Oke, seperti yang saya janjikan tadi siang, kalo saya lulus, saya bakalan upload lagi, iya kan? So, ini diaaaaaaaaaaaaa! Saya lulus. Yeahhhhh!
Selamat membaca deh, and, seperti biasa... semoga kagak ada typo-nya. :)
"Empty Letter"
By Zero Eleven (011)
Main Cast : Uchiha Sasuke x Haruno Sakura
Genre(s) : Romance; Humor
Rate : T
Warning : AU, AT, OOC, Kesalahan ketik dan penggunaan tanda baca yang kurang tepat, MENGANDUNG ADEGAN YANG AGAK DEWASA
.
.
.
BAB 4
Hari minggu merupakan hari yang sangat berharga bagi para pelajar. Karena pada hari Minggulah mereka dapat libur sejenak dari rutinitas di sekolah, terbebas dari kewajiban bangun pagi, terbebas dari Matematika, Fisika, Kimia, dan sebagainya, serta terbebas dari guru-guru killer. Walaupun itu… hanya sehari. Oleh karena itu, melihat Sasuke yang masih bertahan di atas tempat tidurnya meskipun matahari telah meninggi tidaklah mengherankan.
Rambut hitamnya terlihat sangat kontras dengan bantal putih yang ia gunakan. Kulit pucatnya berbaur dengan sinar matahari yang mengintip melalui celah jendela kamarnya. Membuat bulu matanya yang tebal tampak bergerak-gerak pelan. Meski begitu, dia enggan membuka mata. Sasuke berputar untuk membelakangi sinar itu, membuat tubuh yang biasanya terlihat tegap kini melengkung seperti bayi sedang tidur.
"Heeeh…" Sasuke menghela napas sebal. Mau ganti posisi berapakalipun, tetap saja sinar itu membuatnya tidak nyaman. Dengan kesal, dia menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya, termasuk kepala. Dengan begitu, dia bisa tenang. Namun, tiba-tiba…
BRAK!
"Oi, Sasuke!"
Suara pintu yang terbuka paksa terdengar hingga ke sudut-sudut ruangan. Belum puas dengan kekacauan itu, si pengganggu segera membuka gorden lebar-lebar beserta jendela. Hal itu membuat sinar matahari semakin bebas masuk ke ruangan, menyinari hampir seluruh ranjang.
"Oi, bangun, Sasuke! Kau harus menemaniku ke suatu tempat!" perintah pengganggu itu sambil mengguncang tubuh Sasuke dari balik selimut. "Aku bilang," si pengganggu meremas selimut, "bangun, Sasuke!" kemudian menariknya dengan kasar.
Oh, shit!
Sasuke segera duduk dengan rambut yang berantakan, menatap garang ke pengganggu di tepi ranjang. "Seharusnya ini menjadi hari yang tenang untukku, Naruto! Tidak bisakah kau berhenti menggangguku—setidaknya, untuk hari ini, heh?!"
Bukannya menjawab, pengganggu itu—Naruto—malah sengaja memasang pose seperti gadis yang malu-malu untuk mengejek Sasuke. "Auwwww… Sasuke mulai nakal," oloknya sambil pura-pura menutup mata dengan kedua telapak tangan. "Kau membuatku malu," lanjutnya sambil mengintip melalui sela-sela jari, melihat Sasuke yang setengah telanjang—hanya mengenakan celana boxer hitam. "Tidakkah kau merasa berdosa telah membuat mata gadis yang suci ini ternoda?"
Sasuke memutar bola mata—bosan. "Kenapa kau ke sini? Ini hari Minggu, ingat? Tidak biasanya kau bangun awal—apalagi di hari libur," ujar Sasuke sengaja memberi penekanan di kalimat terakhirnya.
"Temani aku ke suatu tempat."
"Tidak, terima kasih."
Sasuke kembali baring dan menguburkan dirinya ke dalam selimut. Namun…
"Terima atau tidak terima, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, pokoknya kau harus temani aku ke suatu tempat!" paksa Naruto kemudian merampas selimut dan melemparnya ke lantai.
"Seperti yang sudah aku katakan, terima atau tidak terima, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, aku tetap tidak mau! Pergi saja sendiri!" balas Sasuke emosi. "Dan," dia mempertajam tatapannya, "aku mau tidur, Otak udang!" kemudian menendang pinggang Naruto.
BUAGH!
"AKH!" pekik Naruto. Kali ini, emosinya berhasil terpancing. Dia pun segera membalas Sasuke dengan perbuatan yang sama—menendang tepat di bokong Uchiha bungsu itu ketika kembali baring dan membelakangi Naruto.
Lantas, Sasuke segera terjatuh, membuat dada dan dagunya menghantam permukaan lantai yang keras dan dingin. "AKH!" pekiknya kesakitan. Dengan susah payah, Sasuke bangkit dan bertengger di tepi ranjang, menatap sengit ke arah Naruto yang berdiri di sisi berlawanan. "Kau. Mati. Hari. Ini." Dan segera menerkam Naruto.
Tak mau kalah, Naruto juga maju dan kembali menerkam Sasuke.
Kini, kedua lelaki muda itu berada di atas ranjang, sedang bergulat, saling menjatuhkan, saling mengunci gerakan lawan, dan saling menyerang dengan kata-kata kasar. Otak udang, Pantat ayam, Kepala duren, Bocah tomat, Maniak ramen, dan banyak lagi.
"Inilah yang aku tidak suka darimu, Bocah tomat! Kau terlalu keras kepala!" ujar Naruto ketika berhasil menahan serangan Sasuke.
"Cih! Keras kepala, huh?" balas Sasuke setelah berhasil membalik keadaan dengan membanting Naruto dan menguncinya di bawah. "Bagaimana denganmu? Selalu memaksaku melakukan sesuatu yang tidak ingin aku lakukan, apa itu bukan keras kepala namanya?"
Mereka terlalu serius dalam perdebatan itu hingga tidak menyadari keberadaan seseorang di pintu kamar.
"Ehem!" Orang itu menginterupsi percakapan Sasuke dan Naruto. Setelah kedua pemuda itu melihat ke arahnya, orang itu berkata, "Haruskah aku menutup pintu? Atau… biarkan saja terbuka lebar? Pilihan mana yang akan membuat kalian lebih nyaman… untuk melanjutkan ritual kalian?"
Ritual? Ritual apa? Sasuke dan Naruto menatap orang itu dengan ekspresi bingung. Tak berapa lama setelahnya, dua pemuda itu kembali saling bertukar pandang. Ritual apa? Pada saat itulah Sasuke dan Naruto segera menyadari posisi vulgar yang sedang mereka pamerkan di atas ranjang. Sasuke berada di atas Naruto dengan kedua tangan meremas tangan-tangan Naruto. Sementara itu, Naruto justru terjebak di bawah dengan kedua kaki yang melingkari pinggang Sasuke. Ditambah dengan kasur yang berantakan—akibat pergulatan mereka—dan selimut yang tergeletak di lantai, serta Sasuke yang hanya mengenakan celana boxer, situasi pun terlihat semakin vulgar.
Mesum.
Memalukan.
Menyimpang.
Sasuke panik. Dia pun segera melepas Naruto dan menyingkir dari atas ranjang. Begitu juga dengan Naruto, dia segera turun dari ranjang dan menatap jijik ke Sasuke yang berada di sisi yang berlawanan. Keduanya bergidik ngeri. Iiiiihhh…
Mereka segera saling membelakangi dan memeluk tubuh masing-masing dengan perasaan kacau balau. Sekali lagi, iiihhh…
"Oh, ayolah," ujar seseorang yang masih berdiri di pintu, "jangan malu-malu begitu. Tidak ada yang lihat kok selain kak Itachi sendiri. Tenang saja, Adik-adikku yang manis." Orang itu menyunggingkan senyum hangat—yang justru diartikan sebagai senyum mengejek oleh Naruto dan Sasuke. Sial!
"Jaga pikiranmu, Itachi. Ini tidak seperti yang kau kira," balas Sasuke dengan nada mengancam namun tetap terlihat tenang.
"Dia yang duluan menendangku!" bela Naruto sambil menunjuk ke Sasuke.
"Karena kau yang duluan menggangguku," ujar Sasuke tenang.
Hening. Hening. Dan, hening.
