THE SILVER KINGDOM
.
.
.
.
Cast : luhan and other
.
.
.
.
Genre : fantasy, adventure, romance, and friendship
.
.
.
.
Warning : genderswitch, kalimat tak beraturan dan abal-abal
.
.
.
.
HAPPY READING
.
.
.
.
Di dunia ini, saat ini, bangsa manusia maupun bangsa lain yang pernah melihat rupa dari ratu allistea tak ada lagi yang masih hidup. Wanita yang menciptakan dunia yang mereka tinggali saat ini dan telah memerintah hingga ber abad-abad lamanya itu telah wafat semenjak ratusan tahun lalu bersama para pengikutnya yang setia. Ratu allistea tercatat hanya memiliki satu kesalahan pada masa kejayaannya yaitu jatuh cinta pada seorang pria yang berasal dari kalangan bawah bangsa manusia. Jatuh cinta yang mengubahnya yang abadi menjadi fana, dan jatuh cinta yang memberinya seorang penerus tahta sebelum wafat.
Ratu jae, adalah putri satu-satunya dari ratu allistea, walaupun terlahir tanpa pernah mengenal ibunya secara langsung, ratu jae memerintah hampir setara dengan kebijaksanaan ibunya, iapun memerintah hingga dalam kurun waktu 200 tahun. Namun, karena memiliki darah manusia rendahan mengalir di nadinya, ratu jae tak memiliki semua kesetiaan rakyatnya, beberapa pihak dari keturunan prajurit yang tercipta langsung dari sayap ratu allistea, beranggapan bahwa yang lebih pantas menduduki tahta adalah mereka selaku makhluk yang tercipta langsung dari tulang dan darah sang ratu pertama. Lalu pemberontakan pun semakin merajalela saat ratu jae kembali mengulang sejarah kesalahan ibunya dengan jatuh cinta. Hingga suatu hari, ratu jae menghilang dan tak pernah kembali. lalu kemudian terangkatlah seorang ratu baru yang bahkan tak memiliki garis darah ratu allistea, yang membawanya ke puncak kerajaan adalah statusnya sebagai prajurit terkuat dan merupakan seorang yang telah di nobatkan sebagai keluarga kerajaan, seorang gadis bernama Victoria.
Di dalam istana perak, di sebuah ruangan termewah dan paling luas, lantai marmer yang mengkilap, tirai perak bersulam emas menyambut saat kau mengunjunginya, berkibar dari puluhan jendela yang berbaris, wewangian mawar menguar dari segala arah dan suara harpa berpadu memanjakan indra. Sebuah kemewahan tiada tara yang hanya di miliki sang ratu.
Langkah kaki menggema pelan di antara langkahnya, langkah anggun yang membuai, gaun merah terseret di belakang punggung, seorang pelayan mendekat dengan wajah tertunduk hormat memasangkan jubah perak bersulam emas dengan gambar sayap mengepak di balik punggung, rambut hitam panjang nan ikal terhiasi Mahkota besar dengan ratusan batu mulia tersemat cocok.
" yang mulia ,budak 1494 telah kembali " seorang gadis dengan gaun hijau menjuntai melaporkan.
Wajah cantik berseri itu berbalik dengan senyuman " benarkah?" pelayan istana ratu mengangguk membenarkan " katakana padanya untuk menemuiku secepatnya"
"aku sudah di sini, yang mulia "
Kembali sang ratu tersenyum bahagia menatap pada sudut ruangan remang, di mana siluet seorang pria dengan jubah hitam berdiam. Sang kasim istana menatap kea rah yang sama dengan pandangan benci kemudian menunduk dan pergi setelah sang ratu mengibaskan tangan memintanya keluar.
" sudah berapa lama kau berada di sini?" sang ratu duduk menyilang kaki di kursi tahta menunggu.
" sejak pelayan itu melaporkan bahwa aku telah kembali" ucap pria itu setelah muncul begitu saja dari udara kosong dan berlutut tepat di hadapan sang ratu. Victoria mengulurkan tangan dan membelai kepala berhias rambut hitam sebahu si budak bagai binatang peliharaan.
" lalu?"
