"R-Rukia,"
Terdengar suara panggilan khawatir dari Kokuto yang melihat Rukia hanya berdiam diri di pojok ruangan tamu. Gadis dengan rambut pendeknyasedari tadi memperlihatkan tanda-tanda aneh. Ia hanya diam, berkata apapun dan tidak membalas sahutan dari Kokuto dan yang lain. Entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini. Kokuto, Renji dan yang lain saling berpandangan lalu menggelengkan kepala tidak tahu apa yang harus mereka lakukan pada gadis itu. Mungkinkah Rukia bersedih dan mereka harus menghiburnya? Tapi sia-sia juga kalau Rukia tidak bisa tertawa. Dipanggil saja ia tidak merespon. Dengan hati-hati, Kaien berjalan mendekat pada gadis yang membelakanginya dengan aura ke-terpurukan yang sangat terasa itu. Tangan lelaki itu ingin menepuk pundak Rukia untuk memastikan keadaannya baik-baik saja, tapi merasakan aura kesedihan hebat itu, tangannya bergetar ragu menyentuh pundak mungil Rukia. Dasar, kalau saja Ichigo tidak membentaknya sekasar itu, Rukia tidak akan sampai seperti ini.
"Rukia-chan,"
BUGH!
Mata Kokuto, Renji, Ishida dan Kaien langsung melotot kaget melihat apa yang dilakukan gadis bertubuh mungil yang mendadak meninju tembok villa yang ditempatinya. Kaien yang tadinya berdekatan dengan Rukia, sekarang langsung berjalan mundur seperti kepiting ke arah teman-temannya yang sedang saling berpelukan ketakutan melihat reaksi Rukia. Keringat dingin menetes dari dahi dan rasa takut melebihi saat melihat Kuchisake-onna muncul dari para jejaka SMA Karakura. Bagaimana tidak takut? Dan siapa sangka gadis semungil Kuchiki Rukia ternyata mampu meninju tembok villa sampai menciptakan retakan di tembok tersebut. Mulai saat ini, para kaum lelaki gerombolan Ichigo mulai berjanji pada diri mereka masing-masing untuk tidak membuat Rukia kesal atau mereka akan kehilangan wajah tampan mereka. Tangan mungil Rukia yang tadi dipergunakan untuk meninju masih mengepal. Gertakan gigi mulai terdengar bersamaan saat gadis itu membalikkan badannya dan menatap tajam ke Kokuto dan yang lain. Sorotan mata violet milik sang gadis sukses membuat siapapun yang melihatnya begidik ngeri.
"Awas saja bocah rambut jeruk itu. Berani sekali dia bawa-bawa wanita lain... akan kupastikan dia kuseret ke kamarku dan kumutilasi lalu mayatnya kubuang ke sumur!" gumam Rukia dengan mata berapi-api dan rambutnya berdiri seperti hantu barat bernama 'Medusa'.
"R-RUKIA-CHAN, SADARLAH! JANGAN BUAT ICHIGO JADI SADAKO!"
Sahut kompak gerombolan Ichigo yang masih saling berpelukan ketakutan mendapati Rukia jadi berubah sadis. Tapi dalam hati kecil mereka, mereka bersyukur Rukia tidak bersedih hati, malah berapi-api. Seperti Rukia yang biasanya. Well, beginilah sifat Rukia. Gadis yang tidak cengeng dan kuat. Meski hatinya disakiti Ichigo, ia masih tetap berusaha untuk tetap kuat di mata orang lain.
# # #
Di lain tempat, lebih tepatnya di kamar Ichigo, pemuda berambut oranye bersama gadis berkimono di sampingnya masih bermanja dalam kasur kamar tersebut. Gadis cantik nan manis pemilik rambut putih panjang halus itu sedari tadi terus bergelayut manja di tubuh Ichigo yang hanya diam seakan pasrah dan menurut pada setiap apa yang dilakukannya. Yuki-onna, nama gadis itu. Kulit tangan Yuki yang sedingin es menyentuh leher sang pemuda yang menemaninya. Tubuhnya yang terbaring sedikit ia bangunkan agar bisa menjangkau leher pemuda yang berposisi duduk. Bibir yang sama dinginnya dengan tangannya ia sentuhkan di leher Ichigo, ia memberinya sebuah kecupan singkat yang menghantarkan dingin pada tubuh Ichigo. Ichigo sedikit mendesah merasakannya.
"Apakah kau bersedia menjadi milikku selamanya, Ichigo?"
Mata hazel Ichigo melirik Yuki yang memandangnya. Ichigo membuka bibirnya untuk memberikan jawaban atas pertanyaan Yuki. "Ya. Aku bersedia. Apapun yang terjadi, aku akan bersamamu."
Yuki tersenyum. Ingin sekali ia mencium bibir Ichigo, namun di urungkannya niatnya karena jika ia menciumnya, maka bisa-bisa ia membekukan organ dalam Ichigo lewat ciumannya tanpa sadar. Mata emerald indah Yuki terpejam ketika tubuhnya kembali bersandar di dada bidang Ichigo. Tangannya mengusap-usap tubuh Ichigo.
"Esok, aku akan membekukanmu dan membawamu ke gunung Fuji tempat di mana aku tinggal. Dengan begitu, kita akan bisa bersama selamanya."
Disclaimer : : Tite Kubo
Genre : : Gado-gado ==a
Warning : : OOC, AU, Typo, gaje, abal, dll.
Ghost Haunt
Chapter 3 : : Yuki-onna (wanita salju)
Bagian 2
Clek.
Ichigo keluar dari kamarnya dan menutup pintu kamar. Belum sempat ia melangkah beberapa langkah, pemuda berambut oranye dengan mata hazel sedikit menggelap itu menangkap sosok beberapa lelaki yang berdiri di depannya untuk mencegatnya. Masih dengan tatapan datar, Ichigo diam menunggu apa yang akan dikatakan salah satu dari gerombolan teman-temannya.
