Ichizuki…

Happy Reading…

Disclaimer : Naruto Masashi Kishimoto

WAY OUT

By Ichizuki_Takumi

Pairing : SasuNaru, SasuSaku, NaruSaku

Rated : T

Genre : Angst/Humor

Warning : AU, OOC, MPREG, Straight, BL, Alur cepat, Bahasa sulit di mengerti

DON'T LIKE! DON'T READ !

Chapter 4

"Aku ingin…"

"Kau…"

"…Menjadi….Suamiku…"

*Gleeegaaaarrr…..* suara petir menggelegar dihati Naruto maupun Sakura.

Sakura yang mendengar perkataan Sasuke, memandang wajah suaminya tak percaya. Dia membelalakkan mata sambil menutup mulutnya yang ternganga.

'A…a..pa…yang dia katakan? Pasti aku salah dengar,' batin Sakura.

Sementara Naruto terpaku menatap Sasuke. Tubuhnya terasa lemas seketika. Dia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dengan mata yang masih terbelalak lebar.

'Tidak... Tidak mungkin Sasuke mengatakan itu,' batin Naruto.

Naruto mencoba mengendalikan dirinya agar tidak terlalu syok. "Kau pasti bercandakan, Teme. Ha..ha..ha… kau hebat, bisa membuatku terkejut," Naruto tertawa garing, seakan apa yang dia dengar memang salah.

"Aku tidak bercanda," jawaban telak yang menusuk hati.

"Hei…kau masih ingatkan kalau aku ini laki-lakikan?" tanya Naruto mencoba meyakinkan Sasuke dengan candaannya yang tidak lucu lagi.

Sakura yang tersadar dari keterkejutannya, ikut ambil bagian. "Ya, kau pasti bercandakan Sasuke?" tanya Sakura mencoba membenarkan perkataan Naruto.

"Aku serius. Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Jadi, boleh aku menikah dengan si Dobe ini?" tanya Sasuke pada Sakura, dengan nada yang sangat datar.

"Tapi, kenapa?" lirih Sakura tak percaya.

"Hn. Asal kalian tahu. Sudah dari dulu aku menyukai si Dobe," kata Sasuke yang memulai ceritanya, dan mendapat pandangan tidak percaya dari Naruto dan Sakura.

"Bahkan aku rela melakukan apa saja yang kau katakan Dobe," ujar Sasuke sembari menatap kedua mata Naruto. "…termasuk menikah dengan orang yang tidak aku cintai."

Saat itu juga, hati Sakura serasa tersambar petir yang entah datang dari mana. Dia sudah tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. Ingin sekali dia menutup kedua telinganya rapat-rapat. Tapi dia juga ingin mendengarkan perkataan Sasuke sampai akhir. Jadi dia menguatkan hatinya untuk tetap mendengarkan cerita Sasuke.

'Kau memang bodoh, Dobe. Merelakan orang yang kau cintai untuk hidup dengan orang yang bahkan tidak pernah mencintainya,' batin Sasuke.

"Apa kau sadar kalau aku selalu mencoba mamanasimu?" tanya Sasuke pada Naruto. Naruto hanya menjawabnya dengan gelengan kepala. "Hn, kau memang bodoh," rasa marah muncul ketika Naruto mendengar dirinya disebut bodoh. Tapi dia meredakan amarahnya agar dapat mendengar kelanjutan cerita Sasuke.

"Aku selalu bermesraan dengan Sakura didepanmu, karena aku ingin kau cemburu padaku. Aku ingin kau hanya melihatku. Tapi usahaku sia-sia belaka."

"Kau ingin tau kenapa?"

"Karena kau selalu melihat Sakura. Dimatamu hanya ada Sakura, dihatimu ada Sakura. Sakura..Sakura..dan Sakura… semua yang ada di pikiranmu hanya Sakura! Kapan ada aku, Dobe?" seru Sasuke.

