Hello! Mitsuki here!
Ini cerita Bonus tentang masa lalunya Nenek Rin yang biasa dipanggil Akazukin. Ceritanya mengikuti sudut pandang Akazukin. Tapi di waktu mendatang akan ada sudut pandang dari 'Yusuke-san' . Siapa Yusuke-san? Baca aja sendiri :p
...
...
...
Akazukin, seorang gadis muda yang selalu memakai jubah berwarna merah pemberian Neneknya kemana pun ia pergi. Sehingga ia selalu dipanggil sebagai 'Akazukin' atau 'Gadis Berjubah Merah'. Akazukin telah disuruh ibunya untuk mengantarkan beberapa kue dan buah-buahan untuk sang Nenek yang sakit dan sendirian di tengah hutan tempat rumahnya berada.
"Akazukin, antarkan ini ke rumah Nenekmu dan ingat jangan pergi kemana-mana lagi dan juga jangan berbicara dengan orang yang tidak kamu kenal," nasihat ibunya.
"Baik bu!" jawab Akazukin dan segera pergi ke rumah Neneknya.
Di perjalanan ke rumah Nenek, Akazukin dengan senangnya berjalan menyusuri hutan dan bernyanyi di sepanjang jalan (Lagu yang ada di Media ^w^).
"Lalalala la~" nyanyinya(?).
Tiba-Tiba terdengar sebuah suara dari semak-semak yang berada di samping kiri jalan Akazukin. Akazukin hanya terus melihat ke arah suara tersebut menunggu sesuatu akan datang. Tapi, setelah beberapa saat menunggu tidak terjadi apa-apa. Akazukin pun berjalan menuju semak-semak tersebut.
Kruukk...
'Suara apa itu...?' pikir Akazukin dalam hati.
Akazukin terus mendekati semak-semak itu dan membuka dedaunan yang menutup asal suara aneh yang ia dengar tadi. Perlahan Akazukin membuka dedaunan itu dan bersiap-siap lari jika muncul sesuatu yang ia takutkan.
"Hah... Lapar..."
Akazukin mendapati seekor Serigala yang sedang duduk di sebuah pohon besar dan rindang memegang perutnya yang sedang kelaparan. Akazukin yang melihat hal itu sekilas merasa ketakutan.
'Bagaimana jika Serigala itu ingin memakanku?' pikirnya. Tetapi perasaan itu bisa ditepi oleh rasa kasian Akazukin melihat keadaan Serigala kurus tersebut.
Tanpa pikir panjang lagi Akazukin melangkahkan kakinya menuju pohon itu.
Akazukin POV
Perlahan-lahan aku melangkahkan kakiku (keko :v #authorditendang) menuju Serigala tersebut. Serigala itu pun sudah mengetahui keberadaanku dan melihat ke arahku dengan matanya yang tajam. Tetapi dia tidak bergerak sama sekali hanya terus melihat ke arahku mendekati dia.
Di saat aku sudah berada tepat di depannya, aku memberinya sebuah apel merah dari keranjangku. Tetapi, ia masih saja melihat ke arahku dengan mata penuh tanya. Aku kemudian berkata,
"Untuk mu," kataku, "kau laparkan...?"
Ia kemudian berdiri. Serigala itu lebih tinggi daripada yang ku kira, dia kira-kira 5 cm lebih tinggi daripada aku.
"..." dia masih saja diam melihat aku dan juga apel di tanganku. Aku juga kembali mengayunkan tanganku kepadanya.
"Ambillah," Serigala itu perlahan mengangkat tangannya dan menyambut apel merah yang ku punya.
"Terima... Kasih..." ujarnya dan aku pun tersenyum.
"Sama-sama!"
...
...
...
Aku dan Serigala sekarang sedang duduk bersama di bawah pohon besar dan rindang. Serigala itu dengan lahapnya memakan apel yang ku berikan. Tunggu.
Serigala apa bisa makan apel?
Aku tidak tau mengapa aku memberinya apel tadi. Aku ingin bertanya kepadanya apakah tidak apa-apa Serigala untuk makan apel. Tapi tak apalah, dia juga memakannya dengan senang hati.
