Janji Manis Kita

.

.

Summary: Jangan mengungkit masa lalu Ino-pig./ Kalau begitu, aku yang akan jadi kekasihmu!/ Itu hanyalah kenangan masa kecil mereka/AU/My first fanfiction/RnR?

Naruto milik Masashi Kishimoto.

Cerita ini murni milik saya, jangan mempublish ulang cerita ini tanpa seizin saya!

Sudah dua hari ini Sakura tidak masuk sekolah. Bukan karena ingin membolos, tapi memang nyatanya dia terserang penyakit. Apakah penyebab semua ini adalah kata-kata Ino yang terus terngiang-ngiang dengan indahnya di dalam kepala miliknya. Gadis yang memiliki jidat yang bisa dibilang cukup lebar itu mendapat demam. Tentu saja dia tidak akan masuk sekolah dengan kondisinya yang seperti itu. Tentu saja sakitnya akan bertambah parah karena harus masuk sekolah. Beruntung, jadwal pembelajaran di sekolahnya tak terlalu padat sehingga dia tak perlu repot-repot harus belajar untuk mengikuti ulangan susulan atau sebagainya.

Sakura memutuskan untuk meraih ponselnya. Sudah siang hari, dan dia sama sekali belum membersihkan dirinya. Aku 'kan sedang sakit pikirnya.

Pada layar ponsel tertera bahwa sudah ada 25 pesan dan 19 panggilan tak terjawab. Pelakunya adalah orang yang sama, sahabat pirangnya itu, Ino.

"Mungkin dengan membaca pesan dari Ino-pig dapat membuatku sedikit terhibur." Gumam Sakura. Sakura mulai membuka pesan tersebut satu-persatu.

From: Ino-pig

Hei, Forehead! Kau ini kenapa tak masuk sekolah? Apakah ada perkataanku yang salah kemarin sehingga kau tak masuk sekolah? Aku merindukanmu tahu!

Tuesday, April 25th 2014

Sakura hanya terkikik membaca pesan dari sahabatnya itu. Dia kemudian membaca pesan yang dikirim kemarin.

From: Ino-pig

Forehead! Kau kenapa? Kau pergi meninggalkan ku? Atau kau sudah masuk ke dalam peti matimu? Aku merindukanmu! CEPAT KABARI AKU SEBELUM AKU MEMBUNUHMU!

Wednesday, April 26th 2014

Sakura hanya bergidik ngeri membaca kalimat terakhir dari pesan tersebut. Dia memutuskan untuk mengabari sahabatnya itu daripada dirinya tak akan selamat. Sayang nyawa pikirnya.

To: Ino-pig

Tampaknya kau sangat merindukanku, ya? Aku sedang sakit Ino-pig. Kepalaku pusing dan demam. Tentu saja bukan karena kau. Doakan aku semoga sembuh! ^^

Sesudah terkirim, Sakura ingin meletakkan kembali ponselnya kalau saja ponsel berwarna putih tersebut tak bergetar terlebih dahulu.

From: Ino-pig

KAU BARU MEMBALAS PESANKU SEKARANG?! APA-APAAN KAU FOREHEAD? APA SULITNYA MENJAWAB PESAN KU YANG BEGITU PENTING INI! TAK AKAN KU MAAFKAN. SAKU-CHAN JAHAT!

Sakura hanya memutar matanya. Dasar! Merasa bosan, Sakura tak membalas pesan milik sahabat bermata aquamarine itu.

.

"Nah, baiklah anak-anak. Hari ini bapak akan membagikan kalian tugas. Kerjakan di rumah dan kumpulkan minggu depan. Karena Haruno belum masuk, ada yang bersedia membawakan tugas ini untuknya?" tanya Kakashi-sensei ketika pelajaran miliknya yang bertepatan dengan jam terakhir itu bertanya. "Maksudku, yang rumahnya dekat dengannya." Sambungnya lagi.

Ino berniat mengangkat tangannya. Tapi pergerakan tangannya terhenti ketika suara baritone khas milik Uchiha Sasuke terdengar dengan jelas.

"Aku saja." Sasuke mengangkat tangannya. Semua perhatian kelas tertuju padanya. Ino sedikit terkejut, tetapi setelah itu mengulas sebuah senyum penuh arti kemudian menurunkan tangannya.

Sepertinya kau mulai berani Uchiha-san!

.

Sakura hanya terbaring di atas tempat tidurnya. Dia merasa bosan, tapi untuk melakukan sesuatu sepertinya terasa malas.

"Sakura, sebaiknya kau makan dulu. Ayo turun!" Haruno Mebuki mengetuk pintu Sakura.

"Ha'i Kaa-san. Aku turun!" Sakura bangkit dari tempat tidurnya dan turun kebawah. Mebuki yang melihat putrinya hanya tersenyum.

.

"Ittadakimasu!" Sakura bersama ibunya mulai kegiatan makan mereka ketika mengucapkan kata tadi. Tampaknya Sakura sudah mulai membaik, tapi sebaiknya dia beristirahat sehari lagi untuk memastikan kondisinya.

