"When the Half Demon Fox Fall in Love"

[Chapter four of Five]


Entah perasaannya saja atau memang kenyataannya seperti itu, Naruto merasa Hinata semakin sering tersenyum kepadanya. Hanya kepadanya. Baik di sekolah dan dimanapun mereka bertemu. Mereka berdua semakin sering pulang bersama. Kali ini tujuannya mampir ke rumah nenek Ichiraku agak berubah dari yang awalnya ingin bermain dengan Hidari menjadi ingin bertemu dengan Hinata. Naruto merasa sesuatu dalam dirinya membuatnya secara tidak sadar menjadikan Hinata sebagai prioritas pertama. Bahkan ketika suhu mulai mendingin seperti ini pun, Naruto tetap mengunjungi kediaman Ichiraku. Walaupun dia tidak suka dingin.

"Mama, mama! Seyamat puyang!" Hidari berlari, menubruk Hinata dan meminta gendong Hinata. Hinata tersenyum kecil, dia mengangkat Hidari dan berkata, "Selamat datang, Hidari-kun, bukan selamat pulang." Hidari membalas pernyataan Hinata dengan tawa renyahnya. Hinata tidak bisa melawan dan ikut tertawa bersama Hidari.

Melihat keakraban keduanya Naruto hanya meringis. Dia seperti biasanya mengantarkan Hinata pulang. Ini sudah beberapa minggu berselang semenjak Hinata menceritakannya insiden yang menimpanya tiga tahunan yang lalu.

Naruto kemudian duduk di samping nenek Ichiraku. Dia menghela nafasnya.

"Melihat Hyuuga-san dan Hidari, rasanya ingin cepat-cepat menikah dan berkeluarga," gumamnya, "Walaupun sudah umurnya, sepertinya tidak ada perempuan yang mau denganku. Nek, kapan dewa cinta menoleh padaku?"

Nenek Ichiraku tertawa dan membalas, "reaksimu sama seperti mendiang kakek ketika belum menikah dulu." Naruto tersenyum dan juga ikut tertawa. Naruto awalnya berpikir bahwa Hidari adalah anak yang pemalu, tapi setalah kenal lebih dalam, Hidari rupanya adalah anak yang ceria dan cerdas. Dia punya rambut hitam dan tatapannya juga tajam, tidak seperti ibunya. Naruto jadi agak penasaran dengan ayah kandung Hidari. Namun pertanyaan itu tidak bisa keluar dari mulutnya, begitu sensitif.

"Nak Naruto, kalau sudah tiba waktunya, aku titipkan mereka kepadamu, ya," ujar Nenek Ichiraku, menghentikan tawanya dan hanya tersenyum sambil menyeruput tehnya. "Hanya kau yang bisa kupercaya. Tidak perlu menunggu aku meninggal. Jika sudah tiba saat yang tepat, bawa saja mereka. Jangan segan."

Naruto terdiam sebentar sebelum dia berkata, "Nek, kalau itu...tanpa nenek tawari sekalipun, aku bermaksud mengambilnya dari nenek." Naruto menatap nenek Ichiraku dan tersenyum tipis. Nenek Ichiraku, walaupun matanya sudah tidak sejernih dulu lagi, dapat mengetahui ketulusan yang ditunjukkan Naruto. Dia hanya mengangguk dan tersenyum.

"Ah, nenek merubah mood nya jadi tegang begini!" gerutu Naruto. Hidari kemudian keluar dari dapur, berlari dan memeluk Naruto dari belakang. Naruto terkejut dan langsung berbalik, mengacak rambut tipis Hidari sambil tertawa. Hinata keluar dari dapur dengan membawa sebuah baki berisi segelas teh untuk Naruto.

"Mama, mama! Papa Hidayi miyip pak guyu?"

Hinata terdiam. Naruto juga diam, pria itu sibuk mengatur jantungnya untuk bekerja lebih tenang. Pertanyaan Hidari yang tidak terduga itu membuat keduanya bingung. Terutama Hinata. Akhirnya dia berkata, "Em, bagaimana ya, papa Hidari tidak mirip pak guru. Papa Hidayi itu tenang dan hangat. Kalau pak guru lebih ceria dan energik. Begitu, Hidari..."

