"Hentikan kekerasan ini!" Suara perempuan menegur Glenn, mengira pemuda itu akan lanjut menghajar bodyguard yang sudah tidak berdaya itu. "Engkau mengikutiku terus sejak kemarin? apa maumu?"

Bibir Glenn menjadi kelu, sekali lagi kecemasan menguasai dirinya dan menahan apapun yang sejak tadi telah ia persiapkan. Dia mulai terheran, kemana hilangnya nyali yang ia miliki selama ini? Ia tidak gentar menghadapi musuh apapun sebagai swordsman, namun dihadapan perempuan yang sangat ia hormati, mendadak jadi sekaku ini.

"Nona Michiru, aku ..." Sudah, katakan saja! "... aku jatuh cinta padamu!"

Keduanya sama-sama terkejut. Glenn sendiri terkejut karena dia tidak ingin menggunakan terminologi "jatuh cinta", ia lebih mempersiapkan kata "mengagumi" atau "penggemar". Kata itu secara spontan muncul sendiri menggelincir dari bibirnya tanpa persiapan sedikitpun.

Namun tampaknya ketidak sengajaan Glenn itu berbuah manis pada dirinya sendiri. Sejak itu Norriss dan Serge seringkali kebingungan mencari-cari teman mereka. Kemana hilangnya Glenn? Dari matahari terbit hingga terbenam, tidak tampak batang hidungnya. Baru ketika malam hari tiba, ia terlihat sedang duduk di restoran dan dengan setia menunggui Nona Michiru menyanyi.

Mereka menemukan Glenn setiap hari mengunjungi Nona Michiru. "Wah, wah, Serge. Sepertinya teman kita berhasil mendapatkan pacar. Tapi sayangnya, gadis itu milik Tuan Masashi. Untuk suatu sebab, aku merasakan firasat yang tidak mengenakkan."

Malam itu ketika Glenn kembali ke penginapan, Norriss menyentilnya sedikit, "Sepertinya takdir merestui kalian."

Swordsman itu menjadi sedikit gugup. "apa yang kau bicarakan?"

"Nona Michiru, tentu saja. ayo ceritakanlah, bagaimana hubungan kalian." Komandan dari Porre itu menyengir pada sahabatnya.

Sambil melepas sepatu bots kulitnya, Glenn berkisah sedikit, "Tidak ada yang spesial sebenarnya. Kami hanya bersahabat."

"Setiap hari kau mengunjungi dia dan setiap malam dengan setia kau menonton pertunjukkannya. Kau punya akses keluar masuk rumahnya sementara orang lain dihalangi bodyguard, dan kalian hanya bersahabat? Kau penipu yang payah, Glenn."

"aku tidak berbohong." Pemuda itu ikhlas, "Nona Michiru sudah punya kekasih sendiri. Tapi bukan Tuan Masashi."

"Wow. Dramatis. ada kisah kasih tak sampai di sini."

Rasa simpati Glenn terhadap idolanya membuat pemuda itu tidak terlalu suka dengan ucapan Norriss barusan, "Mereka teman sejak kecil, namun Tuan Masashi melamarnya lebih cepat dan segera disetujui oleh orangtua Nona Michiru. Karena patah hati, kekasihnya pergi merantau hingga kini belum kembali lagi."

"Yah, itu sering terjadi."

Serge yang sedang duduk santai pada bingkai jendela sambil mendengarkan kedua sahabatnya bicara itu berubah serius ketika ia melihat sekelompok prajurit dengan emblem berlogo ikan hiu berbaris teratur dan berhenti di penginapan mereka. Bunyi besi beradu dalam satu gerakan serempak sampai terdengar oleh telinga Norriss yang sedang berbaring di ujung ruangan.

"Serge. ada apa?" Norriss langsung terduduk.

Serge turun dari bingkai jendela dan memberitahukan teman-temannya bahwa sekelompok prajurit mengepung penginapan dan entah kenapa masing-masing dari mereka merasa ada yang tidak beres. Benar saja, para prajurit itu berkumpul untuk menangkap seseorang dengan ciri berikut; berambut pirang pucat, memiliki codet yang bersilangan di pipi, bermata biru dan kulit yang kecoklatan karena terbakar panas matahari. Orang itu adalah Glenn.

Dari dalam kamar, Serge mampu mendengar sedikit kerusuhan di luar, tampaknya para prajurit Izure itu melakukan razia. Ketika pintu kamar mereka terbuka, si komandan prajurit Izure langsung mengenali Glenn, "anda Glenn?"

"ada keperluan apa?" Norriss seperti biasa, berlaku protektif terhadap orang-orang yang dekat dengannya. Ia berdiri di depan Glenn, menatap komandan prajurit Izure itu dengan curiga.

"Tuan Masashi ingin berbicara dengan Glenn."

"Bukankah sekarang sudah malam? Besok pagi kami akan mengunjungi Tuan Masashi." Norriss mencoba bernegosiasi.

"Maaf, ini perintah. Bila kami tidak bisa membawa Glenn dengan cara halus, maka terpaksa kami lakukan dengan cara yang sesungguhnya lebih kami sukai." Komandan prajurit Izure itu menghunus pedangnya.

Namun tarikan pedang Glenn lebih cepat. Ujung pedangnya sudah mengacung pada kerongkongan si komandan prajurit Izure. "Maaf, aku tidak suka dipaksa. Baiklah kalau itu maunya, aku akan ikut menemui Tuan Masashi."

"Glenn..."

"Tidak apa-apa, Norriss." Glenn berjalan menuju pintu kamar.

"Kami juga ikut." ujar Norriss.

"Maaf, tidak bisa." Norriss dan Serge terdiam di kamar memandangi para prajurit Izure itu membawa sahabat mereka pergi. Di bawah mereka bisa melihat Glenn melepaskan pedangnya dan menyerahkannya pada komandan prajurit Izure. Kemudian mereka mengikat tangannya dan membawa Glenn ke kediaman Tuan Masashi seperti seorang tahanan.

Jalanan sudah sepi kembali. Warga yang terbangun karena keributan kecil itu sudah kembali memadamkan lampu dan melanjutkan istirahat mereka yang tertunda. Namun Serge dan Norriss tidak bisa tenang, melihat betapa kerasnya sifat Masashi di 'home', dan bagaimana Glenn diperlakukan saat meninggalkan penginapan, mereka ragu sahabat mereka akan diperlakukan dengan manusiawi dan mereka hanya sekadar berbicara. Maka Norriss dan Serge memutuskan untuk menyusup ke dalam mansion milik Tuan Masashi untuk melihat keadaan teman mereka dan bila diperlukan; menyelamatkannya.