Seolah tidak mendengar apa-apa, Itachi—seperti yang Sasuke sebut barusan—tetap memasang wajah polos tak berdosa, membuat Sasuke sangat ingin menonjoknya. Itachi kembali tersenyum. Kemudian… "Selamat melanjutkan ritual kalian~" ujarnya dengan nada manja sebelum memegang gagang pintu dan menariknya perlahan. "Aku harap aku tidak menjadi pengganggu…"
Seeettt… Pintu pun tertutup rapat.
"INI TIDAK SEPERTI YANG KAU PIKIRKAN!" teriak Sasuke dan Naruto frustasi.
Meski telah menjauh dari kamar Sasuke, Itachi masih dapat mendengar mereka. Dia pun tertawa geli sambil menuruni tangga.
.
.
.
Hari Minggu adalah hari yang berharga bagi para pelajar. Yah, begitulah seharusnya—namun tidak untuk Ino. Baginya, hari Minggu adalah hari dimana dia akan terjebak seharian di toko bunga milik keluarganya. Yamanaka's Flowers. Toko itu telah lama berdiri jauh sebelum Ino terlahir ke dunia ini.
Puluhan tahun yang lalu, Yamanaka's Flowers hanyalah toko bunga kecil-kecilan. Namun, seiring berjalannya waktu, para pendahulu Ino mampu mengumpulkan modal dari hasil penjualan bunga-bunga kemudian mendirikan berbagai usaha di bidang lain yang lebih menguntungkan, seperti di bidang makanan, pakaian, bangunan, dan sebagainya.
Singkat cerita, kini usaha keluarganya telah terbagi menjadi beberapa cabang dan tersebar ke seluruh Konoha. Bisa dibilang, keluarga Yamanaka telah menjadi salah satu keluarga kaya raya di Konoha. Walau begitu, orangtua Ino tetap mempertahankan toko bunga itu karena merupakan warisan yang sangat penting dan bersejarah.
Maka, di sinilah Ino, terjebak di antara bunga-bunga dan ibu-ibu yang sedang berkunjung ke tokonya. Meski tak banyak, ada juga gadis seumurannya. Ino memasang wajah masam dan akan memasang wajah ceria tiap kali ada pelanggan yang ingin membayar di kasir. Namun, setelah pelanggan-pelanggan itu selesai berurusan dengannya, dia akan kembali berwajah masam.
Ino menghembuskan napas lelah. "Ini melelahkan. Sangat melelahkan… dan membosankan," gumamnya ketika pengunjung toko tak memperhatikannya.
Dia butuh hiburan. Butuh sesuatu yang mampu menghilangkan rasa bosannya. Sesuatu yang luar biasa menarik, seperti… Sasuke? Ino tersenyum kecut karena menyadari hal seperti itu tidak mungkin ada—atau lebih tepatnya, seseorang seperti Sasuke tidak mungkin berada di toko bunga seperti ini. Kecuali… hari ini merupakan hari keberuntungannya. Sayangnya, Ino tidak percaya dengan hal-hal seperti hari keberuntungan, angka keberuntungan, warna keberuntungan, maupun bunga keberuntungan.
Pintu berderit menandakan ada pengunjung lain yang datang. Ino pun memasang sikap ramah. "Selamat datang—" Namun tak mampu mempertahankan sikap itu karena mendadak dibuat terkejut oleh si pengunjung.
Ya, Tuhan… haruskah Ino mulai mempercayai sesuatu yang berhubungan dengan keberuntungan? Hari keberuntungan misalnya? Kenapa? Karena… Sasuke benar-benar ada di tokonya! Berada tepat di depan pintu masuk!
Demi saos tartar! Jantung Ino bisa saja meledak saat ini juga!
"Eh? Kau gadis yang waktu itu, kan? Namamu… eemm… Oi, Sasuke! Siapa namanya? Aku lupa."
"Yamanaka Ino."
Nanti setelah mendengar namanya disebut—meski diucapkan dengan sangat datar dan dingin, barulah Ino tersadar dan segera menjaga sikap. Ino hampir tidak menyadari kehadiran Naruto karena terlalu terbuai oleh sosok Sasuke.
"Halo, Ino," sapa Naruto sok akrab. "Kenapa kau bisa ada di sini?"
"Toko ini milikku keluarga. Aku hanya sukarelawan di sini." Ya, sukarelawan yang dipaksa dengan ancaman tidak akan diberi jajan selama seminggu jika menolak menjaga toko di hari Minggu.
Naruto mengangguk mengerti kemudian mengamati beberapa bunga-bunga mawar. "Bagaimana menurutmu bunga ini?" tanyanya pada Sasuke ketika mengambil setangkai mawar merah.
"Jangan tanya padaku," jawab Sasuke dingin.
Naruto mengangguk mengerti. "Lalu, bagaimana dengan yang ini?" tanyanya lagi ketika mengambil setangkai bunga tulip.
Sasuke menggeretakkan gigi. Apa gunanya anggukan kepala Naruto tadi jika dia tetap saja bertanya?
"Ah… aku tidak tahu harus memilih bunga yang mana."
Ino memperhatikan Naruto dan Sasuke kemudian memperhatikan pengunjung lainnya—yang semuanya adalah kaum hawa. Kehadiran dua pemuda itu berhasil membuat suasana mendadak hening. Ibu-ibu dan para wanita muda yang tadinya sibuk bergosip mendadak bungkam setelah melihat dua makhluk tampan masuk ke wilayah mereka.
Aahh… sungguh tampan, seperti itulah Ino menebak pikiran mereka.
Namun, Naruto dan Sasuke tetap bersikap biasa. Ino tidak tahu, apakah kedua lelaki itu tidak sadar telah membuat seluruh penghuni toko terpesona, ataukah kedua lelaki itu sudah terlalu sering berada dalam situasi seperti itu hingga membuat mereka bosan sendiri dan memilih untuk mengabaikannya. Ino benar-benar tidak tahu.
"Sebaiknya aku memilih yang mana, Sasuke?"
"Sudah aku bilang, jangan tanya padaku."
Sebagai penjaga toko, Ino mempunyai kewajiban untuk membantu para pelanggannya. Yah… meskipun kenyataannya selama ini Ino justru bersikap malas-malasan dan hanya duduk santai di depan kasir. Jika ada pelanggan yang kesulitan dalam memilih bunga, dia akan menyuruh pegawai lain yang melayani pelanggan itu. Baginya, dia hanyalah sukarelawan yang bertugas menjaga toko. Hanya menjaga. Tidak lebih. Tapi, khusus untuk hari ini, Ino memutuskan untuk bertransformasi menjadi penjaga toko yang ramah dan dapat diandalkan, khusus untuk… melayani Sasuke—walau kenyataannya Narutolah yang seharusnya pendapat pelayanan itu.
"Jika tidak keberatan, aku bisa membantumu memilih bunga," tawar Ino setelah berada di dekat Sasuke.
Sasuke meliriknya sebentar sebelum kembali membuang muka. "Terima kasih. Tapi bukan aku yang membutuhkan bunga."
Tenang, Ino. Tenanglah. Seharusnya kau sudah bisa menebak responnya akan sangat dingin.
Ino belum menyerah. "Khusus untuk hari ini, kami memberikan bunga secara gratis."
"Benarkah?!" Justru Naruto yang merespon.
"Ng… iya."
Baiklah, Ino berbohong. Tentu saja tidak ada pembagian bunga gratis. Namun, jika itu demi Sasuke, Ino bahkan berani memberikan semua bunga-bunga yang ada di tokonya hingga tak menyisakan satu tangkai pun.
"Serius?!" Naruto mulai kegirangan.
"Mmm… i-iya…"
"Tapi aku bingung harus memilih yang mana." Naruto memegang dagunya sambil berpikir.
