Being Genius Is Painful

.

Sakura tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apakah pembedahan otak yang dijalani Sasuke berhasil; atau sebaliknya, berujung pada kegagalan. Kepanikan menguasai dirinya tatkala melihat tempat tidur Sasuke kosong.

Kenapa Sasuke meninggalkan kamar rawatnya? Apakah dia baik-baik saja?

Sakura baru akan berlari keluar untuk mencari Sasuke ketika dia menyadari pintu kamar mandi terbuka. Ragu-ragu Sakura melongok ke dalam. "Sasuke-kun?"

Ternyata lelaki itu benar di sana. Dia sedang berdiri di depan wastafel, bergeming menatap pantulan dirinya di dalam cermin besar, sementara satu tangannya memegang kepalanya yang dililit rapat dengan perban putih.

"Di sini rupanya." Sakura menghela napas lega. Namun kelegaan itu hanya sesaat begitu menyadari kegundahan tercetak di wajah lelaki itu. "Kau baik-baik saja, Sasuke-kun?"

Sasuke mengangguk. Tapi kegundahan di wajahnya tidak hilang. "Aku sehat. Tapi aku tidak merasa berbeda. Sakura-san, jangan-jangan operasi itu gagal. Aku tidak merasa jadi pintar."

Sakura melangkah ke dalam kamar mandi, berdiri di sebelah Sasuke. Mata zamrudnya menatap bayangan Sasuke di cermin. Dia tersenyum lembut, "Di dunia ini tidak ada hal yang instan, Sasuke-kun. Semua ada prosesnya."

"Aku tidak mengerti," gumam Sasuke, tatapannya polos mencari jawaban di wajah gurunya.

Sakura tersenyum sekali lagi. Kemudian menuntun Sasuke kembali ke tempat tidurnya. Membiarkannya duduk di sana. Dia sendiri duduk di kursi, menatap lembut Sasuke dari pinggir tempat tidur.

"Maksudku, semua terjadi secara bertahap. Selangkah demi selangkah. Kau tidak bisa langsung jadi pintar dalam sekejap seperti sulap. Kau butuh waktu untuk berkembang, seperti menanam pohon. Butuh waktu untuk melihat tunasnya keluar, juga butuh waktu untuk melihatnya tumbuh besar. Selain itu kau juga harus bekerja keras, Sasuke-kun."

Kedua alis Sasuke mengerut. "Kalau aku masih harus bekerja keras, untuk apa aku dioperasi?"

"Operasi itu membantumu, Sasuke-kun," kata Sakura, tetap dalam kelembutan tuturnya. "Dulu ketika kau bekerja keras untuk jadi pintar, bagian di dalam kepalamu tidak bekerja dengan baik sehingga kau kesulitan dalam belajar. Setelah menjalani operasi, bagian di kepalamu itu akan bekerja lebih baik. Kau akan mengerti banyak hal tanpa kesulitan seperti dulu."

"Begitu, ya ..."

Kegundahan masih tergambar jelas di wajah Sasuke. Dia tampak tidak yakin dengan dirinya sendiri. Membuat Sakura cemas, apakah Sasuke bisa menjalani penelitian sampai selesai. Seketika saja keraguan muncul dalam hati Sakura. Sudah benarkah dia membiarkan Sasuke menjalani eksperimen ini? Apakah Sasuke akan baik-baik saja?

"Sakura-san bawa hadiah untukku?" tanya Sasuke, membuyarkan lamunannya.

Sampai-sampai Sakura baru ingat dengan sekantung jeruk dan sekotak kue cokelat yang khusus dibawanya untuk Sasuke. Juga jus tomat kesukaan lelaki itu. Lihatlah begitu Sakura memberikan padanya, mata indahnya berbinar-binar senang. Cengirannya mengembang lebar, Sasuke berterima kasih pada Sakura.

"Sakura-san juga bawa bunga untukku? Aku senang sekali. Terima kasih. Bunganya cantik seperti Sakura-san."

Wanita itu mana mungkin bisa menyembunyikan rona merah di pipinya. Ini bukan pertama kali dirinya dipuji oleh seorang lelaki. Tapi bila Sasuke yang mengatakannya, entah mengapa dia tidak bisa menahan diri untuk tidak tersipu.

"Wajah Sakura-san merah. Sakura-san kena demam? Kita harus panggil perawat—"

"Tidak apa-apa, Sasuke-kun. Aku baik-baik saja. Aku tidak kena demam."

Sasuke sedikit memiringkan kepalanya, menatap Sakura bingung. "Tapi kenapa wajah Sakura-san merah?"

"Ini ..." Wajah Sakura saat itu justru semakin merah matang. Kehabisan kata-kata, Sakura mengalihkan pembicaraan saja. "Bagaimana operasinya, Sasuke-kun? Tidak sakit, kan?"

