Everything I Do Is Just For You

Pair: Erza S. x Jellal F.

Genre: Romance, Fantasy

Rate : T

Warning: Typo, garing kriuk-kriuk, no comedy, romance kurang

Disclaimer: Fairy Tail hanya milik bang Hiro Mashima

Erza hanya milik Jellal#ditimpuk bang Hiro

A/N: Jumpa lagi minna-san (/'v')/

Haha, bersyukur bisa update lagi, hari ini juga 2 chapter langsung, mau dijadiin satu chapter tapi kepanjangan ternyata /('_')

Monggo yang lagi luang baca-baca fanfic di fanfiction, bisa dijadikan daftar bacaan.

Terimakasih yang sudah mau baca. Terimakasih yang sudah mau baca dan memberikan cuap-cuap. Terimakasih yang sudah mau baca, memberikan cuap-cuap, dan memfollow \(*v*)/ #ahkepanjangan

Ah sudahlah, yuk kita lanjut ceritanya. Maaf bila tidak memuaskan, sudah ada warning di atas (tengok ke atas), mohon dimaklumi (-_-)/


-Happy Reading-

Chapter 4

The Truth

Jam pelajaran sedang berlangsung, suasana sedang heningnya. Hanya suara detakan jam dinding dan suara decitan kapur tulis yang sedang digoreskan di papan tulis oleh sang guru.

Piip...! Piip...!Piip...!

Glek! Suara ponsel Jellal berbunyi di tengah pelajaran. Jellal lupa mematikan ponselnya. Tentu saja bisa didengar oleh seisi kelas, membuat sang guru yang sedang menulis di papan menghentikan aktivitasnya.

"Suara ponsel siapa itu?", tanya sensei dengan nada marah.

"Sumimasen, bisakah aku menjawab telepon? Keluargaku menghubungiku karena sedang ada masalah yang sangat penting.", Jellal berdiri dan meminta izin agar diberi izin keluar.

"Hmm baiklah. Tapi jangan lama-lama."

"Hai', arigato.", setelah membungkuk hormat, Jellal segera meninggalkan kelas dengan tergesa-gesa.

'Keluarga?', Erza membatin curiga pada alasan Jellal.


"Kenapa melintas di area ini lagi? Sinyalnya menggangguku tau.", ucap Jellal ketus.

"Apakah kau hanya bermain-main saja di gedung ini, Jellal? Ingat, kami akan terus mengawasimu."

"Gedung ini lumayan luas untuk menemukannya. Aku meragukan alat itu."

"Tunggu! Kali ini sinyalnya lebih kuat dari sebelumnya.", ucap salah satu sosok di dalam benda terbang itu kepada temannya yang lain melihat perubahan suara yang yang begitu keras pada sistem pendeteksi yang menempel di dalam benda terbang tersebut.

Jellal membelalakkan kedua matanya terkejut.

"Apa kau yakin? Punyaku tidak berbunyi sama sekali. Alatmu itu pasti rusak."

"Kau jangan menyalahkan alat ini sembarangan. Kali ini terdeteksi lebih kuat."

"Oke-oke, aku akan mencarinya sekarang. Tapi aku tetap meragukan alat itu, punyaku lebih akurat daripada milik kalian. Jadi pergilah sekarang juga. Jangan halangi tugasku!", perintah Jellal menyuruh beberapa lawan bicaranya itu pergi.

"Baiklah, kami serahkan tempat ini padamu. Kau harus temukan dia.", benda terbang yang di dalamnya berisi sosok-sosok yang menjadi lawan bicara Jellal tersebut terbang meninggalkan Jellal.

"Yah, jika aku berhasil.", itulah kata-kata terakhir Jellal yang masih bisa didengar mereka sebelum benda terbang itu benar-benar pergi.

WUSSSH!

"Fiuh, akhirnya pergi juga.", gumam Jellal. Ketika membalikkan badannya hendak menuju kelas, Jellal terbelalak kaget akan sosok yang didapatinya sekarang dengan jarak tujuh meter dari tempatnya berdiri.