"Pernah dengar ungkapan 'Say it with flowers'?" tanya Ino. Melihat Naruto menggeleng, Ino melanjutkan,"Artinya, untuk mengungkapkan sesuatu pada seseorang yang istimewa, kita dapat menggunakan bunga sebagai medianya. Misalnya," Ino mengambil setangkai bunga tulip merah, "bunga ini melambangkan cinta yang sempurna. "
Mulai dari sini, Ino menjelaskan seluruh makna bunga yang dia ketahui. "Bunga Lily melambangkan kelembutan dan keramahan. Bunga Daisy melambangkan kepolosan, kesucian, dan kesederhanaan. Bunga Chrysanthemum melambangkan kegembiraan dan persahabatan. Bunga Aster melambangkan keindahan dan kecantikan. Bunga Anyelir melambangkan kasih sayang dan kesehatan. Bunga Akasia melambangkan cinta yang terpendam. Bunga—"
Ino tetap melanjutkan penjelasannya tanpa menyadari Naruto tidak mampu mengikuti pembicaraannya. Naruto tidak dapat mengingat semua nama bunga-bunga yang disebutkan Ino. Tolonglah, jangan menyuruh Naruto menghafal karena dia sangat tidak suka dengan kegiatan hafal-menghafal. Yang bisa Naruto lakukan sekarang hanyalah menganggukkan kepala pura-pura mengerti.
"—Bunga Violet merupakan simbol dari kesetiaan. Pernah mendengar kisah Napoleon Bonaparte? Dia sangat menyukai bunga ini sampai-sampai mempersembahkannya pada calon istrinya di hari pernikahan mereka."
Naruto kagum dengan pengetahuan Ino yang luas. "Wow, kau hebat sekali, Ino. Kau sangat ahli dalam hal ini. Kau pasti pecinta bunga, ya?"
"Tidak," jawab Ino cuek. "Aku membacanya di Google."
"Oh." Wajah Naruto berubah datar. Berkat Paman Google toh?
"Bagaimana dengan bunga ini?"
Ino tersentak karena kali ini Sasuke yang bertanya. "O-oh, mawar merah itu? Ehem! Sappho, seorang penyair Romawi menjuluki mawar sebagai 'Ratu segala jenis bunga' karena mawar dianggap sebagai lambang kesucian. Sedangkan Shakespeare, seorang pujangga Inggris, memuja mawar karena menganggapnya sebagai lambang keperkasaan. Batangnya yang berduri melambangkan kegagahan yang menyatu dengan keindahan dan keharuman. Kebanyakan orang menganggap mawar melambangkan seorang wanita. Padahal, bunga ini seharusnya melambangkan kemaskulinan seorang lelaki. Kenapa? Karena bunga mawar sangat disukai oleh para wanita—terutama mawar merah, dan…" Ino menatap Sasuke, "sesuatu yang sangat didambakan oleh kaum hawa adalah… para lelaki. Sesuatu yang sangat diingin oleh seorang gadis adalah… seorang lelaki."
Ino jeda beberapa saat karena merasakan perasaannya bergejolak. "Kh-khusus untuk mawar merah yang kau pegang, itu melambangkan cinta. Orang-orang biasanya menggunakan mawar merah untuk menyatakan cinta."
Sekali lagi Naruto dibuat kagum oleh Ino. "Hebat! Dari mana kau tahu semua itu?" tanya Naruto antusias.
"Google," jawab Ino seadanya.
Oh, Tuhan! Wajah Naruto kembali datar. Bodoh sekali dirinya karena melupakan tentang kecanggihan Paman Google.
"Jadi, bunga apa yang akan kau pilih?" tanya Ino pada Naruto.
"Berikan aku bunga putih itu… emm… bunga Lily kalau tidak salah. Iya, kan?"
"Bunga yang melambangkan kelembutan dan keramahan." Ino mendekat ke kumpulan bunga Lily." Biar aku tebak, kau ingin memberikan bunga ini pada seseorang yang lembut? Mungkin… cenderung pemalu?"
Jleb! Sepertinya Ino tepat sasaran. "A-a-aku ingin memberikannya pada nenek temanku! Kau kenal Kiba? Aku ingin mengunjungi neneknya!"
Ino menaikkan salah satu alisnya. Sikap panik Naruto terasa sangat mencurigakan.
"Aku tidak bermaksud mengganggu," sahut Sasuke datar, "tapi bukankah nenek Kiba sudah lama meninggal, Naruto?"
"Benarkah?! Ma-maksudku, aku ingin membawanya ke kuburannya. Aku ingin berziarah!"
"Oh, maaf. Aku lupa. Nenek Kiba masih hidup," ujar Sasuke lagi.
"Eh?! Benarkah?!"
Sial! Naruto baru sadar. Sasuke sedang mengerjainya saat ini. Naruto bahkan tidak akrab dengan Kiba—salah satu teman sekolahnya. Apalagi dengan neneknya. Bertemu saja tidak pernah. Maafkan aku, Nek. Aku tidak bermaksud menghinamu. Aku benar-benar minta maaf.
Terserah. Ino tidak berminat ikut campur. Dia segera merangkai beberapa bunga Lily kemudian memberikannya pada Naruto. "Untuk bunga Lily ini, harganya—"
"Bukannya tadi kau bilang bunga-bunga ini gratis?" potong Naruto.
"Eh? Benarkah?" Kali ini, Ino yang panik. "O-oh… i-iya… kau benar. Bunga ini gratis." Ino pun terpaksa menyerahkan bunga-bunga itu ke Naruto dengan perasaan tak ikhlas. Seharusnya Sasuke yang menerimanya!
"Hehehehe… sankyu, Ino. Kau memang baik."
"Bisa kita pergi sekarang?" tanya Sasuke tidak sabaran.
"Iya, Tuan Uchiha," ejek Naruto.
Setelah itu, Sasuke segera keluar diikuti oleh Naruto. Dan, kegembiraan yang tadi dirasakan Ino juga mulai memudar.
Mendadak, toko yang tadinya sepi kembali diisi oleh suara para ibu-ibu. Salah satu dari mereka bertanya, "Benarkah bunga-bunga ini gratis, Yamanaka-san? Boleh aku mengambil beberapa pot bunga anggrek?"
Ino menegang. Demi saos tartar! Dia benar-benar akan mengalami krisis moneter jika ibunya sampai tahu hal ini. Hal terburuk adalah, ibunya tidak akan memberinya jajan selama seminggu. Tidakkkk! Krisis moneter menyerangnya!
.
.
.
"Sebenarnya aku tidak ingin bertanya. Tapi, aku merasa harus bertanya. Untuk apa sebenarnya kau beli bunga itu?"
"Siapa bilang aku membeli bunga ini untuk Hinata?!" pekik Naruto.
Krik. Krik. Krik. Suara jangkrik menggelitik (?)
Keheningan mengelilingi Naruto dan Sasuke. Keduanya bertatapan dalam diam.
"..."
"Berhenti mengejekku, Sasuke!"
"Aku bahkan belum mengucapkan satu kata pun."
"Argghhh…" Naruto frustasi.
"Kau tuli? Aku tidak bertanya 'untuk siapa' tapi 'untuk apa'. Tapi lupakan saja. Kau tidak perlu menjawab karena aku sudah mengetahui jawabannya. Sekarang, bisa aku pergi? Aku sudah menemanimu seperti yang kau minta."
Melihat temannya bersiap-siap pergi, Naruto segera memegang tangan Sasuke dan berlutut di depannya. "Kumohon jangan pergi, Sasuke!"
Oh, pemandangan itu sangat dramatis. Mereka berada di jalan yang banyak dilewati orang dan Naruto sedang berlutut di depan Sasuke sambil memegang seikat bunga Lily. Tidakkah itu… romantis—bagi para fujoshi? Atau mungkin… cenderung… menjijikkan—bagi sebagian besar orang?
"Aku memang memintamu menemaniku! Tapi bukan ke toko bunga! Kau harus menemaniku ke rumah seseorang! Ke rumah Hinata! Sebenarnya aku sudah bilang pada Hinata akan berkunjung ke rumahnya minggu ini! Dan, dan, dan dia setuju! Ini kunjungan pertamaku! Aku terlalu gugup! Pokoknya kau harus menemaniku! Kau tidak boleh membiarkanku sendirian, Saudaraku!"
"Lepaskan aku, Naruto. Kau menjijikkan," bisik Sasuke sambil melirik orang-orang yang menatap aneh ke arah mereka.
"Tidak! Aku akan melepasmu setelah kau berjanji akan menemaniku ke rumah Hinata!"
Naruto panik, Sasuke lebih panik lagi. Bagaimanapun juga, Sasuke tidak ingin orang-orang menganggapnya tidak normal. Cukuplah dengan kejadian di ranjang tadi pagi. Jangan ditambah lagi dengan aksi memalukan Naruto.
