Chapter 4 : Kanojo Ni Tsuite
Naruto selalu punya Om MasaKishi dan SAO punya nya Mr. Kawahara Reki, kalo ceritanya punya saya.
Buat Warning, segala macam warning pasti ada disini, dari yang halus sampe yang kasar. *iyyyyuuuuhhh?
Pleasse Read and Review my story.
Arigatou. :)
;
;
;
;
. . . . . . .
Dan aku ingat ketika salah satu detektif dengan perlahan memindahkan lilin tumbang tersebut ke atas meja belajar ini. Kenapa mereka tidak curiga atau membawanya saja. Hhh,
Drrrrrrtttt drrrrttttt
Ku tersadar dari lamunanku dan segera mengangkat telponku tanpa melihat siapa yang menelponku.
"Moshi moshi..." terdengar suara dari seberang.
"Kaa san?"
.
End of Sasuke POV
.
.
.
Sasuke berdiri disamping mobilnya, kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celana hitam yang tengah dikenakannya. Kemeja berwarna senada dengan celana dan memiliki garis-garis vertikal putih dipadu dengan dasi berwarna merah maroon yang tengah bergoyang perlahan dipermainkan angin sore. Tatapan Sasuke tampak sendu melihat rumah megah yang berdiri didepannya dengan dua buah tiang super besar sebagai penyangga rumah. Terdapat pula dua jalan untuk masuk dan keluar dari rumah yang bisa dibilang seperti istana itu. Sepanjang jalan masuk dan keluar dihiasi dengan bunga lavender yang tertata rapi dipinggir jalannya. Sasuke menunduk, mata dan hatinya teras panas, lavender? Tentu saja mengingatkannya pada orang yang selama ini dia cari-cari, Hinata ya tentu saja gadis itu.
Sasuke melangkahkan kakinya memasuki pintu gerbang yang menjulang tinggi. Dua orang satpam membukakan pintu untuknya sebelum mereka membungkuk hormat pada Sasuke. Langkah kakinya tampak ragu menyusuri jalanan sunyi ditemani dengan angin yang menggoyangkan lavender-lavender kecil yang tampak mulai bersemi. Dan disini dia sekarang, didepan pintu rumahnya. Mansion Uchiha.
.
"Kenapa kau membenci Hinata, Sasuke?"
"Aku tidak membencinya Kaa san, aku hanya... aku..?"
"Tidak menyukainya?" Mikoto terus memojokkan putra bungsunya. Sasuke hanya dapat memijat pelan pelipisnya.
"Aku hanya merasa tidak nyaman Kaa san," desis Sasuke sambil menatap Kaa san nya dengan tatapan sedih. Topeng dinginnya sudah hilang semenjak Kaa san nya memancing emosi Sasuke dari awal pertemuan mereka semenjak beberapa bulan lalu.
"Apa yang tidak kau nyamankan dari Hinata sayang?" nada suara Mikoto terdengar kembali melembut.
Sasuke tampak berpikir sejenak. Membenahi posisi duduknya yang tidak nyaman, kemudian dia menutup kedua kelopak matanya, menyembunyikan kelereng hitam mempesona miliknya. Sasuke menghela nafas perlahan. Dia kembali membuka matanya dan menatap Kaa san nya dalam-dalam,
"Apa yang Kaa san rasakan ketika orang yang selama ini Kaa san anggap saudara lalu tiba-tiba Kaa san harus menikahinya?" pertanyaan Sasuke membuat Mikoto diam. Dalam beberapa detik hanya terdengar detik jam yang berjalan perlahan.
"Kenapa harus aku? Bukan Itachi nii saja Kaa san?" Sasuke kembali menutup matanya. Namun ada sesuatu yang tengah bergolak didadanya. Seperti emm rasa tidak ikhlas mengucapkannya.
"Karena Hinata mencintaimu, bukan Itachi."
Apakah ada halilintar yang tengah menggelegar dengan aura pekat disekitar Sasuke? Atau justru taman bunga yang harum dengan background bunga musim semi yang mengelilingi Sasuke. Wajah datarnya tidak terbaca. Namun, bagaimana dengan hatinya? Ada rasa bahagia? Atau rasa kecewa? Mengertikah Sasuke? Aku sendiri tidak mengerti(?).
Yang Mikoto tahu semenjak Hinata tinggal dengan mereka diusianya yang ketiga dan Sasuke yang kesebelas, Sasuke tidak pernah menganggap Hinata ada. Apalagi saat itu Itachi dikirim ke Suna untuk sekolah dan mengurus cabang perusahaan disana setelah Sasuke sembuh.