"Itu tadi apa, Jellal?"

"Kenapa kau ada disini, Baka?", bentak Jellal pada sosok yang ada di hadapannya.

"Apakah mereka datang untuk membawaku?", tanya sosok itu dengan mengepalkan kedua tangannya yang gemetaran sejajar dengan roknya.

"Ayo kembali ke kelas!", Jellal menarik tangan orang itu mengajaknya kembali ke kelas.

"Jawab aku Jellal!"

"ERZA!", bentakan Jellal kali ini membuat sosok yang ternyata adalah Erza terdiam. Erza masih gemetaran, wajahnya begitu takut, Erza ketakutan bukan karena Jellal membentaknya, melainkan karena sosok-sosok di dalam benda terbang yang ditemui Jellal tadi.

"Ayo kembali ke kelas!", kali ini Jellal mengajaknya dengan lembut.

"Kau harus menceritakan semuanya padaku, Jellal.", suara Erza begitu parau, pelupuk matanya mulai basah, membuat hati Jellal serasa diiris. Jellal mendekatkan kepalanya lalu menempelkan dahinya yang tertutup poni rambutnya di dahi Erza yang juga tertutup poni. Jellal menutup matanya, Erza menatapnya nanar.
"Aku akan menjelaskannya nanti. Sekarang kita kembali ke kelas."


**##**

Usai sudah semua mata pelajaran hari ini. Saatnya mendengar penjelasaan Jellal. Kini mereka berdua sedang berada di bukit belakang sekolah, Jellal berdiri sambil bersandar di pohon maple berdaun merah, sedangkan Erza berdiri menghadap Jellal dengan wajah yang serius. Pemandangan sore hari dengan langit jingga kemerahan yang sangat indah untuk dipandang, rambut merah tua Erza yang sedang dilambaikan oleh angin, menambah keindahan sore hari itu dalam pandangan Jellal.

"Lihatlah ini Erza. Kedua mataku berhasil menangkap dua pemandangan yang begitu indah ini, kau punya saingan. Kita lihat lebih indah mana, warna daun maple merah ini, atau...rambut indahmu ini, Sayang.", Jellal meraih rambut Erza dan mencium helaian rambut merah di tangannya yang aromanya begitu harum setelah menunjukkan daun merah di tangan kirinya.

"Berhentilah bercanda. Aku tak ingin berlama-lama denganmu disini.", ucap Erza begitu dingin namun dalam hatinya begitu merindukan hal semacam ini.

"Kau memang tak boleh berlama-lama di dekatku.", Jellal menghentikan aktivitas mencium rambut Erza dan melepaskannya, wajahnya berubah serius. Kini mereka berdua tidak lagi sedang berdiri, melainkan duduk di rerumputan.

"Apa maksudmu? Mulailah bercerita!"

"Aku harus memulai darimana?", tanya Jellal cuek.

"Kenapa raja masih saja mencariku?"

"Hmm, entahlah. Mungkin akan menikahkanmu dengan raja dari kerajaan aliansinya itu yang membuatmu kabur hingga sekarang."

"Jangan bercanda! Cih, aku tidak sudi. Dan kau, kenapa dengan mudahnya mengatakan itu?!" Erza mendengus kesal, ia menyilangkan kedua tangannya di dada.

"Hahaha, kau pasti tidak bisa melupakanku. Akuilah Erza, kau jangan bersikap sok dingin begitu."

"Berhenti menggodaku! Cepat lanjutkan ceritamu!", semburat merah muncul di wajah cantik Erza.

"Hmm...Apakah kau masih mengenakan sesuatu yang berasal dari dunia kita?"

"Mengenakan sesuatu?", gumam Erza yang bisa didengar Jellal.

"Benda, atau semacamnya. Kalau ada cepat lepaskan."

Erza masih memikirkan maksud Jellal, 'benda dari dunia kita?', tiba-tiba matanya terbelalak kaget teringat sesuatu.

