Chapter 3

Summary : Percayalah. Suatu hari nanti, aku yakin Tuhan akan mempertemukan aku dan kamu yang akan menjadi kita. Kita berdua akan terus bersama selamanya apapun yang akan terjadi. Just us, both of us. One day ~

.

.

.

ONE DAY

Pair : KrisTao – HunTao – ChanTao | Main Cast : - Huang Zitao - Wu Yifan – Oh Sehun – Park Chanyeol – And Others

Warning : Genderswitch – Official Couple – Typo's – Gaje – Membosankan

Length : Chapters

Rate : M for this chapter

Para cast milik Tuhan, orang tua masing-masing, agensi masing-masing dan cerita ini murni milik saya.

.

.

.

Mobil Kris tiba di basement Hotel yang telah dipesan sebelumnya. Ia menoleh pada Zitao yang duduk dibangku penumpang tertidur dengan damai. Nafasnya teratur. Ia jadi enggan mengusik gadis yang tengah tertidur itu.

Tapi mau tidak mau ia harus menuntaskan apa yang ada dipikirannya.

Membuat Zitao menjadi miliknya.

Selamanya.

Ia tidak peduli bagaimana akibat dari perbuatannya ini nanti.

Yang jelas ia akan sangat senang hati untuk bertanggung jawab.

Karna menurutnya, hanya dengan cara ini ia bisa memiliki Zitao.

Kini Kris yang tengah menggendong Zitao tiba didalam kamar mereka.

Kamar yang akan menjadi saksi bisu penyatuan pergerakan cinta Kris pada Zitao.

Kris membaringkan tubuh sintal gadis itu. Ia juga ikut terbaring telungkup disamping Zitao dengan sedikit menindih tubuh subur gadis itu. Entah kenapa jantung nya berdegup kencang saat melihat wajah Dewi-nya yang sedang tak sadarkan diri.

Zitao benar-benar bagaikan seorang Dewi. Bahkan matha patti yang masih terpasang indah semakin memperlihatkan betapa anggun gadis itu. Bahkan Kris tidak pernah melihat wanita seanggun Zitao sebelumnya.

Tanpa sadar bibirnya membentuk senyum saat mengusap-usap kulit pipi halus itu.

Senyum tulus hanya untuk sang Dewi.

Senyum Kris memudar kala mata indah itu perlahan terbuka. Zitao melebarkan matanya saat mengetahui apa yang terjadi padanya.

"K-kris ge?" Zitao berbisik pelan, ia bahkan tidak sanggup untuk mengeluarkan suara. Tenggorokannya mendadak kering. Namun masih bisa didengar oleh Kris.

"Ya, Dewi-ku." Kris masih mengusap pipi Zitao. Kemudian ia mengangkat tubuhnya dan menindih tubuh sintal Zitao sepenuhnya.

Mata Zitao bergerak liar saat menatap wajah Kris yang begitu dekat dengannya.

"A-apa yang mau kau lakukan?" Zitao meronta saat Kris menggenggam kedua lengannya.

"Aku ingin kau jadi milik-ku Zitao."

"Apa?" Zitao tersentak kaget saat mendengar pernyataan Kris. Pipi-nya merona, ia mendadak panas. Ia merasa ada gejala aneh pada tubuhnya.

"Kenapa? Kau ingin menolakku? Tapi kurasa kau menginginkan-ku sayang~" Kris berkata dengan suara rendah dan begitu serak. Ia mendekatkan wajahnya pada tengkuk Zitao dan menghirup aroma tubuh Dewi-nya. Gadis itu mendongak dan melenguh indah.

Suara itu seperti sihir yang bisa menaikkan libido seorang Kris Wu.

Suara indah itu masih terdengar saat Kris memberikan tanda pada kulit putih gadis itu. Ia bahkan tidak menolak sama sekali.

Kris mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Zitao. Kris merasa dunia miliknya. Miliknya dan gadis-nya.

Gadis itu membalas menatapnya, nafasnya tersengal-sengal dan wajah Zitao merah padam dengan peluh yang membuatnya semakin mempesona. Bahkan ia tidak menolak perlakuan Kris.

Kris tau gadis itu dalam pengaruh obat laknat yang sengaja ia campurkan dengan sampanye milik Zitao sebelumnya.

Tangan kanan Kris bergerak membelai wajah Zitao. Kemudian ia melepaskan matha patti yang masih lekat dikepala Zitao.

