Story By: Rue Arclight Sawatari

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rate: T

Genre: Adventure, Fantasy, Action, Sci-Fi, Humor, Friend-Ship.

Warning: Typo, some mistakes EYD, OOC, beberapa kalimat frontal, Fanon, AU.

A/N: Wah, maaf. Saya jadi terlambat update. Berhubung banyak kesibukan, dan bahan untuk fic ini sempat ngumpet entah ke mana. Di fic ini, Hokage adalah pemimpin bangsa Rusionette. Raikage, bangsa Werewolf. Mizukage, bangsa Vampire. Sisanya, belum terpikir. Ada yang mau memberi saran, berhubungan dengan makhluk fantasy tentunya? ^^

xXx

Rusionette

xXx

Chapter 3

xXx

.

.

.


"PONSELKUUUUUUUUUUUUUU~~!"

Kankurou menyumpal telinganya dengan kapas, ya ampun, pagi-pagi telinganya sudah dihadiahkan teriakan maut konyol yang tidak bisa ditertawakan. Mau dihentikan, percuma, yang berteriak sudah terlalu sakit hati ditinggalkan pergi oleh ponselnya tercinta.

"AYO KEMBALI, PONSELKU! AKU JANJI TIDAK AKAN SELINGKUH LAGI DENGAN FILM TU-GI-OH! DAN FOKUS PADA FILM NABURO! KEMBALILAH PADAKU, PONSELKU TERCINTAAAA~!" Jerit Naruto histeris di pojok ruangan, kedua tangannya mencakar dinding, butiran lelehan mutiara bening bercucuran pada wajahnya. Sungguh, Naruto, kau ibaratkan baru saja ditinggalkan kekasih tercinta, perbedaannya yang meninggalkanmu bukan orang, tapi benda.

"Berisik sekali, ada apa lagi dengannya?" gerutu Shikamaru kesal sambil menutup telinganya dengan bantal bercorak Ramen kepunyaan Naruto, salah satu barang yang wajib dibawa Naruto, dengan tujuan mengambil untung dari Shikamaru yang sering tidur di kelas.

"Biasa, masih tidak rela ditinggalkan kekasihnya," sahut Kankurou, memang benar, 'kan? Bagi orang seidiot Naruto, ponsel lebih berharga dibandingkan kekasih.

"MALING! SIALAN KAU! AKU JADI MENDERITA TIDAK BISA MEMBUKA INTERNET! HUAAAAAA~!" Rengek Naruto untuk yang kesekian kalinya, berisik sekali.

"Berisik, Naruto. Lagipula kalau kau berisik seperti itu, ponselmu malah tidak mau kemba—"

"HAYO! NGAKU, KANKUROU! PASTI KAU YANG TELAH MENCURI PONSELKU, 'KAN?! KAU TIDAK MENGHIBURKU! BAHKAN BILANG KALAU PONSELKU TIDAK AKAN KEMBALI! PASTI KAU PELAKUNYA! AYO NGAKU!" Desak Naruto seraya mengguncangkan bahu Kankurou dengan sangat brutal, bersyukurlah Kankurou sudah meminum pil kulit durian yang ada ekstraknya yang membuat daya tahan tubuhnya bertambah.

"BUKAN AKU, IDIOT! LEPASKAN!" Elak Kankurou sembari memberontak, enak saja Naruto menuduhnya seenak sikil(?)nya.

"Mendokusei ...," gumam Shikamaru menghela napas panjang sebelum kembali merebahkan kepalanya pada bandal Ramen, lebih baik berkelana di alam mimpi daripada mengurusi Naruto.

"AHA! SEKARANG AKU MENCIUM KEBUSUKANMU, SHIKAMARU! BERSIKAP TIDAK TAHU APA-APA! PASTI KAU PELAKUNYA! DAN BAYAR SEWA BANTALKU!" Tuduh Naruto mendadak yang entah sejak kapan berada di samping Shikamaru dan berteriak kencang ibarat toa tepat di telinga kanan Shikamaru. Bukan main, tanpa speaker saja sudah sebegitu kencang.

Buk!

Lemparan bantal dari Shikamaru berhasil membungkam teriakan lokal Naruto, lemparan jitu yang wajib dipelajari.

"Nice, Shikamaru." Kankurou mengacungkan jempolnya pada Shikamaru.

"Kalian tega sekali denganku, teman sekelas menderita menjadi korban pencurian, malah dibiarkan. Sungguh tidak berperikemanusiaan sama sekali ...," raung Naruto di pojok ruangan kelas sambil memutar-mutar telunjuknya di lantai.