"Ada apa? Jadi benda apa yang kau kenakan?", tanya Jellal santai dengan menaruh kedua tangannya di belakang kepalanya seraya bersandar di pohon.

"Tidak ada."

"Kau berbohong."

"Sudah kubilang tidak ada. "

"Hoo begitu. Lalu kalung yang kau kenakan itu apa, hah? Cepat lepaskan.", Jellal menunjuk kalung dengan bandul berbentuk pedang kristal yang dikenakan Erza, Erza langsung menutupinya.

"Ini bukan—"

"Aku tau itu kalung pemberianku. Kau pasti tidak bisa melupakanku dan berat untuk melepasnya.", ucap Jellal mengangguk-angguk dengan penuh percaya diri.

"Siapa bilang! Sok tau!", muncul semburat merah di wajah putih Erza. Jellal tersenyum melihatnya.

"Baiklah, akan kuganti kalung itu dengan benda lain. Kau pasti akan suka, yah walaupun lebih indah kalung itu.", Jellal merogoh isi tasnya mencari sesuatu.

"Tunggu dulu. Kau belum menjelaskan apa-apa, tiba-tiba menyuruhku melepas kalungku."

Jellal berhenti dari aktivitasnya dan menatap Erza.

"Kau tidak bertanya mengapa aku bisa menemukanmu?"

"Itu juga. Kau harus jelaskan!"

"Kalung yang kau pakai itu, aku berhasil mendeteksi keberadaanmu. Dan mereka, pasukan raja juga bisa mendeteksinya. Namun gara-gara mereka dengan alatnya yang tidak berguna itu aku jadi membuang-buang waktuku di Amerika. Akhirnya aku menyempurnakan alatku sendiri.", Jellal mengeluarkan ponsel yang ternyata adalah alat pendeteksi.

"Lalu, suara yang selalu berbunyi di ponselmu itu tanda apa?"

"Oh itu, untuk mendeteksi pasukan bodoh itu ketika mereka mendekat pada posisiku berada."

"Lalu mereka juga bisa mendeteksimu dan kau akan segera menemui mereka untuk memberikan laporan?"

"Yak betul."

"Lalu kenapa kau berbohong?"

"Berbohong?"

"Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya kepada mereka kalau kau sudah menemukanku?"

Jellal tak menjawab.

"Kau pasti menyembunyikan sesuatu.", ucap Erza dengan penuh selidik.

"Erza, aku yang akan membawamu kembali. Apapun alasanmu aku akan tetap membawamu karena aku yang telah memberikan kebebasan padamu. Aku akan memberikanmu waktu 18 hari, jadi kau nikmatilah kehidupan di dunia ini dengan tenang. Jika kau sampai tertangkap oleh prajurit bodoh itu, kau akan langsung diseret kembali oleh mereka. Jadi lebih enak kembali bersamaku, bukan?"

Erza merundukkan kepalanya sedih. Kini tubuhnya bergetar, air matanya jatuh di rerumputan. Jellal mampu melihatnya, hatinya kembali merasakan sakit.

"Aku tidak ingin kembali ke tempat itu lagi.", suara Erza bergetar menahan agar tidak sesenggukan.

"Kau harus kembali, Erza. Kau tidak bisa berlama-lama disini, tempat ini bukan duniamu. Seandainya aku tidak mengirimmu ke dunia ini...", Jellal memegang bahu Erza dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menyentuh dagu Erza agar kepalanya tidak tertunduk lagi.

"Kenapa kau menyesalinya, Jellal? Aku bisa hidup disini dengan tenang."

"Kau tidak bisa, Erza. Aku tidak bisa menceritakan semuanya langsung padamu. Yang harus kau ingat adalah percayalah padaku.", Jellal menempelkan dahinya di dahi Erza, perasaan sayang itu terasa mengalir dan tersalurkan pada gadis yang dicintainya. Setelah dirasa cukup dapat menenangkan Erza, Jellal menjauhkan kepalanya dan melepaskan kalung yang dikenakan Erza, lalu mengambil suatu benda dari dalam tasnya dan memasangkannya di tangan kiri Erza.

