Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Bhatara Yura

Rate: T-M

Genre: Drama/Romance/Friendhip/maybe Humor.

MainPair: UchihaSasuke/HarunoSakura/UzumakiNaruto

Warning! AU, OOC, Bad Languange (Violence). Typos?


Naruto mendengus.

Dia sudah muak dengan harga diri dan keangkuhan, karena hal itu-lah yang membuat keluarganya hancur. Angkuh? Haha.. rasanya Naruto ingin tertawa dengan angkuhnya Uchiha brengsek itu.

Dia membenci rasa angkuh, dan dia juga sangat membenci Uchiha, bahkan sejak sebelum dirinya berumur 8 tahun. Keangkuhan Uchiha tersebut mengingatkan dirinya pada seseorang, seseorang yang sangat dibencinya bahkan sampai mendarah daging di tubuhnya..

Seseorang yang telah merampas kebahagiaan dirinya, juga ayahnya.

Mengingat akan hal itu, membuat Naruto mual, ingin rasanya dia membuang masa lalunya yang hina –menurutnya itu- hingga membuat ayahnya gila, dan dirinya berakhir disini hanya untuk melarikan diri. Dan menemukan pujaan hatinya.

Dan sekarang? Apa? Uchiha akan mengambil-nya lagi?

"Brengsek! Brengsek! Brengsek! AAAAKHHH!" Naruto mengumpat-umpat hingga dia akhirnya berteriak sambil membekap mulutnya agar tidak ada yang mendatangi tendanya.

"Uchiha.."

Naruto terus mengumpat di mulutnya, matanya berkilat tajam, hingga pupilnya menajam, dalam hati dia berdo'a.

"..Matilah"

Untuk kematian seseorang.

...

.

.

.

.

Hello Celeb!

.

.

.
Flamers? Go away!
DLDR!

.

.

.

Enjoy it~

.

.

.

.

...

Hinata terdiam ketika melihat Sasuke kini sedang berdiri tepat di hadapannya, sepertinya Sasuke tidak menyadarinya, karena Sasuke sedang memunggungi-nya.

Sebenarnya dia tadi berniat untuk membantu Sakura dan Nana –nama anak kecil yang ada di dekat Sakura- namun langkahnya terhenti seketika, ketika melihat punggung lebar Sasuke. Entah mengapa sejak 5 menit Hinata berdiri di belakang Sasuke, laki-laki itu tidak beranjak dari tempatnya.

Dan itu membuat dirinya takut, mengingat Sasuke seorang penggoda wanita, dia takut jika Sasuke dan menggagunya seperti tadi pagi.

Hinata terus memperhatikan Sasuke, hingga Sasuke tiba-tiba berbalik menghadap Hinata. Sontak mata Hinata yang pucat dan tanpa pupil itu melebar, dia merasa bodoh karena memilih memperhatikan Sasuke sejak tadi, bukannya pergi ke tempat lain.

'Oh tidak..' batin Hinata.

Kini seringai Uchiha Sasuke keluar, seringai yang sangat tampan nan menggoda itu otomatis membuat Hinata semakin panik, dia bingung bagaimana alasan yang akan dikatakannya pada Sasuke nantinya.

"Apa yang kau lakukan hm.. Nona Hyuuga? –ah maksudku, Nona Hinata?" Sasuke mengatakan-nya sambil berjalan, tanpa menghilangkan seringai nakalnya. Hinata bertambah panik, dia berjalan mundur tanpa sadar ketika Sasuke mendekatkan dirinya ke arahnya.

"A-aku.." keringat dingin mengalir di pelipis Hinata.

Sebagai seorang Cassanova, Sasuke tentunya sangat bangga ketika, ada seorang wanita yang ketakutan kepada dirinya seperti ini, itu merupakan sesuatu yang sangat di banggakan oleh Sasuke. Seringai Sasuke semakin melebar.

