A/N: Karena ternyata banyak yang kurang mengerti istilah game, meskipun udah saya bahas di awal, jadi saya akan sebutkan beberapa istilah yang wajib diketahui sebelum membaca chapter ini.
Something you SHOULD KNOW:
Front Liner: Player yang bermain Shinobi Online dengan tujuan menamatkan game/membunuh jinchuuriki, bukan sekedar bersosialiasi (socializer) atau berpetualang (explorer).
HP: Hit Points. Poin yang dimiliki setiap player yang mewakili darah mereka. Besarnya HP tergantung level. HP berkurang jika player mendapat serangan. Jika HP kosong, player akan mati. HP ibarat 'nyawa' yang harus dilindungi setiap player. Player hanya memiliki 1 batang/bar HP (termasuk Naruto, Fu, dan Bee). Sedangkan bijuu punya lebih dari 1 bar. Choumei memiliki 4 HP bar, sedangkan Gyuki/Hachibi dan Kurama memiliki 5 HP bar.
CP: Chakra Points. Plesetan dari 'Mana Points'. Karena ini dunia shinobi, jadi saya ubah namanya jadi chakra. Fungsinya sama, yaitu dipakai untuk menggunakan skill, dalam hal ini sharingan, byakugan, dan jurus-jurus ninja pada umumnya.
Artificial Intelligence(AI):Kecerdasan buatan yang dimiliki suatu robot/aplikasi. Misal: musuh, pet, pokoknya yang bukan player/manusia. AI disebut juga NPC.
*Fic ini lebih enak dibaca di perangkat yang bisa menampilkan tulisan bold dan italic.
Chapter 4
"Gone"
Saturday, January 21, 2023, 08:00 AM
Hyuuga Resident - Tokyo
Buka laptop, jalankan Shinobi Online, masuk menu pesan, cek inbox, matikan laptop. Buka laptop lagi, jalankan Shinobi Online lagi, masuk menu pesanlagi, cek inbox lagi, matikan laptop lagi. Itulah yang dilakukan Hinata setiap hari. Hinata tidak log in ke dunia virtual SO, ia hanya memilih menu perpesanan SO untuk memeriksa apa Naruto sudah membalas pesannya.
Hinata akan senang saat ada pesan baru, tapi tak lama kemudian raut wajahnya akan berubah sedih saat melihat pesan itu bukan dari Naruto. Yang mengiriminya pesan beberapa hari terakhir adalah Sasuke yang mengirimkan undangan pertemuan rutin yang biasanya diadakan setiap seminggu sekali. Bedanya, kali ini pertemuan diadakan 2 kali seminggu setiap hari Rabu dan Sabtu. Undangannya tidak bersifat wajib bagi Hinata, jadi tak masalah jika ia tak datang. Biasanya hanya perwakilan desa, ketua guild lain yang jadi sekutu Hebi, atau player penting lainnya. Hinata tak tahu kenapa pertemuan jadi 2 kali seminggu. Hinata menduga Sasuke sedang merencanakan sesuatu untuk mengalahkan Nanabi karena kekalahannya melawan Nanabi beberapa waktu lalu telah mencoreng nama baiknya sebagai pemenang turnamen game online se-Tokyo.
Berbeda dengan Sasuke yang rajin online, Hinata malah jadi malas log in ke SO karena ia tahu ia tak akan bertemu Naruto di sana. Hinata baru sadar ternyata dirinya begitu bergantung kepada Naruto. Ia merasa Narutolah satu-satunya temannya di SO yang tulus mau berteman dengannya. Itulah sebabnya Hinata jadi sedih karena sekarang Naruto malah mengacuhkannya. Hinata tak tahu apa sebabnya, tapi ia merasa Naruto sedang marah kepadanya.
