This Present By shclyod_
Jean's Family Terror
.
.
.
Park Chanyeol x Byun Baekhyun
Shounen-Ai
School Life
Mystery/Horror
Oneshot
T
.
.
"They need someone to release their body and soul"
.
.
My First Horror Story
.
.
Manchester City, England
"Aku pulang"
Baekhyun baru saja melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah petang ini. Seharian Ia tak bisa beristirahat barang sejenak, tugas sekolah, persiapan pentas seni, dan juga kegiatan klub. Heol! Baekhyun bahkan baru tujuh bulan menjadi siswa SMA tapi kegiatan disekolahnya lebih membludak daripada pegawai kantoran. Kalau sudah begini pikiran Baekhyun akan merancau kemana-mana seperti ingin cepat-cepat dewasa atau kembali menjadi anak balita yang polos dan tak mengerti apapun.
"Kenapa pulang telat?" ibu Baekhyun datang keruang tamu untuk memberikan buah yang telah Ia kupas di dapur pada anaknya yang terkapar tak berdaya di sofa. Kelelahan.
"Kegiatan klub." Menanggapi sambil mencomot strawberry di piring dengan garpu. Ibu Baekhyun beranjak dari duduknya dan merasa teringat sesuatu Ia pun berbalik ke arah semata wayangnya dan memberikan atensi penuh. Baekhyun yang merasa dipelototi pun menolehkan pandang pada wanita baya itu "Kenapa melihatku begitu? Ada yang salah?" Ibu Baekhyun menggeleng sebagai respon pertama. "Tidak ada. Hanya saja ibu baru mengingatnya kalau tadi siang Park Chanyeol datang membawakan hadiah yang besar untukmu. Jadi kalian benar-benar berkencan? Kau bilang kalian tidak dalam hubungan seperti itu?" Baekhyun menganga mendengar ibunya berbicara. 'Apa yang idiot itu katakan kali ini?'. Seperti membaca pikiran anaknya ibu Baekhyun pun melanjutkan " Tidak apa bila berkencan. Ibu jadi bisa tenang meninggalkanmu pergi ke Vanuatu. Lagipula tiga tahun itu sudah cukup lama jadi tidak apa-apa jika kalian ingin melakukan hal yang menyenangkan berdua." Baekhyun tergagu melihat ibunya menangkup kedua tangan dipipi sambil tersenyum lebar bak gadis yang jatuh cinta. "Jangan bicara aneh-aneh. Chanyeol dan aku tidak terjebak dalam hubungan romansa begitu." Baekhyun bersila sambil memangku piring buah, lanjut menikmati kudapan segar sebelum beranjak untuk membasuh tubuh. Ibu Baekhyun dengan tiba-tiba duduk disampingnya sambil digoyangnya lengan Baekhyun. "Ah, wae? Disini kan tidak sama seperti Korea. Chanyeol bilang kalian sudah tiga tahun menjalin kasih." Baekhyun seketika membuang garpu ditangannya, mengenai piring buah dan membuat ibunya terlonjak kaget. "Chanyeol? Bilang begitu?" Anggukan cepat menjadi jawaban, meletakkan kembali piring dipangkuannya ke meja dengan kasar, menimbulkan suara memekak telinga dan melangkah cepat ke lantai atas. Menuju kamar pribadinya.
'Sialan! Dasar Park idiot'
Baekhyun menutup pintu kayu itu penuh emosi dan meninggalkan bunyi berdebum yang sangat keras, seperti akan meratatanahkan rumah. Atensinya menatap penuh pada kotak panjang seperti peti mati diatas kasurnya, mencoba mendekat dan membuka kotak itu perlahan. Baekhyun terkejut melihat isinya. Didalam kotak persegi panjang itu tertidur sebuah boneka cantik sepanjang lima puluh lima sentimeter, rambut pirang sebahu yang tercurly dan poni menutupi dahi juga mata biru yang cantik. Baekhyun mengangkat boneka itu dari dalam kotak dan meletakannya diatas meja belajar diantara banyak buku yang terjajar rapi, tersenyum sambil memperhatikan boneka itu dengan seksama. Boneka itu menggunakan gaun abu-abu yang jatuh menjuntai hingga sebatas lutut dan sepatu merah dengan aksen pita diatasnya, terlihat seperti putri bangsawan "Diam disini! Aku akan memberi Park itu pelajaran terlebih dahulu." Baekhyun menunjuk boneka itu memperingati lalu beralih duduk bersandar diatas ranjangnya sambil melakukan sambungan kepada Park terhormat yang sayangnya idiot itu. Setelah nada tunggu ke tiga, suara bass yang seksi menyapa pendengaran si mungil.
"Hai Bee. Apa kau sudah merindukanku?" Baekhyun memutar mata jengah dan memakukan tatapan pada boneka yang baru didapatnya. "Park idiot apa-apaan dengan boneka itu? Aku lelaki kalau kau lupa." Mendengar kekehan menjengkelkan dari seberang telepon, Baekhyun mendengus keras dan suara itu terhenti seketika. "Kau tak suka? Aku mendapatkannya dari toko barang antik saat menemani ayahku kesana kemarin. Aku pikir itu cantik sepertimu jadi aku membeli dan menghadiahkannya untukmu." Suara sendu diseberang sana mau tak mau membuat hati Baekhyun merasa sedikit bersalah, "Apa kau pikir aku anak perempuan. Dasar idiot."
