KONOHA-BANZAI!-A MATSURI AND A CHAOS
Fanfiction of Naruto by Nekoman.
Disclaimer : Naruto is manga by Masashi Kishimoto. The Title and the character belong to its respective owner. this is fanfiction and used for non profit and fair use.
BAB 4. Bab dimana Azuma ditampar pakai sandal.
"Shino, aku tidak melihatnya dari tadi. Memang ada apa dengannya?" kata Shikamaru sambil menguap lebar.
Kiba menggosok belakang kepalanya "Yah, tak ada apa-apa sih, dia tadi sedikit aneh. Hinata agak khawatir."
Shikamaru menaikkan kedua tangannya dan meregangkan ototnya. "Memang jadi seaneh apa sih dia. Lagipula dia kan Shino? Bukannya dia itu memang aneh?"
Tanpa diduga Shikamaru. Sesosok bayangan merayap cepat seperti serangga. Shino Aburame, meloncat keluar dari sesemakan dan melihat ke sekeliling. Pandangan mengejutkan itu membuat Shikamaru tercengang.
"Hei, Shino?" Ujar Kiba.
"Maaf aku sedang sibuk." Shino melompat ke dalam sesemakan dan menghilang dari pandangan.
"Yup, dia jadi sangat aneh sekali. Kau tak mau mengejarnya?" Ujar Shikamaru kepada Kiba tapi dia sudah pergi mengejarnya bersama Akamaru.
Shikamaru mendesah, dia kemudian menggaruk tengkuknya. Saatnya kembali bekerja memeriksa anggota patroli yang telah kembali. Hari seperti ini hari yang sangat sibuk, mereka harus mengamankan segalanya. Apalagi dengan adanya Orochimaru dan Akatsuki berkeliaran. Mereka harus bersiap atas semua kemungkinan. Setelah beberapa lama di berjaga, menikmati desiran angin malam. Di merasakan kedatangan sesuatu yang asing.
Shikamaru merasakan pergerakan di kejauhan. Sebelum dia sempat menghindar sebuah suara menyapa dari belakang. Suara perempuan, bagi Shikamaru perempuan artinya lebih banyak hal-hal merepotkan.
"Hei, Pemalas!"
Shikamaru berbalik dan mendapati seorang gadis berdiri di hadapannya. Gadis itu memiliki rambut pirang kasar yang dibiarkan terurai. Yukata-nya berwarna putih dengan motif-motif tanda silang hitam. Kipas besar dipanggul di belakang punggungnya.
"Siapa ya?"
"Ini aku, Sudahlah, antarkan aku keliling. Bukankah sudah tugasmu mengantar tamu negara."
"Tapi aku sedang bertugas. Lagipula kau bisa pergi sendiri kan?."
Bunyi lain terdengar dari arah Kiba pergi. Shikamaru melirik ke arah sesemakan, beberapa saat kemudian Guru Azuma muncul. Wajah guru Azuma nampak memerah berbentuk sandal. Tanpa bicara dia menyuruh Shikamaru untuk segera berangkat mengambil waktu istirahat. Gurunya itu akan menggantikannya. Shikamaru mendesah, dia melirik kembali ke Temari.
" Ah baiklah.." katanya pada Temari.
…
Beberapa menit yang lalu sebelum Azuma datang ke tempat Shikamaru...
Malam bulan purnama penuh begitu indah di angkasa. Kurenai menyisir rambut panjangnya ke samping. Mengirup udara malam yang segar dan menghembuskannya perlahan, menghidupkan kembang api kecil di tangannya. Kembang api itu bersinar lembut menerangi pemandangan sungai kecil yang mengalir di taman itu.
Seseorang berjalan perlahan di belakangnya, dia mendengar langkahnya. Dia mengenal bau itu, bau rokok khas yang dia benci.
Pria di belakang bergerak mendekat. Tangannya dimasukkan ke dalam saku.
"Kebetulan kita bertemu di sini." kata pria itu.
"Ya, mengherankan bukan? Tadi Kiba memaksaku untuk menukar tugas jaga dan tadi sebelumnya Ino memaksaku memakai Yukata ini. Dan sekarang kita bertemu di sini." kata Kurenai.
"Mengherankan, benar benar-benar mengherankan! Ngomong-ngomong kau cantik sekali dengan Yukata itu. Walaupun kau memang selalu cantik." kata pria itu.
"Hah, Gombal. Kau paling pandai kalau mengatakan hal-hal gombal, Azuma. Ngomong-ngomong tidak boleh ada Rokok."
