Two World
Part 4
HunHan (GS)
"Kita seperti dua orang dari dunia berbeda"
.
.
.
"Kenapa kau menikah denganku?"
Luhan mengangkat kepalanya dan menatap Sehun dengan dahi semakin berkerut.
"Kau yakin dengan pertanyaanmu?" Luhan mengangkat alisnya sebelah, meremehkan.
"Kau tidak yakin dengan jawabanmu?" Sehun balik bertanya, menantang Luhan.
Udara diantara keduanya terasa sedikit kaku, Luhan yang merasa diremehkan dan Sehun yang tersenyum dalam hati karena Luhan memakan umpannya.
Luhan membuat gerakan hendak berbicara, namun ia mengurungkan niatnya dan memilih menghela napas. Tidak menjawab apapun.
Sehun tersenyum sedikit, Luhan tidak jatuh ke perangkapnya rupanya. Seperti biasa, Luhan memilih mundur dalam percakapan yang mengarah pada pedebatan.
"Kenapa kau tidak menjawab?" Sehun menghentikan kegiatan makannya dan menyandarkan punggung.
"Sehun-a, apa jawaban yang kau inginkan?" Luhan memandang Sehun pasrah.
"Tentu saja jawaban yang jujur, jika aku tidak menyukainya aku akan mendebatmu" jawab Sehun santai.
"Kita hentikan ini, oke. Aku menyesal menungguimu" Luhan bangkit dari tempat duduknya, kemudian mengembalikan kursi yang ditempatinya pada tempat semula.
"Kau tidak benci berdebat Lu. Kau hanya takut akan melukai orang dengan pendapatmu. Itu kompleksmu"
Luhan berbalik menatap Sehun tidak suka, Sehun terdengar sedang menceramahinya dalam artian yang tidak ia suka sekarang.
Penderita OCD memiliki ketakutan berlebih akan melukai orang yang disayanginya.
"Aku menarik ucapanku untuk tidak memintamu berubah, aku ingin kau berubah sekarang. Aku akan bertindak egois, dan kau harus mengikutinya karena kau sudah setuju untuk memiliki anak"
Luhan berusaha menenangkan dirinya, "Aku tidak mengerti apa maksudmu" jawabnya asal.
"Kau meminta waktu karena kau harus mengatasi keadaanmu. Itu artinya kau harus mengatasinya secara keseluruhan Lu. Kau pikir kau akan berhasil hanya dengan membiasakan diri bersentuhan? Itu hanya sebagian kecil kurasa, physically. Kau juga harus menangani ketakutanmu untuk melukai orang lain. Kau terlalu keras pada dirimu sendiri, tidak semua orang terluka hanya karena kalimat yang tidak sesuai ekspektasinya" Sehun memerhatikan perubahan ekspresi Luhan,
"Kau hanya takut terlibat dalam perdebatan yang merugikan orang lain. Kau bilang berjalan dibelakang adalah kebiasaanmu? Ya, karena kau akan merasa aman jika kau bisa menjaga orang yang berada di depanmu, kau bisa mencegah terjadi sesuatu yang buruk pada orang itu" Sehun menatap Luhan yakin. Ia sudah melakukan riset beberapa hari ini mengenai Luhan.
Luhan benar-benar menatap Sehun tidak suka. Ia merasa ditelanjangi sekarang. Tidak ada satupun yang salah dari perkataan Sehun. Luhan merasa sudah menyembunyikan dirinya dengan baik hingga membohongi alam bawah sadarnya dan Sehun melemparkan kotoran pada usaha yang sudah dilakukannya bertahun-tahun.
"Katakan Lu, aku tahu kau ingin mengatakan sesuatu" Sehun terus berusaha memancing Luhan.
"You poke it on the spot Oh Sehun"
Tepat setelah kalimat itu keluar Luhan segera melangkah dengan cepat menuju kamar dan menutup pintu dengan cepat.
Sehun menghela napas, setidaknya Luhan mengakuinya. Yang perlu ia lakukan selanjutnya adalah melanjutkan makan malam dan memberikan waktu kepada Luhan untuk berpikir.
.
.
.
