[REMAKE] Tutor by Moegi Yuu

.

.

Main Casts: Byun Baekhyun, Park Chanyeol

And others.

Genre: Romance, Humor.

Rated: M

.

.

Warning: Yaoi, Some Age-Switch, OOC, No Children

Disclaimer: Cerita sepenuhnya milik Moegi Yuu.

Saya hanya mengganti nama karakter dan beberapa hal lainnya agar sesuai.

.

.

Really hope you guys will enjoy this story~

Review, kritik dan saran sangat dinanti.

No bash. If you hate ChanBaek or hate this story then don't read.

Thank you.

.

.

Pls read remaker's note in the end of the story if you don't mind.

.

.


Chapter 4


"Gunting! Batu! Kertas!"

"Yay!"

"Nah, sudah diputuskan, Baekhyunnie lah yang akan mengenakan kostum itu!"

"Ah, tidaaaaaakkkk!"

Baekhyun memandang teman-temannya dengan tatapan memelas. Saat ini, dia dan teman-teman satu kelasnya sedang sibuk mempersiapkan kelas mereka untuk festival sekolah yang akan diadakan sebentar lagi. Kelas mereka akan membuka cafe dengan tema cosplay animal dan ada satu kostum yang benar-benar tidak ingin dikenakan oleh setiap murid laki-laki di kelas mereka, termasuk Baekhyun. Namun, sepertinya Baekhyun harus mengenakan kostum itu nanti karena dia baru saja kalah dalam permainan gunting batu kertas.

"Ah, jadi kau kalah? Kau benar-benar lemah dalam permainan gunting batu kertas, Baekhyun-ah!" Sahut Jongin, teman sekelas Baekhyun yang bisa dikatakan paling dekat dengannya.

"Jongin-ah..."

Jongin tertawa. "Ya, mau bagaimana lagi kalau begitu," ucapnya menahan geli. "Lagipula, mungkin saja kau akan menikmatinya nanti."

"Dasar bodoh!" Seru Baekhyun kesal. "Kau sendiri tidak mau mengenakan kostum itu kan? Kalau kau pikir aku akan menikmatinya, kenapa tidak kau saja yang mengenakan kostum itu?!"

"Hey, tenang tenang." Jongin melangkah mendekat dan merangkul bahu Baekhyun santai. "Ini karena akhir-akhir ini kau sudah jarang bermain denganku, jadi anggap saja ini hukuman bagimu, okay?!"

Baekhyun mengerucutkan bibirnya sebal. Dalam hati dia sedikit merasa bersalah juga. Akhir-akhir ini, dia memang selalu menolak ajakan main dari Jongin. Setiap pulang sekolah, dia harus langsung pulang untuk belajar atau mengikuti les privat dengan Chanyeol.

"Jangan bilang kau sudah punya kekasih, Baekhyun-ah!"

Baekhyun tersentak mendengar ucapan Jongin. Jantungnya tiba-tiba berdebar tidak karuan karena wajah Chanyeol seketika melintas di dalam kepalanya. Dia bisa merasakan wajahnya memanas seketika. Dengan cepat, dia melepas rangkulan Jongin dan mengalihkan pandangannya.

"Bukan begitu," ucap Baekhyun pelan.

"Hmm, benarkah?" Tanya Jongin tidak yakin.

Baekhyun menganggukkan kepalanya. Dia menghela napas panjang. Dia merasa benar-benar senang ketika Chanyeol mengatakan kalau mereka adalah sepasang kekasih, tetapi sebenarnya Baekhyun sama sekali tidak pernah bertemu atau menghabiskan waktu dengan Chanyeol di luar rumah. Apa mereka benar-benar bisa disebut berpacaran kalau seperti ini? Baekhyun tiba-tiba saja menjadi tidak yakin.

"Hey, Baek. Kau baik-baik saja?" Jongin mengguncang bahu Baekhyun ketika melihat ekspresi Baekhyun berubah sedih.

"Tidak apa-apa," jawab Baekhyun. Dia mengusap kepala Jongin pelan sembari tersenyum. "Maafkan aku, Jongin-ah, karena akhir-akhir ini jarang menghabiskan waktu denganmu. Kau tahu ibuku menyuruhku untuk lebih serius belajar akhir-akhir ini. Aku juga harus les privat dengan tutor di rumahku."