"Aku berjanji. Sekarang. Lepaskan. Aku!"
Naruto menurut dan segera berdiri. Wajah eksotiknya terlihat sangat lega. Oh, bisakah Sasuke menonjok wajah itu sekarang?
Sesampainya di kediaman Hyuga, Naruto dan Sasuke disambut oleh seorang gadis kecil berambut cokelat gelap panjang. Poninya terbelah dua dengan masing-masing ujung diselipkan di belakang telinga. Kedua matanya berwarna abu-abu cerah dan Naruto sangat mengenal mata itu.
"Namaku Hyuga Hanabi. Adik Hinata," ujar gadis itu memperkenalkan diri.
"Aku Uzumaki Naruto. Dan ini Uchiha Sasuke. Kami ke sini untuk bertemu Hinata."
Hanabi melihat bunga Lily yang dipegang Naruto. "Kau pacarnya Hinata?"
"Eh?! Bu-bukan!"
Segera, gadis berambut merah muda pun muncul—Sakura. "Naruto? Kenapa kau bisa ada di sini?" tanyanya. Tentu saja dia juga melihat Sasuke tapi memilih mengabaikannya.
"Bagaimana denganmu? Kau sudah tidak bekerja di toko itu lagi?" tanya Naruto.
"Aku terpaksa libur gara-gara Hinata."
Meski tidak mengerti, Naruto tidak ingin mencari tahu lebih jauh.
Tak berapa setelah itu, Hinata juga ikutan muncul. "Kenapa kau membiarkan tamu kita tetap di sini, Hanabi?"
"Aku baru saja ingin mengajak mereka masuk," bela Hanabi. Kedua tangan saling silang di depan dada.
Hinata bersikap canggung saat melihat Naruto dan sedikit terkejut ketika melihat Sasuke. Sepertinya dia tidak menyangka lelaki dingin itu akan bertamu ke rumahnya. Setelah dipersilahkan masuk oleh Hinata, Naruto dan Sasuke melepas sepatu mereka dan meletakkannya di getabako—rak sepatu atau sandal—kemudian memasuki rumah menggunakan sandal yang telah tersedia.
Rumah Hinata dibangun dengan desain rumah tradisional Jepang yang terbuat dari kayu dan ditunjang oleh tiang-tiang yang kokoh. Interiornya yang didominasi oleh aksen kayu memberikan kesan hangat pada siapapun yang melihatnya. Ketika Hinata menuntun mereka—termasuk Sakura dan juga Hanabi, dia berpapasan dengan seorang lelaki berambut cokelat gelap dan juga panjang—sama seperti Hanabi. Lagi-lagi, Naruto melihat orang lain memiliki mata yang sama dengan Hinata.
"Teman-temanmu?" tanya lelaki itu. Sikapnya sangat tenang.
"Iya. Uzumaki Naruto dan Uchiha Sasuke." Kemudian memperkenalkan lelaki itu pada teman-temannya. "Perkenalkan, ini Hyuga Neji. Kakak sepupuku."
Lelaki itu—Neji—hanya mengangguk kecil sementara Naruto tersenyum canggung. Sasuke? Jangan ditanya. Dia bahkan tidak ragu menunjukkan sikap tak pedulinya meski kenyataannya dia sedang berada di wilayah orang.
Belum hilang rasa canggung yang disebabkan oleh Neji, Naruto lagi-lagi harus berhadapan dengan dua pria dewasa. Dan, seperti yang sudah dapat ditebak oleh Naruto, dua pria itu juga mempunyai mata abu-abu cerah seperti milik Hinata, serta memiliki rambut cokelat gelap yang panjang seperti Neji dan Hanabi. Baiklah, sepertinya hanya Hinata yang memiliki rambut biru gelap di dalam keluarganya, pikir Naruto.
"Ayah," sapa Hinata.
Masalahnya, Naruto tidak tahu pria yang mana satu adalah ayah gadis itu karena kedua pria itu mempunyai wajah yang sama. Saudara kembar identik. Satu-satunya hal yang dapat Naruto bedakan dari dua pria itu adalah pakaian mereka. Pria pertama mengenakan kinagashi—kimono santai yang biasanya digunakan sebagai pakaian sehari-hari—berwarna hijau tua sementara pria kedua mengenakan kinagashi biru tua.
"Temanmu, Hinata?" tanya pria baju hijau.
Oh, pasti ini ayah Hinata! Naruto merasa seperti baru saja menyelesaikan teka-teki tersulit di dunia.
"Iya, Paman Hizashi," jawab Hinata sopan dan lembut.
Oh, man! Ini membingungkan! Jika suatu hari nanti aku menjadi seorang ayah, aku berharap tidak memiliki anak kembar!
Secara otomatis, Naruto dapat menebak bahwa pria berbaju birulah ayah Hinata. Namun, ada apa dengan keluarga ini? Mendadak mereka seperti kehabisan bahan pembicaraan. Mereka hanya berdiri di sana, di sebuah lorong menuju ruang utama, tanpa mengatakan sepatah kata pun. Seakan-akan membiarkan tamu berdiri dengan perasaan canggung adalah hal yang biasa bagi mereka. Hinata diam. Neji diam. Hanabi diam. Dua pria kembar itu juga diam.
Naruto melirik ke belakang untuk melihat Sakura. Siapa tahu saja gadis itu bisa mencairkan suasana. Dia gadis yang cerewet, bukan? Tapi… Ya, Tuhan… bahkan Sakura juga telah tertular virus diam. Bagaimana dengan Sasuke? Tidak! Hanya orang bodoh yang akan berharap pada Sasuke di situasi seperti ini. Naruto tidak dapat membayangkan Sasuke mencairkan situasi canggung ini dengan tiba-tiba membahas tentang pakaian yang sedang diskon besar-besaran di majalah fashion langganan Lee atau membahas tentang kehebatan buah tomat dengan antusias—buah yang sangat dipujanya. Itu tidak mungkin terjadi!
Untunglah Hanabi—gadis kecil yang berdiri di dekat Neji—memecah kesunyian. Ingin rasanya Naruto memeluk gadis itu karena merasa diselamatkan. "Ayah, Hinata punya pacar," ujarnya dengan wajah polos tak berdosa.
Pada detik itu juga suasana tiba-tiba berubah heboh. Para Hyuga yang tadinya berwajah tenang mendadak menegang dan terlihat menakutkan di mata Naruto.
"APA?!" pria baju biru melotot.
"PACAR?!" pria baju hijau ikut melotot.
"SIAPA?!" Bahkan Neji juga sampai melotot dibuatnya.
"SIAPA ORANGNYA?!"
"KATAKAN PADA KAMI!"
"SEJAK KAPAN?!"
"TINGGAL DI MANA ORANG ITU?!"
"BAGAIMANA KEPRIBADIANNYA?!"
"DARI KELUARGA MANA LELAKI ITU?!"
Berbagai pertanyaan terus bermunculan. Semakin jauh mereka bertanya maka semakin paniklah mereka. Naruto melihat ketiga lelaki cool itu—atau lebih tepatnya, ketiga lelaki yang tadinya 'cool', sedang mondar mandir gelisah. Sesekali mereka tampak berkumpul untuk membahas sesuatu kemudian kembali berhamburan.
Sepertinya… aku adalah tamu yang tidak ada harganya di mata mereka, pikir Naruto pasrah.
Hinata panik. Dia berusaha menenangkan ketiga anggota keluarganya itu. "A-ayah, Paman, kak Neji, tenang—"
Belum selesai dia berbicara, pria baju biru segera menariknya agar berdiri di belakang pria itu. Sedangkan pria baju hijau—Hyuga Hizashi—dan Neji maju satu langkah untuk membentuk posisi bertahan.
"SIAPAPUN LELAKI ITU, KAMI TIDAK AKAN MENYERAHKAN HINATA, PERMATA KAMI YANG BERHARGA!" teriak ketiga lelaki itu kompak sambil memasang pose siap menyerang.
"…"
Krik. Krik. Krik.