Sehun bangun saat alarmnya berbunyi tepat pukul delapan. Dengan mata masih setengah terbuka itu Sehun mengerinyit karena tidak menemukan Luhan disampingnya. Bukankah hari ini Christmas Eve? Setahunya libur natal sudah dimulai hari ini.
Dengan langkah enggan Sehun keluar dari kamar dan menemukan Luhan tengah duduk di minibarnya dan menatap keluar jendela.
"Kau tidak libur hari ini?" Sehun mendekat dan mengambil tempat disamping Luhan masih dengan wajah khas bangun tidur.
Luhan menghela napas dalam-dalam, "Seharusnya aku bisa tidur lebih lama" tatapan matanya masih melewati jendela, memperhatikan warna putih yag ada dimana-mana.
"Kau masih kesal?"
"Tadi malam aku sangat kesal padamu, tapi hari ini aku kesal pada diriku sendiri" Luhan memasang wajah tidak suka.
"Apa yang ingin kau lakukan hari ini?"
"Kenapa? Kau mau menemaniku? Karena merasa bersalah?" Luhan menoleh pada Sehun, memasang wajah meremehkannya.
"Ani. Aku harus bekerja hari ini. Libur hari besar adalah saat-saat sibuk bagiku" Sehun menarik sudut bibirnya merasa menang.
"Wah, tiba-tiba aku merasa kesal lagi" Luhan menatap Sehun tidak percaya. Sehun tertawa kemudian turun dari kursinya, "Aku ingin sesuatu yang hangat pagi ini" ujarnya sambil tersenyum menyebalkan dan menepuk bahu Luhan.
.
Luhan membawa belanjaannya dengan susah payah dari basement tempat ia memarkir mobilnya hingga masuk ke lift terdekat, kemudian menekan angka 8. Ia sedang menuju tempat tinggal orang tua Sehun sekarang. Atas paksaan ibunya, mereka akan merayakan natal di rumah orang tua Sehun. Nyonya Xi tidak mau membiarkan temannya kesepian di hari bahagia ini. Untuk itu wanita enam puluh tahun itu memberikan list belanja kepada Luhan dan menyuruh putrinya membawa semua itu ke kediaman keluarga Oh. Ia akan menyusul nanti sore.
"Ini benar-benar melelahkan" bisik Luhan setelah berhasil membawa semua kantong kedepan pintu bercat hitam itu dan memencet bel sekali.
"Aigoo, kau sudah bekerja keras sayang. Ini banyak sekali" Nyonya Oh segera menyambut Luhan dengan pelukan dan mempersilahkan menantunya itu untuk masuk sambil membantu Luhan membawa kantong-kantong yang cukup besar itu.
"Bagaimana kabar anda, eomeonim?" Luhan berbasa-basi setelah meletakkan barang bawaannya.
"Jika eomma-mu mendengarnya dia bisa memukulku. Eomma. Sudah berapa kali aku mengatakannya" Nyonya Oh memberikan senyum khasnya sambil mengelus lengan Luhan.
"Ah, ye, eomma. Aku harus kembali ke bawah, masih ada yang tertinggal di mobil"
"Apa perlu eomma bantu?"
Luhan mengangkat kedua tangannya memberikan gestur menolak, "Tidak perlu eomma. Tidak banyak. Aku bisa melakukannya sendiri"
"Ya sudah kalau begitu, eomma akan merapikan ini. Hati-hati!"
.
Luhan sesekali ikut tersenyum kala dua wanita seumuran di hadapannya mengikutsertakannya dalam pembicaraan. Ia sedang menyusun hidangan untuk dibawa ke meja makan sekarang.
"Aku kesepian sekali! Aku berharap temanku juga ada disini sekarang!" Tuan Xi yang duduk di depan televisi mengeraskan suaranya dengan sengaja agar dua wanita yang tengah cekikikan di dapur itu mendengarnya.
"Aigoo, suamiku bisa bangkit dari kubur jika ia mendengarnya" Nyonya Oh meletakkan cemilan di depan Tuan Xi diikuti Nyonya Xi yang mengambil tempat di samping suaminya.
"Kenapa Sehun lama sekali. Aku sudah lapar" keluh Nyonya Oh sambil memakan cemilan yang dibawanya.
