Bunga Sakura yang berguguran selalu menjadi ciri khas dari tahun ajaran baru di Jepang. Pemandangan yang sangat indah sebelum menjalani jadwal sekolah yang begitu padat. PR, tugas, telat, dihukum bersiin toilet, lupa ngerjain PR, dihukum lari di lapangan, ulangan, remedial…arrrghh.
MAU MATEEEE!
Eh jangan dulu, belum kesampean beli komik keluaran terbaru yang judulnya Ninja Haruto. Iya, komik yang baru keluar rumornya aja udah hits banget di SDN Fairy Tail 0777 pagi. Ceritanya tentang anak kecil yang kerasukan arwah binatang cengcorang terus ngotot mau jadi presiden di Negara Republik Kohona Merdeka tapi suka nyari sensasi di sosial media dengan ngata-ngatain artis di Negara Republik Kohona Merdeka sampe ngajak berantem di ring tinju. Oleh sebab itu, si anak kecil yang rambutnya jabrik ini dibenci oleh seluruh masyarakat Negara Republik Kohona Merdeka. Seru bukan? Kalau kamu bilang seru berarti kamu sependapat dengan pemeran utama hatinya *biiiipp* yang rambutnya berwarna biru muda dengan ujungnya yang mirip seperti kue bolu gulung. Iya, bikin laper.
Juvia pengen banget beli komik Ninja Haruto. Namun apa daya, karena nilainya turun di semester kemarin uang jajannya dipotong setengahnya ditambah dia tidak dapat angpao tahun baru. Percuma duduk sama orang pintar kayak Lyon tapi setiap mau ngulang pelajaran di rumah malah tergoda dengan cemilan dan acara TV joget-joget yang lebih menarik daripada tulisan-tulisan ruwetnya di buku catatan.
"Hufftt," Juvia yang sedang berjalan sendiri menuju sekolahnya mendengus alay mengingat hari ini adalah hari terbitnya komik idaman semua orang-orang di sekolahnya. Gagal gaul deh tahun ini.
DRAP DRAP DRAP DRAP.
ZRAG! (yaa anggap saja ini suara rok yang disingkap.)
Pupil Juvia mengecil ketika dirinya tahu apa yang terjadi pada dirinya, terutama roknya. Seseorang yang kurang (dih)ajar (Mama Aquarius) itu telah menyingkap rok pink mudanya dan sukses membuat ce-ce-ce-ce-ce-celana dalam Juvia yang bergambar buah semangka (Juvia: GAK USAH DIOMONGIN THORRR) terlihat selama beberapa detik.
Mukanya sudah merah. Merahhh banget hampir sama kayak rambutnya Erza yang terus dicelupin wantex warna merah jablay—ehem—maksudnya merah yang terang banget itu. Tangannya masih memegang roknya syok, matanya memfokuskan pandangan di depannya, melihat siapa biang keladinya. Seseorang yang sudah merusak paginya, hari pertamanya sebagai murid kelas lima. Hiks…
Juvia mengenal sosok laki-laki berambut raven acak-acakan yang baru saja menyingkap roknya. Si rambut raven yang berlari itu menengok ke belakang melihat Juvia dengan pandangan jahil dan kemudian menjulurkan lidahnya.
"BWEEEK…"
"…Gray….Fullbuster….," geram Juvia yang mengepalkan kedua tangannya.
chapter 4 : Kenapa Hanya Juvia?!
HAI, JUVIA
Disclaimer : Fairy Tail © Hiro Mashima
Pairing : Gruvia, Nalu.
Warning : OOC parah (apa lagi Juvia, maaf yaaaa), typo(s), insyaallah lucu amin
inspirasi : hai, miiko (manga) dan hello, jadoo (yang ada di disn*y channel xD)
~dibutuhkan saran, kritik yang membangun~
ENJOY :)
.
.
.
.
.
=oo=
Juvia akhirnya sampai ke kelas barunya, yaitu kelas 5-B yang kebetulan sekali terletak di samping kiri tangga. Setelah membuka pintu kelas dan mengucapkan selamat pagi, Juvia berjalan menuju papan pengumuman kelas yang berada di belakang kelas dan telah tertempel denah kelas untuk satu tahun ke depan. Juvia berjinjit sedikit karena kertasnya tertempel lumayan tinggi untuk ukuran tubuhnya yang gak tinggi-tinggi amat. Jari telunjuknya menyusuri dari satu nama ke nama lain sampai akhirnya dia menemukan namanya. Dia duduk di barisan ke empat dari pintu di baris ke dua dari belakang. Hah belakang lagi…
"Juvia sebangku sama siapa ya?" gumannya sendiri seraya membaca nama yang tertera di samping namanya.
