"AP-APA?" Nafas Kyuhyun tercekat seiring dengan tubuhnya yang melemas. Sendi-sendi pada tubuhnya seakan tidak berfungsi lagi mendengar penuturan Siwon. Siwon mengeratkan pelukannya pada tubuh Kyuhyun. Kemudian menceritakan perbincangannya dengan sang ayah ketika mereka hanya berdua.
"Siwon… Aku ingin bertanya kepadamu dan aku tahu kau pasti akan memberikan jawaban yang jujur kepadaku."
Siwon mengerutkan dahinya mendengar ucapan ayahnya, "Ada apa, Ayah?"
"Apa temanmu itu memiliki masalah kepribadian? Aku bisa melihat kegugupan setiap kali dia melihatku."
Mata Siwon membulat, "Ap-Apa, Ayah? Apa maksud Ayah berbicara seperti itu?"
Choi yang lebih tua itu terlihat mengeraskan ekspresinya, menunjukkan ketidaksetujuannya dengan reaksi Siwon. "Kau tahu maksudku, Siwon…"
Siwon menghela nafasnya panjang dan memijit dahinya, "Jadi ayah melihatnya… Kyuhyun memang seperti itu, Ayah…"
"Ada apa dengannya?"
Siwon menggigit bibir bawahnya, "Kyuhyun seorang gay. Ia begitu mencemaskan hal ini ketika mendengar kalian akan datang ke rumah."
Ayah Siwon terdiam beberapa saat. Keheningan itu membuat Siwon sendiri khawatir dengan reaksi ayahnya. Ayahnya itu sangat sulit ditebak. Yang Siwon tidak tahu, kenapa dirinya begitu khawatir akan respon ayahnya untuk Kyuhyun. Kenapa dia begitu mengkhawatirkan pemuda itu. Kenapa dia begitu memikirkan nasib pemuda itu dimata ayahnya. Kenapa Siwon begitu khawatir ayahnya akan membenci Kyuhyun.
"Kau menyuruh seorang gay untuk tinggal bersamamu? Apa kau tahu resikonya? Atau kau juga seorang gay, Siwon?" Pertanyaan itu keluar dari bibir sang ayah dengan nada yang tidak bisa ia baca.
Siwon mencoba menjelaskan dirinya kepada sang ayah. Disinilah nyalinya sebagai seorang pria sejati diuji. Ketika ayahmu menanyakan permasalahan serius mengenai kehidupan pribadimu, maka kau harus menjawabnya layaknya seorang laki-laki. Hanya pria dewasa yang menjawab pertanyaan semacam itu dengan jujur tanpa ada rasa ragu.
Siwon menghembuskan nafasnya tegas dan menatap sang ayah tepat dimatanya. Siwon bisa merasakan detak jantungnya meningkat dan kegugupan menghampirinya. Tapi Siwon tidak takut.
"Aku sangat tahu apa resikonya ketika aku mengajak Kyuhyun ke rumah ini, Ayah. Tapi niatku mengajaknya kesini untuk menolongnya. Dia membutuhkan bantuanku saat ini. Orang-orang memperlakukannya dengan sangat tidak layak ketika aku membawanya kesini. Dia mengalami hal-hal yang seharusnya tidak dia alami dan aku ingin menolongnya. Aku tidak berusaha membelanya disini, aku hanya berusaha menjelaskan posisiku kepadamu, Ayah. Apapun komentar ayah, aku tidak berhak melarangnya."
Pandangan ayah Siwon tidak mengurangi emosinya, "Apa kau seorang gay, Siwon?"
Siwon mencoba mengalihkan pandangannya dari sang ayah, "Tatap aku dan jawab pertanyaanku!"
Siwon segera menatap sang ayah ketika kalimat itu keluar dengan begitu tegas.
"Ak-aku… Tid-tidak… Aku tidak tahu, Ayah."
Rahang Choi senior mengeras, "Keraguanmu membuatku jijik. Aku tidak mengajarimu menjadi pengecut, Siwon. Jawab pertanyaanku! Ya atau tidak?"
Mata Siwon berkaca-kaca mendengar suara ayahnya yang begitu tegas. Siwon menarik nafas begitu dalam sebelum menjawab sang ayah tegas, "Tid—"
"Kau tahu seorang Choi tidak akan pernah menjilat ludahnya sendiri, Siwon."