"Kaa-san, makanan ini sungguh enak! Aku benar-benar lapar!" Sakura memasukan nasi dari dalam mangkuk ke mulutnya menggunakan sumpit. Ini sudah mangkuk kedua sejak tadi.

"Tentu saja. Dari kemarin kau hanya makan sedikit sekali. Bahkan setengah dari satu mangkuk pun tidak." Haruno Mebuki hanya mendumel tak jelas ketika putri tunggalnya itu hanya menyengir lebar.

Setelah selesai makan, Sakura segera meminum obatnya. Ibunya menyuruh Sakura untuk mandi karena aroma tak sedap menguar dari tubuh Sakura.

.

"Haaah. Segarnya." Sakura berendam di bathtub miliknya. Rasanya sangat segar setelah tak kena air selama dua hari.

Setelah selesai membersihkan diri, Sakura memakai pakaiannya dan berbaring lagi di tempat tidurnya.

Tiba-tiba saja ibunya membuka pintu kamar miliknya dan berkata, "Sakura, ada temanmu yang datang. Ibu suruh ke sini saja, ya?" Sakura hanya mengangguk.

Paling hanya Ino pikirnya. Tapi sepertinya dia salah besar ketika seseorang berjalan menuju kamarnya.

"K-kau?" Sakura terbelalak kaget ketika mendapatkan Sasuke berdiri di ambang pintu kamarnya dengan seragam lengkap tanda bahwa pemuda itu sehabis dari sekolah. Kemudian kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celananya, menambah ketampanan seorang Uchiha bungsu ini.

"Hn." Sasuke hanya bergumam tak jelas. Kemudian dia berjalan menuju tempat tidur Sakura dan menyeret kursi agar dia dapat duduk di samping tempat tidur milik gadis itu.

"Apa yang kau lakukan di sini Sasuke? Bukankah seharusnya kau masih di sekolah?" tanya Sakura bingung. Jantungnya kini berdegup dengan cepat.

Sakura bangkit dari posisinya yang tengah berbaring menjadi duduk.

"Sekolah pulang cepat. Bagaimana keadaanmu?" Sasuke mengusap rambut Sakura lembut.

"A-aku jauh lebih baik sekarang! Kau bisa pulang. Aku tak apa-apa!" Ingin sekali rasanya Sakura menghilang dari hadapan pemuda ini. Wajahnya sudah semerah tomat sekarang.

Sasuke mendengus. Dia kemudian teringat akan tujuan awalnya ke sini. Dia mengambil sesuatu dari tasnya dan mengambil tugas yang dititipkan kepadanya –lebih tepatnya dia yang mengusulkan diri– lalu memberikannya kepada Sakura.

"Tugas dari Kakashi-sensei. Dikumpulkan minggu depan." Sasuke berkata ketika melihat wajah bingung Sakura.

"Oh, terima kasih Sasuke. Seharusnya kau tak perlu repot-repot. Biar saja Ino yang mengantarkan ini." Sakura tersenyum. Tanpa diketahui, ada suatu rasa yang menyakitkan dalam diri Sasuke.

"Sakura, biarkan aku menjagamu hari ini." Sakura agak terkejut mendengar ucapan Sasuke. Menjaganya? Ada perasaan senang dalam hati Sakura. Dia menatap Sasuke dalam. Wajah pemuda itu menunjukan keseriusan. Serius akan menjaganya hari ini.

Sakura tersenyum lebar, "Baiklah Sasuke-kun! Temani aku, ya!" tanpa sadar Sakura mengucapkan suffix 'kun' pada kalimatnya.

Sasuke tersenyum tipis. Hatinya sangat senang sekarang. Akhirnya, dia melihat senyum itu lagi, senyum yang selalu didambakannya.

.

Tanpa mereka sadari, Haruno Mebuki sedang tersenyum bahagia. "Akhirnya, kalian kembali lagi. Aku harap kalian bisa bersama."

.

"Ne, Sasuke, aku ingin es krim!" Sakura memasang wajah memohon yang hanya dibalas dengan decakan milik seorang Uchiha Sasuke.

"Ck! Sakura, kau ini sedang sakit!" Sakura hanya merungut kesal medapat tanggapan yang sangat tak diinginkannya.

"Tapi Sasuke, aku ingin es krim! Aku haus!" Sakura mengerucutkan bibirnya dan melipat tangannya di depan dada.

"Kau bisa minum air putih yang tepat di sebelahmu Sakura." Sakura masih tetap tak peduli. Sasuke kemudian mendiamkan Sakura dan memilih membaca catatan fisika miliknya.

Merasa didiamkan, Sakura buka suara. "Tapi aku sudah sembuh Sasuke! Aku ingin es krim sekarang!" Sakura hanya merengek bagai seorang anak kecil.

"Kalau kau sudah sembuh, baru kubelikan." Sasuke kemudian melanjutkan kembali acara membacanya.

"Eh? Benarkah Sasuke? Terima kasih!" Sakura segera memeluk Sasuke sangking senangnya. Sasuke yang mendapatkan hal ini hanya dapat terkejut, kemudian membalas pelukan Sakura.

"Hn, sama-sama."

