*Namjoon side*
Seorang namja dengan pakaian yang dibilang sangat stylish sedang menjelajahi mal sendirian, tadi ia ditemani kedua sahabatnya tapi setelah selesai makan kedua sahabatnya itu kabur, Hoseok pergi karena ada latihan dengan beberapa traine dance yang baru sementara Jimin pergi untuk bertemu dengan teman kencan terbarunya yang ia dapat dari jejaring sosial, mereka membiarkan Namjoon kini sendirian menyusuri sudut mal tersebut, ia kemudian memutuskan untuk mencari sekalian mencari keperluannya.
Saat melintasi sebuah toko mainan di salah satu sudut mal, namjoon melihat sebuah boneka beruang besar yang terpajang cantik didalam toko. Ia jadi teringat akan adik perempuannya yang kini ada di Amerika bersama orang tuanya. Merasa bahwa tak lama lagi adik kecilnya juga akan datang ke Korea, ia pun memasuki toko tersebut dan langsung menuju rak boneka dimana berbagai macam bentuk boneka tersedia disana, ia memperhatikan keseluruhan sudut rak tersebut, melihat berbagaimacam bentuk boneka dari mulai boneka kesukaan adiknya beruang yang ada dalam berbagai bentuk dan ukuran, berbagai macam boneka binatang, oh dan juga tak ketinggalan beberbagai macam boneka dari karakter-karakter games dan serial kartun untuk anak-anak.
Namjoon menghentikan langkahnya tepat di depan jejeran boneka beruang yang ingin ia beli. Saat ia dengan asyik mencari sebuah boneka beruang mana yang kira-kira cocok dengan adik kesayangannya, tak jauh dari tempatnya berdiri seorang yeoja, tengah terlihat kesulitan untuk mengambil boneka karakter mario dari games mario bross yang sangat terkenal itu.
Namjoon yang melihat kesulitan yeoja itu kemudian menghampirinya dan hendak menolongnya untuk mengambilkan boneka yang dimaksud, sebelum sang yeoja berambut pirang itu sedikit terpeleset dan akan terjatuh, hingga Namjoon pun mempercepat langkahnya dan tangannya meraih pundak yeoja tersebut agar tidak terjatuh. Ia menatap yeoja yang kini ada di rengkuhanya yang masih menutup mata dengan seksama seolah mencari cela kejelekan di wajahnya, dan ia tak menemuka hal itu. Demi tuhan yeoja yang kini ada direngkuhannya ini adalah makhluk tercantik yang pernah ia lihat, selain eomma dan adiknya tentu saja.
'Cantik..'
"Gwaenchana ?" ucap Namjoon pada sosok dihadapannya kini.
.
.
Jin memandang siapa sosok yang telah memapah dirinya hingga pantatnya tidak jadi menyentuh lantai toko tersebut. Namja dengan suara besar itu masih tetap menatapnya dengan senyum ramah yang tak lepas dari bibirnya hingga menampilkan kedua dimple pada kedua pipinya.
'Tampan' hanya itu yang bisa Jin deskripsikan dari orang yang telah menolongnya itu, ia sedikit kecewa dengan kenyataan yang ditemuinya saat ini, well, ia juga lelaki sama seperti orang dihadapannya kini, tetapi kenapa namja didepannya ini memiliki aura berbeda dari dirinya, hingga tanpa sadar ia mengagumi sosok didepannya dan memujinya tampan.
Saat namja tersebut melepaskan tangan besarnya dari pundak Jin, ia tersadar dari lamunanya dari wajah sang penolong. Sontak ia lalu berterima kasih dan meminta maaf dengan sedikit membungkukkan badan.
"Ghamsahamnida.. Mianhae telah merepotkan" Jin membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat karena ia merasa tak enak sudah mengganggu kenyamanan namja didepannya kini.
"Ahh.. Cheonma.. kau ingin boneka di atas itu ?" Namjoon kemudian menunjuk boneka mario yang dari tadi ingin Jin raih, namun tidak kunjung mendapatkannya.
"N..Ne.." Jin menjawab lirih dan menatap boneka yang sangat diinginkannya itu, ia kaget melihat Namjoon yang tengah mengulurkan tangannya untuk meraih boneka tersebut.
Setelah Namjoon mendapatkan boneka tersebut ia kemudian menyerahkannya pada Jin yang masih memandanginya dengan heran.
