Note singkat dari author : Menurut kalian...? setiap chapter yang aku bikin itu kesedikitan ceritanya gak sih? Soalnya aku liat fic yang lain, 1 word di setiap chapternya ada yang sampai 2000an. Sedangkan aku cuma 1000an kadang kurang malah. Minta pendapat ya aku? :)
Disclaimer : Dynasty Warriors adalah kepunyaan KOEI.
Chapter 4 : Love Again
"Kenapa kamu setakut itu...?" tanya Guan Ping pada Xing Cai.
"Aku..."
"Kenapa...?"
"Aku hanya melihat dari pengalaman... Semua yang dekat denganku pasti akan meninggal..." jelas Xing Cai.
"Tapi..., ayahmu dan Zhang Bao baik-baik saja tuh... Mereka tidak kenapa-napa."
"Mereka berbeda... Mereka keluargaku. Mereka selamat dari kutukan..."
Guan Ping menatap Xing Cai. Ia memalingkan wajahnya, menatap sungai yang terbentang di depannya. Membayangkan sesuatu, entah apa itu...? Melihat hal itu Xing Cai segera menepuk bahu Guan Ping.
"Kakak memikirkan apa...?" tanya Xing Cai.
"Tidak..., aku hanya berpikir. Kalau keluargamu terselamatkan dari kutukan..., berarti orang yang terkena kutukan itu orang yang seperti apa...? Apa mereka adalah orang yang penting bagimu...?" tanya Guan Ping.
Xing Cai terdiam sejenak. Mencerna pertanyaan yang dilontarkan oleh Guan Ping. Selang beberapa menit kemudian, kedua pipinya memerah. Ia memalingkan wajahnya ke arah yang berlawanan dari Guan Ping.
"Apa kau menyukaiku...?" tanya Guan Ping lagi.
"Bu..., bukan begitu..." bantah Xing Cai.
"Kalau begitu aku tidak sia-sia... Cintaku tidak bertepuk sebelah tangan..."
"Maksud kakak apa...?" tanya Xing Cai.
"Selama di luar kota, aku tinggal di asrama pria. Aku kuliah militer di sana. Semua yang aku lihat sama. Di sana hanya ada aku dan teman-temanku yang semuanya mirip denganku. Mengenakan seragam militer, berambut pendek... Bahkan hampir tidak berambut. Kau pasti tidak bisa membayangkan seperti apa aku waktu itukan...?"
Xing Cai terdiam. Pikirannya menerawang. Selang beberapa menit kemudian ia tertawa kecil membayangkan sesuatu yang Guan Ping sudah tau apa itu yang sedang Xing Cai bayangkan.
"Pulang ke China, aku minta bantuan Xing mengembalikan rambutku yang hilang. Yah..., itu berhasil. Sekarang kau bisa lihatkan? Aku sudah tidak seperti yang ada di dalam bayanganmu lagi...!" jelas Guan Ping sembari menunjukkan rambutnya yang sudah lebih lebat dari sebelumnya.
Xing Cai mengangguk. Tapi masih tertawa membayangkan Guan Ping ketika kuliah militer.
"Waktu aku dan Xing sedang mencuci mobil ayah. Aku melihatmu menatap kami dari balik pagar rumahmu. Itu pertama kalinya aku melihat perempuan loh. Walaupun sebenarnya aku juga punya adik perempuan."
"Kak Ping punya adik perempuan...? Di mana dia...? Kenapa aku tidak melihatnya kemarin...?" tanya Xing Cai penasaran.
"Dia tidak di sini..., dia ada di tempat yang berbeda. Aku di sini cuma bersama ayah dan Xing. Membosankan sekali, lagi-lagi melihat orang-orang yang sejenis. Makanya aku senang sekali waktu bisa berkenalan denganmu...! Sudah begitu..." ucapan Guan Ping terputus. Pikirannya menerawang.
"Sudah begitu...?" tanya Xing Cai.
"Aku menyukai seseorang yang ternyata juga menyukaiku..."
"Aku tidak menyukai kakak!" bantah Xing Cai.
"Masa iya...? Kenapa sepertinya kau takut sekali kehilangan aku waktu itu...?"
"Itu karena..."
"Akuilah saja Xing Cai...! Kita saling menyukaikan?"
"Aku takut hal serupa terjadi lagi..."
"Tak ada yang namanya kutukan... Kalau misalnya, ketika berpacaran denganmu aku meninggal. Itu namanya takdir. Tidak ada yang boleh menyalahkan dirimu... Karena semua yang terjadi padaku bukanlah kehendakmu. Kau tidak pernah menginginkan orang yang kamu cintai meninggal bukan...?" jelas Guan Ping.
Xing Cai hanya terdiam mendengar ucapan Guan Ping. Ia tidak tau mau mengatakan apa...? Baru kali ini ia mendengar kata-kata seperti itu dari orang yang ia sukai. Apalagi setelah kejadian-kejadian buruk menimpa orang-orang yang pernah menyukainya... Guan Ping menghampiri Xing Cai. Ia mencium kening Xing Cai dengan bibirnya. Wajahnya memerah ketika melakukan hal itu. Begitu juga dengan Xing Cai.
"Mulai hari ini kita pacaran ya Xing Cai...?" tanya Guan Ping.
Gadis itu tersenyum sembari menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Guan Ping. Ini adalah permulaan yang indah dari kisah cinta mereka.
"Mau ikut menemaniku mencari kaset lagi...? Nanti aku ajak ke suatu tempat deh...!" ajak Guan Ping.