Dengan polosnya Sasuke langsung melupakan soal wajah merona.

"Tidak sakit, sih. Sepertinya mereka mengoperasiku saat aku tidur. Tadi malam aku dibawa ke ruangan bercat hijau yang banyak lampunya. Di sana juga banyak orang berpakaian hijau dan mulutnya ditutupi masker seperti Kakashi-san, tapi di sana tidak ada Kakashi-san. Orang yang aku kenal cuma Tsunade-sensei dan Profesor Sarutobi.

"Aku jadi gugup karena terlalu banyak orang, perutku jadi mulas seperti diremas. Lalu Profesor Sarutobi menepuk pundakku, bilang santai saja. Tsunade-sensei memakaikan alat seperti topeng yang ada belalainya ke mulut dan hidungku. Ada aroma memusingkan keluar dari alat itu, membuatku mengantuk. Lalu aku tertidur. Saat aku bangun, semuanya gelap. Kakashi-san bilang itu karena mataku ditutupi perban, kepalaku juga. Kakashi-san bilang operasinya sudah selesai. Aku lega itu tidak terasa sakit."

Lalu tiba-tiba wajah Sasuke berubah muram. "Tapi aku tidak boleh bawa buku Itik-Buruk-Rupa-ku ke ruang operasi. Mereka mengambilnya ..."

"Mereka hanya menyimpannya sebentar, Sasuke-kun," kata Sakura, berusaha menghibur karena mata Sasuke kini berkaca-kaca. "Jangan sedih. Nanti biar aku yang akan meminta bukumu pada mereka."

"Maksudmu, buku ini?"

Sakura dan Sasuke serempak menoleh pada pria yang baru saja memasuki kamar. Kakashi Hatake, si pria berambut perak nyentrik yang tak bisa dikenali sebagai seorang peneliti tanpa jas putihnya. Dia membawa buku dongeng berjudul Itik Buruk Rupa di tangannya.

Sasuke langsung memeluk buku itu begitu Kakashi menyerahkan padanya. Mendekapnya erat-erat di dada, seakan-akan dia tidak akan pernah melepas buku itu lagi untuk selamanya.

"Peraturan standar pembedahan, dilarang membawa benda apapun selain peralatan bedah ke ruang operasi," kata Kakashi pada Sakura, meski wanita itu sudah paham apa alasannya. Mungkin Kakashi hanya tidak ingin terlihat seperti orang yang kejam, setelah merampas benda berharga milik orang tak berdaya.

Kedatangan Kakashi ke kamar rawat Sasuke adalah jadwal rutin harian. Untuk memeriksa kondisi tubuh Sasuke pasca-operasi, bagaimana suasana hatinya, dan lain sebagainya. Harus Kakashi sendiri yang memeriksanya karena dia perlu membuat laporan untuk data penelitian. Semua laporan itu harus dia serahkan pada Profesor Sarutobi.

Kakashi juga membawa sebuah buku tulis untuk Sasuke. Dia meminta Sasuke melanjutkan menulis Laporan Kemajuan secara rutin, semacam catatan harian. Dan masih sama seperti sebelumnya, Sasuke boleh menuliskan apa saja dalam laporannya. Tapi kali ini, Kakashi juga meminta agar Sasuke lebih banyak menulis tentang apa yang dia rasakan setelah menjalani operasi, atau sesuatu tentang ingatan masa lalu. Apapun itu, tidak boleh ada yang terlewat.

Setelah meninggalkan kamar Sasuke, barangkali Kakashi melihat kemurungan di wajah Sakura. Wanita itu termenung sepanjang lorong rumah sakit, juga tidak bicara apapun.

"Kau baik-baik saja?"

Sakura terkesiap, matanya mengerjap-ngerjap seperti orang yang baru saja tersadar dari hipnotis. Dia baru sadar sejak tadi Kakashi memperhatikannya.

"Aku hanya memikirkan tentang Sasuke," kata Sakura.

Mengingat bagaimana wajah Sasuke saat di kamar mandi tadi, saat kegundahan membungkus sorot matanya. Meskipun Sakura berusaha membesarkan hatinya, lelaki itu tetap tidak kelihatan yakin pada dirinya sendiri. Sasuke seperti orang yang kehilangan kepercayaan diri. Sama sekali berbeda dengan Sasuke yang duduk di ruangan Tsunade, Sasuke yang memantapkan hati untuk menjadi objek penelitian, tekadnya begitu besar untuk jadi pintar demi bisa bertemu dengan ibunya. Sasuke yang duduk di atas ranjang pasca-pembedahan otak itu sungguh berbeda.

