CHANGE
©Boku No Hero Academia by Horikoshi Kouhei.
CHANGE by Usei.
Chapter 4 : Reason
.
.
.
Midoriya Izuku's POV
.
.
"TEME.. Apa yang kau lakukan?"
Bongkahan es yang sangat tinggi itu menghalangi langkah si raja peledak. Membuat seorang Bakugou Katsuki semakin geram. Mataku membelalak ketika melihat punggung itu menghalangiku dari Kacchan. Tegar seperti menara es yang ia ciptakan. Tegap seperti perisai. Kedua bola matanya yang tak senada sempat bertemu denganku, mengisyaratkan sesuatu.
Todoroki-kun...
"Apa... yang dilakukan Todoroki?"
"Jangan bilang..."
Tidak hanya kalian yang bertanya-tanya. Aku pun begitu. Pemandangan macam apa ini? Kenapa Todoroki-kun menghalangi Kacchan mendekatiku? Kenapa sudut matanya tak bergeming dan menusuk teman setimnya sendiri? Ada apa dengannya?
"...Todoroki... mencoba melindungi Midoriya?"
Me-Melindungiku? Tetapi, kenapa? Situasi ini mendesak. Kacchan dan Todoroki-kun seharusnya memanfaatkan situasi ini untuk mendapatkan nilai sempurna, 'kan? Sudah sewajarnya seperti itu yang terjadi, 'kan?
Tetapi kenapa?
"Aku akan bertanggung jawab atas dirimu."
Tidak mungkin itu alasannya, 'kan? Tidak mungkin, 'kan? Na, Todoroki-kun, apa maksudmu sesungguhnya ketika mengucapkan itu kepadaku?
"Minggir."
Ka-Kacchan...
Aku yakin Kacchan akan semakin murka dengan situasi saat ini. Ditambah lagi aku sudah melukai wajahnya sehingga mendapatkan poin, pasti dia berniat menghabisiku. Aku sangat yakin wajah geram Kacchan saat ini adalah wajah paling mengerikan yang pernah kulihat semenjak selama ini aku bersama dengannya. Tingkah laku Todoroki-kun yang ganjal akan menambah alasan bagi Kacchan untuk mengalahkannya dan juga aku.
"Kubilang, MINGGIR!"
Brak!
Menara bongkahan es itu meretak akibat pukulan disertai ledakan milik Kacchan. Apapun yang menghalanginya pasti tidak akan ia biarkan, seperti itulah Kacchan.
"Hentikan, Bakugou."
Todoroki-kun?!
"Ha? Apa yang kau katakan, sialan? Hentikan? Jangan bercanda! Kenapa aku harus berhenti?"
"Sebentar lagi sesi waktu kita habis. Kita sudah lebih unggul 10 poin dibandingkan mereka. Dipastikan kita yang menang. Kau hanya perlu bersabar hingga akhir waktunya. Jangan melakukan pergerakan yang tidak perlu."
Be-benar juga. Sudah berapa lama duel kami berjalan? Berapa lama lagi usai? Kami sudah ketinggalan poin, bahkan Kirishima-kun sudah pingsan. Apakah kesempatan bagi kami masih ada?
"Sudah kukatakan, aku tidak butuh pendapatmu. Aku akan jadi yang teratas, aku akan mendapatkan poin sempurna! Kalau tidak, maka tidak ada artinya, Kuso Yaro ! Aku akan melampaui kau maupun si kutu buku Deku!"
Yappari, Kacchan pasti begitu. Ia tidak akan menyerah sampai mendapatkan yang paling sempurna. Jika aku berhasil melukainya, maka ia pun akan melukaiku. Jika ada sembilan orang pun, ia akan membabat habis semuanya dan ia tidak akan berhenti sampai membuatnya puas.
"... Oleh karena itu, enyahlah dari hadapanku, hanbun yaro ! STUN GRENADE!"
Ctar!
Es-es itu hilang dalam sekejab. Meskipun begitu, Todoroki Shouto tak sedikitpun bergerak dari tempatnya berdiri. Jika selapis tembok es dapat dihancurkan dalam sekali ledakan, maka ia akan membuatnya lebih banyak. Seakan itulah yang tubuh itu katakan kepada semua orang yang menyaksikan.
"Sou ? Kalau begitu, aku tidak akan membiarkanmu melangkah lebih jauh dari ini."
Tiba-tiba saja sebelah kiri tubuhnya mengobarkan api. Di sisi lain, Kacchan terdesak dengan lapisan dinding es yang terus melaju mengejar posisinya. Kacchan berusaha menghancurkannya satu per satu. Sedangkan aku hanya bersimpuh gemetar melihatnya. Kenapa jadi seperti ini? Apa yang sedang aku saksikan? Apakah aku penyebabnya? Bahkan Todoroki-kun.. Ia.. kembali menggunakan apinya. Lihatlah, tangannya sudah menari di udara, siap menembakkan api kapan saja. Aku.. Aku harus menghentikannya!