Sakura tidak percaya sebegitu cintanya Sasuke kepada Naruto. Dia lebih tidak percaya lagi dengan apa yang baru saja diucapkan Sasuke, bahwa Naruto menyukainya.

'Aku pikir waktu itu Naruto tidak sungguh-sungguh dengan pernyataan cintanya. Ku pikir dia mengatakan itu hanya ingin menghibur diriku. Tapi ternyata pernyataan itu benar ya.' batin Sakura.

'Aku tidak percaya, kalau bukan hanya aku saja yang merasa tersakiti. Ternyata Sakura bahkan Sasuke juga merasakannya,' batin Naruto.

"Dan, saat melihat kejadian kemarin, hatiku sangat kacau. Aku tidak bisa menahan perasaanku lagi," ujar Sasuke sembari mengingat kejadian yang membuat hatinya tambah hancur.

Keheningan menyelimuti ruagan itu. "Jadi, apa kau mengizinkannya, Sakura?" tanya Sasuke pada Sakura.

Sakura menundukkan kepalanya. 'Bagaimana ini? Aku tidak menyangka perasaan Sasuke sebegitu dalam pada Naruto. Dan sepertinya, aku yang menjadi penghalang cinta mereka. Lagi pula, aku tidak ingin berpisah dengan Sasuke walau apapun yang terjadi,' batin Sakura.

'Tapi bagaiman perasaan Naruto? Apa dia menyetujuinya?' pikir Sakura seraya melirik Naruto dengan ekor matanya.

"A…ku…" tak ada pilihan lain Sakura, apa kau mau berpisah dengan Sasuke? Setidaknya kau masih bisa bersama Sasuke. Meski hatiku sakit, kau harus rela melakukannya.

Lagi pula kami terjebak dalam sebuah hubungan yang sama. Sama-sama mencitai seseorang yang bahkan tidak bisa kita gapai. Jadi kami harus menemukan jalan keluar itu bersama-sama. "…Aku…..menyetujuinya," ujar Sakura yakin.

Seketika Sasuke mengeluarkan seringaiannya, yang membuat Naruto ngeri sendiri. "Hn, tidak ada pilihan lain, Dobe," ujar Sasuke sembari menatap Naruto.

Naruto jadi salah tingkah karena telah menjadi pusat perhatian mereka.

'Tidaaakk… jangan katakan perjalanan hidupku akan menjadi seperti ini.'

'Impianku untuk hidup bahagia dengan istriku, sepertinya hancur sudah.'

'Apa aku harus menikah dengan seorang laki-laki? Tapi aku kan laki-laki? Bagaimana ini, aku kan masih normal,' hati Naruto berkecamuk. Bigung harus harus berbuat apa.

'Sepertinya tidak ada pilihan lain. Lagi pula aku sudah berjanji akan mengabulkan semua permintaannya.'

"Apa boleh buat. Mau tidak mau, aku sudah berjanji padamu."

Bibir Sasuke tak henti-hentinya mengeluarkan seringaian. Dia merasa seakan takdir berpihak padanya. Dia sangat bersyukur dengan kesabarannya selama ini. 'Terimakasih Kami-sama.'

Satu Minggu telah mereka lalui bersama. Setelah kemarin mereka bertiga melakukan ritual pernikahan, akhirnya mereka menjadi 'Suami-Suami-Istri' secara syah.

Naruto juga menikahi Sakura, karena dia ingin bertanggung jawab atas perbuatannya. Dengan berat hati akhirnya Sasuke menyetujui permintaan Naruto.

Sungguh mengejutkan pernikahan mereka bertiga. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, pernikahan yang dapat membingungkan semua tamu undangan yang ada disana.

Flash back ON

"Baiklah, sekarang kita mulai acara pernikahannya," kata penghulu bernama Hidan yang berada didepan mereka bertiga.