"Ya aku memang tampan. Terima kasih." Dan kekehan menjengkelkan itu datang lagi membuat telinga Baekhyun seakan berlubang sampai ke otak belakang. Si idiot menyebalkan
"Idiot Park Chan'JERK' yeol." Umpat Baekhyun dengan menekan kata 'jerk' didalamnya membuat orang disebrang semakin keras tertawa, dan balasan darinya membuat Baekhyun mematikan sambungan cepat dan melemparkan ponselnya ke sisi ranjang dengan pipi merona. 'Dia benar-benar idiot gila.'
"Yeah, love you too. Always."
.
.
Chanyeol dan Baekhyun adalah murni sahabat. Mereka bertemu di Junior High School tiga tahun yang lalu. Chanyeol menolong Baekhyun saat lelaki mungil itu hampir kecopetan di belakang sekolah. Chanyeol lebih tua dua tahun dari Baekhyun tetapi mereka tak ambil pusing dengan usia dan sebutan untuk satu sama lain. Chanyeol selalu perduli pada Baekhyun, lelaki tinggi bersurai abu itu selalu berada di samping si mungil dan selalu membelanya seakan tak perduli pada kepopulerannya di sekolah. Chanyeol lelaki asia yang sangat tampan, demi Tuhan. Tidak mungkin tak ada seorangpun yang bertekuk lutut padanya. Chanyeol dan Baekhyun adalah murni sahabat. Tapi sekarang, mungkin tidak lagi.
.
.
"Hei, bagaimana aku harus menyebutmu. Emm, Vanessa? Itu nama yang indah. Bagaimana?"
Rutinitas Byun junior seakan berubah semenjak boneka itu datang, setiap pagi Ia akan berbincang pada bonekanya menanyakan hal yang sama, nama yang cantik untuk boneka cantiknya. Pemberian Chanyeolnya.
"Kau tak menyukainya ya?" Baekhyun memberengutkan wajahnya karena tak mendapatkan respon. Ia mengelus rambut boneka itu sambil tersenyum lembut karena harus segera berangkat ke sekolah dan mengatakan akan kembali dari sekolah dengan cepat juga membawa nama yang lebih baik.
"Annabelle? Lucinda? Lauren?" Baekhyun duduk makan siang di kursi kantin, menikmati roti isinya sambil mendengarkan gadis blasteran korea-amerika dihadapannya yang sedang menyarankan nama untuk bonekanya karena Baekhyun mengatakan boneka itu sudah tak bernama selama tiga hari
"JUDY!" Mereka serempak meneriakan nama itu dan saling melempar tawa. Ya Judy, nama yang cantik untuk boneka cantiknya. Gadis blasteran itu tiba-tiba mengubah topik pembicaraan mereka
"Jangan lupa datang. Hari ini kita ada kegiatan klub." Baekhyun mendesah lelah, dan memasang wajah memelas juga sedikit aegyo. "Aku ada kencan, tak bisakah aku off?" Gadis dihadapan Baekhyun tiba-tiba antusias dan beralih duduk ke samping Baekhyun, membuat lelaki pinkish itu terkejut. "Apa kau berkencan dengan lelaki asia dari sekolah sebelah itu?" tanyanya penasaran dan Baekhyun menatap bingung. "Lelaki asia? Ya. Ah, apa-? tidak. Maksudku tidak! Janice please!" Janice-gadis blasteran itu- menatap Baekhyun dengan senyum aneh dan mengabaikan Baekhyun yang memanggil namanya, berkata bahwa Ia telah salah bicara.
.
.
Chanyeol baru keluar dari sekolahnya bersama Sehun dan lelaki rusia, Ammar. Tak sengaja menatap kearah gerbang dan melihat punggung sempit yang dikenalnya jadi Ia dengan cepat melambai pada kedua temannya dan pergi ke arah lelaki mungil itu. Menyisakan tiga langkah, Chanyeol tiba-tiba menjadi ragu dan mungkin Ia salah orang, jadi Ia berinisiatif berpura-pura berjalan lurus dihadapan sosok mungil itu sampai suara yang tak asing menghentikan langkahnya. "Yak! Idiot. Apa sekarang kau buta?" Chanyeol menoleh dengan senyum lebar yang terlihat bodoh dimata Baekhyun, merangkul bahu mungilnya sambil mengacak rambut dengan warna mencolok tetapi tetap kalem itu. "Ah Baekhyun! Aku pikir kau anak perempuan tadi." Chanyeol mengejek, menahan tawa melihat wajah kesal Baekhyun. Mengaduh kesakitan karena Baekhyun menginjak kakinya dengan tiba-tiba lalu pergi begitu saja meninggalkannya tanpa belas kasih.
Dan disinilah mereka sekarang, sebagai permintaan maaf Chanyeol akhirnya mentraktir pizza kesukaan lelaki pinkish itu.
"Masih segar dalam ingatanku bahwa kau mengatakan kau lelaki dan bukan gadis perempuan. Tetapi warna di kepalamu itu seperti kau sedang mengejek perkataanmu sendiri, kau tahu?" buka Chanyeol sambil menyuapkan pizza kedua dalam rongga mulutnya. Baekhyun menghela napas lelah "Ini karena Janice. Dia membeli pewarna ini tetapi takut warnanya tak cocok dengan warna kulitnya. Makanya Ia menggunakanku sebagai kelinci percobaan." Chanyeol berdehem sebentar sebelum mengutarakan isi kepalanya. "Maaf Baek. Janice memiliki warna kulit yang sama denganmu, ngomong-ngomong." Dan Baekhyun mendesah lagi dan dengan kasih sayang berlebih Ia menginjak pergelangan kaki si jangkung hingga sang korban mengeluarkan erangan yang menggelegar bak singa. "Sorry tampan. My fault." Jawab Baekhyun kalem sambil menjulurkan tangan ke surai abu dan mengelusnya lembut.