"Tapi Hidayi pingin papa kaya pak guyu...," balas Hidari. Nenek Ichiraku menggelengkan kepalanya. Dia tahu bahwa Hinata kebingungan mau membalas bagaimana dan suasananya menjadi semakin tegang. Tapi sebelum nenek mencairkan suasana, Naruto tertawa. Cukup keras hingga membuat Hinata dan nenek Ichiraku menatapnya dengan menaikkan sebelah alis.

Sadar bahwa reaksinya menarik perhatian, Naruto tersenyum dan berkata, "Haduh, Hidari-kun tidak bisa memilih mau papa yang bagaimana. Hidari-kun tau, papa-nya pak guru juga sama seperti papa hidari-kun. Tenang dan hangat."

Hidari menatap Naruto dengan antusias. Naruto tetap tersenyum dan melanjutkan, "Pak guru juga pernah berpikir mau punya papa yang asik diajak main, tapi papa nya pak guru sudah tidak ada. Mama pak guyu juga sudah pergi."

"Peygi? Papa Hidayi juga peygi..." Naruto mengangkat Hidari hingga membuat anak itu kini duduk di pangkuannya.

"Papa Hidari pasti nanti akan menemui Hidari. Terus, Hidari masih punya mama kan?," Hidari mengangguk, "Jadi, Hidari, harus bersyukur. Sayang sama mama, makan yang banyak biar jadi kuat dan bisa melindungi mama. Janji?"

Hidayi tersenyum lebar dan berkata, "Hidayi pingin jadi kaya pak guyu! Janji, janjii!"

Naruto tertawa renyah dan mengacak-acak rambut anak kecil itu. Hinata yang melihat Naruto dari jauh hanya tersenyum. Tapi dibalik senyumnya, Hinata merasakan sesuatu yang aneh. Dia jadi teringat sepupunya, ayah kandung Hidari, tapi Hinata kali ini tidak terlalu banyak memikirkannya. Karena semuanya terpusat pada satu orang. Pikiran Hinata kali ini penuh dengan Naruto.

Dia baru menyadarinya, dia agak keliru mengenal Naruto. Pria itu bukan hanya sosok yang ceria dan enerjik, namun juga hangat dan penuh pengertian. Keberadaan Naruto mampu mencairkan hati Hinata yang telah lama beku akibat insiden 3 tahun lalu.


"Pak guru, maafkan yang tadi dilakukan Hidari..." Hinata mengantar Naruto pulang sampai depan halaman rumah. Hidari sudah tertidur nyanyak setelah lama bermain dengan Naruto. Perempuan berparas cantik itu menundukkan wajahnya, tapi dia tidak bisa menutupi senyumnya.

"Tidak masalah. Ngomong-ngomong, ayah kandung Hidari tidak pernah mencari kalian?" tanya Naruto. Keduanya berhenti di depan pintu pagar.

"Tidak... Keberadaanku disini tidak diketahui keluargaku, dia juga dinas di luar negeri. Dan aku tidak mau bertemu dengannya sekarang. Lagipula, sepertinya Hidari lebih suka pak guru ketimbang ayahnya," Balas Hinata.

Naruto hanya tersenyum, dia memejamkan matanya dan mengacak rambut Hinata, "Dia berkata seperti itu karena dia belum bertemu dengan ayahnya, Hyuuga-san." Naruto berhenti mengacak rambut Hinata dan memberikannya tepukan pelan di kepala.

"Baiklah, bapak pulang dulu, Hyuuga-san," Ujar Naruto. Tapi sebelum dia melangkah pergi, Hinata meraih ujung lengan jaket Naruto, memeganginya dan berkata, "Pak guru mau tidak jadi ayahnya Hidari?"