Sikap cuek dan sangat tidak pedulinya membuat Hinata diam-diam sering menangis ketika malam. Ya, Mikoto sering memergoki Hinata menangis, Mikoto dapat merasakan perasaan yang tumbuh seiring berjalannya waktu dalam hidup Hinata. Dan sangat jelas Hinata memperlakukan Sasuke berbeda dari Itachi.
Sampai akhirnya Sasuke memutuskan untuk kuliah di Suna menyusul Itachi nii dan Hana nee, istri nii san nya, dan tinggal bersama mereka. Karena kejeniusannya, pada tahun ketiga Sasuke sudah menyelesaikan kuliahnya dan Sasuke pun melanjutkan studynya ke jenjang yang lebih tinggi.
Beberapa tahun kemudian Sasuke sudah mengepalai cabang perusahaan Uchiha dibagian selatan Konoha dekat dengan Suna. Sasuke sengaja meminta bekerja disana agar dia bisa dekat dengan Itachi dan tetap tinggal dengan Itachi. Alasan simple tapi mengganggu bagi Itachi.
Hari itu tanggal 1 Juli, musim panas pertama yang akan dia lewati bersama Karin, teman satu jurusan dan seangkatannya dulu sewaktu kuliah. Yah, jika Sasuke tidak salah ingat. Gadis berambut merah maroon dan berkacamata tersebut menyatakan perasaannya pada Sasuke saat mereka tanpa sengaja bertemu kembali pada malam perayaan Hanabi untuk menyambut musim panas.
Sasuke hanya dapat menatap gadis yang tengah dirundung kecemasan dari sorot matanya yang tampak gelisah dengan tatapan datar andalannya. Hanya satu hal yang terlintas dalam otak Sasuke. Dia akan mencoba membuka hatinya untuk gadis ini dan melupakan seseorang yang sering mengganggu pikirannya selama ini. Meskipun Sasuke tidak terlalu mengenal Karin, tetapi Sasuke hanya ingin sesuatu yang mengganggunya selama ini hilang dari perasaannya.
Sepertinya Itachi tidak menyukai hubungan mereka. Terbukti beberapa hari setelahnya dia menelpon ayahnya dan tiba-tiba saja sang ayah langsung menikahkannya dengan Hinata, gadis kelas dua SMA yang selama ini, errr mungkin iya mungkin tidak selalu mengganggu, ah, mungkin dia anggap adik, Sasuke sulit mendefinisikannya. Dan bahkan Sasuke belum bilang setuju atas keputusan ayahnya tetapi mereka sudah tinggal seatap, tentu saja ayahnya membelikan rumah yang dekat dengan tempatnya bekerja.
Satu hal yang tidak mungkin Sasuke lupakan adalah senyum kemenangan dari sang Aniki atas pengusiran Sasuke secara tidak langsung dari rumahnya. Sebegitu merepotkannya kah Sasuke bagi Itachi nii, Hana nee dan dua orang anak mereka? Ooh, jika memikirkannya lagi, kepala Sasuke serasa ingin pecah saja.
"Sasuke?" Mikoto melambai-lambaikan tangan kanannya didepan wajah Sasuke yang tampak melamun semenjak pernyataan Mikoto beberapa saat yang lalu.
"Ah! I-itu..." sejak kapan Sasuke ikut gagap seperti Hinata?
Mikoto membenahi posisi duduknya. Dia menatap anak bungsunya sejenak sambil menghela nafas sebelum akhirnya dia menatap langit biru diatasnya. Angin semilir membelai rambut panjangnya yang tidak diikat, membawa bau harum musim semi yang sebentar lagi akan datang dan membuatnya kembali pada masa lalu yang selalu ingin dia kubur dalam-dalam. Masa lalu tentang sahabatnya dulu.
.
14 tahun yang lalu...
Uchiha Mikoto mengenal wanita pucat didepannya itu sudah semenjak mereka duduk dibangku SMA sekitar dua puluh tahun yang lalu. Mereka adalah sahabat sejati sejak mereka saling mengenal waktu pertama kali masuk SMA. Mikoto mengenalnya sebagai gadis pendiam dan ramah namun penggila game online. Karena setiap ada waktu senggang disela-sela belajarnya, gadis itu selalu menyempatkan diri untuk bermain game online.
Namun, sahabat pendiamnya ini tetap saja menjadi pesaing utamanya dalam hal memperebutkan gelar gadis terpintar di sekolahnya. Bagi Mikoto, sahabat keturunan Hyuuga itu sangatlah hebat dalam berbagai kegiatan, meskipun dia pendiam namun dia bisa olahraga dan pintar dalam pelajaran. Mikoto sangat menyayanginya, Hyuuga Hotaru, ibu dari menantunya sekarang Hyuuga Hinata.