Tangan Hinata semakin basah, dia menggenggam erat keranjangnya yang dibawanya sedari tadi, Sasuke melihat isi keranjang itu berupa sabun dan sikat-sikat. Dan Sasuke memiliki kesimpulan, mungkin Hinata akan memberikan barang tersebut kepada Sakura.

"A-aku, a-akan m-m-memberikan i-i-ini pada-"

DUG

Sesuatu menghantam kepala Sasuke dengan kerasnya, mata Sasuke dan Hinata membalak terkejut, sumpah! Demi apapun! Sasuke bahkan tidak pernah dipukul oleh ayah dan kakaknya. Dan sekarang ada yang berani memukulnya?

Sasuke menggeram, matanya berkilat tajam, dia segera berbalik, dan mendapati Sakura dengan wajah datar sudah berdiri di belakangnya "APA?!" bentak Sakura menantang. Sasuke terkejut dengan bentakan Sakura hanya bisa melongo, sedangkan Hinata hanya bisa menahan tawanya ketika melihat wajah Sasuke yang LOL itu.

"Nah!" Tanpa banyak bicara, Sakura telah mengambil tangan Sasuke dan meletakan sebuah sikat, "Dari pada kau menakuti Hinata dengan senyuman gilamu itu-"

Sasuke membalak kaget mendengar ucapan Sakura yang kelewat kasar sebagai cewek itu.

"-lebih baik kau bantu kami membersihkan tempat itu." Sakura menunjuk ke arah WC umum yang tepat berada di bawah pohon. Sasuke mendelik melihat WC umum itu, dia memang mengakui kalau WC umum yang berjumlah 3 bilik itu memang bersih, namun tetap saja dia Uchiha! Dia tidak perlu –ralat tidak boleh membersihkan tempat para manusia membuang kotorannya itu.

Sakura hanya mendengus melihat ekspresi Sasuke yang menurutnya berlebihan, namun sedetik kemudian, dia tersenyum.. senyum mengerikan. "Heh!" sentak Sakura membuat Sasuke menoleh kaget ke arahnya, dan melihat senyuman Sakura yang mengerikan itu. Perasaannya tidak enak mengenai senyuman itu.

"Apa?" tanya Sasuke berusaha bersikap cool.

Sakura mendekatkan wajahnya pada telinga Sasuke, lalu berbisik dengan nafas dan suara yang benar-benar pelan, hingga Sasuke mendelik melihat perbuatan Sakura yang berani. Oke, dia terbiasa dengan gerakan semacam ini. Toh, wanita-wanita yang biasanya dia tiduri juga melakukan hal ini, untuk merayunya, dengan kata-kata yang seduktif, hingga membuat nafsu menguasai dirinya.

Tapi ini beda, yang Sakura bisikan adalah hal yang paling Sasuke hindari didunia.

"Bersihkan WC bagian laki-laki, atau kau tidak mendapatkan makan malam."

Kami-sama.. bolehkah aku bunuh diri dari pada membersihkan tempat menjijikan itu?

.

.

.

.

.

.

SREK

SREK

SREK

BYUUR

SREK

SREK

"Kau benar-benar tidak becus yah dalam bersih-bersih?" sindir Sakura tajam. Dahi Sasuke berkedut kesal, dan sekejap dia menatap Sakura tajam. Namun entah mengapa, tatapan tajam itu malah membuat Sakura senang, dia senang dengan tatapan itu. Entah mengapa. Tapi perasaan senang itu tidak dia tampakan, yang ada dia malah balik menatap tajam mata Sasuke, "Apa?!" sentak Sakura, lalu dia melirik lagi ke arah pojokan WC dekat dengan jamban.

"Bersihkan yang diujung situ, lihatlah masih banyak lumut." Perintah Sakura, Sasuke melirik kesal kearah kotoran itu tanpa berniat membersihkannya, Sakura mendengus "Apa kau berniat kelaparan hari ini?" tanya Sakura datar ketika melihat Sasuke masih diam di tempat.

Sasuke mendengus, bahkan ini sudah ke-tiga kalinya dia membersihkan bilik ini, bahkan Sakura masih menganggapnya kotor? Apa mata anak itu tidak rusak?