Sementara ketiga manusia seumuran itu sedang bernostalgia dengan masa lalu mereka, Luhan hanya menghela napas di dapur. Ini yang membuatnya tidak terlalu menyukai pesta, ia selalu merasa sendirian karena tidak bisa masuk ke dalam lingkaran orang lain. Luhan sempat berharap agar Sehun mempercepat laju kendaraannya agar setidaknya ia punya teman bicara.
Bunyi pintu terbuka membuat perhatian semua orang yang berada di rumah itu beralih ke arah lorong. Tidak lama kemudian Sehun dengan padded jacketnya muncul membawa kantong di tangan kanannya.
"Aku pulang"
"Selamat datang Sehun-a!"
"Kenapa kau lama sekali, eomma sudah lapar!"
"Hm. Wasseo"
Sehun tergelak saat mendapat sambutan dari ketiga orang tua yang tengah duduk di ruang tengah itu. Sehun memeluk eomma-nya dan memberikan salam pada kedua mertuanya, "Wine kesukaan appa" Sehun mengangkat kantong bawaannya.
"Luhan?"
"Eomma-mu bisa cemburu, kau menanyakan Luhan terlebih dahulu" Nyonya Xi menepuk paha temannya.
"Karena itu orang bilang anak perempuan lebih baik! Istrimu ada di dapur"
Sehun mengecup pipi eommanya dan menyusul Luhan ke dapur.
.
.
.
Luhan menghentikan kegiatan mencuci piringnya kemudian menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan karena pegal.
"Huh, sedikit lagi" bisik Luhan pelan, kemudian kembali membilas benda-benda kaca yang bertumpuk di washtafel.
Sehun yang berdiri di belakang Luhan sejak ia meregangkan lehernya kemudian bersuara, "Biar aku yang melanjutkannya" Sehun meletakkan beberapa gelas kotor yang dibawanya kemudian menaikkan kedua lengan baju.
"Ani, tinggal sedikit lagi. Ah, apa kau bisa membantuku dengan ini?" Luhan meniup-niup rambutnya yang menghalangi wajah.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Apa eomeoni tidak menyimpan karet gelang disekitar sini? Tolong ikatkan rambutku" Luhan membuat gerakan menghalau rambutnya yang kembali menutupi wajah.
Sehun melihat ke sekeliling, namun ia tidak menemukan benda yang dimaksud Luhan, "Aku rasa tidak ada. Biar aku saja yang memegangnya" Sehun mendekati Luhan dan mengumpulkan rambut sebahu istrinya ke dalam genggamannya. Sehun terpaksa mengikuti gerakan Luhan agar rambutnya tidak terlepas.
Sehun sedikit merasa aneh karena tidak ada yang berbicara sementara ia harus berdiri tepat di belakang Luhan sambil memegangi rambut wanita yang sibuk dengan kegiatan mencuci piringnya itu.
"Katakanlah sesuatu, ini awkward sekali" keluh Sehun mengelus tengkuknya dengan satu tangan.
Luhan menghela napas, "Aku tidak punya tenaga untuk itu"
"Ups, apa eomma mengganggu?" Nyonya Oh berdiri tidak jauh dari Sehun dengan piring kotor ditangannya.
Sehun memutar bola matanya bosan, "Eomma!"
"Euigoo, gwenchanha! Kalian sama-sama sibuk, saat-saat seperti ini harus dimanfaatkan!" Nyonya Oh menepuk lengan putranya, "Kau harusnya menggantikan Luhan! Dia sudah bekerja keras sejak tadi pagi. Aku tidak yakin melihatnya duduk selain di meja makan! Tsk!" Nyonya Oh membuat tatapan menggoda pada putranya kemudian kabur dari ruangan yang menurutnya penuh kemesraan itu.
.
Luhan terkantuk-kantuk saat semua orang tengah terlibat percakapan yang seru di ruang tengah. Para orang tua sedang saling ejek karena cerita masa lalu mereka dan Sehun ikut tertawa dan membanding-bandingkannya dengan masa sekarang.
"Sehun-a, sepertinya Luhan sudah mengantuk, naiklah, eomma sudah membersihkan kamarmu" Nyonya Oh memergoki Luhan yang tengah menguap tertahan.
