Disclaimer : Shingeki no Kyojin/Attack on Titan belong to Isayama Hajime.

Rated : M

Warning! AU, Adult Themed.

Pairing : Rivaille/Eren , Levi/Eren (RiRen)

Author's Note : Chapter 4 aman dibaca saat puasa kok :) Karena ini masih termasuk dalam plot dan tidak ada yang berbahaya. Semoga kalian menikmati, dan maaf karena lama update. Aku sangat berterimakasih pada yang mereview, follow dan favorite. Dan aku juga minta maaf karena tidak bisa membalas review kalian semua. Semoga kalian menikmat ini!

.

.


THE ADULT SHOP

Oleh Mikurira


Chapter 4 : List

.

.

Lelaki pirang itu keluar dari Limousin hitamnya. Berjalan memasuki pintu coklat bertulis closed pada bagian depannya. Mata dua orang lelaki dan seorang non-binary segera mengarah pada sosok yang baru saja masuk ke ruangan dan tengah menaruh jas kulit miliknya di salah satu sofa disana. Rambutnya pirang klimis disisir rapih dan kemeja putih membalut tubuhnya khas orang yang baru saja hendak berangkat kerja. Itu tidak lain adalah Erwin Smith.

"Kupikir kau tidak akan datang, Erwin," kata Mike menatap kearah lelaki itu.

"Lain cerita kalau ada yang bilang mau berhenti dari karirnya," ucap Erwin lagi menatap dua kelereng hitam yang memandangnya tajam itu. Rivaille berdecak.

"Begitulah, aku sudah mencoba membujuk Rivaille untuk tidak lagi mengubah keinginannya, tapi aku tidak bisa memaksa dia, baik itu Levi ataupun Rivaille," kata Mike lagi.

"Lalu sekarang apa? Raviolli? Kau ingin jadi tukang masak?" Tanya Erwin pada Rivaille. Dua mata itu kini saling memandang. Meski tidak terlihat, tapi Hanji dan Mike bisa merasakan adanya percikan api di kedua tatapan mata mereka.

"Aku sudah tidak akan menulis, dan aku juga sudah tidak melukis," kata Rivaille, "aku hanya ingin fokus pada toko ini," jelas Rivaille pada Erwin.

"Toko ini?" Erwin matanya membulat. Lelaki itu menoleh pada sosok berpakaian titan disana, tapi Hanji hanya menggeleng tidak menjawab. Lelaki bermarga Smith itu kemudian mengalihkan matanya pada Mike, tapi lelaki itu juga tidak menjawab dan hanya menghela nafas sambil mengalihkan pandangannya kearah lain, "jelaskan padaku, Levi," kata Erwin berbalik menatap lelaki itu.

"Aku tidak berniat melanjutkan pekerjaan tolol paksaan seperti itu, yah, singkatnya, aku bosan," kata Rivaille mengambil rokoknya dan menghidupkan ujung batang putih di mulutnya itu dengan korek di tangannya. Erwin mengangkat sebelah alisnya.

"Jadi karena bocah bernama Eren Jaeger?" Tanya Erwin kini menatap kearah Rivaille yang badannya bergeming saat nama itu disebut. Hanji dan Mike hanya bisa menatap dan mendengarkan kearah dua percakapan penting disana. Bagaimanapun juga mereka tidak memiliki hak untuk mencampuri urusan itu, walaupun sebenarnya mereka ingin sekali memberikan air pada api yang panas diantara keduanya saat itu.

Mata Rivaille bergerak cepat menatap iris biru Erwin di sana, ia berdecak kesal pada lelaki itu.

"Setidaknya, jika kau berhenti, kau harus memberikan salam perpisahan pada mereka, Levi—"

"Selamat pagi!" pintu itu terbuka. Sesosok lelaki berpakaian sweater merah tua dengan iris emerald di matanya itu masuk ke dalam toko yang sunyi itu. Ia terdiam sejenak saat empat pasang mata kini menatapnya. Dua diantaranya berkata untuk tidak menyerobot, sedangkan dua lainnya memandangnya tajam.