"Hmm, kalau begitu, lain kali..." Jongin menarik kerah baju Baekhyun, tetapi terhenti ketika dia melihat beberapa bekas kemerahan di daerah leher Baekhyun. Jongin tersentak di tempatnya. Dia tahu benar bekas apa itu.

"Hey, jangan tiba-tiba menarikku seperti itu. Kau membuatku kaget," ucap Baekhyun sembari merapikan kerah bajunya.

Jongin tak menjawab. Senyum di wajahnya luntur dan dia menatap Baekhyun tajam. Melihat apa yang baru saja dia lihat, dia yakin benar sekarang kalau Baekhyun sedang menyembunyikan sesuatu darinya, dan sesuatu itu adalah sesuatu yang besar.

Semua tanda itu. Dia yakin benar Baekhyun tidak akan mungkin melakukan hal-hal seperti itu. Jongin mengenal benar seperti apa sahabatnya satu itu. Hanya ada satu kemungkinan, seseorang memaksa Baekhyun, dan Jongin akan mencari tahu siapa orang itu.

"Hey, Jongin-ah!"

Jongin tersentak mendengar panggilan Baekhyun.

"Kembalilah ke tempat duduk. Seonsaengnim akan datang sebentar lagi," Baekhyun memberitahu.

"Ah, baiklah."

.

.


.

.

"Baekhyun-ah, sebentar lagi akan ada festival di sekolahmu kan?"

Baekhyun tersentak di tempatnya mendengar ucapan Chanyeol. Kantuknya yang tadi mulai datang seketika menghilang. Matanya menatap ke arah Chanyeol yang tersenyum memandangnya.

"B-Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Baekhyun memandang Chanyeol tak percaya. Baekhyun mengutuk dalam hati. Kenapa Chanyeol bisa tahu? Dia bahkan tidak memberitahu ibunya soal ini. Dia sudah berusaha keras menyembunyikan soal hal ini dari orang-orang di sekitarnya. Sebelumnya, Baekhyun memang selalu semangat ketika festival sekolah tiba, tapi untuk tahun ini dia benar-benar tidak mau hari itu datang.

"Aku melihat posternya di stasiun kereta," jawab Chanyeol. Dia mengambil poster yang ia maksud di dalam tasnya dan memberikannya kepada Baekhyun.

Baekhyun memandang poster itu dengan datar. Tentu saja para panitia akan memasang poster soal festival sekolah ini di stasiun kereta. Sepertinya, saat ini keberuntungan memang sedang tidak berpihak kepadanya karena Chanyeol melihat poster ini disana.

"Benar kan?" Chanyeol tersenyum memandang Baekhyun.

"Ah, iya..." jawab Baekhyun pelan.

"Kalau begitu aku akan mengosongkan jadwalku pada hari itu. Karena festival ini diadakan satu tahun sekali dan tahun-tahun sebelumnya aku tidak pergi, tahun ini aku akan pergi mengunjungimu disana," Chanyeol memberitahu Baekhyun.

"Ah, tidak! Kau tidak boleh datang!" Seru Baekhyun.

Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan bertanya. Baekhyun sendiri langsung terdiam setelah menyadari bahwa dia pasti terlihat mencurigakan langsung menyuruh Chanyeol untuk tidak datang seperti itu.

"Kenapa aku tidak boleh datang?" Tanya Chanyeol kemudian.

Baekhyun menggaruk kepalanya dan tertawa canggung. "Uhm, itu karena... karena..." ucapnya terbata. "Itu karena festival sekolah kami sama sekali tidak menarik. Tidak ada yang antusias menunggu hari itu. Kau pasti akan sangat bosan dan menyesal jika kau memutuskan untuk datang kesana."

Chanyeol menaikkan sebelah alisnya.

"Jadi, tolong jangan datang!" Lanjut Baekhyun sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

Chanyeol menghela napas panjang. "Well, kalau kau bilang begitu..."

Baekhyun menatap Chanyeol memohon. Dia benar-benar akan mati karena malu jika Chanyeol memutuskan untuk datang.

