Tittle : Punch.

Rate : T+.

Genre : Romance, Angst, Hurt/Comfort.

Pair : DaeLo / DaeHyung.

Author : Skinner Choi.

Warning : BL, Yaoi, DLDR, AU, OOC, Miss Typo(s), No Flamers.

Skinner Present

" PUNCH "

.

.

.

.

Does everyone really understand what's their personality is? I wonder…

.

.

.

.

Chapter 4 : Contiguous Twins.

Junhong berjalan masuk ke dalam perpustakaan siang itu. Dia sedikit merasa beban karena membuat kakaknya mengkhawatirkannya. Junhong tidak bermaksud untuk membuat Sungmin terlihat akan terkena serangan jantung tiap kali dia pulang terlambat.

Junhong memilih sebuah buku di salah satu rak dan mengambilnya, dan dia tersentak kaget ketika dia melihat Daehyun ada di balik rak sedang memandangnya.

" Kau mengagetkanku!." Keluh Junhong sambil melihat Daehyun dari sela buku yang tadi ia ambil.

" Aku tidak mengira kau akan sekaget itu." Sahut Daehyun sambil tersenyum lebar.

Junhong hanya terdiam sambil mendekap bukunya tidak tau harus bicara apa, karena dia sendiri tidak terlalu bisa berkomunikasi pada orang lain dengan baik.

" Hey anak itik! Apa kau ingin pergi keluar untuk jalan-jalan?." Tanya Daehyun.

Junhong terlihat ragu untuk menjawabnya. " Hyung menyuruhku untuk segera pulang setelah aku selesai dari perpustakaan." Jawab Junhong pelan.

" Bilang saja kau ingin bermain keluar." Bujuk Daehyun.

" Tidak bisa. Hyung pasti akan mencariku." Kata Junhong.

" Bagaimana kalau makan siang di café sebelah perpustakaan?." Tanya Daehyun.

Junhong terlihat tidak ingin menerima ajakan itu, tapi dia tidak tau bagaimana caranya menolak ajakan Daehyun.

" Hanya makan siang kan?." Tanya Junhong.

Daehyun tersenyum kecil penuh arti. " Nde. Hanya makan siang." Kata Daehyun.

" Baiklah." Sahut Junhong.

" Kutunggu di sana nanti jam 1 siang." Kata Daehyun yang di balas anggukan pelan Junhong.

Daehyun berjalan ke rak yang lain meninggalkan Junhong sendirian disana. " Dia itu… pemaksa sekali…" gumam Junhong.

Junhong mengambil satu buku lagi dari rak kemudian segera duduk dan membacanya. Di sudut rak tak jauh dari Junhong duduk, Daehyun memperhatikan Junhong dengan penuh ketertarikan.

" Aku akan mengungkap siapa saja yang ada di dalam otakmu, Choi Junhong." gumam Daehyun sambil tersenyum kecil.

Kemudian Daehyun mengambil buku The Ugly Duck yang waktu itu pernah di baca oleh Junhong.

" Aku akan membuatmu menjadi angsa yang sangat cantik. Karena kau akan jadi milikku." Katanya sambil membalik halaman buku itu dengan senyum lebar.

.

.

.

.

Junhong terlihat mencari keberadaan Daehyun di café dimana mereka akan bertemu. Kemudian dia melihat Daehyun melambaikan tangan di salah satu meja yang sudah ia pesan. Junhong terlihat sedikit enggan berjalan kesana.

" Aku senang kau datang." Kata Daehyun.

" Memangnya kau pikir aku tidak akan datang?."

Daehyun tersenyum kecil. " Ani. Aku tau kau akan datang." Kata Daehyun.

Junhong menarik kursi dan duduk disana meski dia terlihat tidak nyaman harus berada disana bersama Daehyun.

" Pesanlah sesuatu." Kata Daehyun sambil menyodorkan menu pada Junhong.

" Aku tidak lapar. Terimakasih." Kata Junhong.

" Aku mengajakmu kesini untuk makan siang. Pesanlah sesuatu." Kata Daehyun.

Junhong terlihat sedikit tidak suka dengan permintaan Daehyun. " Aku pesan yang sama denganmu." Kata Junhong singkat.

" Ternyata kau cukup keras kepala ya." kata Daehyun sambil tertawa kecil.

Setelah Daehyun memesan pesanan, Daehyun menatap Junhong dengan pandangan penuh ketertarikan.

" Berhenti menatapku." Kata Junhong sedikit kikuk.

" Aku suka warna rambutmu." Kata Daehyun membuat Junhong reflek menyentuh rambutnya.

" Terimakasih." Kata Junhong pelan.

" Kau terlihat berbeda dengan warna rambut seperti itu." Kata Daehyun.

" Aku tidak suka warna rambut hitam." Kata Junhong.

" Kenapa?."