Selama satu semester di tahun pertamanya di SMA, Mikoto dan Hotaru adalah sahabat paling dikenal diseluruh SMA Heian tempat mereka belajar. Namun meskipun mereka sahabat, Hotaru adalah orang yang sangat tertutup terutama mengenai masalah keluarganya. Yang Mikoto pernah dengar Hyuuga adalah keluarga yang penuh dengan misteri. Aura mistik mereka sangat terlihat disetiap rumah hunian keluarga Hyuuga.
Sepertinya tidak dengan Hotaru. Menurut perasaan Mikoto, aura Hotaru hanya terkesan tenang dan tersembunyi. Konon, Hyuuga memiliki benda pusaka yang harus dijaga secara turun temurun dengan nyawa mereka oleh anak sulung keluarga Souke atau keluarga utama dalam keturunan Hyuuga. Namun, Mikoto tidak pernah berani menanyakannya pada Hotaru.
Musim semi ditahun keduanya di SMA, Mikoto tidak pernah lagi melihat Hotaru. Yang Mikoto dengar dari kepala sekolahnya, Hotaru melanjutkan sekolahnya di Amerika bersama calon suaminya. Dan sampai Mikoto menikah serta memiliki dua orang putra, dia tidak pernah mendengar kabar tentang Hotaru.
Saat itu adalah pertengahan bulan September. Pepohonan disepanjang jalan tertiup angin yang cukup kencang. Udara terasa agak dingin, membuat Mikoto dan suaminya, Uchiha Fugaku, memilih beranjak memasuki rumah. Sebelumnya mereka tengah asyik menikmati bulan purnama paling indah sepanjang tahun.
Mikoto berjalan perlahan mendekati kedua putra lelakinya yang tengah sibuk didepan komputer. Uchiha Itachi, sang kakak tampak tengah mengajari sesuatu yang menyenangkan kepada adik kecilnya yang berusia tiga tahun, Uchiha Sasuke. Mereka berdua tampak asyik sehingga tidak menyadari kehadiran Mikoto.
Semakin mendekat Mikoto dapat melihat bahwa kedua putranya sedang bermain game. Mikoto mengerutkan alisnya karena kedua putranya memainkan game girl, sepertinya. Kehidupan dalam game tampak menyenangkan, itu yang dapat Mikoto tangkap.
Sebelum beranjak meninggalkan kedua putranya, ada sesuatu yang menggelitik matanya. Tampak sebuah nama familiar disudut layar game, SAO by Hyutaru. Mikoto membelalakkan matanya Hyutaru adalah nickname yang selalu dipakai sahabatnya ketika bermain game. Namun Mikoto tidak pernah mencari tahu meskipun rasa penasaran selalu menggelitiknya.
Dalam tahun-tahun berikutnya SAO dikenal sebagai game kebahagiaan. Semakin banyak yang memainkannya karena game tersebut membawa kebahagiaan bagi pemainnya. Akhirnya Mikoto pun mencari tahu tentang pembuat game tersebut.
Hyuuga Hotaru, terkenal sebagai pembuat game paling menyenangkan yang tersebar diseluruh dunia. Game yang paling banyak diminati adalah SAO, game yang bertemakan kehidupan sehari-hari. Game ini paling banyak dimainkan oleh para gadis. Saat itu Mikoto berharap dapat bertemu dengan sahabat yang dikasihinya itu sekali lagi. Dan dari sinilah awal dimulainya cerita pernikahan Sasuke dan Hinata.
"Aku tidak pernah menyangka akan bertemu denganmu dalam keadaan seperti ini, Hotaru chan." Mikoto menggenggam erat sebelah tangan sahabatnya yang kini terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Air matanya mengalir deras dari kedua pelupuknya yang tampak menghitam. Sepertinya Mikoto terlihat kurang tidur.
Hotaru hanya dapat tersenyum lemah melihat sahabat disampingnya itu. Dia merasa sangat bangga memiliki sahabat seperti Mikoto. Mikoto rela membagi waktunya demi dia dan putra bungsunya yang saat ini juga tengah sakit parah, mungkin putranya tersebut juga sama-sama tengah berusaha menghadapi maut seperti Hotaru.
Hotaru mengangsurkan sebuah surat dengan amplop berwarna coklat panjang pada Mikoto. Mikoto menatapnya penuh tanya. Penyakit kanker stadium akhir yang sudah sangat parah diderita Hotaru membuatnya tidak dapat bicara dan sulit bergerak. Namun matanya mengisyaratkan Mikoto agar membukanya.
Surat pernyataan donor jantung dari Hyuuga Hotaru kepada Uchiha Sasuke membuat kedua onyx kelam Mikoto yang dipenuhi air mata membola. Dia sangat terkejut dengan keputusan sahabatnya tersebut. Ketika dia akan memprotes keputusan Hotaru, yang Mikoto dapati hanyalah mata tertutup dan sebuah senyum penuh ketenangan dari sahabatnya tersebut.
