Copyright © 2015 by Happyeolyoo
All rights reserved
.
.
Bad Oppa
Genre : Romance, Drama
Rate : T
Pairing : HunHan as Maincast.
Chapter : 4/7
Warning : Genderswitch. Miss typo(s).
Disclaimers : The cast is belonged to God, their parents, and their company. All text here is mine. Dilarang memproduksi atau memperbanyak seluruh maupun sebagian dari cerita ini dalam bentuk atau cara apapun tanpa izin dari penulis.
Summary : Kisah percintaan yang dimiliki Luhan terkesan sempurna. Dia dicintai sepenuh hati oleh Oh Sehun, kekasih yang enam tahun lebih tua darinya; begitu pula sebaiknya. Hubungan mereka berjalan mulus, nyaris tanpa cacat sehingga Luhan merasa terbuai. Namun berkat sebuah pesan chatting yang ditemukannya di ponsel Sehun, untuk yang pertama kali dalam dua tahun terakhir, kecurigaan muncul dan mengacaukan kepercayaan Luhan.
BGM : 사랑보다 깊은 상처 by Yim Jae Bum duet with Taeyeon
Sehun mengirim pesan yang mengatakan jika seharian ini dia tidak akan ada di apartemen karena ada sebuah urusan di Busan. Awalnya, Luhan hanya menjawab penuh rasa maklum dan mencoba menerima kenyataan jika pekerjaan memang tetap harus dilakukan kendati akhir pekan telah tiba.
Lagi pula, Luhan tidak punya niatan untuk pergi ke apartemen Sehun. Mulanya sih begitu. Tapi setelah matahari terbenam dan Luhan mulai merasa bosan di flat mungilnya, dia menelepon beberapa temannya untuk diajak jalan-jalan di sekitaran Myungdong. Di saat itulah Luhan baru menyadari jika cardigan brokat yang ingin dikenakannya tertinggal di apartemen Sehun.
Sekitar pukul tujuh, Luhan pergi ke sana berbekal dengan nomor kombinasi yang telah dihapalnya di luar kepala. Semua tidak ada yang aneh. Hingga akhirnya, Luhan menemukan ada sepasang sepatu perempuan yang tergeletak serampangan di dekat rak sepatu saat dirinya baru masuk ke dalam apartemen Sehun. Sepatu kulit keluaran Louis Vuitton milik Sehun juga ada di sana, terlempar secara acak.
"Krys, astaga, se-sejak kapan kau b-belajar ..," suara Sehun yang terengah-engah menahan napas menembus gendang telinga Luhan, membangunkan bulu roma di sekujur tubuhnya. Pusat perasaannya langsung dibelai oleh rasa takut, entah mengapa alarm peringatan dalam dirinya meraung-raung keras. Sebelah tangan absurd yang jahat baru saja memukul dadanya, membuat detak jantungnya bertalu-talu kencang.
Menghiraukan rasa curiganya, Luhan mencoba melangkah mendekati pintu kamar yang tidak tertutup sempurna. Lututnya yang bergetar sungguh membuatnya kesulitan untuk berjalan dengan benar.
"Krys,"
Pandangan Luhan mengabur ketika matanya mengintip lewat celah pintu. Kesadarannya serasa ditendang oleh palu tak kasat mata manakala mendapati kekasihnya tengah berbaring tidak berdaya di atas ranjang, dan kepala seorang wanita bernama Krystal bergerak begitu acak di pusat tubuh Sehun.
Mereka berdua nyaris telanjang; Oh Sehun yang sudah melepaskan kemeja kerjanya sementara celananya nyaris dilucuti oleh tangan jalang wanita itu.
Krystal, bagaimana bisa wanita itu hanya mengenakan pakaian dalam di sana?
Setitik air mata jatuh dari pelupuk mata Luhan. Dua pundaknya jatuh tanpa bisa ditahan. Mulut Luhan menganga membentuk huruf O besar ketika akal sehatnya melayang dan akhirnya menghilang. Menyisakan luka di dada, perih yang menciptakan desakan memualkan dalam perutnya.
