WARNING: JINKOOK (in little sexual content with bottom Jungkook)
Masih selalu teringat ingatan ketika makhluk di depannya, dengan kaki yang sengaja dipotongnya dan semua jarinya hanya tinggal setengahnya dengan darah menetes dari matanya dan mulutnya karena merobek lidahnya sendiri—berusaha mencapai kematian dengan kehabisan darah. Lukanya tak langsung sembuh karena dia tak bisa menyembuhkannya sendiri.
Netra yang awalnya selalu menatapnya dengan hangat dan penuh kelembutan sekarang telah dikuasai oleh ekspresi putus asa dan meminta untuk kematian.
"Bunuh—"
Sebenarnya itu bahkan tak dapat diucapkannya tetapi dewa itu menangkap maksudnya.
"Bu—nuh a—ku."
Telapak tangan berbaluri oleh darahnya sendiri menutupi wajahnya, lalu tangisan keras terdengar jelas. Menelusup masuk ke dalam telinga dewa itu membuat matanya semakin membulat dari sebelumnya. Isakan semakin terdengar jelas bahkan tak berniat untuk menutupinya lagi kemudian makhluk itu berteriak—
"BUNUH AKU!"
Teriakannya sampai menggetarkan tanah yang dipijak oleh sang dewa. Wajah sang dewa yang biasanya selalu tenang dan tak banyak berekspresi berubah menjadi pucat bagaikan warna kulit ular putih, kakinya mundur ke belakang perlahan-lahan bergetar hebat karena rasa shok dari melihat mantan manusia di hadapannya bertindak seperti itu bahkan berteriak dengan parau.
Apa yang telah dilakukannya saat itu?
Dia berpikir bahwa makhluk di depannya akan menjadi makhluk yang setidaknya akan selalu bersamanya namun sekarang memohon dirinya untuk dibunuh berhubung hanya dengan tangannya makhluk itu tak akan kembali pulih.
Langit seolah retak saat itu, semua tanah disana bagaikan retak. Dengan mata bergetar—tak fokus dan berlinang air mata menggenggam tombak yang telah merupakan senjatanya sejak dahulu kala.
Dengan teriakan putus asa dia berlari dan mengarahkan ujung tombak tersebut kepada makhluk itu—membunuhnya—sesuai dengan keinginannya.
Seluruh tubuhnya berubah menjadi abu dan angin membawanya pergi, tetapi tetesan darah dari sebelumnya masih bersisa pada tanah itu. Sementara sang dewa menutupi wajahnya yang tengah kacau balau, dia tak menyadari bahwa dari tetesan darah makhluk yang telah berubah menjadi abu itu membentuk menjadi sebuah ular putih—bermata merah darah. Tengah menatapnya dengan tatapan datar.
"Sekarang anda memiliki bawahan, Tuanku—"
.
.
Kelopak matanya terbuka dengan cepat setelah mengalami mimpi buruk dari masa lalunya, bangkit sejenak untuk melihat matahari hampir terbit tetapi Taehyung masih tertidur—dia tak memiliki jadwal kuliah juga hari ini seingat Jungkook. Memutuskan untuk kembali berbaring ke tempat tidurnya bahkan untuk tertidur sejenak tetapi mimpi sebelumnya membuatnya terlalu takut untuk menutup matanya.
Berguling ke arah kanan untuk melihat ranjang Taehyung tempat pemilik rumah ini tertidur. Manusia itu memiliki kebiasaan salah satu tangannya sering menggelantung di sisi tempat tidur dan seringkali mengeluhkan itu membuat lengannya terasa sakit setelah bangun. Tangan manusia Jungkook meraih jemari tersebut dengan pelan, sekedar hanya untuk menyentuhnya pelan.
Lentik sekali jarinya dan daging di bawah kukunya berwarna merah muda sekali.
Sudah lama sekali sejak ia terakhir kali menyentuh jemari manusia berhubung tangan sebenarnya merupakan daerah yang cukup pribadi terutama di daerah Asia seperti ini. Menggoyangkannya perlahan dan tetap Taehyung sama sekali tak bergeming dari tidurnya—masih terlelap.
Sebuah senyuman kecil muncul pada wajah rupawan Jungkook.
"Sepertinya kau menikmati kehidupanmu sekarang, Tuanku."