Junhong terdiam sejenak menghindari kontak mata dengan Daehyun. " Aku hanya tidak suka." Kata Junhong.

" Sungmin kakakmu juga mewarnai rambutnya menjadi merah. Dia jadi terlihat berbeda, sama sepertimu." Kata Daehyun.

" Darimana kau tau Sungmin hyung adalah kakakku?." Tanya Junhong.

" Woo Taewoon, kekasih Sungmin adalah teman sekolahku. Dan aku sempat bertemu dengan Sungmin sekali, itulah kenapa kau tau dia adalah kakakmu. Kalian memiliki marga yang sama, aku terkejut ternyata Sungmin adalah kakakmu. Rambut merahnya benar-benar membuatnya mudah diingat." Jawab Daehyun.

" Sungmin hyung memang suka warna merah." Kata Junhong

Daehyun tersenyum kecil. " Jadi, apa yang sudah kau pelajari di perpustakaan tadi?." Tanya Daehyun.

" Aku belajar banyak hal disana. Sekarang kau mulai memahami apa yang belum pernah kuketahui sebelumnya. Salah satunya seperti One Piece." Kata Junhong.

Daehyun tertawa mendengarnya. " Kenapa kau tertawa?." Tanya Junhong.

" Ani. Kau sungguh lucu anak itik. Tapi aku terkesan kau sudah banyak belajar banyak hal. Kalau tidak salah umurmu sekarang 18 tahun kan? Apa kau akan melanjutkan sekolahmu?." Tanya Daehyun.

" Aku tidak mau sekolah." Jawab Junhong.

" Wae? Bukannya sekolah itu tempat yang tepat untuk belajar?." Tanya Daehyun.

Junhong menggeleng. " Sekolah adalah tempat yang buruk. Aku tidak mau berada disana." Kata Junhong.

" Sebelumnya apa kau pernah bersekolah?." Tanya Daehyun yang dijawab anggukan oleh Junhong.

" Lalu apa yang terjadi?." Tanya Daehyun.

" Aku tidak mau menceritakannya." Kata Junhong.

" Kenapa? Aku tidak akan menyakitimu, kau bisa bercerita apa saja padaku." Kata Daehyun.

Junhong menatap Daehyun ragu. " Bukankah kita tidak saling mengenal satu sama lain? Kau dan aku sama-sama orang asing. Aku tidak bisa percaya padamu." Kata Junhong.

" Kau benar-benar sangat teliti ternyata." Kata Daehyun. " Aku menganggapmu sebagai temanku sekarang. Apa itu belum cukup? Bagaimana jika mulai sekarang kita berteman?." Tanya Daehyun.

Junhong masih menatap Daehyun dengan pandangan waspada. " Kenapa tiba-tiba kau ingin menjadi temanku?." Tanya Junhong.

" Hubungan pertemanan itu terbentuk karena banyak hal dan banyak cara. Kau tidaklah harus memilih seseorang untuk menjadi temanmu, teman memiliki banyak artian. Teman adalah orang yang bisa membuatmu melihat banyak hal yang belum pernah kau lihat sebelumnya, disanalah kau akan menemukan sebuah keseruan." Kata Daehyun.

" Aku tidak percaya pada teman." Kata Junhong.

" Apa kau pernah disakiti atau dikecewakan?." Tanya Daehyun.

Junhong mengangguk pelan. " Aku tidak pernah mempercayai siapapun." Kata Junhong.

" Lalu pada siapa kau akan percaya?." Tanya Daehyun.

Junhong terdiam tidak memiliki jawaban. Dia sendiri juga sedang mencari seseorang untuk ia percayai.

" Apa yang akan kau lakukan jika ada teman yang mengecewakanmu atau menyakitimu lagi?." Tanya Daehyun.

" … aku tidak tau… tapi aku ingin membalasnya. Aku ingin mereka juga merasakan apa yang kurasakan. Agar mereka tidak lagi menyakiti orang lain lagi." Kata Junhong.

Daehyun tersenyum kecil. " Baiklah, kau bisa melakukan apapun padaku jika aku nantinya akan menyakitimu, mengecewakanmu ataupun meninggalkanmu, aku akan terima hukuman apapun yang kau berikan asalkan kita bisa berteman." Kata Daehyun.

" Kenapa kau bicara begitu? Aku tidak ingin menyakiti siapapun." Kata Junhong.

" Hanya itu yang bisa membuatmu lebih tenang kan? Jika tidak begitu kau tidak akan mau berteman denganku. Aku percaya kau bisa menepati janji." Kata Daehyun.

" Kenapa kau mempercayaiku?." Tanya Junhong.

" Karena aku ingin menjadi orang yang bisa kau percaya, aku ingin mengubahmu menjadi angsa yang cantik yang disayangi banyak orang." Kata Daehyun.

Junhong terdiam menatap Daehyun dengan pandangan tidak mengerti.

" Apa kau bicara yang sejujurnya?." Tanya Junhong.