"Ini.. " Namjoon menyerahkan boneka mario tersebut kepada Jin. Jin menerimanya dengan senyum yang amat manis untuk namjoon.
"Terima kasih.." Ujar Jin kemudian ia berlari menuju kasir, tanpa mengucapkan beberapa kata pada namja yang tadi sudah menolongnya mengambil boneka tersebut. Sudahlah toh ia sudah berterima kasih pikir Jin.
Namjoon juga dengan segera memilih boneka beruang pilihannya dan segera melesat ke arah kasir, saat di kasir ia memperhatikan Jin yang sedang mengantri untuk gilirannya menuju kasir. Ia memperhatikan Jin dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan namjoon baru menyadari jika gadis yang ditolongnya ini sangatlah mempesona, dari mulai rambut berwarna pirang sebahu yang sangat cocok dengan dirinya, bibirnya yang tebal dibagian bawah dan berwarna semerah ceri, hingga kakinya yang jenjang yang semakin menambah pesona yeoja itu, ditambah lagi ripped jeans dan sepatu converse high merah yang ia gunakan membuatnya semakin terlihat sexy. Dan tanpa sadar pesona yeoja tersebut telah menjerat Namjoon yang hingga kini masih menatapnya tanpa berkedip.
Saat tiba giliran Jin, ia terlihat kesulitan saat hendak melakukan pembayaran sepertinya uangnya kurang untuk membeli boneka tersebut, dan ia tidak membawa kartu kreditnya, karena semuanya dibawa oleh Yoongi, dalam dompetnya hanya ada beberapa lembar uang yang tidak akan cukup untuk membayar bonekanya.
Ia kemudian meminta ijin petugas kasir untuk menunda transaksinya sementara ia hendak menghubungi Yoongi agar datang kemari membawa kartu kreditnya, namun, tiba-tiba Namjoon menyela dan membayarkan boneka yang dibeli Jin juga dengan boneka yang ia beli, walaupun Jin sempat menolak dan bersikukuh untuk menelpone Yoongi.
"Maaf, saya akan menghubungi seseorang jadi tolong tunda dulu transaksi saya, sebentar.." ujar Jin pada kasir, saat mengetahui uang dalam dompetnya tidak akan cukup untuk membayar bonekanya.
"Baik, nona.." jawab petugas kasir tersebut sebelum Namjoon menyelanya.
"Tidak perlu, jadikan satu saja dengan ini" Namjoon menyerahkan boneka beruangnya pada kasir itu, dan petugas itupun mengerti dan segera memproses transaksinya.
"Tidak perlu, tuan, anda tidak perlu repot-repot saya akan membayarnya sendiri, akan saya hubungi teman saya sebentar" Jin tetap bersikukuh untuk menolak kebaikan Namjoon.
"Tidak apa-apa, kau akan menunggu antrian semakin panjang jika menunggu temanmu datang"
"Maka dari itu aku meminta untuk menunda transaksiku pada ka~.." belum sempat Jin menyelesaikan kata-katanya, ucapannya segera dipotong oleh Namjoon yang tetap memaksa untuk membayarkan boneka Jin.
"Sudahlah tidak apa-apa!" Namjoon kemudian membayar semua belanjaan Jin dan dirinya.
Jin hanya terdiam melihat Namjoon yang telah membayar bonekanya. Ia kemudian menyerahkan boneka mario milik Jin padanya.
"sekali lagi terima kasih, tuan" Ucap Jin pada Namjoon yang telah bersama-sama meninggalkan toko tersebut, Jin sambil memeluk boneka besar marionya sedangkan Namjoon membawa boneka beruang berwarna putih yang tadi ia beli.
"Sama-sama, umm, kau suka Mario?" tanyanya yang bersifat modus untuk mendekati Jin.
"Iya tuan, Mario itu game favorit ku"
"Ohh.. hmm jangan panggil aku dengan tuan, aku terlihat tua jika kau panggil seperti itu, namaku Namjoon..Kim Namjoon" ucap Namjoon sambil menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan Jin.
Jin dengan senang hati menerima jabatan tangan dari Namjoon sambil memperkenalkan dirinya juga. "Aku, Jin.. Kim Seokjin.."
"Hei.. marga kita sama..hahaha.."
"Iya ya.. haha.."
Mereka pun menghabiskan waktu menuju parkiran mal dengan saling mengobrol satu sama lain, hingga tidak sadar keduanya sudah sampai diparkiran mobil.