Angin malam yang berhembus tidak berdampak apapun terhadap Naruto saat itu. Dia tidak bisa merasakan dinginnya malam karena tubuhnya panas akibat pertanyaan Hinata. Ibu muda beranak satu itu secara tidak langsung melamarnya. Naruto menelan ludahnya. Dia senang, tapi disisi lain, dia juga adalah seoorang guru. Dilema.

"Aku suka pak guru, sama seperti Hidari, aku ingin pak guru jadi bapaknya Hidari. Bisa?" ulang Hinata. Hinata sendiri tidak bisa menyembunyikan simburat merah di kedua pipinya, sedalam apapun dia menunduk. Karena simburat itu kini menjalar hingga ke kedua daun telinganya. Ini bukan sekedar candaan, Hinata sudah memikirkannya dari sejak Naruto mulai akrab dengan Hidari dan juga dirinya. Dari sejak Naruto menceritakan masa lalunya. Hinata sudah tidak bisa lagi mengabaikan Naruto seperti pada saat pertama dia bertemu dengan pria itu.

Naruto yang sudah tidak mampu mehan dirinya sendiri kemudian memeluk Hinata. Begitu erat seolah itu adalah pertemuan terakhir mereka. Tapi pelukkan itu tidak berlangsung lama. Naruto tiba-tiba memendorong Hinata. Dia mengambil nafas dan berkata, "Maaf, Hyuuga-san. Bapak tidak bisa."

"Apa karena bapak sudah berkeluarga?" Tanya Hinata. Naruto yakin pernyataan itu keluar dari rumor yang beredar, pria itu menghela nafas dan menjawab, "Bapak belum menikah, Hyuuga-san."

"Kalau begitu karena aku masih SMA? Karena aku murid dan bapak adalah guru? Begitu?"

Dor. Naruto tertembak tepat di jantungnya. Pertanyaan Hinta begitu mengena, hingga Naruto tidak bisa membalas apapun. Dia hanya memalingkan pandangannya. Hinata merasa emosinya memuncak. Dia mengangkat kepalanya, sedikit menjijit dan mencium gurunya itu, tepat di bibir Naruto. Setalah mencium dalam waktu yang singkat, Hinata mengangkat tangannya dan menyentuh kedua pipi Naruto dengan kedua tangannya.

"Dalam waktu satu tahun, pak guru, aku akan lulus dari SMA. Aku akan membuat pak guru menarik kembali pernyataan pak guru dalam waktu kurang dari setahun. Bersiaplah." Hinata memang pemalu. Tapi jika dia sudah membulatkan niatnya untuk sebuah komitmen, maka dia akan menyerang habis-habisan. Perempuan seperti itulah Hinata.

Hinata meninggalkan Naruto dan kembali masuk kerumah. Naruto pun keluar dari halaman rumah itu. Pria itu berjalan hingga cukup jauh dari kediaman nenek Ichiraku dan terkulai lemas di jalan. Ini sudah batasnya. Naruto merinding akibat ancaman dari Hinata. Anak itu tidak bercanda. Rasa sukanya serius untuk Naruto. Keseriusan itu membuat Naruto serasa akan meleleh.

Dia menjambak rambutnya dan melirih, "sialan, kenapa rasanya sakit sekali."


Siang itu Naruto mendapatkan berkas yang dia minta dari kearsipan sekolah. Berkas riwayat dari semua murid walinya. Penting, karena sebentar lagi Naruto akan mengadakan konsultasi dalam pemilihan konsentrasi untuk murid walinya. Naruto punya waktu kosong sekitar 2 jam untuk membaca semuanya. Namun tanpa sadar, Naruto langsung mencari berkas milik Hinata dari tumpukan kertas itu.

Matanya terbelalak ketika dia membacanya. Anak itu ternyata lulus SMP dengan jalur akselerasi, dengan waktu belajar hanya 2 tahun. Ditambah, dia memenangi banyak olimpiade dan cukup aktif berorganisasi. Hal itu menjelaskan semuanya. Kenapa Hinata yang sudah punya anak padahal belum menikah bisa memasuki sekolah favorit di Konoha itu.

