang yang ahli dalam menjelaskan atau mengajarkan," Sasuke pun memberikan buku tulisnya kepada Sakura, dengan arti Sakura bisa melihat sendiri proses Sasuke mengerjakan soal itu.

"Ah..." Sakura menelusuri tulisan Sasuke, "simbol x ini, artinya bagian di sisi ini, ya?" Sakura menunjuk bagian yang ia pertanyakan kepada Sasuke.

"Hn," kata Sasuke singkat sambil menghabiskan makanannya.

"Ah, aku mengerti..."

Entah kenapa, Sasuke sangat merasa nyaman seperti ini. Ia bisa menjadi dirinya sendiri, apalagi dengan Sakura yang tidak bersikap berlebihan saat sedang berdua saja dengannya. Begini saja sudah membuat Sasuke merasa nyaman dan bisa mempercayai Sakura.

"Ngomong-ngomong," Sasuke memulai pembicaraan, sebuah hal yang langka bagi dirinya, "ada perlu apa kau kesini?"

"Ah!" Sakura menjentikkan jarinya saat Sasuke selesai bertanya, lalu ia bangkit dari duduknya dan mencari-cari sesuatu di meja dapur.

"Aku ingin membuat teh susu hangat untukku sendiri," Sakura mengambil sebuah cangkir dan tatakannya.

"Oh, begitu," kata Sasuke yang ikut bangkit dari duduknya untuk menaruh piringnya ke bak cuci piring.

"Musim semi ini masih terasa dingin, aku ingin mengerjakan PR-ku sambil meminum ini, siapa tau badanku akan terasa nyaman dan aku bisa tidur lebih awal," kata Sakura, sambil menuangkan air panas ke dalam cangkirnya dan mencelupkan sekantung teh.

"Oh," adalah satu jawaban yang singkat yang keluar dari mulut Sasuke setelah mendengar penjelasan dari Sakura. Sasuke pun bersandar di meja memasak sambil memperhatikan Sakura yang sedang membuat teh susu hangat.

"Ah... aku sudah janji ingin mengobrol dengan sahabatku lewat Skoop," kata Sakura, menyebutkan aplikasi untuk melakukan free call atau video call lewat internet.

"Sahabatmu?" tanya Sasuke, sedikit iri mendengar Sakura akan kembali ke kamarnya dan mengobrol bersama sahabatnya, dengan arti Sasuke hanya bisa berinteraksi sedikit dengannya hari ini.

"Un! Dia sahabatku sejak kecil, seperti kau dan Naruto-san," kata Sakura, sambil mengukur gula yang akan dituangkan ke dalam tehnya.

"Oh, begitu," kata Sasuke, sambil melihat Sakura menuangkan tiga sendok makan bubuk susu dari toples yang bertuliskan 'full-cream milk'.

"Kalau begitu, aku akan kembali dulu," kata Sakura setelah mengaduk teh susu hangatnya dengan rata dan hendak keluar dari meja makan sekaligus dapur ini.

"S-Sakura," panggil Sasuke saat Sakura hampir sampai ke pintu.

"Ya?" Sakura pun membalikkan badannya dan melihat ke Sasuke.

"Untuk prom night nanti..." Sasuke sedikit ragu untuk bertanya kepada Sakura, "apakah kau akan datang bersama Shisui?"

"Hmm..." Sakura pun menggigit bagian bawah bibirnya sambil melihat ke arah lain. Lima detik kemudian, ia tersenyum sambil melihat ke arah Sasuke.

"Kita lihat saja nanti."

Jawaban dari Sakura pun sukses membuat Sasuke terbungkam. Ia pun membalikkan badannya dan keluar dari ruang makan dan dapur itu, langsung naik ke lantai atas, dimana kamarnya berada. Lalu, ia meletakkan teh susu hangatnya di meja kecil di sebelah tempat tidurnya dan kembali mengerjakan PR fisikanya yang terbuka di atas meja belajarnya. Dengan semangat ia kembali duduk sambil melipat kedua kakinya di atas bantalan kursi.

"Kalau begitu..." Sakura berusaha mengingat-ingat kembali langkah-langkah pengerjaan soal yang dilakukan oleh Sasuke yang ditunjukkan kepadanya tadi. Setelah itu, dia mengerjakan sisa-sisa nomor yang belum ia kerjakan.

"Selesaaaai~" Sakura menutup buku tulisnya dan memasukkan alat tulisnya ke dalam tempat pensilnya, lalu membiarkannya tergeletak di atas meja. Ia langsung mengambil laptop-nya dan membawanya ke atas tempat tidurnya. Ia langsung membuka aplikasi free call sekaligus video call untuk mengobrol bersama sahabatnya.