Siwon meneteskan air matanya. Ada sesuatu dalam pikirannya yang terus meneriakkan nama Kyuhyun. Seolah seseorang meneriakinya mengenai jawabannya. Jantungnya serasa diikat oleh sebuah tali dengan begitu kuat. Siwon harus melakukan sesuatu.
"Sebagai ayahmu—"
"Aku mungkin menyukai Kyuhyun, Ayah." Potong Siwon tanpa berpikir dua kali.
Kedua pasang mata mereka beradu. Siwon menelan ludahnya sendiri ketika sang ayah berjalan mendekat.
"Apapun pendapat ayah mengenaiku, aku berhak menerimanya. Tapi aku tahu aku sedang tidak berbohong saat ini."
"Kau tahu resikonya, Siwon?"
Mata Siwon tidak meninggalkan milik sang ayah. "Aku tahu, Ayah. Aku tidak akan mencoba menjelaskan posisiku atau menyangkal, aku juga tidak akan memberikan pendapatku sampai ayah memutuskan."
"Jika aku mengatakan aku akan membuangmu dari keluarga, apa kau akan tetap bertahan dengan keputusanmu, Siwon?"
Nafas Siwon tercekat, matanya kembali menurunkan air mata. Rahang Siwon mengeras, "Aku akan tetap bertahan dengan keputusanku. Ayah boleh membenciku atas keputusanku dan membuangku dari keluarga ini. Tapi satu hal yang ayah harus tahu, itu tidak akan mengubah fakta bahwa aku berasal dari keluarga ini. Jadi keputusan ayah adalah sebuah kehormatan bagiku walaupun itu menyakitkan."
"Apa itu berarti kau tidak menyayangi keluargamu, Siwon? Merelakan dirimu dibuang hanya untuk keputusanmu?"
"Membuangku dari keluarga bukan berarti membuatku berhenti menghargai, menghormati, dan menyayangi keluarga ini, Ayah."
Keduanya terdiam beberapa saat. Berkelut dengan pikiran masing-masing. Siwon mengalihkan pandangannya dari sang ayah ketika ayahnya memungggunginya. Mengusap air mata di pipinya.
"Kau harus mengatakan hal ini kepada ibumu dan adikmu, Siwon."
"Baik, Ayah…"
Siwon beranjak dari posisinya ketika sang ayah kembali bersuara, "Aku bangga kepadamu, Nak."
Siwon membeku.
"Mak-maksud ayah?"
"Seorang laki-laki dihargai karena prinsipnya, Siwon." Ayah Siwon berjalan mendekati sang putra kemudian meletakkan salah satu tangannya dipundak sang anak.
"Tidak peduli seberapa keras orang-orang menjatuhkanmu, kau harus berpegang teguh pada prinsipmu. Kau bertanggungjawab atas hidupmu, bukan orang lain. Aku berhasil mendidikmu. Dan yang paling membuatku bangga, kau tidak melupakan keluargamu. Jika kau sudah seperti ini, kau berhak menentukan pilihanmu dalam hidup, Siwon. Aku tidak akan menghalangimu."
Siwon menatap tidak percaya kepada sang ayah, "Apa… Apa ini berarti ayah setuju dengan keputusanku?"
Ayah Siwon meremas pundak sang anak, "Sebagai atasanmu, aku tidak peduli dengan keputusanmu selama itu tidak mengganggu pekerjaanmu. Tapi sebagai ayahmu, aku mendukung apapun pilihanmu. Aku hanya berharap kau bisa mempertanggungjawabkan semua keputusanmu. Itulah kenapa aku menjadi ayah, Siwon."
Senyum Siwon perlahan mengembang. Memeluk sang ayah dengan erat dan kembali menumpahkan air matanya. "Terima kasih, Ayah. Aku menyayangimu, Ayah."
Tuan Choi mengeratkan pelukannya, "Aku juga menyayangimu, Nak. Kau selalu membuatku bangga."
.
.
.
.
.
Siwon melewatkan bagian dimana sang ayah menanyakan orientasinya. Ia hanya mengatakan bahwa sang ayah tidak masalah mengenai orientasi Kyuhyun. Kyuhyun menatap Siwon tidak percaya.
