Kuimani bahwa menulis adalah cinta…
.
.
.
THE DIPLOMAT'S WIFE
Kom Så, Yixing!
Part I
.
.
.
SuLay
.
.
.
GS! for UKE
.
.
.
-000-
Baekhyun memilihkan Privathospitalet di Jægersborg Alle 14, sebuah rumah sakit swasta terbesar di Denmark. Kebetulan rumah sakit yang satu ini masih berada di wilayah Charlottenlund, hanya membutuhkan waktu lima belas menit jika ditempuh dengan mobil dari rumah dinas duta besar Republik Korea untuk Kerajaan Denmark. Berhubung Baekhyun terbiasa menyetir sendiri Bentley Continental-nya yang mentereng, mereka berdua pun tak perlu repot-repot memilih taksi untuk mencapai Privathospitalet.
Agaknya Baekhyun sudah tidak asing dengan Privathospitalet, pasalnya nyonya glamor itu dengan mudah mengenali koridor-koridor menuju poli kebidanan dan kandungan tanpa perlu repot-repot membaca papan penunjuk jalan atau bertanya pada perawat yang kebetulan melintas. Baekhyun juga sangat terampil untuk mendaftarkannya di bagian registrasi, sejenak mengundang tatapan ingin tahu dari petugas di loket. Maklum, coat musim gugur yang dikenakan Baekhyun terlalu heboh dengan bulu-bulu cerpelai yang rawan mengundang amukan aktivis WWF, ditambah dengan tata rias yang lebih cocok untuk pemotretan. Penampilannya jelas berbeda seratus delapan puluh derajat dengan penampilan Yixing yang terbilang sederhana. Mau tak mau Yixing merasa sedikit minder, merasa terbanting dengan penampilan glamor Baekhyun. Yixing bahkan sempat berburuk sangka, berpikir bahwa Si Petugas mengira Baekhyun tengah mengantar asistennya alih-alih sahabat untuk memeriksakan kandungan.
Yixing tidak perlu menunggu terlalu lama untuk bertemu dr Elsebeth Bjerre Madsen, salah satu ginekolog yang tersedia siang ini. Secara fisik, sosok dr Madsen cukup mengesankan bagi Yixing. dr Madsen memiliki leher yang panjang, tetapi memberikan kesan kuat dan kokoh. Yixing mungkin sedikit kurang ajar karena membayangkan jerapah saat melihat dokternya ini, beruntung tidak bertahan lama. Raut wajah dr Madsen sukses mengambil alih fokus Yixing, bahkan membuatnya kagum lantaran raut wajah yang sejatinya keras itu memancarkan aura kecerdasan tersendiri, juga kharisma yang tak sanggup ditutup-tutupi. dr Madsen tipe orang yang mampu memukau siapa pun pada pandangan pertama, memberikan semacam keyakinan pada pasien-pasiennya bahwa dia lebih dari sekadar bisa untuk diandalkan. Yixing pribadi memiliki feeling yang baik terhadap dokter yang satu ini dan dia harap hasil pemeriksaan dr Madsen sesuai dengan ekspektasinya.
"Kapan hari pertama menstruasi terakhir Anda, Nyonya?" dr Madsen bertanya setelah memberikan Yixing kesempatan untuk menyampaikan keluhannya. Bahasa Inggris-nya sempurna, sama sekali tidak diwarnai aksen Denmark. Alih-alih aksen Denmark, bahasa Inggris-nya justru kental dengan aksen Amerika.
Satu hal lagi yang menarik dari dr Madsen adalah suaranya yang serak-serak basah, seksi. Laki-laki dijamin sulit untuk tidak berpikiran jorok saat mendengar suara Sang Dokter hingga Yixing merasa ragu, apakah sebaiknya mengajak suaminya atau tidak untuk berkonsultasi dengan dr Madsen di lain kesempatan. Konyol memang, Yixing sadari itu. Cepat-cepat Yixing menepiskan pemikiran tidak penting semacam itu, memilih untuk segera mengingat-ingat tanggal yang ditanyakan oleh dr Madsen.
"3 September," Yixing menjawab, mantap. Sejatinya dia bukan tipe pengingat yang baik, tetapi untuk kasus kali ini ingatan Yixing tengah berada dalam mode terbaiknya. Terpujilah suaminya yang bernama Kim Joonmyeon. Jika bukan karena Joonmyeon meminta 'jatah malam' pada hari itu, Yixing tentu tak bakal ingat. Yixing masih ingat, saat itu dia masuk hari pertama menstruasi. Mau tak mau dia harus menolak permintaan Joonmyeon.
dr Madsen menghitung-hitung dengan cara memperhatikan kalender, kemudian memutuskan untuk melakukan pemeriksaan melalui USG transvaginal lantaran perkiraan usia kehamilan masih di bawah lima minggu. Sebelumnya Yixing sudah pernah mendengar USG jenis ini, tetapi menjalaninya untuk kali pertama tetap saja membuat risih. Beruntung Baekhyun cukup pengertian dengan tidak ikut masuk ke bilik pemeriksaan, memilih menunggu di kursi yang disediakan di depan meja dr Madsen. Kendati Baekhyun sudah dianggapnya sahabat bahkan kakak perempuan, mencopot celana dalam dan memperlihatkan asetnya di depan Baekhyun dirasakan Yixing bukan pilihan yang menyenangkan.
dr Madsen dengan raut wajahnya yang keras dan suaranya yang serak-serak basah entah kenapa seolah berubah menjadi sosok yang lain di mata Yixing, tepat saat dia mengumumkan hasil pengamatannya terhadap objek di layar monitor.