Sikap Sakura yang kekanak-kanakan memang tidak akan pernah berubah rupanya.

.

Waktu sudah menunjuka pukul enam sore, dan Sasuke sama sekali tak berminat untuk kembali ke rumahnya. Saat ini Sakura sedang membaca tugas yang tadi diberikan Sasuke untuknya. Ada beberapa soal yang tak dimengertinya. Sakura mencoba memikirkan rumus yang tepat, tapi sepertinya soal seperti ini belum pernah diajarkan. Tiba-tiba sebuah ide muncul. Kenapa dia tak menanyakan kepada pemuda –yang merupakan mantan sahabatnya yang mungkin sebentar lagi hubungan mereka akan membaik– yang sangat jenius itu.

"Sasuke," panggil Sakura. Sasuke yang merasa dipanggil hanya bergumam tak jelas.

"Aku ingin bertanya mengenai tugas ini. Aku tak mengerti soal yang ini, ini, ini, dan ini." Sakura menunjuk soal-soal yang tak dimengertinya. Hanya empat nomor dari sepuluh soal yang tak dimengertinya.

Sasuke mengambil kertas milik Sakura dan membaca keempat soal tersebut. Kemudian dia menjelaskan soal-soal tersebut kepada Sakura.

Sakura yang sudah mengerti mengangguk. Dia sangat kagum dengan Uchiha yang berada di hadapannya saat ini. Benar kata mereka, Uchiha memang sangat luar biasa. Sakura begitu buta. Perasaan bencinya kepada Sasukelah yang membuatnya menjadi buta. Tapi aku yakin, mereka akan saling memandang dan saling mengerti.

"Sakura? Kau mengerti?" Sasuke menghentikan penjelasannya ketika menyadari Sakura tak memperhatikan penjelasannya untuk soal ketiga.

"Eh? A-aku mengerti!" Sakura salah tingkah. Dapat dirasakannya pipinya sedit memanasa.

"Tidak, kau tak mengerti." Sasuke kembali mengulang penjelasannya. Sakura kali ini memperhatikannya dengan serius, takut membuat pemuda di sampingnya ini kesal.

.

"Sasuke, ini sudah malam. Sebaiknya kau pulang." Sakura membuka pembicaraan setelah acara bahas-membahas pekerjaan rumah.

"Hn." Sasuke hanya menjawab dengan gumaman andalan miliknya sambil membereskan barang-barang miliknya. Setelah selesai, Sasuke menatap Sakura.

"Ah, ya. Sasuke, terima kasih atas hari ini. Aku jadi tak bosan. Apakah ibumu akan marah jika kau pulang malam?"

"Tidak, jika alasannya kau." Sakura hanya dapat merona mendengar perkataan Sasuke.

Sakura ingin berkata-kata, tetapi kemudian dirasakannya tubuhnya didekap. Tentu saja Sasuke yang melakukannya.

"Sakura, bisakah kita memulainya dari awal?" Sasuke mendekap Sakura dengat lembut. Takut bahwa Sakura akan remuk bagaikan dia adalah kaca yang akan hancur bila dipeluk dengan erat.

Sakura tak dapat berkata-kata. Lidahnya terasa kelu.

"Aku mencintaimu Sakura." Sakura terbelalak. Dia tak percaya.

Entah bisikan siapa atau kekuatan apa, Sakura membalas pelukan Sasuke. Dia menyandarkan kepalanya di dada Sasuke. Mereka masih dalam posisi itu terus selama sekitar sepuluh menit. Menyalurkan perasaan dan kehangatan masing-masing. Hingga akhirnya Sasuke, melepaskan pelukan mereka.

"Sasuke." Sasuke menatap Sakura.

"Aku akan mencobanya. Mencoba untuk memulainya lagi dari awal. Aku akan berusaha." Sakura tersenyum, tersenyum tulus.

Sasuke yang mendengar perkataan Sakura segera mengecup bibir Sakura. Kemudian melumatnya dengan lembut.

"Terima kasih Sakura."

TBC

A/N: Saya kembali lohhhhhh. Maafkan aku telat update karena sibuk sama sekolah dan gak ada waktu untuk buka laptop yang ini bukan milik saya atau karena tidak berkesempatan menyentuh laptop.

Maaf di chapter ini agak gaje yang amat sangat. Untuk soal-soal itu saya ngarang karena saya nggak tau mau soal apaan.

Sebenernya pengen ganti summary, tapi kayaknya gak perlu, hohohohohohohohoho.

Fanfiction di chapter ini juga merupakan curhatan saya yang belakangan ini juga sakit dan kemarin yang tiba-tiba pusing. Saya bikin fic ini cuman sehari dan kepotong karena nonton Manusia Laba-laba yang Hebat 2 (baca: De Imejing Sepaider-Men 2).

Semoga chapter berikutnya lebih baik dari sebelumnya dan doakan saya yang sebentar lagi mau UN, huahahahahaha. Niatnya chapter 5 itu mau dicomplete aja, alias tamat.

Saya butuh review kalian dan pendapat kalian lebih baik saya ganti summary ato gak.

Sekian bacotan saya yang sangat panjang ini. Sekian.