"Oy, Ichigo. Bagaimana? Sudah selesai bersenang-senang dengan Yuki?" tanya Renji dengan nada menyebalkan untuk didengar. Ichigo mengangguk pelan. "Ya. Yuki sekarang sedang tidur dan jangan sekali-kali kau mengganggunya," balasnya dengan dingin. Yang lain cuma berdecak heran. Ichigo mengatakannya seolah ia tak mengenal betul siapa para sahabatnya.
"Lalu sekarang kau mau apa? Apa mau bertemu dengan kekasih aslimu, Kuchiki Rukia?" sindir Ishida. Ichigo masih berdiam. Ia tak merespon ucapan Ishida. Pemuda itu kemudian mengacuhkannya, berjalan terus sambil melewati teman-temannya dengan angkuhnya. Kaien yang benar-benar kesal segera menahan tangannya sebelum Ichigo pergi lebih jauh dari mereka. Cengkramannya menguat saat Ichigo akan menarik tangannya dari Kaien. Mata hazelnya melirik Kaien yang berekspresi kesal.
"Kau ini makin lama makin menyebalkan. Aku tida kenal dengan Ichigo yang seperti ini. Apa jangan-jangan kau kena pengaruh Yuki?" tepat sekali apa yang Kaien katakan. Sayangnya ia tidak mengetahui kenyataannya. Ichigo masih berdiam diri tak melakukan tindakan apapun. Namun tangannya tak dibiarkan bertahan lama dalam tahanan Kaien. Ditariknya lengannya dengan kasar. Mata hazel yang gelap miliknya memandang sinis ke semua teman-temannya yang ada di hadapannya, seakan memberi sinyal tidak suka pada mereka. Pemuda dengan warna rambut jeruk tersebut mendengus kesal dan menunjukkan mimik wajah yang menantang.
"Seenaknya saja kalian bicara begitu. Rupanya kalian pintar menyembunyikan perasaan masing-masing ya. Aku tahu, kalian pun sebenarnya sama sepertiku, menyukai Yuki dari sekali melihatnya. Dan yang paling terlihat menunjukkan rasa sukamu itu adalah kau, jabrik hitam." Ichigo menunjuk Kaien dengan jari telunjuknya. Kaien yang jadi sasaran tentu kaget. "A-apa maksudmu sih, Ichigo!" geram Kaien dengan muka sedikit merah. Memang sih sebenarnya Kaien menyukai Yuki saat pertama melihat kecantikan gadis itu di kamar Ichigo. Ichigo hanya tersenyum. Matanya kini mengarah pada Ishida yang berada di barisan paling ujung dari teman-temannya. Jari telunjuk Ichigo mengarah ke arah pemuda berkacamata tersebut.
"Kau juga menyukainya kan, kacamata!" ungkap Ichigo pada Ishida.
"Kau juga menyukai Yuki bukan, Baboon bertato!" sekarang ke Renji.
"Dan kau... pastilah juga suka, pria muda ber-uban!" giliran Kokuto yang mendapat ledekan dari Ichigo lewat ciri khasnya, yaitu rambut putihnya.
Keempat gerombolan teman Ichigo menunjukkan api kemarahannya masing-masing karena mendapat julukan dari ciri fisik masing-masing dengan cara tidak menyenangkan dari Ichigo. Senyum kemenangan terukir dari wajah tampan Pemuda bermata hazel itu. Ia membalikkan badannya dan bersiap untuk melangkah pergi. Tapi masih ada satu yang belum mendapat julukan darinya.
"Dan untuk gadis yang bersembunyi di belakang tubuh si rambut uban," rupanya Ichigo menyadari keberadaan Rukia yang sedari tadi bersembunyi di belakang tubuh Kokuto. Rukia dan Kokuto jelas sedikit terjingkat dengan ucapan Ichigo. Pasalnya tadi mata Ichigo benar-benar tidak terlihat memperhatikan apa yang ada di belakang Kokuto. Jadi bagaimana bisa ia tahu? Apa Ichigo punya indra ke-enam sekarang? Gadis bermata violet yang ketahuan dari persembunyian, akhirnya keluar. Rukia mengepalkan tangannya. Makin lama bisa dirasakannya, ada sesuatu yang tidak beres dengan Ichigo.
"Jangan muncul di hadapanku lagi, karena aku muak melihat gadis berdada rata sepertimu, Kuchiki Rukia." sambung Ichigo dengan kata-kata yang tadi sempat terjeda. Dada rata, itulah julukan yang diberikan Ichigo pada Rukia. Jika saja Ichigo bisa mengontrol kesadarannya, ia tak mungkin berani mengatakan ini. Karena kata-kata yang diucapkannya sama saja seperti mantra pemanggil dewa kematian untuk mencabut nyawanya. Hawa membunuh sangat besar bisa dirasakan Kokuto dan yang lain. Mereka sedikit ragu hanya untuk melihat bagaimana reaksi Rukia setelah mendapat kata-kata kasar dari Ichigo. Perlahan-lahan kepala mereka memutar ke belakang di mana tempat Rukia berdiri. Dan sesuatu yang tak penah mereka bayangkan dari diri Rukia kini terlihat darinya. Rukia dengan aura membunuh, dengan celurit yang entah dari mana asalnya yang di genggamnya di tangan dan dengan aura penuh dendam bersiap membunuh Ichigo.
"Kurosaki Ichigo... kau benar-benar akan kubunuh!" teriak Rukia sambil mengangkat dan mengacung-acungkan celuritnya ke atas untuk membunuh Ichigo. Untungnya Kokuto dan yang lain dengan sigap menahan Rukia.
