Dislaimer : Masashi Kishimoto
Don't Like Don't Read
.
.
Gadis cherry berusia lima tahun itu menggembungkan pipinya, kesal karena teman sebayanya sedari tadi mengejek gambarnya yang terlihat seperti dua buah batang korek api, hanya saja korek api itu memiliki dua tangan dan dua kaki. "Kau menyebalkan, Ami," gerutu Sakura sambil mendekap buku gambarnya di dada.
Gadis yang bernama Ami itu hanya tertawa mengejek, lalu kembali ke mejanya karena sudah puas mengganggu Sakura.
Sakura menggerutu rendah, lalu melirik bangku kosong di sampingnya. Kemudian, tatapannya dialihkan pada sahabat sekaligus tetangganya. Menghela nafas berat, Sakura menatap gambarnya yang memang sangat buruk. Mungkin, ia memang tidak memiliki bakat sama sekali dalam hal menggambar. Padahal, ia bercita-cita menjadi seorang mangaka. Sepertinya aku harus mengganti cita-citaku, renung Sakura mendalam.
"Ah, aku ingin jadi chef saja!" seru Sakura setelah mendapat pencerahan karena dia memang doyan makan. "Bagaimana menurutmu, Sasuke-kun?"
Sakura yang tadinya sangat antusias, kini berubah cemberut. Ia lupa, kalau Sasuke hari ini tidak masuk. Karena itu, tidak ada yang membantunya menggambar dan hasilnya sangat buruk seperti itu.
.
.
Berbeda dengan Sakura, Naruto tersenyum lebar, sangat puas dengan gambar miliknya. Bocah yang memiliki cita-cita menjadi seorang hokage itu beranjak dari kursinya menuju sahabat pink-nya. "Ada apa, Sakura-chan?" Naruto sedikit bingung melihat raut wajah Sakura yang biasanya ceria itu.
Sakura mendongak, lalu bergeser duduk ke kursi kosong milik Sasuke. "Ami mengejek gambarku," sebal Sakura dengan pipi menggembung.
Naruto yang sudah duduk di tempat Sakura sebelumnya, mengambil buku gambar dalam dekapan gadis itu. "Ini sudah bagus kok, kalau sering berlatih pasti semakin bagus," ujar Naruto membangkitkan semangat Sakura.
"Kau tidak bohong?" selidik gadis Sakura masih cemberut, membuat wajahnya terlihat menggemaskan.
Naruto menggeleng, "Aku tidak bohong!" sergah Naruto, "Ami hanya iri kau bisa menggambar korek api yang memiliki tangan dan kaki," lanjutnya meyakini, lengkap dengan senyum lebarnya.
"Benarkah?" tanya Sakura sedikit antusias.
Untuk yang kedua kalinya Naruto mengangguk cepat, kemudian mengacungkan jempolnya pada Sakura. "Gambarmu memang bagus, Sakura-chan."
Sakura tersenyum lebar mendengar ucapan Naruto, " Terima kasih, Naruto," ungkapnya senang.
Naruto ikut tersenyum melihat Sakura yang sudah kembali seperti biasanya. "Untung saja Sakura-chan tidak marah aku mengatai gambarnya seperti batang korek api," batinnya lega.
Sedangkan Sakura, gadis itu sudah menuju ke depan kelas untuk mengumpulkan tugas menggambarnya pada Karin-sensei dengan senyum lebar. Ah, ia akan tetap bercita-cita menjadi seorang mangaka sepertinya.
"Ne, Naruto. Kita ke rumah Sasuke sepulang sekolah ya…" ajak Sakura ketika sudah kembali duduk di kursinya.
Naruto mengangguk menyetujui.
.
.
.
.
Setelah Sakura mengetuk beberap kali, akhirnya pintu terbuka menampilkan ibu Sasuke dengan celemek hijaunya.
Mikoto menatap dua bocah sahabat putranya dengan senyum lembut. "Sasuke ada di kamarnya," kata wanita bersurai panjang itu.
Karena sudah sangat terbiasa, Sakura dan Naruto langsung berlari menuju kamar Sasuke yang sudah sangat mereka hapal letaknya.