Mata zamrud Sakura menatap Kakashi dalam keragu-raguan yang besar. "Apakah Sasuke akan baik-baik saja dengan percobaan ini?"

Kakashi menghela napas sejenak.

"Hachiko butuh waktu berbulan-bulan untuk bisa menjadi tiga kali lebih pintar daripada sebelumnya. Sasuke menjalani operasi yang sama dengannya. Jadi, kemungkinan besar dia akan mengalami efek yang sama dengan Hachiko beberapa bulan lagi. Bukankah Tsunade sudah mengatakannya padamu? Selama Hachiko baik-baik saja, maka selama itu Sasuke juga akan baik-baik saja."

Pria jangkung itu tersenyum di balik maskernya. Pelan menepuk pundak Sakura. "Jika dia banyak memikirkan tentang perkembangan dirinya, itu adalah salah satu pertanda baik. Bukan, begitu? Otaknya mulai aktif bekerja. Mulai banyak yang akan dia pikirkan. Jangan heran kalau nanti dia mempertanyakan banyak hal padamu." Kakashi tertawa renyah.

Sakura bisa tersenyum sedikit sekarang. Barangkali Kakashi benar. Semoga saja.

"Setelah keluar dari rumah sakit, Sasuke akan tinggal sementara di Lab untuk menjalani banyak tes. Kau boleh sering-sering mengunjunginya," kata Kakashi.

Sakura mengangguk.

Mata zamrudnya sekali lagi menatap Kakashi, kali ini tampak begitu serius. "Meskipun Sasuke adalah objek eksperimen, aku mohon kalian tetap memperlakukannya layaknya manusia. Perhatikanlah perasaannya. Jangan samakan dia dengan tikus percobaan."

Kakashi tersenyum. "Aku mengerti. Kau bisa mengandalkanku, Sakura."

Tak ada lagi yang bisa dilakukannya. Wanita itu tidak punya pilihan selain percaya pada Kakashi Hatake.

...

Sasuke keluar dari rumah sakit enam hari setelah pembedahan. Seperti yang sudah diberitahukan Kakashi pada Sakura, untuk sementara Sasuke akan tinggal di Laboratorium Kejiwaan, Pusat Pengujian Universitas Konoha. Dibuatkan sebuah kamar untuknya. Ruangan yang tidak terlalu besar, cukup untuk menampung tempat tidur ukuran satu orang, sebuah meja dan kursi belajar, serta satu rak buku setinggi pinggang. Ada sebuah jendela menghadap langsung ke taman belakang kampus. Sasuke sangat menyukai jendela itu.

"Aku bisa melihat orang-orang dari sini," kata Sasuke pada Sakura, saat kunjungan pertamanya setelah Sasuke keluar dari rumah sakit. "Aku suka melihat mereka bercakap-cakap. Kelihatannya membicarakan hal-hal penting. Apa itu yang selalu dilakukan orang-orang pintar? Kelihatannya hebat."

"Suatu saat kau akan jadi bagian dari orang-orang itu, Sasuke-kun. Suatu saat kau akan tampak sama hebatnya seperti mereka."

Lelaki bermata indah itu menyeringai lebar.

Dari hari ke hari Sasuke menjalani banyak tes yang tidak jauh berbeda dengan tes-tes sebelum pembedahan otak. Menebak gambar-gambar di buku. Menyelesaikan permainan bongkar-pasang. Atau melakukan berbagai macam perlombaan berbeda dengan Hachiko. Sasuke harus mengulang tes-tes itu. Karena itu berguna untuk mengukur kecerdasannya; apakah bertambah setiap harinya, atau justru menunjukkan hal lain.

Namun ada satu ketika Sasuke tampak jengkel dan muak dengan tes-tesnya.

"Semua permainan dan perlombaan ini tolol," gumam Sasuke, menjatuhkan begitu saja ke lantai tongkat logam yang biasa dia gunakan untuk balapan labirin dengan Hachiko.

Kakashi yang semula sedang serius menulis di papan laporannya, teralihkan perhatiannya oleh suara berdentang keras yang ditimbulkan Sasuke. Matanya mengikuti arah langkah Sasuke ke tempat duduk. Kakashi diam saja, tidak mengatakan apapun untuk menumbuhkan kembali semangat Sasuke ataupun untuk menegur akibat sikap kasar yang selama ini belum pernah diperlihatkan Sasuke.

Di tempat duduknya, raut wajah Sasuke mengeras. "Semuanya sia-sia. Aku tidak merasakan perubahan di kepalaku. Aku tidak merasa pintar. Kapan aku bisa pintar?"

Sakura turun tangan. Dia duduk di sebelah Sasuke, tersenyum lembut padanya. "Kau lihat pohon di luar sana, Sasuke-kun?" tangannya menunjuk ke luar jendela. "Pohon itu begitu besar, daunnya lebat, melindungi siapapun yang berteduh di bawahnya, menyumbang banyak oksigen di sekitarnya. Butuh waktu bertahun-tahun untuknya bisa sebesar itu.