"Apa ini?"

"Gelang, kau tidak bisa lihat?"

"Maksudku untuk apa?"

"Sebagai ganti kalungmu yang kuambil kembali. Dengan begini mereka tidak bisa mendeteksi keberadaanmu.", Erza menatap gelang berwarna perak, sederhana, walaupun tanpa permata indah, gelang tersebut bermatakan bunga mawar yang mengelilingi dengan warna senada diantara jarak beberapa rantai, terlihat begitu indah di tangannya.

"Aku tidak bisa memahamimu sejak kemunculanmu hingga sekarang.", ucap Erza bingung dengan tindakan pria tersebut, tiba-tiba Jellal memeluk Erza begitu erat.

"Biarkan tetap seperti ini. Aku begitu merindukanmu."

"Jellal..."


**###**

Matahari menyingsing dengan menyebarkan sengatan yang cukup panas untuk pukul delapan pagi. Semua sekolah di Jepang, bahkan di seluruh negeri sudah dipenuhi dengan para pelajar yang haus akan ilmu. Seperti biasa, Jellal selalu datang lebih awal daripada Erza, membuat gadis bersurai merah itu heran apakah pria berkepala biru itu benar-benar tertarik dengan aktivitas dunia ini, terutama sekolah ini?

Dan seperti biasa Erza selalu mengabaikan keberadaan Jellal yang duduknya berseberangan dengannya.

"Erza!"

"Eh? Nani?", suara Jellal membuat Erza yang sedang asyik-asyiknya memikirkan tentang si rambut biru itu terkejut.

"Ayo kita ke tempat ini.", ajak Jellal dengan menunjuk sebuah brosur berukuran sebesar majalah.

"Taman bermain?", Erza mengernyitkan dahinya, bingung.

"Iya, kau harus menikmati hari-harimu dengan bahagia. Aku belum pernah ke tempat umum seperti ini. Kata orang, tempat ini mampu memberikan kebahagiaan pada setiap orang yang berkunjung."

Erza melihat Lucy memasuki kelas, sepertinya ia mendapatkan suatu ide.

"Lucy."

"Hm? Nani?", Lucy melangkah menuju Erza dan Jellal berada.

"Bagaimana kalau akhir pekan kita ke tempat ini?", Erza merampas brosur yang dipegang Jellal dan menunjukkan kepada Lucy.

"Happy Land? Kau ingin kesini, Erza?"

"Bukan aku, tapi Tuan Amerika ini ingin kesana.", jawab Erza dengan senyuman seakan mengartikan balas dendam pada Jellal karena sudah melibatkan Lucy agar ia bisa dekat dengan Erza.

"Ha? Jellal? Benarkah?"

"Aa...itu...eto..."

"Bagaimana Lucy? Kau mau? Ajak Gray dan Natsu biar ramai."

"Baiklah! Sepertinya seru. Aku akan memberitahu mereka.", Lucy begitu gembira, sambil bersenandung ia meninggalkan Erza dan Jellal menuju bangkunya.

"Hei, kenapa kau malah mengajak mereka?", bisik Jellal dengan nada kesal pada Erza.

"Lebih banyak orang lebih seru, bukan?" senyum kemenangan terlukis di wajah Erza, membuat si rambut biru mendengus kesal.

-to be continued-


Balasan review:

tamiino : Wahaha, betul-betul begitulah bocoran sepotong kisahnya :3 hahaha saya sendiri juga geli mengetik kata 'sayang' itu, agak-agak seret gimana gituh XD #apanya

makasih-makasih :3

Naomi Koala : semoga handwriting saya nggak acak-acakan ya untuk mengetik handwritingnya Jellal XD

makasih dukungannya, ini sudah dilanjut :3 (9*o*)9

Frwt: Siapakah Erza? Jeng jeng...

Erza nggak lupa ingatan, cuma lagi pelarian, itulah sedikit cuilan yang telah terjawab :3

Terimakasih semuanya (^_^)/