"Wah aku sebangku dengan Juvia-chan!" tepat sebelum Juvia yang membuka mulut untuk berteriak senang, teman pirangnya sudah mendahuluinya. Akan menyenangkan sekali sebangku dengan Lucy selama satu tahun ke depan. Teriaknya senang dalam hati.
"Lucy! Ohayou!" sapa Juvia kepada sahabatnya itu.
"Ohayou Juvia-chan!" Lucy membalasnya dan mereka berdua berjalan beriringan menuju bangku mereka.
"Siapa saja teman-teman kelas 4-C yang masuk ke kelas 5-B?" tanya Juvia kepada Lucy sambil celingak-celinguk melihat seisi ruangan kelas barunya. 'Ah bagus tidak ada tanda-tanda dari dia,' dirinya membatin lega.
"Kau, aku, Natsu, Elfman…baru itu saja yang hadir. Kecuali Natsu sih. Tadi baru sampai pintu kelas dia langsung berlari ke kamar mandi," ujar Lucy yang kini duduk tepat di samping jendela.
"WHOA! Flame-brain! Kita sebangku!"
DEG….flame….brain…?!
Dengan muka horror, Juvia menengok slow motion ke belakang asal suara yang sangat amat tidak mau didengarnya. Dilihatnya laki-laki yang tadi pagi merusak hari pertamanya sebagai siswi kelas lima. Dia sedang merangkul sahabat pinky-nya yang selalu dia panggil dengan sebutan "flame-brain".
Baru aja…..lega…..
"LUCY KENAPA KAU GAK BILANG KALAU GRAY SEKELAS DENGAN KITA LAGI!" Juvia menggoyang-goyangkan bahu Lucy dengan gahar sampai anak dari direktur perusahaan terkenal itu pucat pasi serta mengingau tentang "Nenek!" dan "Tunggu aku di cahaya, Nek!" yah intinya Lucy SAKARATUL MAUT!
"Hai celana semangka…" sebuah bisikan yang berhasil membuat Juvia merinding seluruh mati.
….
….
….
BUGH! Satu bogem maut Juvia melayang ke Gray yang kini sudah terpental menabrak loker belakang kelas dan merosot dengan jeleknya.
Di samping itu Natsu yang sudah nangis sampai ingusan sedang menggoyang-goyangkan pundak Lucy yang masih tak sadarkan diri.
=oo=
Sangat disayangkan pelajaran pertama adalah pelajaran matematika. Terlihat di depan kelas Makarov-sensei sedang membuat macam-macam segitiga berikut penjelasannya. Semua murid di kelas pun mencatat apa yang ditulis Makarov-sensei di papan tulis.
TUING TUING
Errghh. Ini ketiga kalinya Gray menarik-narik rambut ikal Juvia dari belakang untuk meminjam penggaris Juvia dengan alasannya dia lupa bawa penggaris.
Ya, sialnya Gray duduk tepat di belakang Juvia. Berkebalikan dengan Lucy yang sangat senang karena pacarnya Natsu duduk tepat di belakangnya. Sungguh salahsatu peristiwa ketimpangan nasib.
TUING TUING
Kali ini Gray menarik-narik rambut Juvia untuk mengembalikan penggaris milik Juvia. Dan dijamin beberapa menit kemudian Gray akan menarik-narik rambut Juvia lagi untuk meminjam penggarisnya. Dosa apa yang telah Juvia perbuat sampai dia harus menanggung azab keji ini Kami-samaaa?
Oiya kemarin dia pake semua stok tattoo-tatto-annya Jellal untuk dijadiin perangkap cucurut. Eheee.
"Makasih," kata Gray berbisik agar tidak terdengar oleh Makarov-sensei yang masih asik menulis rumus-rumus segitiga.
"Gray, kembalikannya nanti saja ketika kamu sudah BENAR-BENAR selesai," balas Juvia sambil berbisik juga dan melakukan penekanan di kata 'benar-benar'.
"Hm? Kalau penggaris ini lama di tanganku bisa bisa aku melakukan…." Gray mendekatkan penggaris Juvia ke lidahnya yang bergoyang-goyang meledek siap menjilat penggaris malang Juvia.