" permasalahan di kota emerald telah terselesaikan, para pemberontak itu telah di lumpuhkan"
" bagus " Victoria menarik dagu si budak dan mendekatkan wajah " sekarang aku punya tugas baru untukmu"
"apapun yang mulia "
Ratu Victoria tertawa menyeringai " seorang gadis iblis yang berasal dari dunia berbeda di ramalkan akan menghancurkan kedudukanku dan peramal xiu melaporkan bahwa gadis itu telah menjejakkan kaki di dunia ini." Victoria mengibaskan rambut " aku ingin kau mencari dan membawanya kehadapanku, dengan cara yang lebih berkelas tentu saja"
" perintah mu adalah mutlak untukku, yang mulia"
Terbangun di hari berikutnya, luhan masih sulit percaya bahwa ia telah berada di dunia yang berbeda. Tak ada suara bising kendaraan di pagi hari, tak ada suara menggelegar baekhyun dan tak ada bau lesat masakan ibunya. segalanya begitu berbeda, bau rerumputan ini, udara sejuk ini dan kicauan burung. Sangat berbeda hingga luhan merindukan dunianya, dunia manusia.
Mengamati sekitar, luhan menyadari bahwa tempatnya saat ini sangat berbeda dari hutan kering kemarin, tempat ini jauh lebuh subur dan hidup. Beberapa binatang yang tak pernah luhan jumpai sebelumnya berlari, melompat dan bermain layaknya tak ada manusia di sekitar mereka.
Mencoba bangkit dari posisi awal, luhan merasa kepalanya berdetam dan segala hal yang ia lihat seolah berputar. Rasa pening itu barulah mereda setelah ia berbaring kembali.
" sebaiknya anda tak mencoba untuk banyak bergerak dulu" suara yang datang mengejutkan luhan dan reflex menoleh ke samping dan menemukan pria asing yang-ehm-tampan-ehm sedang duduk bersimpuh dengan kepala tertunduk.
" siapa kau?"
" aku budak 1192, adalah milikmu sejak dua hari yang lalu"
" dua hari yang lalu?"
" anda mengalahkan jendral istana dan memperoleh kami"
Jadi pria ini adalah salah satu dari kedua pria yang ia temui di hutan kering itu. wajar saja jika dirinya tak tau pasalnya ini adalah pertama kalinya luhan melihat wajahnya tanpa cadar lusuh dan lagi apa katanya tadi? Dua hari yang lalu?
" apa yang terjadi sebenarnya" luhan memijat pelan kepalanya yang kembali berdenyut "aku tak bisa mengingatnya dengan jelas"
" uhmmm hari itu, setelah jendral Amber berlari pergi dengan ketakutan, anda kemudian jatuh dan tak sadarkan diri selama 2 hari"
Ahhh itu benar, luhan ingat hari itu amber bertingakah aneh dengan raut ketakutan terus mengucap nama ratu allistea, kemudian berlari pergi tanpa sepatah katapun dan hanya meninggalkan mistery. Dan luhan sempat bercakap singkat dengan tao sebelum gadis itu pergi menyusul amber dam ia tak ingat apa-apa lagi.
Tunggu
Menggali lebih dalam, luhan mencoba mengingat tentang apa saja percakapannya dengan tao.
Tentang surat kepemilikan budak
Dan
Sebuah pedang
"pedang" luhan bangkit berseru keras hingga menyebabkan pria di sampingnya mengangkat bokong berjengit. Luhan mengucap maaf dengan pelan sambil menggigit bibir malu.
" di mana pedang itu?"
Pria yang di Tanya dengan sigap menyerahkan tas milik luhan dengan kepala membungkuk, luhan berdecak tak suka. "berhenti melakukan itu, angkat kepalamu dan menataplah lurus ke depan."
Berpikir itu adalah perintah, pria itu mengangkat dagu dan menatap kedepan dengan kosong seperti robot.
Luhan mengacak rambut frustasi " sudahlah, lakukan saja sesukamu " ucapnya kemudian berbalik memunggungi si pria.
Mata rusanya menatap pedang pedang milik amber itu dengan teliti. Ia ingat apa yang di katakana tao hari itu,
" pedang ini, mulai saat ini ada dalam kepemilikan mu"
" apa? Jangan bercanda, pedang itu jelas milik amber kan"
" tidak" tao menghela nafas "pedang kami, senjata para jendral terpilih dari istana memiliki kemampuan untuk memilih pemiliknya sendiri. Dan pedang ini, setelah kau menjatuhkannya dari tangan amber, ia telah memilihmu sebagai tuan barunya"
" jangan bercanda, itu tidak mungkin"
" itulah kenyataannya, jika saja pedang ini masih milik amber, pedang ini seharusnya telah menghilang dan kembali pada amber"
"….."