"Boleh..., untung sepulang sekolah ini aku sedang tidak ada kerjaan..." balas Xing Cai.
"Kalau begitu aku antar kau pulang ke rumah dulu... Nanti kalau sudah selesai, aku akan datang menjemputmu di rumah."
Xing Cai menganggukkan kepalanya.
Ini sudah seminggu lebih Xing Cai dan Guan Ping menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih. Selama ini belum ada kejadian yang membuat Xing Cai kembali mengingat masa lalunya. Ia merasa kalau hubungannnya saat ini akan berjalan dengan baik-baik saja. Guan Ping sangat menyayangi Xing Cai begitu juga sebaliknya. Mereka benar-benar terlihat serasi. Zhang Fei yang selama ini merasa telah kehilangan putrinya, merasa sangat senang karena setelah sekian lama Xing Cai tak pernah tersenyum... Akhirnya senyum manis Xing Cai yang telah hilang itu kembali merekah di bibir manis gadis itu. Guan Ping benar-benar telah merubah segalanya. Semua kejadian yang menimpa Xing Cai sebelumnya memang hanya kebetulan, bukan karena kutukan...
"Mau mencoba mendengarkan...?" tanya Guan Ping sembari menyodorkan headphone ke arah Xing Cai.
"Tidak ahh..., nanti kupingku sakit..." tolak Xing Cai.
"Ya sudah..., padahal lagunya bagus..." gumam Guan Ping sembari memasang headphone yang ia bawa ke arah telinganya.
"Kapan kakak ulangtahun...?" tanya Xing Cai.
Guan Ping memalingkan wajahnya ke arah Xing Cai.
"Kenapa kau menanyakan hal itu...?" Guan Ping berbalik tanya.
"Kemarin waktu kakak kerja, Kak Xing datang ke rumah..." ucap Xing Cai. "Aku menanyakan beberapa hal tentang kakak padanya. Katanya sebentar lagi kakak berulangtahun yang ke 25 ya? Lebih tepatnya kapan..., aku tidak tau. Soalnya kata Kak Xing, aku harus menanyakannya sendiri pada kakak..."
"Aku tidak suka berulangtahun..." ucap Guan Ping.
"Loh kok begitu?"
"Ulangtahun itu sama dengan umur kita akan bertambah satu... Itu artinya aku akan bertambah tua. Aku tidak suka menjadi tua...!" jelas Guan Ping.
"25 tahun itu bukan umur yang terlalu tua kok. Aku juga masih 15 tahun. Perbandingannya tidak terlalu jauhkan...?"
"Pokoknya aku tidak suka...!" bantah Guan Ping.
"Kalau begitu, aku tidak suka menemani kakak membeli kaset-kaset aneh ini...! Lagu-lagu yang kakak dengarkan bisa mempercepat kerusakan pada jantungku! Aku mau pulang saja sebaiknya." bentak Xing Cai sembari pergi meninggalkan Guan Ping.
Mengetahui hal itu Guan Ping segera melepas headphone yang ia pakai dan berlari mengejar Xing Cai.
"Xing Cai..., Xing Cai...! Aku cuma bercanda...!" panggil Guan Ping. Tangannya menarik pergelangan tangan Xing Cai yang tengah berlari di tengah kepadatan penduduk kota. "Kok kamu jadi ngambekan gini sih...? Jelek tau!"
"Kak Ping menyebalkan sih...! Akukan mau memberikan hadiah spesial untuk kakak ketika kakak ulangtahun nanti... Kalau aku tidak tau kapan Kak Ping berulangtahun, aku jadi tidak bisa memberikan hadiahnya pada kakak..." jelas Xing Cai.
Guan Ping terdiam sejenak mendengarkan penjelasan dari Xing Cai.
"Sampai segitunyakah kau menyayangiku...?" tanya Guan Ping.
Xing Cai melepaskan genggaman tangan Guan Ping. Ia segera berlari pergi meninggalkan kekasihnya itu.
"Dua..., dua hari lagi...!" Guan Ping berteriak ke arah Xing Cai. Membuat Xing Cai yang tengah berlari segera menghentikan langkahnya dan memalingkan wajahnya ke arah Guan Ping.
"Serius...?" tanya Xing Cai tidak percaya.
"Kalau aku bohong..., kamu boleh mengakhiri hubungan kita ini." ucap Guan Ping sembari berjalan menghampiri Xing Cai.
Mendengar hal itu Xing Cai segera memeluk Guan Ping dan menenggelamkan kepalanya pada dada kekasihnya itu. Kedua pelupuk matanya basah oleh airmata.
"Loh kok nangis sih...?" tanya Guan Ping.
"Aku gak mau hal itu terjadi... Aku gak mau berpisah dengan kakak..." ucap Xing Cai lirih.
Guan Ping segera mengangkat kepala Xing Cai supaya mereka berdua saling bertatapan. Ia menggunakan kedua ibu jarinya untuk menghapus airmata yang membasahi kedua pipi Xing Cai.
"Makanya..., kau harus mempercayaiku...! Aku tak mungkin membohongimu... Aku juga gak mau berpisah denganmu..." jelas Guan Ping.
"Iya..., maaf ya aku sudah membuat kakak tidak jadi membeli kaset aneh itu."
"Sudahlah, lupakan tentang kaset itu... Aku akan mengajakmu ke suatu tempat." ajak Guan Ping. Ia menarik pergelangan tangan Xing Cai menuju ke tempat ia memarkirkan motornya.