IDIIIHHH! NAJISSS!
GRAB! Dengan cepat kilat Juvia mengambil penggarisnya yang hampir dinodai oleh pihak-pihak kejam tidak berperi kepenggarisan.
TUING TUING
"Juvia, pinjem penggarisnya, dong! Segitiganya mencong."
ERRGHH BAHKAN INI BELUM SATU MENIT GRAY!
Tanduk-tanduk kemarahan pun muncul di atas kepala Juvia yang sangat ingin menelan Gray bulat-bulat, membuat Lucy mengelus-elus punggung Juvia agar sahabatnya tidak hilang kendali.
'OH YA SUDAH SINI JUVIA MENCONGIN JUGA KEPALANYA!' batin Juvia yang sudah dongkol seluruh hidup.
"Hehehe," Gray tertawa menyeringai.
=oo=
Saat istirahat kelas 5-B dan 5-A bermain dodge ball di lapangan. Bola sedang ada ada di tangan Gray yang siap melempar.
"Siap ya semuanya!" serunya sambil menyeringai sebelum melempar bola ke wilayah lawan. "Hyaah…"
DUK!
Lemparan Gray mengenai Juvia yang berdiri di depannya. Kini, gadis bersurai biru itu jatuh dengan posisi mencium tanah. Membuat Lyon yang sekarang berada di kelas 5-A cemburu mati-matian sama tanah.
"MENGAPA TANAH JUVIA-CHAN! MENGAPA DIRIMU LEBIH MEMILIH DIRINYA YANG KOTOR ITU!" ucapnya seperti aktor telenovela dengan backsound lagu biola yang sedih.
"Juvia. Kamu tak apa?" tanya Erza yang berlari menghampiri Juvia (sekarang berada di kelas yang sama dengan Lyon). Kemudian dia membantu Juvia untuk berdiri.
"Juvia-chan! Apa ada yang sakit?" tanya Lucy sambil mengecek seluruh badan teman sebangkunya dan untung saja tidak ada goresan apapun.
"Juvia baik-baik saja, kok," jelasnya sambil terseyum dipaksakan. Tiga siku-siku sudah muncul di dahinya.
"BAHAHAHAH! KAU HARUS MELIHAT DIRIMU SAAT TADI KENA BOLA DAN TERJATUH JUVIA! HAHAHA!"
"GRAY MENYEBALKAN! KAU SENGAJA KAN?!"
Baiklah, terjadi adu mulut antara Juvia yang sudah sebel sama Gray yang memang sedari tadi mengisengi Juvia melulu.
"Hee? Enak saja. Salahmu kenapa berdiri di depanku," jawab Gray tak acuh sambil menyilangkan tangannya di belakang kepala.
"SUDAH SALAH, MENCARI ALASAN. SETIDAKNYA KAU MEMINTA MAAF, GRAY! HUH!" omel Juvia yang sudah berada di ambang batas kesabaran dan kemudian berbalik berjalan menuju kelasnya, diikuti dengan Lucy dan Erza.
"Kau berlebihan, Stripper," ucap Natsu yang kemudian menjitak kepala Gray memasang muka bingung. Yah untung juga membela Juvia…bisa sekalian menjitak rivalnya. Hehehehe.
=oo=
"Juvia sebel sama Gray! Pokokny sebel!" teriak Juvia marah-marah. Kini dia, Lucy, dan Erza berada di kelas 5-B yang lumayan sepi. Duduk di bangku Juvia dan Lucy dan bangku di depan Juvia untuk Erza.
"Yaa memang dia keterlaluan sih…" komentar Lucy menopang dagunya.
"Itu karena—" Sebelum Erza menyelesaikan ucapannya, dia membekap dirinya sendiri. 'Tidak Erza! Jangan beritahu Juvia! Kalau kau memberitahu dengan apa yang kau tahu dan tidak boleh ada yang tahu selain kau dan kami-sama….KAU MEMBUAT FIC INI MENJADI TIDAK SERU!' batin Erza yang bikin author ngelus-ngelus dada bersabar. "Karena dia iseng!" Akhirnya…itulah yang dikatakan Erza.
"Tapi kalau sama kalian kok Gray gak iseng?" tanya Juvia mengembungkan pipinya. Dia menjadi superman….maksudnya super imut. Duh!
"…." Kedua temannya hanya terdiam.