"Well, kantongnya sudah mulai kelihatan. Sudah masuk minggu keempat, Nyonya. Tillykke (selamat). Anda akan jadi ibu," kata dr Madsen. Sekilas dia menatap Yixing dan melemparkan senyum kecil sebagai bonus.
Detik itu juga sosok dr Madsen seakan menjelma malaikat dan suaranya entah kenapa terdengar jauh lebih merdu dari Karen Marie Aagaard Ørsted alias MØ, solois populer Denmark yang lagu-lagunya belakangan rajin didengarkan Yixing. Bahkan lebih daripada itu, kalimat demi kalimat yang meluncur dari bibir merah delima milik Sang Dokter dirasakan Yixing sebagai berkat. Demi Tuhan, dia hamil!
Rasa tidak nyaman akibat peralatan USG transvaginal yang dipasang melalui kewanitaannya seketika lenyap. Sebagai gantinya, yang Yixing rasakan adalah kaget, juga tidak percaya.
Hamil. Dia benar-benar hamil. Mual, pusing, dan muntah yang dirasakannya lima hari terakhir ternyata bukan gara-gara masuk angin apalagi 'mabuk lutefisk', melainkan karena ada calon manusia yang tengah tumbuh di dalam tubuhnya. Anaknya!
Yixing seakan linglung. Dia tidak menyahuti dr Madsen, bahkan masih bungkam hingga pemeriksaan usai. Berkali-kali dia mengelus perutnya sendiri, sementara paras manisnya setia memetakan ekspresi kebingungan, seakan-akan menantikan dr Madsen mengatakan, "April Mop!" seraya tertawa keras-keras. Reaksinya sungguh berbeda dengan Baekhyun yang tampak luar biasa girang dan memeluknya erat-erat di depan dr Madsen setelah Sang Dokter berbaik hati berbagi informasi seputar hasil pemeriksaannya.
Yixing benar-benar persis orang linglung, sampai-sampai Baekhyun harus mengguncang bahunya pelan begitu mereka keluar dari ruangan dr Madsen.
"Xingxing, kau kenapa? Kenapa diam saja?" Baekhyun kedengaran khawatir.
Yixing kaget, seakan-akan baru menyadari eksistensi Baekhyun di sampingnya.
"Baekhyun-ah," Yixing menatap sahabatnya itu lurus-lurus, "jadi aku benar-benar hamil?" tanyanya polos.
Mendengar ini, Baekhyun tak kuasa menahan tawanya.
"Oh My God, Xingxing! Pertanyaan macam apa itu? Kau bisa membuat dr Madsen tersinggung kalau saja beliau mendengarmu!" Nyonya glamor itu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan geli.
"Tentu saja kau hamil, Sweetie. Here," Baekhyun meraih satu tangan Yixing, menyentuhkan telapak tangan Yixing di perutnya sendiri, "ada bayimu." Dia tersenyum manis.
"Kau bakal jadi ibu, Xingxing," Baekhyun menambahkan seraya membantu menggerakkan tangan Yixing untuk mengusap perut milik calon ibu yang satu ini.
Merasakan usapan telapak tangannya sendiri di perutnya yang masih rata, Yixing seolah baru sadar bahwa dia tidak sedang bermimpi. Dia benar-benar hamil. Dia akan jadi seorang ibu. Menyadari hal ini, perasaan haru seketika membuncah. Tanpa sadar air matanya berlinangan, sampai-sampai Baekhyun sesaat terkejut dibuatnya.
"Aigoo, aigoo, uri Xingxing," Baekhyun terkekeh melihat Yixing berderaian air mata haru. Di matanya, Yixing justru terlihat begitu menggemaskan.
"Seharusnya kau tersenyum dan menyapa anakmu, bukan malah meneteskan air mata seperti ini, Sweetie."
Nyonya glamor itu dengan lembut membantu mengusap air mata Yixing menggunakan tisu.
"Sekali lagi selamat, ya," kata Baekhyun dengan tulus. "Suamimu pasti senang sekali, mengetahui Kim Joonmyeon Jr ada di sini sekarang. Aduh, rasanya lucu mengetahui gadis cilik ini sebentar lagi punya bayi."
Baekhyun mengusak pelan rambut Yixing yang halus dengan penuh sayang, kemudian turut menyentuhkan telapak tangannya ke perut Yixing, memberikan usapan kecil di sana.
"Hi, Little One. I'm your tante, Baekkie. Can't wait to see you, Darl," sapa Baekhyun pada calon bayi dalam perut Yixing. Alih-alih aunt, Baekhyun lebih memilih nomina tante yang berasal dari bahasa Denmark untuk menyebut 'bibi'.
Mendengar Baekhyun menyebut-nyebut tentang Joonmyeon, Yixing yang tengah terharu tiba-tiba merasakan gugup menyusup masuk ke dalam relung-relung hatinya. Yixing gugup membayangkan seperti apa reaksi suaminya nanti begitu dia memberitahukan kehamilannya dan semakin gugup memikirkan cara untuk memberitahu Joonmyeon tentang kehamilannya ini. Terus terang saja, Yixing dan Joonmyeon masih seringkali canggung satu sama lain meski mereka sudah mengungkapkan perasaan masing-masing dan berkomitmen untuk belajar saling mencintai.
'Bagaimana ini? Aku pasti canggung sekali saat memberitahu Joonmyeon Oppa nanti, juga salah tingkah sendiri. Dan Joonmyeon Oppa… Dia pasti senang mengetahui kehamilanku ini, 'kan?'
Benaknya dipenuhi dengan Joonmyeon dan Joonmyeon, sampai-sampai dia tak sadar kalau Baekhyun berinisiatif menariknya menjauhi poli kandungan dan kebidanan.
