Haiii! Adakah yang menunggu lanjutan ff ini? *readers: GAADA*

oke ditunggu maupun tidak aku udah buatin chap 4 nya, mian lama buangetssss updatenya-_-

happy reading :) ! *tumben gabanyak ngomong*


Title : Crazy Little Thing Called Love

Cast : Kim Jaejoong, Jung Yunho, dll

Chap : 4/ ?

Genre : Romance

Rated : T

Disclaimer : they're not mine./sighs (Cerita ini adalah YunJae version dari film Thailand yang berjudul 'Crazy Little Thing Called Love' yang diproduksi oleh Sahamongkol Film International Co. Ltd dan Workpoint Entertainment)

Warning : boyxboy, alur kecepetan/kelambatan, typo(s), OOC, bahasa tidak berpedoman pd EYD, bahasa tidak baku-_-


The previous chapter...

"H-hai..." sapa Jaejoong gugup. Dia agak takut dengan reaksi teman-temannya ketika melihat dirinya. Jujur saja, Jaejoong belum berkaca setelah melakukan perawatan ini, jadi dia tidak tahu seperti apa wajahnya sekarang.

Junsu membuka matanya perlahan. Kyuhyun dan Shindong berhenti memakan snack. Kibum melepaskan earphonenya. Ara menutup dan menjauhkan majalahnya dari wajahnya. Ekspresi wajah mereka sama, yaitu mata terbelalak dan mulut yang membentuk huruf 'O'.

"Jae..." ucap mereka hampir bersamaan.

"W-wae?" Jaejoong makin gugup. Astaga, seperti apa wajahnya sekarang?

"Jadi..bagaimana...bagaimana diriku sekarang?" tanya Jaejoong ragu-ragu.

Hening. Satupun dari mereka tidak berbicara. Hingga akhirnya, mereka mengucapkan...

"Jae...kau...KAU SUNGGUH TAMPAN! KYAAAAA!"


5 orang yang terkesima dengan seorang namja yang berdiri di hadapan mereka ini langsung berdiri dari kursi masing-masing. Mata mereka berbinar-binar bagaikan seorang seorang musafir di gurun Sahara yang berhasil menemukan sumber air. Salah satu dari mereka, yaitu Kyuhyun, berjalan mendekati namja yang berdiri mematung tersebut.

"Jae..benarkah ini kau? Ataukah aku sedang melihat Kim Kyung Tak sekarang ini?" ucapnya tak percaya. Jaejoong sendiri bingung ingin membalas apa. Junsu, Shindong, Kibum dan Ara pun bersamaan berjalan mendekat ke arahnya.

"Jaejoong-sshi, kau benar-benar tampan!" kata Ara sambil berdecak kagum. "Eh, tunggu..tampan atau cantik ya?"

Semua diam. Tak terkecuali Jaejoong. 'Cantik? Yang benar saja!' kata Jaejoong dalam hati.

"Hmm, sepertinya lebih pantas kalau dibilang cantik noona!" ujar Junsu setuju dengan pernyataan Ara. Shindong pun juga mengiyakan, "Betul Jae! Sepetinya Tiffany Hwang punya saingan baru!" Jaejoong terkekeh pelan mendengar ucapan Shindong barusan. Teringat Tiffany yang notabene adalah musuh nomor 1 nya, dia jadi ingat Yunho. Ah, apa ya reaksi Yunho saat melihat Jaejoong yang sekarang?

"Oh ya, Ara noona, bisakah aku bercermin sebentar?" tanya Jaejoong sopan pada Ara yang masih memandangnya dengan terkesima. "Tentu saja! Itu ada cermin besar disana!" tunjuk Ara.

Jaejoong berjalan ke arah cermin yang ditunjukkan Ara dengan pasti. Ya, dia sudah yakin kalau wajahnya sangat tampan..atau cantik seperti kata teman-temannya tadi?

Kini dilihatnya seorang namja dengan kulit putih, bibir semerah cherry, dan sepasang mata doe indah yang terhalang oleh kacamata di cermin tersebut. Tak ia sadari, 5 orang kawan-kawannya juga memerhatikan reaksi dirinya saat melihat pantulan 'seseorang' yang ada di cermin.