"Teriakan dan caramu menuduh itu lebih tidak berkemanusiaan, tahu ...," gerutu Kankurou sambil memijat keningnya, lama-lama kepalanya pening juga. Kesabaran memang ada batasnya, tetapi dalam menghadapi teman sekelasnya ini? Oh, oh, lima kantung kesabaran ekstra besar saja belum cukup. Salah colok di mana otak kawannya ini?

Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Naruto sedaritadi meraung seperti itu? Tak lain dan tak bukan, ponsel Naruto menghilang, lenyap tak berbekas. Inilah yang menjadi penyebab down-nya Naruto selama beberapa hari, jadilah sekolah mereka harus siap siaga menyumpal telinga.

"Naruto, diamlah atau kau lebih suka aku membuang semua ramen di rumah?"

Ups, induk ayam mulai beraksi. Naruto cepat-cepat kembali duduk manis di kursinya dengan teratur, tentunya dengan memasang senyuman ramah. Di saat yang bersamaan, guru yang mengajar memasuki kelas. Nice timing.

"Kerja bagus, Gaara," puji Kankurou pada Gaara yang duduk tenang di kursinya.

"Baiklah. Semuanya duduk, hari ini akan diadakan ujian bio—"

"AP—"

"Naruto."

"Iya, diam."

Kurenai, guru biologi, menghembuskan napas panjang. Untuk yang kesekian kalinya ia memasuki kelas ini, wanita itu kembali nyaris tuli oleh anak muridnya yang sulit jera.

"Kurenai-sensei," panggil Gaara seraya mengangkat tangannya.

Kurenai menoleh padanya, "Ya, Sabaku?"

"Seharusnya saya memenuhi panggilan dari anggota OSIS untuk berkumpul rapat, tetapi saya menunda untuk mengikuti ujian. Selesai menjawab soal, saya meminta izin untuk keluar kelas," pinta Gaara.

"Ah, tentu." Kurenai mengangguk. Berbeda dengan Naruto, Gaara tak punya masalah dengan guru-guru lain. Tidak heran jika Naruto seringkali protes karena Gaara lebih diperhatikan.

Ujian biologi pun berlangsung dengan tenang, biang ribut sendiri tidak berulah seperti biasa. Sehingga semua murid dapat mengerjakan soal dengan tenang, Kurenai sendiri dapat dengan tenang mengawasi anak muridnya. Ancaman Gaara benar-benar ampuh.

Setidaknya, sampai Gaara mengumpul disk berisi jawaban ujiannya dan keluar dari ruangan, serta meninggalkan pesan pada Naruto. Dimulailah neraka panas.

Neraka panas? Tak lain dan tak bukan, saat-saat di mana Naruto memeras otaknya, seperti sekarang. Naruto tengah memutar otaknya dalam mengerjakan soal ujian biologi, berkat pesan dari Gaara. Yakni ancaman akan membuang semua ramen-nya jika Naruto mengacau lagi di kelas dan tidak mendapatkan nilai tinggi.

Sebagai maniak Ramen sejati, tentunya Naruto tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Untunglah kemarin, semalaman penuh Naruto sempat melupakan ponselnya dan belajar, meraup banyak sekali materi yang akan diujikan dengan bantuan dari Gaara sebagai guru private pribadi, untung tidak sampai gegar otak.

/Inilah yang kubenci kalau Naruto serius belajar, ruangan jadi seperti penggorengan karena semangat api yang ditimbulkannya ...,/ batin Kankurou, sebelah tangannya mengusap keringat untuk yang kesekian kalinya, padahal ruangan ini sudah full AC dan jendela juga sudah dibuka.

Kurenai menghela napas pendek, bersyukur kali ini dia tak lupa membawa kipas, mengingat terakhir kali ia masuk ke kelas yang didiami oleh Naruto dan mengadakan ujian, beserta Naruto yang dengan semangat 45 mengerjakan, ia harus berhadapan dengan panas magma.

"LET'S GO! BIOLOGI! IT'S TIME TO DUEL!"

Duk!

Tak lupa selalu siap siaga vas bunga plastik untuk menghentikan teriakan semangat Naruto.

Untunglah sesi neraka panas bisa secepatnya mereka lewati, tak sabar rasanya segera menyegarkan kerongkongan dengan dinginnya es beserta manisnya minuman dingin. Peduli amat nantinya sakit, sakit bisa diurus nanti dibandingkan mati dehidrasi.

Semua siswa bergantian mengumpulkan disk berisi jawaban soal mereka, tak terkecuali Naruto. Untung saja selama pengumpulan, virus gila Naruto tidak bereaksi. Namun, tetap harus berhati-hati, biasanya Naruto akan melancarkan granat usil yang lebih menjengkelkan lagi.