Lagi-lagi gadis itu tidak menolaknya. Ia malah terpana melihat wajah Kris sedekat ini. Tanpa sadar tangan kanannya terangkat untuk menyentuh rahang Kris. Ia menelusuri wajah tampan yang terpahat sempurna itu.

Zitao seakan lupa pada dirinya. Entah apa yang membuatnya jadi seperti ini. Ia juga bingung.

"Kau milik-ku Zitao. Hanya milik-ku."

Kris mendekatkan wajahnya pada wajah Zitao, ia meraup sambil sesekali menggigit bibir bawah menggoda itu. Sedangkan Zitao bergerak gelisah, gaun itu membuatnya tidak nyaman.

Kris membuat tubuh Zitao bangun lalu membawa gadis itu berdiri. Ia memeluk tubuh sintal Zitao mesra sambil sesekali mengelus halus rambut indah itu sebelum ia menyampingkan pada bahu kiri Zitao. Tangannya beralih pada zipper gaun Zitao. Dengan perlahan ia menurunkannya yang membuat gaun indah itu jatuh kelantai.

Kris masih memeluk Zitao, namun gadis itu hanya diam. Ia mengelus kulit punggung polos Zitao. Gadis itu tidak memakai bra mengingat gaun tanpa tali itu tidak harus menggunakan bra. Sedangkan Zitao mulai bergerak gelisah dalam kukungan pemuda itu. Kris mulai gencar meraba-raba tubuh bagian belakang Zitao sampai ia melepaskannya saat gadis itu mendorongnya.

Pemuda itu menyeringai melihat tubuh setengah telanjang Zitao. Celana dalam hitam itu satu-satunya pelindung tubuh Zitao. Bahkan ia bisa melihat dengan jelas bongkahan dada Zitao yang sangat pas dalam genggamannya.

Laki-laki mana yang tidak bernafsu melihat makhluk menggoda seperti Zitao di depan mereka?

Bahkan celana Kris semakin menyempit saja.

Kris melepaskan jas yang ia pakai lalu melempar asal, ia melonggarkan dasi dan membuka kancing kemejanya paling atas sebelum ia kembali menyerang Zitao.

Kali ini ciuman yang Kris berikan sedikit kasar. Gadis itu mengerang indah saat ciuman Kris turun pada lehernya. Ia meremas rambut dirty blond milik Kris untuk melampiaskan apa yang ia rasakan. Lututnya serasa seperti jelly, ia tidak sanggup menopang tubuhnya.

Sesaat ia merasa melayang saat Kris mengangkat tubuhnya dan menidurkannya kembali. Kris kembali menindihnya.

"Dewi-ku. Kau begitu indah." Tangannya membelai pipi Zitao saat gadis itu memejamkan matanya.

Nafas mereka terdengar saling menyaut satu sama lain saat keduanya sama-sama terdiam.

Kris kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Zitao. Ciuman itu kembali terjadi. Pemuda itu mengarahkan kedua lengan Zitao untuk mengalung pada lehernya. Kemudian ia menggunakan lengan kanannya untuk menahan dirinya agar tidak terlalu menghimpit Zitao. Sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk memijat lembut payudara kanan Zitao.

Tubuhnya bagaikan tersengat arus listrik saat menyentuh kulit gadisnya yang begitu lembut terawat. Ia bisa gila memikirkannya.

Lagi-lagi suara indah Zitao ia keluarkan untuk Kris, membuat pria itu semakin gencar menjelajahi tubuh Zitao.

Ciuman Kris turun pada leher gadis itu, entah sudah berapa banyak tanda itu terukir indah pada kulit putih Zitao. Namun Kris belum puas, ia terus menambah tanda itu hingga kebahu dan sekitar dada Zitao seolah ingin mengatakan pada dunia bahwa pemilik tanda tersebut adalah dirinya.

Zitao semakin mendongak keatas saat ia merasakan sesuatu yang basah pada puncak dadanya. Ia juga semakin gencar mendesah dan terus meremas-remas rambut Kris.

Isapan Kris pada puncak dadanya semakin terasa saat ia membusungkan dadanya meminta lebih.

Dan Kris dengan senang hati memberi lebih pada Zitao.

Kris masih setia pada dada Zitao. Bahkan ia berlaku kasar dengan terus meremas, menghisap dan menggigit puncak manis itu yang membuat Zitao kehabisan suara untuk mendesah.