"I..inikah aku?" gumam Jaejoong tidak kepada siapa-siapa. Tanpa bosan ia melihat pantulan dirinya di cermin itu, sambil sesekali berdecak kagum karena terpesona akan dirinya sendiri. Yah, walaupun hal tersebut tidak baik, tapi Jaejoong tidak bisa menghindarinya. Beberapa jam yang lalu ia hanyalah seorang namja culun berkulit kusam, tapi sekarang? Dia berubah menjadi namja tampan berkulit putih bersih layaknya pemeran Kim Kyung Tak, Han Jaejoon. Mengingat keadaannya dulu, Jaejoong merasa kalau dirinya hampir sama dengan sebuah cerita yang terkenal, 'The Ugly Ducking'. Bedanya, disitu diceritakan tentang seekor bebek buruk rupa yang berubah menjadi angsa cantik nan rupawan.

Setelah memerhatikan pantulan dirinya di cermin itu, Jaejoong malah jadi bingung sendiri. 'Aku...tampan atau cantik ya?' batin Jaejoong. 'AH! Tentu saja tampan! Masa seperti ini mereka bilang cantik?' Jaejoong membalas pertanyaannya sendiri dalam hati.

Jaejoong sekali lagi melihat dirinya dari atas sampai bawah di cermin itu. Dirinya masih tak percaya akan pantulan yang terlihat disana. Jaejoong menggeleng-gelengkan kepalanya seraya mencubit tangan kanannya untuk memastikan kalau ini bukanlah mimpi. Sakit. Berarti ini bukan mimpi, ini kenyataan!

"Jaejoong-ah," ucap Kibum dari belakang sambil menepuk bahu Jaejoong. Tanpa seizin Jaejoong, Kibum melepas kacamata yang sedang dipakai Jaejoong.

"Nah, kalau seperti ini terlihat lebih baik kan?" ujar Kibum sambil membalikkan badan Jaejoong, membuat dirinya berhadapan dengan Kyuhyun, Junsu, Shindong, dan Ara. 4 orang itu mengangguk tanda setuju sambil tersenyum.

"Dia terlihat lebih cantik, eh, tampan maksudku!" kata Junsu sambil cengengesan. Dia tidak bisa memungkiri kalau Jaejoong benar-benar cantik saat ini.

"Eum, kalau boleh tahu, kau ini minus berapa Jae?" tanya Kibum. Dahi Jaejoong berkerut tanda sedang berfikir.

"Seingatku, mata sebelah kanan 1.5, dan yang kiri sepertinya hanya 1" jawab Jaejoong.

"Nah, kalau begitu kau tidak usah lagi memakai kacamata ini!" ucap Kibum sambil meletakkan kacamata Jaejoong di salah satu rak yang ada di dekatnya.

"Tapi aku tidak bisa melihat dengan jelas tanpa kacamata!" tolak Jaejoong. Memang dia akui kalau tanpa kacamata, wajahnya terlihat lebih baik. Tapi kacamata sangatlah menolong dirinya untuk membaca, menulis, dan sederet kegiatan lainnya.

"Ya ampun, kau ini sangat tidak tahu tren! Kajja, kita harus mencari kontak lens untukmu!"

.

.

.

.

.

"Terimakasih untuk hari ini!" seru Jaejoong sambil menutup pintu mobil milik Kibum. Sekarang ia sudah berada di depan pintu rumahnya setelah membeli kontak lens.

"Jangan lupa dipakai Jae! Besok aku tidak mau lihat kacamata mengganggu itu bertengger di hidungmu. Oke?" perintah Kibum sambil tertawa.

"Tentu!"

Mobil hitam milik Kibum pun melaju meninggalkan Jaejoong. Saat hendak mengetuk pintu rumah, seketika ia mengingat sesuatu. Ya, dia hanya bilang ke ummanya kalau dia akan bermain ke rumah temannya, bukannya malah pergi ke salon seperti tadi. Dan dia yakin sekali, pasti ummanya akan terkejut melihat dirinya sekarang.

'TOK TOK!' Jaejoong mengetuk pintu. Tak lama, terdengarlah sahutan dari dalam rumah.

"Yaa, tunggu sebentaar!" sahut suara cempreng dari dalam. Tentu saja suara Taemin.

'CEKLEK'

Taemin yang matanya sedang terfokus di komiknya kini menengadahkan kepalanya. Dan kini yang ia lihat adalah...Han Jaejoon? Tapi tunggu, untuk apa artis tenar ini datang ke rumahnya?

"Anda siapa?" tanya Taemin pura-pura tidak tahu. Padahal dia tahu betul artis tampan ini. Sayangnya, dia salah. Ini bukan Han Jaejoon seperti yang dia inginkan!