"Baik, sekarang waktunya istirahat, hasil ujian akan diumumkan minggu depan," terang Kurenai sebelum beranjak keluar ruangan, dengan terburu-buru tentunya. Kenapa?

"BANZAAAAAAAAAAIII! MENGHILANGLAH KAU TEROR BIOLOGI! GAARAAAAAAAAAA! MISIKU TUNTAS!"

"BERISIK, NARUTO!"

"BHUU! TIDAK PUNYA SELERA HUMOR, KAU~!"

Kurenai menghela napas pendek, salut beliau bisa bertahan mengajar di kelas ini.

"Yosh~ Ramen Ichiraku~ aku datang~" Naruto mengambil tasnya yang tergeletak di depan papan digital. Berhubung ujian, seluruh tas milik siswa dikumpulkan di depan papan digital, dengan tujuan tidak ada yang mencontek. Sayangnya, yang namanya murid pasti lebih pintar. Naruto membongkar isi tasnya, mencari-cari uang jajannya yang pastinya sudah disiapkan oleh Gaara di dalam tas.

"Naruto, ayo ke cafetaria," ajak Haku, teman sekelas Naruto yang pendiam, seringkali Naruto yang benci ketidakseruan jengkel melihat Haku yang selalu diam di meja. Walhasil, tak jarang Haku diseret Naruto ke mana-mana agar Haku terbiasa dengan suasana. Bersyukur usaha Naruto sedikit membuahkan hasil.

Naruto tersenyum lebar melihat sosok Haku yang sudah berada di samping kursinya, dan menyambutnya, "Tentu~ kali ini kau yang traktir, ya~" pinta Naruto sambil memasang cengirannya.

"Tidak bisa, uangku tidak cukup ...," tolak Haku halus. Ck, ck, anak ini benar-benar laki-laki, ya? Luar dalam, dilihat dari manapun, isinya perempuan tulen. Naruto mengerutkan dahinya.

"Sumpah, Haku. Kali ini kau mau menerimaku sebagai kekasihmu, 'kan? Terimalah diriku yang apa adanya ini." Ibarat aktor drama, Naruto berpose layaknya seorang ksatria yang sedang meminang kekasih hatinya tepat di hadapan Haku.

"N-Naruto!" Wajah Haku memerah, bagaimana tidak? Dia laki-laki, dan Naruto malah memperlakukannya seperti ini, bagaimana mungkin Haku tidak merasa malu? Oh, my, sungguh Haku sekarang sangat malu sekali dilihat oleh nyaris seluruh siswa di kelas. Semoga tak ada yang berjabat sebagai fujoshi di kelas ini, bisa-bisa adegan roman ini diabadikan dalam bentuk 2 dimensi dan dipajang.

"Cie~! Haku~ dilamar oleh Naruto, ya?"

"Hei, Naru! Itu calon istriku! Jangan seenaknya mengambil!"

"Siapa cepat, dia dapat~"

"Naruto ..., kalau Gaara tahu, kau bisa masuk ke kawah gunung api sekarang juga," celetuk Kankurou.

"WAAAAAAAAAAAAA~! MAAFKAN AKU, GAARA! AKU TAK BERMAKSUD SELINGKUH!" Jerit Naruto sambil menarik tangan Haku dan ambil langkah seribu keluar kelas.

"... dan aku barusan berbohong, lho," lanjut Kankurou sambil menahan cengiran usilnya, dasar tidak setia kawan. Bagaimana Gaara bisa tahu? Gaara anggota OSIS, dan semua anggota kini rapat di ruangan lain yang berjauhan dengan kelas Naruto.

Kembali pada Naruto, bisa dilihat, Naruto masih memakai tehnik mainstream, jurus Langkah Seribu. Entah stamina darimana yang membuat Naruto bisa tahan berlarian di koridor, berbeda dengan Haku.

"T-tunggu! Naruto!" Haku berkali-kali nyaris terjatuh karena kehilangan keseimbangan. Haku, semoga kau selamat oleh tarikan brutal Naruto.

BRUK!

Aw, ternyata yang namanya kenyataan seringkali berbeda dari harapan. Naruto tak sengaja menubruk seseorang di persimpangan koridor. Untungnya, Naruto yang tidak selamat, sedangkan Haku sempat berhenti sebelum ia nyaris kehilangan keseimbangan.

"N-Naruto! Kau baik-baik saja?" tanya Haku panik, gawat kalau Naruto sampai gegar otak karena aksinya barusan.