"pedang ini adalah milikmu sekarang"
Luhan tak begitu mengerti dengan apa yang tao katakan, pedang yang mampu memilih tuannya sendiri? Bukankah itu berarti pedang ini layaknya memiliki jiwa.
Memijat pelipis pelan, luhan tak tau berapa lagi hal mistis yang bisa di terima akal sehatnya sebelum otaknya meledak. Terlebih sekarang ia memiliki dua orang pria-luhan menolak memanggil mereka budak- yang benar-benar memperlakukannya seperti tuan putri jahat yang akan segera memenggal kepala jika ke inginannya tak di turuti.
Ahhhh benar juga, luhan belum melihat pria yang satunya lagi, pria yang terluka parah akibat perlakuan amber.
" di mana dia?" luhan bertanya dan menoleh kearah pria yang masih setia duduk bersimpuh di sana " pria yang satunya di mana dia?"
"kumohon biarkan hyungku beristirahat sebentar" luhan terkejut saat pria itu tiba-tiba saja bersujud "dia kehilangan banyak darah dan belum memiliki energi yang cukup untuk bekerja, sebagai gantinya aku akan bekerja keras layaknya dua orang"
" oi,oi, siapa yang mau menyuruhnya bekerja hum?
"…."
" aku hanya bertanya di mana dia sekarang"
Mengikuti arah telunjuk si pria yang mengarah ke balik pohon di sampingnya, luhan menemukan pria satunya tengah terbaring di sana tak sadarkan diri sedang seekor burung bertengger di atas tubuhnya.
" apa kau bodoh, bagaimana bisa kau membiarkannya berbaring di sana tanpa alas juga selimut" luhan berseru."
"tapi nyonya-
"dan lihat burung itu, dia hampir saja memakannya"
"tapi burung tak makan orang, nyonya" jawab pria itu polos
Luhan terdiam.
pipinya secara perlahan memerah. Astaga sikapnya yang asal bicara saat sedang khawatir selalu berhasil membuat dirinya mempermalukan diri sendiri.
Dengan wajah tertunduk, ia meraih kain jubah yang sebelumnya ia pakai sebagai selimut dan mengenakannya pada pria yang tak sadarkan diri.
Sedang pria satunya, masih berdiam diri di belakang sambil memukul-mukul kepala, menyadari perkataanya tentang – burung tak makan orang- telah melukai perasaan majikannya, padahal gadis itu adalah majikan terbaik sepanjang masa yang pernah ia temui yang bahkan rela membagi selimut miliknya pada budak seperti mereka.
" kau mengobati lukanya menggunakan apa?"
Luhan meraih lengan pria yang terluka dan mengamati beberapa remahan berwarna hijau yang melekat di sana
" beberapa tumbuhan obat yang aku temukan di sekitar sini"
" kau yakin ini ampuh?"
Pria yang di Tanya mengangguk membenarkan.
"kami selalu memakainya saat terluka"
Luhan menatap pria di sampingnya dengan raut iba, kedua pria ini telah mengalami banyak penderitaan, dan jika yang di katakana ibunya benar, ini semua terjadi karena ibunya melakukan dosa dan memilih mempertahankan dirinya. Dan luhan sekarang berada di sini, di tugaskan untuk mengubah dunia yang hancur, namun luhan tak tau bagimana, yang berkecamuk dalam pikirannya saat ini adalah bagaimana cara agar bisa kembali ke dunia manusia dan apakah ia bisa. Bukannya bagaimana cara menyelamatkan dunia ini.
Selain itu, luhan juga merasa sangat-
"bisakah kau mencari beberapa makanan untukku"
-LAPAR
Menjelang tengah hari, barulah luhan mendapat asupan pertamanya di dunia ini, berupa buah juga beberapa daging kelinci yang luhan bersumpah tak akan memakannya lagi karena di setiap gigitanny ia terus membayangkan seekor kelinci manis yang menatapnya dengan mata bundar yang lucu. Sedangkan kedua pria yang ada di sana- yang satunya tersadar beberapa waktu lalu- terus menatap gadis itu aneh karena makan dengan lahap namun ekspresi wajahnya menggambarkan orang sedang sembelit.