"R-Rukia-chan, sabar! Sabar!" ujar Kokuto yang menenangkan Rukia sambil menahan tangan kirinya, sedangkan Kaien tangan kanannya, Ishida menahan kaki Rukia, dan Renji yang mendapat bagian menahan tubuh Rukia cengar-cengir gara-gara punya kesempatan menahan tubuh mungilnya dengan cara memeluk tubuhnya dari belakang. Mana ada kesempatan emas seperti ini lagi? Selagi Ichigo sedang kerasukan, ia bisa curi-curi kesempatan pada kekasihnya. Dasar Renji mesum nih!
# # #
"Ini dia! Aku yakin, Ichigo pasti kena pengaruh yang seperti ini!"seru Ishida tiba-tiba ketika ia telah menemukan apa yang dicarinya. Sontak yang lain langsung mengerumuni tempat Ishida yang sedang ber-internet ria mencari sesuatu tentang hal-hal berbau gaib. Pemuda berkacamata itu mengarahkan telunjuknya di tulisan dalam halaman internet yang telah di temukannya.
Rukia mengerutkan alisnya saat membaca tulisan. "Yuki-onna? Kenapa kau malah mencari yang seperti ini?" tanyanya tak mengerti tentang apa maksud Ishida menunjukkan cerita tentang Yuki-onna. "Itu dia masalahnya! Coba baca artikel ini!"
"Yuki-onna adalah seorang youkai yang terkenal di Jepang. Yuki-onna adalah sejenis youkai yang hidup di pegunungan atau saat Jepang mengalami musim salju dan datangnya badai salju. Yuki-onna adalah youkai yang tidak berbahaya jika kemarahannya tidak dipancing, ia sering mencelakai pemuda atau siapapun yang mencoba berbuat jahat padanya. Seringkali, youkai ini akan mencegat pemuda pilihannya untuk dijadikan persembahan gunung tempatnya tinggal, yaitu gunung Fuji. Wanita salju ini suka bermain-main dengan mangsanya dulu dengan cara mencuci otaknya lalu jika sudah waktunya, ia akan membekukan pemuda yang mejadi mangsanya dan mengabadikannya di gunung Fuji." Kaien mengangkat satu alisnya. Kelima rekan Ichigo itu kemudian saling berpandangan dan mengangguk.
"ICHIGO KENA PENGARUHNYA!" kata mereka dengan kompak.
"Tunggu, tapi bagaimana bisa kita tahu kalau Yuki yang bersama Ichigo itu adalah Yuki-onna si youkai?" sela Rukia.
"Tentu saja bisa. Bagaimana kau tidak curiga dengan perubahan Ichigo yang awalnya blak-blakkan, gila, suka merendahkan diri, jelek, kini sekarang jadi bersikap sering diam, dingin, tinggi hati, dan jadi tampan?" sahut Renji. Semua cuma sweetdrop mendengar jawaban tak logis dari Renji.
Rukia mulai berfikir. Apa yang di katakan Renji benar, Ichigo berubah drastis semenjak ada Yuki di sampingnya. Gadis itu tersentak kaget mengingat tentang artikel yang di bacanya barusan. Jika sudah waktunya, Ichigo akan di jadikan persembahan di gunug Fuji, itu artinya Ichigo akan di bunuh di sana! Ini tidak bisa di biarkan terjadi. Ichigo sudah terlalu banyak melindungi Rukia, sekarang saatnya ia yang ambil peran. Rukia yang harus melindungi Ichigo. Gadis pemilik mata violet tersebut mengepalkan tangannya dan mengangkat tinggi-tinggi. Dengan penuh semangat dan berapi-api, ia menghentakkan kakinya di hadapan yang lain. "Ayo kita sadarkan Ichigo! Jangan sampai Yuki-onna berhasil memberikan Ichigo sebagai sesembahan tempat tinggalnya!"
Yang lain cuma bengong melihat Rukia yang benar-benar berubah karakter saat ini. Tapi itu tak lama, Ishida dan yang lain saling berpandangan dan mengangguk mantap dengan apa yang mereka putuskan. "Yeah! Ayo kita selamatkan Ichigo!" seru mereka kompak yang lalu diikuti dengan teriakan Rukia yang kembali memanaskan semangat mereka. Namun ada satu orang yang berbeda dengan mereka, yaitu Kokuto. Pemuda berambut putih itu mengerutkan dahinya seolah tak setuju dengan apa yang mereka rencanakan. Ia punya rencana sendiri yang menurutnya lebih bagus, tapi sudahlah. Toh tidak ada salahnya teman-temannya itu mencoba dengan cara yang mereka pakai daripada rencananya sendiri.
# # #
"Rencana pertama, kita harus membuat Ichigo sedikit ingat dengan kita, orang yang disayanginya!"
Itulah rencana pertama yang ada di pikiran mereka. Renji, Ishida, Kokuto, Kaien dan tentunya Rukia sekarang ini sedang menguntit Ichigo. Mereka menunggu kesempatan Ichigo jauh dari Yuki-onna lalu saat kesempatan itu datang, mereka akan menyeret Ichigo dan memaksanya untuk mengingat siapa dirinya sebenarnya. Kelima murid SMA Karakura itu berpencar-pencar agar tidak terlalu mencolok dan ketahuan oleh Ichigo nantinya. Ini adalah rencana yang bersumber dari Rukia, dan tahukah kalian kenapa Rukia bisa memikirkan rencana sampai seperti ini? Ia mendapat ide rencana ini dari drama-drama yang ia biasa ia tonton bersama Byakuya. Melihat di drama-drama seorang pemeran utama kehilangan ingatan lalu dipaksa oleh teman-temannya untuk mengingat masa lalunya dan hasilnya si pemeran utama berhasil ingat akan siapa dirinya, itu membuat Rukia yakin bahwa rencananya ini mungkin bisa berhasil walau kecil kemungkinannya. Rupanya Rukia jadi korban drama di televisi. Inginnya sih menyangkal rencana tidak masuk akal itu, tapi mau bagaimana lagi. Renji dan yang lain mau-mau sajalah mencobanya, tidak ada salahnya bukan?