Hinata duduk di tempat tidurnya sambil memeluk lututnya, tangan kanannya memegang dada kirinya yang terasa sakit. Ini pertama kalinya Hinata merasakan perasaan seperti ini. Ini bukan sakit secara fisik, tapi mentalnya yang terasa sakit. Anehnya lagi, rasa sakitnya ini berbeda dibandingkan ketika ia dimarahi Hiashi. Rasa sakitnya kali ini terasa lebih sakit.
"Hinata-sama, saatnya sarapan," panggil Hanabi dari luar kamar.
"Aku belum lapar Hanabi," sahut Hinata.
"Tapi Anda harus tetap turun. Tuan Hiashi menyuruh Anda turun untuk sarapan bersamanya. Hari ini ia tak masuk kantor."
Hinata langsung tersenyum, sejenak ia melupakan masalahnya dengan Naruto. Hinata beranjak dari tempat tidurnya lalu keluar dari kamar menuju ruang makan dengan berlari kecil. Tak biasanya ayahnya tidak pergi ke kantor di hari Sabtu. Hinata melihat Hiashi sudah duduk di meja makan dengan wajah datarnya. Hinata tak pedulikan itu. Kehadiran ayahnya di ruang makan pagi ini sudah membuat Hinata senang. Hinata duduk di samping ayahnya, berusaha ingin sedekat mungkin dengannya. Hinata sudah lupa kapan terakhir mereka bisa sarapan bersama.
Mereka kemudian sarapan dalam diam. Hinata selalu diajarkan untuk tak banyak bicara saat makan.
"Aku senang ayah bisa sarapan bersamaku hari ini," kata Hinata setelah ia selesai makan.
"Hn." gumam Hiashi. Hanya itulah balasan Hiashi, tapi Hinata sudah terbiasa dengan komunikasi seperti ini. Ayahnya bisa ada di hadapannya sekarang saja ia sudah bersyukur.
"Hinata. Apa kau sedang ada masalah?" tanya Hiashi.
Hinata terkejut mendengar Hiashi memulai pembicaraan, terlebih lagi karena Hiashi menanyakan keadaannya. Apa sikap murungnya akhir-akhir ini disadari Hiashi?
"Gurumu bilang kau sering melamun. Bahkan katanya kuis kemarin kau mendapat nilai 4. Ini pertama kalinya kau mendapat nilai sekecil itu. Ceritakan padaku apa masalahmu," lanjut Hiashi.
Hinata akhirnya tahu permasalahan dengan Naruto telah mempengaruhi sikapnya akhir-akhir ini. Salah satunya adalah semangat belajarnya yang menurun. Ia terlalu banyak memikirkan Naruto. Hiashi sebenarnya jarang menanyakan keadaan Hinata. Jadi Hinata tak akan menyia-nyiakan kepedulian Hiashi ini. Ia akan menceritakan masalah Naruto kepadanya. Siapa tahu ayahnya bisa membantu. Biar bagaimanapun ia adalah satu-satunya orang yang bisa Hinata ajak ngobrol di real life.
"Aku sedang merindukan temanku," ujar Hinata.
Terlihat kening Hiashi sedikit berkerut. "Sejak kapan kau punya teman?" tanyanya.
Hiashi tahu dari dulu ia selalu memberi fasilitas mewah kepada Hinata seperti laptop, tablet, dan smartphone. Dengan semua perangkat itu, bukan hal yang sulit untuk mencari teman. Hanya saja sejak dulu setiap Hinata bergabung jejaring sosial, forum, atau masuk chat room, Hiashi tahu Hinata hanya ngobrol seadanya dengan orang-orang di sana. Sejak dulu tak ada yang benar-benar Hinata anggap teman.
Hiashi benar, selama ini Hinata tak pernah punya orang yang ia anggap teman baik di jejaring sosial, forum maupun chat room. Naruto adalah teman pertamanya. Hinata bisa berinteraksi dengannya dalam dunia virtual SO yang keadaannya nyaris sama dengan real life. Hinata bisa memperhatikan sifat, karakter, dan kepribadian Naruto. Tiga hal itu tak tak bisa dilihat secara jelas jika hanya lewat chat. Makanya Hinata menganggap Narutolah teman pertamanya.
