KYUHYUN X SUNGMIN

Modern AU Divorce

IV


"Hanya satu malam, hyung, aku yakin kau bisa bertatap muka dengannya sebentar saja," Henry bersikeras untuk kesepuluh kalinya di telepon. Henry tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tak ada seorangpun yang tahu. Sungmin bahkan tak bisa mengakui pada diri sendiri alasan tentang perceraiannya, jadi semua orang hanya berasumsi jika mereka bertengkar hebat dan akhirnya menyadari bahwa mereka tidak cocok. Sudah sekitar satu tahun semenjak Sungmin terakhir kali melihat mantan suaminya dan sebesar apapun keinginannya untuk hadir di pesta adiknya—Henry, Sungmin benar-benar tak ingin bertemu Kyuhyun.

"Kenapa 'sih kau harus mengundangnya?" Suara Sungmin terdengar memelas.

Keheningan terdengar dari seberang telepon tetapi Sungmin menyadari jika adiknya sedang memutar bola matanya malas. "Kau tahulah kenapa, hyung. Kau mungkin sudah memutuskan hubungan dengannya tapi dia 'kan bosku. Aku tidak terlalu membencinya 'kok ketika ia sedang tidak—erm—memerintah dan memarahiku."

Sungmin menyipitkan matanya. "Kukira kau ada di pihakku saat perceraian itu."

"Yeah, tentu saja, hyung. Tapi dia itu tetap temanku. Kumohon datanglah? Kau bisa membawa Eunhyuk dan menyogoknya dengan makanan agar dia mau menemanimu semalaman. Aku akan bicara dengan yang lain agar kalian tidak bertemu satu sama lain bagaimana? Oke? " jawab Henry lembut.

"Apa aku benar-benar harus datang?"

Semua nada simpati yang Henry berikan hilang begitu saja bersamaan dengan helaan nafas beratnya. "Aku tunggu jam delapan hari Sabtu nanti. Pakai baju yang bagus ya?"

Dengan itu teleponpun ditutup dan Sungmin menjatuhkan kepalanya ke meja. Rasa sakitnya tak seberapa dengan apa yang sedang ia pusingkan sekarang, jadi ia melakukannya lagi terus menerus. Ia tak ingin bertemu Kyuhyun. Sama sekali tak ingin.

God damn everything.

.

.

.

.

Apartemen Henry penuh dengan orang-orang yang saling menggesekkan tubuh satu sama lain. Sungmin sudah menghabiskan tiga hari sebelumnya untuk memikirkan dan mengkhawatirkan tentang acara pesta ini sebelum akhirnya meminta Eunhyuk datang serta menyiapkan alasan untuk pergi secepatnya sebelum hal yang buruk akan terjadi. Misalnya seperti Kyuhyun membawa teman kencan atau lebih buruknya mengajak Sungmun ngobrol.

Udara di dalam apartemen sangat lembab, suara musik terdengar cukup keras untuk meredam obrolan orang-orang yang ada disana. Sungmin tidak tahu adiknya mempunyai teman dan rekan kerja sebanyak ini, mungkin karena dirinya yang menutup diri setelah perceraianlah yang membuatnya tak tahu apa-apa. Sungmin sudah menghindari semua cara agar ia tak bertemu dengan mantan suaminya dan dilihat dari temannya yang tidak terlalu banyak dekat dengan Kyuhyun, Sungmin pun akhirnya tak pernah lagi bertatap muka dengan Kyuhyun.

Selang sepersekian detik Eunhyuk mencubit pipi Sungmin. "Hentikan."

"Apanya?"

Eunhyuk hanya memutar bola mata menanggapi tatapan bingung Sungmin. "Sudah satu tahun berlalu, hyung."

"Aku tahu."

"Kalau begitu hentikanlah berakting seperti itu baru terjadi dua hari yang lalu. Kyuhyun sudah dewasa, aku yakin ia bisa mengatasi pertemuannya denganmu."

Hanya karena Sungmin yang mengajukan surat perceraian, semua orang berasumsi bahwa dirinyalah yang berhak di blame, dan Kyuhyun-lah yang dibuat terluka.

Ya, memang Sungmin yang mengakhiri semuanya dengan perceraian, tapi Kyuhyun adalah pihak yang membuat dirinya harus melakukan itu. Sungmin yang tidak ingin memperpanjang masalah ini pun hanya mengangguk sambil mengumbar fake smilenya. "Ayo cari adikku."

.

.

.

Benar kata Henry, ada banyak orang yang berada di sekeliling mantan suaminya. Sungmin tak sengaja melihat ke arah punggung Kyuhyun sebelum Jessica menarik lalu menyeretnya ke kumpulan teman-teman yang lain. Sungmin seharusnya lega ia tak harus bertatap muka dengan Kyuhyun, tidak harus berada di dalam obrolan canggung dengannya tapi ketika malam mulai larut dan orang-orang sudah pamit pulang, entah kenapa Sungmin merasakan sesal yang merayap di sekujur tubuhnya.

