LOVE SPELL
Author: Me a.k.a Jaehan Kim Yunjae - yunjaehan
Pairing: Yunjae
Length: 4/?
Rating: T
Genre: Romance / Fluff / Humor / Drama
Cast:
Kim Jaejoong
Jung Yunho
Others
DISCLAIMER:
I don't own Yunjae. They own each other but I hope I can own them. ©Hakusensha, Inc., Tokyo, by. Matsuri Hino
WARNING!
This is YAOI fanfic means boy x boy story, so if you can't take it just leaves already. I don't wanna hear bad comments. I don't care with your comments
a/n:
Jaehan adopsi cerita dari manga lama dengan judul sama, namun akan ada beberapa bagian yang akan Jaehan sesuaikan.
Gomen Jaehan malah muncul dengan ff baru, tapi Jaehan bakal namatin ini dulu baru lanjut yang lain^^
Chapter 4
The Prisoner
Happy Reading^^
Keajaiban dari kutukan yang diterima keluarga Jung adalah bila majikan memberikan perintah, selama tidak membahayakan nyawa majikan, maka harus dijalankan, walaupun harus mengorbankan nyawa... Ini telah menjadi takdir bagi Jung
Yunho duduk bersandar pada dinding diruang perapian keluarga Kim dengan menggenggam sebuah samurai panjang yang sangat tajam dikedua lengannya, ujung runcing pedang itu ia arahkan pada dirinya tepat di bagian lehernya... untuk mengancam Jaejoong. Hanya tinggal satu gerakan tangan, maka pedang samurai itu akan mengenai bagian lehernya dan membunuh dirinya
"Yunnie Jangan!" teriak Jaejoong melihat perbuatan Yunho itu
"Apa yang kau lakukan?!" marahnya mengambil paksa pedang itu dan membuangnya jauh
"Ah!" Jaejoong terdiam, ia sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan saat merasakan Yunho memeluk pinggannya dan menyerukkan kepalanya dibagian atas tubuhnya, ia kembali tertipu
"Akhirnya hamba bisa mendapatkan Anda, Tuan Putri" ucap Yunho dengan mata berbinar
"Bodoh! Aku tertipu tiga kali dengan jebakan yang sama" gumam Jaejoong sedih melihat kebodohannya sendiri
"Hamba akan menceritakan yang sebenarnya" ucap Yunho lagi yang kini telah membawa Jaejoong dalam dekapannya agar Jaejoong tidak lari dan menatap wajah cantik pria itu
"Aku tidak mau dengar! Itu adalah perintah yang tidak benar!" balas Jaejoong menggelengkan kepalanya cepat, menutup kedua mata dan telingannya
"Jangan tutup telinga Anda..."
"Kalau kau masih memaksa, aku akan memukulmu" ancam Jaejoong sambil mengangkat lengan kanannya dihadapan Yunho
"Hamba harus menjalankan perintah" Yunho tetap memaksa
Yunho menatap Jaejoong dalam, keduanya terdiam, Yunho akan mulai menyampaiakan ucapannya namun tersela oleh sebuah pedang samurai lainnya membatasai tubuhnya dengan tubuh Jaejoong, Jaejoong bingung melihat pedang itu, Jaejoong melihat Paman Jung yang tengah memegang pedang itu disisi satunya
"Beraninya kau mengganggu Tuan muda" tegas Yang Hyun mengarahakan samurai itu pada Yunho
"Kau pikir bisa menghentikanku hanya dengan pedang ini, Yang Hyun?" jawab Yunho tegas menyentuh ujung pedang itu dengan jarinya
"Kau membuat darahku panas!" teriak Yang Hyun kesal mendengar anaknya sendiri memanggilnya dengan nama depannya
"Yunho Sadaralah! Dilarang memenaggil nama depan Ayahnu!" marah pria tua itu memukul Yunho kasar dengan linangan air mata diwajahnya
"Ah! Barusan aku kambuh lagi?" Tanya Yunho setelah sadar kembali
"Sepertinya sakit sekali" sedih Jaejoong melihat Yunho yang dipukul kasar seperti itu, buliran kristal bening itu mulai membasahi kedua matanya
"Ayo kita pergi Tuan muda, Yunho sudah tidak apa-apa" ajak Yang Hyun pada Jaejoong
"Yunnie maaf, semua ini salah ku. Aku sungguh tidak tahu diri, memerintah orang lain untuk berkata jujur adalah hal yang tidak pantas" sesal Jaejoong, tangisnya mulai membasahi wajahnya
"Tuan..." Yunho tertegun melihat Jaejoong yang menangis demi dirinya untuk kesekian kalinya