Eren sampai harus berdiri diam diambang pintu saat ia masuk kedalam atmosfir kurang menyenangkan itu.

"Eren Jaeger?" Tanya Erwin memandang kearah Eren.

"I-iya," jawab Eren sadar lelaki itu mulai berjalan mendekat kearahnya. Rivaille sontak langsung bangkit dari duduknya menatap kearah lelaki pirang itu.

"Apakah kau tahu Levi?" Tanya Erwin pada Eren, memandang iris emerald itu dengan serius.

"A-ah, tentu saja aku tahu! Dia adalah pengarang favoritku! Aku suka sekali—"

"Levi adalah nama lain dari Rivaille," kata Erwin lagi pada Eren, membuat mata emerald itu membulat kaget saat mendengarnya.

"O-oi—" Rivaille mendekat kearah dua orang itu segera, tapi Erwin segera melanjutkan kata-katanya.

"Dia bilang dia ingin berhenti," lirik Erwin saat menyadari sebuah tangan kini sudah berada di pundaknya, menariknya mundur dari hadapan sang remaja itu. Pandangan mata Eren langsung terarah pada sosok lelaki bermata gelap di hadapannya, memandanganya tak percaya.

Rivaille berdecak, ia membalikkan badannya dan menatap kearah Erwin di belakangnya, "persetan dengan itu, Erwin, katakan padaku apa yang membuatmu datang kemari?" tanya Rivaille pada dua bola mata biru yang memandangnya itu.

"Aku hanya ingin memastikan, apakah benar bahwa kau benar-benar sudah bosan dengan pekerjaanmu," kata Erwin tersenyum tipis, "lagipula, kontrakmu masih ada satu bulan ini. Jika kau mau mengakhiri kedua karirmu itu, aku ingin kau mempersembahkan yang terbaik," lanjut lelaki itu kemudian berjalan kearah pintu keluar di belakang Eren setelah mengambil jaketnya kembali, "setidaknya, untuk yang terakhir kalinya, kau membuatnya tidak dengan paksaan, tapi perasaan," ucap Erwin memandang kearah Eren dan menepuk pundak lelaki itu.

Pintu coklat berkaca itu kemudian tertutup saat sang lelaki pirang itu telah meninggalkan ruangannya. Hanji dan Mike tidak berkata kecuali kembali ke pekerjaan mereka masing-masing. Sementara Rivaille berdecak kesal membuang puntung rokoknya ke tempat sampah. Ia lalu berjalan meninggalkan Eren yang masih terbengong disana.

"T-Tunggu, sir!" cegah Eren pada Rivaille.

"Apalagi maumu bocah? Kau sudah dengar, aku memang Levi, jadi kau jangan berisik dan jangan ganggu aku," ucap Rivaille masuk ke dalam ruangan miliknya. Menutup pintu itu hingga suara bantingan pintunya terdengar jelas di seluruh penjuru ruangan.

Eren terpaku. Diam seribu bahasa berdiri di depan pintu itu hingga Hanji harus mendekat kearahnya dan menyadarkannya.

"Eren?" Hanji menepuk pundaknya, "kau masih disini?" Hanji menatap sejenak kearah wajah anak yang baru saja terkena bantingan pintu tepat di depan wajahnya. Kaget adalah salah satu ekspresi yang menggambarkan Eren di depan pintu itu.

"Hanji-san, apakah yang dikatakan oleh lelaki tadi benar?" tanya Eren melirik kearah Hanji di sebelahnya.