"Todoroki-kun!"
Aku meneriakkan namanya. Aku dapat melihat tubuhnya sedikit terhentak.
"Hentikan kalian berdua!"
All Might datang, menghancurkan semua lapisan es dalam sekejab mata. Bahkan ia sudah menangkap Kacchan yang tengah berlari untuk menyerang Todoroki-kun. Interupsi yang diberikan seorang pahlawan nomor satu pastinya bukan hal main-main.
"Waktu kalian habis. Hentikan semua ini."
"Cih."
Kacchan berdecih kesal. Tanpa mendengar pengumuman bahwa mereka berdua unggul kali ini, ia telah pergi entah kemana. Sedangkan Todoroki-kun, ia hanya berdiam di tempat terakhirnya berdiri. Apinya telah padam, begitupula cahaya di wajahnya. Kurasa, meskipun mereka unggul, tidak ada satupun dari mereka yang merasakan kesenangan.
"Midoriya-shoujo, pergilah ke tempat recovery girl untuk mengobati lukamu dan juga Kirishima-shounen. Mungkin salah satu dari kalian bisa membantu membopong Kirishima-shounen."
"Biar aku saja yang membantunya," ucap si remaja bersurai ganda itu. Ia kembali melirikku dari kejauhan dan kemudian bersiap mengangkat tubuh Kirishima-kun yang tengah berbaring di pangkuanku. Entah kenapa rasanya sendu ketika melihat ekspresi wajahnya.
"Terima kasih, Todoroki-kun."
"Ya."
Tidak, aku benar-benar berterima kasih kepadamu.
Tanpa kehadiran kami berempat, ujian praktek duel kembali dilanjutkan.
.
.
.
"Ciuumm.. oh, sepertinya tidak perlu," Nenek tua itu kembali membubuhkan antiseptik di sepanjang wajah Kirishima-kun. Keadaan Kirishima-kun masih belum sadarkan diri. "... Karena ini hanya luka goresan ringan, jadi tidak perlu menggunakan quirk-ku."
"Tapi.. recovery girl.. Kenapa Kirishima-kun tidak sadarkan diri?"
"Aku rasa tubuhnya merasa shock karena tekanan besar tetapi tidak melukai tubuhnya kok. Mungkin kepalanya sedikit terhantam."
"Oh begitu ya."
"Apakah kalian berdua juga perlu diobati?"
Aku melirik Todoroki-kun yang berdiri di sampingku dan ternyata ia juga melirikku. Sepertinya, tidak ada luka khusus yang kami derita. Namun, untuk memastikannya..
"Aku tidak perlu. Kalau Todoroki-kun?"
"Aku baik-baik saja."
"Begitu? Baguslah. Tidak ada yang terluka parah. Kerja bagus karena sudah meminimalisir luka yang terjadi. Untuk sementara biarkan dia disini, aku akan ke ruangan guru untuk melapor. Kalian jaga dia sebentar ya."
"Hai."
Kepergian wanita itu membuat suasananya menjadi suram. Entah kenapa tempat ini terasa begitu sepi padahal ada tiga orang di sini, ya walaupun salah satunya sedang pingsan sih. Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus memecah keheningan ini? Apakah aku juga.. perlu.. mempertanyakannya?
"Todoroki-kun.."
Aku memandangnya, ia pun memandangku. Tak disangka situasi ini begitu mendebarkan. Sejak kapan Todoroki-kun terlihat.. um.. apa ya? Berbeda? Tidak, tidak, apa yang aku pikirkan?
"Kenapa Todoroki-kun melakukan itu tadi? Apakah benar kau bermaksud melindungiku dari Kacchan?"
Sebenarnya aku sedikit takut mempertanyakannya karena belum tentu apa yang diucapkan teman-teman adalah kebenaran. Tetapi apabila semua itu benar, maka aku harus bagaimana? Apakah aku harus kembali mengucapkan terima kasih? Apakah memang reaksi seperti itu yang harus aku berikan jika semua itu benar? Lagi, si pemilik quirk ganda hanya membisu. Meskipun kedua bola matanya begitu lekat kepadaku. Apakah yang ia ingin katakan? Aku harus menunggu hingga bibir itu bergerak, menyuarakan pikirannya.
"Entahlah. Aku tidak tau."
Eh? Apa maksudnya? Jadi dia tidak mengerti alasannya?
