Chapter 03.
"Apa kau..bisa menemaniku sebentar lagi?" Rivaille menatap Eren dengan serius.
"Me-menemani?"
"Iya..ada suatu tempat yang ingin kudatangi, apa kau mau menemaniku?" Ujar Rivaille sambil masih menahan pergelangan tangan Eren.
"Ba-baiklah..tapi Rivaille-san ingin pergi kemana?"
"Sebenarnya, aku ingin pergi ke—"
.
.
.
Hari sudah mulai sore, matahari yang tadinya bersinar terang di langit, mulai tenggelam dan membuat warna langit menjadi gradasi antara kuning dan merah membara.
Langit itu menghiasi pemandangan di sebuah taman tua yang tidak terawat, taman itu tidak terlihat seperti taman pada umumnya, taman itu ditumbuhi banyak rumput liar, dan kolam air mancurnya sudah diselubungi oleh lumut.
"Rivaille-san, ke-kenapa Rivaille-san ingin mendatangi tempat seperti ini..?" Eren yang merasa bingung, hanya bisa bertanya kepada Rivaille yang berdiri diam di depan sebuah bangku taman yang sudah rusak.
"Kau..tidak ingat?" Ujar Rivaille perlahan.
"Eh..?"
"Taman ini adalah sebuah tempat yang tidak akan pernah kulupakan..karena ini adalah tempat dimana aku pernah bertemu denganmu."
"Pertama kali..bertemu denganku..?" Eren bingung seketika.
.
.
.
-flashback -
Malam yang tenang, di sebuah taman kota yang sepi, terlihat seorang pria sedang duduk sendirian di bangku taman.
Wajah pria memang terlihat datar, namun kalau di perhatikan, tatapannya seolah berkata kalau dia tidak memiliki arti hidup lagi.
"Paman, kenapa paman duduk di sini sendirian?" Sebuah suara kecil yang tiba-tiba muncul, membuat pria itu mengangkat wajahnya yang tadinya dia tundukkan.
"Kau..siapa..?" Tanya pria itu kepada si pemilik suara.
Pemilik suara itu adalah seorang anak lelaki yang umurnya mungkin baru mencapai 3 tahun, rambutnya berwarna coklat agak tua, dan iris besarnya berwarna hijau dan terlihat berbinar walaupun saat itu sudah malam.
"Aku yang bertanya duluan! Jadi paman harus menjawab pertanyaanku terlebih dahulu!" Anak itu malah nyolot.
"…Aku tidak memiliki tempat untuk pulang…jadi aku terus berada di taman ini..sendirian.." Jawab pria itu sambil kembali menundukkan kepalanya.
"Paman..tidak kedinginan?" Tanya anak itu dengan tatapan polosnya.
"Tidak.."
"Paman bohong, tangan paman saja sudah dingin begini." Ujar anak itu sambil menggenggam kedua tangan pria bersurai hitam tersebut.
"Untuk apa aku bohong? Lagi pula aku tidak bisa merasakan apapun lagi.."
"…Paman tahu, kalau sendirian di malam hari seperti ini, paman bisa di culik oleh hantu, loh!" Ujar anak itu sambil memasang ekspresi yang agak ketakutan.
"…Hantu..?"
"Iya! Hantu itu nanti akan menarik paman dan—HYAAAA!" Saat menakut-nakuti pria yang ad di depannya, anak itu malah ketakutan karena ada suara seperti rerumputan yang begoyang, dan malah refleks memeluk pria suram dan berekspresi datar itu.
"…Kau berusaha menakutiku tapi kau sendiri malah ketakutan, dasar bocah." Terlihat senyuman tipis di wajah pria itu saat dia mengelus lembut puncak kepala anak itu.
"Ha-habisnya—uhhh…" Anak itu terlihat hampir menangis sambil meremas jaket hitam yang dipakai oleh pria itu.
"….Siapa namamu?"
"E-Eren…" Jawab anak tersebut sambil masih meremas jaket sang pria dewasa yang ada didekatnya itu.
"Eren, kenapa kau berkeliaran di taman pada waktu malam seperti ini? Bukankah itu berbahaya?"
"Ha-habisnya—tadi aku hanya ingin pergi menjemput ayah yang pulang larut malam..jadi aku pergi dan akhirnya tersesat—" Jawab Eren dengan nada bicara sangat innocent.
Author ulangi, SANGAT innocent.
"Kalau kau keluar diwaktu malam seeperti ini,kau akan kedinginan, kau tahu?"
"Tapi—" Eren hampir nangis.
Nangis, sodara-sodara.
"..Jangan menangis, kau mau aku menceritakan sesuatu padamu?" Ujar pria itu sambil mengelus puncak kepala Eren dengan lembut.