"Siapa? Maksudmu tentang Levi adalah Rivaille?" tanya Hanji menghela nafas, "ya, itu memang benar," kata Hanji memberitahu. Hanji sedikit tercengang saat melihat ekspresi wajah bocah di sebelahnya. Bukannya terlihat kaget atau apa, Eren malah tersenyum mendengarnya. Bahkan membuat Hanji lupa diri kalau dia adalah pecinta titan fanatik saat itu. Hanji melihat senyuman termanis dari seorang bocah 15 tahun di hadapannya, "damn Eren! Kenapa kau tersenyum?!" tanya Hanji menepuk kepala coklat itu.

"Bagaimana ini Hanji-san, sir Mike? Aku merasa sangat bahagia…" kata Eren tiba-tiba terjongkok dan menutup wajahnya yang merah itu. Hanji dan Mike hanya bertukar pandang.

"Yah, Eren, apapun itu, seberapapun kau suka dengan si Levi, sekarang kau masih harus membantuku mensortir barang yang baru masuk, ingat?" Hanji menepuk pundak lelaki itu.

"Dan, lagi, Eren, bukannya kau senang mendapat tanda tangan Levi? Bukumu juga sudah diantar langsung oleh orangnya ke rumahmu kan?" tanya Mike mengangkat kedua alisnya tersenyum.

Eren mengeratkan tangannya pada bajunya, merasa senang luar biasa. Diantaranya karena dia tahu bahwa orang yang dikaguminya selama ini ternyata ada di dekatnya dan lagi bahwa ternyata penggambaran sosoknya tentang Levi ternyata berbeda dari bayangannya. Dia tidak habis pikir kalau sosok bapak-bapak berkumis dengan jenggot dan rambut warna putih sebagai pemilik nama Levi ternyata berbeda dengan aslinya. Levi jauh lebih gagah, tampan, dan— tunggu, Eren berpikir apa?

Eren menutup wajahnya yang semakin memerah saat memori minggu lalu kembali terulang. Meskipun ia tahu benar kalau Rivaille menganggap itu hanya insting sesaat dan Eren juga menganggapnya begitu saat pembahasan keduanya sehari setelahnya, nampaknya memori itu tidak bisa kabur dari ingatannya.

"Ayolah Eren…" Hanji menarik lelaki itu untuk membantunya membuka barang yang baru saja sampai di toko itu.

Eren masih berdebar keras. Meskipun tangannya membuka kardus coklat di hadapannya, pikirannya entah melayang kemana.

"Eren, menurutmu ini masuk ke bagian DVD mana?" tanya Hanji pada Eren.

"Ja-jadi… kira-kira Levi-san akan membuat buku seperti apa bulan depan dan—oh! Berarti beliau juga yang membuat cover bukunya?" mata Eren berbinar menatap Hanji di sebelahnya, sama sekali tidak menjawab pertanyaan Hanji barusan.

Hanji menghela nafas, "Yeah, tapi dia tidak mau menulis lagi Eren, dia sudah berhenti. Dia tidak mau membuat buku lagi," kata Hanji memberitahu.

"Oi, Hanji!" Mike menatap kearah Hanji. Manusia non-binary itu langsung kaget dengan ucapannya sendiri. Dia menatap ke lelaki di sebelahnya yang kini menatapnya kaget.

"Maksud anda, apa, Hanji-san?" tanya Eren senyuman manisnya memudar, ekspresinya berubah menjadi horror, "beliau tidak akan menulis lagi?" tanya Eren nadanya kini lebih seperti memaksa untuk mengetahui.

"Errr… Begini Eren," Mike mendekat kearah Eren dan menepuk pundak lelaki itu, "Levi sudah memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya…"

"Tapi aku sangat menyukai—" Eren tercekat, ia tidak melanjutkan kata-katanya karena sebuah pikiran menghantam pikirannya, "…menyukai karyanya," ucap Eren lirih. Hanji dan Mike saling berpandangan. Keduanya kemudian menepuk dan mengelus kepala Eren saat itu.

"Yah, tapi apaboleh buat, kita tidak bisa melakukan apapun…" kata Mike pada Eren, "itu semua terserah Rivaille kan," lanjut Mike beranjak dari situ.