"Ah, dia sudah online," kata Sakura, lalu mengklik pada nama sahabatnya itu. Sebuah pop-up window pun muncul, menampilkan seorang laki-laki berambut hitam dan pendek, berkulit putih pucat.

"Sai!" Sakura melambaikan tangannya kepada lelaki itu lewat webcam di laptop-nya.

"Oh, Sakura," lelaki yang bernama Sai itu pun menoleh ke komputernya dan baru saja menyadari bahwa Sakura sudah muncul.

"Apakah kau telah menunggu lama?" tanya Sakura pada Sai.

"Tidak juga, aku baru saja hendak membuka Shimei," kata Sai.

"Oh, begitu," kata Sakura sambil mengarahkan laptop-nya agar menghadap ke lemari bajunya, "apa kau sudah dengar tentang Prom Night?"

"Baru saja hari ini," kata Sai.

"Kau akan datang dengan siapa?" kata Sakura, sambil menggoda sahabatnya sejak kecil dari TK hingga sekarang, bertempat tinggal di perumahan yang sama, kini di sekolah yang sama, namun terpisah kelas karena Sai ada di kelas B.

"Belum tau... ada banyak sekali perempuan disini," kata Sai santai.

"Heee..." kata Sakura sambil tertawa kecil, lalu membuka lemarinya.

"Walaupun dorm anggota OSIS itu ada disini juga, aku malas untuk kesana," kata Sai.

"Tahun lalu kau disambut, maka tahun ini kau menyambut," kata Sakura, sambil mencari sesuatu dari dalam lemarinya, lalu menarik sebuah gaun dan menaruhnya di depan tubuhnya dan menghadap ke webcam-nya, "menurutmu, bagaimana dengan ini?"

Sai melihat ke dalam komputernya, terlihat Sakura yang menunjukkan gaun miliknya, beda dari yang ia jelaskan kepada Ino, Hinata, dan Tenten tadi; sebuah gaun putih tanpa lengan, panjangnya mencapai kakinya, bagian bawah gaun itu terdapat gradasi warna biru langit, dan ada ikat pinggang berwarna emas di bagian pinggangnya.

"Hmm... biasa saja untuk sebuah pesta besar," kata Sai.

"Hmmm..." Sakura menatap pada gaunnya, lalu kembali ke lemarinya dan menukar gaun yang tadi dengan gaun yang lain.

"Kalau yang ini?"

Kini Sakura menunjukkan sebuah gaun tanpa lengan dengan kerah yang sangat rendah, berwarna pink tua, bagian bawah roknya pendek di depan, mencapai setengah bagian dari pahanya, dan panjang di belakang, menutupi sampai setengah bagian dari pergelangan kakinya.

"Rendah sekali, kau mau semua orang melihat badanmu?" tanya Sai, sedikit terkejut dengan gaun yang ditunjukkan Sakura.

"Aku akan pakai korset hitam untuk menutupinya," kata Sakura sambil manyun.

"Apa itu tidak merepotkanmu?" tanya Sai lagi.

"Hmm... ya sudah, tidak jadi," Sakura pun berbalik badan dan menaruh gaun itu lagi ke dalam lemarinya, lalu menukarnya dengan gaun yang ia jelaskan kepada Ino, Hinata, dan Tenten di sekolah, "bagaimana dengan yang ini?"

"Hmm..." Sai berpikir keras sambil melihat ke gaun yang Sakura tunjukkan padanya, "sepertinya ini sangat bagus untuk dipakai ke Prom Night."

"Oke!" Sakura menjadi sangat senang karena gaun pilihannya tepat untuk dipakai ke Prom Night. Sai, sebagai sahabatnya yang sangat mencintai seni, tau persis warna-warna yang cocok untuk segala macam situasi.

"Ah, mengenai pesta ini," Sai mengubah topiknya, "aku tadi lihat ekspresi Shisui saat Akatsuki mengumumkannya... dia sepertinya terlihat gelisah."

Sakura pun terdiam sebentar saat Sai mengatakan sesuatu tentang kekasihnya. Dia sendiri sebenarnya sedih karena orang-orang terus menerus mengungkit soal Shisui setiap kali membahas tentang Prom Night. Memang, tidak ada yang tau kalau hubungannya dengan Shisui sedang tidak begitu baik, walaupun mereka masih berstatus pacaran. Mereka masih peduli kepada satu sama lain layaknya pasangan pada umumnya, namun ada sesuatu yang salah pada Shisui yang membuat lelaki itu menjadi sedikit berubah pada Sakura.

"Tidak apa-apa," Sakura memaksakan sebuah senyuman, "aku juga belum membahas tentang Prom Night dengan Shisui-kun."

"Hmm," Sai pun tersenyum kepada Sakura saat menemukan sesuatu yang aneh saat Sakura tersenyum, "ada satu hal yang aku ingin katakan kepadamu sebagai sahabatmu."

