4th World: Romeo and Cinderella

Tak terasa sudah hampir 2 bulan sejak aku diusir dari rumah.

Sejak hari itu aku tak pernah lagi bicara dengan Miku. Walau aku menelepon ataupun meng-emailnya, tak pernah ada jawaban.

Sepertinya ayah menyuruhnya untuk mengganti nomor hp dan e-mailnya.

Keadaan di sekolah yang awalnya gempar karena siaran TV itu pun sekarang sudah mereda karena ayah dan ibu memberitahu bahwa hal itu hanya salah paham.

Walau begitu, aku dan Miku tetap tak dapat bertemu di sekolah. Meski sering bertemu pandang, tapi kami tak saling menegur bagai orang asing.

Aku sendiri tinggal di sebuah apartemen kecil milik temanku selama 2 minggu, sampai aku bertemu dengan seorang agen pencari bakat yang sedang mencari model untuk cover majalah berpikir lagi, aku langsung saja menerima tawaran itu.

Dengan memakai fake name 'KAITO', aku langsung saja menjadi model terkenal dalam waktu singkat, dan sekarang aku tinggal di apartemen yang lumayan besar. Biaya sekolahku pun bisa kubiayai sendiri tanpa bantuan ayah lagi.

"Kyaaa...lihat, lihat! Ini foto terbaru Shion-senpai!"

"Hei, sekarang kita tak boleh memanggilnya Shion-senpai lagi. Tak sopan kan?"

"Iya, benar. Sekarang jadi...KAITO-sama?"

"Oh, itu keren! KAITO-sama!"

Gosip tentang aku yang telah menjadi model terkenal sepertinya telah berhasil menenggelamkan gosip hubunganku dengan Miku dalam waktu singkat.

Walau begitu, aku sendiri merasa masih ada hal yang mengganjal. Bagaimanapun juga aku harus bicara pada Miku.

"Hatsune Shion-senpai?"

"Ya? Kau siapa?"

"Aku teman sekelas Miku, Megurine Luka."

"Ah, Megurine-san. Aku ingat. Ada apa?"

"Aku ingin memberikan ini padamu," katanya seraya menyerahkan secarik kertas padaku.

"Apa ini?"

"Maa, nanti juga kau tahu," katanya kemudian langsung pergi begitu saja.

"Eh, tung-"

Sambil menatap gadis itu pergi menjauh, aku perlahan membukan kertas itu.

Aku langsung terkejut begitu melihat isinya yang ternyata adalah nomor hp dan alamat e-mail Miku yang baru.

Aku yakin pasti Mikulah yang menyuruhnya. Saat itu aku langsung merasa lega, ternyata Miku juga belum melupakan aku. Tanpa pikir panjang aku langsung saja mengirim mail padanya.

"Aku akan datang malam ini ke rumah. Tunggu aku di jendelamu."

E-mail yang benar-benar ngaco menurutku, tapi...apa boleh buat, aku sudah tak dapat menunggu lagi.

Malamnya aku benar-benar datang ke sana.

Entah apa yang ada dipikiranku saat itu. Datang diam-diam ke rumah orang di tengah malam begini.

Aku melihat jam tanganku. Tepat menunjukkan jam 12 malam. Seisi sudah sepi dan lampu-lampu pun telah dimatikan.

Aku mengecek hp-ku. Ada satu pesan dari Miku: Papa dan mama sudah tidur. Masuklah!

Menarik nafas panjang aku langsung saja memanjati pagar rumah sambil berharap tak ada yg melihat.

Setelah berhasil masuk, aku memanjati pohon di samping jendela kamar Miku.

Tok...tok..

Aku mengetuk jendela kamar Miku.

Tak lama kemudian, Miku membuka jendela kamarnya.

"Selamat malam, Juliet," candaku.

Miku tampak terkejut dengan sapaanku. "Mou! Jangan bercanda!"

"Hahaha...maaf," kataku sambil memanjat masuk ke kamar Miku.

"Dasar bodoh!"

"Ng?"

"Ada apa?"

Aku memandangi Miku dari atas sampai bawah setelah sekian lama aku tak pernah memperhatikannya lagi dari dekat. "Kau rasanya jadi agak sedikit gemuk."

"Ma-mana mungkin!" seru Miku langsung menutupi badannya dengan tangan.

"Ahaha...aku cuma bercanda."

"Mou!"

Aku tersenyum lega. Syukurlah, dia masih tetap Miku yang dulu.

"N-nee, apa ada lagi yang mau kau katakan?"

"Ng? Oh, iya?""Kau kelihatan manis dengan piyama pink itu," kataku. "Tapi, apa tidak terlalu pendek dan tipis?"

"Na-? Aku lebih suka begini! Lebih nyaman dipakai..." katanya sedikit malu.

"Hmm...? Kupikir kau sedang mencoba menggodaku atau apa..."

"Na-? Siapa yang-!"