Dia mencoba mundur selangkah dengan kakinya yang menggigil lemah. Belum sempat berbalik dan kabur dari sini, tubuhnya malah jatuh menghantam lantai. Bunyi gedebuk keras terdengar, Luhan panik sebab dia juga mendengar pekikan yang berasal dari dalam ruangan itu.
Luhan memutuskan untuk pergi dari tempat sialan ini secepat yang ia mampu. Namun karena otot-otot tubuhnya yang telah melembek seperti jeli akibat rasa terkejutnya, lagi-lagi Luhan terjatuh. Berulang kali dia mencoba berjalan, namun berulang kali pula ia jatuh tersungkur. Luhan terisak. Merutuki dua kaki pendeknya yang tidak bisa diandalkan. Rasa panik merambat begitu cepat ketika gendang telinganya menangkap suara derap langkah kaki yang makin dekat dengan dirinya.
Pintu dijeblak, dan saat itulah Luhan berhasil berdiri setelah melempar tas tangannya ke lantai.
"L-Luhan?!" Sehun berteriak keras; penuh nada antisipasi dan terintimidasi sehingga hal itu sanggup membuat Luhan tersakiti secara bathin.
Luhan mencoba menulikan gendang telinga dan terus fokus untuk pergi dari sini. Di depan rak sepatu, dia mencoba memakai sepatu hak tingginya sementara Sehun tengah sibuk memakai pakaian yang pantas untuk mengejar kekasihnya. Berulang kali Sehun berujar sesuatu mengenai permohonannya agar Luhan berhenti.
Tetapi Luhan tidak bisa. Bahkan saat Luhan mendengar teriakan antara Sehun dan Krystal, Luhan memilih untuk meninggalkan sepatu keparatnya dan berjalan dengan bertelanjang kaki. Tidak apa-apa. Asal bisa pergi dari apartemen Sehun dan meninggalkan dua bajingan yang nyaris bercinta di sana.
Tidak apa-apa.
Tidak apa-apa.
Tidak apa-apa.
Tidak apa-apa.
Sungguh.
Luhan jatuh terduduk di halte bis sambil menangkup wajahnya yang berantakan. Suara isakannya yang tertahan nyaris tidak bisa diredam. Tenggorokannya sakit menahan sedu-sedannya, dan semua itu merambat pada celah dadanya. Gambaran mengenai Oh Sehun yang membagi ranjangnya dengan wanita lain terus membayang, tervisualisasi dengan baik tanpa cacat. Matanya serasa ditusuk ribuan jarum tajam tanpa henti, pelipisnya berdenyut penuh protes sehingga air mata terus mengalir deras dari pucuk matanya.
Akhirnya pengkhianatan itu terbongkar. Setelah sekian lama memilih untuk diam dan menerima semuanya seperti wanita bodoh, akhirnya Sehun membuka kedoknya sendiri. Luhan mendapati Oh Sehun yang hendak bercinta dengan mantan kekasihnya. Luhan melihat dengan mata kepala sendiri; mengenai Oh Sehun yang terkesan menikmati apa yang sudah dilakukan Krystal pada tubuhnya.
Lagi pula, apa yang sebenarnya Luhan takuti saat dia lebih memilih diam ketika dirinya mendapati kebohongan Sehun di masa lampau? Keputusan yang bodoh. Luhan sudah dibodohi, dikhianati, dibohongi. Kendati banyak sekali kenangan yang menciptakan kebahagiaan saat dirinya tengah dirangkul Oh Sehun, namun tetap saja semua terasa sia-sia jika Luhan mengingat apa yang baru menimpanya.
Pengkhianatan.
"Luhan?"
Luhan tersentak ketika mendengar nada suara yang paling tidak ingin didengarnya pada detik ini. Sepasang tangan mencengkeram pergelangan kakinya, menempelkan sesuatu yang dingin dan mengusap beberapa titik perih di telapak kakinya. Saat Luhan mulai mendapatkan pandangan yang lebih jernih setelah mengerjap beberapa kali, dia mendapati Oh Sehun yang tengah berusaha memakaikan sepatu flat pada kaki telanjangnya.