Beberapa saat kemudian Serigala itu menghabiskan 2 apel yang ku berikan kepadanya. 1 apel saja ternyata tidak cukup untuknya, karenanya aku memberinya lagi.
"Terima kasih lagi, walaupun ini pertama kalinya aku makan apel... Tapi ternyata rasanya sangat enak!" ia tersenyum kepadaku sedangkan aku hanya tersenyum malu telah memberikan apel kepadanya Serigala yang seharusnya adalah hewan karnivora.
"Dan ini juga pertama kalinya aku berbicara dengan manusia," ia melihat kearahku dengan mata birunya yang indah, "biasanya mereka langsung kabur atau mengarahkan senjatanya ke arahku," walaupun ia mengatakan hal itu dengan senyuman dan juga tertawa kecil setelahnya, aku sangat yakin jika hal itu sangat mengganggunya.
"..."
"Hei.. Jangan melihatku dengan mata penuh rasa kasian itu... Aku tidak terlalu suka dikasiani," ujarnya sambil menutup mataku. Aku sendiri pun tak tau apa yang terjadi tapi kami berdua tertawa bersama setelahnya.
"Namaku Yusuke, seorang Serigala di hutan ini!" katanya memperkenalkan namanya sambil mengarahkan jempol pada dirinya.
"Namaku Akazukin, seorang manusia di desa ini!" kataku mengikuti gayanya dan dia hanya tertawa kecil.
"Kenapa kamu ada di tengah hutan? Tidak takut dengan Serigala yang bisa membunuh dan memakanmu?" tanyanya.
"Kalau memang begitu, dari tadi seharusnya aku sudah berada di surga sekarang," kataku, "dan alasan aku kesini aku ingin pergi ke rumah Nenekku."
"Eh? Nenekmu tinggal di hutan?" tanyanya dan aku hanya mengangguk, "bagaimana kalau misalnya dia sakit? Bukankah bahaya jika tiba-tiba ia jatuh dan tidak ada yang menolongnya? Bisa-bisa dia mati dengan cepat,"
"Karena itu aku sekarang ingin ke sana untuk merawat Nenek," jawabku.
"Hmm... Dan kamu yang seharusnya segera pergi ke rumah Nenek yang sedang sakit ternyata malahan menolong seekor Serigala yang kelaparan di tengah hutan dan Serigala itu bisa saja membunuhmu dan kamu tidak bisa merawat Nenek yang bisa mati kapan saja... Kau ini memang bodoh atau apa hah? ckckck..."
Mendengar hal itu mukaku merah karena malu dan juga marah kepadanya karena sudah menjelaskan panjang lebar tentang kesalahanku untuk menolongnya. Aku ingin sekali memukulnya paling tidak hanya sekali. Aku bersiap mengepalkan tanganku. Tapi hal yang ia kataka selanjutnya mengurungkan niatku untuk memukulnya.
"Tapi..." ia memulai, "aku benar-benar bersyukur bertemu denganmu tadi..."
Serigala itu kembali tersenyum dengan ramahnya kepadaku dan menatap mataku dalam-dalam sehingga aku bisa merasa tenggelam di mata birunya yang sebiru lautan. Matanya sangat indah dan entah kenapa mirip denganku. Senyumnya juga kelihatan begitu baik dan aku tak percaya kalau dia adalah seekor Serigala, hewan karnivora yang bisa melukai manusia.
"...kin...zukin...AKAZUKIN!"
"E-eh?!"
"Akhirnya nyadar juga... Udah balik ke dunia ini kan? Kemana aja tadi?" tanpa ku sadari ternyata dari tadi aku terdiam melihat wajahnya dan senyumannya. Aku pun menyadari kelakuanku tadi dan pipiku terasa panas.
"Muka mu merah..." ia berkata sambil menunjuk ke arah wajahku dan itu membuat wajahku malah semakin merah, aku pun menutup wajahku, "erm... Kau tidak apa-apa terlambat ke rumah Nenekmu? Bukankah kau seharusnya langsung pergi ke sana?"