Mikoto menangis dalam diam. Salju diluar tampak turun begitu derasnya. Angin yang berhembus membuat pohon-pohon yang terlihat dari jendela kamar rumah sakit tampak bergoyang pelan. Sebuah surat terjatuh. Sebuah surat kecil dari Hotaru yang menyatakan agar Mikoto menjaga Hinata.
Suara gaduh segera terdengar, beberapa orang dokter dan suster segera membawa Hotaru keruang operasi. Hinata menangis. Gadis kecil berusia tiga tahun itu terbangun. Dia berlari mengikuti ibunya sambil menggendong sebuah kotak kecil berwarna hitam. Dan kata terakhir yang masih bisa didengar Mikoto adalah...
"Maafkan Kaa san Hinata." Mikoto terkejut. Jadi Hotaru tadi belum meninggal? Betapa cerobohnya dia karena berpikir Hotaru sudah pergi tanpa mengecek alat pendeteksi jantungnya.
.
"Jadi Danna sudah tahu?" Mikoto setengah berteriak dihadapan suaminya. Dia tampak menahan emosi sehingga berteriak dihadapan suaminya. Air mata yang sejak tadi menetes tidak pernah berhenti mengalir. Fugaku hanya bisa diam, sementara Itachi hanya mampu menenangkan Hinata yang menangis dalam pelukannya.
"Hotaru menyuruhku diam." Akhirnya Fugaku angkat bicara meskipun dengan nada dinginnya.
"Bukan berarti anda harus menyetujuinya tanpa memberitahu saya terlebih dahulu."
Mikoto menggedong Hinata. Dia masih menatap Fugaku dengan tatapan tidak percayanya.
"Tapi Sasuke anak kita dan dia membutuhkannya," desis Fugaku.
Mikoto memasukkan Hinata kedalam mantel tebalnya. Kemudian dia berjalan meninggalkan suami dan putra sulungnya didepan ruang operasi. Air mata yang tidak berhenti mengalir membuat pandangannya memburam. Dengan lembut dan penuh kasih sayang Mikoto mengelus punggung kecil Hinata agar tenang.
Kasihan, gadis sekecil Hinata harus menanggung beban seberat ini. Ayahnya yang seorang teknisi Jepang dan bekerja di Amerika telah meninggal dalam sebuah kebakaran saat Hinata berusia satu tahun. Dan tahun lalu, dalam keterlambatannya Hotaru telah divonis memiliki penyakit kanker otak stadium akhir. Hotaru pun memutuskan kembali ke Jepang, tepatnya ke Konoha, untuk menjalani perawatan dan meninggal di kampung halamannya.
Apakah seharusnya ayah Fugaku yang patut disalahkan karena telah menurunkan penyakit jantung kepada anak dan cucunya. Seharusnya cukup adik Fugaku saja yang meninggal karena serangan jantung, tidak harus Sasuke ikut-ikutan menanggung penyakit tersebut sehingga membuat Hotaru mendonorkan jantungnya. Mungkin saja sisa hidup Hotaru masih bisa membuat Hinata bersenang-senang.
Hinata telah terlelap dalam pelukan Mikoto. Saat ini yang dikhawatirkannya adalah apakah operasi Sasuke berjalan lancar dan bagaimana cara menjelaskannya kelak pada Hinata tentang perbedaan mata yang jelas diantara mereka. Yang terpenting adalah Mikoto berjanji akan menjaga Hinata dengan nyawanya.
Operasi Sasuke jelas berjalan lancar. Sasuke hidup layaknya anak normal lainnya dan Hinata diterima dengan baik oleh keluarga besar Uchiha serta Mikoto mengganti marga Hinata menjadi Uchiha pula. Semenjak meninggalnya Hotaru, SAO dan game-game ciptaan Hotaru lainnya resmi ditutup.
Pada usianya yang ke lima belas tahun, Mikoto menceritakan semua tentang Hinata dan keluarganya hanya yang Mikoto ketahui saja. Awalnya Hinata memang shock dan terpuruk, namun kasih sayang yang didapatnya dari keluarga Uchiha membuatnya bangkit kembali. Sehingga saat pernikahannya dengan Sasuke untuk sementara Hinata dapat kembali menyandang marga Hyuuganya.
.
"Dan seharusnya kau tahu Nak, bahwa Hinata mencintaimu dengan tulus, bukan karena jantung ibunya yang berdetak dalam dirimu sehingga dia meminta balas budi mu. Dia mencintaimu karena dia memang mencintaimu." Mikoto mengakhiri ceritanya dengan linangan air mata.
