Doumo, bertemu lagi dengan Yure. Ano, aku tau aku sudah lama tidak post FF ini, gomenasai minna-san.
Ada berbagai hal yang membuatku kesulitan melanjutkan FF ini, utamanya karena aku kehilangan catatan tentang cerita GSD. Tolong dimaklumi karna ini merupakan anime cukup lama dan daya ingatku yang buruk, jadi ada beberapa plot cerita dan karakter di GSD yang uhuh terlupakan uhuk sampai aku harus membongkar mbah google agar FF ini tidak melenceng feelnya.
Dan aku benar-benar berterima kasih untuk para reader yang sudah mereview FF ini, sungguh aku salut pada kalian yang bisa membaca FF penuh typo ini. Aku sempat membaca ulang FF ini agar feelnya lebih dapat dan wow, saat itu juga aku ingin membenturkan kepalaku kedinding terdekat - -"
Banyak sekali typo, tanda baca, kata yang kekurangan hurufnya plus tanda kapital yang kacau dalam FF ini. Aku akan berusaha memperbaikinya!
Sekali lagi terima kasih kepada reader yang sempat untuk mereview FF ini. Dan oh ya, berdasarkan polling, selamat Shinn anda berperan sebagai uke di FF ini XD
#Dihajar Shinn.
Dan untuk yang menanti moment Athrun x Kira. Kupersembahkan!
.:: My Destiny ::. Gundam Seed/Destiny it's not my own
.
Warning: Yaoi, Typo yang bertebaran, OC dan OOC
.
Don't Like Don't Read
.
.:: Eu ::. Chapter Four: Kira and...
Sepasang kelopak mata yang terpejam itu bergerak perlahan, mencoba membebaskan sepasang manik indah yang bersembunyi dibaliknya.
Lengguhan kecil berserta bunyi gemerisik rantai menjadi iringan musik ketika manik violet itu terbuka secara penuh.
Pemuda bersurai coklat muda itu menatap datar pada langit-langit ruangan berwarna putih yang menjadi pemandangan pertamanya setelah terbangun, yang kemudian teralihkan pada bunyi gemerisik yang berasal dari tangan kanannya.
Hanya dalam kedipan mata, rantai hitam yang tadi membelenggu tangan kanannya dengan besi penyangga tempat tidur kini hancur berserakan diatas marmer hitam. Dengan elegan pemuda yang berbalutkan kemeja dan celana putih itu turun dari atas tempat tidur, membiarkan kakinya yang tanpa alas kaki merasakan dinginnya dari lantai marmer yang diinjaknya.
Manik violetnya bergulir mengamati setiap inchi didalam kamar bernuansa hitam putih itu. Tak ada yang spesial, kamar ini seperti kamar pada umumnya dengan barang-barang yang minimalis.
'Sekitar dua hari' Batinnya saat melihat kalender berukuran kecil diatas meja disamping tempat tidur dengan lingkaran merah menghiasi angka 14 februari.
Merasa tak ada yang perlu diperhatikan lagi, kakinya melangkah menuju satu-satunya jendela yang berada dikamar itu. Jari-jarinya menyingkap tirai berwarna merah marun yang membuatnya harus menyipitkan matanya saat matahari pagi menerpa wajahnya.
Pemandangan kota Heliopolis dari atas ketinggian yang menyambutnya ketika pandangannya telah jelas. Jari-jari itu perlahan meraba kaca yang membatasinya dengan dunia luar, seolah ingin menggapai kota Heliopolis. Ditempelkannya tangan kanan berserta wajah sebelah kirinya pada kaca dihadapannya, mengamati pantulan wajahnya sendiri pada kaca dihadapannya sebelum matanya menutup pelan dan gumaman lirih keluar dari mulutnya.
"Hangat"
.:: Eu ::."Athrun!"
Daerka dengan gesit menghindari buku yang mengarah kewajahnya, membuat buku setebal 208 halaman itu menabrak dinding disampingnya. Kekehan kecil keluar dari mulutnya saat melihat raut wajah seorang Athrun Zala ketika bangun dari tidurnya. Hell, siapa yang menyangka menganggu seorang Zala begitu menyenangkan?.
"Berteriak lagi seperti itu ditelingaku, akan kupastikan kau kugantung Daerka!" Desis Athrun murka saat melihat sang koporal perang masih terkekeh geli didepannya.
"Hey! Para fansmu akan kabur ketakutan kalau kau memasang wajah seperti itu, Athrun"
Athrun mendecih kesal saat kalimat itu memasuki gendang telinganya. Siapa peduli dengan para fans fanatiknya diluar sana, yang masih mengejar-mengejarnya dan mengatakan 'Marry Me Athrun' padahal jelas-jelas ia sudah menikah dan mempunyai seorang anak perempuan yang begitu manis. Yah walaupun sang istri telah tiada.. Tapi bukan berarti ia akan memilih asal seorang 'ibu' untuk Cagalli.
"Sudah melamunnya? Zala-san?" Ucap Daerka menyindir, tangannya meletakan sebuah ID card tepat dihadapan Athrun. "Sangat sulit mendapatkannya kau tau" Terdengar nada bangga dari ucapan Daerka saat melihat Athrun menyunggingkan senyum kepuasaan.
"Kerja bagus Daerka" Ucap Athrun yang masih fokus terhadap nama yang tertera di ID tersebut.
'Tidak buruk' Batin Athrun.
.:: Eu ::.
Athrun baru saja menginjakan kakinya diapartemen mewah miliknya saat tubuhnya tiba-tiba saja menegang, terasa seolah udara dingin menyengat tubuhnya.
