[FanFic] - 49 days
黒子のバスケ © Fujimaki Tadatoshi
49 days © Alenta93
.
Length : 4915 words
Pairing[s] : AkashiXKise | Aomine/Kise | Akashi/Kuroko
Genre[s] : angst | hurt/comfort | mistery [clear]
Warning[s] : MxM relationships, complex situation
Summary :
"Bersediakah kau― bersediakah kau menjadi Akashi untuk Kise, Tetsu?" / "Aku takut senyuman itu hilang dan usahaku tak menghasilkan apa-apa." / Satu lagi kecerobohan dilakukan Kuroko Tetsuya. / Satu yang dapat kukatakan di kesempatan ini, terima kasih telah membiarkanku menyukaimu dan membagi bahagia denganmu selama ini.
.
Comments :
Hwaaaahh chapter ini berisi perjuangan[?] juga penderitaan[?] Kuroko huweee TwT saya tau saya jahat, saya kan emang sadis *plakk*
Semua perasaan Kuroko tertuang disini. Mohon maaf klo aku terlalu menistainya disini, moga kalian suka ama endingnya :D
Please read n enjoy :D
.
.
-49 days-
.
.
Last Chapter-omae [you]
.
.
[12月28日]
Kuroko Tetsuya. Perasaannya hancur berkeping-keping kala telinganya mendengar berita buruk yang diterimanya beberapa hari yang lalu. Tak banyak yang ia lakukan selama tiga hari terakhir selain tetap datang ke gym, melakoni latihan harian seperti biasa sekalipun semua takkan pernah 'biasa' seperti dulu. Menu latihan tak berkurang sedikitpun. Tetaplah berat seperti seharusnya. Mengingat mereka―Kuroko dan keempat temannya―merupakan anggota tim reguler first string. Ya, mereka adalah anggota dibawah pimpinan sang kapten―Akashi Seijuurou.
Akashi Seijuurou, orang yang selalu Kuroko Tetsuya sukai semenjak Aomine Daiki―teman pertamanya di Teikou Junior High juga partner terbaiknya―memperkenalkan pemuda bersurai merah itu padanya satu setengah tahun yang lalu. Perasaan suka Kuroko berubah berlipat-lipat ganda kala Akashi menemukan kemampuannya dalam bermain basket dan membantunya mengembangkan kemampuan itu. Tak jarang Aomine yang menemukan mereka masih di gym pun mengambil duduk di bench melihat Akashi tengah melatih Kuroko usai latihan harian.
Kuroko memejamkan mata erat mengingatnya. Itu adalah masa lalu. Ya, masa lalu. Sekarang, tidak akan ada yang bisa memiliki Akashi diantara ia dan Kise Ryouta.
Bukan, Kuroko sama sekali tak pernah berniat merebut Akashi dari pemuda pirang itu. Tidak sekali pun, karena Kuroko tahu dan ia sadar akan posisinya. Kalau tidak ada celah untuk pemain berbakat dan orang sehebat Aomine Daiki, tentu tak akan ada celah untuknya yang biasa-biasa saja.
"Tetsudatte moratte dekiru no kana, Tetsu? (Tetsu, apa aku bisa meminta bantuanmu?)"
Kini kalimat demi kalimat dari Aomine, partner terbaiknya itu kembali muncul dalam benak Kuroko, membuatnya tak mampu menahan bulir-bulir bening itu kembali menuruni pipinya. Kuroko mengepalkan tangannya erat. Nafasnya berat disertai hentakan kaki yang kuat di setiap langkah cepatnya, wujud dari pelampiasan kekesalannya.
"Bersediakah kau― bersediakah kau menjadi Akashi untuk Kise, Tetsu? Kise pernah bilang kalian begitu mirip. Kumohon, berlakulah― berlakulah sebagai Akashi. Setidaknya itu akan membuat Kise sedikit lebih baik. Paling tidak― hingga dia sadar dengan sendirinya kalau Akashi― kalau Akashi sudah― pergi."
Tangan putih pucat Kuroko terjulur membekap mulutnya, meredam isakan yang semakin menjadi-jadi. Tatapan beberapa orang yang berpapasan dengannya sama sekali tak ia pedulikan. Terserah! Biarkan mereka berpikir sesuka hati mereka begitu melihatnya yang berjalan terburu-buru dengan manik yang tertutupi genangan air mata dan wajah memerah akibat menangis. Kuroko tidak peduli.
"Kumohon, Tetsu. Hanya kau yang bisa melakukannya. Aku tahu, Tetsu. Aku tahu ini konyol. Tapi aku mohon padamu."
"Uh, huuuu~ hiks... hiks.." Guratan air mata tak lepas menghiasi wajah pemuda mungil itu. Nafas Kuroko tercekat menahan tangis. Dadanya berdebar kencang menahan kesal. Langkahnya tak berhenti, masih membawanya berlari tanpa tujuan. Ia tidak tahu. Yang ada dalam pikiran Kuroko saat ini adalah, seperti inikah, rasanya― dibuang? Diminta pergi karena ia tak berguna? Direlakan untuk menjadi sosok yang lain karena dengan itu akhirnya ia memiliki nilai guna?
Perlahan, langkah itu terhenti. Sebelah tangan yang lain Kuroko bawa untuk mencengkeram dadanya. "Sakit, Aomine-kun... Hiks, uuhh~ Rasanya sakit―sakit sekali disini..." Lirihnya diantara tangisnya dengan suara tersendat yang hampir menyerupai bisikan.
Perasaannya hancur untuk kedua kalinya saat partner terbaiknya― cahayanya― orang yang selama ini ia kira akan menolongnya―ketika ia terpuruk karena kehilangan sosok terpenting dalam hidupnya―ternyata malah membuangnya. Membuangnya tanpa perasaan bersalah. Merelakannya begitu saja.
.
*55*
.
[12月30日]
"Baiklah, Kurokocchi, kalau nanti kau bertemu dengan Akashicchi, katakan padanya aku mencarinya." Seulas senyum tulus dengan manik emas penuh harapan dapat terlihat dari wajah pemuda pirang itu. Namun Kuroko tahu, beberapa hari terakhir ini pemuda itu terlihat menyedihkan. Alih-alih terlihat ceria seperti mentari di musim panas, Kise Ryouta lebih terlihat seperti mayat hidup. "Aku pulang dulu, Kurokocchi, jaa ne~" Kise menepuk sisi bahu Kuroko sebelum melenggang pergi.
Ingatan itu kembali menghampiri Kuroko, saat pemuda tinggi berkulit tan itu menginginkan senyum cerah Kise Ryouta kembali, bahkan sampai memohon-mohon padanya. Sejenak terasa sulit bagi Kuroko meski hanya untuk bernafas. Setiap tarikan nafas terasa menyakiti dadanya.