Semuanya berlalu sangat cepat, sangat lancar dan sangat mudah ketika suatu hari mereka menikah dan hidup bahagia, berbagi apartemen indah bersama dengan Kyuhyuhn yang ia cintai dan selanjutnya Sungmin mengepak tasnya dan menaruhnya di depan pintu lalu mengatakan, "Aku ingin bercerai." Rasanya masih menyakitkan, masih terasa sakit ketika Sungmin mengingat jika hari setelahnya Kyuhyun tidak pernah memintanya untuk kembali, tak pernah menelponnya, atau mengirim email padanya. Tak ada apapun.

Saat Sungmin memastikan Kyuhyun tidak mencoba mencari dirinya—bukan berarti Sungmin tak mengharapkannya—ia pun membiarkan Eunhyuk selesai dari kewajiban menemaninya. Eunhyuk memeluknya lalu menghilang ke keramaian orang-orang. Tanpa Eunhyuk berada disisinya, seluruh ruangan terasa asing baginya.

Sebenarnya Sungmin bisa saja pergi, dirinya sudah disini selama dua jam, tapi begitulah adiknya, jika Sungmin tidak tinggal sampai acaranya selesai, Henry pasti akan terus mengejeknya sepanjang minggu, jadi Sungmin menemukan dirinya duduk di depan balkoni dengan kedua lutut yang menempel di pipinya, dan memeluk dirinya di udara dingin.

Sungmin pikir dirinya sudah berhasil melupakan semuanya, ia memiliki banyak sekali waktu untuk bisa move on. Tapi tetap saja, sebagian dirinya ingin mencari Kyuhyun dan menatap wajahnya untuk malam ini saja, memastikan apakah wajahnya masih sama dinginnya ketika Sungmin memintanya bercerai. God it hurt.

Dentuman berisik dari lagu di dalam ruangan menyembunyikan suara kehadiran seseorang. Sungmin benar-benar sedang terperangkap dalam dunianya sendiri dan tak menyadari jika balkoni ini tak sepenuhnya kosong sampai sebuah asap rokok terhirup olehnya dan membuatnya terbatuk-batuk.

Sungmin mengalihkan pandangannya mencari si sumber asap rokok dan memintanya untuk merokok di tempat lain ketika semua rencananya menguap begitu saja ketila ia menatap sosok pria di depannya.

Kyuhyun terlihat masih sama seperti yang dulu; pakaiannya terlihat mahal dan sangat out-of-place, matanya masih berwarna cokelat terang, mukanya masih tajam dan kaku. Jantung Sungmin mulai berdegup kencang. Kyuhyun sedang berdiri bersandar di dinding dengan tangan yang dilipat didada dan mulutnya menghisap sebuah rokok.

"Kyu," cicit Sungmin sebelum berdeham dan membenarkan lagi kalimatnya. "Erm...Kyuhyun."

"Sungmin," jawab Kyuhyun disertai anggukan kepalanya. "Sudah lama sekali ya."

"Um," jawab Sungmin setuju. Sungmin merubah pikirannya, ia tak ingin berada disini, ia tak ingin bicara pada pria itu, ia ingin pergi secepat yang ia bisa, menarik Eunhyuk, pergi dan melupakan semua kejadian ini. Sungmin berbalik ke arah ruang tamu Henry dan mulai melangkah, ketika ia hampir saja mengucapkan selamat tinggal, Kyuhyun tiba-tiba meraih lengannya, aksinya cepat dan menuntut, "Tunggu."

Sungmin menatap Kyuhyun dan menunggunya melepaskan tangannya, karena hal itu tak kunjung terjadi dirinya pun mengangkat alis sambil mengatakan. "Ya?"

Kyuhyun meraih rokoknya dan mematikannya ke dinding asal-asalan lalu ia berjalan ke depan tubuh Sungmin untuk menatap si pemuda manis. Sungmin menahan semua keinginannya untuk memeluk Kyuhyun.

"Kau baik-baik saja?"

"Baik," respon Sungmin sebelum mengutuk ketidak sopanannya lalu menambahkan, "Terima kasih. Kurasa kau juga baik-baik saja?"

Kyuhyun mengangguk.

Pandangan mereka bertemu satu sama lain selama beberapa detik, tak ada satu kalimatpun yang terucap. "Kalau begitu sampai ketemu lain kali ya," ujar pemuda mungil itu sambil mulai melangkah menjauh tapi tiba-tiba terdengar suara Kyuhyun yang mengeluarkan kata-kata seperti sial.

"Sungmin—tunggu."

"Kenapa?"

"Ada—ada sesuatu yang harus kukatakan padamu."

Respon Sungmin adalah menunggu Kyuhyun melanjutkan perkataannya, tapi sepasang mata hitam pekat itu tak berani membalas pandangan mata Kyuhyun yang intens.

"Maafkan aku," ujar Kyuhyun, sangat pelan sampai Sungmin hampir tak mendengarnya, "Aku tak pernah mengatakannya, aku tak pernah menjelaskan padamu mengapa. Seharusnya semua tak berjalan sejauh itu—aku tahu sekarang harusnya aku menghentikanmu."