'Dasar polos…' batin Lucy dan Erza bersamaan.
=oo=
Di hari kedua tahun ajaran baru ini Juvia benar-benar tidak mau menengok ke kanan atau ke kiri. Ia tahu pasti banyak sekali poster-poster komik Ninja Haruto yang rilis kemarin. Walaupun begitu, telinga Juvia masih mendengar sayup-sayup orang-orang yang sedang membicarakan betapa serunya komik Ninja Haruto itu. Haduh! Mau baca mau baca mau baca!
Di sekolah pun sama saja! Semua orang membicarakan tentang Ninja Haruto plus memamerkan komik mereka masing-masing. Bahkan Makarov-sensei berpose seperti Ninja Haruto yang ada di poster-poster di koridor sekolah. Sekarang Juvia merasa jadi orang paling cupu sedunia akhirat.
"Aku paling suka adegan saat Haruto gak lulus dari akademi ninja karena kunci jawabannya gak jebol. Itu sedih bangettt hikss."
Hee?
"Kalau aku sih suka saat adegan Haruto sedang mendaki gunung lewati lembah saat diuji oleh Kokasih-sensei."
Ceritanya kok…
"Adegan Haruto lawan Ninja artis kampung sebelah di ring tinju juga seruuu!"
Kok ceritanya…
"Pas jurus cengcorang seksi juga keren banget!"
…
SERU ABIS ASTAGA MAU BACA MAU BACA HUEEE MAMA BELIIN JUVIA KOMIKNYAAA.
Sementara di SMAN Fairy Tail…
"HOACHOOOO. Ah pasti murid-murid laki-laki itu sedang membicarakan aku lagih di kamar ganti pria~" ucap Mama Aquarius yang berharap terlalu tinggi.
Yaaa kita biarkan saja Mama Aquarius itu.
=oo=
Ya ampun, bahkan di kelasnya semua orang membicarakan Ninja Haruto. Juvia pun berjalan dengan lemas menuju mejanya. Di sana sudah ada Lucy yang sedang membicarakan Ninja Haruto dengan Natsu. Keduanya menggenggam erat komik masing-masing. Membuat Juvia sangat iri.
"Ohayou Juvia-chan! Kau sudah baca Ninja Haruto? Kami sedang membicarakannya loh."
"Ohayou Juvia!"
"O-ohayou Lucy, Natsu. Sebenarnya…Juvia tidak punya komik Ninja Haruto hehe," ucap Juvia berusaha tersenyum sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Apa Juvia?! Kamu tidak punya komik Ninja Haruto? Ih ketinggalan zaman," ucap teman sekelasnya Angel ketika semua orang di kelas sedang berbincang-bincang mengenai komik yang lagi hits banget.
"Buu! Jadi kau sendiri yang tidak punya komik Ninja Haruto di sini, Juvia? Benar-benar gak tau trend!" laki-laki bernama Dan menambahkan. Semakin membuat Juvia cemberut.
"Tapikan Juvia bisa meminjamnya!" belanya tak mau kalah.
Angel dan Dan memasang tampang menyebalkan dan siap-siap meledek Juvia yang sebenarnya sudah pengen banget nangis.
"WOI WOI WOI LIHAT!"
SET ! seketika semua murid di kelas menengok ke arah asal suara yang ngajak ribut itu.
"Ini komik Ninja Haruto punya Juvia!" seru seorang murid yang kini bertelanjang dada dan kini berada di belakang Juvia sambil memegang komik yang bisa bikin anak SD merasa jadi anak tergaul sedunia. Yah siapa lagi kalau bukan…
"Gray!"
"Gray-san!"
"STRIPPER SOK SEKSEH!"
"FERNANDO~" Akh abaikan seruan aneh yang ini.
Twitch! Tiga sudut siku-siku muncul bergerombolan di kepala Gray ketika dia dipanggil stripper oleh frienemy-nya. "APAAN SIH FLAME-BRAIN TERONG-TERONGAN!" Dan kemudian tercipta percikan-percikan listrik di antara mereka yang saling menatap tajam.
Tapi acara berantem mereka tidak berlangsung lama karena Gray mempunyai misi lain. Ceilah dasar anak SD jaman sekarang udah gaya-gayaan. Udah gede mau jadi apaa? Yaa lihat aja nanti di sekuel fic ini.