Naruto… Sasuke… dua lelaki itu tidak sanggup menahan mulut mereka agar tetap tertutup rapat. Dengan ekspresi kaget yang teramat sangat, Naruto dan Sasuke melihat ayah Hinata, pamannya, serta kakak sepupunya satu per satu. Naruto tahu ini bukanlah saatnya bercanda, namun… melihat ketiga lelaki bertampang serius itu tiba-tiba merubah kepribadian mereka, Naruto merasa seperti sedang berhadapan dengan power rangers ala Konoha. Biasanya, power rangers yang ia lihat di tivi mengenakan seragam ketat. Tapi, untuk pertama kalinya, dia melihat tiga power rangers mengenakan baju tradisional Jepang. Baju tradisional Jepang! Boleh Naruto tertawa sekarang?
Sedangkan Sakura, dilihat dari tampangnya yang tidak begitu terkejut, sepertinya itu bukanlah hal yang baru baginya.
"Heh!" Hanabi tersenyum. Sebuah senyum kemenangan. "Naru-onii-chan, lihat? Tidak mudah mendapatkan Hinata. Siapapun yang berniat jadi pacar Hinata, dia harus menghadapi ayahku, paman, serta kakak sepupuku. Kau berani?"
Naruto mengerutkan dahinya. Naru-onii-chan? Apakah julukan itu ditujukan padanya? Dan tunggu dulu! Apa anak kecil ini sedang menantangnya?! Lancang sekali!
"Hanabi! Di mana sopan santunmu?!" bentak pria baju biru—ayahnya.
Baiklah, daripada kita bingung membedakan si kembar Hyuga, ayah Hinata dan Hanabi bernama Hyuga Hiashi, sedangkan ayah Neji bernama Hyuga Hizashi.
Betul sekali! Tunjukkan sopan santunmu padaku, Bocah! Naruto tersenyum angkuh dan menantang ke arah Hanabi.
"Sudah berapa kali ayah bilang, jika ingin bicara tentang Hinata kita, sebagai adik, kau harus memanggilnya 'Hinata-nee-sama'! Tunjukkan hormatmu pada kakakmu, bukannya pada orang asing!"
Heh?! 'Orang asing', huh? Lihat, siapa yang tidak sopan sekarang? Lagi-lagi Naruto merasa menjadi tamu yang paling tidak ada harganya. Bahkan—Naruto menduga—bisa saja harga kacang rebus lebih berharga dibandingkan dirinya.
"A-ayah… he-hentikan," bisik Hinata setelah sekian lama terdiam.
"Jadi, siapa pacar Hinata, Nak? Katakan pada paman Hizashi," pinta Hizashi agak melunak.
"Mmm…" Hanabi berpikir—atau jangan-jangan pura-pura berpikir?
Entah mengapa, Naruto merasa gelisah seiring Hanabi menggantungkan kalimatnya. Instingnya menyuruhnya untuk lari. Tapi dia tidak mungkin melakukannya, bukan? Apalagi dengan insting yang belum terbukti benar.
Bocah itu masih dengan wajah polos tak berdosanya. Namun, sedetik kemudian berubah drastis menjadi wajah penuh muslihat licik ketika melirik ke Naruto.
Naruto menegang. Bocah iblis!
"Menurut Paman, siapa di antara mereka yang paling cocok menjadi tersangka?" tanya Hanabi.
Segera, Hizashi, Hiashi, dan Neji melihat ke arah para tamu. Pertama ke Sakura. Seorang gadis? Tidak mungkin. Lalu ke Sasuke. Lelaki dingin yang sejak tadi tidak menunjukkan ketertarikan sedikit pun? Tidak mungkin. Terakhir… Naruto. Seorang lelaki dengan setumpuk bunga Lily di tangannya dan sejak tadi terlihat gugup? Sangat… sangat mungkin! Mereka pun langsung menatap curiga ke Naruto.
Deg. Deg. Deg. Jantung Naruto serasa ingin melompat keluar dari sarangnya. Tuhan, aku masih sayang jantungku!
Meski sangat singkat, Naruto berhasil melihat seringai licik Hanabi. Bocah iblis! Aku tidak percaya dia adik Hinata!
"Kau," mulai Neji, "siapa sebenarnya?"
"U-uzumaki Naruto?"
"Aku tidak tanya namamu."
"Siswa kelas sebelas B?"
"Aku tidak tanya kelasmu."
"Pe-pecinta ramen?"
"Aku bahkan tidak mau tahu makanan kesukaanmu!" Neji mulai frustasi.
"Ka-kak Neji, jangan salahkan Naruto. Dia hanya teman sekolahku," bela Hinata.
Naruto mengangguk cepat, membenarkan pengakuan gadis itu.
"Lalu, untuk siapa bunga itu?" Kali ini Hiashi yang bertanya.
"Eh?! I-ini? Eto… mmm…"
Demi saos tartar! Naruto tidak pernah mengira kunjungan yang seharusnya berlangsung biasa-biasa saja akan menjadi heboh seperti sekarang. Baru juga beberapa langkah memasuki kediaman Hyuga, dia langsung dihadang oleh tiga power rangers berpakaian tradisional.
Di sisi lain, Sakura yang sejak tadi berdiri di sebelah Sasuke, mulai merasa kasihan pada Naruto. Dia juga tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Semalam, saat Hinata menelponnya dan memintanya untuk libur sehari dari toko kue, Hinata tidak mengatakan alasannya. Hinata hanya meminta Sakura datang ke rumah dan menemaninya. Setelah melihat kedatangan Naruto, barulah Sakura mengerti kenapa Hinata ngotot melarangnya bekerja di hari Minggu.
"Kau tidak ingin membantunya?" tanya Sakura pada Sasuke.
"Kenapa aku harus membantunya? Sejak awal aku memang tidak berniat ke sini."
Naruto yang malang. Kenapa kau harus memiliki sahabat tidak berguna seperti ini?
"Tapi, aku akan sangat berterima kasih jika kau bersedia membantunya," ujar Sasuke dan tersenyum tipis.
Deg!
Sakura memalingkan wajahnya kembali ke depan. "Aku tidak punya kewajiban melakukannya."
"Aku tahu. Aku ingin kau melakukannya secara sukarela."
Sakura tersentak namun segera kembali bersikap tenang. Aku ingin? Apakah itu sebuah perintah yang dipoles kata-kata halus? Buruk! Sangat buruk! Karena… jauh di lubuk hatinya, Sakura merasakan dorongan untuk melaksanakan perintah itu.
"Maaf, Tuan Uchiha," Sakura menatap tajam ke Sasuke, "Kau sedang berada di wilayah orang. Jadi, kau tidak punya hak memberiku perintah."
Sekali lagi, Sasuke menyunggingkan senyum tipis. Sakura menyebutnya senyum angkuh ala Uchiha. "Berarti, jika aku berada di wilayahku sendiri, aku memiliki hak itu?"
Sakura mendelik kesal. Dia pun memilih diam dan melihat ke depan. Dia bisa mendengar lelaki itu tertawa di sebelahnya. Cih! Menyebalkan!
Kembali ke Naruto.
"Bu-bunga ini… u-untuk…" Sebuah ide langsung terlintas di pikirannya. Haruskah dia kembali berbohong dengan mengatakan, bunga ini untuk nenek temanku, Om! Om kenal dengan Kiba?! Aku akrab dengan neneknya lho! Aku ingin memberinya bunga ini gitu lho!
Tidak, tidak, tidak. Naruto menepis pikirannya jauh-jauh. Dia tidak ingin menjadikan nenek misterius sebagai alasan. Bagaimanapun juga, dia sangat menghormati orangtua.
"Bunga ini untuk Sakura!" ungkap Naruto namun segera mengerutkan dahinya karena tidak percaya dengan ucapannya sendiri. "Ma-maksudku, aku tahu Sakura akan datang ke sini. Jadi, aku sengaja membelikan bunga untuknya."
Hening.
Beruntung Sakura tidak sedang makan atau minum. Karena jika benar dia sedang mengunyah sesuatu sekarang, dapat dipastikan kunyahannya akan langsung terlempar dan mendarat di kepala kuning Naruto.
"EEEHHHHHHHHH?!"
.
.
.
"Hahahaha!" suara tawa menggelegar ke seluruh sisi ruangan. "Maaf karena sudah bersikap kasar padamu, Nak!"
"Benar sekali, Kak. Aku kira salah satu dari mereka pacar Hinata. Kau sudah salah paham, Hanabi. Hahahaha!"