Hanya inikah yang dapat dilakukannya untuk membuat seorang Kuroko Tetsuya berguna? Kalau ya, sebegitu tidak bergunakah ia selama ini? Tangan putih itu terulur mengetuk pintu apartment di depannya, sementara pikirannya kembali terusik.
Kalau dipikir-pikir, tentu jika dibandingkan dengan sang kapten―Akashi Seijuurou―Kuroko tidak lah memiliki apa-apa. Hanya passing yang dapat diandalkannya dalam basket. Selebihnya? Oh ayolah, kau sudah mengetahuinya. Shooting, lay-up, bahkan dribble yang merupakan kemampuan dasar saja bisa dibilang kurang. Nilai pun jauh berbeda. Akashi seorang jenius yang sebenarnya. Bakat? Kuroko hampir tak punya. Inikah sebabnya yang membuat Aomine―orang yang pertama menyadari keberadaannya sampai-sampai rela membuangnya?
Pintu putih itu dibuka perlahan, menampakkan sosok tinggi pria paruh baya dengan pakaian rapi berdiri menyambut. Sang butler keluarga Akashi menanyai keperluan Kuroko sebelum mempersilahkan pemuda blue aqua itu masuk dan membimbingnya menuju kamar sang Tuan Muda. Mendiang Tuan Mudanya.
Baik. Setelah memasuki kediaman Akashi di Tokyo, niat awal Kuroko yang datang hanya untuk mengambil catatan tentang perkembangan tim, kini berubah.
Semua orang menginginkan Kise Ryouta kembali tersenyum. Memang. Sekalipun Kise merupakan anggota baru, namun Kise jugalah orang yang membawa keceriaan dengan lengkingan serta suara berisiknya, tingkah lakunya yang kadang terkesan childish dan lainnya. Kemampuannya untuk meng-copy gerakan lawan sangatlah berguna bagi tim. Sekalipun ia 'anak baru', namun, seolah matahari, semua planet akan berpusat padanya.
Dan benar. Untuk mengembalikan senyum ceria itu, tentunya dibutuhkan pengorbanan, bukan? Semua orang lebih mementingkan Kise Ryouta. Lebih memikirkan pemuda itu. Kalau memang dengan pengorbanan ini ia dapat menjadi berguna, maka sebagai ganti Kise Ryouta akan kembali ceria seperti dulu―Kuroko Tetsuya akan 'mati'. Tidak akan ada yang berkomentar jika sosoknya yang tidak berguna ini lenyap, kan?
Memejamkan mata erat seraya menarik hembuskan nafas, Kuroko mengatupkan bibir rapat, ia telah membuat keputusan. Manik saffirnya menatap tajam menyusuri kamar mendiang kaptennya itu. Dalam sekali sentakan, Kuroko menarik dirinya yang semula duduk di atas ranjang untuk berdiri, sedikit mengagetkan sang butler yang memaku diri di sudut ruangan.
"Tanaka-jiisan, saya ingin meminjam beberapa barang milik Akashi-kun." Kuroko meminta ijin, namun tanpa menunggu jawaban, ia kemudian memasukkan beberapa barang dalam kotak kardus yang ditemukannya di bawah meja belajar, memuat semua yang Kise berikan untuk Akashi.
"Eeto desu ne~" Tanaka membuka mulutnya. "Itu barang-barang berharga yang Tuan Muda Seijuurou dapatkan dari Tuan Muda Ryouta." Tanaka menjelaskan. Namun, tahu Kuroko tak menghiraukannya, ia pun akhirnya mengucapkan sebuah kalimat. "Kumohon Tuan Muda Tetsuya untuk menjaganya."
"Hai," Jawab Kuroko singkat. Ia kembali sibuk dengan pikirannya. Ia tak peduli dengan perasaannya, ia telah memutuskan. Memang benar hatinya yang telah hancur dua kali akan lebur dan tak menyisakan apapun karena ia sendiri lah yang menginjak-injaknya dan membuatnya tak tersisa.
"Sumimasen (Maaf), Tanaka-jiisan, boleh kupinjam ponsel Akashi-kun?" Kuroko beralih bertanya dan mengarahkan manik saffirnya menatap sang butler saat menemukan benda itu tak ada di kamar Akashi.
Sosok tinggi yang menemani Kuroko di kamar Tuan Mudanya itu beranjak mendekat. "Maafkan saya, Tuan Muda Tetsuya, tapi saya tak menemukan ponsel Tuan Muda Seijuurou setelah kejadian itu."
Mendengarnya, Kuroko menyadari suatu hal. Kuroko memaku pandangan pada lantai marmer yang dipijaknya sebelum kemudian mengangkat kepalanya, memperlihatkan wajah datarnya yang kini terkesan lebih―dingin? Seolah tak lagi ada kehangatan di dalam manik saffirnya. "Saya tahu dimana ponsel milik Akashi-kun."
.
*55*
.
[12月31日]
Kuroko memaku pandangan pada refleksi dirinya di depan cermin. Disana terlihat pemuda mungil berkulit putih nyaris pucat dengan surai merah. Wajahnya tampak datar. Tidak, lebih tepat dikatakan murung. Menarik kedua tangannya, Kuroko kemudian menepuk kedua telapak tangannya pada masing-masing pipinya. "Kau tak boleh berekspresi semurung itu, Tetsuya." Ujarnya lebih pada meyakinkan dirinya. Menarik nafas dalam-dalam sebelum menghembuskannya, Kuroko menata ekspresinya sebelum kembali melemparkan manik crimsonnya menatap bayangannya di cermin. Ia menelengkan kepala. "Setidaknya yang ini lebih baik." Gumamnya.
Melirik jam tangan hitam sporty yang melingkari lengan kirinya, Kuroko mengeluarkan ponsel dari sakunya. Ponsel milik Akashi. Ponsel yang ia ambil―seenaknya―dari Aomine tadi sore usai latihan harian. Menekankan ibu jarinya yang sedikit gemetar pada keypad, Kuroko menunggu hingga ponsel itu menyala. Tak berapa lama, ponsel itu bergetar. Menyapukan manik crimsonnya pada layarponsel flip itu, Kuroko mendapati beberapa belas e-mail masuk. Dan semuanya dari satu nama. Kise Ryouta.
Mengabaikan belasan pesan yang berderet itu, usai sejenak meyakinkan diri, Kuroko menekan-nekan keypad sebelum kemudian meletakkan ponsel itu di samping telinga. Jantungnya berdegup cepat, telapak tangannya basah oleh keringat dingin, banyak pikiran berkelebat dalam kepalanya. Apa pemuda pirang itu akan percaya jika yang menelponnya ini adalah Akashi Seijuurou?
.
.
