ADDICTED

by

Achan Jeevas

Chapter 4 : Guilty Pleasure

.

.

Pagi hari di kediaman pengantin baru keluarga Kim diawali dengan Minhyun yang bangun lebih dulu dan segera menuju dapur.

Minhyun hampir menepuk dahinya ketika tidak menemukan satupun pembantu, dia lupa jika beberapa hari yang lalu Ibunya mengatakan tidak akan menaruh pembantu tetap di rumah Jonghyun-Minhyun, pembantu dari kediaman Kim dan Hwang hanya akan datang seminggu sekali dan itupun hanya untuk membersihkan rumah tidak lebih.

Dengan berat hati Minhyun langsung membuka kulkas dan sedikit bersyukur mendapatkan isi kulkas penuh dan segala bahan makanan ada semua. "Aku tidak tahu apa yang bocah itu suka."

Minhyun lalu mengangkat bahunya acuh dan membuat sarapan yang biasa ia buat saja, lagi pula ini hanya sarapan jadi ya menu sarapannya hanya itu-itu saja.

.

Jonghyun keluar dari kamarnya dan dengan segera menuju dapur karena perutnya lapar bukan main –resepsi semalam benar-benar menguras tenaganya, selain lapar dia juga tahu Minhyun pasti ada disana. "Morning, Gorgeous."

Minhyun hanya melirik sekilas suaminya itu lalu kembali ke aktivitasnya awal yaitu membuat sarapan untuk keduanya karena ia tidak yakin pemuda didepannya itu bisa memasak.

"Aku tidak tahu kau bisa memasak."

"Eomma dan Sujin Noona selalu memaksaku untuk belajar memasak sejak kecil. Kata mereka pria yang bisa memasak itu hebat."

Jonghyun mengangguk-angguk saja mendengarnya. "Tapi Eomma dan Appaku selalu melarangku untuk ke dapur, kata mereka aku lebih baik belajar agar nanti bisa memiliki pekerjaan yang bagus untuk menghidupi keluargaku kelak."

"Hm." Respon Minhyun.

"Mungkin Tiffany Eomma dan Sujin Noona tahu suatu hari nanti kau menjadi istri maka dari itu kau harus bisa memasak untuk suamimu." Goda Jonghyun diakhiri dengan kedipan mata ketika Minhyun meletakan piring berisi omelette bacon serta teh hangat.

Mendengar ucapan Jonghyun, Minhyun langsung mengambil pisau roti sambil menatap tajam Jonghyun. "Kau bilang apa tadi?"

Jonghyun hanya tersenyum lalu mengambil pisau tersebut dengan lembut. "Aku hanya bercanda. Makanlah."

.

"Minhyun." Panggil Jonghyun pada pasangan sahnya itu namun mata hitamnya fokus pada layar ponselnya di tangannya, ia sedang bermain game.

"Hm." Balas Minhyun, saat ini ia sedang mencuci piring bekas sarapan mereka.

"Aku benci tomat jadi saat memasak lagi jangan taruh tomat dalam makananku."

"Ok." Ucap Minhyun masih terfokus pada cuciannya namun hanya sekian detik sebelum dia sadar maksud dari ucapan Jonghyun. Minhyun dengan segera mengelap kedua tangannya dan berkacak pinggang pada Jonghyun. "Kau mengatakan seakan aku yang akan terus memasak."

"Bukannya memang kau yah?"

"Dengan kata lain kau mengatakan bahwa aku adalah pihak istri disini?!" Minhyun menatap kesal sosok yang lebih muda sepuluh tahun darinya itu. "Aku juga suamimu Kim Jonghyun! Kau juga harus memasak untukku!"

Jonghyun mematikan ponselnya dan memandang tepat pada mata Minhyun. "Kau yakin ingin aku memasak untukmu?"

"Harus."

"Berarti kau ingin masuk ke Rumah sakit yah?"

"Rumah sakit, apa maksudmu?"

"Dulu aku pernah memasak untuk Kibum-hyung dan berakhir dia masuk ke rumah sakit selama beberapa hari karena keracunan makanan. Sepertinya aku menaruh satu botol cuka pada makanannya."

Wajah Minhyun langsung pucat pasi mendengar cerita Jonghyun.

"Jadi, kau masih mau aku memasak untukmu?" tanya Jonghyun.

"Tidak, terimakasih." Minhyun dengan segera membalikan badannya lagi dan melanjutkan mencuci piringnya.

"Kita tidak memiliki pembantu?" Jonghyun menyanggah wajahnya dengan kedua tangannya, matanya masih memandang punggung Minhyun.

"Tidak. Kata Eomma pembantu hanya akan datang seminggu sekali untuk membereskan rumah."