Suara itu membuatnya segera menarik tangannya dari tangan Taehyung—melirik ke samping dimana seekor ular yang merupakan bawahannya tengah menatapnya dengan pandangan sejuta makna. Tak tersenyum, tak sedih, tak merasa iba—tak dapat didefinisikan. Netra hitam Jungkook berkilat terkejut kemudian berubah menjadi penuh amarah.
"Apa maksud—"
"'Apa maksudmu?' Apa Anda melupakan kejadian itu dimana awal mula semua bawahan yang terlihat polos dan tak mengetahui terbentuk?"
Ah—sialan. Bawahannya harus saja mengingatkannya terhadap kejadian yang membuatnya trauma sampai saat ini. Kejadian yang harus membuatnya terbangun setelah tidur nyenyaknya—memangnya sejak awal dia membutuhkan tidur? Entahlah.
Dari ujung matanya Jungkook melihat bawahannya merayap ke ruangan lain, meninggalkan dirinya setelah merasa ditusuk oleh ratusan tombak pada dadanya. Mendengar suara erangan Taehyung dia melirik ke ranjang dimana si manusia tidur sekaligus melihat keluar jendela, melihat rembulan malam yang tengah menunjukkan dirinya berhubung memang waktu menunjukkan masih dini hari.
Menghadapkan kembali pandangannya ke kaki manusianya kemudian berbisik dengan sangat pelan sampai bahkan telinga ular pun tak akan dapat menangkapnya.
"… nya… pai… kawin… an…"
.
.
Jungkook merasa terlalu sulit untuk menatap Taehyung setelah mengalami mimpi traumatis itu sehingga memutuskan untuk pergi dari rumah itu untuk melakukan kegiatan lain—entah apa itu. Hanya untuk sekedar keluar rumah. Tentunya setelah memberi perintah untuk selalu bersama dengan Taehyung—apapun yang terjadi. Memakai pakaian asli setelah membelinya kemarin bersama dengan Taehyung.
Ah—bahkan hanya dalam satu paragraf itu nama manusia itu telah disebutkan sebanyak tiga kali. Mungkin memang benar bahwa manusia itu telah terlalu bercampur dengan kehidupannya.
Dahi Jungkook mengernyit tak suka menyadari fakta itu, langkahnya terhenti untuk menatap jalanan yang terakhir kali dilihatnya merupakan kumpulan tanah. Tidak—tidak selama itu Jungkook menghindari dunia manusia. Dan itu bukan karena dialah yang bertanggung jawab telah membuat ratusan manusia mati—
Sial.
Tak seharusnya dia mengingat hal itu.
Kepalanya terangkat lagi dan betapa menyesali tindakannya karena melihat berbagai macam pasangan tengah saling bermesraan. Saling bersentuhan. Saling bertukar senyum. Saling memberikan kehangatan.
Muak.
Entah mengapa perasaan negatif itu menggebu-gebu dalam dadanya.
Melangkahkan kakinya lebih cepat untuk pergi dari daerah itu, tetapi mengapa semakin dia berjalan semakin dia ingin menurunkan kepalanya. Sekarang kepalanya menunduk hanya melihat ke bawah tak menyadari bahwa dengan melakukan itu kemungkinan besar akan menabrak seseorang dan benar saja ketika dia sedang sibuk berjalan kepalanya terasa menabrak sesuatu yang empuk. Baru ingin memberikan kata maaf seperti yang telah dipelajarinya dalam kehidupan sebagai manusia sebelumnya suara orang yang ditabraknya langsung membuatnya membeku—
"Jangan tundukkan kepalamu ketika berjalan, Dewa Ular."
Mundur beberapa langkah, baru melihat ke depan—siapa yang ditabraknya?
Dalam sekali lihat pun semuanya dapat mengetahui bahwa orang itu bukan manusia dari ketampanannya yang bahkan melebihi Jungkook. Wajahnya sangat rupawan bagaikan pria tertampan di dunia dan telah diakui oleh seluruh dunia. Sayangnya, dia bukan seorang manusia—dewa mimpi, Morpheus.
Tentu saja kehadiran Morpheus membuatnya terkejut berhubung berbeda dengan para makhluk neraka atau mungkin lebih tepatnya—tak suci memang lebih memiliki sifat untuk saling berkumpul dalam suatu kota tetapi dewa sendiri biasanya memiliki sifat individualis sehingga hampir jarang sekali menemukan dua dewa dalam satu kota atau daerah. Terutama sebagai dewa mimpi sepertinya yang padahal tengah tinggal di negara lain.