"Dan kau lihat kupu-kupu yang sering kali hinggap pada bunga-bunga yang tumbuh dari pohon itu? Mereka tidak lahir dengan wujud seperti itu. Mereka menetas dari telur dalam bentuk ulat. Setelah dewasa mereka membungkus diri di dalam kepompong, selama beberapa hari, ada yang beberapa minggu, sebelum akhirnya berubah menjadi kupu-kupu yang cantik. Butuh waktu yang tidak sebentar. Dan butuh kesabaran untuk melaluinya."

Sakura tersenyum lagi. "Itulah yang dinamakan proses, Sasuke-kun. Butuh waktu dan kesabaran. Dan untuk hasil yang terbaik, juga perlu ditambah kegigihan dan kerja keras."

Sorot kedua mata Sasuke tampak melunak. Pandangannya tertunduk.

Tangan Sakura menepuk pelan pundak lelaki itu. "Sasuke-kun, aku percaya kau bisa melaluinya. Kau akan jadi pintar. Dan suatu hari, kau akan bertemu dengan ibumu. Itu harga yang pantas untuk semua kerja kerasmu sekarang."

Ketika wajahnya terangkat, Sasuke tidak mengatakan apa-apa. Dia bangkit dari tempat duduk, melangkah ke dekat meja labirin, lalu mengambil tongkat yang tadi dihempaskannya ke lantai.

"Aku akan berusaha," katanya pada Sakura. Mata hitamnya berkilat penuh keyakinan.

Setelah kejadian hari itu, Sasuke melakukan seperti yang dia katakan. Dia berusaha dengan keras. Perkembangan mentalnya mulai terlihat cukup signifikan ketika dia menebak gambar-gambar di dalam buku tes. Dia juga sudah mampu menyelesaikan permainan bongkar-pasang, walaupun waktu penyelesaiannya belum mencapai target. Namun perlahan tapi pasti dia bisa melaluinya. Dia juga mulai memenangkan balapan dengan Hachiko. Hanya satu kali kalah, berikutnya dia selalu memecundangi tikus putih yang sudah lebih dulu jenius darinya itu.

Karena Sasuke tidak perlu lagi datang ke SLB, Profesor Sarutobi meminta Sakura untuk khusus mengajarinya di Lab. Membantunya melancarkan bacaan. Mengoreksi ejaannya. Juga mengajarinya macam-macam tanda baca.

Setelah menguasai itu, Sasuke mengeluh ketika membaca kembali Laporan Kemajuannya yang lama. Semua ditulisnya dengan tanda baca yang kacau, dan ejaan yang berantakan. Sasuke ingin membetulkannya. Tapi menurut Sakura itu tidak perlu, biarkan apa adanya saja. Itulah kenapa Kakashi memintanya menyimpan laporan kemajuan itu setelah membuat salinannya untuk mereka simpan. Laporan-laporan itu pasti penting untuk melihat perkembangannya.

Sakura mulai memberi Sasuke novel klasik karya penulis Barat maupun penulis dalam negeri untuk dibacanya. Novel-novel tentang pengembangan diri. Beberapa novel jalan ceritanya masih agak rumit untuk Sasuke pahami, ditambah lagi dengan kemampuan membacanya yang belum begitu sempurna. Tapi Sasuke tetap berusaha menghabiskan semua novel itu satu per satu.

Sakura pikir membaca novel-novel itu amat berguna untuk kematangan berpikir Sasuke. Bersamaan dengan itu juga dapat melatih kemampuan membacanya. Novel pertama yang hanya setebal 300-an halaman dibacanya hingga selesai dalam waktu hampir tiga minggu. Novel kedua dengan ketebalan yang tidak terlalu berbeda mulai mampu dihabiskannya lebih cepat, delapan hari. Novel-novel berikutnya bahkan hanya tiga hari. Terbukti kemampuan membacanya meningkat begitu cepat. Hari-hari kemudian Sasuke tidak lagi hanya membaca novel. Sakura membawakannya buku-buku sejarah, ilmu bumi, dan ilmu hitung.

Sasuke juga mempelajari bahasa asing. Jerman, Rusia, Latin, Arab, Ibrani, India, Mandarin. Hanya dengan rajin membaca kamus, atau mendengarkan rekaman suara berbahasa asing seperti mendengarkan musik; Sasuke berhasil menguasai tiga bahasa dalam waktu kurang dari dua minggu.