Sasuke terdiam, Mikoto juga menangis dalam diam. Hanya terdengar angin musim semi yang berhembus perlahan menebar aroma bunga lavender dan sakura yang tertanam rapi di halaman belakang Mansion Uchiha.
Sasuke beranjak dari duduknya tanpa berpamitan pada Kaa san nya. Dia berjalan perlahan melewati dapur, ruang keluarga dan ruang tamu. Sasuke terus berjalan sampai dia tiba didepan mobilnya. Beberapa saat kemudian Sasuke sudah melaju dijalanan Konoha.
Kamar itu masih sama seperti saat Sasuke meninggalkannya beberapa jam yang lalu. Aroma mawar masih memenuhi ruang sunyi yang hanya diterangi oleh lilin maroon yang sama. Sasuke berjalan dan kemudian menduduiki kursi yang ditinggalkannya tadi. Dengan tatapan datar Sasuke menatap lilin maroon tersebut. Tangan kanannya secara perlahan terangkat untuk memegangi dadanya.
"Sakit," gumam Sasuke, kemudian dia menumpukan kedua tangannya diatas meja dan menidurkan kepalanya diatas kedua tangannya. Mata Sasuke terasa berat dan kemudian dia tertidur.
Cahaya keperakan keluar dari api diatas lilin tersebut kemudian menyebar dan membentuk butiran-butiran bunga api yang menghujani tubuh Sasuke.
.
Sasuke merasa bagai terlempar ke dunia lain. Tubuhnya terhempas diatas sebuah karpet berwarna ungu. Aroma lavender menyeruak memenuhi indera penciumannya. Pandangan Sasuke juga tidak terlalu jelas, buram lebih tepatnya. Seperti kaca berembun. Namun meskipun samar-samar Sasuke dapat melihat ada seseorang berambut sebahu tengah duduk membelakanginya.
Seorang gadis kecil tepatnya. Dia duduk bersila tidak jauh dari tempat Sasuke terjatuh. Sasuke pun menghampirinya dan berdiri dibelakang gadis tersebut. Ternyata gadis itu tengah membuat origami angsa berwarna-warni dalam jumlah yang banyak. Lalu apa yang Sasuke lakukan disini? Bermimpikah dia? Tidak ada yang terlalu jelas di ruangan ini kecuali gadis itu.
Tidak berapa lama kemudian gadis itu membereskan origaminya dan memasukkannya kedalam sebuah kantong kertas. Dia tampak melirik jam dinding yang terlihat pukul 23.01 dan buru-buru pergi, entah kenapa sebuah naluri menyuruh Sasuke untuk mengikuti gadis itu.
Sesampainya didepan sebuah kamar, gadis yang berjalan mengendap-endap itu segera masuk dengan sangat hati-hati seperti takut akan membangunkan penghuninya dan menutup pintu dengan sangat perlahan pula.
STOP! SASUKE'S ZONE. Sasuke membelalakkan kedua onyx kelamnya. Ini adalah pintu kamarnya. Dia sangat mengingat bahwa tulisan tersebut dia tempel beberapa saat setelah Sasuke mendapat juara 1 lomba speaking se Jepang waktu di SMP dulu. Dengan buru-buru Sasuke membuka pintu kamar tersebut. Ya, berarti orang yang telah menyelesaikan origami untuk festival tahunan sekolahnya adalah gadis kecil tersebut. Dan hanya satu orang gadis yang tinggal di rumahnya selain Kaa san.
Ceklek! Cahaya putih keluar dari kamar tersebut, menyilaukan pandangan Sasuke. Sasuke memincingkan kedua matanya saking silaunya cahaya. Tiba-tiba saja tubuh Sasuke terasa ringan, dia bagai tersedot kedalam cahaya putih yang menyilaukan tersebut.
.
Sasuke tersentak bangun dari tidurnya. Bagai ada yang melemparnya kembali ke dunia nyata. Kemejanya basah oleh keringat, begitu pula wajah dan rambutnya. Nafas Sasuke tampak terengah-engah, dia menatap berkeliling dan mendapati kamar Hinata yang sepi seperti biasanya. Lilin dihadapannya masih menyala, Sasuke pun berdiri dan dia berjalan keluar kamar.
"Mungkin aku butuh mandi," pikir Sasuke, berusaha menghilangkan perasaan tidak nyaman dari mimpinya barusan.
.
.
.
Senja baru saja menghilang diufuk barat. Garis kemerahan yang biasanya menemani sang mentari turun ke peraduannya pun telah menghilang beberapa saat yang lalu. Cakrawala tampak mulai menggelap dan cahaya sang mentari tergantikan oleh cahaya redup rembulan musim semi.