Chanyeol sendiri menyeringai dalam hati melihat ekspresi di wajah Baekhyun. Dia yakin pasti Baekhyun sedang menyembunyikan sesuatu darinya soal festival sekolah itu. Dia kemudian mengangkat tangannya untuk menyentuh dagu Baekhyun.

"Chan-Chanyeol-ah?"

Chanyeol terdiam sejenak menatap Baekhyun, namun beberapa saat kemudian dia tersenyum. Dan bagi Baekhyun, senyum Chanyeol saat ini benar-benar terlihat menyeramkan.

Ketika Chanyeol memandangnya seperti ini, Baekhyun terkadang merasa bahwa Chanyeol bisa melihat langsung ke dalam dirinya. Baik itu ketika Baekhyun berbohong, atau ketika Baekhyun menginginkan Chanyeol untuk menyentuhnya dan menciumnya, Baekhyun merasa Chanyeol bisa langsung tahu segalanya.

Chanyeol mendekatkan wajah mereka dan kemudian mencium Baekhyun lembut. Tanpa ragu, Baekhyun membalas ciuman Chanyeol. Kedua tangannya perlahan melingkar di leher Chanyeol dan Chanyeol menggerakkan jari-jarinya pelan di belakang leher Baekhyun.

Baekhyun mencoba mengatur napasnya yang terengah-engah setelah Chanyeol melepaskan ciuman mereka. Jantungnya berdebar dengan sangat kencang, sampai-sampai Baekhyun yakin bahwa Chanyeol pasti bisa mendengar suara dari debaran jantungnya itu. Chanyeol sendiri terkekeh melihat wajah Baekhyun yang memerah. Baekhyun terlihat benar-benar imut di matanya.

"Baiklah kalau begitu," ucap Chanyeol sembari berdiri dari duduknya dan meraih mantel juga tasnya. "Kita akhiri dulu untuk hari ini. Sampai jumpa lagi, Baek."

"Ah, ya, terima kasih untuk hari ini," Baekhyun ikut berdiri dan memegang ujung mantel Chanyeol. "Aku akan mengantarmu sampai ke pintu."

Chanyeol terkekeh dan menggelengkan kepalanya. "Benarkah tidak apa-apa?" Tanyanya. "Kau harus melihat wajahmu saat ini. Pipimu benar-benar merah dan bibirmu juga basah dan membengkak. Apa tidak apa-apa jika ada orang lain yang melihatmu seperti ini?"

Baekhyun menatap Chanyeol tak percaya. Dia bisa merasakan wajahnya semakin terasa panas setelah mendengar ucapan Chanyeol.

"Selamat malam, Baek," Chanyeol tertawa dan keluar dari pintu. Meninggalkan Baekhyun yang merengut kesal di tempatnya.

Baekhyun berjongkok di depan pintu kamarnya dan mengusap wajahnya frustasi. "Sial, memangnya siapa yang membuatku seperti ini?" Gumamnya sebal.

Chanyeol benar-benar suka membully Baekhyun, tetapi dia juga sangat lembut kepada Baekhyun. Walaupun Baekhyun merasa dia akan puas hanya dengan berada di sisi Chanyeol, dalam lubuk hati Baekhyun yang terdalam, dia ingin lebih memonopoli Chanyeol untuk dirinya sendiri. Baekhyun bertanya-tanya dalam hati apakah Chanyeol akan muak jika dia tahu isi hati Baekhyun yang sebenarnya?

"Aku ingin bersamanya, tidak hanya ketika kami adalah seorang murid dan guru," ucap Baekhyun pelan. Dia terdiam sejenak sebelum masalah soal festival sekolah kembali muncul di dalam ingatannya. "Aku ingin bersamanya, tetapi tidak di festival sekolah. Ya, tidak di festival sekolah."

Baekhyun berdoa di dalam hati, berharap agar Chanyeol tidak akan datang ke festival sekolahnya. Dia tidak mau Chanyeol melihatnya dengan kostum yang akan dikenakannya nanti. Itu akan sangat-sangat memalukan. Baekhyun benar-benar harus menyimpan rahasia ini dari Chanyeol.

.

.


.

.