Perkataan vampir semalam tak sepenuhnya benar berhubung makhluk yang tertarik dengan aromanya merupakan makhluk tak suci seperti vampir dan iblis jadi tak mungkin dewa mimpi di hadapannya tertarik dengan aromanya.
"Terakhir kali aku mengunjungi negara ini adalah ketika perang. Bisakah kau menunjukkanku tempat bagus—nama manusiamu sekarang?" tanya si dewa mimpi sembari menampilkan senyuman tampan nan lembutnya.
"Jungkook."
"Kalau begitu—Jungkook—tunjukkan kepadaku perkembangan dalam menjalani hidup sebagai manusiamu."
Sialan.
Dia mengatakannya dengan penuh percaya diri, membuat Jungkook ingin menusukkan tombaknya tapi bahkan kemampuan perangnya jauh lebih rendah dibandingkan dewa mimpi sepertinya. Perkataan bijak adalah jangan pernah mencari masalah dengan dewa mimpi karena dia termasuk sangat kuat meski kata perang tak terdapat dalam namanya ataupun sebutannya.
Kedua dewa suci itu pergi melangkah saling berdampingan ditatap oleh dua lelaki—anehnya—berpakaian serba hitam tetapi dengan gaya yang cocok dengan penampilan mereka berdua tengah menyesap kopi dengan sedotan. Yang satu hanya tetap menyesap kopinya sedangkan satu lagi terkadang kala mengecek buku tulis kecilnya dan menuliskan sesuatu.
"Dan apa keuntungan menunjukkan hal itu?" tanya lelaki penyuka kopi dengan mata sipit—menatap malas dua dewa suci itu.
"Dewa ular itu bertemu dengan manusia baru." Balas si lelaki yang tengah memegang buku tulis kecilnya.
"Lalu? Kau akan membunuhnya?"
"Itu bukan tugasku."
"Lucu sekali, itu hanya berlaku untuk manusia normal bukan? Dia telah memiliki hubungan dengan dewa ular dan kau ingin menyatakan bahwa dia adalah manusia biasa?"
Lelaki yang terus memegang buku tulis kecilnya mendengus pelan mendengar perkataan teman duduknya. Perkataan teman duduknya ini selalu benar dan hampir tak menyisakan ruang untuk mengatakan bahwa itu tak benar. Lagipula memang benar. Sesuai dengan sifat mereka—dewa itu sangat individualis sampai tak akan berhubungan dengan manusia manapun andaikan tak memerlukannya. Lagipula, sifat jati mereka bukanlah sesuatu yang harus bersentuhan atau berhubungan langsung dengan manusia.
Jauh berbeda dengan mereka yang memang hidup untuk menggoda manusia.
Dengan kata lain, hubungan dewa ular dengan manusia itu bukan sesuatu yang wajib terjadi melainkan sesuatu yang merupakan pilihan.
"Kau ingin kembali beranggap dia akan membawa manusia lain ke sisi ini." Ucap si lelaki bermata sipit akhirnya menjauhkan sedotan dari mulutnya.
"Bukan beranggap—jangan pakai kata itu. Membuatku terlihat seperti makhluk berpikiran pendek." Si pemegang buku menghela napas kesal, "Lagipula aku tetap tak bisa membunuhnya kare—"
"Dibunuh oleh malaikat maut bukan sesuatu yang ada dalam tulisan takdir—begitu pula dengan manusia itu. Dia masih memiliki catatan takdir, hanya statusnya sedang runyam untuk saat ini, kau tahu itu 'kan? Pilihan takdirnya masih tersimpan, apa dia akan memilih untuk ke sisi ini atau tetap menjadi manusia?"
Lelaki yang terus memegang buku tulis itu terdiam, sebenarnya tak ingin diceramahi hal seperti itu oleh sebuah makhluk yang sebenarnya kedudukannya sedikit lebih rendah dibandingkannya. Setelah berdiam beberapa saat dan terdengar suara tetes terakhir terhisap oleh sedotan lelaki bermata sipit itu membuang gelas plastik ke tong sampah di sebelahnya.
"Beritahu aku saja perkembangannya. Aku tidak sedang ingin pindah ke kota lain. Nafsu manusia disini sangat tinggi dan aku tak ingin kehilangannya karena amukan seorang dewa ular."