"Chanyeol, aku sudah memberi nama boneka itu. Judy, bagaimana?" yang ditanya tak merespon dan hanya menyerngit bingung. "Kenapa?"
"Bukankah namanya memang Judy? Kakek penjaga toko itu bilang Judy Van Jean. Nama itu terletak di belakang lehernya. Kalau tidak salah."
.
.
Baekhyun menaiki tangga sambil membolak-balikkan karangan bunga mawar merah ditangannya berpikir mungkin saja itu kiriman dari ibunya yang mungkin juga sudah tiba di Vanuatu. 'Ah, apa-apaan ini. Tidak sayang anak sekali.' Baekhyun berpikir pasti ibunya senang sekali hanya berduaan dengan ayah tanpa dirinya, serasa kembali kemasa muda. Kekanakan dan tidak ingat umur sekali.
Baekhyun meletakan mawar itu di meja belajarnya tak menyadari ada kelopak bunga yang gugur dan menggores telapak tangan bagian atasnya. Baekhyun beralih mengelus bonekanya dan membalikan badan boneka itu, menyisihkan rambutnya untuk mengecek apa yang dikatakan Chanyeol. Dan itu benar, terdapat tulisan tebal nama lengkap boneka ini di belakang lehernya. Judy Van Jean.
Baekhyun mendudukan Judy kembali seperti semula dengan hati-hati ketempatnya.
"Oh! Sejak kapan ini-" mata Baekhyun menyipit memperhatikan bercak yang ada di dress abu-abu Judy dan melihat telapak tangannya yang tergores dan mengeluarkan sedikit darah segar. "Kenapa ini bisa berdarah? Aku bahkan tak menyentuh durinya." Baekhyun menutup lukanya dengan tangan agar darahnya tak tercecer, berjalan ke lantai bawah untuk mengambil plester di kotak p3k meninggalkan Judy yang tergeletak begitu saja di lantai.
Malam menyingsing, tetapi Baekhyun tidak bisa tertidur dan ini mulai larut, jam menunjukan pukul setengah satu malam. Mencoba untuk tidur, Baekhyun memejamkan mata dengan headshet menyumpal pada telinga. Hening terasa dan Baekhyun mulai masuk ke alam mimpinya. Tetapi sepertinya mimpi yang didapat Baekhyun malam ini tidak terlalu bagus. Lelaki itu bermimpi berada di dalam hutan pengap yang gelap dan gadis kecil berlari-larian di balik menjulangnya pohon yang besar. Mencoba bangkit dengan susah payah dan menghampiri gadis itu "hey apa yang kau lakukan disini?" Baekhyun berjongkok dihadapan gadis itu, ditangannya terdapat setangkai mawar, menatap Baekhyun dengan intens dan tiba-tiba matanya memerah dan mawar ditangannya berubah menjadi celurit mini, gadis itu mengarahkan celuritnya menggorok leher mulus Baekhyun. Ini terlalu cepat bagi lelaki mungil itu untuk menyadarinya. Baekhyun melotot dan tersungkur ke tanah. Darah berceceran dan napas Baekhyun mendadak tak teratur, Ia memandang gadis itu dengan mata mengabur. Dan teriakan itu menggema, menggoyangkan dahan-dahan rindang di pohon besar itu.
"KAU HARUS MEMBANGKITKAN KELUARGAKU BYUN BAEKHYUN!"
Baekhyun bangun dengan terengah dan keringat yang membanjiri baju hingga sepreinya. Matanya langsung beradu pandang dengan boneka pemberian Chanyeol dan bulu kuduknya seketika merinding. Mencoba untuk tak berprasangka buruk, Ia pun menuju kamar mandi untuk membasuh wajah dan tubuhnya.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka saat Baekhyun berganti pakaian, itu Chanyeol. "Yak! Keluar!" Chanyeol buru-buru menutup pintu dengan cepat dan memutuskan menunggu Baekhyun di ruang tamu. Menonton televisi dengan siaran semut berjalan yang mendominasi hampir seluruh salurantelevisi Baekhyun.
"Bagaimana kau bisa masuk?" Chanyeol mematikan layar persegi itu saat melihat Baekhyun turun. "Aku pikir, aku tak pernah memberi kunci cadangan padamu?" Baekhyun menatap curiga pada Chanyeol dan Chanyeol mencoba membela diri "Jangan menatapku seperti maling begitu. Menurutmu siapa? Tentu saja ibumu." Baekhyun terkejut mendengar penuturan Chanyeol dan seketika terkekeh "Maaf tampan. Tapi ibuku sudah pergi ke Vanuatu dua hari yang lalu. Jangan menampik." Chanyeol tetap mengelak dan membuat Baekhyun berpikir ulang mengenai perkataan lelaki itu. "Coba saja periksa jendelamu yang terpasang tralis itu. Bagaimana tubuh tinggi yang tak masuk akal ini bisa masuk kalau jalan satu-satunya hanya melalui pintu depan."
.
.
Tiga hari telah berlalu dan ditidurnya Baekhyun tetap memimpikan hal yang sama. Otaknya selalu mengatakan bahwa itu Judy. Gadis kecil dibawah pohon besar itu, Ia memang merasa tak asing tapi juga tak mau berburuk sangka. Jadi hari ini lelaki mungil itu memutuskan untuk pura-pura tertidur, Ia ingin melihat apa penyebab Ia selalu mimpi buruk dan memastikan apa yang Ia pikirkan benar atau tidak. Karena demi apapun mimpi itu terasa sangat nyata, apalagi teriakan gadis kecil itu. Juga keanehan yang terjadi setelah ibunya pergi. Bunyi dentingan jam dinding diruang tamu membuat Baekhyun berjengit karena suara itu mendominasi seluruh rumah besar yang Ia huni seorang diri.