"APAAN SIH AUTHOR KAYAK BAKAL KESAMPEAN AJA BIKIN SEKUELNYA!" protes semua chara-chara yang ada di fic ini.
Hiiih dasar chara-chara kampret yang ga berperike-author-an.
Ehem. Abaikan.
"BWAHAHAHAHA."
"Loh? Jadi Juvia tadi bercanda ya?" Kini Angel tersenyum ramah ke arah Juvia. Dan pun tertawa-tawa sambil menepuk-nepuk bahu Juvia beberapa kali. Semua murid pun begitu karena mengira Juvia sedang melucu.
Juvia yang bingung dengan situasi yang sedang dia hadapi sekarang hanya bisa ikut tertawa-tawa dipaksakan.
"Ehe…ehe…yahhh hahaha," Kira-kira seperti itu.
PLUK! Sebuah benda yang tidak terlalu berat dan juga tidak terlalu ringan tiba-tiba mendarat di kepala Juvia. Di sampingnya kini sudah ada Gray yang menaruh jari telunjuk kirinya yang bebas di depan mulutnya yang tersenyum ke arah Juvia. Dan ketika lihat lagi ke bawah…..dia masih bertelanjang dada. Duh!
"Gray, bajumu…" kata Juvia memperingatkan ketika Gray sudah berjalan melaluinya, menuju anak-anak lain yang sedang heboh ga ketulungan membahas adegan-adegan luar biasa di Komik Ninja Haruto.
"Ah ga sempet!"
'Alasan macam apa itu…baka…' batin Juvia sedikit sebal namun pada akhirnya dia tersenyum. Tersenyum sambil memegang erat Komik Ninja Haruto yang sebenarnya sama sekali bukan miliknya…
"Gray, mana Komik Ninja Haruto mu?"
"Aku gak punya hehee."
"Gray gak gaul!"
"Huahahaha nanti saja aku pinjam ke kalian."
"Hemm bayar!"
"Heee kok gitu?!"
Juvia melihat Gray yang masih bisa tersenyum walau pun semua orang tahu bahwa dirinya tidak punya Komik Ninja Haruto. Tiba-tiba sebuah bohlam yang sekarat muncul menyala dengan maksa di atas kepala Juvia. "Oh iya…"
=oo=
Jam paling surga di sekolah pun tiba. Makan siang ala musim semi! Semua makanannya beruansa warna merah muda-putih-hijau yang sangat melambangkan arti musim semi yang indah. Mulai dari warna nasinya, lauknya enggak sih tapi….PUDINGNYA! Tumpukan puding di depan kelas saja sudah ada bling-bling lebay terbang-terbangan. Semua murid yang tidak bertugas membagikan makanan juga sudah ga sabar memakan makanan penutup titisan dewa tersebut.
TESSSS….TESSS…CUUURRR…
Iler mereka semua udah kayak air terjun sekarang.
Setelah Laki—yang bertugas yang membagikan makanan hari ini—memberi Juvia puding, gadis itu langsung bersiul senang dan berjalan menuju tempat duduknya yang sudah digabung dengan tempat duduk Lucy yang makan dengan anggun seperti seorang anak direktur perusahaan besar (Lucy: YA MEMANG ITU BENAR AUTHOR), Gray yang sudah kembali menaati peraturan yang ada alias sudah pakai baju, dan Natsu yang sedang beringas menghabisi makan siangnya. Berbeda sekali dengan pacarnya yang anggun. Ternyata kutipan "perbedaan menyatukan" itu terbukti.
PLUK! Puding titisan dewa yang masih berbling-bling milik Juvia kini berada di nampan milik Gray.
"Puding Juvia buat Gray aja," katanya dengan senyuman yang super lebar.
DEG! Lucy dan Natsu saling bertukar pandangan dengan tatapan yang sesuatu, Gray yang kini jadi kikuk dengan wajah yang abis dicelupin di wantex berwarna merah jablay melihat Juvia dan puding titisan dewa secara bergantian.
"Ke-ke-ke-ke-ke-ke-ke….kenap…pa?" ucap Gray yang sangat OOC.
"Tadi sebenarnya Juvia mau nyuri pudingmu karena…..DARITADI KAU ISENG! GRHHHHH...ehem….tapi tidak jadi karena…" WINK! Juvia mengode ucapan selanjutnya dengan mengedipkan sebelah matanya ke arah Gray.
"Hm, tidak perlu," kata Gray sok cool. Dirinya kini sudah berhasil mengontrol agar tidak berlaku yang aneh-aneh di depan Juvia.