-000-
Baekhyun sama sekali tidak mengizinkannya untuk mengikuti kelas bahasa Denmark petang ini dan sebagai gantinya memberikan ultimatum untuk istirahat di rumah. Bahkan untuk menemui teman-temannya sesama personel The Chinese Dinner Team di Risteriet pun Baekhyun tidak mengizinkan. Kondisinya yang jauh dari kata prima menjadi pertimbangan Baekhyun. Yixing memang masih merasakan pusing dan lemas sehingga Baekhyun keukeuh memintanya istirahat di rumah. Walhasil di sinilah Yixing sekarang, di apartemennya alih-alih Risteriet. Beruntung teman-temannya memaklumi 'sakit kepala' yang dijadikan Yixing alasan untuk absen dari sesi diskusi bersama mereka.
Yixing mematuhi perintah Baekhyun untuk beristirahat di apartemen, ditemani Stine Lundager Kjærsfeldt selaku asisten rumah tangganya. Stine sibuk memotong-motong sayuran di meja makan, menuruti permintaan Yixing yang ingin ditemani ngobrol. Kebetulan Stine memang tipe orang yang hobi ngobrol. Jadilah permintaan Yixing tidak sia-sia dan dia tidak perlu bengong di meja makan.
"Ini keberuntungan Anda dan Si Kecil, Madam. Danmark negara yang sangat cocok untuk membesarkan anak-anak. Anda sama sekali tidak perlu khawatir." Kecuali saat menyebutkan nama Danmark alias Denmark dalam bahasa setempat, Stine menggunakan bahasa Inggris beraksen Denmark yang kental seperti biasanya.
Stine kentara benar gembira menyambut berita seputar kehamilan Yixing. Sejatinya Yixing tidak ingin memberitahu Stine terlebih dahulu, tetapi Baekhyun justru memberitahu Stine setelah berkeras memanggilnya petang ini untuk mengambil alih tugas menyiapkan makan malam sekaligus menemani Yixing sampai Joonmyeon pulang. Baekhyun bahkan mewanti-wanti Stine, memintanya mengharamkan Yixing memasak atau membersihkan rumah. Tak heran kalau sekarang Stine-lah yang sibuk alih-alih Yixing.
Yixing tersenyum kecil mendengar komentar Stine, memperlihatkan lesung pipitnya yang menawan.
"Tapi tetap saja aku agak khawatir," Yixing menanggapi Stine sambil mengelus-elus perutnya dengan penuh sayang, aktivitas yang sedari tadi terus-menerus dilakukannya. "Aku hanya berdua saja dengan suamiku di sini, jauh dari keluarga masing-masing. Kami juga tidak punya pengalaman mengurus bayi."
Stine terkekeh. "Mengenai itu, untuk apa khawatir? 'Kan ada saya," kata Stine tanpa mengalihkan perhatiannya dari wortel yang tengah dipotong-potong di atas talenan.
"Soal mengurus bayi, saya sudah teruji di lapangan, Madam. Anda lihat sendiri, bukan? Kasper dan Thea bahkan bisa tumbuh besar dan sehat seperti itu." Stine menyebutkan nama kedua anaknya seraya mendongak untuk menatap Yixing lewat ekspresi jenaka.
Yixing gantian terkekeh. Dia hampir lupa bahwa Stine seorang ibu. Bahkan kedua anak Stine, Kasper dan Thea, mereka sepasang saudara kembar yang sehat dan ceria. Yixing kebetulan pernah beberapa kali bertemu kedua bocah itu saat keduanya ikut ayah mereka menjemput Stine pulang.
"Astaga, kau benar." Yixing mengerjapkan matanya, meniru Stine dengan memasang mimik jenaka. "Aku punya seseorang yang bisa diandalkan di sini. Mohon bantuannya, Tante Stine."
"Dengan senang hati," balas Stine riang. "Saya paling senang mengurus bayi. Mereka manis, menggemaskan. Ngomong-ngomong soal mengurus bayi, itu mudah dan menyenangkan, kok," dia menyemangati Yixing.
"Yang penting, hati selalu senang. Saat hamil juga sama, hati harus selalu senang. Kondisi psikis sangat berpengaruh pada Si Kecil, lho."
"Aku senang, kok," Yixing buru-buru menanggapi. "Senang sekali, malah." Sejenak dia menunduk, memandangi perutnya yang masih rata dengan penuh sayang.
"Itu bagus." Stine tersenyum manis. "Ngomong-ngomong soal Si Kecil, kira-kira siapa nama panggilannya selama di perut? Orang Korea punya kebiasaan memberi nama panggilan untuk janin, 'kan? Nyonya diplomat yang menempati rumah ini sebelum Anda juga sempat hamil dan dia memanggil bayi di perutnya dengan nama 'Hygge', soalnya dia bilang ingin anaknya selalu gembira, be hygge," cerita Stine tentang mantan majikannya. Dia menyebutkan hygge, sebuah istilah Denmark untuk menyebut konsep 'kesenangan jiwa' yang konon menjadi resep hidup bahagia ala orang Denmark.
"Aku belum memikirkan nama," jawab Yixing. "Biar nanti kudiskusikan dulu dengan suamiku."
"Benar juga." Stine mengerjapkan matanya yang berwarna hazel. "Wah, jadi penasaran. Kira-kira seperti apa reaksi Mr Kim nanti, ya? Mudah-mudahan beliau bisa lebih ceria setelah tahu bakal punya anak. Terus terang saja, selama ini wajah stoic-nya membuat saya takut."
Yixing tak bisa menahan tawanya mendengar komentar Stine tentang Joonmyeon. Jangankan Stine yang statusnya asisten rumah tangga. Yixing yang berstatus istrinya Joonmyeon saja masih sering takut setiap kali Joonmyeon berada dalam mode stoic!