Dari balik pintu itu, terlihat sosok Rivaille yang terdiam memegang knot pintu menuju ke toko itu. Ia membalikkan badannya mengurungkan niatnya untuk berada disana.

.

.

.

Eren terdiam duduk di kursi kasir toko itu. Sesekali iris emeraldnya menatap kearah langit-langit kayu diatasnya. Eren kemudian mengalihkan pandangannya menatap kearah buku di tangannya, berpikir kenapa disaat dia berhasil bertemu dengan orang yang dikaguminya adalah tepat disaat di mana orang tersebut berhenti dari kegiatannya.

"Haaah…" Eren menghela nafas memeluk buku itu sambil menundukkan kepalanya di meja.

"Eren," sebuah suara memanggilnya, itu tidak lain adalah Ian Dietrich, salah satu pelanggan tetap toko itu, "oi Eren!" panggilnya lagi membuat Eren segera menatap kearah Ian dengan kaget, "kenapa kau murung begitu?" tanyanya sambil menyodorokan beberapa DVD untuk di beli.

"Entahlah," Jawab Eren singkat memasukan DVD itu ke dalam kantong plastik, "ada lagi?" tanya Eren pada lelaki itu. Ian menggeleng, "semuanya 3500Y," kata Eren mengambil uang yang diserahkan itu dan memasukannya dalam tempat uang. Diambilnya beberapa lembar uang lainnya sebagai kembalian pembelian DVD itu.

Dari kejauhan, Mike yang sedang membenahi tempat mainan terdiam menatap ke arah Eren. Lelaki itu kemudian berjalan mendekat kearah lelaki termuda di toko itu.

"Eren, kenapa kau jadi murung begitu?" tanya Mike pada Eren, "jangan bilang karena si Rivai? Kau masih memikirkan itu?" tanya Mike lagi. Eren tidak menjawab. Hanya sebuah helaan nafas yang menjadi jawaban atas pertanyaan Mike barusan.

"Aku tidak mengerti kenapa dia ingin berhenti… padahal dia memiliki banyak fans diluar sana…" ucap Eren lebih seperti menggumam daripada berkata.

"Yah, aku juga tidak tahu sih…" kata Mike menggeleng, meskipun sebenarnya lelaki itu sedikit menduga bahwa penyebabnya itu karena seorang bocah bernama Eren Jaeger yang ada dihadapannya saat ini, "mungkin dia memiliki alasan tertentu kenapa dia ingin berhenti…" ujar Mike lagi mencoba membangun semangat Eren.

Eren masih terdiam di meja itu. Kalau dipikir, memang ini semua tidak ada hubungannya dengan dia. Eren tahu melakukan sesuatu pun tidak akan mengubah pikiran Rivaille. Eren hanya seorang fans. Dia tidak punya hubungan—dalam hal ini Eren mengabaikan kalau dirinya adalah salah satu karyawan toko mesum lelaki itu dan melupakan hal mengenai apa yang dilakukan pria itu padanya waktu dirumahnya minggu lalu. Tapi yang jelas, Eren tidak lebih dari seorang fans dirinya. Dia tidak berhak untuk meminta apapun dari lelaki itu.

"Tapi tetap saja…" gumam Eren kesal.

"Ba-bagaimana kalau kau mencoba membujuknya agar dia mau menulis lagi?" tanya Mike memberi saran, "maksudku kau sebagai salah satu penggemarnya mungkin bisa membantunya, apalagi—"

Eren berdiri dari duduknya tiba-tiba. Hanji yang masih membaca majalah terbaru sampai kaget karena mendengar suara kursi Eren yang bergeser cepat saat itu, "anda benar, sir! Aku tidak akan membiarkan fans lainnya kecewa!" kata Eren lagi kemudian berlari mendekat kearah pintu coklat itu dan masuk ke dalamnya.