Sasuke berjalan perlahan diantara keramaian. Ini adalah pertengahan bulan April, sebagian besar penduduk Konoha berkumpul bersama kerabat, keluarga ataupun teman untuk merayakan Hanami. Dibawah pohon-pohon Sakura yang tampak bermekaran disediakan kursi-kursi dan meja-meja sementara disepanjang jalan terdapat toko-toko penjual makanan.
Didekat danau, dibawah sebuah pohon Sakura yang tampak belum mekar semua, duduk dua orang pria diatas sebuah tikar. Ditengah-tengahnya terdapat sebuah meja bundar yang dipenuhi makanan dari yang berat sampai yang ringan dan sebuah teko ocha hangat sebagai minumannya.
"Yo! Teme, kami sudah menunggumu dari tadi," teriak pria berambut pirang dengan tiga buah garis horizontal dimasing-masing pipinya. Sasuke hanya menanggapinya dengan sebuah gumaman tidak jelas.
Sasuke menatap ngeri makanan yang begitu banyak dihadapannya. Kemudian dia duduk bersila diantara keduanya. Si pria kuncir nanas menatap Sasuke dengan malas.
"Tatapanmu mencemooh Sasuke. Makan saja, kami yang traktir." ucap Shikamaru.
Naruto mengancungkan kedua jempolnya dan tersenyum secerah matahari siang tadi. Shikamaru menanggapinya dengan memutar kedua bola matanya bosan sementara Sasuke masih bertahan dengan ekspresi datarnya.
"Itadakimasu." Mereka mengucapkannya bersama-sama dan mulai melahap makanannya dengan tenang. Tetapi tidak untuk Naruto, pemimpin perusahaan percetakan komik ternama ini makan dengan sangat lahapnya, bahkan terkesan seperti tidak makan selama bertahun-tahun.
"Bisakah kau makan dengan normal," desis Shikamaru karena malu melihat tingkah sahabatnya. Pria penasehat umum kenegaraan ini tampak benar-benar kecewa dengan tingkah Naruto yang tidak sepantasnya sebagai seorang pimpinan.
"Aku tidak tahu," Sasuke menggeleng, "Yang aku tahu hanya sebuah pesan yang menyuruh Hinata untuk menyalakan lilin tersebut." Lanjut Sasuke setelah menceritakan kejanggalan dibalik menghilangnya Hinata.
"Mungkin saja lilin tersebut yang membuat Hinata menghilang. Kau tahu sendirikan sejarah keluarga Hyuuga sebelum akhirnya mereka semua pindah ke pedalaman Desa Getsu," terang Shikamaru.
"Hn. Kaa san ku juga berkata bahwa Hyuuga memiliki benda pusaka yang dijaga turun-temurun dengan nyawa mereka."
"Hiiiyyy. Menyeramkan sekali. Atau jangan-jangan Hinata diambil sebagai tumbal roh penjaga benda pusaka tersebut," Naruto berkata dengan wajah yang menakutkan.
Sebuah siku-siku muncul didahi Sasuke tanda dia sedang kesal. Dengan cepat Shikamaru memukul kepala sahabat bodohnya itu.
"Ittai. Kenapa kau memukulku baka," geram Naruto sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit.
"Aku benar-benar tidak habis pikir Minato jii san menyerahkan kedudukannya padamu," Shikamaru mengambil tusuk gigi dan menyelipkannya dimulut.
"Karena aku pewaris tunggal baka," Naruto semakin geram dengan Shikamaru.
"Aku akan pulang," Sasuke mulai berdiri dan mengambil tas kerjanya.
"Kau yakin tidak ingin mendiskusikannya lagi?" tanya Shikamaru yang juga bersiap-siap untuk pergi.
"Tidak. Jika lilin itu memang membuat Hinata menghilang maka lilin itu juga harus membuatnya kembali." Sasuke segera meninggalkan kedua sahabatnya yang tengah berpandangan tidak mengerti. Walaupun Sasuke sendiri juga tidak tahu caranya.
Tap... tap... tap... Sreeeekkkk
Udara pengap bercampur aroma mawar menusuk indera penciuman Sasuke. Dia memasuki kamar Hinata lagi semenjak beberapa minggu yang lalu dia tinggalkan karena sebuah mimpi aneh. Sasuke meletakkan tas kerjanya diatas ranjang kusam milik Hinata yang spreinya tidak diganti selama berbulan-bulan. Sasuke baru menyadari bahwa tempat ini sangat berdebu.
Sasuke kembali duduk diatas kursi dan menatap lilin maroon yang apinya bergoyang karena pergerakannya. Dia terus menatap lilin dihadapannya. Aroma mawar semakin kuat tercium. Tanpa sadar Sasuke kembali tertidur dihadapan lilin tersebut. Dan butiran-butiran bunga api kembali menghujani tubuh Sasuke.