"Jadi..." Jaejoong tertunduk mengusap kedua matanya
"Aku pasti akan menemukan cara untuk membatalkan perintah dan menghapuskan kutukan" tekad Jaejoong dengan penuh percaya diri menatap kedua pria dihadapannya
"Yunnie... Aku pasti akan membantumu terlepas dari kutukan itu" senyum Jaejoong lalu pergi meninggalkan kedua pria itu untuk melakukan janjinya dan Yunho hanya terdiam menatap kepergian Jaejoong
"Bukankah kalau ingin membatalkan perintah, kenapa tidak memerintahkan perintah 'Jangan mengatakan yang sebenarnya' saja... Itu kan lebih mudah" ucap Yunho pelan yang tanpa sadar mengungkapkan pikirannya
"Bodoh!" Yang Hyun kembali memukul kepala anaknya itu, dengan sepatu kali ini
"Apa maksudmu 'Membatalkan perintah'?! Kalau begitu akan lebih parah lagi, dasar! Perintah majikan harus dituruti, mengerti!" geramnya melihat tingkah putranya itu
"Tuan muda selama dua hari ini tidak istirahat hanya demi mencari catatan usang para leluhur didalam perpustakaan" ungkap Yang Hyun
"Jaejoong, demi aku..." sesal Yunho
"Pantas saja lingkar pinggannya mengecil sekitar 0.5 centimeter" tambah Yunho terharu mengingat lingkar pinggang Jaejoong saat ia memeluknya tadi
"Ternyata kau ada pikiran yang tidak baik tentang Tuan muda" kaget pria tua itu mendengar ucapan putranya
"Tuhan... Selamatkan tubuh Tuan muda dari laki-laki ini" doanya mengepalkan kedua lengannya menatap keatas
"Aku tidak boleh merepotkan Jaejoong terus-menerus" gumam Yunho tanpa mendengarkan ucapan Ayahnya
"Appa! Bisakah Appa membantuku…" pinta Yunho
Untuk saat ini, memang bantuan sang Ayah sangat dibutuhkan. Yunho tidak tahu lagi apa yang harus di lakukan, semua hal sudah ia coba lakukan, bahkan Jaejoong telah melakukan banyak hal untuk membantunya menghilangkan kutukan 'orang rendahan' yang menimpa keluarga Jung sejak nenek moyang mereka, namun tak satu pun berhasil untuk menghilangkan kutukan itu bahkan untuk sekedar mencegahnya muncul saat Yunho menatap mata Jaejoong
Tentu saja semua tahu bantuan apa yang akan diberikan seorang pria setengah baya Jung pada putranya yang cukup sulit ditaklukkan, bukanlah sesuatu yang biasa. Saat ini Yunho terkurung pasrah dipenjara bawah tanah milik keluarga Kim dengan kedua tangannya yang di borgol kuat, ia sama sekali tidak bisa pergi kemanapun atau melakukan apapun
"Aish... Aku tahu, Appa bilang 'Demi tidak mengganggu Jaejoong, aku dibawa ke ruang baca bawah tanah sampai Appa menemukan cara untuk membantuku'" lirih Yunho terbata dengan keringat dingin bercucuran di kedua pelipisnya
"Tapi kenapa harus di penjara?!" erangnya menggenggam erat terali besi yang memisahkan ia dengan Ayahnya itu
"Ini adalah tempat rahasia ruang baca bawah tanah" jawab Yang Hyun datar tanpa menjawab pertanyaan Yunho
"Kenapa harus pakai borgol?!" lanjut Yunho kesal melihat tingkah Ayahnya
"Ini adalah cara bermain ala pencuri yang paling keren" jawab Yang Hyung dengan mata berbinar senang
"Lalu kenapa Appa tidak memborgol diri sendriri saja?! Lepaskan aku!" geram Yunho mengguncang-guncangkan terali besi itu
"Kau sering meledak-ledak belakangan ini. Instrospeksi dirilah" titah sang Ayah dengan wajah serius dan meninggalkan pemuda itu sendirian di ruangan gelap itu
"Sudahlah, selama tidak mengganggu Jaejoong" pasrah Yunho menggenggam erat anting hitam pemberian Jaejoong
"Kau pasti bisa menolongku" gumamnya mengingat ketulusan Jaejoong
Yunho tertidur dalam ruang gelap dan pengap itu, tidak nyaman sama sekali bahkan berbau lembab, lumut hijau gelap mengelilingi dinding berbatu hitam penjara itu. Ia mengingat dan mengenang sejak pertama kali saat pertemuan dirinya dengan Jaejoong beberapa bulan yang lalu hingga saat ini, telah banyak hal yang terjadi padanya dan Jaejoong dan semuanya
.