Chanyeol menutup pintu mobilnya dan melihat pintu gerbang EXO High School di hadapannya dengan senyum miring di wajahnya. Chanyeol bisa melihat betapa meriahnya festival sekolah di hadapannya. Apa-apaan? Baekhyun ternyata benar-benar berbohong. Tidak ada yang antusias apanya? Chanyeol bahkan merasa bahwa festival sekolah Baekhyun ini merupakan festival sekolah terbesar yang pernah ia lihat.

Chanyeol melangkahkan kakinya masuk menyusuri jalanan dengan berbagai macam stan di kanan kirinya. Chanyeol bisa merasakan mata orang-orang yang memandanginya ketika dia lewat, tetapi dia menghiraukan semuanya. Yang ada di dalam pikiran Chanyeol sekarang adalah dia harus cepat menemukan kelas Baekhyun. Dia semakin penasaran dengan apa yang kelas Baekhyun lakukan sampai-sampai Baekhyun harus berbohong agar Chanyeol tidak datang ke festival ini.

"Selamat datang di Animal Cafe, kelas 3B!"

Suara seseorang yang berteriak menyebutkan nama kelas Baekhyun membuat Chanyeol menghentikan langkahnya. Dia menoleh dan melihat seorang murid laki-laki dengan kostum kelinci berdiri sambil memegang poster dengan tulisan 3B, nama kelas Baekhyun di depan dadanya.

"Permisi," Chanyeol menghampiri murid laki-laki itu. "Apa benar ini kelas dari Byun Baekhyun? Apa Baekhyun ada disini?"

Murid laki-laki itu memandang Chanyeol sejenak sebelum akhirnya menjawab. "Byun Baekhyun? Ah, ya, ini kelasnya. Tunggu sebentar, akan aku panggilkan. Baekhyun-ah, ada seseorang yang mencarimu!"

Chanyeol mengarahkan kedua matanya ke arah murid laki-laki itu memanggil dan seketika menyeringai ketika dia menangkap Baekhyun yang berdiri tak jauh dari tempatnya berada. Penampilan Baekhyun benar-benar luar biasa. Dia segera mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya dan dengan antusias mengambil foto Baekhyun berkali-kali.

"Seseorang siapa?" Baekhyun menoleh dan berteriak kaget ketika melihat Chanyeol berdiri di depan pintu masuk. Dia menjatuhkan baki di tangannya dan berusaha menutupi wajahnya. "Chanyeol-ah, apa yang kau lakukan disini? Tolong berhenti. Kenapa kau mengambil fotoku?"

Chanyeol tersenyum lebar. Matanya menyusuri tubuh Baekhyun dari atas hingga bawah dan Baekhyun benar-benar berharap bumi untuk menelannya saat ini juga. Ini benar-benar memalukan. Dia benar-benar tidak mau Chanyeol melihatnya dalam keadaan seperti ini. Kostum yang dia kenakan benar-benar memalukan.

Baekhyun mengenakan kostum waiter dengan tema anjing. Sebenarnya, Baekhyun tidak masalah dengan temanya, tetapi kostum ini membuatnya mempertontonkan perutnya dan celana yang ia kenakan juga terlalu pendek. Dia benar-benar tidak percaya Chanyeol akan melihatnya dalam keadaan seperti ini.

"Hmm, ternyata ini yang kau sembunyikan," Chanyeol menyeringai sembari memasukkan kembali ponselnya ke dalam sakunya. "Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang sedang aku lihat saat ini."

Baekhyun bisa merasakan tubuhnya merinding seketika melihat seringai di wajah Chanyeol. "Karena itu aku tidak mau kau datang!"

"Kostum ini terlihat bagus untukmu, tetapi..." Chanyeol melangkahkan kakinya mendekat ke arah Baekhyun. "Kau benar-benar anak yang nakal karena sudah menyembunyikan semua ini dariku."

"I-Itu karena aku tidak punya pilihan," sahut Baekhyun.

Chanyeol terkekeh dan menarik kostum bagian atas Baekhyun yang hanya menutupi dadanya. Jari-jarinya perlahan bergerak di atas kulit Baekhyun yang terlihat. "Walaupun begitu, apakah harus kau memakai kostum yang benar-benar mempertontonkan tubuhmu seperti ini?" Tanya Chanyeol sembari mendekatkan bibirnya di telinga Baekhyun. "Apa ini semua memang kemauanmu? Aku tidak menyangka kau menyukai hal-hal seperti ini. Kau benar-benar pervert."