Sasuke mendapatkan nilai sempurna dalam tes pengetahuan umum. Dengan wajah cerah dia tunjukkan kertas hasil ujiannya pada Sakura. Membuat Sakura berdecak kagum. Apalagi ketika Sakura mendengar hasil tes IQ Sasuke yang diberitahukan Kakashi, angka 80 pada tes ke dua sejak empat minggu pasca-operasi. Dan meningkat 9 angka pada tes dua minggu berikutnya. Itu pertanda yang benar-benar baik.

Sebuah optimisme tumbuh makin tinggi di hati Sakura, keyakinan bahwa Sasuke akan bisa melalui ini. Sasuke akan setara dengan yang lain. Itu tidak lagi terlihat seperti sebuah mimpi semu.

...

Musim semi bergulir ke musim panas. Tepat dua bulan pasca-operasi menjadi pintar, Sasuke dibolehkan kembali ke kediaman Teuchi, orangtua angkatnya.

Sasuke tampak sudah begitu jenuh dengan semua tes yang harus dijalaninya setiap hari di Lab, sementara hiburannya hanya membaca atau berlomba dengan Hachiko—yang lama-lama juga jadi hal membosankan untuknya. Bertemu dengan banyak orang mungkin bisa membuat suasana hatinya stabil, dan melakukan suatu pekerjaan boleh jadi berguna untuk mematangkan daya pikirnya. Lagi pula saat ini IQ-nya 100. Berdasarkan semua pertimbangan itu, Profesor Sarutobi mengizinkannya pulang. Dengan syarat Sasuke tetap rutin datang ke Lab untuk menyerahkan Laporan Kemajuan hariannya, serta menjalani beberapa tes yang masih diperlukan.

Sore itu Sakura mampir ke kedai Ramen Teuchi untuk mengunjungi Sasuke, membawakan novel baru untuk dibacanya. Namun Sasuke tidak tampak seperti biasanya. Wajahnya murung. Tidak bicara apapun sepanjang sisa sore membantu Teuchi mengangkut mangkuk-mangkuk kotor dan mengelap meja. Sakura juga hampir tidak percaya dengan matanya sendiri saat melihat Sasuke tidak membawa-bawa buku dongeng Itik-Buruk-Rupa-nya selama bekerja. Bukankah sebelumnya itu menjadi hal yang mustahil?

"Kau baik-baik saja, Sasuke-kun?" tanya Sakura ketika akhirnya lelaki itu punya kesempatan untuk duduk bersamanya di salah satu meja. Kedai baru saja tutup.

Pandangan Sasuke tertunduk menatap permukaan meja, tampak menghindari tatapan mata Sakura. "Aku tidak baik-baik saja," jawabnya muram.

Sejenak Sakura terdiam. Tangannya bergerak sedikit, menarik kembali novel tebal di hadapannya. Sakura urung menyerahkan novel itu pada Sasuke. Setidaknya bukan dalam suasana hatinya yang kelihatan sedang tidak baik itu.

"Tubuhku sehat, tubuhku baik-baik saja. Tapi sakit yang kurasakan asalnya dari sini," Sasuke mencengkram dada kirinya. Samar-samar dia meringis, merasakan sakit yang dikatakannya itu. Seakan-akan ada luka yang menganga besar di dalam sana.

Napas Sakura rasanya seperti tercekat di tenggorokan demi melihat Sasuke seperti itu.

"Apa yang terjadi, Sasuke-kun?"

Lelaki itu menghela napas panjang yang berat sebelum menceritakan kegundahan hatinya.

"Beberapa hari yang lalu setelah kedai tutup, Hidan dan Suigetsu mengajakku ke sebuah kelab malam. Di sana Suigetsu mentraktirku beberapa gelas minuman, aku tidak tahu apa namanya, rasanya aneh tapi menyenangkan setelah diminum. Lalu Hidan mengenalkanku pada seorang temannya, perempuan yang cantik. Perempuan itu mengajakku berdansa di tengah ruangan.

"Kami berdansa bersama, berputar-putar seperti orang gila. Beberapa kali aku jatuh ke lantai. Tadinya kupikir itu karena kepalaku terlalu pusing, tapi lama-lama aku sadar seseorang menjegal kakiku. Saat pertama kali jatuh, semua orang di sana tertawa. Aku pun tertawa karena aku sendiri merasa lucu. Tapi setelah tahu aku jatuh karena kaki seseorang, dan semua orang menertawakanku, aku tidak lagi merasa itu sesuatu yang lucu. Saat menatap mata-mata yang memandangku, melihat bagaimana cara mereka menatapku sambil tertawa, untuk pertama kalinya aku merasa hina. Untuk pertama kalinya aku merasa tidak suka ditertawakan."