"Silahkan tuan menunggu dibelakang seperti tamu yang lainnya," kata Hidan kepada Sasuke yang berada disamping kanan Naruto.

"Saya pengantin prianya," ujar Sasuke datar.

"Maafkan saya. Kalau begitu, tuan, silahkan menunggu dibelakang," ujar Hidan kepada Naruto.

"Maaf pak, tapi saya juga pengantin prianya," seketika Hidan cengok di buatnya. Dia membaca kembali naskah yang ada dihadapannya.

"Jadi kalian bertiga akan menikah?" tanya Hidan dengan suara yang cukup keras, sehingga dapat didengar oleh semua tamu yang ada disana.

"Baiklah, kalau begitu kita segera mulai saja acara ini," mereka bertiga yang ada dihadapan penghulu hanya menganggukkan kepala.

"Sebelumnya, saya ingin tahu, siapa yang akan dinikahkan dengan siapa," ujar Hidan yang masih bingung.

"Hn, aku akan menikahi pemuda ini," ujar Sasuke datar.

"Kemudian nona ini?" tanya Hidan lagi.

"Saya yang akan menikahinya," ujar Naruto kemudian.

"Oh… saya mengerti," ujar Hidan yang sebenarnya dalam hati masih merasa bingung.

"Ehemm…" Hidan mengetes suaranya agar tidak serak.

"Saya nikahkan…." Begitulah kata Hidan hingga menyelesakan kata-katanya.

"Sekarang kalian bisa mencium pasangan masing-masing," kata Hidan yang sudah menyelesaikan ritual pembacaan sumpah.

Sasuke yang berada disamping kanan Naruto langsung menghadap kearah Naruto. Dia langsung mengernyit sebal karena ternyata Naruto sedang membelakanginya, berniat untuk mencium Sakura. Karena sebal, Sasuke langsung membalik tubuh Naruto agar dapat menghadapnya. Perbuatan Sasuke itu, sukses membuat Naruto dan Sakura yang hampir menempelkan bibir mereka menjadi terkejut.

"Apaan sih Teme?" tanya Naruto yang sekarang menghadap Sasuke.

"Hn, aku yang akan menciummu duluan."

"Aku mau mencium Sakura dulu, Teme, kau diam saja," kata Naruto yang mulai membalikkan badannya.

Sasuke membalik kembali tubuh Naruto. "Tidak. Aku yang akan menciummu duluan."

"Tapi aku ingin segera mencium Sakura!" seru Naruto. Mereka berbicara dengan suara yang pelan, sehingga hanya mereka yang dapat mendengar suara itu.

"Silahkan mencium pasangan kalian," ujar Hidan yang mulai kesal karena belum juga menyelsaikan ritual mencium pasangan.

Mendengar perkataan Hidan, Naruto membalikkan tubuhnya dan menghadap Sakura. Kembali tubuh Naruto ditarik oleh Sasuke. Karena kesal, Sasuke langsung menempelkan bibirnya dengan bibir Naruto.

Semua orang yang melihat adegan itu hanya terpaku. Tidak mau mengalihkan sedikitpun pandangan mereka dari dua insan yang kini telah terikat. Muncul semburat merah dipipi Sakura saat melihat mereka berciuman.

'Kenapa jantungku jadi berdebar seperti ini ya?' batin Sakura.

Ciuman itu berlangsung begitu lama. Semua hening. Sampai sebuah tepuk tangan memecah keheningan ketika itu, dan menyadarkan pikiran orang-orang yang menyaksikannya.

Plo! Plok! Plok!...Plok Plok Plok PlokPlok. Seketika tepukan riuh terdengar begitu nyaring diruangan itu.

"Sekarang, silahkan mencium pasangan anda," ujar Hidan yang menghentikan ciuman mereka. Mereka terengah-engah karena telah menahan napas selama beberapa menit.