"Jika kau pikir mataku rusak karena bisa melihat kotoran di ujung yang paling gelap sedikitpun, maka kau salah besar," dengus Sakura "Mataku masih normal Uchiha." Ucap Sakura sambil mengejek Sasuke dengan nama Uchiha-nya.

Sasuke melirik tajam ke arah Sakura, lalu dia melirik ke ujung bilik yang ditunjuk oleh Sakura, di menghela nafas besar. Hidup seperti ini layaknya neraka menurut dirinya.

"Hei.." panggil Sasuke membuat Sakura melihat kearahnya. "Aku lelah. Bisa istirahat?" tanya Sasuke dengan wajah datar. Bodohnya Sasuke, siapa juga yang akan luluh dengan meminta dengan wajah datar?

Namun, Sakura yang memang berniat untuk membuat Sasuke disiplin tidak akan memberi ampunan pada sang junior –yah sebagian karena tidak luluh juga sih. "Tidak." Jawabnya singkat. Sasuke berdecak kesal, dia membanting sikat dan sabun kamar mandinya, lalu menatap Sakura dengan pandangan kesal.

"Aku lelah, dan aku tidak mau melanjutkan ini. Terserah kau mau memberiku makan atau tidak." Sasuke berucap dengan dahi mengkerut dan wajah kesal, lalu dia segera melengos meninggalkan Sakura di kamar mandi laki-laki.

Sakura mendengus, "Ya ampun.. dia manja sekali." Sakura mendesah pelan sambil menggaruk kepalanya, sepertinya Sasuke terlalu dimanja waktu masa kecilnya. Sehingga, membersihkan kamar mandi selama 2 jam saja sudah mengeluh, bagaimana mengerjakan pekerjaan yang lain? Sakura benar-benar tidak habis pikir.

Namun, perjanjian tetaplah perjanjian. Sakura tidak akan memberikan makan malam untuk Sasuke malam ini.

Kejam ya?

.

.

.

"Bagaimana Sakura?" tanya Ino ketika Sakura memasuki tenda dapur, sebenarnya mereka sudah disediakan rumah untuk para relawan. Sayangnya, terlalu banyak anak yang yatim-piatu yang tidak memiliki rumah –karena orang tua mereka meninggal karena demam berdarah- sehingga mereka memilih untuk mengerjakan semua di tenda, dan jika perkerjaan mereka tidak menumpuk mereka akan tidur bersama anak yatim-piatu tersebut. Contohnya Nana tadi.

Namun, jika pekerjaan mereka menumpuk, mereka terpaksa tinggal di tenda untuk sementara. Jarak 3 km membuat mereka malas membawa semua dokumen itu kerumah di desa. Untuk makanan anak yatim-piatu, kepala desa menyanggupi untuk memberikannya, sehingga mereka tidak perlu ambil pusing untuk mencarikan makan mereka juga.

"Manja." Jawab Sakura singkat, lalu segera menuangkan air putih ke gelas, dan meminumnya hingga tandas. Dia menghela nafas lega, hari ini benar-benar panas. Sakura berucap sambil mengusap keringatnya, "Entah bagaimana orang tuanya mendidiknya, sehingga anak itu menjadi sangat manja."

Ino tertawa kecil, "Bukankah Neji sudah mengatakan, tujuan Itachi mengirimnya kemari adalah karena dia ingin kau meubahnya menjadi lebih disiplin dan hemat. Lalu membuka mata hatinya juga."

ZREEEK

Suara reslting jendela yang di buka menarik perhatian mereka, dan kepala Naruto muncul di antaranya. "Apa yang kalian lakukan?" tanyanya dengan cengiran khas. Seketika Sakura tertawa ketika melihat wajah Naruto, penuh dengan kotoran coklat. "Hmmp! Hei.. wajahmu sangat kotor Naruto."