"Walaupun aku berandalan tapi aku orang yang rapih kok."

Minhyun mengangguk mendengar kalimat Jonghyun walaupun tidak memandang wajah tampan itu. "Jonghyun."

"Ya?"

"Aku tidak suka rokok maupun asap rokok. Tidak masalah jika kau merokok asal jangan didepanku."

"Ok."

Hening menyelimuti kedua pengantin baru tersebut.

"Minhyun kau tidak bekerja?" Jonghyun memecahkan keheningan tersebut.

Minhyun menggeleng. "Appa dan Eomma menyuruhku cuti selama seminggu tapi besok aku akan tetap ke perusahaan." Setelah mencuci piring terakhir Minhyun membilas tangannya lalu memandang Jonghyun. "Kau sendiri?"

"Aku baru lulus SMA dua hari sekarang."

"Tidak melakukan les untuk masuk ke Universitas keinginanmu?" Pasalnya Minhyun sendiri dulu setelah lulus SMA langsung ikut banyak les agar bisa masuk ke Universitas yang ia inginkan.

"Tidak."

Minhyun sebenarnya ingin bertanya lagi namun ia urungkan. Mungkin Jonghyun langsung menggantikan posisi Jaejoong Appa.

"Aku keatas dulu." Pamit Minhyun, lagi pula ia ingin membereskan barang-barangnya yang masih berada didalam koper-koper. Namun sebelum Minhyun benar-benar keluar dari dapur Jonghyun mencekal lengannya. "Apa?"

Jonghyun mendekatkan wajah mereka. "Minhyun, semalam kita melewatkan malam pertama kita sebagai pengantin baru."

Minhyun mengernyitkan dahinya. Serius, Jonghyun. Kau benar-benar mengatakan hal tidak penting itu. "Lalu?"

"Lalu apa lagi, sudah pasti aku ingin menagihnya sekarang." Jonghyun langsung menyambar leher Minhyun dan memberikan kecupan-kecupan kecil disana.

"Kita baru saja sarapan."

"Itu memberikan kita tenaga." Dan dengan itu Jonghyun langsung menarik Minhyun ke kamar mereka.

.

It feels like I've gone blind

It's obvious I'll be ruined by your beautiful trap
Don't you know? Your smile is dangerous

Minhyun memejamkan matanya ketika merasakan tangan Jonghyun bermain-main pada tubuhnya. Bibir bawahnya ia gigit agar tidak menimbulkan suara apapun.

"Kau sangat rupawan Minhyun." Jonghyun menggigiti kaki jenjang suaminya itu, tidak hanya menggigit, ia juga menciumi dan menjilatinya. Seolah-olah kaki Minhyun adalah es krim favoritnya.

Minhyun membuka matanya bertepatan dengan Jonghyun yang melepaskan kakinya dan mendekatkan wajah keduanya. Minhyun tahu apa yang Jonghyun inginkan jadi ia kembali memejamkan matanya dan membiarkan Jonghyun mengeksplor mulutnya dengan bibirnya yang terampil.

"Nghh... mmm.." Desahan lolos dari bibir Minhyun karena tangan nakal Jonghyun yang kembali mengerjai tubuhnya.

Jonghyun melepaskan pagutan bibir keduanya ketika merasakan nafas Minhyun sudah terputus-putus.

Minhyun dengan segera meraup udara sebanyak-banyaknya, matanya yang indah seperti rubah mengerjap-erjap. Melihat pemandangan didepannya Jonghyun tidak bisa menahan diri untuk tersenyum.

Minhyun menatap suaminya dan melihat senyum Jonghyun membuat jantungnya mendesir hangat. "Kau tahu?"

"Apa?" Jonghyun mengelus pipi mulus Minhyun.

"Senyummu itu berbahaya. Jutaan orang diluar sana pasti bertekuk lutut ketika melihatmu tersenyum."

Jonghyun terkekeh lalu mengecup dahi Minhyun. "Aku mendapatkannya dari Ayahku."

"Ya, Jaejoong Appa memang tampan."

Jonghyun tidak membalas ucapan Minhyun karena fokusnya kini pada tubuh Minhyun yang sudah telanjang.

You making me crazy. I'm so into you
The reason I'm attracted to danger, the reason I enjoy it more

Sentuhan Jonghyun pada tubuhnya benar-benar membuat Minhyun gila. Padahal Jonghyun baru memulai babak intinya namun Minhyun sudah jatuh terlalu dalam pada dorongan-dorongan yang Jonghyun berikan.

"Nghhh.. Jjonghyun~ Ahnnn..."

Jonghyun mengecup bagian belakang telinga Minhyun tapi gerakannya tidak berhenti sama sekali. "Aku tidak minum alcohol tapi kau membuatku mabuk, Minhyun."