"Ah, anieyo eomma" bantah Luhan berusaha terlihat baik-baik saja.
"Kau sudah bekerja keras hari ini. Istirahatlah, kita harus bangun pagi besok. Maaf sudah membuatmu melakukan ini padahal kau baru saja pulang sayang" Nyonya Xi ikut menimpali.
"Kaja, Ini sudah lewat tengah malam" bisik Sehun yang duduk disamping Luhan.
Luhan menatap mertuanya ragu, teman sekolah ibunya itu mengangguk meyakinkan.
"Kalau begitu aku permisi dulu" Luhan meninggalkan para orang tua dengan Sehun yang mengikutinya dibelakang.
"Sehun-a!" Sehun dan Luhan yang telah melewati ruang tengah sama-sama menoleh,
"Eomma memang ingin mendapatkan cucu, tapi hari ini Luhan bernar-benar lelah, mengerti?" Nyonya Oh tersenyum menggoda pada putranya.
"Eomma!" Sehun memasang raut tidak suka bercampur malunya membuat para orang tua tertawa melihat respon Sehun.
Sedangkan Luhan hanya memasang wajah pura-pura tidak mengertinya, dia benar-benar lelah sekarang.
Sehun mendorong pintu kamar dan menyalakan lampu,
"Selamat datang di kamar immature Oh Sehun!"
Luhan melihat sekeliling, "Ini benar-benar immature. Apa-apaan dengan poster itu? Dragon ball?" Luhan mengerutkan keningnya saat membaca tulisan pada beberapa poster yang tertempel di dinding kamar Sehun.
"Remaja seusiaku waktu itu pasti akan menempel poster favoritnya di kamar!" bela Sehun sambil membuka lemarinya, mencari piyama yang bisa ia gunakan.
Luhan duduk di tempat tidur dan mengamati rak penuh dengan koleksi komik yang terletak di depannya, "Aku tidak pernah memasang poster seperti itu dikamarku"
"Kau aneh" jawab Sehun singkat sebelum masuk ke kamar mandi.
.
"Dia benar-benar lelah rupanya" bisik Sehun saat menemukan Luhan tertidur dipinggir tempat tidur dengan kaki yang masih menapak di lantai. Biasanya Luhan tidak bisa tidur jika ia belum mandi.
Sehun berjongkok tepat di depan wajah Luhan, kemudian menusuk pipi kurus itu beberapa kali, "Aku sudah menyiapkan air hangat" bisik Sehun saat Luhan membuka matanya.
Luhan bangun dari tidur tidak nyamannya dan membuat gerakan meregangkan tubuh, "Ah, pakaianku" Luhan teringat jika ia meminta Sehun untuk membawakan pakaiannya dari rumah.
Sehun menunjuk ke arah kaki Luhan dengan dagunya. Di dalam drama-drama si pemeran utama wanita akan terharu dan memeluk suaminya karena telah menyiapkan pakaian saat ia tertidur. Tapi ini Luhan, sehingga yeoja itu segera melengos pergi ke kamar mandi setelah menemukan pakaiannya. Sehun yang melihat itu hanya menggeleng-geleng maklum.
Sehun menyibakkan bed cover saat Luhan telah selesai dengan krim malamnya, Luhan segera membungkus tubuhnya setelah naik ke tempat tidur. Luhan menghela napas, kegiatan seharian ini benar-benar melelahkannya secara fisik. Seluruh tubuhnya terasa berdenyut karena bergerak ke sana kemari, mengangkat ini itu, dan berdiri dalam waktu yang lama. Sehun memperhatikan Luhan yang menepuk-nepuk pundaknya.
"Kau sudah bekerja keras hari ini" Sehun meletakkan buku yang dibacanya kemudian memberikan pijatan dengan sebelah tangan pada bahu Luhan. Seketika Luhan membuat gerakan menjauh.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Luhan menatap Sehun waspada. Sedangkan Sehun justru balik menatap Luhan terkejut.