.
'… bisa menolongku...'
Jaejoong tersentak dalam tidurnya, sejak kemarin ia berada di perpustakaan keluarga Kim untuk mencari segala sesuatu yang mungkin dapat membantu membertahu cara untuk menghilangkan kutukan 'orang rendahan' pada Yunho. Kedua tangannya berada diatas meja yang berserakan berbagai buku dan beberapa lembar kertas perkamen. Jaejoong terbangun dan melihat sekelilingnya
"Selamat pagi Tuan muda. Apakah sudah menemukannya?" sapa Yang Hyun pada Jaejoong
"Aku... tertidur?" Tanya Jaejoong pada pria setengah baya itu
"Begitulah. Kalau begitu saya akan menyiapakan teh hangat" sahut Yang Hyun
"Apakah Yunnie baik-baik saja? Aku tidak mendengar suaranya sejak tadi?" Tanya Jaejoong lagi saat pria tua itu duduk dihadapannya
"Dia sedang dikurung di penjara bawah tanah" jawab Yang Hyun datar tanpa maksud apapun
"Penjara?!" kaget Jaejoong menatap pria tua dihadapannya itu
"Iya, penjara" sahut Yang Hyun tetap datar
"Yunnie, aku datang!" Jaejoong segera berlari keluar dari perpustakaan keluarga Kim itu untuk menemui Yunho
"Tuan muda, tunggu sebentar" panggil Yang Hyun sebelum Jaejoong benar-benar keluar dari ruangan itu
"Kumohon Anda mengerti, dia melakukan semua ini demi dirimu" jelasnya mengingatkan Jaejoong
"Baiklah..." gumam Jaejoong pelan membenarkan ucapan kepala pelayannya itu
"Oh ya, Tuan muda, hari ini adalah hari senin. Anda harus pergi ke sekolah" tambah Yang Hyun pada Jaejoong
Ya, hari ini adalah hari senin, Jaejoong akan kembali melanjutkan aktivtasnya seperti hari biasanya, namun kali ini tanpa Yunho disisinya. Jaejoong berjalan sendirian menyusuri taman sekolah menuju ruangan kelasnya pagi ini, ia berjalan tetap diam dan melamun. Sejak pagi hanya Yunho yang dapat dipikirkannya, salah dirinya hingga Yunho harus terkurung di penjara bawah tanah, bukankah itu sangat kejam? Jaejoong terus melamun tanpa menyadari seorang gadis muda yang datang menghampiri dirinya
"Selamat pagi Tuan Putri" goda gadis itu menepuk pundak Jaejoong dan tersenyum padanya, ia merasa akrab dengan Jaejoong karena pemuda itu adalah orang yang dekat dengan Yunho seperti dirinya
"Rella..." panggil Jaejoong setelah berbalik menatap gadis itu
"Eh, dimana Yunho?" Tanya Rella melihat ke kiri dan ke kanan namun tidak menemukan Yunho yang tidak pernah lepas berada disisi Jaejoong
"Dia ada di..." Jaejoong ragu untuk menjawab
Rella adalah gadis yang baik, melihat bagaimana hubungannya dengan Yunho, Jaejoong yakin dia adalah orang yang dapat diandalkan. Keduanya adalah sahabat yang sangat baik, dan jika Yunho mempercayai gadis ini, bukankah itu berarti Jaejoong juga bisa mempercayainya
Dengan pikiran itu, Jaejoong menceritakan segala hal yang sebenarnya terjadi pada Yunho dan dirinya, termasuk hubungan keluarga Kim dan keluarga Jung, juga segala kutukan yang dimulai sejak nenek moyang keluarga mereka. Semuanya, tanpa ada yang ia sembunyikan, hingga pada kejadian yang baru saja terjadi antara dirinya dengan Yunho, sebuah perintah...