.
Lagi-lagi Sasuke berada ditempat yang tidak jelas. Sepanjang Sasuke memandang hanya buram yang dapat dilihatnya. Namun samar-samar dia masih bisa melihat. Sepertinya dia berdiri disebuah taman belakang rumah, karena Sasuke dapat melihat sebuah kolam renang tanpa air tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dan kalau tidak salah lihat juga, dia melihat beberapa pohon Sakura berjajar rapi dibelakangnya. Tampak jalan setapak yang dipenuhi tumpukan salju dibawah kakinya.
Taman ini tampak familiar. Sasuke merasa sering berada disini. Angin berhembus perlahan menusuk kulit Sasuke yang hanya berbalut kemeja hitamnya. Kenapa musim digin? Bukankah Sasuke baru saja merayakan Hanami berama Shikamaru dan Naruto?
"Ittai." Sasuke menatap kearah rumah didepannya karena mendengar sebuah teriakan dan bunyi benda terjatuh. Dia segera berlari dan menembus sebuah pintu hingga dia tersungkur dilantai marmer yang dingin.
"Hah!" Sasuke terkejut karena dirinya dapat menembus pintu tanpa membukanya. Namun keterkejutannya berakhir ketika sebuah suara terdengar,
"Nona, biar saya bantu. Lihatlah luka-luka ditanga Nona semakin banyak."
"Tidak perlu Midori san, saya bisa sendiri."
Sasuke segera mendongak. Dua suara berbeda tersebut Sasuke sangat mengenalnya. Dan benar saja, Sasuke mendapati Midori san bekas pelayan di rumahnya dulu. Sasuke menoleh kesisi lain dan mendapati Hinata tengah tersenyum membawa sebuah panci yang dipenuhi coklat dengan jari-jarinya yang diplester.
Sasuke hanya dapat diam mematung. Seakan-akan ada sesuatu yang memaksanya untuk terus melihat perjuangan seorang gadis kelas 4 SD tengah membuat coklat. Beberapa kali Midori menawarkan bantuan namun ditolaknya.
"Coklat ini harus benar-benar buatan Hinata. Karena Hinata ingin memeberikannya pada orang yang Hinata sayangi." Hinata tersenyum dengan tulus. Wajah manisnya membuat Sasuke tanpa sadar memerah.
"Berjuanglah Nona Hinata." Midori menatap majikannya dengan cemas.
"Hai'." Hinata mengangguk sambil menuangkan coklat beraroma mocca kedalam cetakan berbentuk hati berukuran sedang. Sasuke masih berdiri mematung didepan pintu, dia menatap keseriusan Hinata dalam membuat coklat tersebut. Kemudian Hinata menghiasinya dengan krim capuccino dan potongan buah strawberry.
"Selesai." Hinata bersorak riang. Dia menyodorkan sisa coklat kepada Midori untuk dicicipi.
Midori mengernyit dan Hinata tampak sangat khawatir.
"Enak... tapi kenapa tidak manis?" tanya Midori.
"Karena Sasuke nii tidak suka manis." Usai Hinata mengucapkan kalimat tersebut, sekitar Sasuke terasa berputar kepalanya didera rasa pusing yang luar biasa.
Ketika dia merasa keadaan membaik, tempatnya berpijak telah berganti. Kini dihadapannya duduk seorang gadis berkuncir ekor kuda. Gadis itu tengah memeluk sesuatu, bahunya bergetar dan terdengar suara isak tangis yang pelan namun memilukan.
Sasuke menyadari bahwa tempat ini adalah kamarnya. Dan gadis itu pastilah... Sasuke berusaha meraihnya namun, tangannya tidak dapat menyentuh gadis didepannya. Sasuke mulai menyadari sesuatu, dia membuang coklat tidak bertuan yang tergeletak diatas meja belajarnya. Sasuke tidak suka manis dan coklat adalah benda manis. Jadi, tanpa berpikir panjang Sasuke langsung membuang coklat yang dikiranya dari para fans girlnya itu.
"Hinata... maafkan aku. Itu pasti valentine terburukmu," gumam Sasuke. Air matanya meleleh perlahan.
Tiba-tiba Sasuke merasakan pusing luar biasa sakitnya. Sekitar Sasuke kembali berputar-putar. Dihadapannya kini terpampang jelas memori-memori yang tidak perah dia ketahui. Memori kehidupan Hinata dan setiap tingkah laku Hinata yang menunjukkan rasa sayangnya pada Sasuke. Memori tersebut terus berputar dikepala Sasuke, terus berganti-ganti menunjukkan setiap perjuangan Hinata untuk mendapat perhatian Sasuke dan juga tangis Hinata akan perlakuan Sasuke terhadapnya.