"Cih!" Hanya itu respon yang diberikan Hanabi.
Neji tidak mengatakan apa-apa. Begitu juga dengan Naruto, Sasuke, Sakura, dan Hinata.
Saat ini, mereka tidak lagi berdiri di lorong, melainkan berada di sebuah ruang serba guna beralaskan tatami—tikar tradisional berbahan jerami. Ruangan itu disebut washitsu mengingat bangunannya di desain ala rumah tradisional Jepang. Mereka dapat melihat pemandangan taman melalui pintu geser yang terbuka lebar. Taman luas yang ditumbuhi pepohonan rindang lengkap dengan ornamen-ornamen yang telah menjadi ciri khas dari taman Jepang, seperti tanaman-tanaman perdu yang telah dibonsai, kolam ikan koi, miniatur pulau-pulau di tengah kolam, air yang mengalir di atas potongan bambu dan akan tertumpah ke kolam tiap kali bambu itu terisi penuh, susunan batu-batu, serta lonceng angin yang tergantung di sisi luar ruangan dan selalu berbunyi tiap kali tertiup angin.
Seharusnya pemandangan itu mampu membuat Naruto tenang—namun tidak! Dia bahkan harus tetap diam meskipun kedua kakinya kesemutan gara-gara sejak tadi terlipat ke belakang dan tertindis bokongnya.
Rumah Hinata adalah rumah tradisional. Secara otomatis, mereka juga harus bersikap tradisional, termasuk cara duduk. Semua orang yang ada di ruangan itu duduk dengan kaki terlipat ke belakang dan kedua tangan terkepal di atas paha. Namun, sepertinya hanya Narutolah yang paling tidak nyaman dengan posisi itu. Masing-masing di depan mereka terdapat segelas teh hijau yang telah disajikan oleh pelayan keluarga Hyuga. Demi saos tartar! Bahkan gelasnya saja terbuat dari bahan tradisional—membuat Naruto merasa seperti berada dalam upacara minum teh. Ini terlalu formal!
"Apakah kau akrab dengan Hinata, Nak Naruto?" tanya Hiashi.
"Bi-bisa dibilang begitu, Om."
"Pantas saja dia bisa jatuh cinta dengan Sakura. Hahahaha!" Hizashi menyahut.
Naruto bergidik ngeri. Bukan karena tawa Hizashi yang menggelegar namun karena merasakan aura membunuh sedang mencoba menusuk-nusuk kulitnya dari arah kanan. Naruto tahu tidak mungkin Sasuke yang memancarkan aura menakutkan itu—meskipun Sasuke duduk di sebelahnya. Ia lalu mencuri pandang ke gadis di sebelah Sasuke—Hinata. Sepertinya tidak mungkin juga. Kemudian berlanjut ke sosok terakhir yang duduk paling ujung… Sakura!
Deg!
Tidak perlu diragukan lagi. Aura membunuh itu berasal dari gadis tomboi itu. Wajah Sakura tetap terlihat tenang namun ketika Naruto melirik ke bawah, Naruto mendapati tangan gadis itu sedang meremas keras tangkai-tangkai Lily pemberiannya.
Naruto menelan dengan susah payah. Dia pun membayangkan tangkai-tangkai itu adalah lehernya. Iiiihhh… Naruto segera melihat ke depan. Tidak! Dia tidak boleh mati di sini!
"Sebagai lelaki, kau harus berani menghadapi gadis yang kau sukai, Nak. Kita adalah makhluk yang ditakdirkan untuk menjadi agresif. Kita, para lelaki, tidak mengenal kata malu jika itu tentang perempuan," ujar Hiashi dengan gaya bijak.
"Maksudmu seperti saat kau diam-diam memasukkan surat cinta ke tas ibu Hinata? Ketika ketahuan kau langsung berteriak histeris dan pura-pura lupa ingatan lalu pingsan?" ujar Hizashi mengingatkan.
Tpak!
Hiashi langsung menampar jidat kakaknya dengan ganas. "Tidak seharusnya kau mengatakan hal itu di depan anak-anak, Kak!"
Hizashi balas menampar jidat Hiashi. "Berani sekali kau, Dik!"
"Kak Neji, haruskah kita menghentikan mereka?" bisik Hanabi.
"Abaikan saja."
Semua tetap bersikap biasa, kecuali Naruto dan Sasuke. Apakah melihat dua pria tua saling menampar jidat dan mengejek akan membuat kalian merasa biasa-biasa saja?! Oh, maaf saja karena hal itu tidak berlaku pada Naruto dan Sasuke. Apalagi, kedua pemuda itu memiliki kesamaan, yaitu kedua orangtua mereka telah meninggal dunia sejak mereka masih kecil. Mungkin Sasuke masih bisa dibilang beruntung karena masih memiliki seorang kakak yang menyayanginya. Sedangkan Naruto… dia adalah anak tunggal. Oleh karena itu, sejak kecil Naruto tinggal bersama Jiraiya—seorang penulis terkenal. Meski tidak memiliki hubungan darah, Naruto tetap menerima banyak cinta dari Jiraiya.
Tiba-tiba saja Hizashi dan Hiashi berdiri. Hizashi mendekati Naruto, Hiashi mendekati Sakura, dan segera menarik mereka.
"Ayo, jangan malu-malu, Nak. Ungkapkan secara langsung perasaanmu." Hizashi memegang kedua bahu Naruto dari belakang.
"Dan kau, Sakura, harus mendengarnya secara langsung." Hiashi melakukan hal yang sama pada Sakura.
"EH?!" Naruto dan Sakura panik.
Kenapa malah jadi seperti ini?! Ingin rasanya Naruto berteriak.
Hizashi dan Hiashi tetap mendesaknya dan membuat Naruto terpaksa berdiri tepat di depan Sakura. Jarak mereka terlalu dekat. Mungkin hanya beberapa senti. Wajar saja jika keduanya mendadak malu dan canggung.
"Pa—paman Hiashi—"
"Sudah. Dengarkan saja, Sakura," potong Hiashi.
"Mmm… eto… Sa-sakura…" mulai Naruto, "A-aku ingin ke Ichiraku Ramen. Ma-maukah kau menemaniku ke sana? Te-tenang saja! Aku yang traktir."
"Oi, Nak. Kau sedang menyatakan cinta atau sedang mempromosikan warung langgananmu?" tegur Hizashi.
"Ta-tapi, Om…"
Demi saos tartar! Naruto ingin menangis akibat ulah si Kembar Hyuga ini. Kenapa Hinata tidak memberi peringatan jauh sebelum Naruto datang ke rumah ini? Misalnya saja seperti, hati-hati, ya. Soalnya, di rumahku ada dua makhluk pemakan manusia. Aku hanya tidak ingin kau sampai salah paham, Naruto (?!)
"Sudahlah, Kak. Setidaknya bocah ini sudah berani mengajaknya kencan," bela Hiashi kemudian membuat tangan Naruto dan Sakura saling bertautan.
Dengan sangat terpaksa dan malu, Naruto tetap memegang tangan Sakura.
Hizashi dan Hiashi bersorak gembira. Mereka telah salah mengartikan wajah merah Sakura dan Naruto. Mereka pikir itu adalah wajah remaja yang sedang dimabuk cinta.
Semua terlihat baik-baik saja—setidaknya, itulah yang Hizashi dan Hiashi kira. Mereka tidak menyadari bahwa ada dua orang yang tidak senang dengan pertunjukan itu—orang yang sejak tadi berdiam diri dan kini terlihat sangat dingin. Sasuke dan Hinata.
Hinata mengambil teh di depannya lalu meminumnya dengan tenang. Meski begitu, Sasuke dapat melihat cairan teh dalam gelas itu bergetar akibat getaran dari tubuh gadis di sebelahnya. Bagaimanapun juga, dialah yang telah menerima surat cinta Hinata, bukan Naruto. Tentu saja dia tahu bahwa gadis itu sedang cemburu.
Ya, Sasuke dapat mengerti alasan di balik kecemburuan Hinata. Yang tidak Sasuke mengerti adalah, mengapa dadanya terasa sesak melihat Sakura dipegang oleh lelaki lain? Mengapa dia sangat ingin menghajar Naruto? Tentu saja sebelumnya dia sudah pernah—terlalu sering malahan—menghajar Naruto. Semua itu selalu dilandasi oleh alasan yang jelas. Tapi, untuk kali ini, Sasuke tidak tahu apa alasannya. Yang dia tahu hanyalah, jika Naruto tidak segera melepaskan tangan Sakura, dia benar-benar akan menghajar sahabatnya.