Oh Sehun yang memakai jeans dan kaus santai dengan rambutnya yang acak-acakan, berjongkok tepat di hadapannya. Sebuah bercak merah keunguan mengintip malu-malu di tengkuk Sehun, sanggup mengundang bulir kesedihan sehingga gadis itu kembali menitikkan air mata.
Luhan menggigit bibir ketika merasakan kelembutan tekstur kulit Sehun di pergelangan kakinya. Kebersamaan mereka membayang dan menimbulkan rasa sakit. Akal sehatnya yang bersedih mencoba meneriakkan kata, 'Semua sudah berakhir!'. Dan memang seharusnya Luhan menolak semua kebaikan yang diberikan Sehun. Mulai dari sekarang; dari detik ini.
Entah mendapat keberanian dari mana, Luhan mengayunkan kakinya, melepas sepatu yang coba dipakaikan Sehun pada telapak kakinya. Sepatu flat yang mengilat itu terlempar begitu saja, beberapa orang mulai menatap Luhan dengan pandangan protes. Luhan mengatupkan bibir manakala Sehun mendongak demi melempar tatapan penuh tuntutan.
"Kau harus pakai sepatu dulu," Sehun berujar kalem, bangkit dan mengambil sepatu yang tadinya dilempar oleh Luhan.
Luhan membawa tangannya yang terkepal kotor di hadapan bibirnya, menangis lagi ketika melihat lelaki berengsek yang dicintainya tengah mengambil sepatu itu.
Luhan tidak sanggup jika terus menatap wajah Oh Sehun yang ternyata masih sangat dikasihinya. Luhan akan terus tersakiti jika dirinya tetap berada di sini dan menerima kebaikan Sehun.
Luhan harus pergi. Pergi dari Oh Sehun.
"Luhan! Sudah kubilang kalau kau harus pakai sepatu dulu!" teriaknya begitu tahu Luhan melangkah pergi menjauhinya. Berkat kaki panjangnya, dengan amat mudah dia berhasil mencengkeram pundak Luhan.
Luhan memang berhenti. Tapi dia menyentak tubuh Sehun, mendorong pemuda itu dengan sekuat tenaga dan menendang tepat di perutnya hingga Sehun terjatuh di trotoar. Beberapa pejalan kaki mulai memfokuskan pandangan pada Luhan; seolah mempertanyakan akal sehat gadis cantik yang tengah menangis itu.
"Lu, m-maafkan aku," Sehun mencoba berdiri sementara Luhan memandangnya dengan sorot penuh kebencian. Sulur-sulur penuh rasa takut kehilangan mulai menangkup paru-parunya sehingga Sehun merasakan sesak napas yang begitu hebat tatkala pikirannya mengatakan jika dia akan kehilangan Luhan. "Maafkan aku."
Luhan mundur saat Sehun coba mendekatinya.
"Luhan, please, kita bicara di apartemenku, oke?" Sehun mencoba membujuk. "Kita bicarakan baik-baik," ujarnya, melangkah lagi untuk mendekati Luhan. Sisi perasaannya mendesah lega ketika menemukan fakta bahwa Luhan hanya diam saat dirinya berjalan mendekat. "Aku sunggu minta ma—"
Namun untuk yang kedua kali, lengan kurus Luhan yang bergertar hebat sanggup menyorong tubuh Sehun yang bersikeras mendekat. Pemuda itu terkejut mendapati reaksi Luhan yang tidak terduga, menyebabkannya oleng begitu saja hingga pantatnya kembali mencium trotoar. Dua mata Sehun membola penuh rasa percaya, begitu pula gadis cantik dengan wajah berantakan sebab air mata merusak seluruh riasannya.
Ketika Luhan berbalik setelah puas mencecar Sehun dengan sorot tidak suka, saat itulah Sehun baru menyadari satu hal. Oh Sehun baru saja dicampakkan oleh gadis kuliahan, tepat di depan umum sesaat setelah kekasihnya memergokinya hampir bercinta dengan mantan kekasihnya.