Baekhyun hampir saja jatuh tertidur saat Ia mendengar suara langkah kaki berderap di dalam kamarnya, makin lama makin terasa dan mendekat kearahnya. Hawa dingin tiba-tiba mendominasi seluruh ruangan itu, Baekhyun bergetar dan keringat dingin keluar dari pori-pori tubuhnya saat melihat sepatu merah yang dikenalnya berada di kaki sebuah boneka kini berjalan mendekat kearah ranjangnya.
"Kau tidak tertidur." Baekhyun tak menyadari bahwa sedari tadi Ia membuka matanya lebar-lebar dan melihat dengan jelas tanpa menutup sedikitpun belah matanya. Judy tersenyum kecil dan menunjuk wajah Baekhyun dengan setangkai mawar di tangannya. Baekhyun melotot, melemparkan selimutnya kearah Judy dan selimut itu berhasil menutupi seluruh tubuh gadis itu, Baekhyun berlari keluar dengan tergesa-gesa turun ke lantai bawah dan meraih telepon rumah, menelpon nomor Chanyeol yang sudah Ia hapal di luar kepala. "Chanyeol tolong angkat! Chanyeol please!" Baekhyun mengetuk-ngetuk ujung telepon sambil menoleh ke arah tangga dan sekeliling rumahnya yang temaram dengan gelisah. Lelaki mungil itu berantakan, badannya dipenuhi peluh dan wajahnya memerah menahan tangis. Menggigiti kuku jarinya cemas menanti Chanyeol mengangkat panggilannya. "Halo Baek." Suara serak disebrang telepon menyapa indera Baekhyun "Chanyeol tolong." Suara lirih Baekhyun membuat Chanyeol terkesiap dan bangkit dari tidurnya "Baek-"
TUT TUT TUT
Dan telepon terputus. Chanyeol semakin panik, Ia menyambar jaketnya dan langsung melesat menuju rumah Baekhyun dengan motor sportnya.
Baekhyun mematikan sambungan teleponnya saat melihat Judy melangkah turun, Ia berlari menuju pintu keluar secepat yang kaki mungilnya bisa dan kakinya menendang sesuatu saat menuruni undakan tangga di depan rumahnya. Baekhyun memungutnya, boneka itu sama seperti Judy namun berjenis kelamin laki-laki dan Baekhyun membaliknya untuk melihat nama yang tertulis di leher boneka itu. Rezovka Van Jean
Baekhyun melemparkan boneka itu ke tanah sambil berteriak histeris dan memundurkan langkahnya menuju gerbang rumah karena Judy sudah sampai di muka pintu. "Itu kakakku. Beri dia darahmu Baekhyun." Baekhyun menggeleng keras mendengar titah itu. "Hanya setetes dan kau akan baik-baik saja. Kau harus membangkitkan seluruh keluargaku Baekhyun." Judy melangkah mendekati Baekhyun dengan setangkai mawar ditangannya. Baekhyun berlari ke arah gerbang rumah dan mencoba membuka kunci grendelnya dengan panik, saat menoleh kearah Judy Ia melihat mawar itu melayang cepat menuju kearahnya dan berubah menjadi celurit mini yang pernah Ia lihat di mimpinya. Baekhyun refleks berjongkok dengan teriakan yang keluar dari bibir tipisnya, tangannya tergenggam erat pada besi gerbang dan menutup mata tak kalah eratnya.
Chanyeol turun dengan terburu-buru dari motornya melihat Baekhyun berjongkok di gerbang rumah, menggoyangkan telapak tangan Baekhyun agar membuka mata. "Chanyeol!" Baekhyun berteriak dan membuka kunci gerbangnya terburu-buru, memeluk tubuh tinggi Chanyeol dengan eratnya. Chanyeol mengelus surai pinkish itu dan menatap tak percaya, di tempatnya berdiri Ia melihat setangkai mawar tak jauh dari itu ada boneka Judy yang tergeletak di tanah dan pintu rumah Baekhyun yang menganga juga sebuah boneka lain di undakan tangga. Berantakan, sama seperti keadaan pemilik rumahnya sekarang. Chanyeol melepas pelukan erat Baekhyun dengan lembut, mencoba melangkah masuk "Tidak! Jangan kesana Chanyeol." Chanyeol melepas genggaman tangan Baekhyun, mencoba melangkah masuk menuju pintu, menguncinya dan memungut boneka laki-laki yang tergeletak untuk melihat kebelakang lehernya. "Rezovka?"
Baekhyun menggeleng keras saat Chanyeol keluar dari halaman rumahnya membawa serta boneka kakak Judy "Tidak Chanyeol! Boneka-boneka itu semua terkutuk. Mereka bisa berubah menjadi manusia." Chanyeol tersenyum dan mengelus surai pinkish itu lembut. "Kalau begitu aku akan menampungnya dirumahku."
Baekhyun merebut boneka itu dan membuangnya masuk ke halaman, terlempar menabrak tubuh boneka Judy. Baekhyun menarik lengan Chanyeol menjauh. "Ayo pergi Chanyeol."
"Bagaimana jika mereka hidup seperti katamu dan berkeliaran keluar? Ayo bawa mereka. Setelah pagi datang kita pergi ke toko barang antik itu untuk bertanya." Baekhyun ragu pada awalnya tetapi Chanyeol memberinya pengertian bahwa tidak akan terjadi apapun Jadi Ia mau tak mau mengangguk menyetujuinya, membawa kedua boneka itu kerumah Chanyeol.
.
.