Kuroko tak dapat menyembunyikan senyum tulusnya melihat Kise Ryouta yang terkikik di sebelahnya setelah balas mengerjainya. Sepertinya Kaitenzushi adalah pilihan yang tepat untuk memulai hari-harinya sebagai Akashi Seijuurou. Kuroko tahu, ini tidak akan berjalan mudah. Tidak akan pernah. Bagaimana mungkin bisa terasa mudah saat kau harus berlaku sebagai orang lain? Sekalipun Kuroko Tetsuya sering memperhatikan Akashi, namun tak pernah terpikirkan dalam benaknya bahwa ia harus berpura-pura menjadi sosok itu. Menjadi sosok yang begitu berbeda dengannya. Menjadi sosok orang yang disukainya.
Pemuda mungil itu tercekat saat Kise menyebut namanya―"Kurokocchi?"―sebelum mengedarkan pandangan ke sekitar saat mereka berjalan beriringan malam itu. Apa― ketahuan?
"Kuroko?" Timpalnya lirih dengan suara tercekat.
"Iya, Akashicchi! Aku tadi melihat bayangannya dari kaca."
Satu kalimat itu sontak membuat Kuroko menolehkan kepalanya, menatap satu-satunya kaca yang ada di sekitar mereka. Kaca gelap pertokoan yang telah tutup itu merefleksikan sosoknya. Dan Kuroko mendapati sosoknya yang berdiri disana. Ia mengulurkan tangan menyentuh helaian rambutnya seraya perlahan melirik ujung poninya dengan cemas, siapa tahu warna rambutnya sekarang adalah blue aqua. Namun tak lama, Kuroko bernafas lega saat mendengar gumaman pemuda tinggi dismpingnya bersamaan dengan helaian merah yang menyapa manik saffirnya.
"Apa Kurokocchi juga sedang merayakan tahun baru seperti kita?"
.
.
Ia dan Kise mengambil duduk di salah satu bangku yang tersisa dan mendongakkan kepala menikmati semburan bunga-bunga api yang menghiasi kanvas alam yang indah itu saat jam menunjukkan tepat pukul dua belas malam.
Pergantian tahun, ya? Mengesampingkan perasaannya yang hancur lebur, Kuroko Tetsuya akan mewujudkan permintaan Aomine Daiki. Ia akan membuka dan mengisi lembaran baru yang kosong di tahun ini dengan menjadi sosok Akashi Seijuurou.
"Akemashite omedeto, Akashicchi~" Dada Kuroko terasa sakit jika membayangkan sosok Akashi yang sebenarnya tengah melakukan kegiatan yang dilakukannya saat ini―Kise menciumnya di bangku taman di bawah langit malam kota Tokyo yang cerah dengan semburat warna-warni kembang api.
.
*55*
.
[1月18日]
"Are? Akashicchi, rambutmu?" Pemuda tinggi itu mengulurkan tangannya saat Kuroko tak sempat menghindar. Sedikit mengacak surai merah Kuroko, merapikannya. "Akashicchi bisa badhair juga'ssu? Kukira hanya Kurokocchi saja~" Kise terkekeh, senyum manis tak lepas dari wajahnya.
Kuroko Tetsuya tetaplah Kuroko Tetsuya sekalipun ia sudah berusaha menjadi sosok Akashi Seijuurou selama beberapa minggu terakhir. Tak dapat menyembunyikan kecerobohannya, Kuroko datang dengan badhair yang menjadi kebiasaannya saat cepat-cepat pergi di pagi hari. Padahal ia tahu, sebagai Akashi, ia tak boleh melakukannya. Sebagai Akashi, semuanya harus teratur dan terjadwal rapi.
Setelah ini, tidak boleh ada kesalahan lagi! Kuroko memerintah dirinya sendiri. Tidak boleh ada kecerobohan lagi karena ia sudah mempelajari baik-baik mengenai tempat yang hendak mereka kunjungi. Mulai dari densha yang akan mereka naiki hingga setiap sudut Yokohama Cosmo World yang ingin Kise kunjungi, beserta berbagai macam wahana yang disediakan. Bersyukurlah karena otak Kuroko yang bisa dibilang pas-pasan ini sanggup menyerap semua informasi itu dalam kepalanya. Kemudian untuk Minato Mirai 21 & Landmark Tower, Kuroko tak perlu khawatir, karena ia sudah pernah mengunjunginya.
Kemudian di dalam densha, Kuroko yang terbiasa dengan densha dan jenis kereta ekonomi lainnya harus mengendalikan diri dan berlaku seperti Akashi, seorang Tuan Muda yang tidak pernah berdiri dalam kendaraan. Dan ini cukup sulit. Kuroko akhirnya memilih menyapukan pandangan pada seluruh penjuru densha tanpa benar-benar mengerti apa yang ditangkap pandangannya.
.
.
Kuroko tak bisa menghindari saat tubuhnya tak bisa menerima perlakuan dari wahana-wahana ekstrim yang dicobanya. Pusing mendera kepalanya, keringat dingin beralih menyusuri permukaan kulitnya di balik mantel, serta perutnya yang terasa mual. Sungguh, Kuroko berharap Akashi dan Kise tak pernah pergi ke Disneyland atau amusement park lainnya dalam kencannya sebelumnya, sehingga pemuda pirang ini tidak menaruh curiga pada reaksi tubuhnya yang menyedihkan.
Lelah. Kuroko berbaring di sebuah bangku panjang, sebelah tangan ia gunakan untuk menutupi sisi wajahnya, membiarkan biasan mentari senja hanya menyapa tubuhnya yang berkeringat dingin. Kepalanya masih berdenyut hingga Kise kembali membawa segelas minuman hangat yang sedikit membuatnya lebih baik. Kise juga membiarkan Kuroko memejamkan matanya beberapa saat sebelum akhirnya mereka kembali beralih pada Cosmo Clock 21, wahana terakhir yang akan mereka coba.
.
.
"Unik, huh? Aku sampai hampir mati dibuatnya!"
Kuroko menarik manik crimsonnya menatap Kise lurus. "Ne, Kise, bukankah kau yang ingin naik Cosmo Clock ini? Kenapa kau tak tahu apa-apa? Biasanya orang yang memiliki ketertarikan akan sesuatu di suatu tempat akan mencari tahu tentang sesuatu itu. Kenapa tidak berlaku padamu?" Kuroko mencibir.
"Moooouu! Aku memang tertarik, tapi aku tidak ada waktu'ssu~" Kise mengerucutkan bibirnya. "Tapi aku senang, bisa mengajak Akashicchi mengunjungi tempat yang belum pernah Akashicchi kunjungi'ssu! Juga naik densha yang menjadi pengalaman baru untuk Akashicchi." Kise merubah ekspresinya cepat, dari yang semula memberengut, kini berubah menjadi senyuman lebar. Kuroko mengangkat sebelah alis melihatnya.