"Jujur, aku juga masih sering takut setiap kali Joonmyeon Oppa dalam mode stoic," beber Yixing, disambut tawa geli Stine.
"Tapi Anda mencintainya," goda Stine. Perempuan Denmark itu lagi-lagi terkekeh lantaran menangkap semburat merah di pipi Yixing.
"Mudah-mudahan saja kehadiran Si Kecil bisa memancing ayahnya untuk lebih ekspresif, lebih romantis terhadap ibunya," Stine semakin senang menggoda Yixing yang tampak tersipu-sipu seperti gadis remaja. Kadang Stine merasa heran sendiri melihat Yixing. Nyonyanya itu masih seperti anak SMA baik dari segi fisik maupun personality. Stine tak habis pikir kenapa perempuan manis, polos, dan menggemaskan seperti Yixing justru menikahi laki-laki yang serius, kaku, dan punya tampang stoic macam Joonmyeon, jauh lebih tua pula! Sayang sekali kalau menurut Stine, tetapi yang namanya jodoh memang tak ada yang tahu.
Stine benar-benar sukses menggoda Yixing, pasalnya Yixing benar-benar merona parah sekarang. Nyonyanya itu terlihat semakin imut dan menggemaskan dengan pipi merah mendekati warna kepiting rebus, tampak malu-malu tapi tak kuasa menutupi seri di wajahnya. Bagi Stine, rasanya sulit dipercaya bahwa nyonyanya ini tak lama lagi bakal resmi menjadi seorang ibu. Demi Tuhan, Yixing itu kecil, mungil, imut, menggemaskan, benar-benar masih kelihatan seperti anak SMA!
Sementara Stine tersenyum-senyum mengamatinya, Yixing lagi-lagi membayangkan seperti apa reaksi Joonmyeon saat diberitahu perihal kehamilannya nanti. Perasaan gugup pun kembali menyusupi hati Yixing. Dia tak sabar ingin segera memberitahu Joonmyeon, tetapi di sisi lain dia bingung, juga malu, tidak tahu bagaimana sebaiknya memulai pembicaraan soal kehamilan.
'Kira-kira aku harus bilang apa, ya?' Yixing bertanya-tanya dalam hati. 'Aduh, aku bingung!'
-000-
Stine benar-benar mematuhi perintah Baekhyun untuk menemani Yixing sampai Joonmyeon pulang. Walhasil dia masih ada di sana ketika Joonmyeon memasuki apartemen pukul delapan malam waktu Copenhagen. Sementara Stine sedang sibuk beres-beres dapur usai memasak makan malam untuk Joonmyeon, Yixing bergegas menuju ruang tamu untuk menyambut kepulangan suaminya.
Seperti biasa, Joonmyeon masih terlihat rapi dengan seragam kerjanya. Rambutnya bahkan masih sama kelimis seperti tadi pagi. Lelaki yang berprofesi sebagai diplomat itu memang cukup peduli soal penampilan. Ngomong-ngomong soal penampilan, secara fisik Joonmyeon masih terlihat hampir sepuluh tahun lebih muda dari usianya saat ini yang menginjak angka empat puluh. Kendati demikian, tetap saja dia tak bisa menyembunyikan aura kedewasaan dan kematangannya sebagai lelaki berumur. Semuda-mudanya penampilan fisik Joonmyeon, tetap saja dia terlihat jomplang jika bersisian dengan istrinya yang manis dan punya tampang polos lagi menggemaskan bak anak SMA.
"Oppa sudah pulang," Yixing menyambut suaminya yang baru selesai mencopot sepatu di ruang tamu. Senyum manis terukir di bibirnya untuk Joonmyeon. Berbeda dengan bulan lalu saat dia dan Joonmyeon masih belum mengungkapkan perasaan masing-masing, sekarang senyum manis Yixing terkesan lebih lepas.
Seperti biasa, Yixing mengulurkan tangan untuk mengambil alih tas kerja Joonmyeon.
"Tidak usah, Yixing-ah," tolak Joonmyeon halus. Dia membalas senyum istrinya. Nyaris samar-samar, tapi Yixing bahagia bukan main.
"Aku cuma mampir sebentar, lalu berangkat lagi. Malam ini aku harus menginap di kantor. Lembur. Boleh minta tolong siapkan bekal? Kau sudah masak, 'kan?"
Yixing yang semula cerah ceria menyambut Joonmyeon mendadak sedikit redup. Demi apa, Joonmyeon malah harus lembur disaat Yixing tengah bersiap memberitahukan kabar gembira!
Akan tetapi, Yixing adalah istri yang patuh lagi berbakti. Alih-alih protes, Yixing justru kembali mengulas senyumnya yang manis meski tak selebar tadi seraya menyahut takzim, "Akan kusiapkan. Tunggu sebentar, ya. Oppa minum jus saja dulu. Itu sudah kusiapkan."
Telunjuk lentiknya terarah ke meja, tepatnya pada segelas jus jeruk yang bertengger manis di sana.
"Tunggu, Yixing-ah."
Joonmyeon sekonyong-konyong menahan tangan Yixing, mengejutkan istrinya itu.
"Ada apa, Oppa?"
Joonmyeon memindai wajah manis yang terkesan polos milik Yixing lewat tatapan matanya. "Kau pucat," kata Joonmyeon dengan nada menilai. "Apa kau sakit?"
Wajah tampan Joonmyeon yang dihiasi gurat-gurat lelah memang dalam mode stoic seperti biasa, tetapi tatapan matanya sarat kekhawatiran dan itu sukses menghadirkan perasaan hangat di dalam hati istrinya.