Lelaki bermata sipit itu pun pergi, berbaur ke dalam kumpulan manusia yang tengah berjalan dengan mudahnya. Toh, mereka memang memiliki sifat untuk sangat cepat berbaur agar tak dicurigai atau diburu oleh para manusia yang seenaknya memburu mereka.
Mungkin saatnya dia kembali bekerja juga.
.
.
"Ukh! A—akh!"
Awalnya mereka memang melakukan kegiatan normal sebagai dua manusia, memakan makan siang, berjalan-jalan di tempat rekreasi tetapi mengapa ketika malam datang si dewa mimpi membawa teman bermainnya ke sebuah sisi kota yang sama sekali manusia datangi karena terkenal sering orang menghilang dan ditemukan mati. Kenapa dewa mimpi itu malah mendorongnya ke dinding dan memasukkan kejantanan manusia ke dalam lubang yang disebut rektum oleh para manusia Jungkook?
Sejujurnya ini bukan hal yang aneh, karena para dewa ini pun sering melakukan hubungan tubuh dengan sesama dewa. Karena mereka tak ingin menerima tawaran nakal dari para succubus.
Dan Morpheus sebagai sesuatu yang lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dewa ular seringkali menggunakannya untuk hubungan tubuh. Bukan karena tak bisa menolak tapi Jungkook telah mengatakan untuk jangan pernah membantah keinginan dewa mimpi. Mimpi itu bisa mengendalikan manusia dan bisa saja Morpheus memerintahkan para manusia untuk memburunya. Seorang dewa tak akan bisa melukai manusia jika memang bukan tugasnya sehingga jika itu terjadi satu-satunya cara adalah Jungkook membiarkannya terbunuh dan berinkranasi.
"Dan kenapa kau mencari lagi manusia setelah kejadian dahulu kala?" tanya si dewa mimpi menjambak rambut arang Jungkook, "Bahkan kau belum memberikan tanggung jawab untuk kejadian itu. Apa kau harus terlahir kembali untuk mengulang dari awal?"
"T-tidak—jangan! Akh!"
Jika dia terlahir kembali semua ingatannya—semua pengalamannya akan menghilang. Meskipun berakhir dengan buruk tetapi ada beberapa ingatan yang membuatnya sering tersenyum kecil hanya dengan mengingatnya.
Semuanya—
Bahkan mengenai Taeh—
Apa yang akan terjadi jika dia hilang? Apa yang akan Taehyung ingat? Uangnya untuk saat itu dipakai untuk apa andaikan keberadaan Jungkook menghilang?
"Jarang sekali dewa mimpi menjadi kasar seperti ini. Apa hawa nafsumu sudah terlalu tinggi sampai menjahilinya?"
Suara tak dikenal itu menarik perhatian keduanya, si dewa mimpi menghentikan kegiatannya untuk masuk ke dalam dada Jungkook dan mengambil jantungnya. Mendongak ke belakang melihat seorang lelaki dengan hawa—jauh berbeda bahkan dibandingkan Morpheus sekalipun—tengah menyilangkan kedua tangannya pada dadanya. Sosoknya setengah masih terlihat hitam berhubung minimnya pencahayaan tetapi kemudian cahaya rembulan datang menyinarinya.
Dewa waktu.
Dari matanya saja kau dapat melihat bahwa dia adalah seseorang yang sangat berkuasa, membuatmu tunduk dalam arti lain.
"Kita hanya melakukan hubungan tubuh ketika dua pihak atau lebih menyetujuinya—tidak ada pemaksaan. Sebagai dewa mimpi bisa-bisanya kau melupakan hal itu. Apakah kau terlalu banyak bermain dengan manusia? Mungkin dibandingkan dengan dewa ular, kau bisa menjadi pembawa bencana selanjutnya. Hahaha."
Bahkan tawanya terdengar sangat tinggi.
"Kecuali kau ingin tunduk kepadaku karena perintah, bisakah kau menuruti permintaanku untuk melepaskan dewa ular itu?"
Dewa mimpi itu langsung mengeluarkan kejantanannya dan kembali membenarkan pakaiannya begitu pula dengan Jungkook—dengan kemampuan memulihkan dirinya langsung memulihkan rektumnya dan kembali memakai celana beserta pakaiannya. Setelah melihat kedua dewa itu kembali tenang baru si dewa waktu tersenyum dan menurunkan aura kuasanya agar keadaan tak terlalu tegang.