Mike terdiam. Hanji juga terdiam.

"Nanti kau pasti akan dimarah Rivai," kata Hanji pada lelaki itu.

"Atau mendapat pujian karena membantu sir Erwin." Kata Mike menambahkan, "yah, sekali-kali dimarahi Rivaille juga biarlah, habisnya aku kasihan melihat Eren," ujar Mike berkomentar.

"Kasihan? Kau memberikan daging pada harimau yang kelaparan, Mike," kata Hanji membalas komentar Mike. Lelaki berjanggut itu hanya terdiam menatap pintu coklat yang tertutup itu, "kuharap buku bulan depan bukan sebuah buku mengenai pedophilia atau hubungan terlarang," ucap Hanji lagi. Mike menghela nafas dan tertawa kecil menanggapinya.

.

.

Sementara itu, Eren segera berlari melewati lorong itu dan sampai di ruangan yang dituju.

"SIR!" Eren mendobrak pintu ruangan Rivaille. Lelaki pemilik ruangan yang tengah berdiri di depan meja miliknya kaget menatap ke arah Eren yang berdiri di ambang pintu. Rivaille kemudian membuang rokoknya di asbak dan berjalan mendekat ke arah pemuda itu.

"Siapa yang memperbolehkanmu masuk?" tanya Rivaille matanya menatap dalam kearah emerald Eren yang bergerak-gerak.

"A-aku tidak akan membiarkan sir Rivaille berhenti menulis!" kata Eren tiba-tiba. Rivaille terhenyak mendengar pernyataan itu, "aku mohon sir jangan berhenti menulis!" ucap Eren lagi kini berlutut dan bersiap untuk bersujud ke arah Rivaille kalau saja lelaki itu tidak segera menarik kerah baju Eren untuk bangkit lagi.

"Kau disuruh Erwin?" tanya Rivaille masih mengeratkan tangannya pada kerah baju lelaki yang lebih muda darinya itu.

Eren kaget, Erwin? "Tidak sir! Ini murni keinginanku!" kata Eren menggenggam tangan Rivaille di kerah bajunya dan bangkit.

Rivaille terdiam. Eren juga terdiam menatap manik hitam di depannya tanpa sedikitpun rasa takut. Dalam hatinya dia berharap kalau hal yang dilakukannya ini bisa mengubah jalan pikiran seorang Levi. Tapi melihat ekspresi Rivaille yang tidak berubah itu nampaknya gagal. Sebuah helaan nafas kemudian meredakan keadaan tegang atmosfir aneh di ruangan itu. Rivaille kemudian melepaskan tangannya dari kerah baju Eren.

"Sesukamu," kata Rivaille kemudian beranjak dari situ dan duduk di kursinya meninggalkan Eren yang masih berdiri di ambang pintu ruangan itu.

"Jadi? Anda tidak akan berhenti menulis?" tanya Eren nadanya bahagia cerah dan berbinar wajahnya.

"Tidak, bocah, tidak ada yang bisa menghentikan pilihanku," jawabnya singkat.

Raut wajah Eren kemudian kembali mendung, "Ka-kalau begitu, apa yang bisa kulakukan agar anda mau menulis lagi sir?" tanya Eren tangannya mengepal di depan dadanya, berharap ia bisa membuat sang penulis merubah pikirannya untuk berhenti dari pekerjaannya, "apakah anda tidak kasihan dengan para penggemar karya-karya anda di luar sana?" tanya Eren pada Rivaille.

"Tidak," jawab Rivaille datar. Eren terhenyak.

"A-apa yang harus kulakuan agar anda kembali menulis sir…" Eren nadanya merendah. Matanya berkaca menatap ke sisi lain ruangan itu. Lelaki yang memperhatikannya dari kursi itu hanya terdiam. Dalam pikirannya ada sejuta pemikiran absurd nan rancu terencana yang disusunnya saat ini.