Mereka tiba dirumah Chanyeol pukul tiga dini hari. Chanyeol mencari kotak besar di dapurnya untuk menampung dua bersaudara Van Jean agar tidak berkeliaran dan menakuti Baekhyun lagi. Setelah menemukan satu yang dirasa cukup muat, Chanyeol melangkahkan kakinya ke ruang tamu dan mendekati Baekhyun yang sudah siap dengan cutter dan lakban ditangannya. Chanyeol dengan hati-hati memasukan dua boneka itu kedalam kotak dan mengulurkan tangan untuk meminta potongan lakban kepada Baekhyun.
"Akhh!" Chanyeol mendekatkan tangan Baekhyun kearahnya karena mereka duduk berhadapan dan terhalang oleh kotak boneka. "Bagaimana bisa kau malah memotong jarimu sendiri?" Chanyeol menggerutu dan tak sengaja menekan jari Baekhyun, membuat beberapa tetes darah jatuh mengenai mata boneka Rezovka yang langsung terhisap ke dalam mata birunya.
Chanyeol dengan gentle mengarahkan jari Baekhyun menuju rongga mulutnya
"Yeol, jangan sampai darahku menetes." Baekhyun khawatir dan terus memerhatikan kedua boneka itu dengan cermat. Takut kalau darahnya sempat jatuh ke arah si boneka. "Selesai. Sekarang pergilah tidur dikamarku. Aku yang akan menyelesaikan ini." Baekhyun mengangguk dan melangkahkan kakinya menuju kamar Chanyeol.
.
.
Baekhyun terbangun di sebuah padang gersang yang gelap gulita dan pengap. Kakinya Ia paksakan untuk berdiri mencari jalan keluar, berjalan lurus sambil menoleh kekanan dan kekiri. Tempat ini tak berujung, Baekhyun ketakutan. Keringat membasahi tubuh dan Ia lelah berjalan tetapi matanya menangkap cahaya terang di ujung sana, Ia memutuskan berjalan sedikit lagi. Dan seperti oasis di tengah padang pasir Baekhyun melihat sebuah cincin bermatakan ruby tergeletak di pasir itu. Saat Baekhyun akan mengulurkan tangan mengambilnya cahaya dari ruby itu bersinar dan seolah ingin membutakan matanya.
Baekhyun menoleh saat cahaya itu mereda dan memelototkan matanya, dihadapannya seorang pemuda yang terlihat berusia sama dengannya menatap kedalam matanya tajam. Ia mengenakan kemeja putih yang tertutup jas hitam seperti jubah yang panjangnya menutupi lutut, celana kain hitam dan sepatu fantofel seperti putra bangsawan eropa. Baekhyun terkesiap "Rezovka?"ucapan lirih Baekhyun membuat sebelah bibir pemuda itu terangkat. "Senang berkenalan denganmu, Bee. Bangkitkan ibuku Baekhyun dan penderitaanmu akan berakhir." Rezovka memutar cincin ruby di ujung jarinya dan mengarahkannya pada Baekhyun. Lelaki mungil itu beringsut mundur saat cincin itu berubah menjadi pedang yang hampir saja menusuk matanya. "Kalau tidak, aku akan menancapkan pedang ini ke lehermu, Byun Baekhyun." Rezovka berucap tajam, mata birunya memerah dan tersenyum jahat.
"Hah!"
"Hah!"
Baekhyun bangun dengan terengah seperti habis lari marathon. Keringat membasahi seluruh baju yang dikenakannya. Ia bangkit berdiri untuk mencari keberadaan Chanyeol, melangkahkan kakinya keluar kamar.
"Selamat pagi Bee." Chanyeol berucap ceria saat melihat Baekhyun menapakkan kaki di dapur, menuntun si pinkish untuk duduk di meja makan. Omelete dihadapannya menggugah napsu makan si mungil setelah lari marathonnya di dalam mimpi
"Habiskan sarapanmu lalu mandi. Kita akan ke toko barang antik itu."
Baekhyun mengangguk pelan dan memakan sarapannya dengan anggun.
.
.
Sherlock Homme
Close
Chanyeol menatap tak percaya kearah papan di depan pintu kaca itu dengan kotak berisi dua boneka ditangannya, bagaimana bisa kakek itu menutup tokonya disaat seperti ini, bagaimana jika Baekhyun diganggu keluarga Jean itu lagi.
Baekhyun memperhatikan bangunan kuno itu dan matanya tak sengaja menatap gadis muda yang duduk di pinggir toko. Baekhyun menarik ujung baju Chanyeol dan berbisik "Apa dia cucu kakek itu Chanyeol?" Chanyeol menggeleng dan mengatakan gadis itu sudah gila karena pacarnya meninggalkannya.
"Kemana?"
"Surga." Jawaban singkat Chanyeol membuat Baekhyun terperangah dan menatap prihatin gadis itu.
Saat melangkah melewati gadis itu, Baekhyun tiba-tiba membeku mendengar suara lirihnya. "Kau akan bertemu Betsy, Bee."
Chanyeol dan Baekhyun menoleh kearah gadis itu. Rambutnya kusam dan berantakan, gaun tidur yang lusuh dan kotor serta tubuh yang tak terawat. Ia memilin-milin ujung rambutnya sambil menggoyangkan tubuhnya kekanan dan kiri. "Jangan hiraukan dia. Ayo pulang." Chanyeol mendorong bahu Baekhyun untuk melangkah pergi bersamanya tetapi gadis itu langsung bangkit berdiri dan menghadang jalan mereka. "Kau harus membangkitkannya." Gadis itu berucap lirih sambil melangkah pelan kearah Baekhyun yang mengkeret ketakutan dipelukan Chanyeol. "Kalau tidak kau mati, hahahaha" gadis itu tertawa keras dan berjalan perlahan melewati keduanya. "Kau tidak perlu mendengarnya. Ayo pulang."