"Sejak 2 bulan lalu. Aku mengenalnya lewat internet," ujar Hinata. Ia belum berani untuk membahas Shinobi Online. "Dan sekarang sepertinya dia marah padaku. Dia tak mau membalas pesanku."
Hiashi menyeruput teh hangatnya lalu menatap Hinata dengan ekspresi yang lagi-lagi masih datar. "Memiliki teman hanya akan menyakitimu. Kau lihat sendiri, baru 2 bulan berteman denganmu, dia sudah membuatmu sedih seperti ini. Itu hanya via internet. Di dunia nyata orang bisa lebih kejam dari itu. Itulah alasannya kenapa aku tak mengizinkanmu keluar rumah atau sekolah di luar."
"Tapi-"
"Cukup. Lebih baik sekarang kau belajar agar nanti kuismu tidak jelek lagi." Hiashi langsung masuk ke lift menuju basement. Sekarang Hinata tahu sebenarnya sang ayah tidak benar-benar libur. Ia hanya me-remote pekerjaan di komputer kantor via komputer di lab basement. Mood Hinata kembali jelek. Harapannya untuk mendapatkan solusi permasalahannya dengan Naruto dari sang ayah hanya angan belaka.
Hinata kembali ke kamarnya dan malah malas-malasan di tempat tidur. Jujur saja, kata-kata Hiashi tadi justru semakin membuatnya enggan belajar. Hari demi hari ketidakpedulian Hiashi telah mulai mengikis kepatuhan Hinata kepadanya. Dan hari ini rasa patuh Hinata sudah habis, rasa kesal Hinata sudah sampai pada limit-nya. Dari kalimat terakhir Hiashi tadi, jelaslah sudah bahwa alasan kenapa selama ini ia tak dibiarkan sekolah di luar adalah agar Hinata tak memiliki teman. Hinata tak habis pikir, kenapa hanya sisi negatif teman yang Hiashi bahas? Kenapa sisi positifnya tidak dibahas? Apa Hiashi tak tahu jika seorang teman bisa membuat Hinata senang?
Ugh, Hinata akhirnya kembali mengingat Naruto gara-gara pemikirannya ini.
Tak lama kemudian, Sakura menelpon Hinata via smartphone-nya, kebetulan Hinata memang mencantumkan akun Skype di detail kontaknya.
"Halo Sakura-chan."
"Hinata-chan, kau kemana saja?" tanya Sakura. Terlihat wajah heran Sakura di layar smartphone Hinata.
"Aku diam di rumah."
"Kau tidak tahu kalau hari ini Sasuke akan menyerang Nanabi?"
"Oh ya? Aku tidak tahu. Hari ini aku belum mengecek pesan di SO."
"Aku juga baru tahu. Tenang saja, seperti biasanya penyerangan akan dilakukan sore hari. Tapi ada baiknya kau log in ke SO sekarang. Aku yakin kau akan kaget. Aku tunggu di club ya." Sakura mengakhiri panggilannya.
Hinata menjauhkan tablet pelajaran sekolahnya. Sebaliknya, justru ia mengambil laptop, membuka Shinobi Online, danmengeluarkan helm Nerve Gear dari bawah tempat tidurnya. Kata-kata Sakura tadi sudah terlanjur membuatnya penasaran.
Saturday, January 21, 2023, 09:00 AM
Writing Club - Konohagakure
Begitu masuk ke SO, Hinata dikagetkan oleh kerumunan player di setiap sudut desa Konoha padahal hari ini tidak ada festival maupun event spesial. Sebagian dari mereka sering Hinata lihat, tapi sebagian lagi belum pernah Hinata lihat meski mereka warga Konoha (terlihat dari protektor yang mereka kenakan).
"Siapa mereka?" tanya Hinata sambil memperhatikan orang-orang di luar dari jendela club menulis.