'Sudah bangun ternyata' Batinnya saat melihat sepasang mata berwarna Almesty menatapnya tajam dan mengitimidasi dari balik bayang-bayang tirai yang diterpa angin.
Athrun dengan cepat melangkah mundur saat sebuah tendangan hampir menghantam dagunya.
'Jenjang' Batinnya saat melihat kaki berbalutkan celana putih beberapa centi dari wajahnya.
Dengan cepat Athrun menunduk saat pemuda didepannya akan menendangnya dengan lutut kirinya disaat kaki kanannya belum menapak tanah. Athrun bergerak cepat mengambil posisi dibelakang tubuh sang pemuda saat kaki kiri yang baru saja meleset ternyata kembali bergerak mundur untuk menghantam kepalanya.
'Harum'
Gumam Athrun saat merasakan helaian surai coklat membelai wajahnya.
'Fleksibel'
Pemuda didepannya dengan cepat menahan berat tubuhnya yang goyah dengan tangan kanannya akibat tiga serangan berturut-turutnya pada pemuda bersurai dark blue itu meleset. Kaki kanannya ikut menjadi tumpuan saat tubuhnya berputar 90 derajat dengan kaki kirinya yang kembali menyerang Athrun.
Athrun yang sudah mengantisipasi gerakan pemuda bersurai coklat didepannya dengan sigap menjadikan kedua tangannya yang berada didepan dada sebagai tameng.
'Kuat'
Athrun bisa merasakan beban dikakinya semakin berat ketika tubuhnya bergerak mundur kebelakang dan akhirnya-
"Brukk"
-menghantam meja dibelakangnya.
Sedikit meringis, Athrun berusaha bangkit dengan berpegangan pada dinding dibelakangnya.
'Mempesona'
Manik violet itu menatap Athrun semakin tajam, hanya dalam sepersekian detik meja dibelakang Athrun terbelah menjadi dua. Athrun berguling kesamping kirinya, tangan kanannya menyibakan tirai, menutupi pandangan sang pemuda.
Dengan memanfaatkan waktu yang singkat Athrun mempelebar jarak diantara mereka, posisi Athrun membelakangi pintu masuk sedangkan pemuda yang 'ditolongnya' berada diujung ruang tamu .
"Lumayan" Gumam Athrun ketika melihat kondisi ruang tamunya saat ini, meja terbelah dua, sedikit retakan dilantai dan dinding. Tubuhnya kembali memasang posisi siaga saat melihat lawannya bersiap-siap menyerangnya kembali. Tangan kanannya perlahan menuju belakang tubuhnya, menarik sesuatu dari balik kemejanya..
..Saat sebuah akuarium yang seharusnya berada disudut ruangan melayang kearahnya.
Sedikit menggeser tubuhnya Athrun berhasil mengelak, akuarium itu kini tepat mengarah kearah pintu dibelakangnya yang kini terbuka sedikit oleh seorang anak kecil..
"Cagali!" Seru Athrun saat melihat anaknya berada dibalik pintu dengan jarak akuarium yang terlampau dekat dengan tubuhnya.
'Srattt' 'Crashh'
Kristal-kristal bening melayang turun didepan Athrun lalu perlahan hilang. Athrun mengerjapkan matanya bingung saat melihat Akuarium itu berubah dalam sekejap mata.
Ah, dibandingkan terpukau dengan sebuah akuarium, athrun seharusnya mengecek keadaan sang buah hatinya yang kini dalam pelukan seorang pemuda bersurai coklat dalam keadaan basah.
Basah..
Membuat kemeja berwarna putih menempel lengkat ditubuhnya, menampilkan tubuhnya yang..
Stop!
Athrun memalingkan wajahnya, menutupi wajahnya yang terlihat sedikit merona. "Jadi, bisa kita bicara baik-baik, hum?" Tanyanya pada sang pemuda yang entah mengapa sedikit menjadi 'jinak'.
Tak ada balasan, dan Arthun anggap sebagai jawaban 'Iya' dan mereka berjalan menuju ruang tamu bekas pertempuran mereka.
.:: Eu ::.
"Dia tak berguna"
Nada merendahkan benar-benar terlihat dari ucapannya, tanpa mengalihkan pandangannya pada sebuah gedung tinggi berjarak 200 meter dari tempatnya duduk.
Jari-jarinya menyisir surai Hijau miliknya terhenti saat mendengar suara riang tepat disisi kirinya.
"Ah, tapi bukankah dia tetap menarik? Shani?"
Pria itu, Shani menyeringai. iris coklatnya berkilat berbahaya terus menatap salah satu 'kamar' diantara lantai gedung tinggi itu "Y, tetap menarik" dijilat bibirnya yang entah mengapa terasa kering.
"Kita pergi, Flay!" Serunya sambil melocat turun dari gedung berlantaikan 15 itu dan mendarat dengan sempurna diatas tanah, lalu menghilang diantara gang-gang tikus yang gelap.
Flay menatap sinis pada sosok Shani yang telah pergi dulu "Dia milikku" Desisnya pelan, iris Abu-abunya menggelap persekian detik lalu kembali seperti semula. Mengikuti jejak rekannya, Kini gadis bersurai merah maroon itu menghilang diantara bayang-bayang gedung pencakar langit.
.:: To Be Continued ::.
Err, aku merasa mesum saat mengetik pertarungan (?) Athrun dan Kira, entah mengapa -a ..
Yah, intinya.. beritahu pendapat kalian mengenai chapter ini, dalam kotak Review tentunya XD
~See You Next Time~