Rivaille kemudian memulai berbicara lagi, "kecuali kau mau membantuku," ucap Rivaille menatap kearah wajah Eren yang kini menatapnya dengan penuh harapan.

"A-akan kulakukan apapun agar anda tidak berhenti sir!" kata Eren tanpa berpikir terlebih dahulu tentang bahayanya ia mengatakan itu pada seorang Rivaille.

Kedua mata Rivaille kini bergerak menatap ke arah Eren yang menatapnya serius. Matanya berkedut, sebelah alisnya terangkat mendengar pernyataan dari Eren barusan, "hooo?" Rivaille tersenyum tipis saat mendengarnya. Senyumnya sangat tipis hingga tidak ada yang menyadari kalau pria itu tengah tersenyum.

Bergidik ngeri dengan pernyataannya barusan, Eren segera menambahkan ucapannya, "ta-tapi aku tidak mau disuruh membunuh… sir…" ucap Eren mengalihkan pandangannya ke arah lain, "se-selama itu normal dan aku masih bisa membantu! Aku mohon sir! Jangan berhenti!" kata Eren lagi kini membungkuk memohon.

"Aku tetap akan berhenti, bocah" kata Rivaille, "tapi aku akan menulis buku terakhirku sebagai gantinya," ucap Rivaille lagi. Entah harus merasa senang atau sedih, Eren tidak tahu.

"A-aku tidak tahu harus senang atau sedih sir… kuharap anda akan terus menulis…" ucap Eren lirih, "ka-kalau begitu saya permisi—"

"Eren," panggil Rivaille tiba-tiba. Lelaki yang dipanggil menoleh sebelum benar-benar keluar dari ruangan itu. Rivaille hanya terdiam menatap ke dua bola mata Eren yang memandangnya.

"Ya?"

"Aku ingin kau mencari benda-benda ini di toko," kata Rivaille menulis di secarik kertas dan memberikannya pada Eren, "berikan padaku besok," ucap Rivaille lagi.

Eren terdiam melihat list itu, beberapa diantaranya ada yang diketahui olehnya dan beberapa lagi tidak. Wajah eren memanas ketika sebuah kata blindfold terbaca olehnya. Kenangan absurd kembali muncul di kepalanya, membuat sebuah rona merah keluar dari pipinya. Hanya dengan melihat beberapa kata di list itu, saat ini dia bisa memastikan bahwa list itu berisi mainan mesum semua. Bagaimanapun juga, Eren adalah pegawai toko dewasa. Jadi sedikitnya ia tahu beberapa benda yang ada disana.

"I-ini?" Eren menatap kearah Rivaille dengan bingung dan takut.

"Kau mau membantuku atau tidak?" tanya Rivaille pada Eren.

Eren menelan ludahnya sendiri dengan keras, " i-iya…" jawab Eren keluar dari ruangan itu.

Ia keluar dari ruangan itu dan berjalan di koridor gelap itu dalam diamnya. Entah kenapa dia memiliki firasat buruk saat ini. Tapi apapun yang terjadi, Eren tidak ingin sesama penggemar karya Levi lainnya menerima hal buruk yang sama dengannya. Apalagi mengetahui penulis kesayangan mereka akan berhenti.

Eren menghela nafas dan akhirnya sampai di meja kasirnya kembali. Ia langsung disambut hangat oleh Mike dan Hanji yang segera mendekat ke arahnya. Wajah Eren masih sedikit takut dan resah saat menatap kearah kertas di tangannya.

"Bagaimana? Kau berhasil membujuknya?" tanya Hanji pada Eren.

"Dia bilang akan menulis sih… tapi untuk yang terakhir…" kata Eren lagi sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal. Mike dan Hanji saling menatap satu sama lain, "lalu aku disuruh membawakan ini dari toko… besok…" Eren memberikan secarik kertas itu pada dua orang disana. Mereka berdua kemudian terdiam membaca isi list yang ada di kertas itu. Seketika, mata Hanji dan Mike langsung membulat saat menatapnya.