Naruto meletakkan lagi berkas Hinata di tumpukan kertas dan menghela nafas. SMA Konoha memang menyediakan kelas akselerasi, namun sangat kecil kemungkinan murid dari kelas reguler pindah kekelas akselerasi. Walaupun begitu, Naruto tahu ada kemungkinan Hinata bisa saja pindah ke kelas akselerasi. Dan membuat pernyataannya menjadi kenyataan.

Naruto mengurut pelipis nya. Dia memang senang kalau Hinata mengambil inisiatif seperti itu. Dia juga tidak keberatan menjadi ayah bagi Hidari. Namun permasalahannya cukup klasik, dia guru dan Hinata masih berstatus murid. Dia tidak ingin Hinata mengambil keputusan sembrono. Tetapi dilain sisi, dia juga laki-laki yang begitu mencintai Hinata. Hanya menunggu waktu hingga Naruto "meledak" dan menghancurkan dinding pembatas guru-murid tersebut. Pria setengah siluman itu hanya berharap keduanya tidak terjadi dalam sebelum Hinata lulus.


Satu per satu murid memasuki ruangannya. Memang ada guru bimbingan di sekolah itu, tapi Naruto lebih tenang jika melakukan konsultasi seperti ini sendiri. Lagipula dia sudah mendapat ijin dari kepala sekolah. SMA Konoha melakukan sistem yang agak berbeda dari sekolah lainnya. Disini siswa diminta memilihi konsentrasi ketika akan naik ke kelas 2 SMA, dengan jurusannya: Ilmu alam dan ilmu budaya dan sosial. Siswa juga diberi pilihan untuk memilih kelas reguler atau akselerasi di pendaftaran sekolah dan pergantian tahun ajar di kelas dua.

"Terima kasih, pak," Haruno menunduk. Dia berdiri dari kursi dan keluar dari ruangan, Naruto hanya mengangguk. Dia sibuk memainkan bolpoint-nya. Haruno memilih konsentrasi ilmu alam, karena memang anak itu cukup pintar di kelas. Hampir semua murid telah melakukan konsultasi dengannya siang itu. Ada beberapa anak yang kemampuan akademis di bidang sainteknya kurang tapi memilih konsentrasi ilmu alam, sehingga Naruto harus menyarankan mereka untuk memilih ilmu budaya dan sosial. Ada pula anak yang tidak mau dinasehati dan memakan banyak waktu bagi Naruto untuk menjelaskannya pada anak-anak tersebut.

Mendengar ketukan pintu tiga kali, Naruto langsung berseru, "Oke, masuk..."

Dia meletakkan berkas milik Haruno di tumpukan berkas yang sudah selesai digunakan. Lalu pria itu mengambil lagi selembar kertas di tumpukan berkas lainnya. Pria itu tidak memperhatikan siapa yang masuk ke ruangannya, bahkan ketika pintu di hadapannya bergeser menimbulkan suara.

"Selamat pagi, pak..."

Naruto menelan ludahnya dan mengangkat kepalanya. Rupanya benar, Hinata duduk di hadapannya. Dia memejamkan matanya dan mengambil bolpoint dari sakunya. Naruto mengetuk-ngetuk bolpoinnya di meja dan membaca kembali berkas Hinata.

"Hyuuga-san, benar mau pindah ke kelas akselerasi?" Naruto mengangkat kepalanya dan menatap Hinata, "Kau masih harus mengejar materi, dan juga mengikuti pelajaran konsentrasi."

Hinata hanya mengangguk. Hinata membalas tatapan Naruto dan berkata, "Aku mengambilnya untuk lulus setahun lebih cepat. Dengan begitu satu tahun kedepan aku akan lulus dan pak guru..."

"Bagaimana dengan Hidari? Kau sudah berbicara dengan nenek Ichiraku?"

Hinata menghela nafas. Dia tahu Naruto berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

"Dan pak guru tidak punya alasan untuk menolakku."

"Bapak ulangi, bagaimana dengan Hidari? Kau sudah membicarakannya dengan nenek Ichiraku?"