Sasuke merasakan dadanya begitu sesak dan sakit. Jantungnya berdetak tidak normal. Ketika cahaya putih bersinar menyelimuti dirinya, Sasuke merasakan dia melewati jalan sempit yang menghimpit tubuhnya dan melemparnya kembali pada kesadarannya.
"HINATA!" Sasuke berteriak sekuat yang bisa dia lakukan ketika kesadarannya kembali. Seluruh tubuhnya tampak basah kuyup oleh keringat. Tulang dan sendinya terasa lemas bahkan untuk berdiri saja Sasuke tidak mampu.
Paru-parunya terasa tidak dapat menampung udara yang masuk. Kepalanya benar pusing dan sangat berat. Beberapa kali Sasuke mngerang kesakitan. Cahaya mentari pagi menembus masuk melalu kaca jendela Hinata yang masih tertutup membuat Sasuke memincingkan sebelah matanya karena silau. Namun, Sasuke merasakan panasnya api dan tiba-tiba saja lilin didepannya berkobar besar membuat Sasuke reflek terjatuh kebelakang. Dan kepalanya menghantam lantai dengan cukup keras.
.
.
TBC
.
.
Gyaaaaaaaaa... jari-jariku keriting.
Ni fic aku ketik dalam semalem looohhh #curcol.
Sebenarnya chap yang ini uda mulai aku garap waktu hari raya, tapi karena kebanyakan job ke rumah temen baru hari selasa kemarin bisa aku lanjutin teruuuusssss pumpung nih ide lagi mengalir deras sederas sungai belakang rumah. Gyahahahahaha.
Oh ya, buat yang review kenapa fic nya sedikit sebenarnya ada dua alasan yang pertama karena pengen bikin penasaran reader dan yang kedua takut kalo ficnya kepanjangan reader jadi bosan bacanya #sedih. Tapi masalahnya reader penasaran gak ya sama fic saya #nyengir.
Menurut saya ceritanya dari chapter ke chapter kok semakin tidak jelas ya, benarkah? *nanya ke reader sambil ngancem. Ha ha ha
Oh iya saya juga mau minta maaf kepada Mr. Kawahara Reki karena SAO yang saya cantumkan disini penciptanya bukan Mr. Kawahara. Saya benar-benar minta maaf. #bungkuk-bungkukin badan. Dari awal saya sudah niat minjem bener-bener minjem dan nanti kalau ficnya sudah selesai saya balikin lagi Mister, tapi Kiritonya saya sandera ya buat jaminan. *digeplak sendal Mr. Kawahara.
Oke dah, cusss ke balesan review... Ihihihihihih...
Hel Hazelnut : Ahayhayhayhay... makasi lho masih suka fic saya. Hehehehe. Btw nih saya kurang tahu kepribadian Mikoto yang lebih jauh dan buat Sasuke dia memang lagi OOC, makanya segala macam warning saya cantumkan, hahahahaha. Wah kalau battle sepertinya saya kurang pede, takut tambah bikin reader kecewa, di chap 4 ini SAO saya cantumkan sebagai game girl, yang ringan-ringan gitu, jadi maaf ya #sedih . Tapi arigatou ya atas dukungan dan reviewnya, ikuti terus fic saya, oke... :)
KumbangBimbang : Pasti ketemu kok, jadi ikutin terus ya fic saya. Arigatou :)
Suka snsd : Tidak kok, tidak di discontinued. Saya kemarin lagi sibuk ngurusin KRS jadi updatenya agak lama. Ah Arigatou kalo gitu, saya merasa tersanjung atas reviewnya. Ikuti terus fic saya ya. :)
Twinsone : Salam kenal juga. Iya saya awalnya juga takut kalu fic saya sepi terus. Tapi berhubung ada yang review saya merasa ada semangat lagi, yeyeyeye. Ah, arigatou atas dukungannya. Ikuti terus fic saya, uukkkeeyyy. :D
Q : Iya ini saya sudah update, kemarin-kemarin sibuk ama KRS. Hehehehe. Saya buat KiriHina karena kemarin waktu nyoba cari" gak ketemu, jadi saya pengen buat adegan KiriHina. Arigatou atas reviewnya dan ikuti terus fic saya ya. :)
Kazumi Haruka : Arigatou atas dukungannya dan uda mau nungguin fic saya. Maaf update lama sibuk KRS soalnya. :D Ikuti terus fic saya ya. ;)
Jun30 : Siiipppplaaahhh. :D Ikuti terus fic saya ya... ;)
See you in the next chapter, friends. :D
Arigatou and Jaaaaa jaaaaa.
Muaaaccchhh muuaaacchhh. #ngakak