Ia mengalihkan pandangan kepada sosok teman kami yang tengah berbaring. Pandangan matanya jauh entah kemana, sepertinya sedang berpikir. Apakah dugaanku salah? Apakah pertanyaanku seharusnya tak kutanyakan kepadanya?
"Na, Midoriya."
"I-Iya?"
Ia kembali memandangku. Sebelah tangannya meraih tanganku yang sudah rusak karena pertarungan dengannya. Todoroki-kun memandanginya jeli. Ada apa ini? Semenjak kapan aku merasakan jantungku berdetak lebih kencang? Apakah ini efek duel kami tadi? Apakah aku masih saja merasakan euforianya? Kenapa, kenapa Todoroki-kun menatapku begitu? Kenapa ia mengelus jari tanganku? A-Ada apa dengannya?
"Aku sudah menemui Ibuku di rumah sakit. Aku menceritakan semuanya, apa yang ingin aku lakukan, apakah aku sekarang. Aku ingin menyelamatkannya. Dia.. menangis lagi. Ibuku memaafkanku sambil menangis. Rasanya.."
Entah kenapa aku hanya bisa tersenyum.
"Yokatta ne, Todoroki-kun."
Todoroki Shouto, akhirnya, kumelihatnya tersenyum. Selama ini, aku hanya melihat wajahnya yang begitu masam. Namun ketika dari kejauhan aku dapat merasakan kesedihan yang mendalam sepanjang hidupnya. Apakah beban hidupnya sudah berkurang? Apakah kini hidupnya sudah lebih berwarna? Tidak ada yang tau kecuali dirinya sendiri.
"Terima kasih, Midoriya. Aku ingin kau bertemu dengan Ibuku."
"Ha?"
"Ah, warui. Aku menceritakanmu padanya, sepertinya dia ingin bertemu denganmu. Katanya 'Ibu ingin lihat anak gadis seperti apa yang sudah membuat anak Ibu terus saja memikirkannya'."
Ibu ingin lihat anak gadis seperti apa yang sudah membuat anak Ibu terus saja memikirkannya, katanya? Tunggu dulu!
"Apa maksud perkataan Ibu Todoroki-kun?"
Karena rasa penasaran, aku bahkan lupa genggaman tangan itu masih berada disana. Kedua bola mata yang berbeda warna bertemu dengan milikku.
"Maksudnya? Entahlah. Ibuku bilang aku selalu saja menyebut nama Midoriya. Aku sendiri tidak sadar apa saja yang sudah aku katakan kepadanya sampai saat ini."
Tu-Tunggu dulu. Todoroki-kun? Apa sih yang dibicarakannya? Bertemu dengan Ibunya? Itu bukan sebuah masalah bagiku. Namun arah pembicaraan ini kemana? Aku merasakan keanehan saat mendengarnya, benar-benar rasanya sangat aneh. Jantungku.. Jantungku kenapa?
"Midoriya? Kau baik-baik saja? Wajahmu kenapa merah sekali?"
Me-Merah? Tanpa sadar aku memegangi kedua belah pipiku. Rasanya memang agak panas. Eh, aku kenapa? Aku memandangi pemuda di hadapanku, kedua alisnya mengerut kebingungan. Ia berusaha meraih pipiku, tetapi aku menghindarinya.
"Eh... Midoriya? Todoroki?"
Suara itu? Kirishima-kun sudah siuman?
"Kirishima-kun! Kau baik-baik saja?"
Tanpa basa basi, aku langsung mendekati ranjang tempat Kirishima-kun berbaring. Aku berusaha menanyakan bagaimana keadaannya, berusaha mengabaikan keberadaan manusia lain di ruangan itu. Aku sendiri tak mengerti ada apa denganku, kenapa juga aku harus berpura-pura untuk mengabaikannya? Kenapa aku merasa canggung dengannya?
.
.
.
Keesokan harinya, kehidupan sekolah kami dimulai dengan mata pelajaran pada umumnya yaitu bahasa inggris. Selagi menunggu bel masuk berbunyi, aku merapikan isi meja belajarku. Entah kenapa pagi ini aku begitu gelisah terutama saat tak sengaja bertemu dengan Todoroki-kun di lorong menuju pintu kelas. Semenjak kejadian kemarin, aku terus saja memikirkannya. Aku tidak mengerti ada apa denganku.
Brak!
Pintu itu terbuka lebar karena seseorang menendangnya dengan kasar. Pagi hari yang dipenuhi anak murid yang masih mengantuk tak berlaku bagi si pelaku yang baru saja masuk. Entah apa lagi yang telah membuatnya kesal kali ini. Seisi kelas menjadi terdiam.
Kacchan..