"Apa itu?" tanya Sakura, terkejut ketika Sai berkata seperti itu.

"Senyummu itu palsu, dan aku bisa mengetahuinya."


"Hehe~ kau terlihat tampan, teme!"

Pada hari Sabtu, para lelaki saat ini sedang berkumpul di kamar Naruto, mempersiapkan diri mereka untuk datang ke Prom Night sambil berbincang. Naruto pun memuji sahabatnya itu, yang kini mengenakan setelan jas, kemeja, dasi, celana panjang, dan sepatu pantofel yang berwarna serba hitam. Ia sedang berusaha memakai dasinya sambil menatap ke cermin yang ada di dalam lemari baju Naruto.

"Diam kau," kata Sasuke, sambil memakai dasinya.

"Pasti siapapun akan mau menjadi pasanganmu saat Prom Night," kata Naruto dengan cengiran khasnya.

"Itu adalah hal yang pasti," Shikamaru memberikan komentarnya.

Entah darimana Sasuke mendapat ilham, tapi akhirnya ia memutuskan untuk ikut ke Prom Night. Sebenarnya, ia ingin berkata ia tidak bisa ikut karena ia ingin menyelesaikan segala tugasnya, tapi segala tugasnya sudah selesai sebelum Prom Night diadakan, jadi ia bingung harus berkata apa supaya ia bisa berbohong dan merebahkan dirinya di atas kasur. Rencananya, sesampainya disana, ia akan langsung bersembunyi di suatu tempat, di pojok ruangan, sendirian, bersama ponselnya yang sudah di-charge penuh dan bermain game yang ia sukai dan tekuni disaat bosan dan tidak ada PR.

"Aku tidak mau berpasangan dengan siapapun," kata Sasuke, mengingat semua penggemarnya adalah perempuan histeris yang menyebalkan baginya.

"Cih, pecundang~" ledek Naruto.

"Jadi, bagaimana? Kalian yang sudah memutuskan untuk mengajak perempuan, akan mengajak mereka langsung di tempat?" tanya Kiba.

"Memangnya kau sudah berkata pada Tamaki bahwa kau ingin berpasangan dengannya?" tanya Chouji.

"Sudah! Dan dia setuju," kata Kiba, sambil mengacungkan jempolnya, "penggemar Sasuke yang satu itu ternyata gampang juga untuk ditaklukkan."

"Syukurlah, berkurang satu orang," kata Sasuke.

"Jadi, yang sudah punya pasangan Prom Night disini ada dua orang?" tanya Naruto, dengan maksud hanya dia dan Kiba yang sudah punya pasangan Prom Night.

"Aku..." Shikamaru mengangkat tangannya dengan malas.

"Eh!? Dengan Temari-senpai!?" tanya Naruto dengan suara yang keras, dijawab oleh anggukan dari Shikamaru.

Tidak menyimak pembicaraan para lelaki yang tidak menarik baginya, Sasuke melihat ke sekeliling kamarnya untuk mencari dimana jam tangannya. Menurut ingatannya, ia membawa dasi dan jam tangannya ke kamar Naruto karena para lelaki dorm 1101 sedang berkumpul di kamar Naruto, tapi ia tidak ingat dimana ia meletakkan jam tangannya, atau apakah dia benar-benar membawa jam tangannya atau tidak.

"Aku mau kembali ke kamarku sebentar," kata Sasuke pada para lelaki, yang membuat mereka sedikit bingung karena wajah Sasuke terlihat panik.

Sasuke pun berjalan naik ke lantai atas, kembali ke kamarnya untuk mencari jam tangannya. Jam tangan itu sangat berharga baginya, karena ia membelinya dengan uang yang ia tabung setelah mengumpulkan uang jajan yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Jam tangan itu sangat mahal, maka usahanya untuk menyeimbangkan berapa kali ia harus jajan sambil membatasi anggaran dana yang harus ia keluarkan adalah hal yang sangat susah, karena Sasuke mudah tergoda dengan barang-barang yang menarik perhatiannya dan yang ia butuhkan, seperti pakaian, aksesoris, case ponsel, sepatu, gadget baru, servis untuk gadget nya, serta nafsu makannya yang besar membuat ia mudah tergoda untuk membeli makanan atau membeli bahan makanan untuk dimasak sendiri di rumah.

"Susah..."

"Eh?"

Saat Sasuke sedang berjalan ke kamarnya, samar-samar ia mendengar suara Sakura yang merintih pelan. Yang membuatnya heran adalah kenapa suara Sakura bisa terdengar sampai luar, yang seharusnya semua kamar kedap suara sehingga tidak bisa terdengar oleh kamar di sebelahnya atau bahkan lorong kamar.

