The Winter Cogitation
Chapter 4 - The German Communication Comrade
Note : Cerita ini dibuat oleh saya sendiri. Namun karakter, tempat kejadian dan komponen cerita yang berhubungan dengan cerita asli Penguin of Madagascar bukan milik saya. Melainkan Dreamworks and Nickelodeon. Karakter asli, tempat kejadian asli, dan hal-hal yang bersifat asli dan nyata disamarkan walau tidak semua karena ini hanyalah fiksi. Saya mohon maaf jika cerita ini kurang jelas dan ada kesalahan dalam penulisan, baik kosa kata maupun tata bahasa dalam cerita ini. Peringatan! Banyak sekali bahasa campuran, liar, dan gaul disini. Dan beberapa unsur kehidupan remaja. Hanya untuk umur remaja keatas! Dan unsur religi masuk dalam cerita ini!
WARNING: Cerita ini TIDAK direkomendasikan untuk pembaca yang tidak menyukai cerita panjang dan pembaca yang dibawah umur 16 tahun.
Waktu terus berlalu, Private pun terus mendukung ketiga pertandingan itu. Entah bagiku sendiri mau dukung yang mana. Jadinya aku hanya mendukung apa yang aku lihat saja. Namun, tiba-tiba Etha melintas didepanku dan menyapaku dengan berkata, "Hai Kak Wahyu. Guten Morgen.". Dia menyapaku dengan bahasa jerman, aku membalas sapaannya, "Hai juga de, Guten Morgen. Wie geht es dir?". Etha membalas dengan senyumannya yang mungkin senyumannya sudah biasa aku lihat dalam kehidupannya sehari-hari, "Es geht mir gut, danke. Und du?". Aku pun kembali menjawab dengan memberikan senyuman kembali kepadanya, "Mir geht es gut, danke.". Etha mulai duduk disampingku, dan ingin berbincang-bincang kepadaku.
"Kak, kok Smantic bersalju sih ka? tumben, biasanya Smantic gersang banget."
"Kakak juga kurang tau de kenapa, setidaknya hal ini biar Smantic kepanasan lagi kan?"
"Hehehe iya ka.. ajaib ya ka bisa kaya gini. Baru kali ini bisa merasakan dinginnya salju di Smantic."
"Yeah.. seajaibnya kaya kantong Doraemon lah de. Kenapa kamu gak bawa jaket?"
"Aku biasanya berangkat ke sekolah gak bawa jaket ka. Aku juga waktu itu lagi ada diangkot, eh tiba-tiba ditengah jalan turun salju. Ya udah deh.. aku berangkat sambil menggigil kaya gini. Tapi apa lah, aku juga masa bodo sama keadaan ini yang penting masuk sekolah."
"Nanti kamu bisa sakit loh de kalau kamu pakai jaket.. mendingan kamu pakai jaket kakak saja."
"Gak perlu kak, aku sudah terbiasa akan kondisi seperti ini."
"Tapi kakak kasihan sama kamu de.. kalau kamu sakit dan tepar ditengah jalan siapa yang mau nolongin kamu de? Nih, kakak kasih jaket kakak buat kamu"
"Nein, danke. Aku justru lebih kasihan sama kakak. Aku memang gak peduli akan keadaan diri aku saat ini ka. Yang penting aku itu jika ada maka itulah apa adanya aku. Aku lihat wajah kakak sepertinya lagi pucat, kakak sakit kan?"
"Kakak gak sakit de.. cuman tampang kakak yang kelihatannya madesu gini. Ya udah de kalau begitu.. kakak ngerti kok. Semoga kamu sehat-sehat saja."
"Iya ka.. aku pastinya sehat-sehat saja kok."
Mungkin, Etha hampir sama dengan teman sebangkuku itu. Terlihat jelas ketika aku bercakap-cakap dengannya. Mungkin kesamaan kali ini memang cukup unik bagiku. Walau unik tapi mungkin ada yang berbeda karena hanya beda gender saja.
"Etha, kamu sudah dapat foto yang itu dari Frau Ina?"
"Belum ka, kalau kakak udah dapat belum?"
"Belum juga de.. kakak juga mau ngambil bareng sama kamu dan Shinta cuman bentrok karena UAS tadi. Ya udah, jadinya kakak mau ambil foto itu sekarang. Kalau kamu mau ikut, ikut saja de. Si Shinta juga mau ngambil foto itu pas selesai jadi panitia debat nanti."
"Okay ka, aku juga mau ngambil foto itu. Aku juga penasaran sama isi fotonya itu ka."
"Kakak juga sama de.. kakak malah baru dapat foto yang dari Shinta doang."
"Aku juga sama ka.. aku juga belum upload foto yang dari sana. Hehehe."
"Jiah.. kakak juga sama de.. nunggu dari Frau dulu fotonya. Kan yang dari Frau Ina ada yang bagus buat dipajang di PP Facebook."
"Ih.. kakak ngikutin aku mulu.. aku juga sama tau. Nanti deh.. kalau kita dapat foto dari frau. Baru deh aku upload foto-fotonya."
"Okay de.. kakak tunggu uploadtan kamu ya? Oh ya.. kalau Frau Ina udah datang nanti SMS kakak ya de?
"Iya ka... aku menunggu uploadtan kakak juga nih. Hehehe."