Hampir saja Sasuke bersuara jika tidak segera didahului oleh Hinata. "Hentikan! Tidakkah ayah dan paman merasa malu? Kalian benar-benar seperti anak kecil! Dan untuk kau, Naruto. Lepaskan tangan Sakura!"
Hening.
Tentu saja tidak ada yang mengira akan melihat Hinata sangat marah. Siapapun pasti tidak pernah menyangka hal itu akan terjadi. Sakura segera melepaskan diri dari pegangan Naruto.
"Ada apa, Nak Hinata?" tanya Hizashi.
"Maaf, Paman. Aku hanya ingin meluangkan waktu dengan teman-temanku."
"Baiklah. Silahkan kalian bersenang-senang," sahut Hiashi. Meski tidak mengerti, dia tahu anaknya sedang mengusir mereka secara halus.
Hizashi dan Hiashi pun bergegas meninggalkan ruangan, diikuti oleh Neji dan Hanabi.
Hinata kembali meminum tehnya dengan sikap anggun, masih dengan Sasuke yang duduk di sebelahnya, serta Naruto dan Sakura yang berdiri di depannya.
"Kenapa kalian tidak duduk?" tanya Hinata kemudian tersenyum.
Dengan kikuk, Naruto kembali ke tempat duduknya. Begitu juga dengan Sakura.
"Silahkan minum teh kalian. Mumpung masih hangat."
"Hinata, ini tidak seperti yang kau pikirkan," tegas Sakura. "Kau lihat sendiri situasinya, kan? Kami terpaksa."
"Oh, tentu saja aku tahu, Sakura. Silahkan minum tehmu. Tidak perlu malu."
Sakura mendengus kesal. "Aku serius, Hinata! Kau tidak perlu bersikap seperti ini! Semua hanya rekayasa!"
"Eh?" Hinata memasang ekspresi bingung yang dibuat-buat. "Bukankah aku sudah bilang aku tahu, Sakura? Kau tidak mendengarku?"
"Maaf. Aku tidak menyangka situasinya akan seperti ini," sahut Naruto.
"Oh, tentu saja, Naruto. Karena kau tidak tahu apa-apa," sindir Sakura. Tidak tahu betapa Hinata menyukai dirinya, tidak tahu bahwa bunga yang ia berikan ke Sakura telah menyakiti hati Hinata, tidak tahu bahwa ajakan palsunya telah membuat hubungan Sakura dan Hinata memburuk. Yah, Naruto tidak tahu apapun!
"Aku benar-benar minta maaf. Bunga itu seharusnya untukmu, Hinata. Tapi keluargamu membuatku ketakutan. Yah, aku tahu. Aku telah bersikap seperti pengecut, bukan? Tapi tetap saja, aku benar-benar tidak siap berhadapan dengan mereka."
Hinata terdiam cukup lama. Dia sadar dialah yang salah di sini. Tentu saja dia tahu tidak ada apa-apa di antara Naruto dan Sakura. Hanya saja, emosi sesaat yang dia rasakan tadi benar-benar membuatnya tidak berdaya. Jauh di lubuk hatinya dia mengerti semuanya. Namun, rasa cemburu yang menjangkiti hatinya benar-benar kuat. Terlalu kuat untuk bisa dia kendalikan.
"Aku minta maaf," ujar Hinata. "Aku serius. Aku benar-benar minta maaf."
Sakura tersenyum. "Lupakan saja," ujarnya pura-pura marah.
Hinata tertawa.
"Kau pasti kaget dengan tingkah laku keluargaku, kan, Naruto?"
"Tentu saja! Aku hampir jantungan dibuatnya!"
"Aku bahkan curiga jangan-jangan kau kencing celana," ejek Sasuke yang langsung mendapat pukulan di perut oleh Naruto.
Hinata tertawa lagi.
"Kau tahu… keluargamu sangat… emm… unik."
"Mereka seperti itu gara-gara tubuhku sangat lemah. Adikku—Hanabi, meski muda lima tahun, dia lebih kuat dariku. Aku bahkan sering dibuat nangis oleh ulahnya. Hahaha…"
Pantas saja… Dia memang bocah iblis, pikir Naruto.
Hebat. Suasana yang tadinya sempat menegang kini benar-benar telah terlupakan. Pembicaraan mereka pun terus berlanjut ke berbagai hal. Sakura menganggap situasi itu adalah kesempatan untuk Hinata agar bisa lebih dekat dengan Naruto. Segera, dia menarik Sasuke.
"Apa?" tanya Sasuke masih dengan gaya khasnya—datar.
"Kau pasti belum melihat taman keluarga Hyuga, kan? Mereka memiliki taman yang sangat indah. Aku yakin orang sedingin dirimu pun pasti akan meleleh melihat pesonanya."
Ketika Sasuke tak kunjung bergerak, Sakura menariknya dengan paksa. Jika perlu Sakura akan menyeret lelaki itu demi Hinata.
"Kalian mau ke mana?" tanya Naruto.
"Taman," jawab Sakura.
"Benarkah? Aku juga ingin ik—"
"Tidak! Kau tidak boleh ikut!" tegas Sakura.
"Kenapa?"
"Kau tidak perlu tahu. Pokoknya tidak boleh!"
"Mmmm…" mata Naruto menyipit, senyumnya melebar—ekspresi yang sangat Sakura benci, "ingin melakukan sesuatu yang hanya boleh dilakukan orang dewasa, ya?"
Tuhan! Apa yang si bodoh ini pikirkan?! Sakura syok. Tapi dia tetap bersikap tenang. "Bukan urusanmu, Naruto." Setelah itu, ia menarik Sasuke dan pergi.
.
.
.
Benar saja, Sasuke terpesona melihat pemandangan hijau di depan matanya. Pepohonan yang rindang… bunga-bunga yang bermekaran… patung kura-kura yang berada di tengah salah satu kolam… suara gemericik air yang mengalir… sungguh pemandangan alam yang sangat indah dan menenangkan.
"Aku benar, kan? Kau terpesona."
"Baiklah. Kau menang. Butuh hadiah dariku?"
"Tidak. Terima kasih."
Mereka kembali melangkah. Sasuke mengikuti Sakura menuju ke sebuah kolam yang lebih besar. Di atas kolam itu terdapat sebuah jembatan kayu dan memiliki bentuk melengkung ke bawah seperti lengkungan pelangi. Mereka menaiki jembatan itu. Ketika Sasuke melihat ke bawah, dia melihat ikan-ikan koi bertaburan di dalam kolam.
Sakura tetap melangkah menuju ke sisi lain kolam. Di sana telah berdiri sebuah gazebo, tempat peristirahatan bagi siapapun yang ingin menikmati pemandangan kolam. Sakura duduk di sana, sedangkan Sasuke tetap berada di tengah jembatan memperhatikan ikan koi.
"Boleh aku memakannya?" Sasuke memasang wajah polos.
"Kau gila?!"
Dan, pangeran itu hanya tertawa.
"Dari mana Naruto tahu rumah Hinata?"
"Entahlah. Aku bahkan tidak tahu dia akan ke sini."
"Aku tidak menyangka hubungan mereka akan dekat itu."
Sasuke hanya mengangkat bahu.
"Apa Naruto… suka dengan Hinata? Ini sangat penting. Kau tahu sendiri, kan, Hinata suka pada temanmu itu."
"Apa aku terlihat seperti orang yang cocok dijadikan tempat curhat?" balas Sasuke.
"Oh, ayolah. Setidaknya beri aku sedikit petunjuk. Kau akrab dengannya, kan? Kau pasti tahu sesuatu."
Sasuke tersenyum. "Maaf, Sayang. Bukan Naruto yang tidak pernah mengatakan sesuatu padaku. Akulah yang menolak mendengarnya."
Sakura menggeretakkan gigi. Ingin rasanya menceburkan lelaki itu ke kolam—tunggu! Menceburkan ke kolam? Hei, itu bukanlah ide yang buruk.
