Angin… tolong sampaikan kepadanya bahwa aku ada disisinya.

Awan… tolong turunkan hujan untuk memberitahukannya,

bahwa aku ada di sampingnya.

Waktu… meskipun takdir membutakan matanya,

tolong lindungi rasa cinta yang ada di dalam hatinya.

Aku mencintaimu… aku mencintaimu…

Gadis cantik yang lebih berharga daripada hidupku sendiri.

.

.

.

KOKORO KARA AI SURU chapter empat, UPDATE~

.

.

.

Pair :

HaeHyuk.

.

Genre :

Romance, Hurt/Comfort and maybe a little bit of fluffy

.

Rate :

T+

.

Disclaimer :

Mereka ya milik mereka sendiri, saat ini bernaung di bawah SMent dan member dari Super Junior.

.

Warning :

Boys Love, DON'T LIKE JUST DON'T READ.

.

.

.

^^KOKORO KARA AISURU^^

Just enjoy this fict, Polarisedeul~.

.

.

.

.

.

.

^Normal POV^

.

.

.

"Jadi… kau anak dari teman appaku ya Hyukkie…"

"Seperti yang kau dengar tadi Donghae yah…"

Keadaan tiba-tiba saja menjadi canggung untuk keduanya. Di dalam kepala mereka saat ini berkecamuk sekelebat masa lalu yang sempat terjadi di kehidupan mereka masing-masing. Seakan takut kenangan itu terkuak kembali. Mereka hanya takut… hubungan mereka akan menjadi semakin aneh jika kenangan itu keluar.

"Hahh…" Donghae menghela nafas setelah sekian lama tak ada satupun suara yang mereka keluarkan.

"…" Sedangkan Hyukjae hanya terdiam sembari memandangi lembayung malam nan kian pekat.

"Hyukkie…" memanggilnya dan menunggu sesaat reaksi apa yang akan diberikan oleh pemuda manis itu.

"Hm?" kini pandangan Hyukjae beralih pada Donghae yang sedang menatapnya.

"Boleh aku menceritakan sesuatu padamu?" Sejenak Donghae ragu akan reaksi selanjutnya yang akan diberikan oleh Hyukjae.

"Kenapa kau mau menceritakannya padaku? Kau tidak takut jika nanti aku menceritakannya pada orang lain?" tanya Hyukjae sembari mengerjapkan matanya, memberikan ekspresi lain darinya untuk dipandangi Donghae.

"Kau menceritakannya pada yang lain aku takkan takut. Aku hanya… takut kau menjauhiku setelah mengetahuinya." Setelah mengucapkan kalimat itu Donghae kembali menghela nafasnya, dan kemudian memantapkan hatinya setelah kalimat Hyukjae…

"Ceritakanlah, apapun yang terjadi di masa lalumu… itu terjadi dulu. Aku tak berhak menghakimimu 'kan Donghae yah."

Setelah tercengang beberapa saat, Donghae kembali melanjutkan.

"Kau masih ingat kemarin aku mengatakan bahwa aku adalah teman yang jahat untuk partnerku." Mendengar kalimat itu Hyukjae hanya mengangguk dan menunggu Donghae melanjutkan kamlimatnya. "Aku jahat… karena aku membiarkannya terluka dan tidak bisa menari lagi. Dan kejadian ini membuat appaku membenciku."

Ya… dulu Donghae membuat partnernya tidak bisa melanjutkan tariannya karena cedera yang dialaminya. Cedera yang diakibatkan oleh keegoisan Donghae. Saat mereka sedang berdiskusi tentang gerakan tariannya, tiba-tiba saja Donghae marah saat gerakannya dikritik oleh sahabatnya itu. Adu mulutpun tak terelakkan serta, tanpa sengaja Donghae mendorong sahabatnya itu kearah sebuah cermin besar yang biasa mereka gunakan untuk memantau gerakan tarian mereka masing-masing.

Seketika… amarah dan tenaga yang berasal dari energi negatif itu menguap. Donghae lemas saat itu juga kala ia melihat sahabat sekaligus partnernya itu mengerang kesakitan dan menutupi kedua matanya. Kedua mata yang telah bersimbah darah. Kedua mata yang seminggu kemudian dinyatakan buta permanen. Kedua mata yang takkan bisa melihat lagi. Kedua mata yang pada akhirnya merusak hubungan dua sahabat dan juga sepasang ayah dan anak laki-lakinya.

"Sekarang bagaimana keadaan sahabatmu itu Donghae yah?" tanya Hyukjae yang sedari tadi memasang ekspresi tak mudah terbacanya itu.