Daehyun tersenyum lebar. " Nde. Aku bicara sejujur-jujurnya, aku tidak pernah berbohong padamu. Dan tidak akan pernah membohongimu. Janji." Kata Daehyun.

Junhong menatap Junhong ragu. " Aku tidak terlalu mengerti mengenai pertemanan." Kata Junhong.

" Kau hanya harus mengikuti alurnya saja, lama-lama kau akan mengerti bagaimana menyenangkannya mempunyai teman." Kata Daehyun.

" Arasseo." Kata Junhong.

" Jika ada sesuatu yang ingin kau tanyakan atau ingin kau ceritakan, katakan saja padaku. Aku akan membantumu." Kata Daehyun.

" Baiklah." Kata Junhong pelan.

Daehyun tau Junhong tidak akan semudah itu mempercayainya ataupun menceritakan masalahnya dengan begitu mudah, Junhong adalah anak yang sangat keras kepala, sungguh sulit mengubah pendiriannya. Tapi disitulah Daehyun merasa tertantang untuk membuat Junhong bisa percaya padanya.

" Daehyun-ssi…" panggil Junhong sedikit pelan.

" Nde?."

" Apa kau teman Sungmin hyung? Maksudku… apa kau berteman sangat baik dengannya?." Tanya Junhong.

" Kenapa kau tanyakan itu?." Tanya Daehyun.

" Aku baru saja bertemu dengan hyungku tidak lama ini, aku tidak terlalu mengenal siapa temannya." Kata Junhong.

" Oh… sebenarnya aku tidak kenal dekat dengan Sungmin, tapi aku kenal dekat dengan Taewoon. Aku baru bertemu dengan Sungmin hanya sekali. Kalian terlihat mirip sekali." kata Daehyun.

" Benarkah?." Tanya Junhong.

" Nde. Meski kau lebih pendiam dari kakakmu, tapi sifat keras kepala kalian benar-benar terlihat sekali." Kata Daehyun.

" Memangnya tidak boleh menjadi orang keras kepala?." Gerutu Junhong.

" Menurutku tidak ada sesuatu yang benar atau salah di dunia ini. Terkadang kau harus menjadi orang yang keras kepala untuk bisa melindungi orang yang kau sayangi." Kata Daehyun.

" Aku sangat menyayangi Sungmin hyung. Karena hanya dia yang kupunya sekarang."

" Benarkah? Aku ingin tau seberapa berartinya Sungmin untukmu." Kata Daehyun.

Junhong menatap Daehyun ragu seperti biasanya. " Sungmin hyung adalah… rumahku, keluargaku, penyelamatku, kebahagianku, dan tempatku pulang. Aku bisa bertahan selama ini karena dia." Kata Junhong pelan.

" Memangnya apa yang sudah kau lalui sampai kau mengatakan Sungmin yang selama ini membuatmu bertahan?." Tanya Daehyun yang mulai memancing sedikit demi sedikit.

Junhong terlihat tidak menyukai pertanyaan itu, entah kenapa dia kesal sekali dengan Daehyun yang terus saja ingin mendengar cerita yang tidak pernah ingin ia ceritakan meskipun pada Sungmin sekalipun.

" Hey, lihatlah ke arahku." Kata Daehyun yang melihat Junhong terus saja memandang ke arah lain dengan cemas.

" Harusnya aku tidak datang kesini…" gumam Junhong.

" Apa yang kau bilang?." Tanya Daehyun.

" Harusnya aku tidak datang kesini! Harusnya aku bisa menolak permintaanmu tadi." Sahut Junhong sedikit lebih keras.

" Kau… marah padaku?." Tanya Daehyun.

" Aku kesal padamu. Kenapa kau ingin tau sekali mengenai kehidupanku." Gerutu Junhong.

Daehyun tersenyum kecil. " Arasseo. Aku tidak akan Tanya. Mianhae." Kata Daehyun.

Tidak disangkanya Junhong benar-benar sangat teliti pada setiap pertanyaan yang Daehyun ajukan. Daehyun semakin ingin tau mengenai masa lalu Junhong.

Junhong menarik ujung kemejanya dengan kuat, hal itu dilakukannya jika dia sedang gugup ataupun sedang kacau pada sebuah situasi. Dia ingin sekali pergi dari sana, dan tidak ingin menemui Daehyun lagi. Ada sebuah perasaan tidak tenang yang ia rasakan jika dia bersama Daehyun. Entah darimana munculnya perasaan itu, perasaan takut jika Daehyun mengetahui tentang rahasianya.

' Kau ingin lari lagi? Dasar pengecut!.'sebuah suara yang terdengar ringan terdengar membisik di telinga Junhong secara tiba-tiba.

" Siapa?!." Kata Junhong sambil menoleh dengan keras ke belakang. Tapi tak ada seorangpun disana.