"Front liner," jawab Sakura.
Mata lavender Hinata membulat. "Sejak kapan front liner jadi sebanyak ini?"
"Sudah kuduga kau akan kaget. Ini karena kau jarang online jadi kau tak tahu apa-apa. Selama tiga minggu ini Sasuke sering mengadakan pertemuan yang intinya menyuruh semua perwakilan desa dan kage untuk mengajak semua player SO bergabung bersama front liner. Bahkan ia memasang pengumuman di forum SO agar player yang jarang online bisa menyempatkan untuk online sore ini. Player-player di luar sana belum seberapa. Masih banyak yang belum online. Kau lihat saja nanti sore, ini akan jadi serangan terbesar dalam sejarah Shinobi Online."
Sudah Hinata duga Sasuke telah merencanakan sesuatu. Selama Hinata bergabung dengan Hebi, Hinata sudah bisa menilai sifat Sasuke. Pria itu pintar, tak banyak bicara, dan ambisius. Karena itulah dibalik wajahnya yang terkesan stoic dan angkuh, hingga kini tetap banyak player yang ingin bergabung bersamanya, terutama para gamer sejati yang haus akan kemenangan.
Hinata sebenarnya tak terlalu dekat dengan Sasuke. Di antara 4 petinggi Hebi, Hinata paling dekat dengan Karin. Dari gadis berkaca mata itu pula Hinata tahu alasan Sasuke membentuk Hebi. Di real life Sasuke selalu dianggap inferior dari kakaknya Itachi dalam berbagai hal. Dalam pelajaran, olah raga, ketenaran, bahkan dalam bermain game sekalipun Sasuke selalu dibandingkan dengan Itachi yang dianggap sempurna. Hebi dibentuk Sasuke karena ia terobsesi untuk menamatkan SO. Ia ingin membuktikan kepada Itachi bahwa dirinya juga mampu seperti Itachi. Ia akan buktikan jika pemenang game online se-Tokyo yang diraihnya bukan hanya gelar semata, ia akan menaklukan Shinobi Online, game VRMMORPGyang dikatakan orang memiliki boss yang kuat dan selama 2 tahun ini baru 2 stage saja yang berhasil ditaklukan.
Hinata melihat kerumunan orang di luar semakin banyak. Ia juga melihat beberapa avatar yang bermunculan satu demi satu. "Berapa persen jumlah mereka sekarang, Sakura-chan?"
"Jumlah mereka sekarang…"
Saturday, February 4, 2023, 03:00 PM
Unknown Mountain - Konohagakure
"76%! Itu berarti hampir 114.000 player," ujar Bee kesal. Di hadapannya sekarang ada layar hologram yang menampilkan titik-titik berbagai warna yang bergerak menuju stage 7.
"Jadi ini alasan mereka tidak menyerangku selama 3 minggu ke belakang. Mereka merekrut puluhan ribu player untuk bergabung ke front liner." Fu menyender pada sisi kanan kursi yang diduduki Bee. Fu lalu berjalan menuju pintu keluar. "Baiklah, saatnya aku pergi."
Naruto mengigit bibirnya. Berat sekali ia melepas kepergian Fu. Mereka bertiga masih ingin menghabiskan waktu bersama. Tapi lagi-lagi kenyataan bahwa mereka memiliki peran antagonis dalam game ini menyadarkan Naruto jika keinginannya hanya sekedar mimpi yang tak bisa diwujudkan. Naruto membuka menu miliknya lalu memilih menu items.
Select All - Send to - Fu
Sebelum Fu keluar dari mansion, ia melihat notifikasi di menu-nya. Ia tak percaya melihat notifikasi itu, Naruto mengiriminya ratusan item!
"Ambil semua item-item-ku," ujar Naruto.
Fu menatap Naruto, memperhatikan kesungguhan di sepasang mata shapire sahabatnya. Ia menghela nafas pelan. "Sudahlah jangan menyia-nyiakan item milikmu. Percuma Naruto, mereka sudah terlalu banyak."