Ciuman Kris terus turun hingga perut rata Zitao. Ia memberi kecupan mesra bertubi-tubi pada perut itu. Lidahnya juga bermain pada lubang pusar Zitao selagi ia menyingkirkan satu-satunya kain yang melekat pada tubuh gadis itu.

Pemuda itu melebarkan kedua paha Zitao. Ia menahan kedua paha Zitao saat gadis itu mencoba untuk merapatkan kembali.

Jantungnya berdetak berkali-kali lebih cepat saat melihat kewanitaan Zitao tepat dihadapannya. Bahkan ia bisa mencium bau khas kewanitaan gadis-nya.

Perlahan Kris mendekatkan wajahnya pada paha dalam Zitao.

"Aaaaah…. Cuk.. khup.. ahh.."

Suara itu bahkan terdengar seperti menyuruhnya untuk melakukan lebih. Kris seakan tuli dibuatnya.

Lidah Kris semakin gencar menelusuri setiap inci kewanitaan Zitao. Sesekali lidahnya juga menggoda sesuatu yang menonjol ditengah kewanitaan itu.

Zitao sudah tidak tahan lagi. Ia juga tidak bisa berkata-kata lagi. Sedari tadi ia bergerak gelisah sambil terus meremas bahkan menjambak rambut Kris untuk melampiaskan hasratnya.

Lidah Kris masih bermain diarea pribadi Zitao. Lidah itu menemukan sasarannya. Pintu menuju surga Zitao. Kris menekan-nekan dan memasukkan lidahnya disana. Membuat sang empunya berteriak menahan geli sekaligus nikmat.

"Aaaaaaaaaarrrgghh… aah… aaahhh…"

.

.

.

Sehun masih mencari Zitao. Gadis itu mendadak menghilang entah kemana. Saat dihubungi ponselnya juga tidak aktif.

"Sehun-ah, bagaimana?"

"Ponselnya tidak aktif Kai-ah." Sehun mulai panik. Bagaimana tidak. Jam sudah menunjukkan pukul 11.45 malam.

Bagaimana cara ia menjelaskan pada mama dan papa Huang?

Bahkan ia belum menghubungi orang tua Zitao.

Sehun takut orang tua Zitao khawatir.

"Hiks… bagaimana ini?"

"Sssstt… ini bukan salahmu." Kai mengeratkan pelukannya pada Kyungsoo. Sedari tadi gadis itu terus menyalahkan dirinya sendiri. Saat Kyungsoo kembali dari kamar mandi, ia sudah tidak menemukan Zitao lagi.

Sementara Sehun masih bingung, ia tidak bisa berpikir yang lain selain bagaimana keadaan Zitao saat ini.

Pesta akan segera berakhir. Pengunjung juga sudah ramai yang meninggalkan gedung ini. Tiba-tiba saja Sehun melihat seseorang.

Orang itu pasti bisa membantu. Pikirnya.

"Kai, Kyungsoo. Tunggu sebentar." Kai mengangguk mengiyakan.

Sehun berlari kearah orang tersebut.

"Tunggu!"

Orang tersebut berbalik melihat.

"Kau? Ada apa?" Pria itu heran kenapa Sehun terlihat seperti baru saja selesai lomba lari marathon.

"Zitao. Dia… dia…" Sehun masih menghirup nafas banyak-banyak. Ia begitu kesusahan untuk menjelaskan apa yang terjadi.

Dikepalanya hanya ada pertanyaan bagaimana keadaan Zitao.

"Kenapa dengan Zitao? JAWAB AKU SEHUN!"

Chanyeol.

Pria itu mencengkram erat bahu Sehun.

Zitao memang bukan siapa-siapa untuknya?

Tapi siapa yang boleh melarang bahwa ia sangat menyayangi gadis itu.

"Aku tau ini salahku. Tapi maukah kau bantu aku?. Aku terlalu takut menghungi keluarga Zitao sekarang. Aku khawatir padanya. Aku..…kumohon."

Chanyeol menatap kosong kearah Sehun. Ia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.

Tapi hatinya gelisah mengingat Zitao.

"Aku akan menemukan Zitao." Ia mengambil ponsel pintarnya didalam saku celana dan menghubungi seseorang.

.

.

.

Entah sejak kapan Kris sudah melepaskan semua pakaiannya. Ia dan Zitao sama-sama tidak tertutupi sehelai benang pun.Keduanya juga menetralkan deru nafas masing-masing.