Sementara itu Jaejoong melongo. Adiknya sendiri sampai tidak bisa mengenalinya. Seberapa drastiskah perubahannya sampai adiknya bersikap seperti ini? Jaejoong hanya merasa kulitnya lebih cerah, itu saja. Dan hanya itu perubahan dari dirinya yang lama dan sekarang.

"Kau..tidak mengenaliku?" tanya Jaejoong menunjuk dirinya sendiri. Sementara Taemin memasang pose bingung.

"Hm...kau ini yang berperan di drama itu ya? Aduh..siapa itu namanya...Oh ya! Han Jaejoon! Benar kan?" tebak Taemin pura-pura. Ayolah, siapa yang tidak kenal Han Jaejoon?

"H-hah? Pabbo! Aku ini hyungmu, Jaejoong! Kim Jaejoong! Bukan Han Jaejoon!" Jaejoong mempoutkan bibirnya sambil menepuk bahu Taemin agak keras. Dan Taemin pun melongo.

"UMMMAAAAAA!" seketika itu Taemin berlari masuk ke dalam rumah, meninggalkan Jaejoong sendirian di depan pintu. Entah apa maksud dongsaengnya itu berteriak memanggil ummanya. Jaejoong masuk ke rumah dan menghempaskan dirinya di sofa yang ada di ruang tamu, lalu membuka sebuah bungkusan yang isinya adalah kontak lens yang tadi dibelinya. Kontak lens dengan warna bening. Tadinya ia memilih untuk membeli kontak lens dengan warna hitam, tapi ia mengurungkan niatnya, mengingat warna matanya yang sudah hitam pekat itu. Beberapa menit kemudian, Taemin datang bersama sang umma yang masih memegang spatula di tangan kanannya.

"Umma! Lihat itu!" seru Taemin sambil menunjuk-nunjuk Jaejoong. Umma mereka pun mengernyitkan dahinya. "Dia mengaku-ngaku sebagai Jaejoong hyung!"

Umma mereka pun mendekatkan dirinya ke arah Jaejoong. Dipandangnya namja yang ada di depannya.

"Anda...?" tanyanya ragu-ragu.

Jaejoong berdecak pelan lalu meletakkan bungkusan yang berisi kontak lens tersebut di atas meja. Dia menatap ummanya dengan malas.

"Umma, ini aku, Jaejoong! Tolong jangan bersikap seperti ini!" ucapnya kesal.

Sang umma mendudukan dirinya di sebelah Jaejoong. Dia masih meragukan apakah namja yang di depannya ini benar-benar Jaejoong. Sebenarnya suara namja ini memang persis dengan suara Jaejoong, tapi dia masih bisa belum percaya.

"Umma..." rengek Jaejoong. "Apa yang harus aku lakukan agar umma percaya padaku?" lanjutnya lagi. Dari nada pengucapannya, dia terlihat putus asa. Umma mereka melirik ke arah Taemin, seolah meminta ide dari anak bungsunya itu.

"Begini saja..." ucap Taemin yang sedang bersender di tembok. "Kau harus memasak bibimbap untuk kami!"

Umma mengangguk tanda setuju dengan usul Taemin. "Kau tahu? Jaejoong anakku itu pintar sekali memasak, dan bibimbap buatannya itu berbeda dari yang lain!" ucapnya sambil membanggakan Jaejoong.

"Yasudah, ayo kita ke dapur! Kita lihat apakah dia benar benar Jae hyung atau sekedar orang yang mengaku-ngaku, umma!" ajak Taemin sambil menarik-narik lengan ummanya menuju dapur, diikuti Jaejoong yang cemberut sambil mempout-kan bibirnya di belakang mereka.

.

.

.

.

.

"Ini, silakan dimakan!" ucap Jaejoong sambil meletakkan dua mangkuk bibimbap didepan umma dan adiknya. Ummanya dan Taemin tidak melihat Jaejoong memasak bibimbap secara keseluruhan. Setelah 10 menit, mereka meninggalkan Jaejoong yang memasak di dapur menuju ruang makan.

"Hmm, baunya enak!" ucap Umma mereka kagum sambil menghirup asap yang mengepul dari mangkuk.

"Hanya baunya! Siapa tahu masakannya tidak enak!" kata Taemin tanpa memperdulikan perasaan Jaejoong. Dia menatap hyungnya dengan tatapan meremehkan, "Kalau rasanya berbeda dengan yang dibuat Jae hyung, berarti kau hanya mengaku-ngaku sebagai hyungku!"

"Sudahlah Taemin. Ayo kita makan!"