"Cerita..?" Eren berhenti mengeluarkan air mata dalam waktu sekejab.
Pria itu mengangguk dan mulai bercerita.
"Dulu..ada seorang pria yang disebut-sebut sebagai prajurit terbaik diantara semua prajurit, dia mempunyai sesorang yang amat disayangi olehnya. Namun suatu hari…orang yang dikasihinya itu..mati di dalam pelukannya."
"Kenapa..orang itu bisa mati..?" Eren mulai penasaran.
"Karena dia telah gugur dalam peperangan. Dia memang mati, tapi disaat-saat terakhirnya, dia terlihat tersenyum dan bahkan mati dengan tenang seolah tertidur. Pria itu tidak menyerah walaupun orang yang dikasihinya itu mati, karena dia tahu..kalau di dunia ini masih ada banyak harapan."
"…Aku tidak begitu mengerti, tapi itu cerita yang bagus sekali! Terima kasih, paman!" Ujar Eren sambil tersenyum manis.
"Jangan panggil aku paman, itu aneh."
"Eeh? Kenapa?"
"Dimana rumahmu? Aku akan mengantarkanmu." Pria itu langsung mengganti topik pembicaraan.
"Ru-rumahku ada di…"
.
.
.
"Jadi, ini rumahmu?" Tanya pria bersurai hitam itu sambil melepaskan tangannya dari tangan Eren yang tadi digenggam kuat oleh si anak berkepala coklat tersebut.
Eren hanya mengangguk kecil.
"Karena kau sudah sampai dirumahmu dengan selamat, jadi sekarang aku akan perg—" Pria itu beranjak pergi namun saat dia membalikkan badannya, Eren langsung menarik bagian bawah jaket hitamnya dan membuat ia terhenti.
"Paman! Ta-tadi..terima kasih sudah menghiburku! Aku pikir paman berbakat sekali membuat cerita!"
"Sudah kubilang jangan panggil aku paman." Ujar pria itu datar.
"Jadi aku harus memanggil paman dengan sebutan apa?"
"…Rivaille." Setelah mengucapkan namanya yang singkat, pria bersurai hitam itu langsung saja berbalik dan pergi menjauh dari rumah Eren.
.
.
.
-End Of Flashback-
Hening.
Setelah Rivaille selesai bercerita, Eren hanya bisa membeku dan memberikan tatapan yang seolah berkata 'plis-gue-enggak-ngerti-elu-ngomong-apa-bro'.
"Jadi, apa kau mengerti maksudku?" Ujar Rivaille memecahkan keheningan.
"Umm….sebenarnya aku tidak terlalu mengerti.." Ujar Eren sambil menggaruk-garuk bagian belakang lehernya yang sama sekali tidak gatal.
Rivaille hanya bisa facepalm sambil menghela nafas panjang.
"Jadi..saat aku bertemu denganmu di taman ini, aku sedang bangkrut karena novel yang kubuat sama sekali tidak diterima oleh redaksi manapun. Tapi setelah kau bilang kalau ceritaku bagus, aku mulai percaya diri dan memulai dari awal lagi. Kau mengerti sekarang?"
Hening lagi.
"…Aku ingat, aku pernah keluar rumah sendirian..dan aku bertemu dengan seorang pria…" Eren mulai flashback kembali.
"Jadi kearena itulah, saat aku melihatmu saat kau sudah tumbuh besar..aku jatuh cinta kepadamu." Rivaille langsung to the point.
Eren langsung nge-blush ria.
"J-j-jatuh cinta—kepadaku!?"
"Iya, apa ada yang salah dengan itu?"
Menurut loe?
"T-tidak,hanya saja—i-itu terlalu mendadak—" Eren salting ditempat.
"..Apa kau tidak menyukaiku, Eren?" Rivaille mempersempit jarak antara wajahnya dengan wajah Eren yang terlihat semerah tomat.
"Jadi, apa kau juga menyukaiku? Jawab, Eren."
Hening sebentar.
"A-aku juga..su-suka Rivaille-san—"
"…Baguslah kalau begitu." Jawab Rivaille sambil tersenyum tipis kemudian memberikan ciuman kepada Eren yang langsung menutup kedua matanya erat-erat.
-TO BE CONTINUED-
Yo minna~ Alice desu~
Yeeeey,I'm back~~~~ *kayang* /no
Gomenne minna,Alice udah lama gak update fic lagi *pundung*
Dan Alice juga sebenernya agak bingung cara ngelanjutinnya gimana—jadi gini aja,yah /no /plisAlice
Mungkin para readers udah pada ngambek dan gamau baca fic Alice lagi, tapi—ALICE UDAH BERTATAKAEEEEE *ayunin deathscythe*
Kurosawa Alice.