"Sepertinya kalian semua salah paham memarahi dewa ular kecil kita." Ucap dewa waktu itu kemudian memasang raut seolah mengingat sesuatu, "Omong-omong, namaku sekarang Baekhyun. Aku tahu namamu sekarang Seokjin, dewa mimpi dan kau adalah Jungkook."
Darimana dia tahu—
"Aku tahu segalanya—"
"Termasuk kenyataan bahwa makhluk seperti kita yang ditemui oleh Kim Taehyung pertama kali bukanlah Jungkook."
—Ha?
Tentu saja keduanya harus terkejut. Karena pada kenyataannya sebenarnya setelah kau mengetahui jati diri para manusia yang menyamar ini, semakin tinggi kemungkinan manusia itu untuk bertemu dengan makhluk lain. Jika memang begitu maka Jungkook tak bisa disalahkan, mungkin sekitar setengahnya bukan menjadi salahnya.
"Lantas siapa yang pertama?" tanya Seokjin.
"Itu—"
Belum sempat mengatakan jawabannya kedua perhatian dua dewa superior itu dikejutkan oleh dewa ular tetiba jatuh meringkuk di atas tanah sambil meringis kesakitan, sudut bibirnya mengeluarkan darah. Ketika dia mengelap sudut bibirnya dan menangkap keberadaan warna merah barulah dia menyadari bahwa ada sesuatu yang salah—bukan dari sisinya melainkan dari sisi Taehyung.
"Taehyung—!"
Berusaha untuk bangkit berdiri tetapi malah kembali terjatuh karena rasa sakit dalam kepala dan dadanya sungguh sakit sampai membuatnya tak dapat berdiri. Seokjin berusaha menopang tubuh Jungkook tapi entah mengapa dia pun merasakan efek yang dirasakan oleh si dewa ular membuatnya sekarang ikut meringkuk. Bahkan sebenarnya dewa waktu itu pun merasakannya tapi berusaha untuk tetap berdiri.
Ah—sialan. Hubungan batin dan fisik dari Jungkook dan manusia itu membuat dua titik menjadi terkena ampasnya ketika hanya satu titik yang terkena efek langsung.
Baekhyun mulai tak dapat menahan rasa sakit pada kepalanya, kedua tungkainya mulai terasa lemah sampai dalam kepalanya mendengar suara berat dan dalam.
"Hei, bisakah aku meminta sedikit waktumu? Maksudku—hentikan waktu untuk dunia ini sekejap sampai aku selesai mengumpulkan nyawa arwah ini. Aku tak ingin arwah ini mempengaruhi manusia lain. Selama waktu terhenti mereka tak bisa mempengaruhi manusia lain selain manusia milik dewa ular itu."
"Kau konyol. Andaikan aku menghentikan waktu untuk saat ini akan ada dia yang menyadari jati dirinya." Ujar Baekhyun dengan susah payah bahkan kedua matanya sudah menutup sebagai bantuan untuk meringankan sakut pada kepalanya.
"Satu burung api tidak akan membawa masalah. Tak seharusnya kita saling bermusuhan seperti ini, ini pun untuk kebaikan kalian."
Sialan—itu tetap benar.
"Sejenak saja…"
Bagaikan dalam film mistis, semua hal bahkan benda mati pun berhenti bergerak. Mau mereka sedang dalam keadaan berjalan atau berlari—mereka semua berhenti tepat pada saat itu. Air yang menetes pun terhenti—waktu memang telah berhenti. Secara visual tak ada satu pun hal yang berubah seperti langit berubah menjadi kelabu—semua sama seperti biasa. Beberapa saat kemudian rasa sakit pada kepala ketiga dewa itu perlahan menghilang menandakan di sisi sana mulai terjadi sesuatu yang mengarah ke arah baik.
Ketiga dewa itu mengambil napas lega.
"Terimakasih. Oh—dan katakan kepada dewa ular itu untuk segera menjemput manusianya."
Mereka bisa mengambil napas lega sedangkan si dewa waktu itu sendiri menyadari bahwa pada detik ini ada seorang makhluk lain tengah menyadari jati dirinya sendiri dengan banyaknya ingatan kembali ke dalam jiwanya.
Argh—sedikit banyak dia menjadi menyesali tindakannya menyelamatkannya.
.
.
.
To be Continued