Kata-kata Fu memang benar. Jumlah front liner sudah meningkat drastis. Bahkan dengan semua item yang diberikan Naruto sekalipun Fu merasa tak yakin bisa menang. Tapi Naruto menolak untuk menyerah begitu saja. Ia berjalan cepat mendekati Fu lalu mengangkat tangan kanan Fu dan menuntun jari telunjuk lentik Fu untuk menyentuh opsi 'Accept' di notifikasi menu-nya. "Ambil saja. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk membantumu. Aku mohon kembalilah dengan selamat."
Fu tahu dirinya tak bisa menang berdebat dengan Naruto. Ia membiarkan tangan Naruto menuntun telunjuknya menyentuh opsi 'Accept', membuat ratusan item dari menu Naruto berpindah ke menu-nya. Setelah itu Fu memegang erat tangan Naruto, lalu melirik Bee sambil tersenyum. "Aku akan berusaha semampuku. Aku masih ingin berkumpul dengan kalian."
Saturday, February 4, 2023, 03:20 PM
Stage 7 - Takigakure
Fu menatap front liner yang sudah memenuhi setiap sudut stage miliknya. Seperti biasa, Sasuke sudah mengatur formasi sesuai skill masing-masing player. Fu menyadari jika merela jauh lebih banyak dari bayangannya, apalagi tipe penyerang jarak jauh yang terbang di udara. Cahaya matahari sore itu nyaris tertutupi karena langit sudah dipenuhi penyerang di udara. Nampaknya mereka memaksimalkan penyerang udara dan jarak jauh karena sudah tahu itu cara terbaik untuk mengalahkan Choumei.
Tanpa banyak bicara lagi Sasuke memberikan komando untuk menyerang. Puluhan ribu serangan dari berbagai elemen dan jurus menyerang Fu yang saat itu sudah terbang dalam mode bijuu bersama Choumei.
Fu tahu Sasuke adalah otak dari serangan besar-besaran ini. Maka yang ia incar pertama adalah Sasuke.
Choumei memberikan kontrol penuh atas badannya kepada Fu sehingga gadis itulah yang memegang kendali pada pergerakan bijuu ekor 7 itu. Choumei menembakkan 2 bijuudama secara beruntun dan diarahkan kepada Sasuke yang sedang berada di benteng pertahanan di tengah stage. Di saat yang bersamaan Choumei terbang melesat mengikuti kedua bijuudama itusambil menutupi badannya dengan 4 sayapnya untuk melindungi badannya dari serangan ribuan front liner. Namun tetap saja saking banyaknya serangan yang dilancarkan front liner, HP Choumei turun sedikit demi sedikit.
Begitu kedua bijuudama meledak secara beruntun di pelindung benteng, terbentuklah celah yang bisa Choumei masuki. Choumei masuk ke dalam benteng dan menghabisi semua player yang ada di hadapannya. Petarung jarak dekat yang ada di benteng tak tinggal diam dan mulai menyerang dengan jurus andalan mereka masing-masing.
Choumei diberondongi dengan banyak serangan. Untungnya regenerasi HP Choumei sangat cepat, armor-nya juga jauh lebih kuat dari sebelumnya berkat bantuan item-item dari Naruto. Kalau saja Naruto tak memberikan item-item-nya, Fu yakin ia dan Choumei sudah mati sekarang. Namun jumlah penyerang yang banyak tetap saja membuat 2 dari 4 HP bar Choumei habis seketika.
"Fu, aku menemukan Sasuke!" seru Choumei.
"Switch!" balas Fu, memberikan isyarat kepada Choumei untuk kembali mengambil alih kontrol atas tubuhnya sendiri.