Kurenai berbalik dan menatap wajah Azuma yang tersenyum lembut. Azuma menghembuskan nafas, kemudian dia melempar rokoknya dan menginjaknya. Dia memandang puas dengan Yukata yang dipilihkan Ino. Yukata Merah tua yang sangat anggun. Bukan dengan baju tempur yang biasanya.
"Bagaimana sekarang? tidak ada rokok. Aku sudah berhenti." kata Azuma "Ngomong-ngomong kau cantik sekali. Aku serius."
"Serius! Kalau keluar dari mulutmu rasanya aku tidak percaya."
Azuma ikut berjongkok di dekat Kurenai. Mereka memandang ke arah kembang api yang mulai habis. Kembang api padam perlahan dan tidak bersinar lagi. "Yaaah~" kata Kurenai "Kembang api benar-benar indah ya?"
"Tak seindah sorotan matamu?"
"Sekali lagi gomb... Hai, Siapa itu!"
Mereka kaget merasakan adanya sosok bergerak dengan kecepatan tinggi merangkak. Kurenai bersiap dengan kunai miliknya dan Azuma segera meraih pisau tangannya. Tapi terlambat sosok itu yang merunduk dan bergerak cepat itu membuat Kurenai ketakutan. Sebelum melempar kunai, Kurenai segera melompat ke arah Azuma.
"Kecoak raksasa!" Jerit Kurenai.
"Te-Tenang itu cuma muridmu, tapi yah.. tak masalah deh.."
Kurenai memeluk Azuma erat-erat. Tubuh dan tubuh saling erat berpelukan. Kurenai kemudian menyadari siapa di sana. Sosok itu langsung ketakutan. Serangga pencari menyebar ke segala tempat mengikuti dirinya.
"Ah, Maaf mengganggu.. permisi" Kata Shino singkat
"Tunggu sebentar Shino Aburame, kenapa kau bergerak seperti itu? Kenapa ada serangga pencari menyebar seperti ini. Hei tunggu.. jelaskan dulu Shino.. hei."
Kurenai mendesah, dia masih memeluk Azuma. Bagaimanapun nampaknya Azuma tidak keberatan. Kurenai segera melepaskan pelukannya setelah menyadari posisi mereka.
Dia berdeham lalu mencoba berdiri dengan sedikit terburu-buru. Kesal dengan tampang mesum dan masa bodoh Azuma. Sebelum berdiri dia menjitak Azuma beberapa kali. Kurenai berdiri sedikit terburu-buru, kakinya menyentuh benda hijau licin. Ternyata mereka berdua telah terjatuh di sisi sungai kecil yang dipenuhi lumut.
"Ada yang aneh dengan anak itu Azuma. Aku harus bicara dengannya. Aduh di sini licin sekali." Kurenai terburu-buru.
"Bisakah kau pelan-pelan.. Aduh.."
Akibat dari terpeleset oleh lumut dan dia terjatuh ke belakang. Akibatnya kepala Kurenai jatuh ke arah kaki Azuma. Dia berputar dan mencoba berdiri. Yang bisa dipandangi oleh Kurenai saat ini hanyalah celana Azuma. Dia masih membutuhkan sekian detik untuk menyadari sebuah hal. Tepat pada saat itu Kiba datang...
"Hei, Shinoo! Oh, sensei kebetulan...kami Eeer.." Kiba terdiam, wajahnya merah padam "Maaf mengganggu.. Ayo Akamaru kita pergi."
"Woof." Akamaru juga pergi dengan wajah merah padam.
Ada dua angka yang terpikir di benak mereka..
Roku dan Kyu...
Kurenai yang segera menyadari posisi mereka kemudian segera berpisah menjauh dari Azuma secepat kilat. Mencoba mengejar Kiba, tapi terjatuh kembali tak sempat menjelaskan.
"Aduhh. Tunggu Kiba, ini tidak seperti kelihatannya.. aku akan jelaskan.."
Azuma berguling ke samping "Hahh...Sudah-sudah, nanti kita bisa menjelaskan kepada Kiba besok, dia pasti mau mengerti... tapi untuk sementara lebih kita lanjutkan saja dulu yuk!"
Entah dari mana Rokok telah menyala bergantung di mulutnya. Tangannya membentang lebar menangkap Kurenai. Sayangnya ini membuat Kurenai mencopot sendal di kaki kirinya dan menghantamkannya ke wajah Azuma.
"Adouw"
#
post note : Apakah ini cocok untuk remaja? atau aku sudah kelewatan. Review please.