Dia hanya melihat pengunjung yang sama yang ia lihat ketika masuk ke dalam café tadi.

" Kau bicara dengan siapa?." Tanya Daehyun bingung.

" Eobseo. Aku hanya terkejut." Jawab Junhong pelan.

" Kau memanggil siapa barusan?." Tanya Daehyun ingin tau, dan itu kembali membuat Junhong sedikit tidak nyaman.

" Berhenti menanyaiku." Kata Junhong.

" Kurasa kau masih butuh banyak belajar mengenai apa itu teman." Kata Daehyun.

" Aku harus pergi." Kata Junhong sambil bediri dari kursinya.

" Kau akan pergi kemana?." Tanya Daehyun yang segera mengikuti Junhong.

" Aku harus pulang." Sahut Junhong tergesa sambil mendorong pintu café dengan sedikit kasar.

" Tunggu dulu!." Seru Daehyun sambil menarik lengan Junhong, dan detik berikutnya sebuah pukulan keras mendarat di pipi Daehyun hingga Daehyun hampir terjatuh.

" Jangan sentuh aku brengsek!." Seru Junhong. Matanya berkilat penuh amarah, tidak seperti Junhong yang kalem seperti biasanya.

" Junhongie apa yang kau lakukan?."

" Kurasa kau salah orang nak! Pergilah sebelum kupatahkan lenganmu!." Kata Junhong dengan suara sedikit lebih berat dari sebelumnya. Dia memandang Daehyun dengan penuh kekesalan. Raut wajahnya terlihat begitu tegas, dingin, dan begitu… penuh dengan beban.

Junhong berbalik dan melanjutkan jalannya meninggalkan Daehyun.

" Akhirnya terpancing keluar juga yang lain." Gumam Daehyun sambil tersenyum senang seolah baru saja mendapat mangsa paling lezat yang pernah ia terkam. Rasa nyeri di sudut bibirnya tiba-tiba terabaikan begitu saja.

" Tunggu!." Panggil Daehyun lagi tapi tidak digubris oleh Junhong.

" Hey aku butuh bicara denganmu!." Seru Daehyun lagi sambil menyusul langkah Junhong.

Junhong menatap Daehyun dengan tatapan kesal. " Aku butuh bicara denganmu." Kata Daehyun berusaha mendapat perhatian dari Junhong.

" Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?! Menyingkirlah!." Kesal Junhong.

" Kau mirip sekali dengan temanku, jadi aku mengira kau adalah temanku, jadi—"

" Aku bukan temanmu, dan aku tidak ingin bicara denganmu. Jika kulihat kau masih saja mengikutiku, aku tidak akan segan-segan menghajarmu dan mematahkan lenganmu." Potong Junhong sambil meninggalkan Daehyun.

Daehyun tersenyum kecil melihat punggung Junhong yang menjauh. " Aku tidak akan melepaskanmu apapun yang terjadi. Aku tidak akan menyerah." Gumam Daehyun.

Daehyun memutuskan untuk mengikuti kemanapun Junhong pergi. Dia terus menatap Junhong dengan pandangan seorang maniak yang sedang memperhatikan hal yang sangat ia sukai, dia memperhatikannya dengan sangat teliti dan detail. Pandangannya penuh rasa keingintahuan, kagum, dan juga lapar.

Dari cara Junhong berjalanpun sekarang terlihat beda, lebih lebar dan lebih kasar, tidak seperti Junhong yang selalu melakukan semuanya dengan pelan-pelan. Dilihatnya Junhong menaikkan hoodie jaketnya dan berjalan lebih cepat, kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku jaketnya, cara dia melirik orang-orang yang ada di sekitarnya seperti melihat orang yang dibencinya, sorotnya penuh dengan amarah dan ketidakbahagiaan.

Daehyun terus saja mengikuti Junhong dengan hati-hati tanpa diketahui, lalu dia melihat Junhong menabrak bahu seseorang yang berpapasan dengannya di kerumunan pejalan kaki dan mengambil dompet orang itu dengan cepat tanpa diketahui.

Daehyun tersenyum kecil " Dia cukup lihai juga melakukannya." Gumam Daehyun yang mengetahui hal itu.

Kemudian Daehyun mengikuti Junhong hingga Junhong berhenti di sebuah gang kecil untuk mengambil uang dari dompet yang ia curi tadi dan kemudian dia membuang dompet itu. Lalu dia pergi menuju sebuah pub kecil tak jauh dari sana.

" Hmmm… menarik…" kata Daehyun ketika dia melihat Junhong baru saja masuk ke dalam pub itu. " Kepribadian seperti apa yang keluar kali ini?." Lanjutnya bergumam sambil ikut masuk ke dalam pub.

Suara gemuruh musik yang begitu keras menyambut, Daehyun melihat Junhong sudah duduk di barisan counter dan memesan sesuatu pada bar tender.