"Oh iya kenapa gadis cantik sepertimu jalan-jalan di mal sendirian begini..?"
'Hah.. gadis..?' Ujar Jin dalam hati, ia lupa jika kini dirinya seperti seeorang yeoja, 'Ya, tuhan' ia segera mencari alasan yang tepat agar tak mencurigai Namjoon jika dirinya ini sesungguhnya sama seperti dirinya yaitu seorang namja.
"umm, itu.. tadi habis belanja sama teman, tapi aku suruh duluan ke mobil karena aku ingin membeli ini" Jin kemudian menggoyang goyangkan boneka yang ia bawa dengan sangat imut, kelewat imut malahan, dan lihatlah Namjoon, oh jangan salah ia sudah meneguk air liurnya dengan kasar saat melihat Jin melakukan itu.
'Damn ! ia imut sekali' Namjoon sudah memantapkan hatinya untuk tidak melepaskan yeoja didepannya ini, ia ingin memilikinya hingga sebuah suara membuyarkan lamunan liar Namjoon.
"Jinnie noona, kau kemana saja ? aku menunggumu hampir setengah jam di mobil, aku hampir ketiduran kau tahu." Yoongi menghampiri kedua orang tersebut, dan mengernyit kaget melihat seseorang disamping Jin, 'Wah..wah tak kusangka pesona Jin hyung sudah menjerat seseorang...' ucap Yoongi dalam hati sambil memperhatikan Namjoon yang juga melihatnya dengan tatapan tidak suka.
"Mianhae Yoongie, aku tadi membeli boneka ini dulu, ayo kita pulang sekarang." Jin kemudian mengajak Yoongi untuk segera pergi dari tempat itu, ia tak mau jika harus bertemu dengan Namjoon untuk kedua kalinya, ia punya firasat jika rahasiannya akan terbongkar jika berdekatan dengan namja itu, dan tentu saja ia tidak mau rahasianya terbongkar bahkan sebelum ia debut.
"Terima kasih atas bonekanya Namjoon-shii, saya pamit pulang dulu."
"Ah.. Ne..sama-sama Jin-shii.."
Jin kemudian segera menarik Yoongi untuk meninggalkan tempat itu, dan meninggalkan Namjoon yang kini hanya berdiri mematung ditempat.
Saat sosok Jin dan Yoongi tak lagi terlihat, ia baru menyadari kebodohan yang ia lakukan. Ia lupa meminta nomor ponsel Jin. Oww.. dan sekarang ia kehilangan kesempatan untuk bertemu kembali dengan Yeoja itu.
"Dammit.. kenapa aku tadi tidak meminta nomor ponselnya.. dasar bodoh.."
Namjoon menyumpah serapahi dirinya sendiri atas kebodohan yang ia lakukan, kemudian melenggang pergi menuju tempat mobilnya berada. Namun walaupun melakukan kebodohan ia tetap tersenyum bahagia karena hari ini ia bertemu dengan seseorang yang mampu menggertarkan hatinya, tak masalah ia tak bisa mendapatkan nomor ponsel Jin kali ini, tapi lain kali ia pasti akan mendapatkannya karena ia percaya ia akan bertemu kembali dengan orang yang telah mencuri hatinya.
"Such a nice day.." mobil Namjoon kembali melaju menuju jalanan kota Seol.
.
.
.
*Di dalam mobil*
"Kita akan kemana ? Yoongie?" Ujar Jin yang duduk disebelah Yoongi yang mengemudi sambil memeluk erat bonekanya.
"Kita akan ke menemui sajangnim dulu hyung, untuk mengecek jadwal hyung beberapa hari kedepan hingga jadwal debut hyung, setelah itu hyung bisa pulang dan istirahat.."
"Umm.."
Jin melanjutkan kegiatannya memandang pemandangan dari kaca mobil, Yoongi sesekali melirik Jin yang terlihat melamun, entah melamunkan apa, ia juga masih penasaran dengan pria yang barusan keluar mal bersama Jin.
"Hyung, namja tadi itu siapa?" ujar Yoongi memecah keheningan diantara mereka.
"Dia hanya menolongku membayar boneka karena aku lupa kartu ku ada padamu dan aku tak membawa uang yang cukup untuk membayar." Jawab Jin singkat.
"Ooohh.. baik sekali.."
"Umm.." lagi-lagi Jin hanya menjawab dengan gumaman singkat.