Choumei melesat ke arah Sasuke dengan 6 kaki yang siap mencengkeram mangsanya. Sasuke tak bisa menghindar saat Choumei mencengkeram badannya dan membantingnya ke luar benteng. Susanoo-nya langsung lenyap, diikuti dengan HP-nya yang merosot tajam hingga berwarna merah. Semua player kaget karena tanpa diduga Choumei langsung menargetkan Sasuke. Mereka bingung. Apa ini kebetulan? Kenapa dari sekian ribu player yang berada di benteng hanya Sasuke yang diincar? Bahkan tanpa basa-basi lagi Choumei bersiap menembakkan bijuudama tepat di depan wajah Sasuke. Sasuke terbelalak tak percaya. Dengan bola energi berukuran raksasa di depan wajahnya, ia tak akan sempat menghindar.
Player lain tak henti-hentinya menyerang Fu untuk menyelamatkan Sasuke. Tepat saat Choumei menembakkan bijuudama, ia mendapat pukulan telak di wajahnya hingga ia terlempar. Otomatis arah tembak bijuudama pun jadi berubah, tidak lagi ke arah Sasuke tapi ke langit.
Fu melihat HP bar ketiga Choumei telah kosong. Sekarang hanya tinggal HP bar terakhir yang masih penuh.
"Pukulan sekuat ini…"
"Tidak salah lagi. Itu Lariat sang Raikage, kakak angkat Bee," kata Choumei sambil berusaha bangkit lalu terbang ke udara.
Dari kejauhan nampaklah 5 orang berdiri di depan Sasuke. Sementara Sasuke sedang disembuhkan seorang kunoichi berambut pink.
Fu terpaku melihat 5 sosok di depan Sasuke. "Aku tak menyangka 5 kage ikut serta dalam penyerangan kali ini. Hokage ke-5 Konoha, Tsunade. Raikage ke-4, A. Kazekage ke-6, Kankurou. Mizukage ke-5, Mei. Tsuchikage ke-3, Onoki."
"Mereka benar-benar serius ingin menghabisi kita."
"Yup. We're the lucky seven, but today is an unlucky day. Senang bisa bersamamu selama ini, Choumei."
"Yeah, sama-sama Fu."
Bersamaan dengan itu semua front liner kembali menyerang Choumei dan Fu, tak terkecuali 5 kage dan Sasuke yang sudah dipulihkan.
Saturday, February 4, 2023, 06:00 PM
Unknown Mountain - Konohagakure
PING!
Terdengar notifikasi dari console. Naruto yang saat itu sedang duduk di sofa sudah tahu apa maksud dari notifikasi itu. "Sepertinya malam ini kita akan makan malam dengan ramen instan," gumamnya pelan. Bee mengangguk, raut wajah sedih tak bisa ia sembunyikan.
Makan malam mereka malam itu tak seramai seperti biasanya. Sekarang Bee lebih memilih untuk diam dibanding nge-rap. Begitu juga Naruto yang lebih memilih diam dibanding bercanda. Satu orang lagi teman mereka telah mati. Kini hanya tinggal mereka berdua. Mansion ini terasa semakin sepi.
Setelah makan malam Naruto pergi ke kamar untuk tidur. Tapi nyatanya ia tak bisa tidur. Ia teringat pada jumlah front liner yang sekarang sudah jauh lebih unggul dari yang asalnya 30% menjadi 76%. Apalagi dari screenshot yang dikirim Fu, sekarang 5 kage sudah turun tangan. Naruto merasa ia dan Bee mustahil bisa bertahan. Fu saja bisa dikalahkan dalam waktu kurang dari 3 jam. Sebenarnya tak ada yang salah di sini. Bukankah sudah menjadi hal yang wajar jika musuh dikalahkan dalam sebuah game? Justru menjadi tidak wajar jika musuh di dalam game malah menang. Mana ada orang yang mau membeli game seperti itu.