Daehyun memilih counter lain yang tidak terlalu dekat dengan Junhong dan mengawasi dari sana.

Junhong terlihat terus menerus meminum alkohol sedari tadi tanpa berhenti, beberapakali dia menolak dengan sedikit kasar wanita yang mengajaknya minum bersama sambil sedikit menggodanya.

" Dia kuat minum juga." Kata Daehyun yang melihat Junhong baru saja mengosongkan gelas ke 9. " Bisa-bisa Sungmin akan panik jika mencium bau alkohol darinya…" gumam Daehyun.

Dia terus menunggu Junhong dengan sabar, hingga menjelang malam Junhong keluar dari pub itu dengan keadaan mabuk. Daehyun ingin sekali membantu Junhong, tapi dia tau jika dia melakukannya bisa-bisa akan menjadi masalah karena kepribadian Junhong kali ini sangat tidak menyukainya.

Dia melihat Junhong berjalan ke tempat sampah di ujung gang untuk memuntahkan semua isi perutnya akibat terlalu banyak minum. Kakinya sedikit sempoyongan setelahnya. Tiba-tiba 3 orang berandalan menghampirinya. Daehyun tidak terlalu mendengar semua percakapan mereka, tapi Daehyun tau berandalan itu sepertinya ingin memalak Junhong yang sedang mabuk itu.

" Ck! Dia tidak akan bisa melawan mereka." Gerutu Daehyun sambil berniat membantu, tapi detik berikutnya dia melihat Junhong memukul salah satu berandalan itu dengan sangat keras.

Daehyun terdiam, karena meskipun Junhong terlihat mabuk, semua pukulannya benar-benar tepat dan cepat seperti dia tidak sedang mabuk.

" Jangan pernah cari gara-gara denganku! sekki! Berandalan lemah seperti kalian benar-benar tidak mengerti sopan santun!." Marah Junhong sambil terus memukuli mereka.

" Ya ampun… dia lebih kuat dari yang kukira…" gumam Daehyun.

Berandalan itu mencoba terus melawan Junhong, tapi Junhong lebih unggul. Junhong benar-benar memukul mereka hingga mereka tidak bisa membalas lagi.

Kemudian Junhong berjongkok di depan berandalan yang sedang merasakan nyeri akibat pukulan dari Junhong tadi. " Hey, kalian masih ingin melawanku?." Tanya Junhong masih dengan suara orang mabuk.

" Ti… tidak… maafkan kami…" kata berandalan itu.

" Jika kalian masih berani, aku akan memberi kalian pelajaran lebih dari ini. Bersyukurlah karena aku sedang malas karena mabuk." Kesal Junhong.

" Kami tidak akan melakukannya lagi… jangan pukul kami lagi…"

" Kalau begitu, mulai sekarang kalian anak buahku. Mengerti?!." Kata Junhong dengan sedikit membentak dan membuat 3 berandalan itu terpaksa mengatakan iya.

" Ba… baiklah… kami akan mengikutimu sekarang…"

" Bagus… aku sangat lelah. Aku harus pergi, aku akan menemui kalian jika ada kesempatan…" kata Junhong sambil mengambil rokok dari saku salah satu berandalan itu dan menyalakannya.

Junhong kembali berdiri dan meninggalkan berandalan itu disana. Dia meniupkan asap rokok yang baru saja ia hisap ke udara dengan perasaan lebih tenang dari sebelumnya.

" Tidak ada yang lebih baik dari pada rokok…" gumamnya sambil kembali berjalan. " Aku harus berterimakasih pada si Bodoh itu dan si Hakim, akhirnya aku bisa keluar…" lanjutnya.

Daehyun mendengarnya dari tempat ia sembunyi sekarang. Mendengar kata 'Hakim' membuatnya semakin tertarik pada Junhong. Daehyun kembali mengikuti Junhong seperti sebelumnya.

Beberapa blok terlewati, Junhong berhenti sejenak tak jauh dari sekumpulan berandalan yang sedang berkumpul di dekat gang kecil sebelah halte.

Junhong tersenyum kecil. " Ada mangsa baru…" gumamnya.

Daehyun berhenti tak jauh dari halte itu melihat Junhong yang berjalan ke arah berandalan, dan secara sengaja menendang kaki salah satu berandalan itu.

" Ya! apa kau tidak punya mata, hah?!." kesal berandalan itu sambil bangkit dan menantang Junhong. Sedangkan Junhong balik menatap berandalan itu tanpa rasa takut.

" Jika kau bisa melihat kedua mataku, kenapa masih Tanya?." Kata Junhong.

" Hey, kau jangan macam-macam dengan kami." Bela teman berandalan yang lain.

" Cih, kalian tidak perlu ikut-ikut jika kalian tidak ingin dapat masalah juga." Kata Junhong malas.

" Kau meremehkan kami?!."

" Iya." Sahut Junhong enteng.