Dengan penuh rasa penasaran, setelah beberapa kali pertimbangan, ia memutuskan untuk memeriksa apa yang terjadi di kamar Sakura. Sebenarnya, ia tidak mau melakukan ini, karena ia takut dianggap mesum kalau Sakura tiba-tiba membuka pintu kamarnya dan menemukan Sasuke sedang berdiri di depan kamarnya, terlihat seperti menunggu sesuatu. Namun, rasa ingin tahunya kali ini lebih tinggi dari harga dirinya.

Ia sedikit terkejut saat menemukan pintu kamar Sakura ternyata sedikit terbuka, itulah mengapa suara Sakura bisa terdengar sampai ke lorong kamar para siswa dan siswi di lantai dua. Penasaran, ia mengintip ke dalam kamar dan menemukan Sakura sedang melihat ke cermin sambil berusaha memakaikan sebuah kalung, namun ia tampak kesusahan untuk menemukan lubang di ujung kalung untuk dimasukkan ke pengait kalungnya.

Namun, hal lain membuat Sasuke terkejut.

Wajah Sakura yang telah dipoles make-up, tidak terlalu tebal, namun membuatnya tampak dewasa dan elegan, rambut yang dihiasi bando dengan bentuk bunga mawar putih, tubuhnya dibaluti gaun yang ia jelaskan kepada Ino, Hinata, dan Tenten beberapa hari lalu; gaun one-shoulder yang di bagian korsetnya berwarna putih, bagian pinggangnya ditutup dengan tali berwarna silver, bagian rok yang mulai dari pinggang adalah gradasi dari warna putih ke warna hot pink dan panjang roknya mencapai ujung kakinya, serta sepatu berhak tinggi yang berselimutkan glitter berwarna silver sudah siap di samping tempat tidurnya, tidak lupa memegang dompet khusus pesta yang terbuat dari kulit dan berwarna putih polos, untuk menyimpan ponselnya dan beberapa barang berukuran kecil yang mungkin ia butuhkan.

Melihat sisi Sakura yang seperti ini adalah hal yang menakjubkan bagi Sasuke. Perasaannya kepada Sakura semakin mendalam ketika melihatnya dengan penampilannya saat ini. Kecantikannya memang tiada duanya bagi para siswa di Konoha Private School. Mungkin para siswa sekolah lain yang melihatnya berjalan-jalan di sekitar kota juga terpesona, sama halnya saat Sasuke berjalan-jalan di sekitar kota dan terkadang ada saja perempuan yang terpesona dengan ketampanannya. Sasuke ingin sekali mengungkapkan rasa takjubnya terhadap siswi yang satu ini dan bagaimana gadis berambut merah muda itu telah berhasil memasuki hati anak bungsu dari dua bersaudara di keluarga Uchiha ini.

Sasuke langsung bersembunyi dibalik dinding di samping pintu kamar Sakura yang sedikit terbuka saat melihat siswi itu berbalik badan dan hendak mengambil ponselnya. Sakura hendak menelpon Shisui, karena ia rasa ia harus memulai pembicaraan daripada ia berkelahi dengan Shisui hanya karena Sakura tidak bersamanya disaat Prom Night.

Sakura pun mencari-cari kontak Shisui di dalam ponselnya, lalu menekan tombol video call. Ia pikir, ia harus membuat Shisui takjub dengan penampilannya saat ini, setidaknya membuat Shisui senang akan kekasihnya yang sangat cantik itu, menghibur hati lelaki itu.

Namun, betapa terkejutnya ketika video call itu tersambung dan yang Sakura lihat di layar ponselnya saat ini adalah Shisui yang sedang terbaring di atas tempat tidurnya, rambutnya berantakan, wajahnya terlihat pucat, dan dahinya ditempeli kompres.

"Hai, Sakura..." Shisui menyapa kekasihnya itu saat ia menjawab video call darinya.

"Shisui-kun, kau kenapa?" daripada Sakura bertanya 'apa kau tidak apa-apa?' kepada Shisui—karena Sakura pun tahu kalau saat ini ada apa-apa dengan Shisui—maka ia langsung bertanya tentang kondisinya yang terlihat buruk saat ini.

"Aku demam..." jawab Shisui, "mungkin aku terlalu banyak begadang selain untuk belajar atau menyelesaikan PR-ku."

"Kau ini..." Sakura sangat khawatir akan keadaannya, namun ada satu hal lagi yang harus ia tanyakan...

"Jadi... kau tidak bisa datang ke acara penyambutan adik kelas?" tanya Sakura dengan wajah yang memelas.

"Maafkan aku..." Shisui memaksakan sebuah senyuman.

Sakura pun terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak mengira kalau Shisui akan jatuh sakit dan tidak bisa menemaninya dalam acara malam ini. Disaat para murid yang berkata padanya bahwa mereka ingin melihat Sakura bergandengan dengan Shisui dalam pesta itu, Shisui harus menanggung nasib jatuh sakit dan membuat kekasihnya kecewa, walaupun penyakitnya tidak disengaja, tapi hati perempuan pastinya akan merasa kecewa.