Keesokan paginya, Baekhyun terbangun dengan mimpi yang sama, padang pasir, cincin ruby dan pemuda itu terus berputar-putar di kepalanya. Setelah siap untuk kesekolah Ia melangkahkan kaki ke arah dapur dan tak menemukan Chanyeol disana. Tenggorokan yang kering membuat Baekhyun menuang air kedalam gelas dan menegak isinya. Baekhyun melihat kearah gelas ditangannya dan gelas itu pun jatuh menghantam muka lantai, berjengit mundur Baekhyun menemukan gelas itu masih berada di tangannya jadi Ia meletakan gelas itu ke meja konter, tetapi gelas itu tiba-tiba meluncur jatuh dan pecah berserakan. Ditengah kebingungannya Baekhyun menemukan gelas itu berada ditangannya lagi saat Baekhyun ingin meletakan gelas itu ke meja konter gelas itupun terjatuh lagi, berulang dan membuatnya pusing. Kejadian itu baru berhenti saat Baekhyun mendengar suara gaduh diruang tamu berjalan pelan dan Baekhyun menemukan gadis kecil berbaju merah muda ditengah ruangan sedang membelakanginya. "Kakak ketemu. Sekarang kakak yang harus jaga." Kepala-hanya kepala gadis itu memutar memperlihatkan wajah hancur dan bibirnya yang tak berkulit hanya tengkorak kepada Baekhyun. "Berhitunglah satu sampai sepuluh."
"AAAAAAAH!" Baekhyun berlari dan bersembunyi dibelakang pintu kamar Chanyeol sambil terengah. Kaus yang dipakainya serasa ditarik oleh seseorang dan Ia pun menoleh "Giliran kakak yang jaga. Kenapa malah bersembunyi disini?"
Baekhyun manyambar tasnya kasar dan pergi keluar rumah sambil berlari ketakutan.
"Oke aku tutup." Baekhyun menghela napas setelah sambungan berakhir. Chanyeol ternyata pergi kesekolah pagi-pagi sekali dan sengaja tak membangunkannya karena Baekhyun terlihat kelelahan. Baekhyun mengalihkan atensinya kehadapan pria bule dihadapannya yang menghalangi jalan Baekhyun untuk menuju kelas.
"Bisakah kau melepaskan kacamata hitam ini?" Lelaki itu menganggukan kepala, mengisyaratkan tentang kacamata yang bertengger manis di hidungnya. Dikedua tangan lelaki itu memegang setumpuk buku tebal jadi mau tak mau Baekhyun mengulurkan tangannya untuk melepas kacamata itu. Baekhyun kaget melihat pemuda itu, Ia tak memiliki mata. Bolong. "Kembalikan mataku!" Baekhyun melangkah mundur saat pemuda itu menaikan kedua tangannya untuk meraih Baekhyun "Kembalikan sinar mataku!" Baekhyun berbalik dan berlari kencang ke arah kantin.
Brukk!
Baekhyun menoleh kebelakang dan tak menemukan apa apa disana, lelaki tak memiliki mata itu hilang. Baekhyun menoleh kearah Janice dan meminta maaf karena menabrak gadis itu. Setelah kejadian aneh yang Ia alami Baekhyun jadi berpikir ulang, apa darahnya waktu itu benar-benar tak mengenai tubuh Rezovka.
.
.
Siang sepulang dari sekolah, Chanyeol pergi ke toko barang antik itu seorang diri karena Baekhyun harus pergi ke klub bahasa inggrisnya.
Lonceng diatas pintu berbunyi dan kakek tua itu menoleh kepada pengunjungnya. "Apa yang kau cari anak muda?" Chanyeol meletakan kotak itu di meja dan memperlihatkan isinya kepada kakek pemilik yang tiba-tiba menjadi terkejut. "Apa boneka ini benar-benar memiliki kutukan?"
Kakek itu tak menjawab pertanyaan Chanyeol dan berjalan pelan kearah rak buku. Setelah menemukannya Ia kembali kepada Chanyeol dengan buku berwarna merah darah yang usang dan memberikan kepada Chanyeol untuk membacanya. Chanyeol yang masih bingung mendudukan diri dan membuka buku itu perlahan.
Witch Doll
Adalah empat boneka yang disiapkan oleh Sir Leon Worthman di abad ke 17 untuk mengurung satu keluarga penyihir yang meresahkan warga Britania Raya pada saat itu, Van Jean. Worthman memberikan kutukan pada setiap boneka agar tidak ada yang berani untuk membangkitkan keluarga penyihir itu. Kutukan bagi siapa saja yang telah membangkitkan mereka adalah kematian. Mereka bisa bangkit kembali dengan menerima setetes darah dari pemilik boneka tersebut. Ini adalah foto dari anggota keluarga Van Jean :
Sir Hadden Van Jean 47 Th
Kepala Keluarga Van Jean
Madam Rheanna Van Jean 39 Th
Istri Hadden
Rezovka Van Jean 18 Th
Putra sulung Keluarga Van Jean
Judy Van Jean 8 Th
Putri bungsu Keluarga Van Jean
Karena dianggap berbahaya bagi masyarakat sekitar akhirnya boneka keluarga Van Jean diamankan dalam kotak kaca di dalam museum Ashmolean, Oxford. Agar tak akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan.
Chanyeol menutup buku itu sambil menggelengkan kepala tak percaya. Atensinya berpindah pada kakek tua yang sedang mengelap guci dan berkata "Apa ini sungguhan?"