Tak lama lagi pasti Hinata akan menemukan stage 8 dan front liner akan menghabisi Bee. Naruto sempat berniat untuk menemui Hinata, tapi ia sadar Hinata tak sama sepertinya. Hinata player, Hinata manusia sedangkan dirinya adalah Artificial Intelligence. Dirinya hanya aplikasi komputer yang terdiri dari rangkaian kode-kode bahasa pemrograman. Lagipula setelah apa yang terjadi pada ketujuh temannya, Naruto tak ingin minta tolong kepada manusia. Manusialah yang telah membunuh tujuh temannya. Manusialah yang menyebabkan ia merasa kehilangan seperti sekarang. Naruto heran kenapa programer SO membuatnya memiliki 'perasaan' padahal dia AI? Apa tujuan mereka sebenarnya? Apa mereka hanya menjadikan Naruto dan jinchuuriki lain sebagai bahan permainan?
Naruto teringat pada kalimat terakhir Yugito sebelum ia mati.
'Kalian harus tetap bersama dan saling menjaga. Kalian harus bertahan hidup bagaimanapun caranya.'
"Apa yang harus kulakukan untuk tetap hidup, Yugito?" tanya Naruto tapi tentu saja tak akan ada yang menjawab. "Apa yang bisa kulakukan untuk mengalahkan manusia?"
Naruto lalu teringat satu hal penting.
Shinobi Online adalah sebuah program komputer dan Naruto adalah AI yang menjadi bagian dari program tersebut. Sedangkan manusia sebenarnya hanya 'berkunjung' ke dalam program itu dalam bentuk avatar. Sejak awal manusia hanya tamu yang berkunjung ke dunia virtual dimana Naruto dan teman-temannya berada.
Naruto tersenyum. Bukan senyum ramah yang selama ini sering ia tunjukkan, tapi senyum mengerikan yang baru kali ini terbentuk di wajahnya. Naruto membuka protektor Konoha-nya dan membuangnya ke tempat sampah. Lalu ia menuju ruang console. Sesampainya di sana Naruto mengaktifkan console utama, virtual keyboard, berikut 5 layar hologram-nya.
"Aku tuan rumah di sini, aku yang berkuasa di sini. Manusia hanya tamu. Sudah sepantasnya setiap tamu yang datang ke sini tunduk padaku!"
Wednesday, February 15, 2023, 08:00 PM
Ichiraku Ramen - Konohagakure
Hari ini Hinata disuruh online oleh Sasuke untuk mencari stage 8. Hinata tak punya alasan untuk menolak karena ia masih anggota Hebi. Lagipula Naruto tak pernah membalas pesannya. Ia tak pernah tahu alasan Naruto dulu menyuruhnya keluar dari Hebi.
Pencarian hari ini lumayan menguras CP Hinata karena ia mengaktifkan byakugan secara nonstop. Sebagai satu-satunya player tipe scout di Hebi, Hinata menjadi kunci dari keberhasilan pencarian ini. Karena CP Hinata sudah kosong, akhirnya Hinata diizinkan pulang. Sebelum pulang Hinata mampir ke Ichiraku.
"Ini minumannya," kata Ayame, waitress yang sudah lumayan akrab dengan Hinata.
"Terima kasih. Oh ya Ayame-san, kau kenal Naruto?" tanya Hinata.
Ayame tersenyum ramah. "Tentu saja, dia langganan kami di sini."
"Apa kau tahu dia dimana?"
Ayame menatap Hinata sejenak lalu bertanya, "Boleh aku duduk?" Hinata mengangguk mempersilakan Ayame duduk. "Aku tidak tahu Naruto dimana. Biasanya setiap hari dia akan mampir ke sini. Hanya saja sudah 2 bulan ini dia tak pernah kesini lagi. Aku juga tak pernah melihatnya di manapun. Malah tadinya kukira kau yang tahu dia sedang ada dimana. Naruto memang periang dan gampang akrab, tapi karena dia solo player, dia jarang terlihat bersama player lain. Player yang kulihat banyak menghabiskan waktu bersamanya hanya kau seorang."