"H-hey! Renji kepada Kaien, Ichigo sekarang ada di kamar mandi. Bukankah dia sudah cukup jauh dengan Yuki-onna yang ada di kamar? Ini kesempatan emas kita, ganti!" bisik Renji mengumumkan tentang hasil pengamatannya memakai alat canggih yang biasa digunakan polisi untuk menyelidiki kasus. Lawan bicara Renji, yaitu Kaien yang berada di sekitar dapur villa menyahut, "Kaien kepada Renji, kata Rukia kau seret Ichigo ke kamar Kokuto sekarang juga! Ganti!" Renji mengangguk mengerti kemudian segera keluar dari persembunyiannya dan segera menyeret Ichigo dengan kecepatan kilat menuju kamar Kokuto.
Mata hazel Ichigo menyipit melihat pemuda berambut merah itu menyeretnya dengan kasar dan tak ber-perikemanusiaan. "Kau, mau apa kau, baboon!" geramnya dingin. Tangan kuat Ichigo tiba-tiba mencengkram tangan Renji yang menyeretnya dengan kuat sampai membuat Renji merinding begitu menoleh dan melihat ekspresi wajah Ichigo yang menatapnya tajam dengan rupa seorang yakuza yang kemarahannya tidak tertahankan. Bahkan wajah Ichigo saat ini lebih seram dari Kenpachi, ketua yakuza di Osaka, wajah Kuchisake-onna, atau Kurotsuchi Mayuri, tokoh manga kesukaannya, yaitu Bleach. Nyali Renji seketika ciut dan dilepaskannya tangan yang menyeret Ichigo ke kamarnya. Padahal belum sampai setengah perjalanan ke kamar Kokuto, dan ia pada akhirnya menggagalkan rencana A dari Rukia. Renji menundukkan kepalanya dan membungkukkan tubuhnya berulang-ulang sambil meminta maaf pada Ichigo sampai pemuda berambut oranye terang tersebut berlalu dari hadapannya. Sungguh malang nasibnya harus mengalami kejadian tadi. Andai Renji bersikeras menyeret Ichigo ke kamar Kokuto, sudah bisa dibayangkan wajahnya bonyok tak terbentuk dalam sekejap.
"Kaien kepada Renji, bagaimana? Apa kau berhasil menyeretnya ke kamar Kokuto?"
Renji dengan air mata bagaikan air terjun menjawab, "Renji kepada Kaien, maaf. Aku takut sekali, tadi Ichigo mendadak dirasuki arwah yakuza..."
Ichigo, kapan kau kembali dengan senyum hangatmu? Sikap menyenangkanmu? Leluconmu khasmu? Aku merindukan semua itu yang ada dalam dirimu.
Ini adalah curhatan dariku, Ichigo.
By Renji.
# # #
"Es atau salju kalah dengan api. Makanya basmi saja Yuki-onna dengan api!"
Rencana kedua Rukia! Sekarang mereka bergerak sama-sama atau lebih tepatnya bakal ngeroyok blak-blakkan.
"Kalian siap?" tanya Rukia yang akan membuka pintu kamar Ichigo yang di dalamnya ada Yuki-onna. Sedangkan Ichigo sendiri sedang mandi. Yang lain mengangguk mantap. Kokuto, Renji dan Kaien telah siap dengan sejata api mereka. Sedangkan Ishida cuma diam. Pemuda berkacamata itu menduga bahwa rencana kali ini 100% gagal melihat senjata yang digunakan kurang canggih.
"Sekarang, ayo!"
Bruak!
Pintu kamar di dobrak dan trio pelajar yang beranggotakan Renji, Kaien dan Kokuto itu mengacungkan senjatanya ke Yuki yang sedang terbaring di ranjang kamar. Yuki sedikit terkejut dengan semua itu, tapi kemudian tawa pelan terdengar dari bibir mungilnya melihat senjata api yang diacungkan ke arahnya tersebut. "Jangan tertawa! Kau harusnya memohon pada kami agar tidak menyakitimu, wanita salju!" geram Kaien yang semakin mendekat pada gadis youkai itu. Tawa Yuki semakin meledak. Gadis berkimono itu menunjuk-nunjuk Kokuto dan yang lain.
"Hahaha! Kalian pikir dengan senjata bodoh yang kalian bawa, kalian bisa melelehkanku? Wah, wah. Kasihan sekali kalian. Kalian sudah tahu kalau aku adalah youkai, seharusnya kalian pun menyiapkan senjata yang lebih pantas digunakan untuk melawan youkai!"
Rukia dan grup kuartet itu tidak bisa mengelak kata-kata youkai satu ini. Tentu saja masuk akal juga apa yang dikatakannya, karena saat ini senjata api yang mereka bawa sangat lemah. Bahkan untuk melukai Yuki-onna pun kecil kemungkinannya bisa berhasil, apa lagi kalau harus memusnahkannya. Apa yang mereka bawa? Pertama Kokuto, pemuda ini bersenjatakan korek api. Sekali lagi, korek api yang ukurannya mungil nan imut (?). Sedangkan Kaien bersenjatakan korek gas yang ukuran sedang. Tapi itu sepertinya tidak berguna, pasalnya saat Kaien akan menghidupkan api dan melemparnya ke Yuki, ternyata gasnya habis. Dan yang paling parah Renji, dia malah bawa-bawa gas elpiji 3 kg. Ini sih namanya bunuh diri, Renji!
"Pergilah kalian, makhluk aneh!" Yuki-onna mengeluarkan kekuatan es-nya. Dengan sekali ayunan tangan, sebongkah es mendorong Rukia dan grup kuartet itu sampai terpental jauh entah ke mana.
"Gwaaaaa!"