"Oiya!" aku bangkit dari tempat dudukku dan membersihkan pakaianku, "kalau begitu... um... Sampai jumpa lagi..." aku agak ragu untuk menyatakan hal itu karena takut mungkin dia tidak ingin bertemu denganku lagi. Tetapi Serigala itu hanya memasanng wajah kaget dan digantikan senyumannya yang khas itu.
"Sampai jumpa lagi..." ujarnya.
Mendangar hal itu aku tersenyum dengan sangat lebar. Aku melambaikan tanganku ke arahnya dan melanjutkan perjalananku ke rumah Nenek.
...
...
Di sepanjang perjalanan menuju rumah Nenek yang ada dipikiranku hanyalah senyuman ramah Serigala tadi dan juga mata biru lautnya yang berhasil menenggelamkan aku ke dalamnya. Dada ku juga semakin berdebar dengan kencang ketika melihat wajahnya. Mengingat senyumannya tadi, entah kenapa aku juga ikut tersenyum. Apakah senyum itu sama seperti menguap?*
"...Hah... Ada apa denganku...?"
Sesampainya di rumah Nenek, aku mengetuk pintunya 3 kali. Setelah beberapa saat tidak ada jawaban, aku kembali mengetuk pintunya lebih keras, mungkin saja telinga Nenek mulai kehilangan fungsinya. Tapi, setelah itu juga tidak ada jawaban apapun, suara saja tidak terdengar dari dalam sana.
"Bukankah bahaya jika tiba-tiba ia jatuh dan tidak ada yang menolongnya? Bisa-bisa dia mati dengan cepat,"
Seketika aku mengingat ucapan Serigala yang baru saja ku temui itu. Dadaku jadi berdebar dengan sangat kencang, ini bukan rasa berdebar yang barusan ku rasa kan ketika mengingat wajahnya. Melainkan perasaan khawatir teringat Nenek.
Aku mencoba untuk membuka pintu rumah Nenek yang ternyata tidak dikunci sama sekali. Perlahan aku masuk ke dalam dan memanggil Nenek.
"Nenek...? Nenek di mana...?" panggilku.
Aku terus berjalan dan kemudian berlari ke arah dapur. Tetapi tidak ada tanda-tanda Nenek berasa di sana, yang ada hanya lah sebuah panci berisikan sayuran. Aku kemudian memanggil Nenek lagi.
"Nenek! Nenek! Nenek di mana?!" teriak ku.
"Nenek ada di sini..."
Tiba-tiba aku mendengar sebuah suara dari kamar Nenek. Suara itu sangat familiar di telingaku, tapi aku yakin... Itu bukan suara Nenek.
Aku berlari menuju asal suara itu, masih berharap Nenek baik-baik saja. Tetapi harapan itu sia-sia, yang kulihat di kamar Nenek bukanlah Nenek yang sedang sakit. Melainkan seekor Serigala yang ku kenal sedang menggoreskan kukunya ke tangan Nenek yang terbaring lemas di kasur.
"...Ne-Nenek...?"
"Ah... Hallo, gadis kecil..." kata Serigala itu. Aku hanya terdiam di ambang pintu, melihat Serigala yang berada di depanku. Serigala itu melihat ku dengan mata yang tajam. (setajam silet :v #bakarauthor)
Serigala itu mendekati diriku, semakin mendekat semakin aku yakin kalau Serigala itu adalah Serigala yang kutemui tadi. Serigala yang tersenyum dengan ramahnya ke diriku. Serigala yang tertawa bersamaku. Serigala yang memiliki mata biru yang sama denganku. Serigala yang yang menganggapku bodoh dan ceroboh. Serigala yang membuat pipiku menjadi panas. Serigala yang membuat jantungku berdebar. Serigala yang membuatku jatuh cinta. Serigala yang bernama... Yusuke...
"Yu...suke...-san...?" kataku melihatnya dengan mata yang ketakutan sedangkan dia mendengar aku mengucapkan namanya hanya diam melihatku.