" Sialan!." Umpat berandalan itu dan mulai memukul Junhong. Detik berikutnya terjadi perkelahian disana. Beberapa pejalan kaki yang melintas terlihat ketakutan dan menghindari daerah itu.

Daehyun terlihat khawatir, jalan itu tidak terlalu ramai, tak banyak orang yang lewat sehingga tak akan ada yang membantu melerai karena semua pukulan mereka terlihat benar-benar kuat dan keras, tentu tak ada yang ingin terpukul ketika mencoba melerai.

Dia bisa melihat kilatan mata Junhong yang sangat berbeda, penuh amarah dan kekerasan, Daehyun bisa merasakan amukan Junhong pada kepribadian ini dan sebaiknya dia tidak meremehkan yang satu ini. Daehyun ingin tau cerita apa yang membentuk kepribadian yang kasar seperti itu. Meski dia menerima pukulan yang tak kalah keras dari lawannya, dia tidak terlihat memusingkannya, yang ia lakukan hanya terus pukul, pukul, pukul, pukul, dan pukul.

Butuh waktu agak lama bagi Junhong untuk menumbangkan para berandalan itu. Pukulan terakhir menjatuhkan berandalan yang tadi ia tendang kakinya saat ia berjalan. Junhong mengusap darah di ujung bibirnya dengan kasar.

" Apa Cuma segini pukulan kalian? Menyedihkan sekali!." Ejek Junhong. " Jika aku melihat kalian lagi, aku tidak akan ragu membunuh kalian." Tambahnya sambil menendang salah satu perut berandalan yang sudah limbung itu.

" Kalian harus tunduk padaku mulai sekarang!." Bentak Junhong kasar. Tak perlu jawaban atas itu para berandalan itu sudah pasti mengerti dilihat dari raut wajah mereka yang sudah menyerah.

Junhong berjalan ke halte yang kosong itu dan duduk disana. " Lumayan juga pukulannya." Gumam Junhong sambil menghapus bekas darah di pelipisnya.

Setelah menghabiskan satu batang rokok, Junhong kembali berjalan ke arah kota, masih dengan Daehyun yang mengikutinya.

Tiba-tiba dia melihat Junhong memegang kepalanya sambil mendesis kesakitan, langkah berikutnya Junhong terjatuh masih sambil memegang kepalanya. Daehyun ingin sekali menolong, bahkan dia sudah berada tepat di belakang Junhong sekarang.

" Sial! Suatu saat akan kubunuh hakim itu…" gerutunya.

Daehyunpun memutuskan untuk membantu Junhong saat itu. " Hey, apa kau baik-baik saja?." Tanya Daehyun sambil membantu Junhong berdiri.

Kali ini bukan tatapan dingin yang ia dapat seperti sebelumnya, tapi tatapan yang lebih biasa.

" Terimakasih." Kata Junhong. Suaranyapun lebih tenang dari pada yang tadi meskipun masih sedikit lebih berat.

" Apa yang terjadi padamu?." Tanya Daehyun lagi.

Junhong terlihat sedikit terkejut melihat beberapa luka di badan dan wajahnya. " Apa kau melihat apa yang terjadi?." Tanya Junhong.

" Nde."

" Heish… maafkan aku. Kau pasti sedikit takut." Katanya.

Daehyun tau ini masih bukan Junhong. Cara bicara Junhong tidak akan selancar dan bersahabat ini.

" Takut kenapa? Tidak ada yang kutakutkan darimu. Sebaiknya kau mengobati lukamu dulu. Ada apotek di dekat sini." Kata Daehyun.

" Baiklah." Sahut Junhong.

Daehyunpun segera mengajak Junhong ke apotek dan membeli beberapa obat dan plester untuk Junhong dan mengobatinya di depan apotek itu.

" Siapa namamu?." Tanya Junhong.

" Daehyun. Jung Daehyun." Jawab Daehyun. " Kau sendiri?." Lanjutnya.

" Bang Yongnam."

" Apa kau mengenal Choi Junhong?." Tanya Daehyun.

Tiba-tiba Junghong atau saat itu adalah Yongnam menatap Daehyun dengan tatapan terkejut. " Kau teman Junhong?." Tanyanya.

" Kurang lebih seperti itu." Jawab Daehyun.

" Kuharap kau bisa menjaga Junhong dengan baik." Kata Yongnam.

" Banyak hal yang ingin kutanyakan padamu." Kata Daehyun.

" Tapi aku tidak akan menjawab semua pertanyaanmu mengenai kami. Bagi Junhong kau adalah orang asing." Kata Yongnam.

" Orang asing? Bagaimana kau menyimpulkan itu?." Tanya Junhong.

" Hakim mengatakan demikian." Jawab Yongnam.

Topik mengenai Hakim benar-benar membuat Daehyun sangat penasaran. Dia ingin tau seperti apa Junhong menciptakan sistem kepribadian di dalam otaknya.