"Ketika ayahku berbicara denganmu berdua, aku menceritakan kejadian itu kepada ibu dan adikku. Mereka sepertinya baik-baik saja. Kecuali Jiwon yang sedikit bercanda mengenai dia yang tidak bisa berpacaran denganmu. Tapi selain itu, keluargaku tidak mempermasalahkannya, Kyu."
Siwon tersenyum kepada Kyuhyun ketika pemuda itu tidak lagi menangis dalam pelukannya. Mengusap air mata Kyuhyun dari pipinya.
"Ben-benarkah?"
Siwon mengangguk, "Kau bisa lihat sendiri sebelum mereka pulang, ibu dan Jiwon masih memelukmu dan ayahku juga sempat mendukungmu dan menepuk pundakmu. Tidak mungkin mereka melakukan itu jika mereka memiliki masalah dengan orientasimu, Kyu. Cobalah berhenti mengkhawatirkan mereka, okay?"
Kyuhyun kembali meneteskan air matanya. Kali ini tersenyum. "Jadi aku tidak akan kehilangan mereka, Hyung?"
Siwon kembali tersenyum, "Tidak, Kyuhyun."
Kyuhyun menatap Siwon dan tersenyum tulus. Siwon membalas senyuman Kyuhyun dengan afeksi yang sama. Keduanya larut dalam pandangan mata mereka yang beradu. Seakan ada magnet yang menarik keduanya, wajah keduanya saling mendekat. Keduanya mulai memejamkan mata ketika—
Drrrt… Drrrt…
Ponsel Siwon bergetar membuat keduanya segera menjauh. Kyuhyun bangkit dari posisinya dan menundukkan kepalanya. Siwon menarik pergelangan tangan Kyuhyun ketika Kyuhyun mulai berjalan meninggalkannya. Kyuhyun mengamati pergelangan tangannya yang digenggam Siwon kemudian menatap Siwon yang mengeluarkan ponselnya. Siwon menarik Kyuhyun mendekat dan mencium kepala Kyuhyun singkat sebelum menerima panggilan teleponnya.
Siwon memutar bola matanya dan berkacak pinggang menerima telepon dari karyawannya, "Jika kau mengatakan hal tidak penting saat ini, aku akan langsung memecatmu besok pagi. Ada apa?"
Siwon tersenyum tipis melihat Kyuhyun merona hebat dan menundukkan kepalanya ketika pergi meninggalkannya.
.
.
.
.
Siwon dan Kyuhyun telah selesai sarapan. Hari itu adalah akhir pekan dimana Siwon akan berada di rumah seharian. Satu minggu setelah keluarga Siwon datang. Keduanya berada di ruang tengah dimana Kyuhyun akan membaca surat kabar dan Siwon mengutak-atik laporan di laptopnya.
"Hyung, namamu muncul lagi di koran." Kyuhyun tersenyum layaknya anak kecil tanpa mengalihkan pandangannya dari koran yang dibacanya.
Siwon terkekeh kecil, "Benarkah? Apa yang mereka katakan kali ini? Aku harap bukan sesuatu yang buruk."
Mata Kyuhyun membaca setiap baris dalam berita itu dan membaca bagian dimana nama Siwon mulai muncul, "Direktur utama perusahaan Choi, Choi Siwon, mengatakan bahwa ia akan menjalin kerjasama dengan beberapa pabrik figur untuk mempromosikan produknya…"
Kyuhyun melewatkan beberapa baris pada berita itu hingga matanya menemukan sesuatu yang menarik menurutnya.
"… Anak pertama dari pemilik perusahaan itu enggan berbicara mengenai… hubungannya dengan salah satu model Asia-Amerika di New York… Stella Kim."
Suara Kyuhyun semakin pelan pada akhir kalimatnya. Kyuhyun menatap Siwon yang masih tampak sibuk membaca laporan di laptopnya.
"Hyung, kau tidak pernah bercerita mengenai hal ini kepadaku!"
Siwon tertawa kecil kemudian mengalihkan perhatiannya pada Kyuhyun yang tengah merajuk. Hei! Siwon bisa melihat Kyuhyun sedang memajukan bibirnya. Satu hal yang baru ia saksikan dari pemuda itu.
