Yosha! Wa terlalu suka pada Runi! *ngelap air mata*
Aupu: ...
Guava:, Aupu, aku oleh membunuhnya bukan?
Aupu: hanya jangan terlalu kejam...
Guava: *kacamata bersinar*
Wa: ... *kabur setelah terancam jiwa dan raga*
ScarletAndBlossoms:
Serius Nee-chan! Kalau ingat soal Runi, wa jadi inggat soal Mei Xujie! *hubungannya?* entahlah...
Ah ya... Terima kasih telah menganggap Runi itu kawaii... Tapi nyatanya Guava tidak kawaii seperti Runi... *hubungannya?* Guan Suo! Ayo semangat semangat semangat!
Anywayz...
Guava: THANKS TO REVIEW!
Aiko Ishikawa:
Ya, ada Zhao Yun! *tarik Zhao Yun*
Zhao Yun: ngapain kau tarik tarik aku... *keluar dari balas komen*
Wa: HEI!
Ukh, nanti Guava akan wa perintahkan buat toko obat!
Guava: hell... No...
Wa: THANKS FOR REVIEW!
"Jadi, begitu, ya..." ucap Zhao Yun melipat tangannya.
"Kamu tidak perlu membuat jarak tiap perkataanmu... Kamu membuatku takut..." ucap Bao Sanniang lesu. Rasanya terakhir kalinya aku melihatnya, dia itu lebih enerjik.
"Lalu, kalian..." Zhao Yun mengalih pembicaraannya kearahku, dan Runi.
"Aku Guava, dan ini Runi" jawabku, menepuk pundak Runi pelan.
"Anakmu?" tanya Zhao Yun menunjuk Runi.
"... Anggaplah begitu"
"Ukha! Uh!" sahut Runi.
"..." Zhao Yun terdiam.
"..." Guan Suo juga diam.
"..." Bao Sanniang juga terdiam. "Ah, saya tidak suka keheningan seperti ini..."
"Apa dia tidak tahu cara berbicara?" tanya Zhao Yun.
"Dia tidak berbicara bahasa manusia, tapi dia dapat mengerti kita..." jawabku.
"Kenapa kamu tidak mengajarinya?"
"Ukhuhhukhu!"
"Dengan suara yang lantang, dia mengatakan 'Karena bahasa manusia hanya membuatku mengantuk!' begitu..."
"Kamu cocok menjadi penerjemahnya..." ucap Guan Suo, melempar satu ranting kayu ke api.
"Apa aku harus menjadi penerjemahnya untuk kalian..." ucapku menghela nafas.
"Ah ayolah, kita tidak dapat mengerti dia, selain kamu..." tambah Bao Sanniang. Dia kembali enerjik.
"..."
"Uh... Jangan kamu juga yang mengabaikanku..."
Aku memandang keributan aneh ini. Mengalih pembicaraan... Cincin yang diberikan tadi... Belum kupakai sama sekali. Mungkin karena aku takut ini bohong. Ini terlihat asli, tapi aku tetap khawatir. Asal nyawaku masih terselamatkan, kurasa baik baik saja.
Aku memasukkan cincin itu kesalah satu jariku. Oh, kurasa aku merasakan sesuatu yang berbeda... Cukup... Berbeda...
"Ah, pagi lama sekali!" gerutu Bao Sanniang.
Tidak ada jawaban, oke, dia diabaikan sekali lagi... Akupun mengabaikannya. Rasanya tubuhku semakin aneh...
"Ukha...?"
Badanku jadi gemetaran, dan merinding*Semua artinya sama saja...* Ru, Runi...? Ke, kenapa aku? Aku segera reflek berdiri dan mundur beberapa langkah.
"Ukh...!?" kaget Runi, dia juga kaget.
"Hei, ada apa dengamu, Guava?" tanya Guan Suo.
"... Aku sedikit pusing... Mohon biarkan aku berjalan jalan sebentar" ucapku, segera berjalan meninggalkan mereka.
"Eh? Ini masih... Malam..."
Aku tidak bisa mendengar mereka. Aku hanya mencoba berjalan. Ugh, kenapa aku frustasi melihat Runi? Apa yang terjadi kepadaku? Aku memperhentikan langkahku dan memeggang keningku dengan sebelah tanganku. Sial, aku yakin Runi tidak akan merasa nyaman karena kelakuanku tadi...
Hah? Suara apa itu? Ada orang selain kami?
"Apa maumu..." tanya orang itu, kepada lawan bicaranya.
"Aku hanya memintamu untuk bekerja sama... Apakah itu penjelasan yang cukup?"
"Saya tidak akan pernah mau mendengar kerja sama dari orang aneh sepertimu!"
"Jadi kau tidak akan mendengar? Baiklah jika begitu..." orang itu mengeluarkan pedang anehnya. Tunggu, pedang aneh...
"Hei! Pedang apa itu!?"
SYAT!
"AAAAAARGH!"
...
Tidak ada tanda tandanya lagi, dia menghilang setelah orang itu mengayunkan pedang anehnya. Setelah selesai, orang pemilik pedang aneh itu membalik badannya dan bertemu mata denganku.
"Oh, apa kau menontonku lagi...?" tanya orang itu elegan. Sudah kuduga itu orang yang pernah kutemui beberapa saat yang lalu.
"Kau menyadarinya bukan?" tanyaku.
"Tidak, aku tidak menyadarinya..."
"Aku hanya inggin bertanya... Apa orang itu... Mati?"
"Hem? Tentu saja tidak..."
"Hah?"
"Mereka hanya kembali kedunia tempat dimana mereka berasal... Aku mendengarkannya begitu"
"Akh!?" kagetku.
"Cincin ini memiliki kekuatan seperti itu, yang dapat membuat manusia hilang dari dunia ini..."
"Akh! Jadi kenapa kau memberikan ini padaku!?"
"Bukankah, kau juga membenci manusia...?"
"Khuk... Siapa kau!?"
"Hei, ini tidak adil jika kau terus yang mengajukan pertanyaan... Aku, juga punya pertanyaan..." ucapnya masih elegan. "Namamu... Aku belum mendapatkan namamu..."
"... Guava. Guava niko" jawabku.
"Ah, aku tau itu..."
"Kau tau apa?"
"Tidak, tidak ada. Oh, dan aku Kyousume Pearinicco... Tapi kau boleh memanggilku Kyuun... Supaya lebih... Bersahabat"
"... Kyousume"
"Kau tidak menyenangkan sama sekali. Ah, aku harus mengerjakan pekerjaan yang lain. Selamat tinggal sekarang..." ucap Kyousume, melewatiku.
"Hei! Tunggu, aku masih punya pertanyaan... Dia sudah pergi, dia cepat..."
Aku mempererat pelukanku pada bukuku. Apa maksudnya ini... Hm? Oh, matahari sudah terbit... Lebih cepat dari dugaannya... Berarti aku harus kembali.
Runi... Runi juga manusia... Aku tidak inggin memotongnya... Aku tidak inggin melukainya... Tapi kenapa jadi begini? Kepada siapa aku harus salahkan?
.
.
.
Hem... Wa jadi frustasi melihatmu Guava...
Guava: kau yang memasukan orang itu kesini, kau harus tanggung jawab... *aura kelam*
Wa: Hah!? Ba, baik!