Aku mulai gemetaran. Aku ingin sekali menggerakkan kaki ku untuk lari keluar, tapi sekujur tubuhku hanya bisa diam membeku di tempat. Keringat dingin mulai keluar dari tubuhku dan Serigala itu makin mendekat.
" Sampai jumpa lagi..."
Apa ini yang dimaksudnya ber'jumpa lagi' pada saat itu? Aku... Aku tidak ingin percaya Serigala ini adalah Serigala yang tadinya bersamaku. Tapi... Tapi dia benar-benar mirip Serigala yang sedang mengangkat tangannya meraih diriku.
#DOR (ceritanya suara senapan, bukan balon hijau meletus :v)
Aku kaget mendengar suara itu. Seketika kaki ku lemas dan aku terjatuh. Serigala tadi, juga kaget mendengar suara senapan yang terdengar sangat dekat dari rumah Nenek, berlari keluar.
Aku bangkit dari duduk ku dan berlari ke arah Nenek. Nenek memang terlihat pucat sekali tapi dia masih bernafas dengan baik. Setelah mengecek keadaan Nenek, aku berlari keluar mencari asal suara senapan itu, berharap bisa meminta bantuan.
#DOR (hatiku sangat kacau, balon ku tinggal 4 ku pegang erat-erat! yey! (๑•̀ㅁ•́๑)✧)
Terdengar lagi suara yang sama dan aku mengejar suara itu. Aku berlari dan terus berlari. Aku mulai melupakan mengapa aku berlari mengejar suara itu. Apakah benar aku mengejar suara itu untuk mencari bantuan?
Aku memperlambat lariku dan akhirnya berhenti.
"Aku... Aku... Yusuke-san..."
Di saat pikiranku sedang kacau. Aku mendengar sebuah suara lainnya di dekatku. Sebuah suara kesakitan yang sangat kecil. Suara yang pernah aku dengar sebelumnya. Dan aku berjalan ke arahnya lagi.
Ku buka dedaunan yang menghalangi jalanku menuju dirinya. Aku sekali lagi melihat dirinya. Tapi sekarang terbaring lemas dan darah keluar dari tubuhnya.
"Yu...Yu...YUSUKE!"
Aku berlari ke arahnya dan duduk di sampingnya. Aku mengguncangkan tubuhnya dan memanggil-manggil namanya berulang-ulang kali, berharap dia masih bisa mendengar suaraku.
Aku terus dan terus memanggil namanya hingga tak peduli bahwa air berjatuhan dari mataku. Air mataku tak bisa berhenti sama sekali, mereka jatuh melewati pipiku dan akhirnya sampai ke tanah.
"Yusuke! Yusuke! Yusuke!"
...
...
...
"A-Akazukin...?" ku dengar suara dari mulutnya dan dia perlahan membuka matanya, "baka... Ke... kenapa kau menangis...?"
"Yusuke...-san?"
"Ah... Ini pertama kalinya aku mendengar namaku keluar dari mulutmu..." ia menutup matanya kembali dan tersenyum sesudah batuk beberapa kali.
"Yu-Yusuke-san?! Bangun! Jangan tutup matamu! Bangun! Aku... Aku masih ada hal yang ingin ku katakan dan tanyakan kepadamu...!"
Aku kembali mengguncangkan tubuhnya lagi berharap ia kembali membuka mata indahnya kembali.
"Teri...ma... Kasih... Aku sangat... menyukai... apel yang kau... berikan..."
Setelah mengucapkan kalimat yang sangat hangat itu. Tubuhnya menjadi sangat dingin dan semakin dingin. Air mata yang ada di wajahku juga semakin berjatuhan.
"Kenapa... Kenapa kau melakukan hal tadi dan sekarang malah mengatakan kalimat yang begitu indah...?"
Yak! SELSAI! Hah... Leher auhor sakit... ('∀`;)
Gimana chapter bonus ini? :3
*Menguap itu bisa menular. Misalnya kita ngeliat orang nguap, kita juga bakalan nguap. :O
Duh, author jadi nguap -_-
Thank you for Reading
Sorry for Mistakes
Please Comment