OoO
"Sudah menyelesaikan urusanmu dengan Luhan?"
Ketika Sehun baru pulang setelah mencoba mengejar Luhan dan dipermalukan di depan umum, dia malah disambut oleh kalimat ringan yang dilontarkan Krystal. Wanita itu tidak memakai bathrobe untuk menutupi tubuhnya yang hanya dibalut pakaian dalam. Dia duduk begitu santai di sofa ruang tamu, dengan kaki terlipat anggun dan dada tertarik pongah. Rasa-rasanya Krystal tengah berakting bodoh, seolah-olah dia adalah pemilik mutlak atas apartemen ini.
"Kalian sudah putus, 'kan?"
"Kurasa begitu," Sehun melengos menuju kamarnya sedangkan Krystal mengekor langkah kakinya.
"Bagus!" Krystal memeluk tubuh Sehun dari belakang, memekik begitu ceria setelah mendengar jawaban itu. "Sekarang, tinggal kita berdua, Sehun."
Sehun memejamkan mata sejenak ketika bayang-bayang mengenai raut terluka yang terlukis di wajah Luhan terngiang dalam benak. Perasaan bersalah terasa amat membebani dadanya. Membuat tubuhnya lemas seolah tidak memiliki setitik energi untuk melakukan kegiatan apa pun. Dia seutuhnya membutuhkan kesendirian untuk menenangkan perasaannya yang porak poranda.
"Pulanglah, Krys. Kurasa aku sedang tidak punya mood untuk melakukan seks dengan siapa pun."
"Dengan siapa pun?" Krystal sontak menarik lengannya yang semula melingkar di pinggul Sehun. Mendadak rasa tidak terima muncul menendang kebahagiaannya. Kesensitifan atas perasaannya baru saja tersulut akibat kalimat Sehun. "Maksudmu, selama ini kau juga melakukan seks dengan .., cewek lain selain denganku?"
Sehun lebih memilih untuk masuk ke kamar, merapikan tempat tidurnya yang berantakan akibat perbuatannya dengan Krystal.
"Oh Sehun! Aku bertanya padamu!"
"Krys, tolong tinggalkan aku sendiri. Untuk malam ini saja," Sehun menjawab dengan nada lemah penuh permohonan. Raut wajahnya sungguh dipenuhi gurat kelelahan luar biasa. "Pulanglah."
Kystal mendelik tidak terima saat mendengar kalimat pengusiran itu. Emosi dalam jiwanya terpercik dan gadis itu mendesis marah. "Baiklah kalau begitu, sepertinya kau akan menangisi keputusanmu karena telah melepas Luhan," katanya sinis sambil melangkah menghampiri baju-bajunya yang tergeletak di lantai, memakainya secepat kilat. "Renungi saja, dan aku tidak akan kembali padamu!"
Sehun bergeming ketika kalimat itu melayang dari mulut Krystal, tidak menghiraukan apa saja yang diucapkan gadis itu saat memutuskan meninggalkannya—untuk yang kedua kali. Dewa batinnya melengos tidak peduli, bahkan saat dia mendengar suara pintu yang dibanting oleh Krystal. Sehun tidak peduli.
Pemuda itu menenggelamkan wajahnya pada bantal, menghela napas berulang kali demi mengeluarkan beban berat yang tiba-tiba bercokol dalam dada. Dinding ingatannya kembali menampilkan siluet wajah Luhan yang dipenuhi gurat sakit hati, rasa-rasanya hal tersebut mampu berubah wujud menjadi seribu pisau tajam yang merobek perasaannya sendiri.
"Sial," Sehun mengumpat, memposisikan tubuhnya menjadi terlentang. Rasa bersalah mulai memenuhi relung hati saat gendang telinganya juga ditembus oleh suara isak tangis Luhan. Pasti gadis itu tengah menangis hebat. Pasti Luhan merasa kecewa setengah mati.
Tripel sialan, batinnya teramat kesal.