Hinata terdiam dan kemudian menjawab, " Akan kubicarakan nanti dengan nenek."

"Menurutmu, apakah dirimu lebih penting dari Hidari?"

Hinata kemudian menundukkan kepalanya, lalu dengan suara pelan berkata, "Tapi aku sudah membuat komitmen untuk..."

"Hyuuga-san juga membuat komitmen untuk membesarkan Hidari, kan? Kalau kau masuk kelas akselerasi, akan sedikit waktu bagimu untuk mendampingi Hidari. Kau tahu, materinya sangat berat di kelas akselerasi.

Bapak tahu kau ingin cepat lulus, tapi walaupun kau tetap lulus di kelas reguler pun Hidari akan menunggumu. Tidak ada alasan urgent bagimu untuk lulus lebih cepat," bantah Naruto. Dia menghela nafas dan membalik lembar pertama berkas Hinata. Dia kembali menunduk untuk membaca berkas berisi hasil studi selama dua semester yang hampir sempurna milik Hinata. Tidak ada satupun nilai disana yang berada dibawah 97.

"Aku akan tetap melakukannya. Dua komitmen itu, aku bisa penuhi."

Naruto mengangkat wajahnya. Pria itu cukup terkejut. Dua komitmen yang diambil Hinata sangat berat. Dengan tubuhnya yang kecil, Naruto tidak yakin Hinata akan baik-baik saja. Namun Naruto tidak bisa berkata-kata lagi karena Hinata langsung beranjak pergi. Dia hanya bisa menghela nafas.

"Kenapa anak itu selalu membuatku khawatir," batinnya.


Benar perkiraan Naruto. Hinata mengahabiskan sebagian besar waktunya di libur musim dinginnya sampai masuk tahun jaran baru untuk mengejar pelajaran. Beruntung, Naruto sering mampir dan membantu nenek Ichiraku merawat Hidari. Tapi walaupun sibuk mengejar materi, ibu muda itu masih menyempatkan diri untuk menyuapi Hidari, memandikan dan menidurkannya. Terkadang juga bermain dengan Hidari.

Keadaan itu berlangsung cukup lama hingga membuat nenek Ichiraku gelisah. Naruto berkali-kali diminta nenek itu untuk menghentikan Hinata, namun percuma. Hinata sudah membulatkan tekadnya. Yang bisa dilakukan keduanya adalah melihat dari jauh dan berdoa untuk Hinata.

Kegelisahan Naruto lebih parah dari nenek Ichiraku. Pria itu bahkan tanpa sadar memikirkan Hinata hampir disetiap waktu luangnya. Gedung untuk kelas akselerasi berbeda dengan kelas reguler. Guru-gurunya pun berbeda. Terakhir kali Naruto mengunjungi gedung akselerasi, dia melihat Hinata di tengah-tengah kelompok diskusi. Wajahnya yang pemalu berubah menjadi serius. Membuat pesona-nya semakin memancar, terutama di mata Naruto. Namun pria itu tidak bisa melakukan apapun, karena Hinata selalu sibuk.

3 bulan pun berlalu dengan cepat. Naruto jadi semakin jarang bertemu dengan Hinata. Bahkan ketika dia berkunjung ke rumah nenek Ichiraku, Hinata sedang belajar dikamar atau sedang mengerjakan laporan tambahan. Nenek Ichiraku sudah sering menasehati, namun Hinata selalu tidak mengindahkannya.

Hari itu, Naruto pulang lebih larut dari biasanya. Dia harus mengoreksi hasil ujian tengah semester hari itu. Kali ini, hal yang sangat langka terjadi. Dia berpapasan dengan Hinata di gerbang sekolah. Naruto memandang Hinata dari kejauhan. Apakah tepat baginya untuk menemui Hinata? Apakah keberadaannya akan menganggu Hinata? Tapi sebelum Naruto menemukan jawabannya, tubuhnya bergerak dengan sendirinya. Dia setengah berlari menyusul Hinata dan berteriak, "Hyuuga-san!"

