The Legend of Golden Banana
bananaprincess
Chapter 2.5
Top of Jamungkal Hill
Cagar Alam Rawa Danau, Mei 2009
Pagi-pagi sekali mereka bangun dan berkemas. Seusai sarapan, siap dengan carrier masing-masing dan rupa-rupa barang yang harus dibawa, mereka memulai perjalanan. Perjalanan dengan mobil Shikamaru hanya sampai pada desa dimana jalan beraspal habis. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki hingga sebuah camp di dekat bukit Jamungkal.
Jalan tersebut berbatu, licin dan becek sebab hujan yang tidak henti-hentinya turun sejak semalam. Belum lagi medannya yang menanjak dan menurun. Barang bawaan berat menambah beban perjalan mereka. Terseok-seok mereka meniti tapak batu demi batu, menghindari genangan sambil sesekali menyeka keringat.
Namun semua hal tersebut terbayar dengan pemandangan menghijau sepanjang jalan. Persawahan, rawa-rawa, pepohonan yang rimbun membuat suasana menjadi segar. Begitu pula desau angin yang menyapa menawarkan kesejukan yang tak ditemukan di kota besar.
Sesudah berkali-kali istirahat, duduk-duduk melepas lelah, minum berbotol-botol dan pocky berbungkus-bungkus sampailah juga mereka di camp pertama. Terletak di tepian sawah dan lahan kosong, malam ini mereka akan menginap di sebuah guest house yang tak terawat. Berdinding bambu dan beratap rumbia serta satu-satunya di tempat itu. Begitu sepi.
"Berapa jam kita jalan?" tanya Shikamaru ketika mereka bertiga sedang asik bersantai di bale-bale.
"3,5 jam," jawab Tenten.
"Kebanyakan berenti sih. Ada yang bentar-bentar capek melulu gitu. Maklum orang kota," sindir Ino.
"Hmm, biarin," kata Shikamaru sambil meneguk air mineral. "Kalian masak yah, gue mau tidur dulu. Tar kalo udah mateng bangunin gue, sekalian bikinin kopi."
"Apa?! Enak aja nyuruh-nyuruh!" bentak Ino.
"Bikin sendiri sana! Kita juga mau tidur! Capek tau!" tambah Tenten juga sewot.
"Yaudah, huh!" seru mereka bertiga berbarengan.
Mereka bertiga terbangun ketika senja menjelang. Ketiganya pun berdamai, akhirnya memutuskan memasak bersama. Yah, lebih tepatnya Shikamaru yang memasak sedangkan dua lainnya hanya menonton.
"Dasar, masa cewek gak bisa masak?!" omel Shikamaru saat membuat omelet ayam bayam.
Ino tertawa dan menyahut, "Ya nanti cari aja suami pinter masak kayak kamu."
"Swt dah," ujar Shikamaru.
"Dasar muka ketat!" ucap Ino.
"Apa lo bilang?!" kata Shikamaru galak.
"Nih kopinya, jangan ngomel-ngomel lagi ya." Tenten muncul dengan segelas kopi di tangannya.
"Nah gitu dong, kaya Tenten, perhatian," kata Shikamaru sambil menyeruput kopinya.
"Hih, biarin. Suka-suka aku donk!" sembur Ino.
Tidak lama kemudian omelet ayam bayam spesial buatan Shikamaru matang juga. Bersama-sama mereka makan dengan lahap, seperti orang yang sudah berhari-hari tidak menyantap nasi.
"Kenyang..." ujar Tenten. "Manstap, enak! Kayak masakan di deket rumahku!"
"Habis ini kita ke Jamungkal yuk," ajak Shikamaru.
"Bukit itu?" tunjuk Ino kepada sebuah bukit yang tidak jauh dari mereka. "Deket dan gak terlalu tinggi. Kayaknya gampang."
"Sekarang yuk, ntar keburu magrib," kata Tenten.
"Oke deh," Shikamaru dan Ino mengiyakan bersamaan.
Melewati pematang sawah dengan barisan padi yang menghijau untuk dapat mencapai kaki bukit Jamungkal. Bukit tersebut tidak terlalu tinggi, juga tidak terlalu lebar. Dipenuhi rimbunan pepohonan dan sesemakan. Semburat jingga mengantung di langit, menambah ceria suasana sore itu. Berkali-kali Ino berhenti untuk mengambil foto dengan kamera Nikon D80nya.
"Ayo naik!" seru Tenten ketika tiba di kaki bukit Jamungkal.
Dengan semangat penuh, ketiganya meniti bukit tersebut. Bukan bukit biasa, itulah kesan yang hinggap dalam benak mereka. Sedari tadi bukan tanah yang mereka pijak tapi tumpukan batu sebesar kepala manusia. Oleh karena itu, bukit itu serasa bukanlah gundukan tanah tetapi tumpukan batu-batu yang menjulang. Salah kaki memijak bisa-bisa tergelincir ke bawah. Selain itu mereka bertiga tidak bisa berjalan beriringan karena batu yang mereka injak akan meluncur ke bawah sehingga bisa membahayakan orang di belakanganya. Bukan hanya hal itu yang membuat pendakian pendek itu menjadi lama, tetapi juga serbuan nyamuk yang menggila.
"Kyaaaa!!!" teriak Ino bergema di seantero bukit.
"No, kenapa No!" seru Tenten. "Ati-ati No!"
"Kenapa lagi sih?" Shikamaru mengulurkan tangannya kepada Ino. "Udah tahu jalan berbatu-batu gini, malah gak hati-hati!"
"Sewot banget sih," ujar Ino menerima uluran tangan Shikamaru. "Udah tau juga jatoh, nolong pake sewot gitu!"
"Lo tuh mau ditolong gak sih?" kata Shikamaru ketus.
"Udah ah, bete gue," ucap Ino memalingkan muka dari Shikamaru dan langsung melepaskan tangan Shikamaru.
"Ah kalian ini ribut mulu! Udah hampir nyampe puncak bukit nih!" Tenten membubarkan pertengkaran kecil itu.
Dari puncak bukit Jamungkal tersaji pemandangan yang luar biasa indah. Hamparan sawah bergoyang gelombang karena tiupan angin. Kerumunan semak tinggi yang mengelilingi rawa bagaikan sebuah pagar. Rerimbunan pohon yang berdiri saling bersaing berhiaskan burung-burung yang sedari tadi hinggap dan terbang.
Puncak yang tidak luas itu mereka susuri seraya menikmati keindahan yang ada. Hingga sampailah mereka pada suatu objek, batu juga sih. Hanya saja yang ini berbeda. Batu tersebut seperti dolmen, artefak prasejarah.
"Oh ini tempat sesajinya," kata Shikamaru.
"Sesaji?" tanya Tenten penasaran.
"Iya, katanya di bukit ini sering dijadikan tempat minta pesugihan gitu," kisah Shikamaru seraya memegang batu-batu tersebut. "Ambil fotonya No."
"Ih serem," komentar Tenten.
"Kamu gak suruh juga udah aku ambil," ujar Ino yang sejak tadi sudah memotret artefak itu.
"Lo tuh kenapa sih?!" tanya Shikamaru agak emosi.
Sore sudah semakin turun, warna oranye makin membanjiri langit. Para nyamuk juga semakin ganas, tak henti-hentinya terbang, berputar dan mengigit meskipun angin juga berhembus sepoi-sepoi. Namun bukan kesejukan yang dirasa, tapi dingin yang tak menyenangkan. Terasa mistis.
"Akhirnya kalian datang juga."
Mereka bertiga terkesiap. Ada orang lain di bukit itu.
TBC
Bogor, 7 Mei 2009