"Aduh ..., siapa, sih? Menghalangi jalan Pangeran Naruto yang ganteng ini ...," keluh Naruto sambil menopang tubuhnya dengan satu tangan sebelum berdiri, Haku membantunya dengan menarik tangan Naruto yang lain.

Sekilas, Naruto melirik orang yang juga terjatuh sama sepertinya. Dia berambut kecoklatan, terlihat tato berwarna merah seperti taring di kedua pipinya.

"Ukh ..., sakit tahu, Pirang!" Bentak orang yang ditubruk oleh Naruto. Siapa yang tidak marah ditubruk siswa yang brutalnya diibaratkan babon seperti Naruto? Salut dengan Haku dan teman sekelas Naruto bisa tahan selama ini.

Mendengar itu, muncul kedutan di kepala Naruto. "Apa kau bilang ...? Heh, bukannya minta maaf, malah mengejek ...," tutur Naruto kesal. Oh, Naruto, bukankah seharusnya dirimulah yang minta maaf? Sungguh kau ini perlu bimbingan khusus lagi dari Gaara, Naruto ...

"Apa?! Enak saja! Kau yang menabrak duluan!" Balas orang itu.

"Oke! Maaf! Tapi kau sendiri tak perlu membentak, 'kan?! Anjing!" Naruto tentu tak mau kalah.

"JANGAN SEENAKNYA MEMANGGILKU ANJING, LANDAK!"

"AKU BUKAN LANDAK! NAMAKU NARUTO"

"DAN AKU KIBA! LANDAK KUNING!"

"ANJING KAMPUNG!"

"Naruto."

"An- ..."

Naruto terdiam, ia menelan ludahnya dengan susah payah, wajahnya mulai memucat. Orang yang mengaku bernama Kiba di depannya jadi bingung melihatnya, ada apa dengan Naruto?

"Naruto, kemarin apa janjimu, hm?" tanya seseorang—Gaara—dari belakang Naruto dengan nada suara yang begitu tenang, namun dingin.

"Ukh ..., tidak boleh mengacau, tidak boleh ribut, harus mendapat nilai tinggi ...," jawab Naruto dengan takut-takut, tak berani menoleh ke arah Gaara.

"Bagus." Gaara menghampiri Naruto seraya melirik ke arah Kiba. "Maaf atas keributannya, dia memang seperti itu. Permisi," pamit Gaara seraya menarik Naruto pergi, menjauh dari sana.

"Huwaaa! Gaara! Maafkan aku! Hakuuu! Tolooong!" Jerit Naruto histeris, meronta meminta pertolongan. Sayangnya Gaara tidak sebaik itu melepaskannya.

/Naruto ...? Apa dia yang kucari ...?/

Berhati-hatilah pada taring anjing ...

Meski mata tak berfungsi dengan baik ...

Penciuman mereka juga tak bisa dianggap remeh.


xXx

.

.

.

xXx


Siapakah kaum yang paling kuat di dunia ini?

Apakah vampire ...?

Atau werewolf ...?

Dan apakah benar ...,

Bahwa Rusionette merupakan kaum yang terlemah ...?

Hanya karena kami hanyalah boneka ...

Karena kami hidup hanya demi umat manusia ...

Tidakkah itu kejam ...?

Apakah ini hal yang adil ...?

Ya, ini sesuatu yang adil.

Ini merupakan suatu keadilan.

Manusia telah berbaik hati membangkitkan kami.

Dan kamipun membalasnya dengan menjadikan diri sebagai tumbal.

Sungguh kejam para leluhur, tidak tahu cara berterima kasih pada manusia.

Apakah dengan berpikir begini, maka aku akan menjadi salah satu anggota yang durhaka?

Apakah aku akan dianggap sebagai pengkhianat?

Sama sepertinya.

Pejuang sekaligus wakil kaum kami sebelumnya.

Kakakku.

Kurama Uzumaki.

Yang kini pergi entah ke mana.

Kuharap, ia masih hidup seperti dirinya.


xXx

.

.

.

xXx


Phoenix telah menurunkan sayapnya, disertai sinarnya yang mulai meredup, digantikan oleh Phoenix Huang beserta beludru hitam yang dihiasi manik-manik kecil bercahaya dengan indahnya. Menerangi sisi lain dunia.

Malam hari telah tiba

Memang, seharusnya seluruh makhluk beristirahat setelah menyelesaikan segala macam kegiatan yang telah mereka lakukan di siang hari, terlelap di tempat tidur masing-masing, merajut mimpi. Namun, ada pula yang lebih memilih untuk tetap terjaga, mengerjakan kegiatan yang belum terselesaikan, ataupun kegiatan yang hanya dapat dikerjakan di malam hari.