Ruangan kedai lengang, seakan-akan semua suara terserap ke dalam kelamnya pandangan Sasuke. Sepasang matanya yang indah itu telah ternodai oleh rasa sakit yang sedang mendera hatinya. Sakura tak bisa melihatnya, namun bisa dia rasakan seberapa dalam luka hati itu.

"Semua belum berakhir di situ," cerita Sasuke berlanjut. "Perempuan teman Hidan itu tiba-tiba membelai wajahku dan memelukku. Aku tidak mengerti mengapa saat itu tiba-tiba aku merasa kotor, wajahku rasanya panas, lalu darah keluar dari hidungku. Aku benar-benar tidak mengerti, tapi aku merasa malu dan bodoh. Semua orang menertawakanku lebih keras lagi. Setelah itu aku berlari pergi. Tapi kepalaku rasanya pusing sekali, sepertinya gara-gara minuman aneh yang diberikan Suigetsu. Aku jadi tidak bisa mengingat jalan pulang. Untungnya aku bertemu dengan Paman Teuchi yang memang sedang mencariku."

Saat menceritakan itu wajah Sasuke perlahan berubah merah. Awalnya merona karena malu dengan pengalamannya yang tidak biasa itu, kemudian merah wajahnya lebih tampak karena dia marah. Kedua alisnya tertekuk dalam, raut wajahnya mengeras.

"Aku merasakan sakit di dalam dadaku—di hatiku. Untuk pertama kalinya," kata Sasuke. "Selama ini aku tidak pernah menyadari, aku tidak pernah tahu bahwa Suigetsu dan Hidan mengajakku ke kelab hanya untuk membuatku ditertawakan."

Itu jelas-jelas menyakitkan. Bagi Sasuke yang selama ini telah menganggap dua orang lelaki yang disebutkan namanya itu sebagai teman, ternyata memperlakukan dirinya tidak lebih dari bahan lelucon. Dua orang yang selama ini dia anggap tulus berteman dengannya, ternyata secara terang-terangan memanfaatkan kekurangannya untuk dijadikan bulan-bulanan. Demi kesenangan mereka sendiri. Ketika Sasuke harus mengetahui itu secara langsung, kenyataan yang bertolak belakang dengan anggapannya selama ini seakan-akan menjadi pukulan telak untuknya. Menusuk tepat di hatinya. Teramat dalam, teramat menyakitkan.

Apalah salah Sasuke? Dia dilahirkan sudah dalam kondisi mental yang tidak sesempurna orang kebanyakan. Dia tidak pernah memilih itu. Lalu dunia bersikap kejam padanya seolah hidupnya belum cukup menderita. Apa salahnya?

Cepat-cepat Sakura menghapus air mata yang meluncur tanpa izin di pipinya, sebelum Sasuke melihat itu. Dia menghela napas, mencoba menguatkan hati. Berusaha tersenyum untuk Sasuke.

"Sasuke-kun, kau mulai memahami banyak hal. Hal-hal yang tadinya tidak kauketahui, sekarang mulai kaupahami. Kelihatannya operasi itu bekerja dengan baik padamu."

Sakura tersenyum lagi. "Kau tidak perlu merasa tidak enak jika orang-orang ternyata tidak sebaik yang kaukira. Bagi seseorang yang diberi sedikit oleh Tuhan, kau telah melakukan lebih banyak daripada mereka yang diberi kelebihan terutama pada otaknya tapi tidak mereka gunakan dengan baik. Kau jangan merasa sedih, Sasuke-kun. Semakin hari kau semakin mengerti banyak hal. Mungkin kau tidak menyadari, tapi kau semakin pintar, Sasuke-kun."

Lelaki itu kelihatannya mencerna baik-baik ucapan Sakura. Karena sebuah senyuman tipis melengkung dari bibirnya. Sorot matanya yang penuh luka dan kesedihan sebelum ini perlahan-lahan terang oleh cahaya kepercayaan diri yang tergambar di wajahnya.

"Mungkin kau benar, Sakura-san. Aku tidak perlu merasa sedih. Justru bagus bila aku mengerti mengapa orang-orang menertawakanku. Bagi mereka mungkin sesuatu yang lucu jika orang bodoh sepertiku tidak dapat melakukan sesuatu yang dapat mereka kerjakan."

"Jangan sebut dirimu seperti itu, Sasuke-kun. Kau mulai jadi pintar. Aku yakin tidak lama lagi kau akan melampaui mereka."

Begitulah yang Sakura pikirkan, yang juga dia yakini di dalam hati. Melihat bagaimana perkembangan kemampuan otak dan mental Sasuke dari hari ke hari, keoptimisannya terhadap keberhasilan operasi itu bukan sekadar angan-angan lagi.