" mengapa kalian tak ikut makan?"
" kami makan setelah anda"
Luhan mengeryit, apa-apaan itu, peraturan lain di dunia ini tentang budak?.
Berdecak dengan mulut penuh, luhan hampir memuncratkan makanan ke segala arah.
" makan saja, di sini tak ada pak polisi yang akan menangkapmu jika kau melanggar aturan"
"pak polisi?"
Luhan menghela nafas " maksudku prajurit istana" ralatnya, kemudian menyodorkan beberapa makanan ke arah keduanya.
" tidak, kami makan setelah anda selesai"
" jika begitu, maka aku sudah selesai" ucapnya bertentangan dengan ke inginan perutnya.
Saling berpandangan sejenak, kedua pria itu menghela nafas menyerah, bagaimana pun, mereka sejak tadi memanglah hampir meneteskan liur menatap luhan melahap makanannya.
Luhan tersenyum senang " ahh siapa nama kalian?"
Kedua pria itu terdiam tanpa jawaban.
" kalian belum memberitahuku nama kalian"
" sebenarnya anda berasal dari mana, sejak pertama bertemu, anda sepertinya tak tau menahu satupun hal yang ada di dunia ini" pria yang sekujur tubuhnya masih di penuhi luka itu berkata dengan datar tanpa menatap ke arahnya.
" yaa, kau ini bicara apa?, aku kan hanya menanyakan nama, kenapa jadi membahas dari mana aku berasal"
" seorang budak tak memiliki nama" pria yang satunya menjawab " itulah masalahnya, kami hanya di beri tanda seperti ini" pria itu menyingkap pakaiannya dan memperlihatkan pundaknya. Di sana terukir sesuatu, sebuah angka.
Luhan mengeryit " 1192? " bisiknya.
" itu adalah tanda pengenal milikku. 1190 adalah miliknya" pria 1192 menunjuk kawan di sampingnya.
" bagaimana bisa, seorang manusia seharusnya memiliki sebuah nama sebagai identitas juga agar dia di kenali"
" itu karena kami, kaum pria di anggap bukan manusia di tempat ini"
'Pria? Apa maksudnya?' berkaca dari hal pertama, luhan tak menyuarakan kebingungannya, ia tak ingin kedua pria ini semakin penasaran akan eksistansinya.
" di tempat ini, jika kau seorang pria, kau hanya punya satu pilihan dalam hidup yaitu seorang budak sedangkan puluhan pilihan mengantri di hadapanmu jika kau adalah wanita"
"hyung, hentikan"
" apa aku salah" pria itu menatap temannya dengan murka "kita di perlakukan seperti ini karena kita adalah pria dan mereka adalah wanita. Kita seperti ini karena kita di lahirkan dalam wujud pria"
Jadi seperti itu ya, anggapannya tentang adanya diskriminasi strata di tempat ini adalah salah, Yang terdiskriminasi adalah kaum pria.
Sesuatu seperti ini.
Hal mengerikan seperti ini, apakah tarjadi karena kesalahan ibunya.
Luhan menatap kedua pria yang masih berdebat di hadapannya dengan raut wajah bersalah. Dalam hati bertanya sebenarnya dosa seperti apa -yang tak di ceritakan ibunya- yang menyebabkan hukum seperti ini di terapkan.
Menunduk dan menatap kedua tangan di atas pangkuannya, luhan merasa ragu, apakah ia benar di ramalkan untuk memperbaiki dunia ini dengan kedua tangannya sendiri. Ia hanya gadis remaja biasa yang menjalani hari-hari yang biasa pula, lalu bagaimana ia harus menjadi hero dan menyelamatkan kedua pria ini dan pria lainnya dari takdir menyeramkan yang di sebabkan oleh kesalahan kedua orang tuanya.
Apapun itu, luhan merasa ragu.
" kris " luhan menyebut satu nama dalam gumaman pelan namun ia yakin kedua pria di hadapannya cukup mendengar dengan jelas.
" namamu adalah kris, mulai saat ini hingga seterusnya" luhan menatap pada pria yang sekujur tubuhnya masih terluka.