Akashi-kun ya? Ah, benar juga. Semua senyuman yang ditorehkan Kise-kun, semuanya diberikan untuk Akashi-kun. Kuroko tersenyum simpul dengan pemikirannya."Aku juga." Ucapnya singkat sebelum menoleh keluar, menatap refleksi pemuda mungil bersurai merah dengan sepasang manik crimson yang terpampang samar pada kaca di sampingnya dengan tatapan datar sebelum melempar pandangan jauh menembus lapisan kaca.
Ne, Akashi -kun, apa yang kulakukan ini benar? Apa Akashi -kun senang melihat senyuman Kise-kun lagi? Akashi -kun tahu kan, semua senyuman cerah itu diberikan untukmu? Hanya untukmu? Aku sudah berusaha membuat Kise-kun kembali tersenyum, aku sudah mewujudkan harapan Aomine-kun. Tapi Akashi-kun, apa menurut Akashi -kun senyum ini akan terus berada disana jika aku berhenti berpura-pura menjadi Akashi -kun dan kembali menjadi diriku sendiri? Aku takut senyuman itu hilang dan usahaku tak menghasilkan apa-apa.
.
*55*
.
[1月31日]
Kuroko mematut dirinya di depan cermin. Ia kemudian mengulurkan tangan menarik handuk yang menutupi helaian lembutnya. Tak lama handuk kecil itu jatuh bersamaan dengan tarikan jemari Kuroko dan tersampir di sisi bahu mungilnya, menampakkan surai blue aqua yang selama ini tergantikan dengan warna merah. Jemari putih pucat itu terulur menyentuh ujung poninya. Seolah terbiasa dengan surai merah, Kuroko tak lepas memandang refleksi tubuh di depannya. Menilik wajah datarnya dengan surai blue aquanya lama sebelum beralih menyentuhkan jemari itu pada bawah matanya. Manik saffir itu terlihat begitu cerah. Warna biru yang begitu matching dengan kulit putihnya yang hampir pucat.
Selama ini, Kuroko mencuci rambutnya di malam hari sebelum kembali mengambil spray dan mewarnainya menjadi merah di pagi hari. Tak jarang Kuroko tertidur masih dengan surai merah dan soft lens yang lupa dilepaskannya.
Dan reuni sekilas Kuroko dengan surai blue aqua serta manik saffirnya itu lenyap kala pintu kamarnya dibuka paksa hingga terjeblak lebar disertai dengan ucapan Selamat Ulang Tahun dari keempat teman satu timnya.
"Kise-kun, Aomine-kun, Midorima-kun, Murasakibara-kun?" Kuroko memandang mereka tajam. "Apa-apaan kali―ahk." Kuroko mengerjap beberpa kali sebelum meralat kalimatnya. "A-aku tak menyangka kalian akan mengagetkanku seperti ini." Shimatta! Kuroko merutuki dirinya. Tanpa sengaja barusan ia menanggapi teman-temannya dengan berlaku sebagai Akashi. Bodoh!
"Oh ayolah Tetsu~ Ini harimu. Selamat ulang tahun." Aomine melangkah mendekat sebelum mengangsurkan kadonya.
Tak tahu harus berekspresi seperti apa, Kuroko pun menyambut bingkisan itu dengan wajah datar. "Terima kasih." Sementara Aomine menatapnya canggung, merasa bersalah.
Aomine menggaruk belakang kepalanya. "Err Tetsu, aku―" Belum sempat ia melontarkan permintaan maafnya, kalimatnya dipotong dengan Kise yang berteriak―
"Kurokocchi! Baru ini aku melihat Kurokocchi tanpa atasan'ssu! Tubuh Kurokocchi mungil sekali ya! Aku jadi ingin memeluk―"
―yang kemudian dihentikan dengan Midorima yang menarik rambut Kise memintanya untuk kembali duduk. "Berhenti, Kise! Ini masih pagi dan tidak seharusnya kau membuat keributan di rumah orang'nodayo." Ceramah Midorima seraya membenarkan posisi kacamatanya.
Kuroko yang sadar pun segera melesat ke lemari. "Ah, maaf, aku akan segera berganti baju."
"Tidak usah, Kurokoc― Itai'ssu! (Sakitt'ssu!)" Lengkingan Kise teredam dengan sebuah jitakan yang Aomine berikan di kepala pirang itu.
"Ne, Kurochin~ aku belum sarapan, aku lapar~" Pemuda tinggi bersurai lavender itu mengahmpiri Kuroko yang tengah mengenakan kausnya.
"Sebentar, Murasakibara-kun, akan aku ambilkan."
Baru Kuroko menutup mulutnya usai menjawab keluhan Murasakibara, sang Nyonya Kuroko sudah menghambur masuk ke kamar anaknya dengan sebuah nampan berisi cake yang sudah dipotong dan beberapa gelas teh hangat. Dan pemandangan yang Kuroko lihat dari posisinya yang berdiri di sudut kamar setelah sang Ibu meninggalkan kamarnya adalah: Aomine, Kise dan Murasakibara yang berebut mengambil potongan cake yang terlihat lebih besar, dengan Midorima yang tak berhenti melontarkan nasihatnya yang bahkan tak sampai pada telinga ketiganya. Kuroko mendesah sebelum berjalan mengahmpiri mereka dan duduk diantaranya.
Mendapati Kuroko baru saja bergabung, Kise menghentikan perebutannya dan membuka pembicaraan. "Anou ne~ Maaf, tapi Akashicchi tidak bisa ikut datang, Kurokocchi~ Sepertinya Akashicchi sedang ada urusan'ssu."
"Eh?" Kuroko menolehkan wajahnya memandang pemuda pirang itu bingung.
"Ke-kenapa'ssu?" Kise berjingat sebelum kemudian berusaha menjelaskan. "Tadi pagi Akashicchi menelponku. Ia meminta maaf pada Kurokocchi karena tidak bisa datang~" Manik emas yang semula memandang ketiga pemuda tinggi itu bergantian, kini beralih menatap Kuroko. "Akashicchi memintaku menyampaikan ini pada Kurokocchi, katanya katakan padanya selamat ulang tahun, semoga segala hal baik menaunginya dan― terima kasih."
Kuroko tercekat. Manik saffirnya terbelalak lebar. Akashi-kun menelpon― Kise-kun? Ariemasen. Kuroko sadar betul ia bahkan tak menyentuh ponsel Akashi saat bangun tidur tadi. Jantung Kuroko terasa berhenti berdetak, nafasnya tertahan sementara paru-parunya memerlukan pasokan udara sebanyak-banyaknya. Ariemasen! Kuroko juga yakin ia tak pernah mengatakan kalimat yang Kise katakan. Ariemasen! Setitik cairan bening bergulir turun menyapa pipi pucat Kuroko membuat guratan tipis disana seiring dengan kapasitasnya yang bertambah. Tidak mungkin. Tidak mungkin Akashi-kun menghubungi Kise-kun. Kuroko masih tenggelam dalam keterkejutannya hingga panggilan dari teman-temannya menyusupi gendang telinganya.