Setelah melepas ciumannya dengan Sasuke, Naruto membalikkan wajahnya menghadap Sakura. Dia menarik napas dalam-dalam agar tidak kehilangan napas seperti tadi. Naruto mendekatkan wajahnya dengan Sakura. Akhirnya dia sukses menempelkan bibirnya pada bibir Sakura, hingga ada seseorang yang menarik pundak Naruto agar berdiri tegak. Sasuke. Sasuke menghentikan ciuman mereka yang berdurasi tidak sampai tiga detik. Merasa terganggu, Naruto memberikan deathglare-nya pada Sasuke, yang bahkan tidak dipedulikan olehnya.

Flash back off

Pagi yang cerah. Hari untuk memulai hubungan rumah tangga bagi UchihaUzumakiHaruno. Sungguh nama keluarga yang panjang. Hari yang damai untuk awal dari kehidupan yang bahagia. Mungkin.

"Ohayou…" seru Naruto. Seperti biasa, dia adalah orang yang terakhir bangun diantara yang lainnya.

"Naruto, pagi," balas Sakura, yang masih biasa memasakkan sarapan untuk suami-suaminya.

"Hn," jawab Sasuke kepada suaminya.

"Masak apa Sakura?" tanya Naruto pada Sakura yang menghiraukan Sasuke. Menyebabkan sang Uchiha bungsu mengeluarkan deathglare-nya.

"Oh, aku sedang memasak sup."

"Biar aku Bantu."

"Naruto~ …kan sudah kubilang berkali-kali, kau duduk saja."

"Tapi kan aku ingin membantu istri baruku," rujuk Naruto yang membuat pipi Sakura bersemu merah.

"N…Naruto…kau duduk saja," ujar Sakura yang agak tergagap. Naruto nyengir kuda melihat perubahan pada diri Sakura.

Sasuke yang merasa tidak di perhatikan jadi kesal sendiri. "Kau duduk saja, Dobe!" seru Sasuke sambil menarik lengan Naruto.

"Eehh…" seru Naruto yang terkejut karena lengannya tiba-tiba ditarik.

"Hn," kata Sasuke setelah Naruto duduk dipangkuannya.

"Aku bisa duduk sendiri, Teme!"

Bletak…

"Selamat makaaann…" seru Naruto setelah sukses menjitak kepala Sasuke kemudian memakan sarapan yang sudah disiapkan oleh Sakura.

"Dasar Dobe!" dengus Sasuke yang kesal karena jitakan yang membuat kepalanya benjol. Sakura yang melihat perbuatan mereka hanya tertawa renyah.

Acara sarapan pagi pun selesai. Sasuke dan Naruto beranjak untuk segera berangkat ke kantor.

"Sakura, kami berangkat ya," ujar Naruto sambil mengecup kening Sakura. Sasuke merasa sekarang keadaan berbalik. Kini dia merasa menjadi orang yang dipanas-panasi.

Tidak mau kalah, dia langsung menarik Naruto, membalikkan badannya dan segera mencium bibirnya. Wajah Sakura langsung memerah saat melihat kedua suaminya berciuman. 'Kenapa lagi-lagi aku jadi deg-degan kaya gini?' batin Sakura.

"Haah.. Teme! Biarkan aku mencium Sakura kenapa sih!" seru Naruto saat berhasil melepaskan ciumannya dengan Sasuke.

"Hn, kita berangkat."

"Kami berangkat ya, Sakura," kata Naruto yang melambaikan tangan. "Tunggu Teme!"

Sakura tersenyum karena kini dia merasa sangat bahagia. Meski dia harus membagi suami-suaminya. Tapi entah kenapa dia sudah terbebas dari jerat kesedihan. Dia merasa bebas sekarang. Bebas seperti burung yng terbang dilangit biru.

'Mungkin ini adalah jalan keluar yang terbaik,' batinnya. 'Aku harus bisa membagi rasa sayangku pada mereka berdua.'

*TBC*