Hinata terdiam. Dia kemudian menoleh kearah Naruto dan tersenyum. Hanya senyum dan Naruto sudah bersyukur dia memutuskan untuk mengejar Hinata. Senyum itu adalah sebuah harta yang berharga bagi Naruto.

"Baru pulang?" tanya Naruto. Dia memperhatikan Hinata dan ketika sadar Hinata tidak mengenakan syal, padahal cuaca cukup dingin, Naruto melepas syalnya dan mengenakannya pada Hinata. Walaupun dia sendiri tidak suka dingin.

"Diskusi," jawab Hinata singkat. Naruto hanya mengerucutkan bibirnya dan mengangguk-angguk.

"Hyuuga-san, beristirahatlah sekali-kali," ujar Naruto.

"Hinata," ujar Hinata, "Panggil aku Hinata, pak guru."

Naruto terdiam. Dia menggigit bibir bagian bawahnya dan memandang ke arah lain. Memanggil murid dengan nama depannya bukan hal yang sopan bagi seorang guru. Akhirnya Naruto menghela nafas dan menjawab, "Se, sebagai seorang guru, memanggil murid dengan nama panggilan bukan hal yang sopan."

"Tapi hanya ada kita berdua."

Hinata tidak menatap Naruto, wanita bersurai ungu itu terus melihat aspal. Naruto mengerutkan alisnya.

"Baiklah, baiklah...tapi hanya saat sedang bedua saja, ya, Hi-Hi-Hinata." Naruto mengangkat tangannya dan menutupi wajahnya. Wajahnya terasa panas, menjalar hingga ke daun telinganya. Hinata yang mendengarnya juga ikut memanas. Namun Hinata tiba-tiba terjatuh. Untung Naruto sigap dan langsung menahan Hinata sebelum kepala gadis itu mengenai tanah.

Pria berusia jalan 37 tahun itu langsung meletakkan punggung tangannya di dahi Hinata. Dia kemudian terdiam, berpikir keras. Hinata ternyata demam tinggi dan kediaman nenek Ichiraku sangat jauh. Yang terdekat adalah rumahnya. Tapi jalan menuju rumahnya berlawanan arah dengan rumah nenek Ichiraku. Naruto dengan berat memutuskan untuk menggendong Hinata dan membawa perempuan itu ke rumahnya.

"Ayolah...Kenapa harus hari ini?" Kegelisahan Naruto bertambah begitu dia ingat apa yang akan terjadi hari ini. Hari ini adalah hari dimana dia akan berubah menjadi siluman rubah. Dia tidak suka sosoknya dilihat oleh orang lain. sosok yang baginya bagaikan kutuk.


TBC


Yooo, halo, haloha! Mizutto balek. Wah, tidak kerasa sudah mau mencapai ending, ya. Langsung ja, tanpa basa-basi, Mizutto mau bales review dulu, yak!

Ana: Wah, terimakasih, ya, na... Udah mau baca sampai sejauh ini, Mizutto senang :)

Dah. Next, Mizutto seperti chapter sebelumnya mau kasih yang nama spoiler dan sedikit quiz, nih... hehehe

Naruto harus menghadapi cobaan terberat dalam hidupnya, tinggal seatap bersama wanita yang dicintainya. Terlebih masalah terbesar adalah malam itu malam bulan purnama.

Kehangatan yang merambat melewati tangan Naruto, menyentuh bibirnya kemudian menjalar keseluruh tubuh Hinata.

"Pak..pak guru, badannya bagus, ya..."

Question: Apakah yang akan dilakukan mereka berdua!?

Yeah, ayo dijawab. Jawabannya akan bisa dilihat di chapter selanjutnya. Tunjukkan kemampuan menebak alur cerita kalian~!

Oh, hiya, makasih, ya buat semuanya yang sudah mau tetap baca sampai sejauh ini. Mizutto sangat senang, terima kasih! Abis ini adalah chapter terakhir. Semoga ceritanya menghibur para pembaca sekalian.

Ayo monggo... direview, difavoritin, difollow~ supaya Mizutto makin semangat :) byee!