"Sssst...jangan berisik!"

"Itu salahmu!"

"Iya, iya."

"La-lalu, ada apa kau kemari?"

"Tak ada alasan penting. Aku hanya ingin bertemu denganmu."

Miku terdiam malu.

"Lalu, aku juga ingin menyerahkan ini," kataku seraya menyerahkan kartu namaku.

"Hu-huh! Mentang-mentang kau sudah jadi model terkenal!" keluh Miku sambil menyambar kartu nama dari tanganku.

"Haha...bukan itu maksudku."

"Aku hanya ingin kau tahu tempat tinggalku sekarang dan cara menghubungiku."

"A-aku juga tahu itu, bodoh!"

Aku tersenyum memandanginya. Ia sama sekali tak berubah.

"Syukurlah, kau baik-baik saja," kataku seraya meletakkan tanganku di kepala Miku.

Miku hanya terdiam.

"Ah, tapi, datang ke sini malam-malam begini untuk menemuimu benar-benar mirip cerita Romeo and Juliet, ya."

"Ja-jangan bodoh!" seru Miku tiba-tiba.

"Eh?"

"Ja-jangan sebut aku Juliet! Panggilan menyedihkan itu tak cocok denganku!"

"Lalu apa?"

"Te...tentu saja Cinderella!"

"Haa?"

"Iya, kan? Aku ini Cinderella, dan kau adalah Romeo yang jatuh cinta padaku!"

"Eh? Romeo dan Cinderella? Cerita macam apa itu?"

"Ja-jangan banyak protes!"

"Iya, iya.""Ah, kalau begitu aku pulang ya."

"Eh? Kau sudah mau pulang?"

"Tentu saja. Bahaya kalau aku lama-lama di sini."

"Ti-tidak boleh!"

"Eh?"

"Pa-paling tidak sampai aku tertidur, te-temani aku."

Aku terkejut mendengar kata-katanya. "Kau tak takut kuserang?"

"Na-?"

"Hahhaha...bercanda, bercanda."

Miku terdiam sesaat. "Sa-saat ini d-dimakan pun aku tak akan takut..."

Aku terbelalak mendengar kata-katanya. Aku refleks saja langsung memukul kepalanya. "Jangan ngaco!"

"Aduh!"

"Hhh...apa boleh buat! Aku akan menemanimu sampai kau tidur."

"Eh?"

"Apa? Kau berubah pikiran?"

"Te-tentu saja tidak!" katanya seraya menaiki tempat tidurnya.

Aku tersenyum lalu mengikutinya naik ke tempat tidur dan berbaring di sebelahnya.

Aku menggenggam tangannya dan memandangi wajahnya yang memerah menahan malu.

"Cepat tidur!"

Ia terkejut. "A-aku tahu!" serunya lalu langsung menutup mata.

Melihat wajahnya yang menahan malu dan mencoba untuk tidur, aku hanya bisa tersenyum sambil berharap aku bisa mengontrol diriku yang sebenarnya tak bisa menahan degupan jantungku yang semakin keras.

Beberapa saat kemudian, saat aku yakin ia benar-benar tertidur pulas, aku pun turun dari tempat tidur dan bersiap untuk pergi dari tempat itu sebelum ketahuan.

"Tunggu..." tiba-tiba saja Miku menahanku.

"Kau belum tidur?" aku terkejut.

"Bawa aku bersamamu..."

Kata-kata Miku membuatku semakin terkejut.

"Bawa aku pergi dari sini. Aku tak peduli walau harus dimarahi..."

"Miku..." mendengar perkataan Miku rasanya aku ingin menggendongnya dan langsung membawanya kabur bersamaku. Tapi, pikiran dan akal sehatku langsung saja menahanku untuk melakukannya.

"Kau tak boleh begitu. Bukan begini caranya..."

Miku tampak sedih mendengar kata-kataku.

Aku tersenyum, mencoba menenangkannya. "Tak apa. Aku tak akan pergi jauh."

"Aku pasti akan dapat menemukanmu suatu saat nanti. Asalkan kau tetap bersabar, dengan bantuan sepatu kaca yang kau tinggalkan, aku pasti akan menemukanmu, Tuan Putri."

Miku terhenyak, namun segera menganggukkan kepalanya.

Aku tersenyum lega. Aku lalu mencium keningnya, dan setelah mengucapkan 'sampai jumpa', aku pun memanjat keluar dari kamarnya lewat jendela.

Saat berhasil keluar dengan lancar, aku menyempatkan diriku untuk menatap jendela kamarnya sekali lagi. Aku teringat saat pertama kali aku meninggalkan rumah. Sama seperti hari itu, dengan perasaan berat, aku pun meninggalkan rumah itu. Namun, aku berusaha menguatkan hatiku.

"Yosh! Petualangan Romeo masih belum berakhir!" gumamku lalu segera berlari pergi dari situ.

to be continue...