"Aku tidak tahu… selama sebulan setelah kejadian itu aku rutin mengunjunginya. Tapi, setelah itu ia menghilang. Dari yang kudengar, kedua orang tuanya membawanya ke luar negeri untuk berobat. Dan sampai sekarang aku masih belum tahu di mana dia sekarang."

.

.

.

Hyukjae saat ini sedang terbaring di atas ranjang hangatnya. Pikirannya melayang pada seorang pemuda yang bisa dikatakan sebagai kenalan barunya itu. Lee Donghae, entah apa yang ia rasakan saat ini, namun satu hal yang pasti, Hyukjae tidak menutup hatinya seperti biasa pada pemuda itu.

"Masa lalu ya… kurasa masa laluku yang lebih suram dibandingkan dia. Luka masa laluku pun lebih membekas, tapi… aku beruntung. Setidaknya aku memiliki keluarga yang mendukungku sepenuhnya." Mata bulat nan indah milik Hyukjae beberapa kali mengerjap dan beberapa kali bibir itu menguap, ia mengantuk, dan ia tak mau kembali memikirkan masa lalu yang menyebalkan baginya itu.

.

.

.

Sang fajar masih setia di peraduannya, namun sosok Hyukjae pagi itu sudah terlihat di salah satu ruangan sekolahnya. Ruang klub dance, ruangan yang selalu ia kunjungi akhir-akhir ini. Setelah melakukan pemanasan seperti biasanya, badan lincah Hyukjae mulai menari mengikuti irama. Ya, ia telah menciptakan koreonya sendiri. Tarian indah itu hanya tinggal ia poles sedikit lagi agar hasilnya sempurna. Tubuh itu bergerak kesana-kemari sesuai dengan melodi lagu yang telah ia pilih. Tak ayal, tetesan peluh sesekali mengucur di tubuh itu. Nafas Hyukjae mulai memburu menjelang akhir dari tariannya itu.

Beberapa jam setelahnya, Hyukjae baru menyadari jika ia terlalu asik dengan tariannya dan melupakan waktu sekolahnya.

"Tiga puluh menit lagi jam istirahat pertama," setelah mengguman seperti itu, Hyukjae beranjak menuju kamar mandi yang memang tersedia di ruang latihan itu, untuk membersihkan badannya dan kemudian mengikuti pelajaran setelah jam istirahat.

.

.

.

"Hyukkie, kau baru datang?" tanya Donghae saat ia menghampiri salah satu bangku kantin yang diduduki Hyukjae.

"Anni, aku sudah datang dari pagi tadi." Balas Hyukjae yang masih saja menikmati makanannya.

"Lalu kenapa tidak masuk kelas? Aku dengar kau tidak mengikuti dua mata pelajaran hari ini?" tanya Sungmin yang memang datang bersama Donghae.

"Latihan." Jawab Hyukjae singkat, membuat Donghae mengernyit heran, sementara Sungmin mengangguk-angguk mengerti.

"Selalu lupa waktu kalau sedang menari ya, hyung." Kyuhyun yang semenjak tadi diam saja, pun ikut berkomentar.

"Hng hng." Balas Hyukjae yang masih saja fokus dengan makanannya.

"Ya! Lee Hyukjae…" gerutu Sungmin melihat kebiaasaan Hyukjae yang tak pernah bisa diganggu jika ia sedang makan. Sementara itu…

"Hyung… ukh…" Donghae yang dibuat kaget saat mendengar teriakan Sungmin, tanpa sengaja menelan makanannya bulat-bulat tanpa ia kunyah terlebih dahulu, membuatnya tersedak dan dengan reflek meraih kotak susu yang ada di depannya. "Kau ingin membuatku mati, hyung?" gerutu Donghae yang masih saja menepuk-nepuk dadanya, melotot kesal pada Sungmin yang hanya membalas dengan cengirannya saja

"Hyung…" Kyuhyun kini menatap Hyukjae yang sedang meminum susu strawberrynya dan juga Donghae yang masih saja bersitegang dengan Sungmin. "Tak jadilah…" gumam Kyuhyun.

'Bisa mati si ikan satu itu kalau Sungmin hyung sampai tahu, itu 'kan kotak susu yang sama.' Kyuhyun membatin dan masih saja menatap bergantian antara Hyukjae dan Donghae yang tidak menyadari jika mereka baru saja berciuman secara tidak langsung.

.

.

.

TBC~

.

.

.

Huaaa, maaf lama banget gak update. Udah gitu isi chapter kali ini gak banget lagi. Jwaesonghamnida.

Makasih yang udah review di chapter-chapter sebelumnya, silahkan dibaca ya kalau masih ada yang nunggu lanjutan ini.

Nde, Polarisedeul, enjoy it.

Annyeonghigaseyo~