Sakura pun mendapat sebuah ide, "Aku akan batal datang ke acara penyambutan, aku akan berganti baju dan mengurusmu—"

"Tidak usah," kata Shisui, mengerti dengan maksud Sakura yang tidak akan datang ke pesta penyambutan demi menemani kekasihnya, "aku bisa mengurus diriku sendiri. Lagipula, suhu badanku tidak begitu tinggi."

"Baiklah..." kata Sakura, suaranya bergetar, hendak menangis.

"Jangan menangis, Sakura," kata Shisui saat melihat wajah Sakura dari layar ponselnya, "kau terlihat cantik, sayang sekali jika kau sudah berdandan dengan susah payah dan dandananmu hancur hanya karena kau menangis."

"Maafkan aku," kata Sakura sambil tertawa pelan, lalu berusaha mengelap air matanya dengan jari telunjuknya, menghindari air matanya membasahi dan merusak dandanannya.

"Bersenang-senanglah," kata Shisui sambil tersenyum.

"Jangan lupa makan dan minum obat, lalu istirahat yang cukup, ya," kata Sakura, mengingatkan Shisui sebagai kekasihnya.

"Oke~ kalau begitu, aku tutup ya, dadah~" kata Shisui sambil melambaikan tangannya pelan.

"Dadah~" Sakura pun melambaikan tangannya juga, lalu menutup video call.

'Kasihan...' batin Sasuke, lalu ia memutuskan untuk melanjutkan pencarian jam tangannya, maka ia berjalan ke kamarnya yang berada di sebelah kamar Sakura.

Mendengar ada suara langkah kaki di luar kamarnya, Sakura pun menaruh ponselnya ke dalam dompet, lalu bergegas menuju pintu kamarnya sambil membawa kalung dan mengangkat bagian rok dari gaunnya. Saat ia membuka pintu kamarnya, ia langsung menoleh ke sumber suara langkah kaki itu.

"Uchiha-san!" Sakura langsung memanggil Sasuke dengan nama panggilan khasnya. Sasuke, yang baru saja memegang gagang pintu kamarnya, berhenti dan menoleh ke Sakura.

"Boleh tolong bantu aku pakaikan kalung ini...?" tanya Sakura, sambil menunjukkan kalung miliknya pada Sasuke.

Sedikit terkejut—namun tidak terlihat pada wajahnya—Sasuke pun menghampiri Sakura dan mengambil kalung itu dan berkata, "berputarlah."

Sakura pun membalikkan badannya supaya Sasuke mudah untuk memasangkan kalung itu pada leher Sakura. Jantung Sasuke pun berdegup kencang saat Sakura berbalik badan dan tengkuk serta sebagian punggungnya yang mulus dan tidak tertutup oleh gaunnya itu terekspos. Namun, dalam diam, ia memakaikan kalung itu untuk Sakura. Sebenarnya, ia ingin sekali memeluk Sakura dari belakang dan berkata bahwa ia sangat cantik dan Sasuke menyukainya. Namun, putra keluarga Uchiha yang satu ini bukan tipe orang yang terburu-buru.

"Sudah," kata Sasuke setelah mengaitkan kalung itu.

"Terima kasih," kata Sakura setelah berbalik badan lagi, menghadap ke Sasuke.

"Ano..." muncul keinginan di dalam hati Sasuke untuk mengajak Sakura untuk berpasangan dengannya di acara penyambutan yang bertemakan Prom Night itu, mengetahui Sakura tidak akan pergi bersama sepupunya itu karena masalah kesehatan, namun ia harus berpura-pura tidak tahu.

"Bagaimana soal pasanganmu untuk Prom Night yang kutanya beberapa hari lalu?" Sasuke ingin tahu jika Sakura masih mengingat pertanyaannya pada Sakura saat Sasuke mengerjakan PR fisika di ruang makan, dan jika pertanyaannya tidak mencurigakan bagi Sakura.

"Ah, itu," Sakura ingat akan hal itu, lalu tersenyum kecut, "Shisui-kun tidak bisa datang karena demam."

Sepertinya Sakura tidak menyadari bahwa Sasuke menguping pembicaraannya dengan Shisui lewat video call beberapa menit lalu, sebuah sinyal bagus bagi Sasuke.

"Kalau begitu..." Sasuke meneguk ludahnya, lalu menghela nafas dan berkata, "maukah kau pergi ke Prom Night bersamaku?"

"...eh?"