"Eh?" Tersadar, Kuroko mengusap pipinya, menghapus jejak air matanya. "Tidak apa-apa." Ujarnya lirih sementara pikirannya tak dapat menolak berbagai pertanyaan yang muncul. Bagaimana mungkin Akashi-kun menghubungi Kise-kun? Selama ini aku yang berlaku sebagai Akashi-kun dan aku bahkan tak menyentuh ponsel Akashi-kun tadi pagi. Ittai nani ga attandesuka?! (Sebenarnya apa yang terjadi?!)
"Kurokocchi jangan sedih begitu'ssu~ Selamat ulang tahun!" Tanpa Kuroko sadari, pemuda pirang itu sudah memeluknya dari belakang, memamerkan senyum cerahnya. Tak lama, teman-temannya kembali mengucapkan selamat ulang tahun disertai dengan harapan-harapan mereka. Sejenak, Kuroko melupakan pertanyaan yang semula memenuhi otaknya dan tersenyum seraya mengucapkan terima kasih.
Kuroko masih berusaha melepas pelukan Kise saat pemuda pirang itu memeluknya semakin erat. "Kise-kun, tolong lepaskan, a―"
"Ne, kenapa Kurokocchi tidak berbau vanilla seperti biasa?"
"Eh?" Kuroko yang kalimatnya disela sontak mengarahkan manik saffirnya melirik Kise yang memeluknya.
"Bau ini seperti wangi tubuh Akashicchi'ssu~"
Tak dapat dihindari, kembali seperti beberapa menit yang lalu, Kuroko kembali tercekat, kini wajahnya berubah pucat.
"A-apa?!" Kise tergagap. Merasa seolah dirinya tertuduh―lagi, ia kembali membuka mulutnya menjelaskan. "Ti-tidak. Aku tidak melakukan apa-apa'ssu. Bahkan aku belum pernah memeluk Akashicchi, hanya saja wangi itu khas Akashicchi saat aku berada di dekatnya."
Satu lagi kecerobohan dilakukan Kuroko Tetsuya. Ia tak menyadari jika hari ini adalah hari ulang tahunnya yang tak memungkinkannya untuk berlaku sebagai Akashi selama satu hari penuh. Sebuah kesalahan yang mungkin tak dapat dielaknya. Kuroko terbiasa mandi dengan sabun yang biasa Akashi pakai, untuk mengubah wangi tubuhnya menjadi wangi khas Akashi.
Begitu Kuroko mengangkat kepalanya dan membuka matanya yang terpejam, yang ia dapatkan adalah tatapan nanar dari pemuda berkulit tan yang disertai dengan kerutan di dahinya. Kuroko tahu, Aomine sudah melarangnya, Aomine sudah menarik kembali permintaan bodohnya kepada Kuroko dan meminta Kuroko untuk melupakannya, tapi Kuroko memaksa karena ia sudah memutuskannya. Kuroko hanya bisa memberikan tatapan setengah kosong pada partner terbaiknya itu.
Maafkan aku, Aomine-kun.
.
*55*
.
[2月14日]
Jam masih menunjukkan pukul 05.05 kala itu namun Kuroko telah terjaga dari tidurnya. Sejenak memindahkan lengan berat pemuda pirang yang mengukungnya, Kuroko bangkit. Ia mengerjapkan matanya sesaat sebelum turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi di sisi kamar. Menekan saklar lampu, Kuroko mengalihkan kepalanya seraya memejamkan matanya cepat, menghindari sinar terang lampu yang menyapa penglihatannya. Sejenak membiasakan manik matanya, Kuroko beralih ke wastafel berniat menggosok giginya sebelum beralih membasuh tubuhnya dengan shower.
Sosok mungil dengan surai merah masih menyapanya kala ia mematut dirinya di depan cermin, namun satu hal yang baru disadarinya membuatnya kesulitan menelan ludah. Sepasang maniknya yang seharusnya masih berwarna crimson itu terefleksi berwarna saffir disana. Kuroko mengalihkan pandangan sebelum kembali memakunya pada sepasang manik saffir yang terpantul tengah menatapnya.
Kuroko kemudian teringat. "I-itu bukan mimpi? Akashi-kun― A-akashi-kun memintaku melepas soft lens kemudian menyuruhku kembali berbaring dan membentangkan selimut untukku tengah malam itu bukan mimpi?" Lirih Kuroko sebelum membasuh wajahnya dan menunduk lama sebelum kembali menatap bayangannya.
"Hiks.." Kuroko tak mampu menyembunyikan isakannya saat air mata yang tersembunyi di balik tetesan air yang menyapa wajahnya itu terus bergulir turun tak mau berhenti. "Uuh.. huuuu~ Akashi-kun.. Akashi- hiks.." Kedua kaki mungilnya lemas, membuatnya jatuh terduduk dengan bersandar pada dinding marmer yang dingin. Kuroko menahan suara isakannya, tak ingin membangunkan sosok yang masih terlelap itu.
.
.
"HHHHIIIKK!" Kise terbangun menyingkap selimut dengan nafas tersengal seolah seseorang baru saja mencekiknya. Kise menunduk, mengatur nafasnya yang berantakan dengan susah payah. Nafasnya memburu, ia memaksa paru-parunya menampung udara sebanyak-banyaknya sementara tubuh tingginya bergetar hebat. "Ti-dak." Bisiknya, masih belum menemukan kembali suaranya. "Tidak." Kise menggeleng, pandangannya kosong. "Tidak! Tidak mungkin!" Ia meremat sprei di bawahnya. "Itu hanya mimpi buruk! Akashicchi―"
Otaknya kembali memutar semuanya, memunculkan semua memori-memorinya seperti piringan hitam yang tengah melantunkan lagu, namun diputar dengan arah sebaliknya setelah menekan tombol backward tanpa melepasnya. Memori itu terus berputar dan berhenti pada mimpi buruknya. Mimpi buruk Kise Ryouta di malam Natal yang seharusnya membawa kebahagiaan.
Kise meremat helaian pirangnya saat memorinya kembali berjalan maju setelah tombol play ditekan.
Kise seolah melihat dirinya yang tengah berjalan beriringan dengan pemuda bersurai merah itu. Pemuda pirang itu merajuk saat pemuda mungil itu tak mau menyebutkan alasannya membagi tawa dengan gadis kecil yang membisikkan sesuatu di telinganya. Namun rajukan si pemuda pirang itu pudar kala pemuda mungil itu meraih tangannya, menyematkan jemarinya diantara jari-jari panjang pemuda tinggi itu. Tak lama berjalan, mereka berhenti menunggu lampu pejalan kaki berubah menjadi hijau sementara keduanya berbincang seru.