"Apanya? Aku hanya membantu memijitmu"
Luhan menutup matanya sejenak, "Aku benar-benar lelah hari ini Sehun-a. Aku tidak punya tenaga lagi untuk menahan perasaan triggered-ku"
"Karena itu aku membantumu—"
"Oh Sehun!" Luhan mendongak menatap Sehun
"Araseo.." bisik Sehun lemah seperti anak kecil yang baru saja dinasehati ibunya untuk tidak mencoret dinding.
.
.
Perayaan natal hari itu berlangsung sama seperti perayaan natal lainnya, sarapan bersama, berbagi kado, gereja, kemudian makan malam, dan mengobrol hingga lupa waktu. Rutinitas sederhana yang bagi Luhan membutuhkan banyak tenaga. Setelah selesai dengan bersih-bersih pukul sepuluh malam, Luhan dan Sehun beserta Tuan dan Nyonya Xi telah bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Kau bisa meninggalkan mobilmu disini dulu sayang, kau terlalu lelah untuk menyetir. Biar Sehun yang menjemputnya besok" Nyonya Oh menyerahkan sebuah tas yang berisi beberapa makanan kepada Luhan.
"Anieyo eomma. Begini lebih efektif, Sehun juga harus berangkat ke kantor besok pagi. Kalau begitu kami permisi dulu" Luhan menolak dengan halus kemudian berpamitan menyusul Sehun yang telah berdiri di pintu.
"Kalau begitu aku juga pamit, jaga dirimu" Nyonya Xi memeluk sahabatnya dan ikut menyusul para pria yang sudah menunggu di depan pintu.
.
"Kau harus menyetir dengan hati-hati, mengerti?" Nyonya Xi melepas putrinya yang bersiap untuk masuk ke mobil. Luhan mengangguk kemudian segera mengemudikan mobilnya.
"Jangan khawatir eomma, aku akan mengikuti Luhan dari belakang. Kalau begitu aku pamit dulu" Sehun ikut berpamitan kemudian menyusul Luhan dengan mobilnya.
Nyonya Xi menghela napas, "Kenapa aku tidak tenang melihatnya?"
.
.
Pagi ini hampir sama seperti pagi-pagi sebelumnya, Luhan menyiapkan sarapan dan Sehun yang keluar dengan seragamnya dan duduk di meja makan. Entah ini hanya perasaan Sehun saja, tapi ada yang tidak beres dengan Luhan sejak semalam.
Sehun menyeruput kopi paginya sambil memperhatikan Luhan yang tengah mencuci tangan kemudian mengambil tempat di hadapannya.
"Berhenti menatapku seperti itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi moodku sedang tidak baik sekarang. Maaf" Luhan berbicara tanpa menatap Sehun.
"Baiklah" jawab Sehun pelan. 'Apa dia sedang PMS?'
Sarapan pagi itu berlangsung dalam diam, Sehun yang membuat seluruh pergerakannya termasuk bernapas dengan hati-hati dan Luhan yang kesal dengan berbagai hal kecil termasuk saat ia tersedak makanannya sendiri.
.
"Kim!" Chanyeol mengangkat tangannya saat melihat Joonmyeon yang sedang mencari mereka di dekat pintu masuk.
"Aku tidak menyangka hari setelah natal akan seramai ini. Apakah orang-orang ini tidak pergi liburan?" keluh Joonmyeon saat baru saja mendudukkan pantatnya disamping Sehun.
Setelah memesan satu botol soju dan bir, Joonmyeon memusatkan perhatiannya kepada dua temannya yang terlihat tidak bersemangat itu, "Jadi ada apa kalian tiba-tiba terlihat seperti kaktus kebanyakan air ini?"
Chanyeol meminum sojunya kemudian menghela napas, "Aku ingin jadi pria lajang lagi" keluh Chanyeol membuat Joonmyeon tertawa remeh, "Kau selalu bertingkah seperti pria lajang Chanyeol! Tidak ada yang tahu kau sudah beristri jika mereka tidak mengecek latar belakangmu!"
"Baekhyun melarangnya masuk ke kamar hari ini karena salah memberikan hadiah natal" Sehun menunjuk Chanyeol yang kepalanya kini menempel pada meja itu dengan dagu runcingya.