Yixing lagi-lagi tersenyum, menikmati perhatian Joonmyeon terhadapnya. "Aku tidak apa-apa, kok, Oppa," jawab Yixing lembut. Dia cukup pengertian untuk tidak membuat Joonmyeon semakin khawatir lantaran suaminya itu harus kembali bekerja. "Cuma sedikit capek saja."
'Aku pusing, sih. Lemas juga. Tapi tidak apa-apa kok, Oppa. Anggap saja ini semacam OSPEK dari Si Kecil. Ya, Oppa. Sekarang di dalam tubuhku ada calon bayi. Anak kita,' Yixing menambahkan dalam hati.
"Sungguh?" Joonmyeon kedengaran sangsi.
Yixing mengangguk. "Sungguh. Aku tidak apa-apa. Sebentar ya, aku siapkan bekal Oppa dulu."
Dengan lembut Yixing melepaskan tangan Joonmyeon dari tangannya, kemudian bergegas meninggalkan ruang tamu untuk menyiapkan bekal yang diminta Joonmyeon. Yixing bisa merasakan tatapan Joonmyeon terpancang pada punggungnya, tapi dia memilih untuk mengabaikan. Urusan bekal Joonmyeon jauh lebih penting bagi Yixing sekarang.
Yixing melangkah memasuki dapur dan disambut dengan tatapan heran dari Stine. Stine terheran-heran melihat nyonyanya tampak lesu, padahal tadi Yixing terlihat ceria bukan main saat mendengar pintu ruang tamu dibuka.
"Ada apa, Madam? Kenapa Anda kelihatan lesu?" Stine tak bisa menahan diri untuk bertanya. "Ada yang tidak beres?"
"Joonmyeon Oppa harus lembur malam ini," Yixing menjawab seraya menghampiri rak untuk meraih kotak bekal keluaran Lock&Lock. "Dia hanya pulang sebentar untuk mengambil bekal."
Yixing tanpa sadar mencebikkan bibir, tampak kecewa berat. Tampangnya benar-benar menggemaskan hingga Stine tak kuasa menahan senyum geli. Stine tahu Yixing mengharapkan malam ini menjadi quality time antara dirinya dengan Joonmyeon sekaligus momentum untuk memberitahukan kehamilannya pada laki-laki itu.
"Bagaimana kalau Anda selipkan foto hasil USG di kotak bekal Mr Kim, Madam?" Stine membisikinya, memberi usul. "Pasti bakal jadi kejutan manis."
"Aku ingin memberitahunya langsung," tolak Yixing. Sejatinya dia memuji ide Stine di dalam hati, tapi Yixing lebih tertarik untuk memberitahu suaminya secara langsung. Menurut Yixing itu jauh lebih berkesan, apalagi ini anak pertama mereka.
"Sudahlah. Besok saja kuberitahu Oppa."
Nada bicaranya terdengar menahan kesal. Agaknya Yixing mulai badmood. Stine pun waspada. Sebagai perempuan yang sudah berpengalaman soal kehamilan, Stine lebih dari paham bahwa badmood merupakan hal yang sangat rawan dialami perempuan hamil.
"Maaf ya, Baby." Yixing menunduk untuk memandangi perutnya seraya mengusapnya pelan. "Besok saja kita beritahu Pappa."
Yixing berjalan menjauhi dapur dengan kotak bekal Lock&Lock di tangan, meninggalkan Stine yang diam-diam tersenyum sambil menggumam pelan dalam bahasa ibunya, "Aduh, padahal ideku bukan main bagus. Jadi ingat dulu Hans-Kristian langsung pulang ke rumah dan menghujaniku dengan ciuman begitu menemukan foto hasil USG Kasper dan Thea yang kuselipkan di kotak bekalnya. Ah, tapi aku tak yakin Mr Kim bakal bereaksi seperti Hans-Kristian waktu itu, sih. Hans-Kristian 'kan memang ekspresif. Beda dengan Mr Kim yang stoic akut itu."
Stine terkekeh, dalam hati merasa geli sekaligus iba pada nyonya manisnya yang bersuamikan lelaki paling kaku sedunia menurut versinya.
-000-
Dapur ini terasa sempit dan pengap kendati kedua jendelanya yang tinggi dibuka lebar-lebar, memudahkan akses bagi uap masakan untuk keluar dan bergabung dengan udara musim gugur yang mengisi paru-paru kawasan Reventlowsgade di Distrik Vesterbro. Maklum, ada lebih dari lima orang yang ada di sini termasuk Yixing, masing-masing terlihat sibuk dan beberapa kali harus bolak-balik untuk mengambil sesuatu. Berhubung luasnya tak seberapa, ada saja yang tak sengaja saling bertabrakan atau minimal menyenggol entah siku entah bahu, mengiringi arus percakapan yang disajikan dalam berbagai bahasa, mulai dari bahasa Inggris campur Denmark sampai bahasa Mandarin yang seolah tiada hentinya.
"Tante Fei, Pinky, kira-kira garamnya berapa sendok?" Dara berambut trondol yang dikenali Yixing sebagai senorita bernama Stefania Hernandez terdengar bertanya pada sosok paruh baya bertubuh gemuk yang dipanggilnya 'tante' dan sosok cantik yang berdiri tak jauh darinya. Nona Spanyol itu tampak sibuk menghadapi panci berkepul. Tampangnya kentara benar kebingungan.