"Buktinya temanmu sedang dalam bahaya karena telah membangkitkan mereka." Chanyeol terperangah karena kata-kata kakek itu. Kakek itu meletakkan guci dan melangkah kearah Chanyeol, mendudukan diri dihadapan sang Asia. "Kemarin aku menutup toko dan pergi ke gereja membawa buku itu. Dan pastur disana berkata bahwa ya, isi dari buku ini benar. Anak pastur itu pernah mencoba membangkitkannya, Ia mulai bertingkah aneh, berhalusinasi dan akhirnya merenggang nyawa sebulan kemudian." Chanyeol tiba-tiba merasa takut setelah apa yang Baekhyun alami dan mendengar pernyataan dari sang kakek. Mengucapkan terima kasih Ia pun melangkah keluar dan meninggalkan boneka itu disana.
"Dia akan bertemu betsy sebentar lagi hahaha"
Chanyeol menoleh kearah gadis itu dan menggenggam kedua bahunya erat "Kau mengetahui sesuatu?" gadis itu menatap Chanyeol tajam "Aku sudah bilang dia akan bertemu betsy." Chanyeol bingung dikeluarga Van Jean tak ada yang bernama betsy. "Siapa betsy ini? Gadis itu mengarahkan telunjuknya kearah wajah lusuhnya "Aku? Hahaha"
Chanyeol melepas bahu itu kasar dan melangkah pergi meninggalkan gadis yang masih terkikik geli itu, merutuk kesal pada kebodohannya. 'Dia hanya gadis gila Chanyeol, demi Tuhan'
.
.
Ashmolean Museum of Art and Archaeology, Oxford, England
Lelaki bersurai idem itu mengacak rambutnya kasar, Darren Lui. Ia adalah petugas kepolisian terpandang di Oxford tapi karena kasus ini Ia menjadi sangat frustasi. "Apa benar benar tak ada yang masuk kesini?"
Ia dan pengelola museum sedang berdiri dihadapan patung kaca besar yang hanya terisi satu boneka. "Bagaimana bisa dalam dua bulan tiga boneka keluarga Jean hilang tanpa ada yang tahu pencurinya?"
Dua bulan yang lalu terjadi pencurian arca kuno di museum ini dan boneka putri bungsu keluarga Jean juga ikut menghilang. Polisi belum menemukan siapa pencurinya. Dan awal bulan ini boneka kakaknya pun ikut menghilang secara misterius, tak ada yang mengetahui, CCTV pun. Tak tertangkap sosok manusia yang berdiri di hadapan lemari kaca ini, bonekanya lenyap begitu saja. Sekarang kejadian itu terulang lagi, boneka Madam Rheanna juga menghilang seperti kedua boneka yang lain.
Dua orang berseragam sama seperti Darren datang dan memberi hormat sebelum bicara "Kami menemukannya pak. Boneka si bungsu ada di Manchester di sebuah toko barang antik" Lelaki itu menunjukkan sebuah foto boneka dan alamat dari toko tersebut. Darren mengangguk "Ayo bergegas kesana."
Dan disinilah mereka, setelah menempuh perjalanan panjang mereka berdiri di hadapan bangunan kuno Sherlock Homme.
Darren memimpin jalan dan masuk terlebih dulu, menyalami kakek tua si pemilik sambil menunjukan sebuah foto. "Ah, boneka ini tergeletak di depan tokoku sekitar pertengahan bulan lalu. Ini" kakek itu menyerahkan sebuah kotak kepada Darren dan saat Ia mengintip, ya itu si sulung dan si bungsu Van Jean. "Tapi kami kehilangan tiga boneka" kakek itu terkejut dan gumaman kakek itu lebih mengejutkan Darren dan kedua temannya "Apa boneka itu sudah dibangkitkan lagi?"
Kakek itu berkata seorang pemuda asia membeli boneka itu untuk kekasihnya tetapi kejadian aneh selalu menimpa kekasihnya itu jadi Ia mengembalikan boneka itu ke toko. Darren berinisiatif meminta alamat si lelaki asia tetapi kakek itu malah menuliskan nama sekolah dan Richard Park disebuah kertas kecil, menyimpulkan bahwa kakek itu tak memiliki alamatnya.
.
.
Chanyeol bingung saat Ammar datang dan berkata bahwa polisi dari Oxford datang mencarinya. Disana tiga orang berseragam polisi bangkit dari duduknya saat melihat Chanyeol datang. "Richard Park?"
"Yeah"
"Kau memiliki boneka Madam Rheanna?" tembak Darren yang membuat Chanyeol bingung.
"Madam apa?"
"Dua boneka yang kau kembalikan ke toko barang antik itu dari museum kami. Kami kehilangan tiga boneka." Chanyeol terkejut dan hanya mengingat satu nama di kepalanya.
"Baekhyun."
Hari sudah petang, Baekhyun berjalan pelan menuju rumah Chanyeol, saat akan menyeberang Ia melihat kucing ditengah jalan yang kesulitan berjalan. Melihat kekanan dan kiri untuk memastikan bahwa tak ada kendaraan yang lewat Baekhyun menghampiri kucing itu untuk membawanya ke tepi, tetapi kucing itu tak bergerak Baekhyun kesulitan mengangkatnya seolah kucing itu menempel pada aspal. Dan yang terakhir Ia ingat hanya tubuhnya yang ditabrak oleh besi dingin hingga terpental ke bahu jalan. Dengan boneka wanita dipelukannya, wajah dan baju boneka itu berlumuran darah yang keluar dari tubuh Baekhyun.
Chanyeol berlari kencang kedalam rumah sakit dan berhenti didepan unit gawat darurat sambil terengah. "Keluarga pasien?" seorang perawat datang menghampirinya dan mengajak untuk ke ruang administrasi.