Sungmin merasakan tenggorokannya kering seketika membuatnya tak bisa mengatakan apapun. Seharusnya ini tidak terjadi; perkataan itu yang setiap harinya ia ingin dengar seharusnya tidak mempengaruhinya secepat ini—tidak setelah ia sudah lama tak mengharapkannya. Seharusnya waktu dalam hidupnya ketika Kyuhyun selalu mempengaruhi dan memiliki kekuatan terhadap dirinya sudah berakhir.

"Sungmin—"

Sungnin tak bisa menahannya, ini terlalu berlebihan baginya, emosi yang terdengar saat Kyuhyun mengucapkan namanya—Sungmin tak tahan lagi.

Suara Sungmin terdengar serak ketika ia megatakan, "Selamat tinggal, Kyu," lalu melangkah meninggalkan pria yang lebih tinggi darinya itu dan pergi menuju apartemennya tanpa repot-repot berpamitan pada Henry. It was too much.

.

.

.

.

Godaan untuk mengabaikan ketukan pintu apartmennya sangat besar, sangat besar sampai rasanya Sungmin ingin melemparkan vas bunga terdekat ke arah pintu dengan keras. Sungmin tak tahu kenapa Henry sangat tiba-tiba ingin bertemu dengannya. Apakah kesalahannya sangat besar karena meninggalkan pesta tanpa pamit?

Baru dua jam berlalu dan sumpah Sungmin tak ingin bertemu dengan siapapun—termasuk Henry. Tapi ketukan pintu apartemennya sangat bersikeras dan sudah selama sepuluh menit tanpa henti.

"Oh yang benar saja," desis Sungmin saat melempar selimutnya dan berjalan menuju pintu, ingin memberitahu bahwa ia baik-baik saja dan tinggalkan dirinya sendiri.

Sungmin membuka pintu.

Well, itu tak seperti yang ia harapkan.

Sosok di depan pintunya membuat hari ini lebih tidak masuk akal.

Tanpa mengatakan apapun, Sungmin menutup pintunya cepat.

Tapi sosok di depan pintu itu lebih cepat, kakinya menahan pintu Sungmin dan menghentikannya tertutup. "Sungmin," ujar Kyuhyun, hampir memelas

"Pergilah, Kyuhyun."

"Tidak."

"Kenapa?" Desis Sungmin sambil membuka pintunya terbuka sambil bersungut-sungut kesal menatap pria di depannya. Pria yang telah membuatnya menangis satu minggu penuh setelah perceraian itu.

"Kau masih mencintaiku," jawab Kyuhyun dengan percaya diri.

"Apa? Tidak-"

Kyuhyun menyela. "Ya, kau masih. Kau masih mencintaiku."

"Kyuhyun, apa sih—?"

"Kau masih mencintaiku, Ming. Akui saja."

"Apa? Kyu, bagaimana kau tahu dimana aku tinggal?"

"Sungmin-"

"Memangnya itu penting?" Teriak Sungmin kehilangan kesabaran. "Memangnya penting bagaimana perasaanku sekarang bagimu? Dulu tidak penting 'kan? Kenapa sekarang harus?"

"Jadi kau masih mencintaiku 'kan?"

"Tentu saja!" Teriak Sungmin frustrasi, kesal dimainkan seperti ini.

Sungmin tak melihat Kyuhyun yang dengan cepat menaruh kedua tangannya di pinggang Sungmin dan mendorong kedua bibir mereka bertemu, menuntut dan memaksa. Helaan nafas Sungmin terhenti seketika, lalu dengan kesalnya mendorong dada Kyuhyun menjauh. "Apa-apaan ini," ujar Sungmin terengah. "Kyuhyun?!"

Kyuhyun menunjukkan wajah tak bersalahnya dengan seringaian yang tercetak di bibirnya. "Kupikir kau sudah berhenti mencintaiku, aku sudah menerima jika tak ada kesempatan kedua untukku, sampai ketika aku melihatmu—aku tahu kau, Ming. Kau masih mencintaiku."

"Lalu kau pikir kau bisa datang begitu saja pagi-pagi begini kerumahku untuk memastikan itu?" Tanya Sungmin dengan nada tak percayanya.

"Aku sudah menelepon tadi."

Sungmin semakin terlihat kesal. "Pergilah."

"Tidak."

"Ugh, apa lagi 'sih?"

"Karena aku juga masih mencintaimu, Min."

Sungmin terdiam, matanya menatap Kyuhyun serius. "Bukankah sudah sedikit terlambat untuk itu?"

Setelah menatap Sungmin sedari tadi, akhirnya mata Kyuhyun mulai beralih menatap sekeliling apartemennya lalu mengatakan "Kau sedang berkencan dengan orang lain?"

"Apa? Tidak," jawab Sungmin lelah.

"Aku ingin kau kembali padaku dan aku tak akan pergi dari sini selain kau memberikanku kesempatan sekali lagi."

.

.

.

.

.

End

Seharian di kampus dari pagi baru pulang sekarang. I really am sorry. btw, kalau gak suka sama betapa labilnya saya. gausah baca ya.