"Ternyata begitu... Walaupun aku tidak mengerti apa-apa tentang mantra ini, tapi..." Rella menggantung ucapannya, berpikir apa yang akan dikatakannya selanjutnya
"Apa kau tidak percaya pada Yunho?" lanjutnya menatap Jaejoong yang duduk disisinya ditaman sekolah
"Eh?" Jaejoong tersentak mendengar ucapan Rella
"Kasihan sekali dia, kalau kau mempercayainya... harusnya kau tidak perlu takut jika dia berkata yang sejujurnya" nasihat gadis itu
"Aku mengerti, kau pasti bingung, tidak tahu harus berbuat apa" ucapnya lagi penuh pengertian
"Akan kuberi tahu kau sebuah rahasia" saran Rella sambil mencoba mengambil sesuatu dari dalam tasnya
"Ini kartu pelajarku..." lanjutnya memberikan kartu pelajar itu pada Jaejoong
"Choi Heechul..." ungkapnya
"Bagaimana? Itu nama lelaki..." papar gadis bernama asli Heechul itu pada Jaejoong
"Apa?!" kaget Jaejoong
"Terima kasih karena telah terkejut seperti itu" gumam Heechul pelan, miris
"Waktu sekolah menengah, ketika aku mengatakan bahwa aku ingin menjadi 'wanita' dia tidak bisa menerimanya..." ungkap Heechul memulai ceritanya
"Saat itu aku sudah siap jika ia akan membenciku dan tidak ingin bersahabat lagi denganku, karena Yunho terus menghindariku" lanjutnya dengan wajah sendu
"Tapi, setelah beberapa hari, Yunho datang dengan wajah cemberut dan berkata 'Walaupun penampilah luarmu berubah tapi kau tetaplah kau. Misalnya kau berubah menjadi perempuan yang cantik pun aku tetap berusaha untuk menerimamu.'" Ujar Heechul meniru mimik Yunho saat mengucapkannya
"Walapun dia tidak menganggapku sebagai wanita, tetapi dia tetap menjadi sahabatku, dan sebagai sahabat yang baik, aku memintanya untuk memanggilku dengan 'Rella' dari tokoh dongeng Cinderella, aku sangat menyukai tokoh itu..."
"Yunho sungguh bisa diandalkan" Heechul mengakhiri ceritanya dengan tersenyum pada Jaejoong
Jaejoong terdiam mendengar semua penjelasan gadis itu, ia teringat kembali saat dimana Yunho menjemput dirinya ke Jepang dan membawanya kembali pulang. Ia tidak menolaknya, apa yang telah membuatnya ikut kembali pada Yunho? Jaejoong sadar saat itu ia merasakan perasaan hangat yang pernah Yunho ungkapkan
"Benar juga... Aku juga merasakannya" sadar Jaejoong tersenyum dan berjalan perlahan menuju kelasnya meninggalkan Heechul sendiri ditaman
"Aku sungguh bingung... tiba-tiba semuanya berubah, sehingga aku memutuskan untuk kembali tinggal dengan Ibu di Jepang... Tapi, aku rela mengisi bagian hatiku yang kesepian dan menjadikannya bagian dari hatiku, bagian yang sangat penting... Karena itulah aku ingin mempercayaimu selamanya" gumamnya berjalan perlahan menyusuri kelas-kelas di dalam sekolah
.
.