Tak lama, mereka pun membaur dengan hiruk pikuk pejalan kaki yang menyeberang, hingga tanpa sengaja pemuda pirang itu menabrak seorang bocah. Tanpa pikir panjang, pemuda itu melepaskan tautan jemarinya dengan pemuda mungil itu kemudian membungkuk, membantu bocah yang jatuh terduduk itu berdiri sebelum menepuk-nepuk mantel yang melingkupi tubuh kecilnya.
Setelah mendapat persetujuan kekasihnya untuk berbalik arah dan mengantar bocah itu, pemuda pirang itu menarik si bocah dalam gendongan sebelum berdiri dan melangkah dengan arah sebaliknya tanpa menyadari boneka beruang dengan topi Santa miliknya terjatuh saat kaki mungil sang bocah menatap saku mantel panjangnya saat berpapasan dan sedikit tersenggol penyeberang jalan. Pemuda bersurai merah yang menyadarinya pun membungkukkan badannya sejenak guna memungut boneka mungil itu diantara kerumunan. Tersenyum, pemuda itu menepuk-nepuk boneka itu perlahan, menghapus jejak kotor yang tertempel.
Pemuda mungil itu berjalan santai mengekor pemuda tinggi yang berjarak beberapa meter di depannya saat sebuah sepeda yang melesat cepat di depannya segera setelah lampu berubah hijau, membuatnya reflek mundur beberapa langkah menghindari tabrakan. Manik crimson pemuda mungil itu sempat mengikuti si pengendara yang terus mengayuh sepedanya tanpa menghiraukannya. Pemuda mungil itu tak menyadari jika tabrakan yang semula dihindarinya itu malah menyebabkan sebuah tabrakan yang merenggut nyawanya. Seorang sopir yang tak sempat menginjak rem itu tak bisa mengendalikan mobilnya saat tubuh mungil itu beradu dengan besi kendaraannya.
Suara benturan keras tak terelakkan menggema menyusupi pendengaran semua orang yang berada di sekitar, menyisakan tubuh mungil yang tak bergerak itu beberapa meter di depan mobil yang terhenti paksa itu. Pemuda bersurai merah itu tergeletak dengan boneka beruang bertopi Santa yang masih setia mengisi sebelah tangannya.
"Tidak, Akashicchi― Hiks.. Uuuhh.." Kise Ryouta menangkupkan kedua telapak tangannya menutupi wajahnya. Ia terisak dengan tubuh bergetar. Memori menyakitkan itu berhenti seolah sesorang telah menekan tombol stop. "Hiks.. Huu~~ Akashicchi.. I-itu semua bohong―kan?" Suaranya timbul tenggelam diantara isakannya. Kise menggelengkan kepalanyakuat-kuat, tak mau percaya. Pikirannya menarik saat-saat ia bersama Akashi di tahun baru dan setelahnya. Selama ini Akashi masih bersamanya, tentunya semua itu hanyalah mimpi buruk. Namun, seperti kenyataan yang terkuak, mimpi buruk itu terus menyertai disetiap Kise menolaknya.
Saat Kise berusaha mengenyahkan semua mimpi serta kilasan memorinya, sebelah tangannya yang hendak menumpu tubuhnya menyentuh sesuatu di kasur sebelahnya yang sudah kosong.
.
.
Entah sudah berapa lama Kuroko membiarkan air hangat shower membasuh tubuh pucatnya, melunturkan warna merah rambutnya. Kuroko menumpu kedua telapak tangannya pada dinding di depannya, matanya terpejam, menyembunyikan manik saffirnya.
"Kuroko. Hey Kuroko, tidak baik tidur tanpa melepaskan soft lents."
Sebelah tangan Kuroko terkepal. Ia mendesis diantara gemericik air yang menimpa tubuhnya sebelum jatuh membentur lantai kamar mandi.
"Kuroko, bangunlah sebentar, lepaskan soft lensmu dan kembali tidur."
Kuroko menggigit bibir bawahnya. Ia teringat saat ia menatap cermin beberapa menit yang lalu dan menemukan manik saffirnya tak tebungkus soft lents crimson yang biasa dipakainya. Itu artinya, suara yang ia dengar tadi malam, suara yang menyuruhnya bangun sejenak, suara yang begitu familiar itu, bukan mimpi? Tapi tidak mungkin. Akashi sudah pergi sejak hampir dua bulan yang lalu. Lalu― siapa? Tidak ada yang memiliki suara khas itu. Namun kalau dikaitkan dengan yang menelpon Kise dan meminta pemuda pirang itu menyampaikan ucapan padanya tempo hari―
Duk!
Sebuah debumam kecil menggema dalam kamar mandi itu. Kuroko memukulkan kepalan tangannya pada dinding berlapis marmer itu sebelum ia menumpukan kepalanya disana. Sederetan kalimat dalam buku yang pernah dibacanya pun membanjiri otaknya.
Jiwa orang yang meninggal masih akan berada di dunia, bersama dengan orang terkasihnya selama empat puluh sembilan hari, sebelum Dewa benar-benar meminta mereka meninggalkan dunia. Dunia yang bukan lagi tempat mereka.
Memutar kran guna mematikan aliran air pada shower, Kuroko membuka matanya, menarik manik saffirnya menatap kepalan tangannya. Kalau Kuroko mengambil potongan paragraf dari buku itu sebagai dasar dari penyamarannya, lantas kenapa ia tak―mencoba―mempercayai bahwa itu mungkin saja terjadi? Kalau apa yang buku itu tuliskan benar, berarti selama ini Akashi masih ada bersamanya. Tapi―mungkinkah?
Beralih menarik handuk dan mengeringkan tubuh mungilnya sebelum mengenakan pakaian, Kuroko ingin mengumpulkan bukti akan keberadaan Akashi selama ini. Ia membawa langkahnya hendak menuju pintu saat manik matanya menangkap sebuah amplop teronggok di lantai tak jauh dari pintu yang ditujunya.
.
.
Sebelah tangan Kise tanpa sengaja menyentuh sebuah kotak berwarna lust red dengan hiasan pita merah yang dikaitkan sedemikian rupa hingga membentuk bunga. Mengerutkan dahi, diraihnya kotak itu dalam pangkuan. Tangannya sedikit gemetar saat membuka kotak itu. Sebuah batangan coklat yang bisa dibilang cukup besar dengan setangkai bunga mawar berwarna merah dan selembar kartu pos mengisi kotak lust red itu. Menghapus jejak air mata sekenanya, Kise mengambil kartu pos yang menarik perhatiannya. Sederetan tulisan rapi yang familiar terpampang dalam lima baris menyapa manik emasnya.
"Happy Valentine, Kise!
Satu yang dapat kukatakan di kesempatan ini, terima kasih telah membiarkanku menyukaimu dan membagi bahagia denganmu selama ini.
Perasaan ini akan selalu ada bersamamu sekalipun aku tak lagi bisa menemanimu.
Berhentilah menangis, tetaplah tersenyum dan berterima kasihlah pada Kuroko.