# # #
Beberapa menit setelah kejadian itu, Ichigo kembali ke kamar. Pemuda itu mengerutkan alisnya melihat Yuki-onna yang tersenyum-senyum padanya. "Ada apa?" tanyanya. Tanpa ada rasa dosa dan seakan tidak terjadi apapun, Yuki menggeleng. "Tidak apa. Barusan aku mendapat hiburan yang sangat lucu dari penghuni villa ini."
Sementara keadaan Rukia dan yang lain begitu mengenaskan. Kokuto tergeletak di lantai dengan Rukia yang menindih tubuhnya, Ishida yang tergeletak di lantai dengan Renji yang menindihnya, dan Kaien yang tergeletak dengan gas elpiji bawaan Renji tadi menindih tubuhnya dengan begitu mesranya.
"WOY, SINGKIRKAN BENDA HIJAU BERAT MILIKMU INI, RENJI!"
Di lain itu, Rukia sudah benar-benar tidak tahan lagi dengan semua ini. Gadis pemilik mata violet itu bangkit dari tubuh Kokuto.
"Ru-Rukia?" ucap Kokuto melihat Rukia yang menatapnya dengan serius. Sorot matanya itu menyiratkan sesuatu yang benar-benar sangat misterius. Tiba-tiba, seakan emosinya benar-benar tak terkontrol, Rukia menarik kasar kerah baju Kokuto hingga dirinya dan pemuda berambut putih itu berhadapan dengan wajah yang sangat dekat. Mata violet itu menyipit, menatap mata Kokuto dalam.
"Kokuto, bantu aku mengembalikan kesadaran Ichigo."
# # #
Siang bersalju telah berganti malam. Malam yang saat ini pun tak ada bedanya dengan siang, salju tetap turun dari langit dengan tenang. Malam di desa, tepatnya di kawasan tempat villa yang para murid SMA Karakura gunakan untuk merayakan ulang tahun Ichigo itu terasa sunyi. Tak ada suara apapun, seolah tak ada penghuninya. Kurosaki Ichigo saat ini sibuk dengan Yuki-onna. Ia menemani Yuki-onna yang kini terlelap damai di ranjangnya dalam posisi berpelukan. Mata hazel gelap Ichigo menatap datar wajah manis Yuki yang sedang terlelap. Tangannya dengan lembut terus mengusap rambut putih halusnya agar Yuki dapat menikmati alam mimpinya. Sesaat setelahnya, Ichigo mendengar suara aneh di depan kamarnya. Gerak membelai tangannya terhenti, kemudian pemuda itu dengan hati-hati turun dari ranjangnya untuk membuka pintu. Sebelum ia memeriksa di luar kamar, Ichigo melirik Yuki, memastikam gadis pujaannya tidak terbangun dari tidurnya. Dan syukurlah, perkiraannya benar.
"Siapa yang malam-malam begini berisik?" desahnya yang lalu memutar kenop pintu. Belum sempat semua kenop itu memutar sempurna, Ichigo menghentikannya ketika didengarnya suara aneh yang membuatnya tak percaya dengan pendengarannya sendiri. Suara desahan wanita. Ya, tidak salah lagi. Suara desahan lembut dan rintihan penolakan yang sedikit keras yang berasal dari luar kamarnya. Ichigo mengerutkan alisnya. Di gelengkannya kepalanya mengusir jauh-jauh pikiran kotornya. Pemuda itu melanjutkan pemeriksaannya. Ia memutar kenop pintu dan membuka pintu selebar-lebarnya. Alangkah terkejutnya ia ketika mendapati di depan matanya berdiri seorang pemuda berambut putih sedang menciumi gadis pendek yang membelakanginya. Pemuda itu memeluk dan mencium sang gadis dengan posisi kepala dimiringkan, itu bisa terlihat saat pemuda itu menatap Ichigo sambil tetap fokus dengan apa yang dilakukannya. Meski wajahnya tertutupi oleh kepala belakang sang gadis, Ichigo dapat menerka arti tatapan pemuda itu. Kokuto, ya, Kokuto mencium Rukia. Tatapan itu seakan menyiratkan, 'aku akan merebutnya darimu.' Tangan Ichigo mengepal kuat melihat apa dihadapannya saat ini. Mereka begitu mesra. Suara desahan Rukia terngiang di otaknya. Berkali-kali, meski Ichigo berusaha untuk tidak peduli dengan itu semua karena dia hanya memikirkan Yuki, tapi entah kenapa suara desahan Rukia membuatnya menumbuhkan rasa kesal di hati.
"Buka mulutmu, Rukia sayang." bisik Kokuto dengan senyumnya. Seringaian yang ditunjukkan pada Ichigo seakan menantang pemuda berambut oranye itu untuk melakukan sesuatu. Memang Ichigo dalam pengaruh Yuki, tapi... semakin lama, ingatan akan teman-temannya satu persatu kembali. Kesadarannya memulih. Namun semua itu memberikan efek menyakitkan untuknya. Kepalanya mulai sakit karena siratan-siratan ingatan yang dilupakannya. Tentang Kokuto, Renji, Ishida, Kaien, dan Rukia.
"Ukh..." Ichigo mengerang sambil memegangi kepalanya. Matanya menutup rapat menahan rasa sakit yang menjalar otaknya. Dan... saat kedua kelopak matanya terbuka, warna hazel miliknya yang sebelumnya menggelap kini telah kembali seperti sebelumnya.
"KOKUTO!" Ichigo yang kesadarannya telah kembali dan melihat Kokuto bersama Rukia itu langsung bertindak. Dengan kasar Ichigo memisahkan Rukia dan Kokuto, kemudian meninju pipi temannya sendiri. Teriakan Rukia memancing Renji dan yang lain keluar dari tempat mereka masing-masing. Para lelaki itu terkejut melihat Ichigo yang menindih Kokuto dengan tangannya yang menarik kerah baju Kokuto. Posisi siap untuk memukul.