"Kau kenapa hyung, Jatuh cinta padanya..? sepertinya ia tadi juga terpesona oleh mu, lagipula kalian serasi jika bersama.. haha.." Yoongi menggoda Jin yang kini wajahnya memerah karena malu.
"Jangan sembarangan Yoongie.. mana mungkin aku jatuh cinta pada namja yang baru kutemui, lagipula ia pasti akan menolak jika tahu aku yang sesungguhnya." Entah mengapa terkandung sedikit kesedihan dalam ucapan Jin, ia sadar dalam posisinya kali ini ia tidak boleh menyukai seseorang paling tidak hingga ia memutuskan untuk keluar dari dunia hiburan, yang pasti tidak mungkin ia lakukan karena itu adalah impiannya, sehingga kesempatan dirinya untuk menjalin hubungan dengan orang lain adalah tidak ada,ia juga tidak mau jika menjalin hubungan dengan meyembunyikan jati dirinya yang sesungguhnya.
Yoongi mengerti kegelisahan yang diderita oleh Jin, jika ia berada diposisinya ia pasti akan melakukan hal yang sama dengan Jin, yakni menutup diri. Bagaimanapun Jin, seperti membawa bom waktu yang siap meledak saat ini, makanya ia harus berhati-hati.
"Kau benar hyung, lebih baik fokus pada karirmu yang akan kau daki saja untuk saat ini, ini saran ku sebagai managermu hyung, dan jangan sungkan jika harus bercerita padaku"
Jin tersenyum mendengar penuturan Yoongi, Yoongi benar-benar seperti kakaknya walaupun dengan usia yang lebih muda darinya, tapi sikap dewasanya menenangkan Jin.
"Terima kasih Yoongie, tak perlu khawatir lagipula aku tak mungkin bertemu dengan dirinya lagi kan.."
"Kau benar hyung.."
Mereka pun melajukan mobil mereka menuju tujuan mereka.
.
.
.
*Gedung Big Entertainment_Kantor Heechul*
"Sajangnim, tuan muda dan Yoongi ingin bertemu"
"Suruh mereka masuk, Yuri-ah" Ujar Heechul yang terdengar dari telpon di meja sekertarisnya.
"Ne..sajangnim" Balas Yuri dan kemudian sambungan pun tertutup.
Yuri mengamati penampilan baru dari tuan muda putra sajangnimnya ini, ia benar-benar merasa kalah sebagai seorang wanita, bagaimana tidak jika Jin yang aslinya namja terlihat sangat mempesona layaknya seorang yeoja. 'tuan muda benar-benar mewarisi kecantikan sajangnim, bagaimana bisa aku kalah cantik dengan dirinya yang namja tulen' kira-kira seperti itulah jeritan hati Yuri yang melihat kecantikan Jin mmelebihi dirinya.
"Silahkan tuan muda, Yoongi, sajangnim menunggu didalam."
"terima kasih noona" balas Yoongi sementara itu Jin langsung melenggang memasuki ruangan ibunya tercinta, ia memang selalu terlihat cuek dengan sekertaris ibunya itu, menurutnya ia hanyalah namja gatel yang suka menggoda idol idol di sini. Yoongi kemudian mengikuti Jin dari belakang menuju ruang sajangnim.
"Eomma.." teriak Jin mengagetkan Heechul yang sedang memeriksa beberapa dokumen di mejanya.
"Aigoo kamchagya.. eoh.. Kyaaa! Uri Jinnie neomu neomu yeppo" Heechul berteriak histeris berlari menuju putra tercintanya yang berdiri lemas mendengarkan teriakan eommanya, ia sudah menduga reaksi eommanya akan seperti ini.
Yoongi yang memasuki ruangan dibuat kaget dengan respon sajangnimnya yang melihat penampilan baru sang anak, ia melihat sajangnimnya tak henti hentinya memeluk Jin dengan erat dan menggoyangkannya kekanan dan kekiri, ia seperti seseorang yang memenangkan lotre.
"Eomma sesak, lepaskan." Jin yang merasa pasokan udaranya berkurang akibat kelakuan sang eomma memaksa sang eomma untuk melepaskan pelukan eratnya.
"Omo mianhae.. habisnya kamu sangat cantik putriku.."
"Putra eomma.. aku ini putramu.."
"Sama saja kau kan tetap anakku apapun gendermu baby." Ujar Heechul sambil memegang dagu Jin dan menggoyangkannya kekanan dan kekiri, hingga kepala Jin bergoyang-goyang dengan imutnya.