Sehun butuh minuman keras, atau apa pun yang bisa menyegarkan pikirannya. Kala dia melangkah keluar, dirinya malah mendapati tas tangan Luhan yang tergeletak tak jauh dari sofa. Sekelebat wajah terkejut Luhan muncul dalam ingatannya, menyentak kesadarannya. Lalu pandangannya beralih pada sepatu hak tinggi Luhan di dekat rak sepatu.
Ada suara dering ponsel yang terdengar dari dalam tas Luhan. Sehun menarik penutupnya dan menemukan ponsel Luhan yang layarnya berkedip-kedip menandakan satu panggilan masuk. Dari Zitao.
"Luhan?! Kau kemana saja?" Sang penelepon mengucapkan apa yang ingin ditanyakannya tanpa mengucap salam. Volume suaranya terdengar cukup keras dan menyentak. "Aku sudah hampir jamuran menunggumu. Kyungsoo juga sudah datang semenjak setengah jam yang lalu!"
Sehun mengerutkan alis. "Apakah Luhan punya janji denganmu?"
"Eh-oh? S-siapa ini?"
"Aku Sehun."
Gadis bernama Zitao itu mengatakan sesuatu pada seseorang sambil menyebut 'Yang mengangkat telepon ini kekasih Luhan. Bagaimana ini?'. Tentu saja kalimat itu berhasil membuat Sehun tersenyum pahit.
Karena untuk saat ini, status tersebut terancam akan segera dihilangkan.
"Kalau begitu, dimana Luhan, oppa?"
"Dia sedang .., well, keluar sebentar," kata Sehun. "Maaf, mungkin dia tidak akan keluar bersama kalian malam ini."
Zitao dan temannya kembali melontarkan kalimat-kalimat mengenai Luhan yang membatalkan janji yang dibuatnya sendiri dengan seenak hati. Lalu Zitao kembali berucap, "Kalau dia sudah pulang, bisakah oppa menyuruhnya untuk meneleponku?"
"Tentu. Akan kusampaikan," saat Sehun mengatakannya, tubuhnya sudah berdiri dan dia masuk sebentar ke dalam kamar. Tangannya menarik sebuah tas kardus bertuliskan sebuah merk yang berasal dari eropa, goodie bag yang ditinggalkan Luhan di sini, dan melempar tas tangan Luhan ke sana. Dia menarik sebuah kardus sepatu, mengeluarkan sepatunya dan meletakkan sepatu Luhan di sana.
Sehun harus segera pergi mencari Luhan. Dia tidak punya waktu untuk terus berdiam diri di apartemennya sementara Luhan ada di luar sana; sedang terpuruk, sedih, dan kacau tanpa alas kaki atau pun uang.
Tempat yang memiliki kemungkinan akan dikunjungi Luhan, sudah dicek oleh Sehun dan dia mendapat jawaban nol besar. Sekitaran pukul sebelas malam, dia memutuskan untuk pergi ke flat Luhan.
Memencet tombol berulang kali tapi tetap tidak mendapat tanggapan. Sehun tidak punya kunci cadangan yang bisa membuka pintu flat Luhan, jadi yang bisa dilakukannya hanya menunggu tepat di samping pintu. Menunggu sambil merenungkan rasa sakit yang mungkin dirasakan Luhan saat memergokinya nyaris bercinta dengan Krystal.
Sialan.
OoO
Luhan tidak punya tempat untuk pergi, lagi pula dia juga tidak punya uang dan tidak mengenakan sepatu. Keadaannya terlihat seperti seorang gelandangan—menyedihkan sekali. Ada beberapa luka kecil pada telapak kakinya saat dia berjalan di trotoar yang berkerikil kecil, rasanya perih sekali.
Saat dia menemukan taman komplek perumahan yang sudah sepi, Luhan memutuskan untuk duduk di kursinya selama beberapa detik. Termenung sebentar. Mengingat semuanya kendati dia tidak ingin.
Di sini, Luhan mulai menyesali semua yang telah dilakukannya. Merutuki kebodohannya karena selama ini dia mencoba bertahan kendati sudah tahu jika cintanya telah dikhianati. Mungkin sesi percintaan Sehun dan Krystal malam ini bukanlah kali pertama. Luhan tahu itu. Sehun adalah orang yang menggebu-gebu dalam urusan ranjang. Pemuda itu pasti puas sekali jika dia memiliki hubungan dengan wanita jalang yang rela diajak bercinta setiap saat.