Melihat tingkah dua bocah itu, Mikoto hanya tersenyum. Wanita itu sudah menganggap Naruto dan Sakura seperti anaknya sendiri. Setelah menutup pintu, Mikoto kembali ke dapur untuk melanjutkan acara memasaknya.
.
.
.
Sasuke yang tadinya tengah sibuk dengan PSP-nya mengerang kesal mendengar suara langkah kaki dan ribut-ribut di luar kamarnya. Bungsu Uchiha itu sangat mengenali suara-suara cempreng nan berisik tersebut. Dengan sangat enggan, Sasuke turun dari kasurnya untuk membukakan kedua sahabatnya pintu.
"Kalian berisik!" dengus Sasuke sambil bersedekap.
Mata Naruto langsung menyipit mendapat sambutan tidak bersahabat seperti itu. Ia mengeluarkan gerutuan kecil melihat sikap Sasuke yang tidak ada terima kasihnya karena sudah repot-repot datang menjenguk. "Apa-apaan itu! Seharusnya kau berterima kasih karena aku sudah meluangkan waktu menjengukmu," geram Naruto dengan tatapan tajam.
Sasuke mendecih, "Aku malah berterima kasih kalau kau tidak datang," balas Sasuke.
"Kau benar-benar menjengkelkan, Teme!"
"Cih, tidak sadar diri!"
Sakura yang sedari tadi diam, menginjak kaki Sasuke dan Naruto untuk membuat mereka berhenti berdebat. "Berisik!" kesalnya kemudian melenggang melewati Sasuke. Dan dengan santainya, gadis merah jambu itu melemparkan diri di kasur empuk nan nyaman Sasuke.
Gadis itu sama sekali tidak memedulikan delikan dan tatapan tajam yang ditujukan padanya oleh dua pasang mata yang berbeda.
"Sakura!"
"Sakura-chan!"
.
.
"Sasuke-kun, sakit apa?" Sakura kini duduk bersila di samping Sasuke yang tengah tengkurapp di sampingnya.
"Hn," balas Sasuke sibuk dengan PSP di tangannya.
Naruto yang duduk di meja belajar Sasuke memilih untuk ikut bergabung bersama dua temannya di atas kasur. "Dasar pemalas!" ejek Naruto.
"Aku tidak!" elak Naruto. Sasuke tidak bohong, bocah itu memang lagi sakit makanya hari ini ia tidak masuk.
"Pembohong! Kau tidak terlihat sakit sama sekali," dengus Naruto.
"…"
Karena tidak mendapat tanggapan dari Sasuke, Naruto lalu menyambar PSP yang tengah dimainkan Sasuke dan berlari turun dari kasur.
"Apa yang kau lakukan?!" kesal Sasuke.
"Aku pinjam sebentar, "balas Naruto santai dan mulai memainkan benda tersebut.
Sasuke yang kesal pada Naruto lalu melompat turun dan menyambar PSP-nya. Namun sayang, Naruto berkelit secepat kilat. Sasuke tidak menyerah, ia mendorong Naruto hinga punggung kecil pemuda itu melipir di tembok.
"Aww!" Naruto mendesis kesakitan.
"Kembalikan, Dobe!" desis Sasuke.
Namun Naruto juga tidak menyerah, "Aku hanya pinjam sebentar," kekeuh-nya. Dan dengan seluruh kekuatannya, Naruto mendorong Sasuke menaruh dari tubuhnya agar ia bisa kabur dari bocah menyebalkan ini.
Dan berhasil.
Sasuke jatuh dengan pantatnya mencium lantai.
Naruto yang bersiap keluar dari kamar Sasuke, dikejutkan dengan teriakan kesakitan dari bungsu Uchiha itu.
"Huaaaa! Ittai!"
Sakura yang awalnya tengah berbaring, langsung melompat dari kasur berjongkok disamping Sasuke. "A-apanya yang sakit, Sasuke-kun?" tanyanya dengan raut khawatir. Mata Sakura melebar melihat raut kesakitan yang sangat di wajah bocah itu.