"Terserah" Jin mendensah malas melihat kelakuan sang eomma yang dari dulu tidak pernah berubah, selalu seenaknya, ini pasti akibat dari appanya yang terlalu memanjakan eomma mereka.
Heechul kemudian mengambil ponselnya yang ada di meja dan menyuruh Yoongi untuk mengambil foto mereka berdua, ia ingin memamerkannya pada suaminya yang ada di China.
"Yoongi-ah cepat fotokan aku dengan Jinnie, aku mau pamer ke suami ku.." Ujar Heechul yang langsung menyodorkan ponselnya pada Yoongi.
Yoongi hanya bisa menerima pasrah apa yang diperintahkan oleh sajangnim nya ia tidak menyangka jika sajangnimnya sungguh sangatlah kekanak-kanakan.
"Ne"
"Senyum chagi, bilang kimchi.." ujar Heechul sambil berpose dengan kedua jari tangan kanannya membentuk huruf V, sementara itu Jin hanya memutar malas matanya melihat kelakuan sang eomma.
"Kimchiii~~"
Ckrek
Yoongi kemudian menegembalikan ponsel Heechul, Heechul menerima dengan senang ponselnya lalu dengan cepat mengirimkan foto tersebut kepada suaminya dengan hastag 'Our beautifull daughter'. Beberapa detik setelah foto tersebut terkirim ponsel Heechul berdering. Ia melihat siapa yang menelponenya dan sesuai dugaan suami tercintanya langsung menelpone dirinya. Ia tahu betul jika suami nya yang berada di Cina itu juga menyukai jika putra bontotnya yang sangat cantik itu berpenampilan layaknya yeoja. Dan sesuai dugaan putranya terlihat sangat cantik melebihi yeoja.
"Yeobosseo"
"Yak! Chullie kenapa kau tega sekali memamerkan foto anak kita yang menggemaskan eoh ?Aku jadi ingin ke Korea saat ini juga"
"Hihihi, memang itu yang ku inginkan"
"Chullie nappeun eoh ! awas saja kalau aku sudah di Korea"
"Hehehe"
"Appa.. aku tidak ingin adik" Jin berteriak tepat di telinga eomma saat mendengar pembicaraan kedua orang tuanya yang menjurus kearah yang akan menghasilkan seorang adik bagi Seokjin, hell, ia tak mau punya adik diusianya yang kini menginjak usia 24 tahun.
"Yak! Kim Seokjin jangan berteriak di telinga eomma." Heechul kemudian menjauhkan sedikit ponselnya dari telinga, karena telinganya kini berdengung akibat teriakan Jin yang menolak Heechul dan Hangeng memberikannya adik.
"Biarin weeeekk" Ujar Jin sambil menjulurkan lidahnya dan sedikit menggoyang goyangkan pinggulnya kekanan dan kekiri.
"Aigoo.. Hannie putrimu itu benar-benar menggemaskan."
"EOMMA~"
Hangeng hanya bisa tertawa mendengar candaan kedua orang yang sangat ia rindukan dari sebrang line telponenya, walaupun ia bersama kedua putra kembarnya tetap saja ia merindukan sosok Jin yang merupakan putra bungsunya itu.
"Hahaha.. baiklah Chullie aku ada meeting jadi sampai disini dulu, aku akan memberimu kabar kapan aku akan ke Korea."
"Ne, Yeobo Annyeong.."
"Ne"
Tuuut..Tuut...
Sambungan telpone dari sang ayah pun terputus, menyisakan Heechul yang masih tersenyum geje mengingat suara sang suami dan Jin yang mendesah kesal dengan kelakuan sang eomma dan appanya yang selalu seenaknya sendiri. Sementara itu Yoongi, bagaimana kabar Yoongi ? ia hanya duduk di sofa yang berada dalam ruangan Heechul sambil menunggu drama keluarga Kim selesai. Ia sudah cukup paham dengan kelakuan keluarga yang absurd ini, sudah cukup baginya mendengar cerita tentang keluarga sajangnimnya dari Jin dan melihat sendiri kelakuan sajangnimnya yang aneh bin ajaib.
Heechul kemudian mulai membicarakan tentang kegiatan Jin untuk beberapa hari lupa ia juga menanyakan apakah keperluan yang ia tulis sudah dibeli semuanya oleh mereka.