Sama halnya seperti yang dikerjakan seorang pemuda berambut pirang ini. Sesudah memastikan teman satu apartemennya terlelap, Naruto mengambil sebuah note berwarna hitam beserta sebuah pensil. Perlahan-lahan, ia mengendap-endap keluar dari apartemennya.

"Maaf, Gaara. Malam-malam begini aku keluar tanpa bilang-bilang," gumam Naruto seraya merapatkan jaketnya. Bbrr! Padahal sudah mau musim semi, tetapi malam hari masihlah sedingin ini.

Naruto menoleh ke sekitar, taman sudah mulai sepi, hanya ada beberapa orang yang masih berada di taman ini. Tak heran, suhu semakin lama semakin menurun. Akan lebih enak merajut dalam mimpi ditemani selimut tebal dibandingkan keluar di malam hari yang dingin.

Namun, kali ini Naruto sengaja keluar untuk mencari sesuatu.

"Ah ..., di mana, sih? Masa sudah dirusak anak-anak manusia?" gerutu Naruto kesal, berkeliling taman mencari sesuatu, ia mengerling ke sekeliling. Terus begitu hingga kedua matanya menangkap sesuatu berwarna putih dari kejauhan.

Lebih tepatnya, setangkai bunga.

Naruto menyunggingkan cengirannya, lelaki itu berlari-lari kecil menghampiri bunga tersebut. Tanpa menunggu lama, Naruto langsung berjongkok di dekat bunga itu. Sebuah bunga, yang tidak bisa dibilang cantik.

"Akhirnya, kukira bunga ini tak akan tumbuh." Naruto tersenyum kecil, kedua matanya fokus pada bunga di hadapannya. Hening sejenak, sebelum mendongak, menatap langit hitam yang tertutupi gumpalan kapas, menghalangi cahaya manik beludru.

"Snowdrop ..., bunga yang tumbuh ditumpukan kristal es, dengan mahkota bunga yang mengarah ke bawah. Ketimbang bunga, bahkan lebih tepat disebut rumput." Tatapan Naruto terlihat sendu, suaranya terdengar parau.

"Hei, Charys. Snowdrop adalah bunga yang paling kau sukai, bukan? Apakah kau juga pernah menyelinap keluar hanya untuk melihat bunga ini? Dibandingkan siang hari, entah kenapa bagiku bunga ini terlihat lebih baik di malam hari seperti sekarang. Malam yang dingin ..., apa kau juga merasakannya sewaktu kau masih hidup ...?" tanya Naruto bertubi-tubi, entah kepada siapa, dirinya sendiri, atau mungkin keheningan yang menemaninya.

"Tetapi ...," ucapannya terpotong, senyumannya menghilang, "meski dirimu terkenal di antara generasi penerus ..., dirimu pasti juga sempat merasakannya." Naruto berdiri.

"Merasakan saat-saat di mana semua umat Rusionette membencimu karena sesuatu yang kita sadari ..., 'keadilan'." Kedua permata biru shappire Naruto terlihat kelam, tak lagi bercahaya seperti sebelumnya. "Karena itulah kau meneliti tentang kaummu sendiri. Meneliti banyak hal ..., tanpa ada seorangpun yang menyadari, semua hasil penelitianmu memiliki arti yang ambigu." Naruto memejamkan kedua matanya.

"Sayang sekali aku hanya dapat memecahkan salah satunya saja," tutur Naruto, ia terkekeh pelan. "Tetapi, mungkin ini lebih baik." Naruto membuka kedua matanya, tak seperti tadi, kali ini kedua matanya berkilau tajam.

"Yang namanya kedamaian hanya akan membawa kehancuran. Itulah fakta, fakta keadilan. Benar, 'kan? Charys?"

Banyak hal yang diucapkan oleh Naruto, tanpa menyadari sepasang mata berwarna onyx tengah mengawasinya dari kejauhan.

"Sekuat apapun Werewolf, sepintar apapun Vampire, sehebat apapun akting Rusionette. Hanya manusia yang berada di tingkat atas. Yang lain hanyalah tiruan imitasi dari manusia, makhluk tidak sempurna yang tidak bisa menerima kenyataan. Benar, 'kan? Naruto ..."


xXx

To Be Continue

xXx


A/N: Maaf, karena tampaknya saya akan sibuk dengan olshop yang saya kelola, dan sebentar lagi akan diadakan ujian. Jadwal update akan tertunda lagi. Mohon maaf, saya tak bermaksud untuk berlama-lama.

Terima kasih untuk review-nya. ^^