Apalagi berbicara dengan Sasuke hari ini. Ada yang amat berbeda dengan lelaki itu. Hal pertama tentu saja ungkapan rasa sakit hatinya yang untuk pertama kali Sakura dengar. Meskipun Sakura tahu hal itu akan terjadi, cepat atau lambat ketika Sasuke mulai memahami sikap orang lain terhadapnya, itu jelas akan membuatnya terluka. Dan hal ke dua yang baru saja Sakura sadari adalah perubahan raut wajah Sasuke. Bukan karena ada kesedihan yang menggelapkan matanya ketika bercerita tentang perasaannya. Bukan itu.

Sasuke telah berubah, Sakura yakin itu. Tatapan matanya menjadi lebih tajam dan awas, tidak tampak lagi polos dan lugu. Ketika bertatapan langsung dengan lawan bicaranya, ada kepercayaan diri yang mulai terbentuk dalam sorot matanya. Cara bicaranya juga tidak lagi terdengar kekanak-kanakan. Kalimatnya jauh lebih teratur dibandingkan dengan Sasuke yang satu minggu lalu Sakura temui. Lelaki itu benar-benar telah berubah. Dia seperti baru saja melalui sebuah metamorfosis. Dari seekor itik buruk rupa, tumbuh menjadi seekor angsa putih yang anggun dan tangguh.

Tiba-tiba Sakura terkesiap di bangkunya, napasnya sejenak tertahan. Baru saja menyadari sepasang mata indah Sasuke sedang menatapnya.

"Ada apa, Sasuke-kun?" tanya Sakura, berlagak mengambil cangkir teh di dekat sikunya, demi menutupi rasa gugup yang datang tiba-tiba. Sepertinya dia tak sanggup menatap mata Sasuke secara langsung. Dan entah mengapa pula dadanya berdebar-debar.

"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa beruntung bisa bertemu denganmu, Sakura-san," kata Sasuke.

Wanita berambut merah muda itu tersenyum canggung. Menyeruput tehnya dengan sedikit salah tingkah. Sebelum wajahnya dibuat lebih merah lagi, dia menyerahkan novel yang dibawanya untuk lelaki itu. Setelah itu pamit pulang, dengan alasan besok pagi ada ujian.

...

Kamis sore, Sakura mengetuk pintu ruangan Dekan Fakultas Psikologi. Terdengar suara Tsunade mempersilakannya masuk. Begitu melangkah ke dalam melewati pintu yang tidak dikunci, Sakura agak terkejut melihat Gaara Sabaku sedang duduk di sofa bersama Tsunade, sepertinya sedang asyik bercakap-cakap sebelum dia datang. Seharusnya Sakura tidak lagi terkejut karena sudah mendengar alasan lelaki berambut merah itu datang ke Konoha. Pastilah yang mereka bicarakan itu tentang buku yang akan ditulisnya.

Gaara melempar senyum pada Sakura, menyapanya. Lelaki itu bangkit berdiri, lalu berjabat tangan dengan Tsunade. "Terima kasih untuk diskusinya hari ini, Sensei. Sayangnya mahasiswi kesayanganmu sudah datang, padahal aku masih ingin membahas banyak hal dengan Sensei," katanya.

"Kalau kau belum selesai, aku bisa mengatur ulang jadwal bimbinganku dengan Tsunade-sensei," sahut Sakura.

Tsunade hanya tertawa. Sementara Gaara menyeringai, sepertinya tahu betul Sakura hanya bercanda, ucapannya tadi tidak serius.

Kemudian Gaara berpamitan sungguhan dengan Tsunade, dan meninggalkan ruangan.

"Jadi, rupanya kau pernah mematahkan hati seorang laki-laki," kata Tsunade, menatap Sakura yang kini duduk di tempat Gaara sebelumnya.

Mata hijau Sakura sedikit membesar. "Eh, apa maksud Sensei?"

Tsunade mendengus tertawa sembari berjalan ke lemari kaca di seberang ruangan, mengambil sebuah cangkir. "Jangan selalu pura-pura tidak paham dengan ucapan orang, padahal ada orang lain yang otaknya tidak mampu tapi berusaha keras untuk mengerti." Cangkir itu diletakkan di hadapan Sakura, lalu Tsunade menuangkan teh hangat dari poci di atas meja ke dalamnya. "Aku melihatnya dengan jelas, Sakura. Gaara Sabaku tampak seperti korban patah hati."

"Jadi, sejak tadi kalian hanya membicarakanku? Bukannya membahas buku?"

Tsunade tertawa lagi. "Tentu saja kami hanya membahas bukunya. Kaupikir dia datang padaku untuk berkonsultasi urusan asmara?"

Sakura tak berkomentar, hanya menyeruput tehnya demi menutupi rasa canggung karena tiba-tiba harus membahas masalah yang amat tidak ingin dia bicarakan dengan orang lain.