"Sudah kau beli semua barang yang ku berikan datarnya padamu Yoongi ?"
"Sudah, sajangnim."
"Bagus, ini Jadwal Jinnie untuk beberapa hari kedepan hingga debutnya, akan diadakan showcase untuk debut Jin agar masyarakat bisa langsung mengenal pribadi Jenny." Heechul kemudian menyerahkan beberapa lembar kertas kepada Yoongi, Yoongi kemudian menerimanya dan memasukkannya kedalam map yang ia bawa. Kemudian Yoongi teringat akan satu hal yang ia lupa sampaikan kepada sajangnimnya menyangkut Jin.
"Oh iya sajangnim, saya ingin mengusulkan agar Jin hyung mengikuti kelas table manner, karena caranya makan sangat buruk sekali."
Jin yang mendengar hal itu langsung mendeathglare Yoongi. Enak saja ia mengatai table mannernya buruk, walaupun kenyataannya memang iya sih hahaha..:D
"YAK! Aku tidak seburuk itu" Jin mencoba untuk menyangkal tuduhan Yoongi.
"Tidak buruk apanya hyung, kau selalu makan dengan rakus saat kita makan diluar, ingat hyung kau akan menjadi yeoja jadi perhatikan makanmu juga. Tadi juga bahkan sampai semua orang mengataimu monster loh."
Jin hendak menyangkal tuduhan dan bukti yang diajukan Yoongi, hingga sang hakim yaitu eommanya mengetukkan palu dan menyatakan dirinya bersalah dalam hal table manner.
"Jinnie, sudah berapa kali eomma bilang agar makan dengan benar, kau ini seperti anak kecil saja. Ya sudah yoongi aku tambahkan kelas manner dalam jadwal Jin, aku harap kau mengawasinya agar ia mematuhi jadwalnya."
"Ne sajangnim" Yoongi kemudian membuat huruf V dengan tangan kirinya agar menghentikan deathglare yang dilakukan oleh Jin padanya.
"oh aku hampir lupa, mulai besok kau harus memakai pakaian yang kau beli tadi Jinnie. Hmm.. untuk celana kau masih bisa memakainya dan beberapa kaus yang kau punya, oh.. kemeja-kemejamu juga masih bisa kau pakai asalkan tidak terlalu cowok banget okay.."
"ok" Jin pasrah dengan kedua iblis yang ada diruangan ini, terserah dirinya ini mau mereka apakan, ia sudah menduga bahwa dirinya akan berakhir dengan mengenaskan seperti ini.
'Selamat tinggal kehidupan lelaki ku'
'selamat tinggal kemanlyanku' Ujar Jin dalam hati dengan wajah yang sendu, sementara kedua orang yang berada di dalam ruangan itu tersenyum bahagia, terutama sang eomma yang tak henti-hentinya tersenyum.
.
.
.
Hari-hari berikutnya Jin lalui dengan kesibukan yang sangat padat, jadwalnya penuh dengan latihan vocal, latihan dance, tes vocal, fitting untuk kostum, dan juga kelas mannernya. Sebagai seorang idol tentu saja hal ini adalah hal yang biasa bahkan mungkin dirinya akan lebih sibuk jika sudah debut kelak. Semua hari-hari penuh dengan persiapan debut itu, Jin lalui dengan penuh semangat dan keyakinan jika dirinya pasti bisa, sepertinya ia sudah sedikit melupakan kekecewaannya atas rencana debutnya ini. Kini ia mulai menikmati apa yang ia kerjakan, ternyata benar apa kata appa nya jika ia akan menikmati hal ini kelak, dan ya.. kini jin menikmatinya, bahkan ia mulai terbiasa menggunakan pakaian yeoja dalam kesehariannya.
Dan ketika hari debut semakin mendekat, dan tibalah ia akan melakukan proses fitting baju panggungnya, ia kembali menghentakkan langkahnya menuju ruang kerja sang eomma dengan masih menggunakan baju panggung yang akan ia gunakan dalam single pertamanya.
BRUAKK !
"EOMMA!" Jin berteriak saat memasuki ruang kerja Heechul.
Heechul diruangannya hanya memandang putranya kaget dan sedikitt puas karena kostum keinginannya untuk putra cantiknya itu kenakan telah selesai dan kini Jin telah menggenakannya. Tapi sepertinya ia tak memperhatika wajah sang anak yang terlihat kesal karena ulahnya.