" Siapa Hakim yang kau maksud?." Tanya Daehyun.

" Kau akan tau dengan sendirinya nanti, setelah Junhong tidak tak lagi menganggapmu sebagai orang asing." Jawab Yongnam.

" Aku melihatmu berkelahi." Kata Daehyun.

" Sepertinya Hakim mengeluarkan kembaranku…" gumamnya.

" Kembaran?." Tanya Daehyun tidak mengerti.

" Nde. Aku mempunyai kembaran bernama Bang Yongguk. Dia selalu seperti itu, kasar dan suka sekali berkelahi." Jawabnya.

Daehyun sedikit terkejut karena Junhong memiliki kepribadian yang kembar, ini benar-benar diluar dugaannya. Daehyun tersenyum kecil masih fokus menyembuhkan luka Junhong.

" Ada berapa banyak kepribadian yang diciptakan Junhong?." Tanya Daehyun.

" Cukup banyak untuk bisa melindunginya." Jawab Yongnam mantap.

" Melindungi?."

" Nde. Kau cukup perhatian juga. Hakim bilang, kau akan berguna suatu saat nanti." Kata Yongnam.

Daehyun tau, menanyakan mengenai Hakim untuk saat ini tak akan mendapat jawaban apapun.

" Jika kau memiliki seorang kembaran yang memiliki sifat keras seperti itu, maka bagaimana dengan sifatmu?." Tanya Daehyun.

" Aku dan Yongguk adalah kepribadian yang bertolak belakang. Dia adalah kepribadian yang rusak sedangkan aku adalah kepribadian yang utuh. Aku adalah penyeimbangnya. Semua rasa utuh akan kehidupan yang dilalui Junhong berada padaku. Karena itulah aku dilahirkan bersama dengan Yongguk yang memiliki rasa penyesalan, kekesalan, dan amarah. Hanya aku yang bisa menghentikan Yongguk. Kami sama-sama kuat dan bisa melindungi." jawab Yongnam.

" Apa yang kalian lindungi?." Tanya Daehyun.

" Pencipta kami. Choi Junhong."

" Apa semua kepribadian seperti itu? Bagaimana mereka melindungi Junhong?."

" Hampir semua seperti itu. Dan setiap kepribadian memiliki cara mereka sendiri untuk melindungi Junhong. Semua berjalan seperti mekanisme yang sempurna." Jawab Yongnam.

" Bagaimana kau mengetahui bahwa Junhong masih menganggapku orang asing? Kau tidak ada disana saat kami bicara." Kata Daehyun.

" Hakim selalu mengetahui segalanya. Dia hanya mengatakan apa yang penting saja pada kami. Semua yang dilakukan oleh Junhong diketahui olehnya." Kata Yongnam.

" Jika aku orang asing bagi Junhong, kenapa kau memberitahuku mengenai kepribadian ini?." Tanya Daehyun.

" Hakim bilang ini adalah informasi biasa, jadi aku boleh mengatakan apa yang Hakim bilang boleh katakan padamu, dia masih menilai orang seperti apa kau ini. Jadi lebih baik kau benar-benar akan berguna untuk Junhong suatu saat nanti. Kami butuh orang luar yang bisa melindungi Junhong." kata Yongnam.

" Apa Hakim itu juga mendengar apa yang kita bicarakan sekarang?." Tanya Daehyun.

" Tentu." Jawab Yongnam. " Aku harus segera kembali pulang sebelum kakak Junhong mencemaskan Junhong." kata Yongnam sambil bangkit berdiri.

" Aku sudah menelfonnya tadi. Aku mengatakan kau bersamaku. Aku tau dia pasti sudah cemas jika Junhong pulang terlambat." Kata Daehyun.

" Terimakasih." Sahut Yongnam sambil melanjutkan jalannya.

" Aku akan mengantarmu. Jika hanya kau saja Sungmin pasti masih akan mencemaskan Junhong." kata Daehyun.

" Arasseo." Sahut Yongnam.

Merekapun segera kembali pulang dengan naik bus. Daehyun benar-benar senang bisa mengetahui banyak hal menyenai keperibadian lain yang ia temui hari ini. Selain itu Yongnam adalah kepribadian yang bisa diajak berbicara lebih serius mengenai banyak hal.

" Hey, apakah kau juga bisa berkelahi seperti Yongguk?." Tanya Daehyun.

" Tentu saja. Aku dan Yongguk adalah kembar, beberapa hal dari kami masih sama." Jawab Yongnam.

" Aku melihat kembaranmu mencopet tadi." Kata Daehyun.

" Itu salah satu keahliannya, dia sangat pintar mencuri. Kau harus berhati-hati, apapun yang kau bawa bisa dengan mudah ia ambil tanpa kau sadari. Terkadang itu menguntungkan, terkadang tidak." Jawab Yongnam.