"Pfft" Joonmyeon tidak bisa menyembunyikan tawanya, "Itu konyol"
"Dan yang lebih konyolnya lagi sekarang dia kabur dari rumah" tambah Sehun sambil menggeleng-geleng tidak habis pikir.
Joonmyeon tidak bisa menahan tawanya, "Kau? Kabur dari rumah? Maksudku kabur seperti remaja-remaja ingusan?"
"Kali ini aku tidak akan kalah. Aku tidak akan pulang sebelum Baekhyun memintanya!" Chanyeol mengangkat kepalan tangannya ke udara dengan wajah penuh tekad.
"Terserah kau saja. Tapi aku berani bertaruh kau akan merangkak pulang sebelum Baekhyun memintamu" Joonmyeon mengalihkan pandangannya pada Sehun yang duduk disampingnya, "Lalu apa yang terjadi padamu?"
"Aku? Tidak terjadi apa-apa. Anak ini yang memaksaku menemaninya minum" Sehun kembali menunjuk Chanyeol dengan dagunya.
"Benarkah? Kenapa aku melihat ada awan gelap diatas kepalamu?"
Sehun dan Chanyeol menatap Joonmyeon aneh, pria beranak tiga itu terdengar seperti cenayang sekarang.
"Kau terdengar menyeramkan"
"Wae? Istrimu juga menendangmu keluar dari rumah?" Joonmyeon memakan cemilan di hadapannya sambil menatap Sehun penuh selidik.
"Istriku tidak sekonyol itu. Lagipula itu apartemenku, tidak masuk akal" Sehun tergelak sebelum kembali meminum birnya.
"Ya! Budha Oh Sehun, kau pikir apartemen yang aku tinggali ini milik Baekhyun? Siapapun pemiliknya, saat kau menikah semesta akan berputar disekitar istrimu!" Chanyeol menunjuk-nunjuk Sehun dengan gelasnya.
Sehun terlihat mengingat-ingat sesuatu, "Luhan tidak seperti itu" bisiknya sambil terus membayangkan perilaku istrinya.
"Oo.. Kau sedang membela istrimu sekarang. Tunggu saja saat kau telah menikah lebih dari satu tahun, kau akan seperti Chanyeol saat ini" Joonmyeon ikut menunjuk Sehun dengan gelasnya.
"Lalu ada apa dengan 'pengendalian diri' yang kau sebutkan tadi siang?" Sehun mengalihkan pembicaraan.
Kali ini Joonmyeon yang terlihat murung, ia meneguk segelas sojunya sampai habis, kemudian menghela napas seperti yang Chanyeol lakukan, "Istriku hamil lagi"
"Mwo?!" seru Chanyeol dan Sehun serempak. Kemudian Chanyeol bertepuk tangan sambil menggeleng-geleng.
"Aku tidak masalah punya banyak anak, tapi itu artinya aku tidak bisa menyentuhnya hingga beberapa bulan ke depan" kedua bahu Joonmyeon merosot setelah menyelesaikan kalimatnya.
"Kau datang pada orang yang tepat! Kau bisa belajar pengendalian diri dari Budha Oh Sehun!" Chanyeol mengarahkan telunjuknya dengan sopan ke arah Sehun yang memasang wajah malas.
"Kenapa kau memanggilnya Budha Oh Sehun sedari tadi? Apa dia memutuskan untuk tidak memakan daging, tidak menyentuh wanita seperti yang dilakukan Budha?" Joonmyeon berusaha membuat lelucon, namun ternganga dengan jawaban Chanyeol, "Bingo!"
"Jinjja? Tapi kau sudah menikah!" kali ini Joonmyeon menatap Sehun tidak percaya.
"Kau selalu saja berhasil dibodohi orang gila ini! Apa kau tidak lihat kita sedang memesan apa sekarang?" Sehun mengangkat daging yang telah matang dengan sumpitnya.
"Aku tidak berbohong! Dia benar-benar hampir menjadi Budha! Dia tidak pernah menyentuh istrinya sampai sekarang" Chanyeol menjelaskan pernyataannya dengan penuh semangat.
Lima detik berlalu, "Ei, kau pikir aku akan termakan kebohonganmu lagi? Sudahlah, aku benar-benar tidak mood untuk bercanda lagi" Joonmyeon mengibaskan tangannya di depan wajah Chanyeol.