"Jonghyunn.. Ahnn... Fasterr.."

"As you wish, My love." Sebagai suami yang baik Jonghyun tentu menuruti ucapan Minhyun. Dorongan-dorongannya semakin liar dan tak beraturan namun tetap menumbuk ditempat yang sama. Sweetspot Minhyun.

Minhyun sedang dalam bahaya, lebih tepatnya tubuhnya. Semakin brutal dorongan Jonghyun pada tubuhnya maka akan semakin sakit pula setelahnya namun Minhyun tidak peduli. Dia sangat menikmati seluruh sentuhan Jonghyun pada tubuhnya.

When I take a deep breath, you make me addicted
You're perfect on the outside, a dangerous game for me

Ketika pertamakali mereka melakukannya di hotel, Jonghyun tahu bahwa dia sudah jatuh pada pesona luar biasa yang dimiliki oleh Hwang Minhyun. Dengan wajah yang tampan, kulit putih tanpa noda, serta suara indahnya yang terus mendesahkan nama Jonghyun membuat Jonghyun sadar bahwa pria yang sedang ia gagahi ini adalah candu baginya.

Andai saja pagi itu Jonghyun tidak ujian maka dia akan menggauli Minhyun tanpa henti tapi sayangnya ujian bahasa inggris lebih penting untuknya dari pada menggauli sosok yang bahkan tidak ia tahu namanya saat itu. Lagi pula jika dia tidak ikut satu ujian maka sudah dipastikan seluruh fasilitasnya akan disita oleh Ibunya yang cantik itu.

Setelah menyelesaikan ujian, Jonghyun datang kembali ke hotel namun tidak menemukan Minhyun disana bahkan selama dua minggu ia mendatangi SHINEE Bar dan Minhyun tetap tidak ada.

Sekarang Minhyun sudah sah menjadi miliknya, Jonghyun bisa melakukan apapun pada tubuh Minhyun. Dia bisa menyentuh Minhyun kapanpun dan dimanapun karena Minhyun adalah candu untuknya.

"You make me addicted, love." Ucap Jonghyun.

The sin is so much sweeter than its consequences
It was already too late to stop
I'm falling deeper into the crazy swamp of love that you dug

Minhyun tahu harusnya ia menyuruh Jonghyun berhenti karena semakin lama sesi bercumbu mereka maka semakin sakit pula bagian tubuhnya setelah aktivitas melelahkan ini namun dia tidak peduli.

Dia menginginkan ini. Minhyun tidak mau berhenti secepat ini. Lagi pula semuanya sudah terlambat. Semakin panas aktivitas mereka semakin menggila pula keduanya.

Sama halnya dengan Jonghyun yang mengatakan bahwa tubuhnya adalah candu untuk pemuda itu maka tubuh Jonghyun juga candu untuk Minhyun.

Sorry God, don't forgive my guilty pleasure

.

"Seluruh badanku remuk."

"Maaf." Ujar Jonghyun, walaupun ia meminta maaf namun wajahnya tidak menampilkan rasa bersalah sama sekali, bibirnya malah tersenyum lebar.

"Tidak usah meminta maaf, kau pasti sengaja melakukannya, kan?"

"Ya. Agar besok kau tidak masuk kerja."

"Sialan kau."

"Hush, tidak boleh berkata kasar pada suamimu, Minhyun."

"Boleh saja kalau kau yang menjadi suaminya."

Jonghyun terkekeh geli. "Appa dan Eomma Hwang sudah memberimu cuti seminggu kau harus cuti Minhyun."

"Aku tidak terbiasa tidak melakukan apapun."

"Kau cuti dari pekerjaanmu bukan berarti kau tidak melakukan apapun." Jonghyun mengelus punggung telanjang Minhyun.

"Aku tidak melakukan apapun jika berada di rumah."

Jonghyun menarik tangannya yang mengelus punggung Minhyun, ia mengganti tangannya dengan bibirnya. "Siapa yang mengatakan kau tidak melakukan apapun. Di rumah kau juga bekerja sayang."

"Apa yang aku kerjakan?" Minhyun tidak keberatan akan tingkah nakal suaminya yang suka sekali meraba-raba tubuhnya ini.

"Melayaniku diatas ranjang."

"Fuck you, Kim." Umpat Minhyun. Entah kenapa sejak mengenal bocah didepannya mulutnya suka melontarkan kata-kata makian.

"No, Baby. I'm gonna fuck you."

.

.

"Kibum-hyung."

Pria tampan yang dipanggil namanya menghentikan pekerjaannya yang tengah mengganti ban mobil. "Hm?"

"Ada yang menelponmu."

"Siapa?"