Naruto mengernyitkan alisnya, lalu mengusap wajahnya asal, dan membuat kotorannya semakin menutupi wajah Naruto. Sakura terbahak melihat itu. Ino yang dari tadi asik dengan adonan kue-nya merasa terusik dengan tawa Sakura yang keras itu.

"Sakura diamlah! Aku tidak bisa berkonsentrasi membuat kue." Seketika tawa Sakura terhenti, lalu menatap Ino dengan pandangan melotot. "Serius?! Kau membuat kue? Sejak kapan?!" tanya Sakura setengah menjerit. Bahkan Naruto pun tak kalah terkejutnya dengan Sakura.

Ino mendelik kesal ke arah Sakura, di merasa Sakura meremehkannya. Memangnya seburuk apa sih, gadis yang tidak pernah bisa memegang pisau itu mencoba membuat kue?

"Diamlah! Kau mengejekku hah?!" sentak Ino kesal. Sakura membulatkan matanya, karena wajah Ino terlihat sedikit memerah. "Kenapa wajahmu?" tanya Sakura polos. Ino membuang wajahnya, "Huh! Dasar tidak peka!" Ino berkata dengan nada ketus.

Sakura mengernyit bingung, apa maksudnya?

Dia menatap Naruto dengan pandangan bertanya, namun Naruto hanya mengangkat bahu tidak tau. Sakura mendengus. "Nah.." Ino tiba-tiba melemparkan sebuah lap bersih, "Berikan pada Naruto, suruh bersihkan wajahnya. Aku jijik melihat wajahnya."

Sakura menatap Naruto lagi, namun Naruto sudah menghilang, "Naruto hilang." Jawab Sakura tanpa melihat Ino. "Kalau begitu keluarlah, kau mengganggu ku." Sakura mendelik ke Ino, apa-apaan sih? Ino benar-benar ketus sekali.

"Kau kenapa sih?!" Sakura bertanya dengan nada jengkel, "Pergilah." Ino malah mengusirnya. "Kau benar-benar mengganggu." Tambah Ino. Sakura sudah biasa mendengar Ino mengusirnya, namun kali ini berbeda, seperti.. entahlah Sakura tidak dapat mengartikannya. Dia akhirnya memilih keluar, dari pada mendengar usiran Ino terus.

Ino sedikit melongokan kepalanya ketika Sakura keluar, "Baiklah. Dia sudah keluar. Keadaan aman untuk sekarang." Ino berkata sambil berbisik, dan dibalik pintu tenda belakang muncul-lah Tenten, Hinata, Neji, dan Naruto. Mereka tertawa geli melihat ekspresi Sakura yang aneh.

Yah, Ketua mereka ini memang selalu melupakan hari penting-nya, dan sekarang pun dia melupakannya lagi. Kebiasaan ini sudah di hapal Hinata, karena 3 tahun bersahabat di Jepang membuat dirinya hapal dengan kebiasaan Sakura. Well, mereka sekarang akan mengadakan pesta kecil-kecilan untuk Sakura, sekaligus pesta penyambutan untuk Sasuke.

.

.

.

.

.

.

Sasuke memutuskan untuk duduk di dekat sungai, ketika dia sudah berjalan cukup jauh. Kakinya terasa pegal, pakaiannya yang biasanya selalu rapi dan licin itu kini sudah tampak lusuh, kotor dan bau.

Tanpa peduli lagi dengan pakaiannya, Sasuke segera mencebur ke air sungai itu dan melepaskan kaos atasannya lalu melemparnya ke sebuah tangkai pohon. Dia memutuskan mandi disitu.

.

.

BYURR

Samar-samar gadis kecil itu mendengar suara air yang muncrat. Dia segera berlari kecil dan pergi menuju belakang pohon yang biasanya dia datangi bersama kakak-kakak berambut warna-warni itu. Keranjang yang dia peluk, kini dia peluk bertambah erat lagi.

Dia mengintip-intip ke arah sungai, dan melihat seorang laki-laki berbadan kekar dan berkulit putih sedang menggosokan badannya dengan air.

