haaaaaah...\O/ akhirnyaaaaaaaaaaaaaaaah...

doumo arigatou gozaimashita bwat Bryn Barvon Baroness Of Luxor...

terima kasih untuk saran anda sehingga saiya bisa menemukan list sory saiya yang sempat menghilang...

and, gomenna bwat yg sempet baca Orange Lanjutan en terpaksa harus bersusyah-susyah nyariin chap 1-3nya ataw cuman mendugha-dughanyahh...

udah dipindah ni...


Orange

-Chapter IV-

Sakura membuka matanya dan tersadar di sebuah tempat tidur dalam sebuah ruangan besar dengan cahaya temaram. Tidak ada rasa sakit sedikitpun yang mencoba mengusiknya, setelah bertahun-tahun, rasanya ini adalah pertama kalinya dia terbangun dengan perasaan ringan. Apakah Orochimaru dan ibunya sudah berhasil menemukan obat untuknya? Sakura tersenyum mencoba merenggangkan tangannya..

"...eh..?"

sesuatu terasa menggesek menusuk lengannya. Benda kecil panjang berwarna gelap menancap di lengan Sakura, matanya mengikuti benda panjang itu dan menemukan kantung gelap setengah penuh tergantung di samping tempat tidurnya.

"Darah? Apa karena ini badanku jadi lebih enak ya?"

"Akhirnya kau bangun juga Sakura"

Sakura hampir melompat dari tempat tidurnya mendengar suara yang sepertinya menggema di telinganya. Di ujung kamar, di sebuah kursi panjang, dia menatap pria berambut hitam panjang dan kulit pucat yang tersenyum seakan sudah di sana sejak tadi menunggu Sakura bangun. Dia berdiri dari kursi dan berjalan menghampiri Sakura di tempat tidurnya.

"Kupikir kau tidak akan bangun. Kau terus tidur selama sembilan hari, kupikir aku tidak bisa menolongmu lagi...", dia mengusap sebelah pipi Sakura dengan lembut dan tersenyum.

"Terima kasih Orochimaru-san. Aku merasa lebih baik" Sakura membalas senyumannya. Dia merasa sangat beruntung sempat pergi ke kota ini, semoga saja semuanya akan membaik.

"Ngg... Ini di mana? Ibu di mana?"

Orochimaru menatap Sakura yang masih tersenyum kemudian menghela nafas dan menarik sebuah kursi ke samping tempat tidur Sakura. Setelah duduk Orochimaru menatap Sakura dan kembali menghela nafas.

"Ini di rumahku. Kau tidak bisa terus berada di rumah sakit, saat ini keadaan di luar sangat gawat. Malam saat kau tidak sadar, terjadi penyerangan dan saat itu rumah sakit sangat penuh... banyak yang menjadi korban... termasuk ibumu..."

"...l...lalu..."

"Maaf...kami tidak bisa menolongnya..."

Sakura sama sekali tidak mengerti, sekejap dia tidak bisa berpikir tentang apapun, bahkan rasanya jantungnya berhenti berdetak dan hidungnya berhenti menarik nafas. Dia hanya menatap Orochimaru tanpa berkedip, entah sampai berapa lama.

"Orochimaru-san!", seorang wanita berkaca mata dan berambut panjang muncul di pintu dan meminta Orochimaru mengikutinya keluar. Setelah menggumamkan kata maaf dan meminta Sakura beristirahat kembali disertai tepukan ringan di kepalanya, Orochimaru keluar bersama wanita yang barusan dipanggilnya Karin.

Samar-samar setelah pintu ditutup Sakura mendengar langkah dua orang itu menjauh, tetapi lebih tidak masuk akal, dia masih bisa mendengar mereka berbicara..

"...apa maksud anda, dalam 8 hari dia sudah menghabiskan hampir 100 kantong darah. Itu sangat di luar batas normal..", suara wanita itu terdengar sedikit panik tetap Orochimaru hanya tertawa ringan.

"Karena itulah aku ingin dia tetap...", suara Orochimaru tidak terdengar lagi. Sakura masih menatap pintu keluar, dan dia belum menarik nafas. Kemudian seakan tersadar, dia mulai terisak dan menangis.

"...Ibu..."

(di tempat lain, di waktu yang lain)

Gadis dengan seragam SMU dan berambut panjang itu duduk di sebuah sofa berwarna hitam di tengah ruangan terbuka. Dia meletakkan kotak pipihnya di atas meja, kemudian perlahan membukanya. Tangannya yang dingin menelusuri gagang dengan balutan emas. Matanya bersinar berbinar-binar saat menatap sebuah pedang di hadapannya. Dia menghabiskan ratusan juta yen demi pedang ini, pedang yang dicari-carinya sejak lama.

"Wah.. Kau menemukan yang kau cari Sakura?"

Sakura tidak mengalihkan pandangannya dari pedang di hadapannya, dia hanya menggumamkan kata 'hmm..'nya yang entah sejak kapan menjadi kebiasaannya. Laki-laki dengan rambut hitam panjang tergerai muncul di samping Sakura, turut mengamati pedang itu.

"Wah..wah..bisa-bisanya kau menemukan pedang itu... Kudengar, ayahmu membawanya saat pergi ke Cina kan.."

"Orochimaru-san! Semua orang juga tahu kalau samurai itu pedang orang Jepang. Aku tidak mau tahu pedang ini sudah berjalan ke mana saja, yang penting aku sudah memilikinya, tinggal satu lagi benda yang harus ku cari"

"Ah.. Benda yang kau berikan pada anak laki-laki yang keberadaannya masih tidak jelas itu ya?", Sakura mengalihkan pandangannya pada Orochimaru.

"Pasti kutemukan. Kau tahu aku hebat dalam hal ini"

Orochimaru hanya menatapnya dan tersenyum. Dia tidak salah, dia sangat menyukai gadis ini. Awalnya dia tidak tahu Sakura memiliki ingatan yang tajam sampai detail terkecil. Dengan mudah dia mampu mengumpulkan informasi apapun yang dia butuhkan. Lebih dari itu, dia memiliki insting yang luar biasa, jauh lebih baik dari yang diharapkannya.

"Terserah. Asal kau ingat, kembalilah ke Moskow begitu kau menemukannya. Di sana banyak pekerjaan menunggumu. Aku butuh asisten yang tidak terlalu cerewet seperti Karin.."

"Hahaha...jangan sampai dia mendengarnya. Kalau sedang marah, Karin itu mengerikan sekali. Tentu saja, aku pasti langsung pulang. Dan janganlah terus mengikutiku, aku tahu apa yang harus kulakukan, aku bukan Sakura yang dulu lagi".


That's it, bwat chapter ini...

haha...makin membingungkan yahh?? Tolonglah...teruslah meriviw karena riviw adalah bahan baku ide saiya...:D