"Sooman."

Dalam hati Kibum mengumpat pada Ayahnya itu. "Bilang saja aku sedang sibuk."

"Aku sudah mengatakannya tapi dia malah mengancam akan meruntuhkan seluruh bengkelmu jika tidak mau berbicara dengannya." Jelas Chanyeol.

Mendengar itu Kibum langsung berdiri.

"Hyung, Sooman itu siapa sih? Dia berkata seolah dia adalah Presiden Korea Selatan dan seenaknya mengancam akan meruntuhkan seluruh bengkelmu yang besar?"

Kibum tidak menbalas ucapan Chanyeol. Mendapatkan reaksi seperti itu dari bosnya membuat Chanyeol menghela nafas. Sudah biasa akan sikap dingin bosanya yang seperti Kutub utara. Bahkan mungkin lebih dingin dari kutub utara.

"Halo."

"Hey, Bocah Es sampai kapan kau bermain-main dengan pekerjaan rendahanmu itu. Cepat pulang sekarang juga!"

"Hey, Tua Bangka, yang kau sebut pekerjaan rendahan adalah hidupku, Sialan." Kibum memang anak kurang ajar namun salahkan Ayahnya itu yang duluan memanggilnya Bocah Es. "Dan untuk apa aku pulang? Bukannya Jaejoong-hyung sudah mengambil alih seluruh perusahaanmu? Untuk apa kau membutuhkanku lagi?"

"Apa otakmu terlindas mobil-mobil yang sering kau perbaiki itu, huh. Aku sudah mengatakan padamu jika kakakmu itu mendapatkan perusahaanku yang ada di Asia dan kau yang akan mengurus perusahaanku yang ada di America."

"Aku tidak sudih."

"Berhenti bertingkah kekanakan, kau sudah tua Kim Kibum." Terdengar helaan nafas panjang dari Sooman. "Astaga tahun ini umurmu sudah 39 tahun, Bocah es."

"Jika kau menyebutku tua maka kau sudah bau tanah."

"Aku memang sudah bau tanah, maka dari itu aku ingin kau kemari dan mengurus perusahaanku ini."

"Ok, aku akan ke America dan akan ku hancurkan perusahaan yang sering kau banggakan itu."

"Dasar bocah sialan, Kau ingin Kakekmu bangkit dari kuburnya karena Kau menghancurkan perusahaan yang ia bangun dari Nol itu, yah?"

"Biar saja, jikapun Kakek bangkit dari kuburnya orang pertama yang ia hantui adalah kau karena salahmu menyerahkan perusahaannya padaku."

"Bedebah kau, Kibum." Umpat Sooman pada putra bungsunya itu.

"Aku mendapatkan sifatku ini darimu, Tua bangka."

"Cih, jadi kau tidak mau kemari?"

"Tidak."

"Kalau begitu aku akan menelpon cucu kesayanganku. Jonghyun tidak akan menolak permintaanku. Dia pasti mau mengurus perusahaanku yang ada di America ini."

"Dia baru lulus SMA, Tua bangka."

"Itu bagus kan, dia akan menjadi CEO yang luar biasa." Ujar Sooman yang tidak nyambung dengan ucapan Kibum sebelumnya.

Kibum menggeram. "Ok, aku akan pulang. Jangan sangkut pautkan Jonghyun lagi, belum waktunya dia mengambil alih seluruh perusahaan."

"Baguslah. Lalu kapan kau kesini?"

"Saat kau sudah mati." Setelah itu Kibum langsung memutuskan sambungan telepon mereka. Ia menatap dingin ponselnya. Sooman sialan, andai saja bukan Ayahnya sudah Kibum bunuh sejak dulu.

Kibum tiba-tiba mengingat Jonghyun, bocah itu masih 18 tahun dan belum saatnya memegang perusahaan Sooman yang banyaknya luar biasa. Sooman memang memiliki banyak saham dimana-mana entah itu Asia maupun America.

Untuk saat ini perusahaan Sooman yang ada di Asia di pegang oleh kakaknya, Jaejoong dan perusahaan yang di America masih Sooman pegang sendiri namun orang tua itu sudah sering jatuh sakit dan Kibumlah yang akan menggantikannya.

Dan jika Jaejoong dan Kibum sudah tua sudah pasti Jonghyunlah yang akan memegang seluruh aset perusahaan Kim. Entah itu yang ada di Asia maupun America.

.

.

TBC

28 July 18

Jangan lupa apresiasi karya penulis dengan meninggalkan jejak yah. Nggak sopan loh habis baca malah pergi gitu ajah tanpa ninggalin jejak udah baca ^^

Aku bakal update kalau review sudsh mencapai target jadi kalau kalian pengen aku cepet update harus review