"Apa kau yakin tak pernah melihat Naruto bersama player lain?" tanya Hinata tak percaya. Masa iya orang seramah Naruto hanya menghabiskan waktu dengannya? Seharusnya orang seramah Naruto punya banyak teman. Player lain pasti akan menyukai sifat Naruto, sebagaimana Hinata menyukainya.
"Aku yakin. Yang pernah mengajaknya bergabung ke guild bukan Hebi saja. Banyak guild-guild besar lain yang pernah mengajaknya untuk bergabung. Mereka tahu Naruto bukan player sembarangan, mereka yakin Naruto memiliki level tinggi. Tapi Naruto selalu saja menolak dan memilih jadi solo player. Kurasa dia hanya socializer yang tak tertarik bergabung dengan front liner." Ayame menghela nafas pelan lalu memeluk nampan yang dibawanya. "Naruto sebenarnya jarang makan malam atau sarapan di sini, dia hanya datang di waktu makan siang. Tapi porsi makan siangnya bukan main. Dia bahkan bisa menghabiskan 10 porsi ramen. Padahal kalau dipikir secara logika, dia hanya menghambur-hamburkan uang saja. Bukankah jika makan di SO hanya avatar-mu saja yang akan kenyang? Tubuh aslimu di rumah tak akan merasa kenyang. Tapi Naruto seakan tak peduli itu dan selalu datang setiap hari ke sini. Naruto salah satu langganan ter-royal kami. Itulah yang membuatku, Tou-san, dan waitress lain merasa kehilangannya."
Hinata memegang dada kirinya yang lagi-lagi terasa sakit. "Aku juga merasa kehilangan Naruto," gumam Hinata. " Dia teman pertamaku di game ini."
"Apa dia tidak memberimu kontak IM atau email? Mungkin kalian bisa janjian bertemu di real life."
Hinata menggeleng. Jika Naruto memberinya IM atau email, pasti ia akan menghubunginya sejak lama. Ini memang hal yang aneh. Kebanyakan player justru sengaja mencantumkan IM atau email agar mereka bisa berinteraksi satu sama lain di real life. Hinata tidak menuntut untuk bertemu Naruto di real life karena ia tahu Hiashi tak akan mengizinkannya keluar rumah. Tapi paling tidak Hinata ingin tahu kabar Naruto. Bukannya apa-apa, dengan kondisi mereka yang lost contact seperti ini, Hinata takut terjadi apa-apa pada Naruto di real life yang menyebabkannya tak bisa log in dan membalas pesan Hinata.
Hinata menggeleng cepat, menghilangkan firasat buruk yang sempat terpikir olehnya. Dari pada terus menerus di sini dan pencarian Naruto tak membuahkan hasil, Hinata memutuskan untuk pulang ke rumah.
"Terima kasih Ayame-san, aku pulang dulu," pamit Hinata. Tak lupa ia menyimpan beberapa uang koin di meja.
"Ya. Aku akan mengabarimu secepatnya jika aku mendapatkan informasi mengenai Naruto."
Hinata mengangguk lalu segera log out.
To Be Continue…
A/N:
Minggu, 13-JAN-13 00:45
Wew, lagi-lagi chapter ini bengkak. Jangan tanya jumlah words-nya berapa karena saya aja yang nulisnya kaget. Haha. Saya pisah jadi 2 chapter, sisanya di-publish besok siang. Oh, sekarang udah ganti hari ya, maksudnya nanti siang. Antara jam 12 – jam 2 WIB. Sekarang review aja dulu ok!
Oh ya, saya udah bikin gambar vector Fu, sebenernya digambar 2 bulan lalu. Tapi sepertinya cocok jadi tema "Tribute to Fu, Nanabi Jinchuuriki" setelah dia meninggal di chapter ini. (Apalagi setelah banyak membahas Fu, saya mulai suka sama ni karakter cewek :p )
Ini link-nya: rifukii dot deviantart dot com/#/d5mmw9r
Arigatou
-rifuki-