"Åh Gud (OMG), Lisa! Kau mau didemo gara-gara menyajikan spring rolls berwujud mengerikan seperti ini untuk harga 40 krone yang terlanjur dibayarkan?" Kali ini giliran salah satu sahabat baik Yixing—Mireille Chastain—yang bersuara. Nona Perancis yang cantik itu mengomeli gadis bernama Lalisa Manoban, sosok gadis berambut oranye yang tampaknya kelewat hobi menari sampai-sampai menyempatkan diri mempraktikkan dance dari salah satu girlgroup asal Korea favoritnya —Red Velvet—sambil menggulung spring rolls.
"Aigoo! Irene Unnie jjang!" Alih-alih menggubris Mireille, Lalisa justru makin asyik menirukan gerak tari dari personel Red Velvet favoritnya yang bernama Irene. Tatapannya bahkan tak lepas dari ponselnya yang tengah memutar video musik milik Red Velvet.
"Astaga! Anak ini benar-benar persis bola bekel! Tak bisa diam! Hei, Lisa, kenapa tak ke Korea saja untuk mencoba peruntungan menjadi trainee? Siapa tahu kau bisa jadi personel girlgroup." Satu-satunya cowok di dapur yang menjadi partner Lisa dalam menggulung spring rolls berkomentar sambil menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan tingkah Lisa.
"Takuya Oniisan berisik, deh," Lisa membalas dengan tanpa dosa, direspon kekehan geli dari cowok bernama Takuya yang punya tampang lembut lagi ramah itu.
"Aduh, Mireille Jie! Nyaris tumpah adonan pudingku! Ngomong-ngomong, kau sudah ingatkan Mitya untuk beli plastik?" Gadis berpenampilan swag yang bernama Jia ikut sumbang suara di dapur dan termasuk salah satu oknum yang membuat ruwet lantaran mondar-mandir terus untuk mengambil ini dan itu.
"Sudah. Malah kukirim pesannya di grup supaya Daniel dan Ajay ikut membacanya juga!"
Terus terang saja, Yixing semakin pusing dengan situasi yang kacau semacam ini. Kepalanya pusing, perutnya mual. Aroma bumbu yang menyengat terasa mengusik penciumannya dan menggoda lambungnya untuk bergolak. Yixing ingin sekali muntah, tapi sekuat tenaga dia tahan. Demi Tuhan, dia sedang memasak!
Oh please, sepagian tadi dia sudah muntah-muntah sekitar empat kali, beruntung suaminya tak terbangun saat dia muntah-muntah. Joonmyeon pulang ke rumah pukul empat subuh dan langsung terkapar di tempat tidur, sementara Yixing yang malang terpaksa menyingkir ke kamar sebelah demi tujuan mulia tak ingin mengusik tidur tampan suaminya hanya gara-gara dia harus bolak-balik kamar mandi untuk muntah. Sepertinya Si Kecil di dalam perut Yixing semakin senang 'mengospek' ibunya setelah eksistensinya diketahui, pasalnya Yixing merasa kemarin-kemarin mualnya tidak separah ini.
Yixing agak menyesal tidak menuruti anjuran Stine untuk beristirahat saja hari ini, tapi bagaimana pun juga dia tidak enak hati untuk absen dari kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya. Hari ini dia dan beberapa orang temannya sesama pemelajar bahasa Denmark di Københavns Sprogcenter alias Copenhagen Language Center kebagian jatah menyiapkan makan malam dengan menu masakan China. Copenhagen Language Center memang memiliki program makan malam bagi murid-muridnya setiap bulan, tepatnya setiap hari Selasa kedua. Uniknya, yang kebagian jatah menyiapkan makan malam adalah murid-murid yang sudah ditunjuk dalam satu kelompok. Mereka diminta menyiapkan makan malam kurang lebih sebanyak empat puluh porsi untuk dinikmati murid-murid lain yang harus membayar kupon seharga 40 krone. Untuk bulan ini, masakan China terpilih sebagai menu dan Yixing terpilih masuk ke dalam Chinese Dinner Team.
Teman-temannya memilih menu sup wonton, ayam kungpao, dan spring rolls sebagai makanan berat, ditambah dengan puding beras sebagai hidangan penutup. Yixing kebagian jatah memasak ayam kungpao bersama Zhou Jieqiong atau yang biasa disapa Pinky, gadis cantik bak model yang didapuk menjadi ketua regu dan berstatus pemilik dapur. Keponakan pemilik dapur lebih tepatnya, pasalnya dapur ini berada di ruko yang disewa oleh paman dan bibinya, tak jauh dari kampus sprogcenter di Valdemarsgade 16. Pembagian jatah ini sungguh nahas bagi Yixing, pasalnya bumbu ayam kungpao yang biasanya masuk list bumbu favoritnya kini justru menjelma musuh besar. Yixing mual bukan main menghirup aromanya, ditambah kepalanya semakin pusing lantaran perempuan paruh baya bertubuh gemuk di sebelahnya terus-menerus mengoceh, mengajaknya mengobrol dalam bahasa Mandarin.
"Nanti kalau mau beli bumbu-bumbu datang saja ke sini, ya. Untuk Yixing nanti Ahyi kasih diskon. Ahyi sedia bumbu-bumbu Korea juga, lho. Lengkap."
Wang Feifei yang dikenalkan Jieqiong sebagai bibinya adalah perempuan paruh baya yang ceria dan hobi mengobrol. Yixing benar-benar apes lantaran dia mendapat tempat persis di sebelah Feifei yang disapanya 'ahyi', apalagi Feifei sepertinya senang sekali kedatangan teman-teman Jieqiong yang sama-sama orang China. Sialnya lagi, Feifei paling berminat pada Yixing yang dianggapnya menarik lantaran Yixing sempat keceplosan mengatakan dirinya sudah menikah dengan orang Korea. Feifei sama sekali tak tahu-menahu bahwa Yixing tengah mati-matian menahan mual sehingga terus saja mengoceh tanpa dosa.