" jangan bercanda denganku, walaupun kau seorang wanita, aku bisa membunuhmu"
"aku tidak bercanda" bangkit berdiri, luhan maju dan berlutut di hadapan kedua pria yang menatapnya dalam diam.
Ya, luhan sangat ragu.
" dan kau adalah chanyeol" luhan menatap pada pria yang satunya.
" chan-yeol?"
" yahhh, itu adalah namamu sekarang, aku akan memanggilmu seperti itu"
"tapi, hukum melarang-
" persetan dengan hukum, kenapa kita harus mematuhinya jika kita tak menyetujuinya" tersenyum, luhan menatap keduanya bergantian. " namaku luhan, kalian bisa memanggilku seperti itu"
" lu-han" chanyeol kembali mengeja, rasa senang membuncah meluap.
Luhan mengangguk, diam-diam melirik kea rah kris yang sedang merapalkan namanya dalam bisikan.
" senang berkenalan dengan kalian, KRIS dan CHANYEOL"
Namun ia akan mencoba.
" mulai saat ini, kita adalah teman "
Keramaian dan kebisingan di mana-mana, suasana ramai, menghiasi desa kecil dengan penduduk padat di siang hari itu. di sana luhan berjalan di apit kedua pria tinggi menjulang yang ia klaim akan menjadi pemadunya selama berada di dunia ini. luhan tak pernah menyangka bahwa suatu saat ia akan mengunjungi sebuah desa kumuh yang hanya pernah ia lihat di film fiksi saja. Jalan kotor berlumpur, buah membusuk di pinggir jalan yang masih menarik minat beberapa anak berpakaian kumal. Dan beberapa pria lansia yang berbaring di sela-sela bangunan, meringkuk mencari kehangatan, beberapa diantarannya- luhan berharap mereka masih bernafas- berbaring begitu saja tanpa alas.
" tempat apa ini" tak bermaksud bertanya, luhan hanya tak bisa mengeluarkan kata apapun selain kalimat pendek itu.
Kris yang mendengar hanya melirik sekilas dan mengangkat bahu.
" sebuah desa di mana para budak berkumpul untuk di perjual-belikan" kris menjelaskan dalam satu tarikan nafas sarat akan emosi yang membuncah dan luhan mengerti itu sebab lebih dari siapapun rasa bersalah semakin menggerogotinya.
Berjalan tanpa tentu arah, ini adalah pertama bagi luhan. Beberapa hari yang lalu, setelah luka yang ada di tubuh kris mengering dan menutup, mereka telah merundingkan-jika bisa dikatakan berunding karena hanya luhan yang memilih tempat dan dua pria lainnya hanya mendengar- tempat tujuan mereka selanjutnya adalah ke kota silver, ibukota dan tempat di mana ratu bermukim. Bukan tanpa alasan luhan memilih tempat itu. untuk menunaikan tugas yang menjadi bebannya, ia haruslah terlebih dahulu mengetahui seperti apa ratu yang memerintah dunia ini dan seperti apa iblis yang harus ia turunkan dari tahta itu.
Mengehela nafas pelan, luhan benar-benar tak mengerti apa yang harus terlebih dahulu ia lakukan.
Saat angin berhembus, menyingkap tudung jubah dan mengibarkan rambut kecoklatannya, luhan merasakan sensasi dingin tak menyenangkan. Menurut pada rasa gundah Ia menoleh, menatap pada celah bangunan yang remang. Di mana Seseorang berdiri di sana, dengan jubah hitam panjang yang menjuntai dan tudung yang menutupi wajah dan hanya memperlihatkan sebuah seringai yang membekukan. namun, luhan tau orang itu tengah menatap intens padanya, hanya padanya.
Bibir itu kemudian terbuka dan menyebut satu nama-
" Luhan "
Berjengit terkejut, luhan menoleh ke samping dan menemukan chanyeol tengah menatapnya khawatir.
" ada apa?" mengikuti arah pandangan luhan sebelumnya, chanyeol tak menemukan objek yang dapat di tatap dengan lama kecuali suasana remang yang cukup meneyeramkan " apa yang kau lihat?"
" bukan apa-apa" luhan menjawab dengan pelan dan menarik kembali tudung jubah ke atas kepala.
Hingga sebuah kehangatan menyusup ke pipi kanannya kembali membuatnya mendongak.
"kris?"