"C-Chanyeol-ah..."

"Hmm?"

Baekhyun menarik napas dalam-dalam dan kemudian mendorong tubuh Chanyeol menjauh dari tubuhnya. "Jangan melakukan hal seperti ini. Lihatlah, semua orang melihat kita!" Seru Baekhyun dengan wajah memerah.

Chanyeol menatap ke sekelilingnya. Benar saja, tampak semua orang di dalam kafe sedang melihat ke arah mereka dengan tatapan penasaran. "Maafkan aku," Chanyeol tertawa keras. "Aku benar-benar tidak bisa menahan diriku."

Baekhyun menatap Chanyeol sebal dan kemudian menarik Chanyeol ke salah satu meja disana. "Kau mau pesan apa?" Tanyanya kemudian.

"Ah, padahal aku masih mau bermain-main denganmu," ucap Chanyeol dengan nada sedih.

"Berhentilah bertingkah seperti anak kecil. Aku disini bukan untuk bermain-main," Baekhyun menghela napas panjang. "Cepatlah! Kau mau pesan apa?"

"Aku pesan kopi saja," jawab Chanyeol.

"Baiklah kalau begitu. Tunggu sebentar dan jangan berbuat aneh-aneh," ucap Baekhyun sembari melangkah untuk mengambil pesanan Chanyeol.

Chanyeol tertawa kecil dan bertopang dagu menatap Baekhyun yang melangkah pergi dari mejanya. Dia tidak menyadari tatapan tajam dari seseorang di tengah keramaian yang mengarah kepadanya.

"Ini kopimu," Baekhyun meletakkan secangkir kopi di atas meja Chanyeol.

"Terima kasih," jawab Chanyeol tersenyum. Dia menyesap kopinya dan Baekhyun memperhatikannya dengan wajah yang masih memerah, membuat Chanyeol tertawa dalam hati. Baekhyun benar-benar imut. "Kau benar-benar percaya aku tidak akan datang?"

Baekhyun merengut. "Aku kira aku berhasil membohongimu," gumamnya.

"Tapi kau tidak berhasil," ucap Chanyeol bangga. "Dan aku juga berhasil mendapatkan foto-foto yang bagus disini. Aku benar-benar beruntung."

"Berhenti menggodaku!" Seru Baekhyun. "Cepat hapus foto-foto itu!"

"Tidak," jawab Chanyeol cepat. "Aku akan menyimpannya sebagai hukuman karena kau sudah berbohong dan menyembunyikan semua ini dariku."

Baekhyun menatap Chanyeol tajam, tetapi Chanyeol sama sekali tidak takut dengan tatapan Baekhyun. Dia hanya tersenyum sambil terus menikmati kopinya. Baekhyun sendiri dalam hati sebenarnya merasa senang juga. Ini adalah pertama kalinya dia bisa bertemu dengan Chanyeol di luar rumah selain saat dia mengembalikan map milik Chanyeol waktu itu. Hal seperti ini benar-benar kesempatan yang sangat jarang Baekhyun dapatkan.

"Hey, Baekhyun-ah!"

Baekhyun menoleh dan melihat Jongin melangkah ke arahnya.

"Para murid perempuan mencarimu di dapur. Sebaiknya kau hampiri mereka, Baek," Jongin memberitahu Baekhyun.

"Ah, benarkah?" Tanya Baekhyun.

Jongin menganggukkan kepalanya.

Baekhyun melirik ke arah Chanyeol dan kemudian menarik ujung jaket Chanyeol pelan, membuat Chanyeol menoleh. "Chanyeol-ah, aku akan mendapatkan waktu istirahatku sebentar lagi. Tunggu aku dan aku akan mengajakmu berkeliling," ucap Baekhyun pelan.

"Apa kau akan mengajakku berkeliling dengan kostum itu?" Tanya Chanyeol antusias.

Baekhyun menatap Chanyeol datar. "Tentu saja aku akan berganti pakaian," jawabnya, membuat Chanyeol menatapnya dengan tatapan kecewa. "Ya sudah, sampai jumpa nanti. Aku akan segera kembali."