Entah ia pergi kemana kemarin. Aku sedikit khawatir. Di wajahnya itu masih ada goresan luka akibat seranganku kemarin. Aku sudah sangat ketakutan kalau saja ia mendatangiku dan kemudian mengamuk, namun kenyataannya ia malah menghilang.
Kacchan masih saja berdiri di ambang pintu. Kedua matanya menuju ke bagian belakang kelas. Pandangan matanya semakin tajam dan menusuk. Pasti.. Kacchan dan Todoroki-kun..
"Hei, hei, Bakugou. Kemana saja kau kemarin?"
Kirishima-kun menghampiri Kacchan, namun orang yang ditanya masih saja diam dan memandangan ke deretan bangku belakang kelas.
"Aku sudah mendengar apa yang terjadi kemarin. Rasanya kesal sekali lagi-lagi kalah darimu. Lalu, kau malah konfrontasi dengan Todoroki? Ada apa sih dengan kalian?"
Tunggu dulu, Kirishima-kun kenapa kau mengatakan semua itu? Apa kau tidak sadar situasi mencekam apa yang terjadi sekarang? Kirishima-kun dengan kasualnya menghampiri Kacchan dan menempatkan lengannya di bahu Kacchan. Sungguh tidak bisa diharapkan! Lihatlah sekelilingmu! Mereka memanggilmu, mencegahmu berbicara lebih banyak Kirishima-kun!
"Sudahlah jangan menatapnya begitu, kawan. Todoroki kan hanya ingin melindungi Midoriya. Jangan kejam seperti itulah, menyakiti wanita, Bakugou."
"Ha?" Erlingan mata berpindah ke si rambut merah. Habislah sudah. "Kau bicara omong kosong macam apa?"
"Di UKS kemarin bahkan aku melihat mereka pegangan tangan. Walaupun aku tidak dengar apa yang mereka bicarakan sih."
KIRISHIMA-KUN! APA YANG KAU KATAKAN, HAH? BUKAN SEPERTI ITU!
"Hah?"
Hiiii. Kacchan! Lari, Kirishima-kun! Kalau tidak kau bisa pingsan lagi.
Dibandingkan harus menghabisi Kirishima-kun, entah kenapa Kacchan malah berjalan menuju tempat Todoroki-kun. Keduanya sudah mengeluarkan aura yang tidak mengenakkan semenjak kedatangan Kacchan. Saat ini, entah apa yang akan terjadi. Tidak ada yang bisa menghentikan tekanan diantara keduanya.
"Kenapa kau melakukan itu? Kau sengaja, huh? Bahkan saat festival olahraga, kau memadamkan api kiri sialanmu itu. Lalu kemarin kau dengan seenaknya menghalangiku dan memakai apimu. Apa kau meremehkanku? Kau berusaha menghalangiku dengan cara seperti itu? Apa kau memang orang yang seperti itu, huh, Todoroki?!"
Aku dapat melihat Todoroki-kun menghela nafas sekali. Ia menutup buku yang baru saja mungkin ingin ia baca. Keberadaan Kacchan adalah hal yang mengganggunya saat ini, aku bisa merasakan dari melihat ekspresi wajahnya.
"Kenapa kau diam saja? Huh, menggelikan. Mereka bilang kau melindungi Deku? Jangan bercanda. Jelas-jelas kau merencakan sesuatu."
"Kalau aku memang ingin melindunginya darimu, apakah itu sebuah masalah bagimu?"
Seisi kelas sunyi mendengar pernyataan itu. Bahkan seorang Midoriya Izuku sampai tak bisa berbuat apa-apa. Jika kemarin ia berkata tidak mengerti alasannya, maka apakah pernyataannya kali ini adalah kenyataan? Jika Todoroki Shouto ingin melindungi Midoriya Izuku dari Bakugou Katsuki, maka apakah masalah antara mereka berdua akan berakhir? Hanya tangan Bakugou Katsuki yang mengepal erat menahan emosilah adalah jawabannya.
"Oleh karena itu, menjauhlah dari Midoriya."
.
.
.
To Be Continued.
.
.
A/N : Kayaknya pada byk yg pengen liat Kacchan ngamuk dan cemburu ya? Maaf gue pny plot sendiri hahahaha. Kacchan disini tetaplah Kacchan. Dan Todoroki disini adalah tetap Todoroki. Persaingan mereka apapun itu pasti bakalan ada, gak harus krn Midoriya sih. Chapter ini kek penegasan aja sih.
Untuk chapter kemarin, gue minta maaf karena gue gak membaca ulang. Jadi byk kesalahan disana. Tp krn gak menyimpang dari plot, it's okay.
Jaa, see you! Ditunggu next chapter ya.