Chanyeol terdiam tidak percaya saat disebut pembohong, sedangkan Sehun sibuk menyembunyikan tawanya.
"Apa-apaan ini? Jinjja?!" Joonmyeon membuka mulutnya lebar-lebar kemudian menutupinya dengan gerakan pelan.
"Wah kau benar-benar harus diperiksa ke rumah sakit Hun! Atau jangan-jangan, kau punya wanita lain?" Joonmyeon memajukan tubuhnya ke arah Sehun.
"Separah itukah?" tanya Sehun entah pada temannya atau dirinya sendiri. Chanyeol dan Joonmyeon hanya menggeleng-geleng prihatin.
"Ngomong-ngomong kenapa wanita sangat menyeramkan saat sedang PMS? Mengganggu sekali"
"Sudah kuduga. Wae? Luhan mengamuk padamu?"
"Ani. Dia tidak marah-marah, tapi kau tahu, ada aura menyeramkan disekitarnya"
"Sudah mulai, kau sudah mulai merasakan proses untuk sepertiku hari ini Oh Sehun!"
.
.
.
Sehun menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Ia baru saja pulang karena harus memantau perayaan tahun baru. Karena tidak menemukan Luhan di kamar, Sehun kembali keluar dan menyalakan lampu ruang tengah. Ini sudah pukul dua pagi, tidak mungkin rasanya Luhan belum pulang.
Sehun memutar kepalanya saat mendengar dering telepon dari arah balkon. Kemudian berjalan penuh waspada sambil tetap menempelkan ponsel di dekat telinga.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sehun heran. Luhan duduk menekuk lutut sambil membungkus dirinya dengan selimut.
"Geunyang.. (Just..)" jawab Luhan pelan tanpa menoleh.
Sehun memandang Luhan heran kemudian mengambil tempat dikursi yang tepat berada di samping Luhan. Bahkan pesta kembang apinya sudah selesai, tidak ada yang bisa dilihat di balkon selain gelap dan beberapa titik lampu yang menyala.
"Dapdaphae (Frustating)" bisik Luhan membuat kepulan asap dengan mulutnya karena cuaca yang dingin.
Sehun hanya menoleh tanpa bertanya apapun, menurutnya lebih baik diam saat ini.
"Aku ke psikiater dua hari yang lalu" Luhan memulai bercerita. Sehun diam mendengarkan dengan seksama.
Luhan kembali menghela napas, "Baru kali ini aku merasa frustasi dengan keadaanku. Kenapa harus aku? Dari banyak anak yang lahir bersamaan denganku kenapa harus aku?" Luhan mendengus di sela-sela kalimatnya, "Tsk. Seharusnya aku tidak memulai semua ini. Maafkan aku melibatkanmu. Aku hanya memikirkan orang tuaku yang menginginkan pernikahan. Aku tidak tahu jadi serumit ini sekarang"
"Apa yang sedang kau bicarakan? Ini dingin sekali Luhan, ayo masuk"
Luhan menunduk menyembunyikan wajahnya dengan selimut, Sehun yang melihat itu tidak yakin awalnya. Tapi saat mendengar hembusan napas tidak teratur Luhan ia yakin, Luhan sedang menangis sekarang.
Sehun menghela napas, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Jika boleh jujur Sehun juga frustasi, ia hanya ingin menikah kemudian memiliki anak dan hidup normal seperti orang lain. Sehun sempat berpikir seharusnya ia mundur saat Luhan menceritakan mengenai OCD-nya dulu. Sekarang semuanya sudah terlanjur.
Sehun menatap langit malam dan sibuk dengan pikirannya sendiri, sementara Luhan tenggelam dalam tangisan penyesalan dan rasa bersalahnya.
.
.
.
TBC
Halo! Terimakasih untuk semua pembaca yang sudah menyempatkan waktu untuk beberapa halaman fict ini. Dan special thanks untuk yang meluangkan waktu lebih banyak untuk memberikan review/feedback. Kritik dan sarannya sangat membantu!
Mau yang manis-manis? Tunggu di chapter depan!