"Hoooooi teme!" Naruto, yang sedang bergandengan bersama Hinata, menghampiri Sasuke yang sedang berada di dalam dorm Akatsuki. Sasuke sedang bersandar sambil melipat kedua tangannya di samping meja dengan vas bunga berisi bunga mawar berwarna biru. Dorm Akatsuki memang boleh dimasuki selama acara, namun semua ruangan seperti kamar, ruang rekreasi, ruang rapat, dan sebagainya telah dikunci, dan kuncinya dipegang oleh pengawas di dorm Akatsuki, kecuali kunci kamar yang pastinya dipegang oleh pemilik kamar masing-masing. Yang terbuka hanyalah empat kamar mandi di sudut dorm yang berbeda-beda. Mereka lebih memanfaatkan taman di belakang dorm yang ditaruh banyak meja bundar dan kursi, sebuah panggung, dan pastinya kolam renang; walaupun tidak ada acara berenang, namun bagian luar di sekitar dorm Akatsuki lah yang dipakai untuk acara ini.

"Sedang apa kau disini? Menunggu Itachi?" tanya Naruto.

"Tidak," jawab Sasuke singkat, masih dalam posisinya yang bersandaran.

"Kau tidak mau keluar?" tanya Hinata.

"Aku tidak mau keluar sendirian," kata Sasuke, masih berasandaran.

"Penggemarmu, ya?" tanya Naruto sambil cekikikan.

"Hn," jawab Sasuke singkat, lalu ia bertanya, "kenapa kau kesini?"

"Hinata ingin ke kamar mandi, tapi aku menemukanmu disini sedang sendirian dan nampak bosan," kata Naruto.

"Oh," kata Sasuke saat mendengar Naruto mengantarkan Hinata ke kamar mandi, "masih ada seseorang di dalam kamar mandi perempuan."

"Kau sudah lama berdiri disini, ya?" kata Naruto, mendengar sahabatnya ingat apakah ada orang di dalam kamar mandi atau tidak.

"Tidak juga," jawab Sasuke.

Pintu kamar mandi pun terbuka, dan sesosok perempuan berambut merah muda dengan dandanan yang sangat elegan keluar dari ruangan itu. Siapa lagi kalau bukan Sakura, yang ingin memeriksa jika make-up nya luntur atau tidak.

"Oh, Hinata! Naruto-san!" Sakura menyapa pasangan yang berdiri di depan pintu kamar mandi.

"Yo, Sakura-chan!" Naruto menyapa Sakura, dan Hinata tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya pelan kepada Sakura.

"Ah, iya," Sakura menoleh kepada Sasuke, lalu mengaitkan pergelangan tangannya di sekitar lengan Sasuke, "aku sudah selesai, ayo keluar."

Dan betapa Naruto dan Hinata terkejut saat melihat Sakura melakukan itu pada Sasuke. Mereka pikir, Sasuke positif tidak akan berpasangan dengan siapapun selama Prom Night dan akan menyendiri, tetapi, ia malah menggaet Sakura?

"Kami duluan, ya," kata Sasuke, sambil menoleh ke Naruto dan Hinata, menampakkan seringai khasnya dan melambaikan tangannya pelan.

"EEEEEEEEEEH!?" dan Naruto akan terus mengingat kejadian ini seumur hidupnya.

Tepat beberapa jam yang lalu, setelah Sasuke membantu memakaikan kalung di leher Sakura, Sasuke bertanya pada Sakura apakah ia akan pergi bersama Shisui ke pesta ini—yang sebenarnya Sasuke sudah tahu bahwa jawabannya adalah tidak karena masalah kesehatan Shisui—dan Sakura menjawab bahwa Shisui tidak bisa pergi karena terkena demam, yang artinya ia akan pergi sendirian ke Prom Night. Namun, dengan seluruh keberanian yang telah dikumpulkan, sepenuhnya mengikuti kata hatnya, dan membuang jauh-jauh harga dirinya, Sasuke memberanikan diri untuk mengajak Sakura berpasangan degannya di Prom Night.

"Kyaaaa, Sasuke-kun terlihat sangat tampan!"

"Bajunya Sasuke-kun sangat cocok untuknya!"

"Eh... bukankah itu Haruno Sakura?"

"Kemana Shisui? Kenapa ia berpasangan dengan sepupunya?"

"Ia sedang mengalami demam, bukankah wajar bila itu sepupunya sendiri?"

Berita tentang Shisui yang sedang jatuh sakit begitu cepat menyebar saat mereka kebingungan melihat Sakura dan Sasuke berpasangan. Anak-anak kelas 11-B yang kenal dengan Sakura dan Shisui langsung menjelaskan bahwa Shisui sedang demam, sehingga ia tidak bisa menghadiri pesta. Para penggemar Sasuke bisa-bisa menjadi gila jika mereka mengira Sasuke merebut kekasih dari sepupunya sendiri, atau malah Sakura yang sengaja selingkuh dengan sepupu dari kekasihnya.