―Seijuurou―"
Dan sebuah nama yang tertulis di sisi bawah sebelah kanan kartu pos itu membuat Kise menautkan alis. "Seijuurou." Jemarinya yang lentik membalik sisi kartu pos itu, menampakkan sebuah foto. Foto yang diambil saat ia dan Akashi menghabiskan akhir pekan di Yokohama Cosmo World. Dalam foto itu, terdapat dua pemuda tengah berdiri dengan Giant Ferris Wheels sebagai backgroundnya. Satu yang bertubuh tinggi dan bersurai pirang tengah tersenyum cerah memeluk pemuda mungil bersurai merah dengan senyum simpulnya.
"Kurokocchi?" Kise menyebutkan sebuah nama begitu melihat sosok itu. Seolah tersadar, sontak ia membekap mulutnya. Kalau benar itu Kurokocchi, kenapa― kenapa rambutnya merah seperti Akashicchi? Kise bingung dengan kerja otaknya. Jelas yang terpampang dalam foto itu adalah pemuda mungil bersurai merah, lantas kenapa bibirnya menyebutkan nama Kuroko?
Kise yang masih bingung menoleh cepat saat suara pintu kamar mandi dibuka dan menampakkan sosok pemuda mungil dengan surai blue aquanya yang setengah basah. Kise memalingkan manik emasnya menatap foto dalam genggamannya sebelum kembali menatap pemuda bermanik saffir yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi kamarnya. "Kurokocchi?"
.
.
Usai membaca surat yang ditemukannya, Kuroko melangkahkan kakinya cepat untuk keluar menuju kamar pemuda pirang itu saat manik emas Kise menyapanya dari balik lelehan air mata beitu Kuroko membuka pintu. Seketika Kuroko terhenti di depan pintu kamar mandi.
"Kurokocchi?"
Kuroko terkejut saat pemuda pirang itu mengalihkan pandangan pada sebelah tangan di pangkuannya sebelum kembali menatapnya. Menyembunyikan ekspresi penuh tanda tanya dalam kepalanya dengan menyapa―"Ohayou,"―Kuroko berjalan pelan menghampiri ranjang. Ia kemudian melirik pangkuan Kise sebelum mengambil alih kertas yang ternyata kartu pos itu.
Manik saffir Kuroko bergerak menyusuri sederatan tulisan rapi dalam kartu pos itu. Dan ia menahan nafas saat membaca nama yang terpampang disana. "Seijuurou." Kuroko merasa ia tak pernah menuliskannya, ditambah dengan tulisannya yang tidak akan serapi itu. Teringat akan surat yang ditemukannya di kamar mandi, sejenak Kuroko menghela nafas, "Kurasa yang dikatakan buku itu memang benar." Gumamnya.
"Eh?" Kise yang masih memaku pandangan pada Kuroko dan mendengarnya pun berjingat. Manik emasnya menyiratkan tanda tanya.
Kuroko membungkukkan tubuh mungilnya, "Happy Valentine, Kise-kun~" Ucapnya sebelum mengecup pipi dengan guratan air mata itu lembut. Menganggurkan handuk kecil di kedua bahunya, Kuroko kemudian beralih duduk di sebelah Kise yang linglung. Ia membalik sisi kartu pos itu dan mendapati sebuah foto terpampang disana. Foto yang tak lama mereka ambil saat mengunjungi Yokohama.
"I-itu― fotoku dengan― Kurokocchi?" Suara Kise terdengar seperti bisikan. Kise ingin memastikan kesimpulan dari kinerja otaknya.
Memandang pemuda pirang itu lama seolah ingin menilik segala hal dari manik emas itu, Kuroko mengangguk pelan. Ia kembali membalik kartu pos itu. Tersenyum kecil, Kuroko bergumam, "Sudah empat puluh sembilan hari sejak saat itu ya, Seijuurou-kun." Jemari Kuroko mengusap sederetan nama, "Seijuurou." itu sebelum setetes cairan bening jatuh menyapa kulit tangannya.
"..."
Seolah mengerti arti diam Kise, Kuroko angkat bicara. "Maafkan aku, Kise-kun~ Selama ini― aku sudah lancang dengan berpura-pura menjadi Akashi-kun." Kuroko tak mampu menghentikan bulir-bulir air matanya yang berjatuhan.
Pandangan manik emas Kise berubah setengah kosong, ia menatap pemuda blue aqua yang terisak itu. Perlahan otaknya bergerak menyusun kepingan-kepingan memori acaknya menjadi sebuah puzzle utuh. "Ja―" Sejenak Kise berdeham mengatasi suara seraknya sebelum melanjutkan, "Jadi, mimpi burukku itu―adalah kenyataan yang sebenarnya?"
.
.
Last Chapter-omae-end
.
.
A/N :
Hai, inilah kebenarannya. Jadi, apa kalian juga udah nyusun kepingan berantakan ini jadi sebuah puzzle kayak Kise? Lets share your opinion guys :D
Maaf kalo' aku mbulet bikin ceritanya.. *bows deeply* mohon komen, kritik, saran dan sebagainya.. m(_ _) m maaf juga kalo' last chap jadi sepanjang ini, sumpah aku juga nggak nyangka bakal ampir 5k, warui *headdesk*
Ohya, rencananya ini mau kubikin sequelnya, yang bakal jadi chap 3,5 *apadeh*XD*nggak!* soalnya ada satu yang miss n belom kujelasin disini hehehe ada yang tau yang mana? *kicked*
Oke deh, makasiiiiihh banyak buat yang udah mampir baca, baik ntu silent readers atau yang udah nyempetin buat ninggalin review, ngeklik fave n follow juga :* sankyuu udah ngikutin FanFic 49 days ini *u*/
Special thanks to Ryuu Dearu yang bisa―banget―diajak buat ngobrolin macem-macem #eh n sankyuu udah ngepost'in yang chap 1 kmaren :*
.
.
Dikarenakan sinyal yang mobat mabit nongol ngilang nongol ngilang, review kubales skalian disini yak.. ntar last chap kubales via PM.. Maaaafff banget kalo' menuh"in disini jadinya orz
.
katagirireiko : hhaha halo, makasih udah mampir baca yak X3 nggak kok, sama skali nggak salah, perasaanmu bener, soalnya ceritanya emang bgini jadinya XD jadi, alesan Akashi nggak bingung am ponselnya n Kise yang jalan ama orang lain adalah... fufufu *plakk* XDD
.
Zelvaren Yuvrezla : hhahaha nggak papa ren, santai aja, bisa dibaca kapanpun kok :D ah tebakan ren yang pertama bener, tapi soal alesan Kuroko nangis pas dapet ucapan dari Akashi? Hhaha udah ketemu kan disini jawabannya? XD
Hwaaaahh beneran ? Syukurlah kalo' ntu deskripsian bisa nyampe' n nggak terkesan aneh hhehe sankyuu ren :* hwahaha fluff kan yang pas di kaitenzushi? X3
Hai, makasih banyak udah ngikutin ni FanFic yak ren .. :D
.