" tubuhmu dingin" kris berucap datar setelah menarik telapak tangannya yang ia letakkan di sisi wajah luhan.
" benarkah?" kali ini chanyeol menyentuh telapak tangannya. Dan menyadari bahwa perkataan kris adalah benar. Tubuh luhan sangat dingin hingga chanyeol berfikir bahwa gadis ini bisa saja membeku.
" aku baik-baik saja " luhan menarik tangannya dari genggaman chanyeol dan mulai melangkah. Dan mau tak mau, chanyeol juga kris harus mengikuti.
Sesungguhnya, perasaan tatapan membekukan itu tak pernah meninggalkannya sedikitpun bahkan saat ini. hanya saja, saat luhan kembali menoleh ke tempat itu, sosok itu telah menghilang sekejap mata saat chanyeol menglihkan perhatiannya. Dan luhan berharap itu hanyalah buah imajinasi akibat dari terlalu seringnya ia melamun dan berpikir. Karena jika nyata, luhan menyakini bahwa orang itu bukanlah sekutu.
Dan tanpa sepengetahuan mereka, suasana remang itu kembali berpenghuni, seringai itu masih bertahan di bibirnya, menatap punggung tiga orang yang melangkah semakin menjauh.
" aku menemukanmu"
"pakai ini"
Luhan menatap bergantian dua pria di hadapannya dan sebuah kain berwarna peach pudar yang di sodorkan di depan hidungnya.
" apa ini?"
"pakaian tentu saja, kau tak ingin berkeliaran di tengah ibu kota dengan pakaian seperti itu kan" kris menatap luhan dari atas ke bawah kemudian kembali ke atas dengan ekspresi menilai. Luhan cemberut, ia sadar pakaianya tak sesuai dengan pakaian di tempat ini dan ia juga sadar sepanjang jalan orang-orang terus menatap kakinya yang terekspos hingga pertengahan paha, walau sebagian tertutup jubah, namun saat melangkah, semua itu jadi terlihat namun, bukan berarti kris bisa serta merta menatapnya seperti itu kan.
Luhan tersenyum senang saat siku runcung chanyeol membuat kris meringis.
" berhenti melakukan itu hyung, bersikaplah dengan sopan"
Kris berdecak sambil mengelus-ngelus pinggangnya yang menjadi korban sikutan, dan melempar tatapan tajam pada pria di sampingnya yang tentu saja di abaikan oleh chanyeol.
"ini terlihat kusam, tapi di tempat ini pakaian inilah yang terbaik" chanyeol kembali menawarkan dengan cara yang lebih halus tentu saja.
" tak perlu" luhan meraih gaun itu dan mengembalikannya kepada wanita yang sejak tadi bertanya apakah mereka akan membeli gaunnya atau tidak. "sebenarnya aku punya satu gaun di dalam ransel yang bisa aku gunakan"
" tapi-
"aku hanya butuh ruang ganti" luhan menatap seluruh ruangan yang sesak oleh pelanggan "kurasa".
"ikut aku" kris meraih pergelangan tangan luhan dan menariknya keluar. Chanyeol di belakang mereka mengikut setelah sebelumnya membungkuk meminta maaf pada pemilik toko yang tak hentinya mengomel.
Membiarkan kris menariknya ke sana kemari, luhan hanya bisa mengehela nafas. Sikap pria ini dan chanyeol sangatlah bertolak belakang, lalu bagaimana mereka bisa bersama seolah mereka adalah saudara? Luhan tak punya jawaban untuk itu.
" kau bisa menggunakan tempat ini untuk berpakaian "
Luhan menatap gubuk di hadapanya horror, dengan atap miring dan di jalari tanaman, gubuk itu telihat telah siap roboh dan memuntahkan beberapa binatang menjijikkan dari dalamnya.
"kau yakin" luhan menatap sekitar, mencari keberadaan chanyeol, berharap pria itu membenturkan kepala kris yang mulai gila.
"tempat ini memang terlihat menakutkan dan rapuh namun, aku dan kris telah menempatinya selama beberapa puluh hari dan tak terjadi apapun" luhan menatap chanyeol tak percaya, pria itu sama sekali tak membantu.
Kris menepuk pundak luhan pelan kemudian menyeringai " apa kau takut?"