Pada saat yang sama di tempat yang berbeda, Yunho berguling-guling resah diatas atap sekolah Jaejoong, ia ragu dengan apa yang telah dilakukannya. Penjara bawah tanah milik keluarga Kim sudah ada sejak lama, dan borgol yang dipakaiakan pada Yunho juga sudah berkarat, sebenarnya sejak awal ia dapat dengan mudah melarikan diri, namun Yunho ragu dengan pilihan itu
"Apa yang sedang kulakukan..." ucapnya pasrah, entah apakah ini pilihan yang benar atau tidak
Dan akhirnya Yunho memilih untuk melepaskan borgol itu lalu melarikan diri dengan mobil keluarga Kim yang justru ia rusakkan dengan menabrakannya ke tiang sisi jalan besar, walaupun tidak disengajanya, karena pikirannya dipenuhi dengan Jaejoong, hingga tanpa ia sadari ia telah berada di sekolah Jaejoong. Agar Jaejoong tidak mencurigainya, Yunho berniat untuk bersembunyi di atap sekolah, namun sepertinya naluri Jaejoong lebih kuat dari pada niatnya
"Aku tahu, kau pasti datang" panggil Jaejoong yang telah menanti Yunho di atap sekolah
"Ruang penjara rusak, Tuan Putri tolong dengarkan penjelasan hamba..." pinta Yunho mencoba menyentuh Jaejoong, namun ikatan borgol itu menghalangi dirinya, sedangkan Jaejoong terpukul melihat kedua lengan Yunho yang harus diborgol, ia hanya tahu Yunho berada di penjara bawah tanah, bukan diborgol seperti pencuri seperti itu
"Hatiku sungguh tidak tenang, makanya aku datang mencarimu" jelas Yunho
"Kalau ada perintah yang membahayakan dari majikan, dapat dihilangkan secara otomatis..." lirih Jaejoong pelan tanpa mendengarkan penjelasan Yunho
"Selamat tinggal Yunnie... Aku tidak ingin mendengar yang sebenarnya darimu" lanjut Jaejoong berjalan mendekati sisi atap sekolah
"Eh? Jaejoong!" kaget Yunho melihat Jaejoong sudah berada di atas pagar atap sekolah tempat mereka berada
Jaejoong bertumpu pada pagar hitam itu, mencoba untuk melompat, ia ingin mencoba takdirnya. Jaejoong melepaskan tumpuannya dan telah bersiap namun kedua lengan Yunho mencegahnya dan berhasil membawanya kembali ke bagian tengah atap sekolah, keduanya jatuh terduduk dan terengah
"Dasar bodoh! Mau bunuh diri hanya demi menghapuskan perintah?" marah Yunho dengan suara keras
"Tapi Paman Jung berkata selama mantra masih ada kau tidak akan pernah bebas" tariak Jaejoong balik
"Aku... tidak bisa membiarkanmu dikendalikan mantra... Aku..." air mata mulai membasahi sudut mata Jaejoong
"Aku hanya percaya padamu, Yunnie" ia tetap mecoba untuk tersenyum. Yunho mendesah dan mengetuk sisi kepala pria cantik itu
"Hal yang penting seperti itu, seharusnya kau menyadarinya lebih awal" celetuk Yunho
"Walaupun mantra bukanlah hal yang main-main, tapi demi dirimu aku akan melakukan apapun" lanjut Yunho menatap lurus ke depan, mencoba tidak menatap mata Jaejoong
"Inilah yang sebenarnya, makanya... kau tidak perlu menangis lagi" tambah Yunho mengusap perlahan kepala Jaejoong
"Maaf... Maafkan aku, aku sangat takut, benar-benar takut... takut kau akan membenciku" bela Jaejoong, air matanya telah membasahi kedua pipinya
"Makanya aku mau melarikan diri..." lanjut Jaejoong, Yunho memperhatikan Jaejoong dan melihat telinga kanannya yang tidak ada lagi anting disana, lalu menyentuh telinga lembut itu
"Ah!" Jaejoong tersentak merasakan sentuhan Yunho
"Aku ingin mengembalikan antingmu" senyumnya
"Sudah, kau simpan saja" tolak Jaejoong
"Tidak perlu, aku akan selalu berada disisimu" ungkap Yunho
"Aku... Aku pakai sendiri saja" gugup Jaejoong tetap mecoba menolak