"Aku tidak butuh ceritanya. Hanya dengan melihatnya saja, aku tahu laki-laki itu patah hati karenamu," kata Tsunade.

"Sensei bicara seperti cenayang saja," Sakura menyeletuk. Mengeluarkan laptop dari tasnya dengan harapan pembicaraan ini segera berakhir, mulai saja bimbingan tesisnya.

Tapi Tsunade justru memperpanjang topik, seolah-olah tidak paham anak didiknya tidak berminat membahasnya. "Seorang ahli kejiwaan lebih hebat daripada cenayang. Mereka tidak menebak-nebak berdasarkan ilmu gaib yang belum tentu terjadi di dunia nyata. Tapi mereka melihat dari sisi yang lebih riil—ilmu pengetahuan, sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan. Intuisi mereka lebih nyata. Seorang ahli jiwa bahkan bisa membaca sesuatu telah terjadi pada seseorang hanya dengan melihat sikap dan perilaku—"

"Bicara soal sikap dan perilaku," Sakura memotong, "Sensei tahu apa yang terjadi pada Sasuke belakangan ini?"

Pertanyaan itu bukan sekadar pengalih topik pembicaraan. Sakura hanya teringat pertemuannya beberapa hari yang lalu dengan Sasuke, serta rasa sakit hati yang diceritakan lelaki itu padanya. Sakura hanya ingin tahu. Jika Tsunade sudah dengar semuanya, barangkali dosennya itu juga punya solusi untuk Sasuke mengatasi luka hatinya.

Meskipun sore itu Sakura mengatakan pada Sasuke untuk tidak perlu sedih memikirkan sikap orang lain selama ini padanya, tetap saja Sakura mencemaskan murid lelakinya itu. Ada kekhawatiran besar di hatinya. Apa jadinya luka bila terus terpendam di dalam hati?

"Dia mendapat banyak mimpi buruk," kata Tsunade.

Sakura di tempatnya duduk menahan napas. Penasaran dengan penjelasan dosennya.

"Ini bagian dari prosesnya, Sakura. Kami perlu menyentuh alam bawah sadarnya untuk mengeluarkan seluruh kenangan masa lalu yang tersimpan di dasar memori, di benaknya yang paling dalam. Ada alat seperti televisi di kamarnya, dinyalakan selama dia tidur. Suara dari alat itu bekerja menstimulasi alam bawah sadarnya, berafiliasi dengan ingatan-ingatan masa lalu. Dan ingatan-ingatan itu muncul ke dalam mimpi."

Sejenak Tsunade menyeruput teh dari cangkirnya. Memberi jeda bagi ketegangan Sakura untuk mencapai puncaknya.

"Tapi ingatan-ingatan yang muncul menjadi mimpi itu lebih banyak adalah kenangan buruk. Kisah masa kecilnya yang pahit. Muncul secara acak, tidak berurutan. Ini bukan tahap yang menyenangkan. Tapi dengan melihat mimpi-mimpinya itu, Sasuke Uchiha akan mengenal jati dirinya. Ini bagian terpenting yang tidak bisa dilewatkan."

"Tapi, Sensei—" Sakura terkejut dengan suaranya sendiri, meninggi karena amarah yang terpercik dalam hatinya. Mengingat dengan siapa dia bicara saat ini, Sakura masih memikirkan sopan santun yang diajarkan orangtuanya sejak kecil. Sakura menurunkan intonasi suaranya, "Bagaimana dengan perasaannya? Sensei pasti tahu, kenangan-kenangan pahit itu hanya akan membuat hatinya terluka. Bagaimana jika semua kenangan itu membuatnya trauma?"

Tsunade tersenyum. Sepertinya paham dengan maksud Sakura.

"Itulah gunanya ada sesi konseling denganku, Sakura. Kau tidak perlu khawatir, dalam proses ini aku akan banyak membantunya. Kau sudah belajar banyak ilmu kejiwaan, bukan? Manusia akan belajar dari rasa sakit dan rasa senangnya. Kesedihan dan kebahagian selalu membuat karakter manusia berubah. Ke arah baik atau ke arah buruk, tergantung jalan mana yang dia pahami. Itu sebuah kematangan berpikir dari seorang manusia dewasa. Proses itulah yang sedang berusaha kami capai dalam percobaan Sasuke Uchiha."

Di tempat duduknya Sakura tak menjawab. Entah mengapa mendengar penjelasan Tsunade tidak sedikitpun membuat hatinya tenang. Rasa khawatir itu justru bertambah.

Dan entah bagaimana menjelaskannya, Sakura tidak bisa berhenti berpikir bahwa Tsunade menganggap Sasuke tak lebih dari sebuah tikus percobaan. Benarkah itu? Atau perasaannya saja?

Bersambung

[21.08.2015]