" Lalu bagaimana reaksi Junhong jika dia tiba-tiba mendapat luka seperti itu tanpa dia tau sebabnya." Tanya Daehyun.

" Itu tergantung masing-masing kepribadian." Jawab Yongnam. " Terkadang, ada ingatan yang di ganti sebelum Junhong keluar setelah kami melakukan sesuatu terhadap tubuhnya." Kata Yongnam.

" Mengganti ingatan?." Tanya Daehyun tidak mengerti.

" Benar. Kami bisa mengganti ingatan Junhong selama kami yang melakukan aktivitas. Aku bisa saja mengganti ingatan Junhong, seperti ketika Yongguk menggunakan tubuh Junhong untuk berkelahi hingga terluka, dan ketika nanti Junhong kembali menguasai tubuhnya yang ia ingat dia terjatuh dari sepeda dan mendapat luka. Seperti itulah kami menyembunyikan pengalaman yang tidak di lakukan oleh Junhong. Tapi kebanyakan para penyeimbang yang harus melakukannya, karena kami yang bertanggung jawab atas kepribadian yang tidak baik." Kata Yongnam.

" Ternyata sampai seperti itu ya."

" Benar. Tiap kepribadian menyimpan ingatan-ingatan asli yang pernah mereka lakukan."

" Kenapa kalian menyembunyikannya?." Tanya Daehyun.

" Itu perintahnya. Untuk melindungi Junhong. Selain itu, karena ingatan itu tidak diinginkan oleh Junhong." jawab Yongnam.

" Tidak diinginkan?."

" Ya. Lagipula Junhong tidak memperbolehkan kami untuk menceritakan apa yang terjadi padanya. Kau tidak akan tidur nyenyak jika mendengar kisah hidupnya." Kata Yongnam sambil tersenyum tipis.

' Apa yang sebenarnya terjadi pada Junhong? Apa yang membuatnya sampai bisa menciptakan sebuah sistem di tiap kepribadiannya?...' batin Daehyun.

.

.

.

.

.:: To Be Continued ::.

.

.

.

.

Junhong and Other Personalities :

Choi Junhong – The Creator

.

The Joker – The Judge

Kris – The Leader

Kim Ravi – The Psycho

Park Hyomin – The Affection

Kim Hansol – The Childish

Jeon Hojoon – The Sickness

Jang Hanbyul – The Knowledge

Bang Yongguk – The Broken

Bang Yongnam – The Intact

.

.

.

.

A/N :

ANNYEOOOOOOOOOONGGGG~~~~~ apa kabar reader-deul? Mian saya sudah mem-php kalian selama berbulan-bulan nggak update. Itu dikarenakan hari dimana aku terakhir update hapeku di maling orang. Aku juga nggak bisa ngehubungi kalian jadinya. Dan otomatis nomerku yang lama uda g aktif (yang 08976447225), aku uda coba ngurus nomernya lagi tapi gabisa. Kalo kalian mau hubungi aku lagi ke nomor ini aja (082234814669)

Dan juga dikarenakan terlalu banyak judul yang terbengkalai, jadilah makin lama updatenya, apalagi bulan puasa komputerku rusak, jadi bertambah deh telatnya.

Dan jangan bingung karena aku ganti pen name lagi di ffn. Tapi kayaknya aku bakal pake nama Thursday Soda untuk seterusnya.

Dan kuharap update-ku kali ini bisa menenangkan hati kalian, yah walopun aku yakin kalian rada nggak puas dengan chapter-chapter yang ku-apdate, tapi aku semaksimal mungkin coba yang terbaik.

Apalagi ff punch ini agak berat, jadi aku harus ngenalin tiap kepribadiannya. Masih banyak lagi yang belum keluar, di chapter ini aku milih si kembar Yongnam dan Yongguk yang keluar, walopun maksa banget sih ceritanya menurutku. Dan nanti akan ada cover baru untuk Punch, yah walopun Cuma aku edit dikit doang sih. Ntar aku posting di FB-ku (Skinner Hyung) aku selalu kasih pengumuman kalo aku update, buat kalian yang pingin ngobrol-ngobrol bisa chat fb ato sms langsung, semua info ada di profile akun ffnku.

Juga jangan lupa support 3 ff baruku (One Shot, Coma, 어디니 뭐하니) kalo kalian pingin baca ff tema school life dengan cast 25 boyband yang berbeda dalam satu ff kalian bisa baca ff One Shot. Yang suka musik bisa lihat Vintage (bagian musik-nya masih di chap-chap depan sih) yang suka Humor dagelan boleh lihat Warrior ato Bow Wow /ceritanya lagi promosi /plak

FF 어디니 뭐하니 juga ff tentang kejiwaan kok, jadi kalian yang suka juga boleh kepoin baca ff tsb.

Oke sampe disini dulu ngobrolnya, see you next chapter!

KEEP SWAG GUYS!

.:: Mind To Riview? ::.