Chanyeol sudah akan keluar setelah urusannya selesai tetapi perawat itu menahannya dan memberikan sebuah boneka yang katanya dipeluk oleh Baekhyun saat kecelakaan itu terjadi. Boneka wanita berambut hitam yang disanggul dengan gaun berkerah tinggi dan sepatu High Heels. "Madam Rheanna?"
Chanyeol berlari ke luar dari rumah sakit dan menuju toko barang antik dengan ponsel di tangannya. "Pak, aku sudah menemukan boneka Madam Rheanna. Ayo bertemu di Sherlock Homme." Dan setelah panggilan terputus Chanyeol mempercepat larinya. Ia harus menyelamatkan Baekhyun.
Baekhyun duduk di kursi taman sambil tersenyum bahagia. Ia memegang sebuah sisir berwarna emas dan menyisir rambut pinkishnya. Dan sisir itu tiba-tiba terjatuh, saat Baekhyun ingin mengambilnya sisir itu tak ada dan berganti menjadi boneka barbie dengan rambut panjang yang lurus. Saat Baekhyun kembali ke posisi duduknya, disebelahnya ada seorang wanita dengan rambut sanggulan dan gaun merah yang kerahnya tinggi menutupi leher. Wanita itu menolehkan kepalanya dengan gerakan patah-patah dan membisikan sesuatu kearah Baekhyun sebelum mencekik leher lelaki mungil itu.
"Kembalikan betsy ku!"
.
.
Chanyeol memasukan boneka wanita itu kedalam kotak bersama si sulung dan si bungsu dan menutupnya rapat. Mereka disana sedang menunggu kedatangan pastur yang diceritakan kakek pemilik itu. Selang lima belas menit, pastur itu pun datang, mereka menaiki mobil Darren dan bergegas ke rumah sakit untuk menolong Baekhyun.
Sesampainya disana mereka semua terkejut. Pasalnya, Baekhyun berdiri dihadapan mereka dengan sisir emas ditangannya dan mata memerah "Itu betsy." Pastur itu menunjuk sisir di genggaman Baekhyun. Merapalkan doa doa, Ia memberikan kalung salib dan menyuruh Chanyeol untuk mengalungkannya di leher Baekhyun.
Chanyeol kepayahan karena Baekhyun terus menerus memberontak dan saat salib itu terkalung Chanyeol terlempar ke sisi ruangan karena tangan Baekhyun menghempaskannya. Chanyeol memandang takut kearah Baekhyun yang melotot dan meronta-ronta saat Pastur itu melemparkan sesuatu seperti serbuk kearah lelaki pinkish itu yang Chanyeol yakini mungkin garam.
Setelah setengah jam keadaan mulai tenang, Chanyeol meletakan Baekhyun yang tak sadarkan diri di kasur rawatnya dan mengelus surai pinkish itu "Maafkan aku Bee."
.
.
Semua telah kembali seperti semula. Boneka-boneka itu kembali ke museum di Oxford dan telah disegel agar jiwa para penyihir itu tak keluar lagi dari tempatnya. Kabar baiknya pencuri itu juga sudah diketemukan dan mendekam di balik bui. Kakek David si pemilik Sherlock Homme tetap melanjutkan usahanya, terkadang Chanyeol akan berbelanja disana atau hanya nongkrong menemani kakek itu bermain gundu.
Dan disinilah lelaki bersurai abu itu sekarang, melihat kearah lelaki mungil yang sedang duduk ditaman dengan sebuah buku ditangannya. Chanyeol tersenyum dan berjalan mendekat "Selamat sore Baek." Lelaki mungil itu menoleh menatap si tinggi "Kenapa kau ada disini?" Chanyeol tersenyum
"Menjengukmu tentu saja." Saat akan beringsut duduk, Baekhyun mendorongnya kasar. "Hei apa yang kau lakukan?"
Baekhyun menaruh jari telunjuknya di bibir, "Kau tidak lihat? Betsy sedang tertidur disini. Jangan berisik." Melanjutkan dengan suara pelan kearah Chanyeol. Chanyeol mengalihkan atensinya pada sisir emas yang tergeletak di samping duduk Baekhyun dan menghela napas pelan. Ya, setelah Baekhyun tersadar dari tidurnya di pagi hari, Ia merancaukan hal-hal yang aneh dan semuanya tentang keluarga Jean, itu mengingatkan Chanyeol pada gadis gila di depan Sherlock Homme.
Dan benar saja, dokter mengatakan Baekhyun tertekan dan menjadi depresi karena terlalu banyak berhalusinasi yang Chanyeol pikir itu memang benar-benar dilihat oleh mata Baekhyun.
Chanyeol menginjak sesuatu dan Ia memungutnya, memperhatikan kipas bulu berwarna putih yang Ia ingat semalam datang ke dalam mimpinya. Di dalam mimpinya kipas itu berubah menjadi anak panah. Dan juga lelaki bangsawan berpakaian formal yang mengenalkan diri sebagai Hadden.
.
.
Kringg! Kringg!
Suara telepon berbunyi nyaring memekakan telinga. Pemuda berseragam kepolisian itu melangkah untuk mengangkat panggilan dan seketika memelototkan matanya mendengar perkataan orang diseberang telepon. Membanting gagang telepon dan melangkah cepat keluar ruangan.
"Boneka kepala keluarga Van Jean menghilang dari museum, Darren."
.
.
.
Bagaimana?
Saya menulis ini mendapat referensi dari berbagai hal yang saya baca. Maaf kalo bertypo. This my first time.
Berkenan untuk mereview nya?