"Sialan! Apa yang kau lakukan pada Rukia, hah! Kupikir kau ini temanku, ternyata kau teman brengsek! Kau menghianatiku, Kokuto!" teriak Ichigo dengan tatapan tajamnya. Kecewa yang dirasanya benar-benar meluap. Ia tak sekalipun berpikir salah satu dari temannya akan melakukan seperti ini pada kekasihnya. Ichigo memang terlihat sangat marah, tapi Kokuto tetap tenang menanggapinya. Rasa sakit akibat satu pukulannya ia tahan. Ekspresi sakit itu disembunyikannya dengan tawa pelannya. "Kau! Kenapa kau malah tertawa, sialan!" Ichigo yang merasa diremehkan bersiap melayangkan pukulan keduanya. Tapi sebelum itu terjadi, Kokuto berhasil menahannya. Pemuda yang sudah mendapat luka di pipi hingga darah menetes dari ujung bibirnya mencengkram kuat tangan Ichigo. Pemilik mata ungu tersebut tersenyum pada Ichigo.
"Akhirnya kau kembali, Kurosaki Ichigo."
Ichigo terdiam melihatnya. Ia tak mengerti maksud yang dikatakan Kokuto. Pandangannya mengarah ke lain yang ikut menatapnya dengan senyum bahagia dan lega. Terlebih Rukia, gadis itu tersenyum lega. Mata violetnya hampir meneteskan air mata. Ichigo benar-benar telah lepas dari pengaruh Youkai. Inilah Kurosaki Ichigo yang mereka kenal. Hazelnya yang bersinar hangat, kerutan permanen yang menjadi ciri khasnya. Sayang, meski Ichigo telah sadar, ia tak mengingat apapun apa yang dilakukannya selama dalam pengaruh Yuki.
"Baka! Kenapa kau baru bisa sadar! Aku khawatir!" Rukia segera memeluk Ichigo erat. Seperti anak kecil, ia menangis di dada bidang Ichigo. Keadaan ini semakin mengundang tanda tanya besar untuk Ichigo. Wajahnya sedikit memerah dengan tingkah aneh Rukia yang tiba-tiba memeluknya. Tapi yang namanya Ichigo sih masa bodoh. Kalau Rukia yang mulai duluan, maka ia akan membalas. Perlahan, Ichigo membalas pelukan Rukia dan mengusap rambut gadis itu. Di hirupnya aroma tubuh Rukia, aroma lavender yang dirindukannya. Padahal Rukia selalu bersamanya, tapi ia merasa Rukia telah lama meninggalkannya. Ia tak sadar, selama ia dalam pengaruh Yuki, Ichigo menjaga jarak dari Rukia dan itu membuat kerinduannya melambung begitu besar.
"Ehem. Sekarang semua sudah kembali normal." sahut Ishida yang memecah kemesraan mereka. Ichigo melepas pelukannya dan mengangkat satu alisnya. "Sebenarnya apa yang terja-"
Suara bantingan pintu kasar terdengar dan mengejutkan semua yang berada di sana. Ichigo dan yang lain reflek menoleh ke tempat suara tersebut berasal. Di sana, berdiri Yuki-onna yang terlihat emosi dengan nafas terengah-engah. Melihat sang Youkai yang muncul, semua mulai mundur menjaga jarak jika kalau lawan mereka melakukan sesuatu yang berbahaya. Rukia kembali memeluk Ichigo sambil memperhatikan Yuki yang tengah memandangnya dengan rasa dendam.
"Kalian... kalian tidak akan kubiarkan merebut kembali mangsaku!" Yuki berteriak histeris. Tangan mungilnya mengacung ke arah Ichigo yang bingung dengan apa yang terjadi. Tiba-tiba sebuah es menjalar dan membekukan hampir sebagaian tubuh Ichigo.
"Ichigo adalah milikku!" Yuki semakin menjadi, ia membuat tubuh Ichigo akan beku seutuhnya. Yang lain ingin membantu Ichigo lolos dari serangan si youkai, namun sayang mereka pun ikut terkena serangan Yuki. Kaki Ishida, Renji, Kokuto dan Kaien perlahan-lahan terkunci oleh es beku. "Sialan! Apa-apaan ini!" mereka cuma bisa mengumpat di tengah suara tertawa Yuki yang membahana. Yuki kemudian mendekati Ichigo yang separuh tubuhnya sudah membeku. Mata emeraldnya memandang mata hazel Ichigo yang mulai meredup. Dingin... rasa dingin yang menjalar tubuh Ichigo membuatnya hampir mati rasa.
"Kau adalah milikku, Kurosaki Ichigo!" gumamnya dengan suara bergetar yang tak percaya bahwa ia akan melakukan hal sekasar ini pada mangsanya. Selama mencari mangsa, tidak pernah sekalipun Yuki sampai harus melakukan hal seperti ini. Mengeluarkan lebih banyak kekuatannya sampai-sampai cuaca bersalju yang tenang tadi, kini berubah menjadi badai salju yang mengerikan. Ichigo tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya bisa mengeluh kedinginan. Nafasnya mulai memburu. Tangan Yuki hampir menyentuh wajah tampan Ichigo.
"HENTIKAN!"
Suara Rukia membuat Yuki-onna berhenti bergerak. Ia melirik gadis mungil yang kakinya terkunci oleh es beku miliknya dengan ekor matanya. Yuki menyipitkan matanya melihat Rukia.