"Biasanya masak apa di rumah? Suamimu doyan masakan China tidak? Hari ini Ahyi masak babi asam manis. Kalau mau, nanti Ahyi bungkuskan untukmu."
Sungguh, seandainya saja Yixing sedang tidak mual dan pusing seperti ini, dia pasti dengan senang hati menanggapi Feifei yang ramahnya bukan main dan belum apa-apa sudah menganggap Yixing seperti keponakan sendiri. Sayang, kondisinya saat ini benar-benar payah, mau tak mau menjadikan sosoknya pasif dan terkesan irit bicara.
"Ahyi, saya… Saya harus ke kamar mandi."
Oke, Yixing sudah mencapai limit. Dia harus ke kamar mandi sekarang!
Feifei agak kaget, tetapi tangannya yang besar segera menunjuk arah selatan. "Kamar mandi ada di sana."
Mendengar instruksi Feifei, Yixing langsung melesat menuju kamar mandi. Nyaris saja dia bertabrakan dengan sosok jangkung setinggi 185 senti milik Annette van Nistelrooy—salah satu karibnya—yang datang dari arah berlawanan dengan tas belanja di tangan.
"Astaga, Poppy! Hei, kau kenapa? Wajahmu kenapa makin pucat begini?" Annette kelihatan kaget. Seperti biasa, dia memanggil Yixing dengan nama 'Poppy' yang berasal dari kata pop alias boneka dalam bahasa ibunya, bahasa Belanda.
Yixing tak menggubris. Apa daya, dia malah langsung muntah. Beruntung telapak tangan kanannya dengan sigap menutupi mulut. Jika tidak, bisa dipastikan Yixing bakal mengotori lantai.
"Oh, astaga! Poppy! Kau muntah? Ayo ke kamar mandi!"
Annette van Nistelrooy rupanya termasuk tipe cepat tanggap terhadap situasi, juga perhatian. Terbukti dia malah mencampakkan tas belanjanya dan langsung menggiring Yixing ke kamar mandi. Tidak tanggung-tanggung, nona asal Rotterdam itu menunggui Yixing yang muntah-muntah sambil memijat-mijat tengkuk Yixing, sama sekali tidak kelihatan jijik. Bahkan mengernyitkan kening atau menutupi hidung pun tidak. Alih-alih jijik, Annette malah kelihatan khawatir bukan main melihat Yixing terbungkuk-bungkuk di depan wastafel.
"Hoeekk… Hoeekk…"
"Kau sakit begini, kenapa masih nekat, sih? Tadi 'kan aku dan Mireille sudah menyarankan agar kau pulang saja. Istirahat di rumah."
Sekarang Annette mengomelinya. Memang saat baru datang tadi, Annette langsung menebak kalau Yixing sedang tidak sehat. Dia dan kompatriotnya, Mireille, sudah meminta Yixing untuk pulang dan istirahat saja di rumah. Sayangnya Yixing menolak lantaran sudah berkomitmen untuk membantu teman-temannya memasak. Yang lain sih senang-senang saja melihat Yixing keukeuh ikut membantu. Maklum, mereka butuh tenaga, sampai-sampai wajah pucat Yixing untuk sesaat tak masuk prioritas mereka.
Yixing tak menanggapi Annette. Dia sudah berhenti muntah-muntah, tapi kepalanya terasa berputar. Dia pusing bukan main. Pandangannya terasa kabur, lalu entah kenapa tiba-tiba berubah gelap.
"Astaga! Poppy!"
Pekikan kaget milik Annette van Nistelrooy menjadi suara terakhir yang sampai ke telinga Yixing. Selanjutnya, Yixing merasakan dunianya sunyi senyap dan tentu saja… Gelap.
"Poppy!"
-000-
Yixing terbingung-bingung ketika mendapati dirinya berada di ruangan yang asing, tepatnya sebuah kamar yang dinding-dindingnya dilapisi wallpaper berwarna biru langit. Terbingung-bingung, lalu terkejut lantaran menyadari bahwa dirinya dikelilingi oleh wajah-wajah familiar yang tengah memperhatikannya dengan tampang khawatir. Meski kepalanya terasa berat dan pandangannya masih agak kabur, Yixing bisa mengenali siapa mereka semua: teman-temannya di sprogcenter.
"Oh Tuhan, akhirnya kau sadar juga, Poppy!"
Annette van Nistelrooy menepuk-nepuk bahunya, terlihat setengah lega dan setengah kesal. "Kau ini membuat kami panik, tahu!"
"Ini… Di mana?" Yixing bertanya dengan bingung. Suaranya begitu lirih, nyaris tak terdengar.
"Di rumah bibiku," Jieqiong yang duduk di kiri ranjang menyahut dalam bahasa Mandarin. "Tadi kau pingsan di kamar mandi, jadi kami membawamu ke sini."
Jawaban Jieqiong perlahan tapi pasti menuntun ingatan Yixing untuk bergerak mundur. Pelan-pelan, Yixing mulai teringat pada momen dirinya muntah-muntah di kamar mandi dengan Si Jangkung Annette di sampingnya.
"Astaga…" Yixing menggigit bibir. Dia benar-benar tak enak hati lantaran sudah menyusahkan teman-temannya. "Maaf, aku…"
"Sudah, sudah. Tidak apa-apa, Poupée. Tidak apa-apa." Mireille Chastain tersenyum menenangkan seraya mengelus-elus lengan Yixing. Seperti Annette, Mireille juga punya panggilan khusus untuk Yixing. Poupée alias boneka dalam bahasa Perancis. Rupa-rupanya Mireille juga sependapat dengan Annette, merasa bahwa Yixing ini seperti boneka.