"Tidak apa, biar aku pakaikan" paksa Yunho halus
Jaejoong merasakan degup jantungnya yang semakin cepat dan tidak terkendali, perasaan yang aneh yang belum pernah dirasakannya sebelumnya itu kembali lagi, ia tertunduk tidak ingin menatap Yunho. Disisi lain, Yunho dengan lembut memakaikan anting hitam itu kembali di telinga Jaejoong, cuping telinganya sangat lembut, seperti kulit bayi yang baru lahir, kemudian Yunho menatap telinga itu, mengagumi keberadaan anting kecil itu yang sangat pantas di telinga Jaejoong
"Nah, sudah siap" ucapnya
"Eh? Lho?" bingung Yunho saat Jaejoong tiba-tiba membawa kedua lengannya yang terborgol ke belakang tubuhnya, membuat dirinya terkurung dalam kukungan tubuh Yunho
"Aku tidak ingin menjadi majikanmu" ungkap Jaejoong, detak jantungnya tetap tidak melambat dan ia dapat mendengar dengan jelas detak jantung Yunho yang sama seperti dirinya
"Kalau tidak ingin menjadi majikan harus menghapuskan kutukan dulu, memang kau ingin menjadi apa?" Tanya Yunho mencoba menahan agar mantra itu tidak muncul dengan menutup kedua matanya
"Menjadi Jaejoong yang biasa saja..." sahut Jaejoong tersenyum tulus
Yunho sangat tersentuh dengan ucapan Jaejoong, Jaejoong begitu tulus, semua hal yang diucapkannya benar-benar keluar dari hatinya yang bersih, tidak ada kebohongan. Entah apa yang merasuki dirinya, namun pandangan mata Jaejoong dan wajahnya saat ini benar-benar terlihat indah dan mengagumkan. Yunho bergerak perlahan mendekatkan wajahnya pada wajah Jaejoong dan mengecup ringan kedua bibir merah muda itu
Jaejoong tersentak dan kedua matanya membesar menerima perlakuan aneh Yunho padanya, ia tidak tahu apa itu dan tidak pernah merasakannya sama sekali. Yunho memandanganya lembut dan Jaejoong menutup mulutnya dengan kedua tangannya
"Aku ingin kau menjadi kekasih saja..." senyum Yunho, linangan air mata di wajah Jaejoong kembali membasahi pipi pria cantik itu
.
.
Semua telah terjadi, Yunho tidak mungkin menarik kembali apa yang telah dilakukannya, walaupun akhirnya kini Jaejoong mungkin marah padanya dan kembali menjauhinya, tapi... Apa yang bisa dia lakukan?
Malam telah tiba, perasaan resah di hati Yunho tidak juga meluluh. Yunho berdiri termenung disisi pintu kamar Jaejoong. Sejak pulang tadi, sama seperti sebelumnya Jaejoong berlari memasuki kamarnya untuk bersembunyi dari Yunho
"Hamba sungguh tidak tahu malu..." desah Yunho tertunduk pasrah
"Omong kosong, bisa-bisanya membuat Tuan muda menangis seperti itu" sahut Yang Hyun yang berjalan melewati putranya
Jaejoong mendengar percakapan Ayah dan anak itu dari dalam kamarnya, hal yang terjadi bukan salah Yunho dan ia tidak menyalahkan Yunho untuk itu, hanya saja… Jaejoong tidak mengerti, ia bingung
Jaejoong membuka pintu kamarnya perlahan lalu mengeluarkan lengan kanannya dan menarik ujung kemeja merah yang Yunho pakai untuk meminta perhatiannya, Yunho berbalik merasakan sesuatu menarik kemejanya dan melihat lengan Jaejoong disisi tubuhnya
"Yunnie... Aku bukannya tidak senang, aku suka padamu"
To be continued
Minna, gomen
Jaehan terpaksa ganti marga Heechul jadi Choi, karena kalo Kim nanti Yunho malah jadi pelayannya…Lol
Balesan review-nya di chap depan yah^^
*bows
Sankyuu...
Buat yang sudah mampir dan baca ff ini
Silahkan tunjukan diri kamu, karena Jaehan cuman mau tahu berapa orang yang sudah baca ff ini
Sampai ketemu di fanfic selanjutnya
Ja Na^^
Kunjungi juga blog kita di:
.