Sebuah kesepakatan bersama telah aku lakukan dengan Etha. Walau aku sudah membuat kesepakatan dengan Shinta di Facebook, tapi aku sudah membuat kesepakatan ini bersama karena foto yang dimaksud merupakan foto kenang-kenangan ketika aku berada di Museum Nasional bersama dengan mereka plus Frau Ina dan Adi. Dari sebuah kenarsisan, pengalaman, kompetisi, hingga traveling disana. Kau tau apakah itu?
Hal itu merupakan kunjungan acara yang bernama Deutschland fuer Anfaenger. Acara tersebut merupakan acara edukasi mengenai pengenalan bahasa dan negara budaya jerman. Pada awalnya aku sebenanrya tidak mau hadir didalam acara itu karena aku ingin menginvestigasi tentang jalur percobaan loopline kereta api Jabodetabekpartan. Namun karena si Adi menelponku secara mendadak agar aku segera datang ke Museum Nasional ketika aku berada di Stasiun Serpong, akhirnya aku pergi kesana walaupun aku harus menunggu lama untuk berangkat ke daerah itu karena jadwal kereta yang sesuai dan selisih panjang dari jadwal kereta sebelumnya. Tapi akhirnya aku bisa bersama dengan mereka ketika berpas-pasan dipintu masuk Museum Nasional. Ada kejadian yang memang cukup perfect bagiku, ketika acara itu diadakan kompetisi permainan. Adik kelasku yang bernama Shinta berhasil mendapatkan juara pertama secara berturut-turut tapi terkecuali dengan kompetisi dance lagu Schnappi – Das Kleine Krokodil karena dia tidak terpilih untuk ikut dance itu. Tapi aku terpilih mengikuti kompetisi dance itu denagn paksaan dari panitia. Ya mau gimana lagi, tapi beruntungnya aku bisa mendapatkan juara 3 dari dance lagu Schnappi – Das Kleine Krokodil. Dengan sebuah hadiah berupa Pin Deutschland fuer Anfaenger. Tapi aku juga berhasil menjadi juara dalam penyusunan huruf menjadi sebuah kata dalam bahasa jerman. Hadiahnya pun berupa Pin itu. Ya tak apalah, lagi pula Pin itu setara dengan Token yang ada di FFR. Entahlah, tapi sepertinya kenangan itu merupakan kenangan yang terbaik bagiku pada hari itu. Ya terutama saat pulang namun ketika ingin pulang, malapetaka terjadi padaku dan mereka. Gangguan fatal Loopline terjadi, sehingga terjadilah penumpakan penumpang di setiap Stasiun. Entah rasanya sesak banget, seperti ikan pepes yang sedang digencet-gencet. Tapi akhirnya, hal itu bisa dilewati ketika sudah berada di Stasiun Bojong Gede. Aku dan mereka turun. Frau Ina pulang bersama Adi dan Shinta. Sementara aku pulang bersama Etha.
Kembali ke diriku saat ini, sekolahku saat ini mulai bersalju. Hal tersebut sudah membuatku flashback akan masa laluku dan menjadi renungan dalam hidupku. Waktu terus berlalu, aku ingin melihat kelasku yang sedang berdebat di kelas 12 IPA 1. Sehingga aku berpamitan dengan Etha sambil mengajak Private untuk menonton aksi debat.
"Err.. ka.. bi.. pak.. de.. bu.. aaaahhcuih..." Saking aku terlalu mengenang masa laluku, aku sampai salah tingkah sama Etha. Aku berdiri dan pamit kepada Etha sambil menggandeng Private. "Etha.. kakak ke tempat debat dulu ya de. Kalau ada Frau ini, tolong SMSin ke kakak."
"Iya ka.. nanti aku SMSin ke kakak kok. Ngomong-ngomong kakak bawa hewan peliharaan ya?"
"Eh nggak de.. ini cuma pinguin biasa kok."
"Tampangnya kok lucu banget sih ka.. gemes liatnya"
"Masa sih de? Gak gemes-gemes amat."
Private melambaikan tangannya kepada Etha. Etha kaget melihat Private yang melambaikan tangannya kepada dia.
"Wah.. pinguinnya bisa gerak. Aku kira dia boneka ka. Ajaib.."
"Yeuh.. dia emang bukan boneka lah de.. lihat saja matanya yang menawan dan wajahnya yang imut dan lucu ini."
"Namanya siapa ka pinguinnya ini?"
"Namanya Private."
"Private? Namanya kok Pribadi banget ka?"
"Gak tau kenapa tuh.. mungkin dari lahir sananya kali. Ya udah de.. kakak mau pergi dulu ya. Tchuess!"
"Auf Wiedersehen ka.."
Aku mulai berjalan menuju kelas 12 IPA 1. Private bertanya sesuatu kepadaku.
"Dwi.. tadi itu siapa?"
"Oh itu adik kelasku Private... Namanya Etha."
"Wow.. apakah dia orang yang baik?"
"Tentu saja Private.. dia orang yang baik kok. Gak mengancam sana-ini.. dia cukup bersahabat."
"Asyik.. boleh kah nanti aku berkenalan dengannya?"
"Boleh saja.. kamu kan belum pada kenal semua anak kelas 10 yang sekarang ini."
Apa yang dilakukan Dwi dan Private diruang debat? Apa yang mereka temukan? Tunggulah pada chapter yang akan mendatang. Jangan lupa untuk Review Chapter ini.