Wajah Zitao semakin memerah. Tiba-tiba saja tubuhnya semakin memanas dari sebelumnya dan ingin segera menuntaskan sesuatu.

Ia semakin melenguh saat Kris kembali memberi ciuman bertubi-tubi disekitar dadanya.

"Izinkan aku masuk Zitao. Izinkan aku masuk~" Suara Kris semakin berat. Anggota tubuh dibagian selatannya semakin menegang.

Dan Zitao merasakannya.

"Aaahhh…"

Zitao tidak bisa menahan desahannya. Setiap kali kulitnya dan kulit Kris bertemu ia hanya pasrah dan hanya bisa mendesah.

"AAKH.."

Kris mulai memasuki Zitao. Ia bisa merasakan kulit bahunya terasa perih akibat cakaran Zitao.

Ia bisa memakluminya. Toh, apa yang dirasakan Zitao lebih menyakitkan daripada yang ia rasakan.

Kris membungkam bibir Zitao untuk mengalihkan rasa sakit gadis itu. Ia semakin mendorong miliknya, kemudian mendiami sebentar agar gadis-nya tidak tersakiti.

Bunyi suara kecipak mengakhiri ciuman panas mereka, walau tak sekalipun Zitao membalasnya. Ditatapnya mata itu. Ia bisa melihat ada liquid bening yang keluar dari sana.

Apa aku menyakiti Dewi-ku?

"Jangan menangis sayang~. Aku mencintaimu." Ibu jarinya bergerak menghapus liquid itu.

"Sakit. Hiks…" Zitao mulai sesegukan. Keringat juga semakin membanjiri seluruh tubuhnya.

"Sssstttt… aku akan membuatmu nyaman sayang~" Ia kembali mencumbui Zitao dan mulai menggerakkan pinggulnya.

Panas.

Kris semakin gila.

Ia bisa merasakan bagaimana hangatnya tubuh Zitao.

Begitupun dengan gadis belia itu.

Entah apa yang ia rasakan sampai-sampai ia tidak menolak setiap sentuhan yang Kris berikan.

Ini membuatnya tak kalah gila.

Tubuhnya terasa melayang, otaknya tidak bisa berpikir dengan jelas untuk sesaat dan bibirnya kelu tidak bisa berkata-kata saat sesuatu yang hangat dibawah sana ia rasakan.

Kelegaan dirasakan oleh keduanya.

"Haaah hah….. hah. Zitao. Kau milikku. Hanya milikku." Kris berbisik dengan kedua nafas mereka tersengal-sengal saling menyahuti.

Dilihatnya Zitao mulai tertidur. Kris membaringkan dirinya disamping gadis itu sebelum ia mengecup lama kening Zitao.

"Selamat malam sweetheart~" ia berkata rendah sembari menyelimuti tubuh telanjang mereka berdua. Kris membawa Zitao kedalam pelukannya.

Tangannya memeluk erat Zitao sambil sesekali mengelus perut rata itu.

Ada sedikit kelegaan yang ia rasakan.

Ia pikir nanti keturunannya akan tumbuh di dalam rahim orang yang ia puja secara diam-diam.

Dan orang itu ada dalam pelukannya.

Kau harus tumbuh disana sayang. Papa akan menunggu kehadiranmu.

.

.

.

Love is freedom when coercion and control is lost.

-One Day-

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N : Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….

#scream #gulingguling #gigitkuku #tutupinmata

Yang diatas itu apa ya? xD

Ohya, untuk karakter dan status pemainnya belum semua kebuka walaupun udah sebagian tapi enggak begitu detail. Tapi bakal aku buka satu-satu nantinya.

Dan Kris disini juga engga ngalamin penyakit kejiwaan kok. Dia terlalu terobsesi aja sama Tao dan gak mau susah-susah gerak dan buang banyak waktu. Jadi dia gak mikir gimana cara deketin Tao secara pelan-pelan dan butuh proses. Jadi dengan gampangnya dia mau yang mudah-mudah aja. Terlalu mainstream emang. Tapi nanti dia bakal tunjukin sayang dan tulusnya ke Tao kok.

Dia punya cara sendiri.

Kris mah gitu orangnya. #ditabok

Jadi jangan salah paham ya.

Oh ya kritik dan saran dibutuhkan lhooo. Soalnya aku gak begitu jago dalam menulis.

See you on the next chap and Ramadhan kareem ^_^