"Uhg, sakit," ringis Sasuke berderai air mata.
Dahi lebar Sakura berkeringat, sangat khawatir dengan sahabatnya. Kemudian, emeraldnya berpindah pada Naruto yang masih berdiri di depan pintu kamar Sasuke. "Panggil bibi Mikoto, Naruto!" titah Sakura.
Merasa sedikit bersalah, Naruto lalu melesat menuju dapur dimana Mikoto berada.
"Sasuke-kun…" lirih Sakura, sangat bingung harus melakukan apa. Gadis itu mulai panik ketika Sasuke menjatuhkan kepalanya ke lantai, meringis kesakitan dengan pantat sedikit menungging. "K-kau kenapa, Sasuke-kun?" panik Sakura sambil memegang bahu Sasuke dengan tangan mungilnya.
"Sasu-chan!"
Teriakan Mikoto membuat Sakura menghela nafas lega. Ia kemudian minggir, memberikan ruang bagi wanita paruh baya itu untuk mengangkat Sasuke ke kasurnya.
"I-itu meledak, Kaa-san," ringis Sasuke, berusaha menghentikan tangisnya. Sejujurnya, bocah itu sangat malu menangis di depan dua sahabatnya, apalagi di depan Sakura. Ia tidak ingin dianggap lemah oleh Naruto, dan terutama gadis merah jambu itu. Namun apa daya, ia tidak bisa menahan sakit dan nyeri di bagian bokongnya.
Poor Sasu-chan.
"Gara-gara kamu sih," delik Sakura pada Naruto yang berdiri di samping ranjang Sasuke.
Naruto menunduk, benar-benar merasa bersalah kali ini. "Maaf…" lirihnya.
Mikoto yang melihatnya, hanya tersenyum dan menepuk pundak Naruto. "Sudah, tidak apa-apa, "katanya lembut, " apa Naruto-kun bisa ambilkan kotak P3K di ruang tamu," pintanya pada Naruto.
Naruto mengangkat kepalanya, kemudian tersenyum lebar. "Tentu, Bibi Mikoto," ujarnya dan langsung melesat keluar kamar Sasuke.
.
.
Mikoto membenarkan posisi Sasuke agar berbaring tertelungkup dengan nyaman. Lalu, melorotkan celana Sasuke hingga bagian pantatnya. Sakura yang duduk samping Sasuke mengernyit melihat sebuah benjolan merah bokong putih Sasuke.
"Bokong Sasuke-kun ada jerawatnya," komentar Sakura polos.
Mikoto terkikik, dan Naruto tertawa keras.
"Huaaa! Teme bisulan," ledek Naruto disertai dengan tawa yang semakin keras.
"Diam Sakura!" desis Sasuke di bantalnya, "kau juga, Dobe! Akan kubuat perhitungan setelah ini," geramnya. "Kaa-san juga," rajuk Sasuke. Sial, bahkan ibunya menertawakannya.
Mikoto menggeleng pelan, melihat putra bungsunya yang kesakitan masih sempat marah-marah pada sahabatnya. "Naruto-kun, kotak P3k-nya," pintanya.
Naruto kemudian menyerahkan kotak yang diminta Mikoto, lalu naik ke ranjang Sasuke dan duduk di samping Sakura.
"Apa jerawatnya sakit, Sasuke-kun," tanya Sakura.
Sasuke mendengus, pertanyaan bodoh macam apa itu. "Hn," dengusnya. Selain menahan rasa sakit yang luar biasa, Sasuke juga tengah menahan rasa malu yang sangat karena Sakura dan Naruto sedang melihat dirinya yang dalam keadaan sangat nista seperti ini. Harga dirinya sebagai seorang Uchiha tengah jatuh ke jurang yang paling dalam.
Dan semua ini gara-gara bisul sialan yang entah datang darimana. Dan bisa-bisanya bisul itu memilih untuk menempel di pantatnya, kenapa tidak di pantat Itachi saja atau si Dobe. Hah, Sasuke meratapi dirinya.
.