Chanyeol melambaikan tangannya ke arah Baekhyun yang melangkah pergi. Dia baru saja hendak menyesap kopinya lagi ketika dia merasakan seseorang berdiri di sampingnya. Dia menoleh dan melihat laki-laki yang memanggil Baekhyun tadi, Jongin, menatapnya dengan seksama.

"Permisi?" Tanya Chanyeol merasa tidak nyaman.

"Bisa kita bicara sebentar?" Jongin berkata. "Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."

Chanyeol mengangkat sebelah alisnya, berpikir ada apa dengan bocah di hadapannya ini. Namun, akhirnya dia menganggukkan kepalanya dan Jongin segera mengisyaratkan Chanyeol untuk mengikutinya.

.

.


.

.

"Baekhyun-ah!"

Baekhyun baru saja hendak melangkahkan kakinya memasuki dapur ketika seseorang memanggil namanya. Baekhyun menoleh dan dia melihat Seulgi, salah satu teman satu kelasnya berjalan ke arahnya.

"Hey, Baek," sapa Seulgi. Dia tersenyum geli ketika melihat kostum Baekhyun. "Kau pasti merasa kedinginan mengenakan kostum itu," lanjutnya.

Baekhyun menghela napas panjang. "Dari pada merasa kedinginan, aku lebih merasa malu mengenakan kostum ini," ucap Baekhyun. "Tatapan orang-orang benar-benar membuatku tidak tahan."

Seulgi tertawa mendengar ucapan Baekhyun.

"Ngomong-ngomong ada apa kau memanggilku?" Tanya Baekhyun.

"Ah iya," jawab Seulgi. "Laki-laki yang tadi bersamamu. Laki-laki tinggi yang berambut hitam dan tampan itu. Dia siapa?"

"Ah, itu, dia Park Chanyeol. Dia itu..." Baekhyun menghentikan ucapannya sejenak. "Dia tutor les privatku," lanjut Baekhyun kemudian. Dia tidak bisa mengatakan bahwa Chanyeol itu kekasihnya.

"Benarkah? Dia tutormu? Wah, senangnya. Aku benar-benar iri," ucap Seulgi kemudian.

Baekhyun terdiam menatap Seulgi. Entah kenapa perasaannya tiba-tiba saja terasa tidak enak.

"Baekhyun-ah, aku mau meminta Chanyeol-ssi untuk menjadi tutorku juga, apa kau bisa memperkenalkanku kepadanya?" Tanya Seulgi menatap Baekhyun dengan tatapan memohon. "Kau tahu, aku jatuh cinta dengannya pada pandangan pertama. Aku rasa aku akan memiliki kesempatan untuk dekat dengannya jika dia menjadi tutorku."

Baekhyun tak menjawab. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia sudah merasa buruk ketika dia sadar bahwa dia tidak bisa mengatakan bahwa Chanyeol adalah kekasihnya, dan sekarang ini. Melihat Seulgi, salah satu murid perempuan paling cantik di sekolah ini berdiri di hadapannya dan mendengarnya mengatakan bahwa dia jatuh cinta pada Chanyeol, membuat Baekhyun seketika merasa cemas.

Apa yang harus dia lakukan saat ini?


.

.

To Be Continued...

.

.


Jengjengjeng~

What will happen next?

Si Jongin mau ngomongin apa hayoo sama Chanyeol, trus si Baekhyun bakalan ngasih jawaban apa ke Seulgi?

Stay tuned for the next chapter if you wanna know the answer~

And please don't forget to leave your review, kritik dan saran juga~

Btw thank you so much buat semua yang sudah review di chapter sebelumnya:

brinabaek, Siapa Hayo, n3208007, timsehunnie, LyWoo, khakikira, WinterJun09, coraline92, chika love baby baekhyun, Ariannara, Sitachaan, YOUR READER 04, alietha doll, chalienBee04

Dan buat Ariannara, yup ini bener manga yaoi dan judul aslinya adalah Katekyo! Kalo mau baca bisa baca di mangafox, mangahere, mangago, atau kamu bisa download aplikasi zingbox. Judulnya Katekyo! pakek tanda seru yaa, jangan sampe salah. Hehe

Thank you so much juga buat kamu yang udah follow dan favorite cerita ini.

See you guys soon in the next chapter!