Luhan terdiam, ia menoleh pada kris dengan tatapan menyipit. Luhan tak pernah mempermasalahkan jika sesorang mengatainya penakut, selama nada yang di lontarkan orang itu tak di sertai ejekan terlebih jika orang itu pria dan kris telah menekan tombol merah itu.
Luhan meraih ransel yang ada dalam genggaman chanyeol tanpa mengalihkan tatapannya dari kris yang masih bertahan dengan seringaiannya, dan malah menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya- apa kau yakin – meremehkan. Karena itu, sebelum memasuki gubuk yang sebenarnya menyebabkan kakinya bergetar, ia terlebih dahulu memukulkan ransel ditangannya ke kepala kris.
Chanyeol tertawa, luhan tersenyum puas sedang kris mengaduh kesakitan. Jelas saja, di dalam rasel itu berisi dua pilah pedang yang tak lunak.
melangkah pelan dan perlahan, lantai gubuk itu bunyi berderit saat di pijaki. Di ruang pertama, luhan menemukan tempat itu bersih tanpa debu maupun sarang serangga yang menghiasi. Jika benar kedua pria di luar pernah tinggal di sini maka luhan tak akan mempertanyakan mengapa gubuk ini terlihat seperti berpenghuni, bersih dan terurus. Mengalihkan tatapan kesegala arah, luhan menemukan Sebuah meja pendek tanpa kursi berdiri di tengah ruangan dengan rapi. Di sudut ruangan sebelah kanan berjejer dua rak-rak kosong sedang sedang si sudut ruang sebaliknya, terdapat dua buah pintu yang luhan duga kemungkinan merupakan sebuah kamar tidur dan kamar mandi.
BRUUKKK
Luhan baru saja berniat membuka pintu yang lebih besar yang ia pikir adalah kamar, suara berdebam dari pintu yang satunya menghentikan niat itu. suara debaman seperti benda jatuh ke lantai di sertai erangan tertahan seolah kesakitan.
Liquid bening kini menganak sungai di tubuh luhan, bukankah ia sendirian di dalam gubuk ini, seperti itulah yang ia duga. Sedang kris dan chanyeol jelas-jelas terlihat dari celah dinding kayu masih berada di luar, tak bergerak seincipun dari tempat mereka semula.
Lalu, siapa orang selain dirinya yang berada di gubuk bobrok ini?
Luhan mundur selangkah saat suara erengan itu semakin menjadi, dan mengambil dua langkah maju saat suara debamam kedua terjadi. Luhan merasa ragu, haruskah ia memeriksa atau memutuskan pergi. Ada kemungkinan, yang berada di dalam ruangan itu adalah manusia yang tengah membutuhkan pertolongan namun dua orang di luar mengatakan bahwa gubuk ini kosong. Dan lagi, luhan tak berniat meminta pertolongan dua pria itu sebab luhan bisa membayangkan bagaimana kris akan meresponnya dengan beberapa kalimat menyebalkan.
Menarik nafas panjang, luhan membulatkan tekad. Jika ia ingin menyelamatkan tempat kelahiran ibu dan ayahnya ini, maka ia harusnya tak merasa terancam hanya karena hal yang seperti ini. ia akan berjuang, dan kemungkinan keadaan yang lebih mengerikan akan ia alami. Anggaplah saat ini adalah level kedua setelah pertarungannya dengan amber dalam petualangannya.
Menelan ludah secara paksa, luhan dengan tangan bergetar menyentuh gagang kayu pintu, apapun yang ada di baliknya, entah kawan atau lawan, luhan hanya akan menghadapi, karena semenjak ia menjejalkan kaki di dunia ini, ia tak sekalipun merasa aman seolah bahaya berada di setiap langkahnya. Namun ini adalah jalan yang harus ia pijak dan luhan tak ingin meneyesalinya. Dengan pedang ibunya di tangan dan Kristal biru yang melingkar di leher, luhan tau kedua benda itu akan menggantikan ayah ibunya untuk melindungi dirinya.
Suara berderit dari engsel tua memecah kesunyian, luhan membuka pintu itu secara perlahan hingga terbuka sepenuhnya dan memamerkan segala isi yang di sembunyikannya.
Sebuah kamar mandi dan-
Luhan terbelalak
Seonggok manusia di lantai
T
.
.
B
.
.
C
.
.
REVIEW PLEASE