Disaat Sasuke sibuk meratapi kenistaannya, Sakura dan Naruto sibuk memperhatikan bokong chubby Sasuke yang dihiasi bisul berwarna merah merekah. Baik Sakura dan Naruto, tidak mengalihkan tatapannya dari tangan Mikoto yang tengah membersihkan cairan merah bercampur nanah yang sedikit keluar dari bisul Sasuke. Naruto merasa gregetan karena cairan tersebut terus saja keluar, dan Mikoto mengusapnya sangat pelan. sedangkan Sakura, gadis merah jambu itu memegang erat tangan Sasuke yang mencengkram jemarinya.
"Kenapa bibi Mikoto tidak membersihkannya dengan cepat?" batin Sakura prihatin pada Sasuke yang meringis menahan perih.
Sakura dan Naruto memiliki pikiran yang sama. Kalau cairan itu habis keluar, pasti Sasuke tidak akan kesakitan lagi dan segera sembuh, pikir mereka.
Naruto melirik Sakura, kemudian gadis itu mengangguk mengerti seolah mereka bisa berbicara dengan telepati.
Sakura tahu hal ini akan sakit, makanya ia meremas jemari Sasuke yang ada di genggamannya sedikit keras. Berusaha memberi kekuatan untuknya.
"Tunggu sebentar, Sasu-chan. Kaa-san akan mengambil air hangat dulu," ujar wanita itu.
Setelah Mikoto keluar, Naruto melirik Sakura dan memberikan kode pada gadis itu. Sakura mengangguk, semakin meremas jemari Sasuke.
Sakura melirik gerak bibir Naruto yang tengah berhitung. Setelah mengucapkan kata tiga tanpa suara, Sakura dan Naruto secara bersamaan mengulurkan masing-masing tangan mereka dan memencet keras bagian bokong Sasuke yang bisulan.
Kemudian teriakan keras menggema di rumah keluarga Uchiha.
"AAARRGGHH!"
Sasuke melolong kesakitan, air mata meluber di pipinya. Mikoto berlari tergesa-gesa mendengar teriakan Sasuke. Wanita itu sangat shock melihat apa yang tengah dilakukan Sakura dan Naruto.
Sakura dan Naruto masih saja memencet bokong Sasuke dengan gemasnya, berusaha untuk mengeluarkan semua cairan. Menggertakkan gigi saking gemasnya, Sakura dan Naruto memencet pantat Sasuke sekuat tenaga.
Dan akhirnya, bokong Sasuke memuntahkan cairan merah bercampur nanah hingga kempes.
Sakura dan Naruto tersenyum puas melihat bisul Sasuke yang sudah kempes karena mereka telah berhasil mengeluarkan cairannya dengan paksa.
"Kami sudah meledakkan jerawat Sasuke-kun, Bibi Mikoto," ujar Sakura senang, mengabaikan teriakan kesakitan dari Sasuke.
Naruto mengangguk mengiyakan, "Sasuke pasti akan sembuh setelah ini," imbuhnya dengan cengiran lebarnya.
"Kalau Sasuke-kun jerawatan lagi, kami siap membantu meledakknya. Iya 'kan, Naruto?"
Naruto mengacungkan jempolnya, "Tentu!" katanya mengiyakan ucapan Sakura. "Kami berdua akan melakukan apa saja untuk membantu Sasuke," ujar Naruto penuh semangat.
Sakura tersenyum lebar, membenarkan ucapan Naruto.
Mikoto tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa menatap prihatin Sasuke yang tengah kesakitan, sambil mengelus kepala putra bungsunya. "Bisulnya sudah kempes, Sasu-chan," ujarnya menenangkan Sasuke yang masih terisak. Dengan telaten, wanita itu membersihkan bokong putranya dengan air hangat.
Meskipun ia sangat kasihan dengan putranya yang masih meringis kesakitan, tapi setidaknya bisul Sasuke sudah kempes, pikir Mikoto lega.
Ah, sepertinya Mikoto harus berterima kasih pada Sakura dan Naruto yang telah mengempeskannya?
.
.
.
Fin
.
.
Saya tauuu fictnya nista banget :'(
Gomen, Sasu-chan.