.

.

Sasuke merasa seseorang sedang memperhatikannya dari belakang, karena Sasuke tidak membawa persiapan apapun, dia hanya bisa mempersiapkan kemampuan fisiknya. Dengan cepat dia berbalik, dan seketika suara daun bergesek terdengar, terlihat daun tersebut juga saling bergesek.

Sasuke mengernyitkan alisnya, curiga. Dia segera berjalan perlahan menuju dedaunan itu. Berusaha setenang mungkin agar tidak ketahuan.

.

.

Gadis yang terlihat masih berumur 7 tahun itu mendekap mulut-nya panik, matanya mengeluarkan air mata hampir menangis. Dia sangat takut. Karena dia takut dengan orang asing itu, dia takut jika orang tersebut akan menyakiti dirinya karena dia tidak bisa berteriak.

Nafas gadis itu memburu ketika mendengar tangkai pohon yang patah, sepertinya laki-laki itu menginjaknya. Dia semakin ketakutan.

.

.

SREEK

Sasuke membuka dedaunan tersebut, dan tampaklah seorang gadis kecil sedang terduduk disitu sedang menatapnya takut, Sasuke melihatnya secara fisik, dia berkulit putih, namun matanya sangat belo dan berwarna biru. Rambutnya pun pirang. Dia memakai dress biru sederhana sewarna dengan matanya.

"Who are you?" tanya Sasuke dengan nada dingin.

Gadis tersebut terdiam tidak menjawab pertanyaan Sasuke, dia menolehkan kepalanya kesamping kanan dan kiri, sepertinya mencari sebuah bantuan. Sasuke yang tidak terlalu suka dengan anak kecil segera meraih tangan anak tersebut dengan kasar. "I say, Who are you? Can you speaking? Or your ears can't hear me?" tanya Sasuke tajam.

Gadis itu membuka mulutnya, namun tidak ada suara yang keluar sama sekali.

"HEI! WHO ARE YOU?!" teriak Sasuke semakin kesal ketika melihat gadis tersebut tidak segera menjawab pertanyaannya. Gadis tersebut perlahan menangis, dia menutup matanya dengan tangannya. Keranjang yang tadi di pegangnya kini terjatuh dan isinya berceceran.

Sasuke melepas tangan gadis itu dengan kasar, hingga gadis tersebut terjatuh. Dengan cueknya, dia meninggalkan gadis kecil malang itu. Membiarkan dia menangis tanpa suara.

Sasuke mengambil pakaiannya dan pergi begitu saja.

.

.

.

.

.

"Kei.." panggil Sakura, namun tidak ada suara gemerincing lonceng gelang kaki yang biasanya langsung ramai ketika dia memanggilnya. Sakura mengernyitkan alisnya heran, Kemana dia?

"Kei.." panggil Sakura sekali lagi, namun tetap tidak ada sahutan lonceng. Dia segera berlari ke arah tenda dapur lagi, dan menarik resletingnya dengan kasar. Didalamnya terlihat Ino, Naruto dan Hinata sedang tertawa-tawa mencomot sebuah cokelat, sedangkan Tenten dan Neji sedang mengaduk sesuatu.

Mereka terkejut dengan kedatangan Sakura yang tiba-tiba itu. "Ada apa-/Dimana Kei?!" tanya Sakura memotong pertanyaan Tenten. Mereka berlima saling bertatapan, barusan Keila datang untuk membantu mereka membuat kudapan, dan mereka menyuruhnya untuk mencuci stroberi di sungai, karena air disitu yang paling jernih.

Nafas Sakura memburu tidak sabar, "DIMANA DIA!?" tanya Sakura dengan bentakan. Semua terkejut mendengar bentakan Sakura, dan Naruto menjawabnya dengan sedikit gugup "Di sungai Sakura." Mata Sakura melotot mendengar ucapan Naruto, "Kenapa bisa disitu?! Jarak Bascamp, bahkan desa terlalu jauh dengan sungai!" Sakura menatap mereka nyalang.