"Kau saja yang tidak pernah bertanya… Well, kau tidak pernah bertanya mengenai apapun tentangku selama ini. Akan sangat aneh jika aku tiba-tiba menceritakan hubunganku dengan seorang wanita kepadamu."
Kyuhyun menghela dan melipat korannya, "Baiklah. Aku yang salah."
Siwon kembali tertawa.
"Lalu sekarang ceritakan padaku mengenai Stella Kim…"
Siwon menaikkan satu alisnya, "Kau benar-benar ingin tahu?"
Kyuhyun sadar apa yang ia telah katakan. Tidak seharusnya dia menanyakan hal pribadi seperti itu pada Siwon. Ia segera menundukkan kepalanya. Bermain dengan jarinya untuk menenangkan kegelisahannya.
"Mak-maksudku bukan begitu, Hyung… Ak-aku hanya bertanya. Maafkan aku, tidak seharusnya aku menanyakan hal itu kepadamu. Itu masalah pribadi. Aku tahu. Ak-aku—"
Siwon segera menyingkirkan laptopnya dan beranjak mendekati Kyuhyun. Menghentikan gerakan tangan Kyuhyun. Tangan itu terasa begitu dingin dan basah.
"Hei… Aku tidak mengatakan itu pertanyaan buruk. Aku tidak tersinggung, okay? Sekarang lihat aku dan hentikan kepanikanmu."
Kyuhyun mencoba menatap Siwon perlahan.
"Tidak seharusnya aku bertanya seperti itu."
Siwon menggeleng dan menepuk kepala Kyuhyun lembut.
"Aku tidak tersinggung. Aku mendengar pertanyaan itu setiap hari. Aku dan Stella saling mengenal ketika aku telah lulus kuliah dan mengambil alih posisi direktur utama di perusahaan keluargaku. Orang tuanya adalah rekan bisnis ayahku. Semenjak itu kami mulai dekat. Kedua orang tua kami berharap kami bisa menikah suatu hari nanti. Sebuah solusi untuk menguatkan hubungan kerjasama perusahaan."
Kyuhyun bisa merasakan setiap pori-pori dalam tubuhnya seperti tersengat aliran listrik mendengar cerita Siwon. Kyuhyun kembali menundukkan kepalanya.
"Apa… apa Hyung mencintainya?"
Siwon menatap Kyuhyun bingung ketika dia mendengar pertanyaan Kyuhyun yang terdengar begitu ragu.
Siwon mengedikkan bahunya, "Aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya ketika aku jatuh cinta. Kedua orang tuaku juga menikah karena hal yang sama. Mereka menganggap pernikahan hanyalah sebuah hubungan formal yang terikat. Mereka jarang bertengkar dan mereka bisa memiliki aku dan adik perempuanku. Sama seperti mereka, aku dan Stella juga seperti itu. Kami menganggap hubungan kami adalah sebuah kompromi."
Kali ini Kyuhyun memandang Siwon tidak percaya, "Kompromi? Kau tidak bisa bahagia jika kau menganggap pernikahan adalah kompromi, Hyung."
Siwon menghela nafasnya, "Aku tahu. Tapi, bukankah tidak harus ada kebahagiaan untuk mendapatkan ikatan kerjasama bisnis dan keturunan? Cinta dan kebahagiaan terlalu rumit untukku."
Kyuhyun menggigit bibir bawahnya, "Ketika tidak ada cinta dalam hatimu, kau akan selalu merasa kosong. Cinta memang rumit tapi bukan berarti tidak mungkin."
Siwon menatap Kyuhyun yang masih menunduk, "Apa kau pernah jatuh cinta, Kyu?"
Kyuhyun menatap Siwon perlahan kemudian mengangguk pelan, "Sudah sangat lama. Awalnya aku kira itu cinta. Kau ingat teman kuliahku yang aku sebutkan ketika kita di bioskop beberapa hari yang lalu?"
Siwon mengangguk.
"Aku kira aku jatuh cinta padanya. Karena dia begitu baik padaku. Aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengatakan perasaanku padanya. Lalu kami berpisah setelah lulus kuliah dan tidak pernah bertemu dalam waktu yang cukup lama. Aku kira aku akan sedih ketika dia meninggalkanku."