"Waw.. kau semakin cantik Jinnie" ucap Heechul melihat kostum anaknya yang terlihat mengemaskan dan menggoda di saat yang bersamaan. Bagaimana tidak jika kostum yang kini Jin kenakan berupa rok mini yang menggembung karena terdapat petikot besar didalamnya yang jika Jin menggerakkan tubuhnya atau berjalan, rok itu akan kembang kempis layaknya ubur-ubur dilaut, kemudian jangan lupakan choker necklace yang bertengger di lehernya dengan bandul besar ala nona-nona jaman victorian dulu, oh.. dan jangan lupakan hiasan pita dikepalanya yang sangat cocok dengan kostumnya, serta atasan Jin yang tidak memiliki lengan sehingga menampilkan kesan menggoda dalam dirinya.
Dan Jin tak suka kostumnya ini, meskipun berwarna pastel tetap saja baginya sangatlah menggelikan padahal menurut orang lain yang melihat malah menggiurkan.
"Kenapa kostum Jin seperti ini. Eoh? Jin seperti penari untuk hiburan anak-anak !" protes Jin pada sang eomma yang kini dengan santainya malah memotret putranya itu.
"Tidak Jinnie, kau cantik dan hmm.. menggoda, tepat sesuai konsep Jenny.."
"Jadi konsep debut Jin sebagai wanita penggoda begitu, eomma.." Aigoo uri Jinnie sepertinya salah mengartikan ucapan sang eomma kali ini.
"WHAT ? oh.. no..no..no.. sayang, bukan seperti itu maksud eomma, Konsep Jenny itu adalah wanita cantik yang mampu memikat siapa saja dengan pesonanya. Bukan wanita murahan yang biasa di bar seperti yang kau maksud." Ucap Heechul dengan jelas, well, walaupun ia eomma yang aneh bagi anak-anaknya tetapi ia tetaplah seorang ibu yang akan selalu melindungi putra-putrinya seperti layaknya ibu pada umumnya.
"Tak bisakah kostumku ini diganti saja eomma ?" ucap Jin memelas kepada sang eomma.
"Tidak sayang, ini sudah cocok denganmu dan lagumu.. sudah sana kembalilah, dan jangan bolos latihan showcase mu sebentar lagi"
"Arrasseo eomma" Jin kemudian pergi meninggalkan ruangan Heechul dan kembali ke ruang wardrobe.
Kriing~ Kriing~
"Ne, Yeobosseo..?"
"..."
"arasseo"
Heechul kemudian bersiap untuk pergi dari ruangannya dengan sebelumnya memberitahu sang sekertaris bahwa ia akan pergi.
"Yuri-ah, aku akan pergi ada urusan, jika Jinnie atau Yoongi mencariku suruh untuk menungguku di apartementnya saja, karena nanti aku akan kesana."
"Ne sajangnim akan saya sampaikan"
Heechul kemudian melesat pergi menuju mobilnya dan segera melajukan mobilnya ke jalanan kota Seol.
.
.
.
*Incheon airport*
"Kau yakin tidak akan apa-apa meninggalkan appa?"
"Tenanglah kau ini cerewet sekali"
"Yak ! jika eomma tahu kita akan habis dibunuhnya."
"Aish.. aku bilang tidak apa-apa, kau sudah sangat merindukannya kan"
"tentu saja, ppabo. Kita sudah lama tidak menemuinya."
"Gitu donk, ayo kita kejutkan dia.. kajja"
Kedua orang tersebut melenggang keluar dari bandara, dan saat menunggu taksinya seseorang menghadangnya dan tengah menyeringai lebar pada mereka.
"Mau kemana heum?"
Glek
"Eomma/ Eomma" ucap mereka berdua serempak.
Tbc
Sebelumnya mianhae karena kemarin menjanjikan bakal post bonus chaper, tapi gak jadi karena setelah dipikir-pikir akan jadi gak sinkron jika chapter bonusnya dipos setelah chapter 3.
Jadinnya sebagai permintaan maaf buat reader yang udah nungguin, aku pos chapter 4 lebih awal dari jadwal dan bonusnya menyusul. Hehe..
Maaf jika banyak typo dan kata-kata yang kurang efisien ditemui di chapter ini, karena aku emang buru-buru untuk buat cerita di chapter ini.
Semoga tetap setia nunggu in cerita series namjin yang kubuat ini..
Okay.. see u next chapter!
Anyeong ^_^
Swag_25