"T-tadi dia ingin membantu kami, jadinya kami menyuruhnya mencuci buah-buahan di sungai." Jawab Tenten mulai takut. Sakura terkejut bukan main. Bagaimana mereka bisa menyuruh Keila sejauh itu, sedangkan keadaan Keila..

"APA?! KENAPA KALIAN MELAKUKAN ITU?!" bentak Sakura emosi, namun tidak ada yang berani menjawab, Sakura mendecih lalu pergi begitu saja.

Semua terdiam mendengar bentakan Sakura. Mereka sadar apa yang mereka lakukan, dan mereka juga sadar dengan keadaan Keila. Sepertinya mereka melakukan kesalahan besar karena membiarkan gadis itu pergi sendirian ke sungai.

.

.

.

.

.

.

Ditengah perjalanan Sasuke bertemu dengan Sakura, terlihat gadis itu terburu-buru, wajahnya juga memerah penuh keringat. Sakua melewatinya begitu saja. Membuat Sasuke sedikit bingung, namun dia memilih untuk melanjutkan perjalanannya dari pada mengikuti Sakura.

Dia bersiul pelan, tanpa menyadari badai akan segera terjadi.

.

.

"KEILA!" teriak Sakura seketika dia sampai di dekat sungai. Lalu terdengar suara gemerincing lonceng dari balik semak-semak, Sakura segera berlari menuju semak-semak. Dia segera membekap mulutnya ketika melihat tangan Keila yang memerah. Seperti habis dicengkeram oleh seseorang. Telapak kakinya juga berdarah, sepertinya sobek terkena tangkai yang tajam.

"Kau tidak apa-apa sayang?" tanya Sakura lembut, wajah dan baju Keila tampak sangat berantakan. Keila segera memeluk Sakura erat, dia menangis sesenggukan di perut Sakura. Sakura mengelus pelan rambut pirang gadis itu. Gadis itu lalu mendongak dan menatap Sakura dengan pandangan takut

"Tadi ada orang." Keila berkata dengan tangannya, Sakura mengernyitkan alisnya, seluruh desa sudah mengenal Keila, dan pasti jika Keila bertemu dengan seseorang dia tidak akan memanggil orang tersebut dengan nama 'Orang' dan memanggil dengan nama aslinya. Dan sepertinya yang ditemui Keila hari ini adalah orang asing.

"Siapa?" tanya Sakura kalem, Keila menunduk lalu menggigit bibir bawahnya takut. Entah mengapa perasaan gadis kecil itu mengatakan kalau jangan mengatakan siapa laki-laki itu. Disisi lain, Sakura berpikir Keila masih shock dan takut, sehingga dia menyadari kalau Keila tidak ingin bercerita sekarang.

Sakura tersenyum, "Kalau tidak mau cerita juga tidak apa-apa.." Sakura berucap dengan logat Jepangnya yang khas. Sebenarnya gadis ini bisa berbahasa Jepang dan bahasa Inggris, namun karena Sasuke tidak mengetahuinya jadi dia menggunakan bahasa Inggris.

"Ayo pulang.. Nee-chan akan menggendongmu." Ucap Sakura sumringah, gadis itu balas tersenyum sumringah, lalu senyumnya memudar lagi, "Ada apa?" tanya Sakura ketika menyadari Keila berubah murung. Keila menunjuk buah Stroberi yang berceceran di tanah yang sedikit kering itu, Sakura mengangguk mengerti.

"Baiklah, kita cuci dulu buah itu lalu kita akan pulang." Keila tersenyum senang.

.

.

.

.

.

.

Ino, Tenten dan Hinata menunggu kepulangan Sakura dengan keadaan khawatir, mereka pergi cukup lama dan hari sudah hampir malam. "Kau yakin tidak apa-apa Sasuke?" tanya Ino lagi berusaha meyakinkan diri, Sasuke sudah berganti pakaian. Dan dia hanya mengangguk singkat, karena feelingnya mengatakan Sakura itu kuat.