"Untung saja tadi ada Annette yang sigap menopang tubuhmu. Kalau tidak, entah bagaimana jadinya. Bayimu bisa kenapa-kenapa."
Penuturan Mireille membuat sepasang mata indah Yixing membola.
"Kau… Dari mana…" Yixing tanpa sadar mengelus perutnya yang terlindung kemeja katun bermotif kotak-kotak kuning dan biru.
"Dokter yang memberitahu kami," Annette menjawab dengan tangkas. "Beruntung sekali tadi ada pembeli di toko Tante Fei yang kebetulan berprofesi sebagai dokter. Dia berinisiatif memeriksamu waktu melihat kami menggotongmu turun untuk dibawa ke klinik. Dia bilang kemungkinan besar kau hamil. Poppy, apa kau ini tak tahu kalau kau hamil? Atau bagaimana? Suamimu kedengaran kaget bukan main waktu aku meneleponnya tadi dan menanyakan apa benar kau hamil, makanya kau muntah-muntah dan pingsan segala. Dia bilang tidak tahu."
Kejutan yang lain lagi. Sepasang mata indah Yixing lagi-lagi membola.
"A-apa, suamiku?" Yixing benar-benar kaget. "Kau… Meneleponnya?"
Annette mengangguk. "Ya. Aku khawatir dengan kondisimu. Apalagi dokter itu bilang kemungkinan besar kau hamil, jadi aku memutuskan untuk menelepon suamimu. Beruntung aku menemukan nomor kontaknya di buku agendamu."
Yixing tiba-tiba ingin menangis begitu mendengar penjelasan Annette. Demi Tuhan, bukan seperti ini skenario yang dia inginkan untuk memberitahu Joonmyeon perihal kehamilannya!
"Tadi suamimu bilang bakal menjemputmu. Mudah-mudahan saja dia segera sampai, biar kau bisa cepat pulang dan istirahat di rumah," Annette kembali angkat bicara.
Oh, ya ampun!
Sekarang ingin rasanya Yixing membenturkan kepala ke dinding. Joonmyeon akan datang menjemputnya! Oh Tuhan, dia tidak berani membayangkan seperti apa reaksi Joonmyeon saat melihatnya nanti!
"Nah, Poppy, sekarang aku ingin tanya. Apa kau benar-benar hamil?" Annette sekonyong-konyong menanyainya, diiringi raut penasaran di wajah teman-temannya yang lain.
Sadar bahwa tak ada gunanya menutup-nutupi, Yixing pun mengangguk lemah.
"Oh, astaga! Poppy! Oh, ya ampun! Gadis kecil mungil sepertimu bakal punya bayi. Oh, astaga!" Annette mendadak heboh. Kendati sebelumnya dia yakin betul bahwa Yixing memang hamil, pernyataan langsung dari Yixing tetap saja membuatnya kaget. Bukan apa-apa, hanya saja Annette merasa takjub mengetahui Yixing yang di matanya masih seperti bocah lantaran punya perawakan mungil dan paras manis menggemaskan seperti boneka ternyata bakal jadi ibu.
Di sebelahnya, Mireille Chastain malah sampai meneteskan air mata haru. "Selamat, Sayang." Dia memeluk Yixing. "Ma petite poupée (boneka kecilku)akan jadi ibu. Aku bakal punya keponakan!"
Teman-temannya yang lain tak kalah heboh. Mereka bergantian mengucapkan selamat dan melayangkan komentar bernada sama: tak percaya kalau Yixing ternyata memang sedang hamil.
Sementara teman-temannya terlihat antusias menyambut berita bahagia darinya, Yixing justru terlihat resah lantaran memikirkan reaksi Joonmyeon saat menjemputnya nanti. Yixing takut Joonmyeon marah lantaran dia sudah membuat khawatir, apalagi sekarang masih masuk jam kerja. Joonmyeon seorang workaholic. Yixing tahu itu. Akan tetapi, Joonmyeon malah berinisiatif menjemputnya. Alih-alih terharu oleh inisiatif Joonmyeon, Yixing justru merasa tak enak hati mengingat jam kerja Joonmyeon jadi terganggu karenanya.
Sebagian teman-temannya masih setia menemaninya di kamar sambil mengajaknya berbincang soal kehamilan ketika pintu kamar mendadak diketuk. Jia yang kebetulan duduk paling dekat dengan pintu bergegas membukanya. Tampak sosok gemuk Feifei berdiri di balik pintu, diikuti sosok tampan yang tampil necis dengan blazer berwarna hitam. Sosok tampan yang memetakan gurat-gurat kecemasan di wajahnya. Kim Joonmyeon.
"Yixing sudah siuman? Oh, syukurlah." Feifei tampak lega. "Yixing, ini suamimu datang menjemput, Nak," dia beralih kode ke dalam bahasa Mandarin.
Yixing meneguk ludah menyaksikan suaminya memasuki kamar. Joonmyeon benar-benar menjemputnya! Gugup dan cemas seketika menyergap Yixing, bahkan semakin menjadi-jadi kala tatapannya bersirobok dengan tatapan milik suaminya.
"Saya Kim Joonmyeon. Suami Yixing. Senang bertemu Anda semua."
Kim Joonmyeon memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris di depan orang-orang asing yang memenuhi kamar ini, tetapi tatapan milik diplomat tampan itu sama sekali tak lepas dari istrinya yang terlihat takut-takut menyaksikan kedatangannya, bahkan mengkeret saat langkahnya semakin mendekati ranjang.
"Yixing-ah."
.
.
.
Kkuljaemi