"Apaa? Padahal Juvia mati-matian melepas puding tiga lapis ala musim semi yang super lezat tiada tara titisan dari dewa makanan manis!" protes Juvia yang tidak bisa menahan…..ilernya. "Pokoknya harus mau!" paksa Juvia.
"Enggak ah! Pasti pudingnya udah tercampur sama iler kamu!" balas Gray dengan tampang yang ngeledek minta diserang pake water slicer….kalau ini fic canon.
"Terima!"
"Tidak!"
"Terima!"
"Engga!"
"Terima!"
"Ogah!"
GREB! "Nyam nyam nyam…."
DOOONGGGGGG!
….Natsu dengan ikhlas memakan puding Juvia yang mau dia berikan untuk Gray….
"Kalian terlalu lama berdebat, kalau Stripper gak mau pudingnya….ya sudah buatku saja…nyam nyam," kata Natsu sambil asik melahap suapan terakhir dari puding keduanya dengan wajah tanpa dosa.
"MUNTAHKAN! MUNTAHKAN SEMUA PUDINGKU—MAKSUDKU PUDING JUVIA FLAME-BRAIN PE'A!" teriak Gray sambil mencekik leher Natsu, berharap cara itu berhasil membuat Natsu memuntahkan puding Juvia dan kembali dengan utuh. Mana bisa….
"U…Uhek…" Natsu pun tak berdaya karena dicekik dengan gahar oleh chairmate-nya sendiri.
"Lucy…"
"Y-ya Juvia-chan?" tanya Lucy (tersenyum dipaksakan) seabis menatap kasihan kepada pacarnya yang kini sekarat.
"Mari beranggapan kalau mereka berdua tidak pernah ada di dunia ini…" kata Juvia memulai memakan makan siangnya dengan intonasi yang datar serta aura hitam kebiru-biruan yang sekarang menjadi background-nya.
"Y-ya…mari…." Kata Lucy masih tersenyum dipaksakan. Mau gak mau menyetujui Juvia karena dua lelaki di hadapan mereka memang sebaiknya tidak ada.
"L-LUCE…~" Natsu yang malang…
"Ara ara~" Tiba-tiba Elfman yang memakai seragam pembagi makan siang muncul dengan tangan kanannya yang memegang pipi kanannya sendiri dan tersenyum prihatin.
"Elfman, Kau ngapain?" tanya Laki yang tiba-tiba muncul juga di sebelah Elfman.
"Meniru nee-chan~"
Dan semua kelas 5-B memasang wajah syok yang jelek.
to be continue
pertama-tama...maaf baru update . Gumi kehilangan inspirasi karena otak terkuras oleh soal-soal ujian masuk universitas yang Gumi cintai *perkataan ini didasari dengan sangat amat terpaksa* *plok* dan maaf jika kecewa kualitasnya nurun...sok atuh kritik...kasih saran yang membangun...butuh banget hoeheee...
nah...saatnya kita membalas review!
kanzo kusuri: ahahaha gak apa-apa kokkkk ^^ waduh makasih banget dan kasian banget kamu disangka gila *duagh*
Celine-nee-sama: hoahahaha iya dong imut kayak yang ngarang *hoeksss* iyaa di chap itu mau ngasih tanda-tanda cinta segitiga grayjuvialyon hoehehehe ini banyakan Gruvia nya kokkkks
Ilvianna: heemmm gimana yaaa kabulin gak yaaaa~ ahahahah *dihajar*
Yukiko Arashi: huaaa maaf maaf . *bow* nih nih udah dibanyak Gruvianya~ mau dicocol sambel juga boleh *heh* hoehehe ini sudah update~
morzu-san: hoahahaha arigatou~~ :3 ini sudah update~ *tangkep permennya*
I Love Erza: hoahahahah emang rada-rada ya Juvia itu OOC banget. siapa sih yang ngarang?! *plok* hmmmm yaa bisa kok bisa hoehehe~
MitaSuHimechan: wakakakak OOC is the best XDb ini sudah lanjut~ ^^
Ganba-chanEgao SM: terima kasih ^^ ini sudah update :D
dan juga terima kasih kepada silent reader yang dengan ikhlas meluangkan waktunya untuk membaca fic Gumi yang satu ini ^^ dan juga Gumi ucapkan selamat berpuasa bagi yang menjalankan... :)