Kyuhyun tersenyum pada Siwon, "Tapi tidak. Aku tidak merasa sedih seperti yang aku harapkan. Aku memang merindukannya karena aku terbiasa dengan kehadirannya. Namun aku tidak merasakan kesedihan yang mendalam. Bahkan ketika dia meninggal. Aku hanya merindukannya sebagai seorang yang selalu ada untukku."
Siwon tersenyum tipis menatap Kyuhyun, "Kata orang, jika kau sedang jatuh cinta, maka hatimu akan berdebar begitu kencang ketika melihat orang yang kau cintai. Apa kau pernah merasakan hal itu?"
Kyuhyun mengangguk.
"Kepada sahabatmu itu?"
Kali ini Kyuhyun menggeleng membuat Siwon mengerutkan dahinya.
"Lalu siapa?"
'Dirimu.'
Kyuhyun hanya tersenyum, "Aku tidak akan mengatakannya."
Siwon memandang tidak percaya kepada Kyuhyun, "Kau benar-benar tidak seru, Cho Kyuhyun."
Kyuhyun tertawa kecil membuat Siwon membulatkan matanya. "Hei itu pertama kalinya kau tertawa kepadaku…"
"Benarkah?"
Siwon menganggukkan kepalanya, "Tapi hal itu tidak mengubah sifatmu yang tidak seru itu. Kata orang, kau harus mengatakan cintamu kepada orang yang kau cintai sebelum terlambat."
Kyuhyun menaikkan alisnya, "Aku tidak akan pernah terlambat karena aku memang tidak berencana untuk mengatakannya, Hyung. Aku tidak berharap dia juga akan mencintaiku."
"Hei… cinta macam apa itu?"
Kyuhyun tersenyum kepada Siwon, "Terkadang cinta tidak harus dibalas, Hyung. Ketika kau benar-benar mencintai seseorang, kau akan merasa bahagia melihat orang yang kau cintai itu bahagia. Tidak peduli bagaimana dan siapa yang membuat orang itu bahagia."
"Benarkah?"
Kyuhyun mengangguk. "Bagaimana denganmu? Apa kau pernah merasakan debaran di jantungmu? Mungkin dengan Stella?"
Siwon terlihat berpikir sejenak kemudian menggeleng pelan, "Aku rasa tidak. Kami bahkan jarang berbicara ketika bertemu."
Kyuhyun menatap Siwon, "Kata ibuku, ketika kau jatuh cinta, kau akan selalu tersenyum jika kau mengingat orang itu. Ibuku selalu seperti itu ketika bercerita tentang ayahku."
"Benarkah? Kurasa aku pernah mengalaminya…"
Detak jantung Kyuhyun meningkat. Berdebar begitu keras.
"Si-siapa?"
Siwon tersenyum lebar, "Bugsy. Anjingku. Aku selalu tersenyum ketika mengingatnya."
Kyuhyun memutar bola matanya membuat Siwon tertawa begitu keras. Menjatuhkan kepalanya dipundak kiri Kyuhyun berusaha menghentikan tawanya. Kyuhyun menyikut pelan perut Siwon membuat tawa Siwon semakin keras.
Siwon menatap Kyuhyun ketika tawanya telah mereda. Senyum diwajahnya masih terpatri disana.
"Hei, Kyu… Kau tahu? Kau tidak perlu memberitahuku siapa orang yang kau cintai saat ini."
Kyuhyun memandang Siwon dengan raut wajah sulit dibaca, "Memangnya ken-kenapa?"
Siwon tersenyum, kali ini dengan ketulusan, "Karena aku rasa saat ini aku bisa mendengar debaran di jantungmu."
.
.
.
.
.
Kyuhyun tidak berani menatap Siwon setelah kejadian itu. Kyuhyun segera mengunci diri di kamarnya seharian. Ia hanya keluar untuk memasak dan meninggalkan makanan untuk Siwon di meja makan ketika Siwon sibuk di ruang kerjanya. Siwon cukup bingung dengan tingkah Kyuhyun. Dia menyesal mengatakan kalimat terakhirnya kepada Kyuhyun.
Ia tidak bermaksud memojokkan Kyuhyun tentu saja. Bahkan Siwon tidak berpikir apa-apa ketika mengatakannya. Rasanya cukup aneh ketika dia makan sendirian di meja makan tanpa kehadiran Kyuhyun yang mulai biasa mengisi hari-harinya.