Sakura kembali menaiki jembatan. Tanpa mengatakan apa-apa, dia langsung mendorong Sasuke. Dia sempat melihat ekspresi kaget lelaki itu sebelum akhirnya tercebur ke dalam air.
CBUR!
Itu adalah pembalasan Sakura. Pembalasan untuk rasa jengkel yang selama ini dia rasakan. Pembalasan untuk… sepatunya tersayang. Sasuke tidak berpikir Sakura telah melupakannya, bukan? Sakura tertawa penuh kemenangan. Lelaki itu pantas mendapatkannya.
"Bagaimana rasanya, Sasuke? Hahaha…. Bagaimana rasanya mandi dengan ikan koi? Kau menyukainya? Hahahaha…."
Sakura kembali ke gazebo. Ia membutuhkan tempat yang nyaman untuk menyaksikan pertunjukan itu.
Sasuke bergerak-gerak gelisah dalam air. Kadang mengapung, kadang tenggelam. Kembali mengapung kemudian kembali tenggelam. "Berhenti bermain-main, Sasuke." Sakura mulai gelisah. "Kau tidak berniat berendam lebih lama di sana bersama ikan koi, kan?" Sasuke tetap mengapung lalu tenggelam. "Jangan bermain-main, Sasuke! Segera kembali ke sini!"
Sasuke tenggelam. Setelah itu, tidak muncul lagi. Tuhan! Sasuke tidak bisa berenang?! Kolam itu memang cukup dalam. "SASUKE?!"
Tuhan, jika Sasuke mati gara-gara dia, fans-fans Sasuke akan menghantuinya. Mungkin roh Sasuke tidak akan mendapat kesempatan menghantui Sakura gara-gara Sakura harus menerima teror yang sangat banyak dari Sasu Lovers—begitulah mereka menamakan perkumpulan mereka.
Sakura segera menceburkan diri ke kolam. Bagaimanapun juga, dia tidak ingin menjalani sisa hidupnya dengan perasaan bersalah. Aku mau makan… kuingat kamu. Aku mau mandi... kuingat kamu. Aku mau tidur… juga ingat kamu. Oh, saos tartar… inikah rasanya bila kumerasa bersalah…? Sakura menepis pikirannya. Ini bukan saatnya bercanda. Dia harus mengeluarkan Sasuke dari kolam.
Sakura berenang ke tengah namun tak kunjung menemukan tubuh Sasuke. Dia pun panik. Mendadak lagu Duo Maiiya kembali terngiang. Aku mau makan… kuingat kamu. Aku mau mandi—tidak! Serius, Sakura! Segera temukan, Sasuke!
"Sasuke! Jangan membuatku takut! Ini tidak lucu!" Sakura menggerak-gerakkan tangan dalam air.
Aku mau makan… kuingat kamu. Aku mau mandi… kuingat kamu. Aku mau—"Akh!" Sakura menjerit. Bukan karena lagu milik Duo Maiiya namun karena seseorang memeluknya dari belakang. Siapa lagi kalau bukan Sasuke.
"Kau bisa berenang?" tanya Sakura di sela rasa paniknya.
"Tentu saja. Kau menghinaku jika kau benar-benar percaya aku tidak bisa berenang."
"Dan bodohnya aku percaya!" bentak Sakura—lebih ke dirinya sendiri. "Sekarang lepaskan aku. Lagian kau tidak butuh bantuanku."
"Aku tidak butuh bantuanmu. Tapi aku harus membalasmu."
"Apa maksu—akh!"
Sasuke memutar tubuh Sakura dan membuat punggung gadis itu bersandar di sisi batu besar yang berada di tengah kolam. Sasuke memegang kedua paha Sakura yang berada dalam air. Kemudian membukanya lebar-lebar sehingga dia berada di antaranya. Sakura tersentak dan secara otomatis satu tangannya berada di bahu Sasuke untuk bertopang, sedangkan tangan lainnya berada di dada Sasuke untuk mencegah lelaki itu lebih dekat lagi.
"Kau benar-benar membuatku marah, Sakura."
Haruskah Sakura percaya itu? Dengan wajah yang menyunggingkan senyum nakal? Seperti itukah wajah marah seorang Uchiha Sasuke?!
"Lepaskan aku, Sasuke!"
"Tapi aku belum memberimu hukuman, Sayang. Haruskah aku melakukannya dengan cepat namun kasar? Atau dengan lambat namun lembut? Yang mana lebih kau suka?"
Cepat namun kasar? Lambat namun lembut? Apa maksudnya? Sasuke tidak sedang memancingnya, kan? Sakura menegaskan pada dirinya sendiri, dia tidak boleh termakan umpan itu. Dia tahu Sasuke hanya ingin mempermainkan perasaannya. Oleh karena itu, sampai mati pun, Sakura tidak akan terpancing—Oh, baiklah! Sakura menyerah. Dia kalah. Dia terpancing. Pikirannya benar-benar telah dipenuhi oleh adegan *piiiiiiip* dan *piiiiiiip* lalu *piiiiiip* kemudian *piiiiiiip*
"Menjauh dariku, Sasuke!"
"Apa kau tahu, Sakura, wajahmu sangat merah. Apa yang kau pikirkan? Kau tidak sedang berpikir jorok, kan?" ejek Sasuke.
Sakura panik dan segera memberontak dengan memukul-mukul dada Sasuke namun tidak menghasilkan perubahan yang berarti. Lelaki itu menatapnya. Tatapannya… sangat lapar. Dengan otot-otot yang terekspos akibat baju yang basah, butir-butir air yang menetes dari ujung-ujung rambutnya yang basah, kulit yang semakin berkilau di tengah kolam yang memancarkan pantulan sinar matahari, bibir yang memerah…. Satu kata untuk lelaki itu. Seksi. Maka bohong jika Sakura tidak terpesona. Hanya saja harga diri gadis itu terlalu tinggi untuk mau mengakuinya, bahkan pada dirinya sendiri.
Ketika Sakura tetap memberontak, Sasuke segera menyilangkan kedua tangan gadis itu di atas kepala kemudian menahannya dengan satu tangan. Dia pun mendekat. Tubuh mereka kembali bersentuhan. Dadanya menindih dada Sakura, membuat punggung gadis itu semakin rapat ke batu. Napas Sakura tak beraturan. Kadang cepat, kadang lambat.
Sasuke mengangkat tubuh Sakura dengan satu tangan yang masih menempel erat di paha gadis itu.
"Akh!" jerit Sakura.
Kini mata mereka sejajar.
Dengan tubuh yang sama basahnya, rambut yang menempel di pipi dan lehernya, kemeja yang terbuka beberapa kancingnya, dada yang tidak bisa dibilang kecil… Sakura juga sama seksinya. Dan bohong jika Sasuke tidak tergoda. Bagaimanapun juga, dia adalah lelaki normal.
Dengan perlahan Sasuke mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura. Ketika bibir mereka hampir bersentuhan, Sakura segera memalingkan wajah.
Itu bagaikan tamparan bagi Sasuke karena selama ini tidak ada satu pun gadis yang pernah menolak ciuman darinya. Bahkan banyak gadis di luar sana yang mati-matian mengincar ciumannya, mulai dari pura-pura tersandung lalu terjatuh dalam pelukannya hingga pura-pura tenggelam dengan harapan akan diberi napas buatan. Dan sekarang, di saat Sakura hampir saja diberi keistimewaan itu, dia berani menolak Sasuke?
Sasuke melepas tangan Sakura namun segera memegang rahang gadis itu. Dengan sedikit kasar, dia menarik wajah Sakura agar kembali menghadap ke arahnya. Tatapan mereka terkunci, napas mereka memburu, dada mereka saling menggesek.
Sekali lagi, Sasuke mendekatkan bibirnya ke bibir Sakura. Kali ini dia tidak mendapat perlawanan.
Bibir mereka semakin dekat.
Semakin dekat.
Dekat.
Dan….
.
.
.
To be continue…
Oh, saos tartar... Gimana? Gimana? Aneh, gak? Sama seperti biasa, saya harap fic ini dapat menghibur, and, terima kasih sebelumnya buat yang selalu ikutin perkembangan fic ini. Makasiiiiiiiiiiiiiiiih banget #bungkuk 90 derajat.
Salam persahabatan,
Zero :)