"Sakura, Sasuke!" sebuah suara familiar memanggil kedua siswa dan siswi yang tengah menikmati pesta tersebut, maka mereka pun menoleh ke arah sumber suara, yang ternyata adalah Konan, yang sedang bergandengan bersama Itachi.

"Konan-senpai!" sahut Sakura, lalu menghampiri Konan dan Itachi bersama Sasuke.

"Kau tidak dengan Shisui?" tanya Itachi pada Sakura.

"Dia sedang terkena demam..." kata Sakura sambil berusaha tersenyum.

"Oh, begitu... dan kukira adikku tidak tertarik dalam hal perempuan," ledek Itachi sambil melirik ke Sasuke.

"Berisik," kata Sasuke sambil berusaha menahan semburat merah di wajahnya.

"Ah, itu bando mawar putih yang kau katakan kepadaku, ya?" tanya Konan, sambil menunjuk ke perhiasan rambut Sakura yang memiliki bentuk dan warna yang sama dengan hiasan rambutnya.

"Iya," jawab Sakura dengan girang.

"Lucu sekali~ hei, tolong ambilkan foto aku dengan Sakura, dong!" kata Konan, sambil memberikan ponselnya kepada Itachi dan menarik Sakura, melepaskan kaitan pergelangan tangan Sakura dari lengan Sasuke.

Itachi pun mengambil ponsel Konan, lalu membuka aplikasi kamera sambil mendekat ke adik kandungnya dan berbisik, "Jujur saja, kau menyukai Sakura, ya?"

"Cih," Sasuke hanya bisa memalingkan wajahnya dari Itachi. Kelakuan Sasuke ini semakin membuat Itachi ingin menjahili adiknya.

"Aku tau dia cantik, ramah, pintar, peduli dengan sesama, menggemaskan, selera humornya tinggi, bisa memasak, disiplin, cekatan, dia sempurna," kata Itachi, sambil tersenyum.

"Mungkin kau yang suka padanya," kata Sasuke sambil berbalik badan, memberikan punggungnya kepada Itachi. Kakak kandungnya itu pun terkekeh geli.

"Itachi, ayo~" Konan tidak sabar untuk berfoto bersama Sakura.

"Ah, oke~" Itachi pun mengambil foto Sakura dan Konan yang memakai aksesoris kepala yang sama, dua-duanya nampak cantik dan elegan dengan gaun yang mereka pakai.

Setelah itu, Sasuke dan Sakura pun bergerak lagi ke tempat lain. Sasuke tidak suka keramaian, maka mereka berdua akan masuk ke dalam dorm Akatsuki, naik ke lantai dua, dan melihat keramaian dari atas balkon.

"Sasuke-senpai!" seorang adik kelas menyapa Sasuke saat ia melihat Sasuke dan Sakura hendak naik ke lantai dua. Sasuke dan Sakura pun menoleh ke sumber suara.

"Namaku Jin, aku sangat menyukai Sasuke-senpai!" seru adik kelas yang bernama Jin itu, berambut coklat muda dan dikuncir kuda.

"Hn," jawab Sasuke, karena adik kelasnya yang satu ini sama saja seperti para penggemarnya yang lain.

"Uchiha-san memiliki banyak penggemar, ya..." kata Sakura dengan wajah berandai-andai.

"Un! Aku juga suka Sakura-senpai!" kata Jin dengan nada gembira.

"Wah, terima kasih banyak~" kata Sakura dengan senyum lebar.

"Aku ingin bisa menjadi murid berprestasi seperti Sakura-senpai!" seru Jin dengan wajah yang terlihat kagum dengan sosok Sakura.

"Kau harus pintar membagi waktu belajar dan waktu main, oke?" kata Sakura.

"Un!" Jin mengangguk.

"Sakura, aku ingin keatas," kata Sasuke, mengingatkan Sakura sekali lagi.

"Ah, ya," kata Sakura, "kami duluan, ya."

"Oke, senpai!" kata Jin dengan riang sambil melambaikan tangannya pada Sasuke dan Sakura.

Keduanya pun naik ke lantai dua dorm milik anggota OSIS bernama Akatsuki ini. Banyak sekali karya-karya dan foto-foto yang dibingkai dan dipajang di dinding untuk mengenang hasil karya dan kerja keras dari anggota OSIS pada generasi-generasi sebelumnya, serta memotivasi para anggota OSIS generasi selanjutnya supaya bisa berkarya lebih baik dan menghasilkan sesuatu yang lebih hebat dibanding generasi sebelumnya.

"Waaah, hebat," sambil berjalan ke balkon, Sakura melihat karya-karya anggota OSIS generasi sebelumnya di lorong dorm, lalu ia menoleh kepada Sasuke.

"Uchiha-san, apakah kau ingin menjadi anggota OSIS untuk meneruskan kakakmu?"