"Kyuhyun…"
Langkah Kyuhyun menuju dapur untuk mencuci piringnya terhenti ketika mendengar namanya dipanggil. Ia kira Siwon masih ada di ruang kerja atau kamarnya karena ruangan itu terlihat gelap. Dia belum siap menghadapi Siwon saat ini. Mungkin selamanya. Dia merasa malu.
Siwon menghampiri Kyuhyun dan mencegah Kyuhyun yang akan kembali menuju kamarnya.
"Hei, maafkan aku… Aku tidak bermaksud untuk memojokkanmu."
Kyuhyun menundukkan kepalanya. Dia sungguh ingin menangis saat ini.
"Ak-aku tahu, Hyung… Maafkan aku… Tid-tidak seharusnya aku seperti ini. Aku akan pergi besok pagi."
Siwon membulatkan matanya tidak percaya, "Ken-kenapa? Apa kau masih marah padaku?"
Kyuhyun menggeleng keras, "Tentu saja aku tidak marah. Ak-aku tidak ingin kau membenciku dan jijik padaku, Hyung…"
"Hei… hei… lihat aku! Lihat aku, Kyu…" Siwon mendongakkan kepala Kyuhyun. Mendapati wajah pemuda itu telah bersimbah air mata.
"Aku tidak membenci dan jijik padamu. Kenapa aku harus melakukan itu padamu?"
"Kenapa tidak? Kau berhak membenciku dan merasa jijik padaku. Bukankah perasaanku menjijikkan?"
Siwon tersenyum dan menghapus air mata Kyuhyun yang masih mengalir, "Dengarkan aku! Aku bukan orang seperti itu. Kau pikir aku orang bodoh? Menyuruh orang tinggal denganku tanpa mengetahui resiko apa yang aku hadapi?"
Kyuhyun menatap Siwon ragu, "Ben-benarkah? Kau tidak jijik padaku?"
Siwon menghela, "Aku tidak suka mengatakan hal ini padamu, tapi… Jika ada orang yang mencintaiku, apa aku akan membencinya? Bahkan jika itu laki-laki sekalipun, aku tidak akan membencinya atau bahkan jijik padanya. Sudah ku katakan, kita tidak bisa memaksakan ideal kita kepada orang lain. Jika kau mencintai seseorang, itu hakmu karena itu adalah bagian dari kehidupanmu, Kyuhyun."
Kyuhyun kembali menangis, kali ini terisak. Siwon tidak memikirkan cara lain selain memeluk Kyuhyun mencoba membuat Kyuhyun mengerti.
"Ma-maafkan aku, Hyung…"
Siwon merenggangkan pelukannya untuk mendongakkan kepala Kyuhyun menghadapnya, "Berhentilah meminta maaf… Kau tidak melakukan kesalahan."
Kyuhyun tersenyum masam, "Tidak seharusnya aku membiarkanmu tahu mengenai perasaanku, Hyung… Mulai sekarang kita tidak bisa seperti dulu lagi. Aku tahu, mungkin kau tidak membenciku atau jijik padaku, tapi aku tahu bahwa mulai sekarang kau mungkin akan berpikir dua kali atau bahkan seribu kali untuk mengajakku berbicara, mengajakku keluar, atau sekedar menatap—"
Mata Kyuhyun melebar ketika Siwon menciumnya. Jantung Kyuhyun seakan berhenti berdetak ketika Siwon melakukan itu padanya. Kyuhyun bahkan telah berhenti menangis seketika.
Siwon melepaskan ciuman mereka dan menatap Kyuhyun dengan senyumnya. "Kau lihat? Bahkan aku tidak ragu untuk menciummu. Sekarang berhentilah mengkhawatirkan aku."
Kyuhyun memegang bibirnya, "H-Hyung…"
Siwon tertawa kecil melihat ekspresi Kyuhyun, "Mungkin aku tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Tapi aku tahu, jika kau yang mencintaiku, rasanya tidak akan sulit membuatku jatuh dalam cintamu, Kyu."
Kyuhyun menatap Siwon dengan senyum yang perlahan mengembang di wajahnya, "Bagiku… Kehadiranmu sudah cukup untuk membalas cintaku, Hyung. Aku tidak pernah berharap lebih."