Pantas Sehun lebih memilih untuk berpaling. Luhan ingat betul alasan apa saja yang digunakannya saat menolak ajakan Sehun untuk melakukan seks. Luhan lebih banyak menolak dari pada tidur terlentang di bawah kungkungan Sehun dalam balutan kepasrahan. Tidak seperti Krystal.
Luhan bukan wanita jalang. Dewi batinnya menyerukan kalimat tersebut dengan amat lantang kendati dia sedang terisak-isak memilukan. Kesadarannya kembali mencapai titik minimum, Luhan termenung sebentar.
Semua akan baik-baik saja walau pun dia sudah putus dengan Oh Sehun yang dicintainya. Ya. Benar.
Luhan menghapus air matanya dengan kasar, menghela napas sementara kakinya mulai kembali berjalan menyusuri jalanan yang lengang. Flatnya sudah dekat. Dia ingin segera meringkuk di ranjangnya yang hangat.
Bukan malah mendapati Oh Sehun yang duduk tepat di samping pintu apartemennya, tengah menatap ke arahnya dengan sorot penuh penyesalan dan permintaan maaf.
Luhan bergeming di tempatnya berdiri sementara Sehun mulai bangkit, berjalan menghampirinya. Ada semacam perasaan terindimidasi saat mengetahui jika Sehun melangkah mendekat, suatu perasaan yang mendorongnya untuk segera kabur. Kabur dari sini dan bersembunyi dari manusia bernama Oh Sehun.
"Luhan, kumohon jangan menghindariku," kata Sehun. Di saat itulah kesedihan kembali datang dan menimbulkan bercak air mata yang mengaburkan pandangan Luhan. Gadis itu tetap bergeming. "Aku minta maaf, maafkan aku."
Luhan mengalihkan pandangan, setitik air mata jatuh dari sudut mata kirinya.
"Aku memang .., bersalah," Sehun kesulitan mencari kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan seberapa besar rasa bersalah yang kini menerpanya. Tubuhnya meluncur mendekat, mencoba meraih pergelangan tangan Luhan dan menggenggamnya erat saat dia mendapatkannya. Luhan masih teguh dengan keterdiamannya kendati Sehun merecokinya dengan tatapan bersalah. "Luhan, bicaralah sesuatu, sayang. Maafkan aku."
Sayang?
Saat Sehun memanggilnya begitu, rasa-rasanya ada sesuatu yang salah. Seketika Luhan kehilangan kontrol, dia menyentak lengannya lagi sehingga dia bisa melepaskan diri dari Sehun.
"Kita sudah selesai," kata Luhan pada akhirnya, berjalan tergesa-gesa ke pintu apartemennya selagi Sehun tersentak akibat kata-katanya. Bagus. Seharusnya Sehun disakiti dengan kata-kata yang lebih kejam. Karena dengan begitu, pemuda itu akan kehilangan kekuatannya untuk menahan Luhan.
TBC
Isinya bukan kayak sinetron yang pakek bentak-bentakan alay waktu mereka mau putus, ya wkwk aku sengaja kasih Luhan yang banyak diem karena dia yang .., well, tentukan sendiri.
Maaf nggak bisa update kilat. Biasalah. Maba punya segudang kegiatan, guys. Mahasiswa semester satu juga bisa sibuk -_- saya bukan pengangguran yang setiap saat bisa ngetik dan update hmmmm inspirasi timbul tenggelam kalo tugas numpuk gini. Presentasi menunggu, jadi, well. Updatenya agak seret/? Ditunggu aja, ya bwahaha
Btw, thanks buat semua readers yang udah baca plus review, yaaaw. Loveyou, all /kiss satu-satu/ cuman kalian yang bisa bikin aku ketawa kayak orang gila pas di sela waktu kosong nunggu matkul selanjutnya :3 review lagi, yaaaaaa
Xoxo.