"Percuma kau melakukan semua ini, Yuki. Kau hanya melakukan hal yang tidak berguna selama hidupmu. Mencari orang lain untuk kau cintai kemudian membunuhnya! Apa untungnya semua itu bagimu! Kau hanya mencari kesedihan, kau tidak akan pernah mendapat kebahagiaan kalau begini terus! Seumur hidupmu, hatimu akan tetap dingin sedingin es, kau tidak akan bisa merasakan kehangatan perasaan orang yang mencintaim-"
"CUKUP!" Yuki menjerit kembali. Kata-kata Rukia mengingatkannya akan masa lalunya. Masa lalu yang menyedihkan tentang dirinya yang ditinggalkan oleh lelaki yang dicintainya di tengah badai salju dengan dingin yang begitu menusuk kulitnya hingga membuatnya harus mati di tengah cuaca buruk itu. Sekelebat bayang-bayang masa lalu menyerang otaknya, kenangan yang telah dilupakannya mendadak kembali menghantuinya. "AAAAAAAAAAAA!" seiring dengan teriakan Yuki, es yang membekukan tubuh Ichigo dan yang lain tiba-tiba mencair dan membebaskan mereka dari jeratan bekuan es. Rukia segera menghampiri Ichigo yang terbatuk-batuk lemah karena dingin yang amat sangat dirasakannya. Rukia memeluk tubuh Ichigo, berusaha menghangatkan pemuda itu. Sedangkan yang lain masih mencoba memulihkan kaki mereka yang hampir mati rasa akibat serangan tadi. Lalu bagaimana dengan Yuki? Yuki yang tidak bisa apa-apa lagi berlari keluar villa. Gadis itu kabur ke desiran badai salju dahsyat di luar sana.
Sepasang mata yang menangkap sosoknya membulat melihat Yuki. Ia khawatir dengannya yang kabur di tengah badai salju berbahaya. "Sial." Tak butuh waktu lama untuk memulihkan kondisinya, lelaki itu berdiri lalu menyusul keluar villa untuk membawa Yuki kembali.
"H-Hey! Apa yang kau lakukan! Di luar sana badai salju, berbahaya, bodoh!" peringat Kaien agar temannya mengurungkan niatnya untuk membawa gadis youkai kembali. Tapi semua itu tak berarti apa-apa, teman baik Kaien dan Ichigo itu tetap bersikeras keluar menerjang badai salju, seakan tak peduli seberapa bahayanya keadaannya.
# # #
"Yuki, kau tidak apa?"
"Iya, tuan. Aku tidak apa. Mari lanjutkan perjalanan."
"Benarkah? Aku ragu kalau kau tidak apa dalam badai salju seperti ini. Kalau kau tidak kuat lagi, kita istirahat saja."
"Tidak apa, tuan. Aku akan selalu bersama tuan."
Aku akan selalu bersama tuan, orang yang kucintai. Meski badai salju berusaha memisahkan kami, tapi aku akan tetap setia.
"Tu-tuan, jangan tinggalkan saya!"
"Wanita tidak berguna! Kau ini hanya memperlambat waktu saja! Biar saja kau mati di sini, tertimbun salju hingga tubuhmu membeku!"
Yuki menangis. Youkai itu berdiri sendiri di tengah badai salju yang menderanya. Memori masa lalunya kembali terputar, membuat hatinya sakit. "Kenapa? Kenapa gadis itu mempercayai Ichigo... tidakkah ia berfikir kalau suatu saat Ichigo akan meninggalkannya?" ucapnya lirih berbicara tentang Rukia.
Sepasang tangan besar tiba-tiba melingkar di pinggang Yuki dari belakang. Tubuh mungilnya ditarik mendekat ke tubuh si pemilik tangan tersebut. Yuki tersentak kaget melihat seseorang yang memeluknya. "Kau..."
"Bodoh. Kau tidak perlu membunuh dirimu di tengah badai ini. Kami tidak akan menyakitimu. Kembalilah, Yuki..."
# # #
Badai salju masih berjalan seperti biasanya. Tak ada satupun orang yang akan berani keluar dalam keadaan seperti itu. Tapi tidak untuk sepasang insan yang satu ini. Yuki dan serang pemuda yang saat ini tengah menggendongnya di punggung, membawanya kembali ke villa, yaitu Kokuto. Memang aneh jika Kokuto membawa kembali Yuki ke villanya. Memang, apa alasannya ia sampai mempertaruhkan nyawanya pada badai demi Yuki?
"Kokuto-san, kenapa kau membawaku kembali?" tanya Yuki sesopan mungkin agar tidak membuat Kokuto marah atau apapun yang menyakiti hatinya. Kokuto tersenyum tipis mendengarnya.
Dengan muka merahnya, Kokuto menjawab, "Karena... aku benar-benar jatuh cinta padamu." bola mata emerald Yuki membulat. Ia tak percaya dengan pernyataan pemuda berambut putih yang menggendongnya. Yuki mendekatkan wajahnya tepat di samping kepala Kokuto dengan dagu yang disandarkannya di pundak Kokuto.
"Kokuto-san... bercanda kan?" ucapnya memastikan. Kokuto malah memasang ekspresi cemberutnya.
"Aku tidak bercanda, Yuki-onna. Pertama aku melihatmu, aku benar-benar terpesona dengan kecantikanmu. Jantungku berdetak cepat melihatmu tersenyum. Dan pertama melihatmu saja, aku sudah bisa menebak kalau kau adalah dewi salju yang turun ke bumi. Ah, bukan... kau adalah youkai. Andai saja kau tidak mengalami masa lalu yang menyakitkan, wajah cantikmu pasti akan seputih dan secantik hatimu. Aku... turut menyesal dengan kegagalan percintaanmu itu, tapi jika kau mau menerimaku, aku tidak akan pernah menghianatimu. Janji." kalimat panjang yang dikatakan Kokuto seperti dorongan semangat untuk Yuki. Ia bisa merasakannya, kehangatan hati Kokuto yang benar tulus menyukainya. Kehangatan itu membawa kepercayaan untuknya. Yuki tersenyum. Sepasang tangannya melingkar di leher Kokuto, memeluknya dengan lembut. "Terima kasih." bisiknya dengan isakan tangis.