"Oke, Eren, maafkan aku," kata Mike menepuk pundak Eren tiba-tiba sambil menyerahkan kertas itu kembali, "maaf menjerumuskanmu," ucapnya lagi kini membuat Eren hanya bisa ber-'eh?' karena tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Hanji pun begitu, ia segera menepuk pundak Eren sambil mengangguk memberi semangat.

"Aku bisa membantumu mencarikan ini, Eren, tapi aku berharap kau bisa selamat dari maut," ucap Hanji pada Eren.

"A-apa? Kenapa?" tanya Eren pada dua orang disana.

"Kau tahu, Levi tidak pernah berbohong dalam menulis," kata Mike memberitahu, "jadi kali ini mungkin bahan-bahan dan benda-benda yang kau suruh bawakan ini akan jadi bagian dari tulisannya…" ucap Mike mengalihkan pandangannya, "dan aku bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya…" gumamnya lagi sambil menepuk kepalanya sendiri.

"Menarik, fufufu, kuharap Levi mau membahas tentang titan," tawa Hanji terkikik geli.

Mendengar percakapan aneh diantara kedua orang itu, Eren entah kenapa merasa bulu kuduknya merinding sendiri. Ia berharap kalau Rivaille tidak melakukan hal-hal aneh dengan benda-benda dari list yang diberikan padanya saat itu.

.

.

.

.

Sementara itu, Rivaille di ruang kerjanya masih terduduk di kursinya sambil menatap kearah layar monitornya. Ia kemudian berhenti mengetik sebelum akhirnya mengambil telefon genggam miliknya di atas meja dan menekan beberapa tombol di sana untuk menghubungi seseorang yang dimaksud. Tak lama kemudian, sebuah suara berat berwibawa terdengar di sana.

"Halo?"

"Erwin, kau bilang apa pada Eren?" tanya Rivaille pada lelaki itu cepat.

"Apa maksudmu, Levi? Aku tidak berkata apapun padanya," jawab Erwin dengan suara tawa kecil diakhir nada bicaranya. Levi mengernyitkan dahinya, "jadi? Apakah kau sudah memutuskannya?" tanya Erwin pada lelaki itu.

Rivaille berdecak, "tsk, aku terima untuk terakhir kalinya, Erwin, setelah ini jangan paksa aku lagi," kata Rivaille pada lelaki itu. Erwin tersenyum. Meskipun Rivaille tidak melihat lelaki itu, ia bisa tahu ekspresi wajah Erwin yang nampak bahagia dengan pilihannya kali ini.

"Well, Levi, kau mengejutkanku. Sudah kuduga ini ada apa-apanya dengan pemuda Jaeger itu," ucap Erwin tertawa kecil, "Lalu? Kali ini apa? Jangan katakan kali ini adalah buku abal-abal yang kau tulis asal, Levi," ucap Erwin pada Rivaille dengan nada serius.

"Tidak, aku serius brengsek, akan kuserahkan mentahnya tiga minggu lagi," kata Rivaille memberitahu.

"Jadi kali ini apa yang akan kau tulis? Novel atau…?"

"Kali ini aku akan menulis tentang toko ini, The Adult Shop."

.

.


Bersambung


.

.

Author's note : hiyaaa, maaf sekali posting chapter empat ini di hari pertama puasa. Tapi ini aman kok wwww, maaf kalau lama update, apalagi bulan puasa ini (Orz) jadi harap maklum. Lalu untuk chapter depan akan lebih panjang dari ini karena saya rasa satu chapter 3k itu sangat sedikit, lalu saya update chapter selanjutnya mungkin setelah buka mohon bantuannya dan dukungannya ya :') makasih banyaak :'3

Sebelumnya, saya mohon maaf bila ada yang tidak berkenan dihati dan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan.

Review?