Siwon mengusap kepala Kyuhyun gemas, "Kata orang, kau boleh egois dalam hal percintaan. Seharusnya kau berharap lebih jika kau mencintaiku."
Kyuhyun menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rona dipipinya, "Tidak. Bagiku ini sudah cukup."
Kyuhyun kembali menatap Siwon dan tersenyum, "Ketika kau mencintai seseorang, kau akan mengutamakan kepentingan orang yang kau cintai diatas kepentinganmu."
Siwon memeluk Kyuhyun lagi dan kali ini Siwon bisa merasakan Kyuhyun membalas pelukannya. Hatinya menghangat. Benar-benar hangat hingga dia merasa tubuhnya membara ketika dia menyentuh Kyuhyun.
'Jadi seperti ini rasanya dicintai?'
Siwon mencium kepala Kyuhyun, "Tapi aku ingin merasakan apa itu cinta. Bahkan kedua orang tuaku tidak pernah bisa membuatku merasa seperti ini. Seperti ribuan kembang api meledak dijantungku dan kupu-kupu berterbangan diperutku. Rasanya begitu menyenangkan hingga aku ingin menangis. Aku tidak ingin perasaan ini hilang. Aku tidak ingin kau berhenti mencintaiku, Kyu. Aku ingin belajar apa itu cinta darimu. Belajar mencintaimu."
Kyuhyun mengeratkan pelukannya, "Sebelum kau belajar mencintaiku, kau harus mencintai dirimu sendiri terlebih dahulu, Hyung."
Siwon menarik diri dari pelukan itu. Memandang wajah Kyuhyun dengan seksama. Menghafal setiap lekuk dan guratan di wajah pemuda itu. Indah. Siwon menyentuh wajah Kyuhyun dengan jarinya. Hangat. Kyuhyun akan menundukkan wajahnya ketika tangan Siwon mencegah dagunya.
"Lihat aku, Kyu…"
Jantung Kyuhyun berdebar lebih kencang. Ia tidak akan terkejut jika Siwon mendengarnya. Tubuhnya memanas dan melemas disaat yang bersamaan. Kyuhyun tidak pernah seperti itu sebelumnya. Pemuda itu menatap Siwon.
Kedua mata mereka beradu. Kyuhyun bisa merasakan pipinya semakin bersemu ketika Siwon menatapnya. "Kau begitu tampan… begitu indah, Kyuhyun."
Lagi-lagi Siwon mencegah kepala Kyuhyun yang akan menunduk menyembunyikan rona dipipinya. "Tidak ada yang pernah mengatakan hal itu kepadaku sebelumnya. Bahkan mereka membenciku."
Siwon menengadahkan wajah Kyuhyun menghadapnya, "Everyone has beauty, but not everyone sees it."
"Can I touch you?"
Siwon mengangguk.
Kyuhyun mengangkat tangannya. Perlahan menyentuh wajah Siwon. Kyuhyun menelusuri wajah Siwon dengan jarinya. Senyum Kyuhyun mengembang dengan tulus.
"Kau jauh lebih tampan dariku, Hyung… Semua orang juga menyukaimu."
Siwon tersenyum menampilkan lesung pipinya. Tepat dimana jari Kyuhyun berada.
"Aku tidak butuh semua orang untuk menyukaiku. Cukup dirimu, Kyu."
"Persona non grata, aku hanyalah orang yang tidak disukai…"
Siwon mencium dahi Kyuhyun cukup lama, "Tambahkan kata personable didepan sebutanmu karena kau begitu tampan…"
Kyuhyun tertawa kecil, "Personable persona non grata?"
Siwon memeluk Kyuhyun dan mengangguk. Merasakan Kyuhyun membalas pelukannya, Siwon mencium kepala Kyuhyun. "Dan kau adalah personable persona non grata-ku. Karena kau juga tidak membutuhkan orang lain untuk menyukaimu. Cukup aku."
Kyuhyun mengeratkan pelukan mereka sebagai jawaban.
.
.
.
.
.
To be continued.
Note:
Maaf kalo banyak typo! Sorry juga kalo ga dapet feelnya… Jangan lupa komen dan review ya readersku tersayang (: Terima kasih…
Btw, ini to be continued lo ya walaupun akhir chapter ini bahagia hahahah… *pasang muka najis