Badai salju perlahan reda. Ajaib, hanya dengan beberapa menit, badai salju kembali menjadi bola-bola salju putih yang indah turun dari langit. Kokuto menghentikan langkah perjalanannya menuju villa. Kepalanya mendongak ke atas. "Wah. Indah ya. Apa kau yang melakukan semua ini, Yuki?" Kokuto menoleh pada Yuki yang masih berada dalam gendongan punggungnya. Tapi tidak ada Yuki. Yang ada hanya salju seperti pasir yang berhembus seakan terbawa angin. Tersirat rasa kecewa dalam diri Kokuto. Gadis yang disukainya menghilang tiba-tiba. Apakah ini resiko jika ia mencintai youkai? Tidak akan bisa bersatu, meski rasa sayangnya begitu besar pada Yuki-onna.
# # #
"Ah, Kokuto! Bagaimana dengan Yuki?" tanya Kaien yang menyambut kedatangan Kokuto. Kokuto menggeleng lemah. "Dia menghilang."
Ishida menghampiri Kokuto. Pemuda berkacamata itu tahu bahwa teman baiknya menyukai Yuki. Tangannya menepuk bahu Kokuto, memberikan semangat padanya. "Kau hebat, Kokuto. Kau bisa meluluhkan hati Yuki. Yuki menerima perasaanmu. Tahu tidak? Yuki-onna akan mencair ketika merasakan kehangatan hati pemuda yang mencintainya. Dan itu semua menggambarkan perasaannya yang juga menyukaimu. Meski kalian tidak bisa bersama, perasaanmu tidak sia-sia. Bersemangatlah, Kokuto!"
Kokuto terdiam mendengar penjelasan Ishida. Wajahnya merona merah karena ternyata perasaannya pada Yuki terbalaskan. Yah, Yuki menyukainya. Tidak disangkanya, meski ia akhirnya tidak bisa bersama Yuki, tapi gadis yang dicintainya membalas perasaannya. Senang sekali hatinya mengetahuinya.
# # #
Sementara keadaan Ichigo...
"Ah..." Ichigo menggumam ketika ia telah sadar dari pingsannya. Pertama yang dilihatnya adalah wajah khawatir Rukia. Sungguh manis. Dengan hati-hati, Ichigo membangunkan tubuhnya dari ranjang. Ia memegangi kepalanya yang masih sakit.
"Ichigo, jangan memaksakan dirimu kalau kau masih sakit!" kata Rukia khawatir. Ichigo tersenyum dengan paksaan agar Rukia tidak perlu khawatir lagi padanya. "Tidak apa. Emmm... yang tadi itu siapa? Gadis berambut putih..."
Rukia terkejut. Jadi, Ichigo yang kesadarannya telah kembali tidak ingat apa-apa tentang Yuki? Syukurlah, Rukia bersyukur dengan semua itu. Rukia langsung menghambur ke pelukan Ichigo dengan perasaan bahagia. "Lupakan semuanya! Yang penting kau telah pulih, Ichigo!" katanya girang. Ichigo ikut tersenyum melihat tingkah seperti anak kecil Rukia. Pemuda rambut oranye itu mengelus lembut rambut hitam Rukia. Tapi, tunggu! Ada satu permasalahan yang hampir dilupakannya! Ichigo mendorong pelan tubuh Rukia kemudian mengangkat kepalanya agar gadis di hadapannya dapat memandang wajahnya.
"Yang tadi itu... apa kau benar-benar ciuman dengan Kokuto?" tanya Ichigo gugup. Jantung Rukia hampir berhenti mendengarnya. Ia tak tahu harus menjawab apa. Jujur atau bohong?
"Umm... sekali saja berciuman dengan lelaki lain tidak apa kan, Ichigo?" balas Rukia dengan rona merah di wajahnya. Ichigo shock. Dirinya seakan tersambar petir karena kata-kata Rukia. Jadi... yang tadi itu... Kokuto dan Rukia benar-benar ciuman?
"KOKUTOOOOOOO!" Ichigo berteriak seperti singa mengamuk sambil membawa-bawa gunting. Dia berniat merobek mulut, membunuh Kokuto seperti cara pembunuhan Kuchisake-onna. Sedangkan Rukia berusaha menahannya dengan cara memeluk Ichigo.
"Ichigo, hentikan! Cuma bersentuhan bibir saja kok, itupun terpaksa demi mengembalikan ingatanmu!"
# # #
Sementara grup kuartet sedang bergosip di kamar Renji.
"Hey, Kokuto, bagaimana rasa bibir Rukia?" tanya Kaien dengan muka mesum.
"Yah begitulah. Tipis dan lembut!" jawab Kokuto dengan wajah mesum juga.
"Aku harap Ichigo hilang ingatan lagi agar aku bisa merasakan bibir Rukia juga!" timbrung Renji.
"Kita hantamkan saja kepala Ichigo ke tembok agar amnesia!" tambah Ishida. Keempat pelajar itu saling berpandangan kemudian tertawa. Dasar kurang ajar nih!
TBC
Hoaaaaa~! Maaf atas keterlambatan saia apdet! Bener-bener, bulan puasa malah sibuk nih! Sekali lagi maaf klo ceritanya makin ancur! Di sini saia bingung mau gemana, jadi idenya uancur kaya gini ==
Maaf ya gak bisa bales repiu, tapi thanks buat;
Nenk Rukiakate
Gaemdictator SparKyu
Miko Kazuma
Hza Shiraifu
Mitsuki Ota
Zanpaku-nee
Jeimeow
Black Sun15
Curio Cherry
Violet-Yukko
Yuki Shirosaki
D3rin
Unknown
Sora Yasu9a 2230612
Nyasararu
Pyon
Luna 'Ruru' Kuchiki
Wu
Nakamura Chiaki
No Name
Thanks buat semuanya! Next chap, saia bakal apdet cepet buat mengganti keterlambatan saia di chapter ini! _! Mohon Repiunya agar saia semangat ngetik chap selanjutnya! ^^