Dan dia yakin Sakura tidak apa-apa, toh tadi dia bertemu Sakura di jalan bukan?

Samar-samar terlihat rambut berwarna Pink dan Kuning terlihat mencolok dari jarak yang cukup jauh, tanpa sadar Ino, Tenten dan Hinata menghela nafas lega. Mereka segera berlari menghampiri Sakura.

"Forehead! Kau tidak apa-apa? Kenapa kalian perginya sangat lama? Kalian tau, kami sangat khawatir!" Ucap Ino penuh emosi. Sasuke hanya menatap mereka semua datar, namun matanya terbalak seketika. Sakura sedang menggendong gadis kecil yang barusan saja mengintipnya ketika sedang mandi.

Seketika Sasuke berdiri, membuat ke-empat gadis itu terlonjak kaget ketika mendengar suara kursi dibanting. Gadis kecil berambut pirang itu terlonjak kaget ketika melihat Sasuke. Dia segera bersembunyi di balik punggung Sakura, tingkah laku tersebut otomatis menarik perhatian Sakura dan kawan-kawan.

"Ada apa Kei?" tanya Sakura bingung ketika melihat tingkah laku Keila yange aneh itu. Keila hanya menggeleng pelan, kepalanya menunduk terlihat ketakutan, Sakura menoleh ke arah Sasuke yang kini menatapnya juga dengan pandangan terkejut.

Ino, Tenten dan Hinata otomatis juga ikut menoleh ke arah Sasuke, Sasuke hanya diam menatap gadis itu. Gadis yang ada di balik punggung Sakura.

Kei hampir menangis di punggung Sakura, dia sangat ketakutan. Pandangan Sasuke mengingatkan dirinya akan seseorang, seseorang yang dulu membuatnya hingga tidak bisa berbicara. Dan kelakuan Sasuke membuat ketakutan nya pada Sasuke semakin menjadi..

"Dad.. Kaasan.. tolong aku."

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

A/N:

Eaaa#apaan -_- #plak

Oke, haaiii! Aku balik lagi, nyan~ :3 okelah, aku jelaskan lagi. Keila adalah gadis blasteran. Ayahnya orang barat, dan ibunya orang Jepang. Dia mengombinasikan memanggil kedua orang tuanya dengan istilah barat dan Jepang. Biar adil katanya *emang sejak kapan lu ngomong sama dia?* #plaak. Tapi apakah dia kunci dari cerita ini? Silahkan menebak-nebak ~('w')~. Disini, semua masa lalu Sasuke, Sakura, Naruto mungkin akan terungkap sedikit-demi sedikit. Akan aku usahakan agar tidak menyimpang sejauh mungkin dari cerita.

Dan, jiaah~ aku bilang kemaren mau apdet cepet ya? ._. ah, maaf janji tidak bisa ditepati m(_._)m aku ada ujian UAS. Jadinya konsentrasi terfokus kesana untuk sementara. :3 sebenarnya ini cerita udah jadi lama banget, tapi yah gitu. Males buka laptop, gara2 tugas dari guru menumpuknya nauzdubillah -_-" padahal habis UAS, malah dikasih tugas numpuk2 #curcol #plaak

Oke deh, dari pada banyak nyocros, langsung aja.

Thanks Alot for you!

Sabila Foster, Hanazono Yuri, Azriel Kanhaya, .524, Uchiha Riri, Mantika mochi, Kazamatsuri de rain, .39, FiaaATiasrizqi, Mademoisellenna, bluestar260, Persephone-Athena, Kaname.

Dan kalian para silent readers!

Terimakasih banyak juga untuk kalian yang mau mem-fave dan mem-follow cerita ini :')

Sekian, jika ada pertanyaan silahkan klik kotak riview di bawah, maaf jika ada yang terlewat atau tidak kutulis namanya, atau typo di nama kalian. Dan semoga aku bisa menjawabnya di bagian cerita, atau silahkan PM.

Oke, terakhir..

Mind to riview? Thanks before.. :3