"Kurasa tidak," jawab Sasuke singkat.

"Oh, begitu," kata Sakura, lalu menoleh lagi ke kum pulan karya di lorong kamar dorm milik anggota OSIS Akatsuki ini.

Begitu mereka sampai di balkon, Sasuke dan Sakura menonton kelangsungan acara ini dari atas sambil menikmati sejuknya udara malam. Sasuke berdiri di dekat pagar pembatas balkon, dengan kedua tangannya yang masuk ke dalam kantong celananya, matanya melihat ke bawah; kepada kerumunan siswa dan siswi, sementara Sakura berdiri di sebelah Sasuke sambil memegang pagar pembatas balkon, juga melihat ke kerumunan siswa dan siswi.

"Kue pie kecil di lantai bawah tadi enak, ya~" kata Sakura, sambil iseng melihat ke arah meja yang penuh dengan makanan.

"Aku tidak suka makanan manis," kata Sasuke singkat.

"Eh? Jadi, kau tidak mengambil kue itu, tadi?" tanya Sakura, sedikit terkejut.

"Hn," jawab Sasuke.

"Sayang sekali," kata Sakura, terkekeh pelan.

"Kau hanya makan kue pie, es krim rasa teh hijau, dan lemon squash, memangnya kau kenyang?" tanya Sasuke, mengkhawatirkan Sakura yang hanya memakan makanan pencuci mulut dan segelas minuman.

"Aku sedang tidak ingin makan besar," kata Sakura, "tetapi, aku ingin makan shoyu ramen dengan chicken katsu..."

"Eh?" Sasuke menoleh kepada Sakura. Ia kira, Sakura ingin makan makanan yang sedikit berkelas.

"Ya, aku sama saja seperti perempuan biasanya," kata Sakura, "aku suka makan ramen, udon, oyakodon, dan beberapa makanan lainnya, yang disajikan dalam mangkuk berukuran besar. Salah satu hobiku adalah makan."

Walaupun menyukai makanan, bentuk badan Sakura tetap saja teratur. Tidak begitu kurus, tidak gemuk, namun berisi. Ia menyukai aktivitas olahraga di dalam rumahnya sehingga badannya tetap bergerak.

"Oh, begitu," hal lain tentang Sakura pun masuk ke dalam ingatan Sasuke. Yes!

"Mungkin kita bisa pergi makan ramen bersama, kapan-kapan," kata Sakura, sambil tersenyum lebar.

Dengan Sasuke yang berdiri di samping Sakura, ia pun melihat kepada siswi yang tingginya mencapai ujung hidungnya itu. Siswi yang serba sempurna, disukai banyak orang, digilai para siswa di sekolahnya, dan dia sendiri sudah membuktikan kenapa para siswa mau menjadi pacar Sakura. Siswi ini mempunyai segalanya yang menjadi kriteria perempuan yang menurutnya cocok untuk menjadi orang yang menemaninya.

"Sakura..." dengan suaranya yang pelan, Sasuke memanggil nama Sakura.

"Ya?" Sakura menoleh, sedikit mendongak ke Sasuke.

.

.

"Kau..."

.

.

"...cantik."


HUWEEEEEEEEEEEEEW segini dulu deh yang aku bisa tulis QwQ hai, di akhir penulisan fanfic ini, aku baru aja masuk ke tahap uas. Mohon doanya ya untuk dua minggu kedepan QAQ btw di chapter kemaren tuh aku bingung mau tulis nama Genyuumaru gimana, di wikia nya Naruto tulisannya Gen'yuumaru, di anime nya tulisannya Gennyuumaru, aku males nulis panjangpanjang tapi cara spelling namanya itu Gen-yuu-maru kok, bukan Ge-nyuu-maru :3

Mari bales review chapter tiga :3

Luca Marvell: Yak! Sasuke dateng sama Sakura. Shisui, hmmm... suka gak yaaa :3 selingkuh gak yaaa AwA

IndahP: Ehuehue maafkan akuuuu QAQ disini udah kucoba banyakin, doudesuka? :3

aka-chan: Arigatoooou *^*

Rachel-Chan Uchiharuno Hime: Salam kenal! Aduh, makasih banyak, walopun aku masih belajar dari baca fanfic author lainnya buat improve soal pendeskripsian, tapi kalo menurutmu bagus aku udah cukup seneng ^^ wkwk maaf ya jadi greget gituu, hmmm untuk beberapa part di fanfic ini sih aku mau coba nyakitin hati Sakura untuk beberapa chapter :3 iyaa aku usahain tulistulis kalo ada waktu luang diselasela uas yaa ^^

Nikechaann: Hai, ganbarimasu~

misakiken: Bosen gak yaaa AwA okidoki~

Okei, sampai bertemu di chapter 5, JANGAN LUPA REVIEW NYAAAAAAAA AwA