Yuna Seijuurou : hhaha nggak papa kak, ujian jangan di escape #eh *plakk* XDD hwawawa pdahal udah ku kasih clue lho mana pas ama Kuroko n pas ama Akashi fufufu tapi sekarang udah tau kan yang mana aja ? X3
Makasih banyak yak, ka'yuna udah ngikutin FanFic ini :D
.
VilettaOnyxLV : aduh, ID nya susah *hoy!*plakk* XDD halo, makasih udah nemu n mampir yak :D
Wah aku seneng baca reviewnya, soalnya kamu aja yang nebak n pas banget yang Kise bangun dengan Akashi yang udah nggak ada.. :D Ohya maaf yak, kalo' alurnya riweh n bikin bingung, aku sengaja mempermainkan setting waktunya sih hehehe *plakkplakk* XDD
Hai, ganbarimasu *u*9 sankyuu yak :D
.
shiro yuki : hhaha makasih udah ngikutin 49 days yak, shi-chan.. X3 *oy, bikin nama panggilan seenak jidat*digetok* XD
Hhaha AoKise nya kan udah, pas ngambil boneka di game center ntu X3 Hmm semua jawaban udah ada disini.. hhehe dan semua pertanyaan shi-chan terjawab di kutipan ini, "Jiwa orang yang meninggal masih akan berada di dunia, bersama dengan orang terkasih baginya selama empat puluh sembilan hari, sebelum Dewa benar-benar meminta mereka meninggalkan dunia. Dunia yang bukan lagi tempat mereka." Hhohoho kalo' jiwa Akashi masih di dunia, berarti udah tau kan sapa yang nelpon Kise? XD
.
kagamine lizzy : ah, nongol akhirnya.. iya ni, lizzy nggak komen di chap 2 part 1 nya hhehe tapi nggak masalah :D makasih udah ngikutin 49 days yak lizzy X3
Hwaaaaahhh aku juga mau kalo' jadi bebeb nya Akashi X3 mau banget malah *plakk* XDD sankyuu udah suka ama AkaKise momentnya :D sengaja kubikin fluff soalnya endingnya bakal kayak gitu ntu.. *plakplaaakk* tega banget kan saya, kayak"nya aja dibikin manis tapi benernya miris.. hhehe
.
el Cierto : Hweeee iyaa kah? O: kenapa kok ngerror bgitu yak? Tapi yang ini masuk kok :D ohya, makasih udah nemu, mampir n baca yak X3
Hhaha ol-off tapi nyambung kan ama jalan ceritanya? Mengingat aku sengaja bikin riweh setting waktunya *plakk* XDD tapi makasih udah suka ama ceritanya :D
Yep, taraaaa tebakannya bener n tepat sasaran *u*d hayooo soal yang Kuroko shock dapet pesan dari Akashi akhirnya ngerti kan kenapa dia pe' nangis ? fufufu ah iyaa, astaga, kalo' nggak ku cek ulang biasa aku suka kebulet" ama ntu vocab satu orz 'menghiraukan' Dx
Hwaaahh beneran ? Aiiiihh syukurla kalo' bisa nyampe' deskripnya :D nggak kok, aku juga belom pernah kesana, ni cuma hasil dari research[?] baca" artikel gitu, sama kayak kamu :D
Ciiee hape baru kah, kok belom kbiasa pe' typos ? hhaha maa, sankyuu udah ngikutin fanfic ini yak X3
.
Heiwajima Shizaya : uun, nggak papa kok, aku malah seneng kalo' ada yang baca :D sebelomnya makasih udah baca n ngikutin FanFic ini yak X3
Yep, kayak yang kamu bilang, cerita ini berakhirnya dengan sakit hatinya Kuroko .. kasian banget dia .. TwT aduh, aku sadis banget *udah dari dulu oy!*plakk* XDD
.
mey chan 5872682 : wah berasa kayak masukin password, jadi kalo' ngetik Idnya musti pelan" n d cek bolak balik *hoy* XDD
Hhahha hayooo udah keungkap semua ni misterinya disini .. nggak bingung ama alurnya kan? Hhehe makasih yak, udah mampir n ngikutin FanFic ini X3
.
Akashiki Kazuyuki : kazuki reviewnya di detik" terakhir[?] ni seringnya yak.. XDD tapi nggak masalah, makasih udah nyempetin mampir n ngikutin FanFic ini yak X3
Hhoho unyu yak, AkaKise moment nya hhaha :3 hmm maaf kazuki, spekulasi kazuki beberapa bener n beberapa nyaris.. cerita ini akhirnya bergulir seperti ini, gimana menurut kazuki? Semua pertanyaan udah terkuak disini, kecuali soal 'satu' ntu n bakal kumasukin di sequalnya gara" aku miss .. sumpah, untung kazuki ingetin hahaha *bego' Na!* XDD makasih..
Lhalah kalo' nggak mau diselesein terus gimana? Di lanjut ? ntar jadinya kayak sinetron kalo kupanjang"in kazuki .. hahah *plakk* tenang, masih ada satu sequel sperti yang kubilang kok :D
Makasih banyak yak, kazuki udah baca n ngikutin FanFic ini :*
.
tetsuya kurosaki : wah sayang banget, disini aku sengaja bikin AkaKise, ada sih AkaKuro nya nyempil dikit .. maaf uak *bows* dan disini udah terkuaklah apa permintaan Aomine yang bikin semua masalah ini timbul dan cerita ini lahir *bah* XDD
Makasih udah baca n ngikutin FanFic ini yak X3
.
ryuu dearu : hah, lama banget nongolnya, masa' baca aja nggak kelar" *ngapain kamu malah marah", Na*plakk* XDD tapi makasih yak udah baca n ngikutin ni Fanfic :*
Hhoho soal teknik penyamaran Kuroko udah kubuka lebar[?] disini XDD penyamarannya simpel kok, pake' banget malah *plok* wah kalo' soal arwah" bgitu ni FanFic bakal ganti genre donk.. jadi Fantasy! XD tapi disini aku berusaha bikin se-realis[?] atau semasuk akal mungkin hehe
Aiiiihhhh udah meinstream ada apa" di Ferris Wheels ntu orz maklumilah karena FanFic ini tidak biasa huahahaha *bakbughduakhbletakh* XDD
Hhahaha jadi malu */* sankyuu .. ni juga baca" artikel kayak biasa kok hhehe
Hmm iyaa juga sih, na dia kan emang nggak tau apa" .. err ralat, sebenernya dia tau semuanya tapi dia nolak buat nerima ntu .. jadi benernya Kise sendiri juga yang narik dirinya dalam kebohongan ntu .. tambahkan dengan permintaan konyol Aomine n keputusan Kuroko .. TwT