Jaejoong yang berdiri disamping meja makan menatap umma dan dongsaengnya yang sedang makan dengan santai. Dia yakin betul kalau bibimbap buatannya tadi enak seperti yang biasa dia buat. Dengan begitu, mereka akan percaya kalau dia benarlah Jaejoong.

"Uh, ASIN!"

Mata Jaejoong membulat ketika Taemin membanting sendoknya ke piring. "Bibimbap ini keasinan! Aku tidak suka! Berarti kau bukanlah Jae hyung!" teriaknya sambil menunjuk-nunjuk Jaejoong tidak sopan. Sementara umma Kim hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Beritahu aku yang sebenarnya, siapa kau?" tanya umma Kim. Jaejoong menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Umma..tolong percaya padaku. Ini aku, Kim Jaejoong, anak umma!" jawab Jaejoong memelas. Sementara Taemin menatap tajam kepadanya, dan umma Kim tidak menjawab pernyataan Jaejoong.

"Umma...kumohon!" kata Jaejoong lagi. Matanya sudah berkaca-kaca. Perlahan-lahan umma Kim dan Taemin bangkit dari kursinya, mendekati tubuh Jaejoong.

"Hehehe...kami hanya bercanda, Joongie!" ucap umma Kim sambil tertawa. Taemin pun tertawa tak kalah kencang, "Kau hampir menangis hyung!" ejek Taemin.

Jaejoong memandang kesal umma dan adiknya. Ternyata ini adalah akal-akalan mereka saja. Tapi bukankah di awal memang mereka sempat tak percaya kalau dia benar-benar Jaejoong?

Jawabannya adalah, saat mereka meninggalkan Jaejoong memasak, umma Kim sudah yakin kalau itu benar-benar Jaejoong. Terlihat dari cara memasaknya, dan lain-lain. Lalu dia dan Taemin merencanakan drama yang tadi terjadi di atas saat menunggu di ruang makan. Huh, dasar ibu dan anak yang evil-_-

.

.

.

.

.

Ini adalah Senin. Hari pertama Jaejoong datang ke sekolah dengan penampilan barunya. Yah, kalian bayangkan saja seperti tokoh laki-laki di kartun manga. Rambut dan mata doe yang hitam pekat, bibir semerah cherry, dan kulit putih porselennya. Sesekali orang-orang yang lewat di depannya berbisik-bisik sambil memandang ke arah Jaejoong.

"Apakah itu Kim Jaejoong?"

"Wah, dia tampan sekali!"

"Dia bukan Kim Jaejoong, dia Han Jaejoon!"

Kira-kira itulah pembicaraan mereka yang sempat didengarkan oleh Jaejoong. Memang tidak enak melihat orang-orang yang berlalu di depanmu berbisik bisik tentangmu, tapi Jaejoong tak mempermasalahkan itu semua, toh yang mereka bicarakan bukan hal hal yang jelek.

Jaejoong melangkahkan kakinya ke kelasnya. Suasana kelas tidak jauh berbeda dengan keadaan saat di perjalanan tadi. Semua orang berbisik-bisik saat melihat Jaejoong, bahkan ada yang tertangkap basah sedang tersenyum tidak jelas saat melihat wajah Jaejoong. Terlihat Kyuhyun, Junsu, Shindong, dan Kibum yang sedang duduk di bangku masing-masing. Mereka tertawa geli melihat reaksi siswa siswa lain saat melihat Jaejoong.

"Aduh...kau tampan sekali!" ucap Kyuhyun menirukan kata-kata siswa lain sambil tertawa. Dia pura-pura berbisik bisik kearah Shindong untuk memanas-manasi Jaejoong.

"Haha, terimakasih!" jawab Jaejoong percaya diri. "Eh, kalian tahu tidak, kemarin umma dan Taemin hampir tidak mengenalku! Untung mereka hanya berpura-pura," cerita Jaejoong tentang kejadian kemarin. Tak satupun teman-temannya yang kasihan dengannya, semuanya tertawa.

"Itu karena kau terlalu tampan Jae!" kata Junsu. Jaejoong meletakkan tasnya di atas meja, kali ini dia duduk sebangku dengan Junsu, Shindong duduk sebangku dengan Kibum, dan Kyuhyun sebangku dengan anak jenius pemenang olimpiade IPA seprovinsi, yang author tidak usah sebutkan namanya.

"Oh ya...kau tahu? Tiffany Hwang sudah mendengar kabar tentang kecan..eh, ketampananmu!" ucap Shindong yang tadi sempat meralat ucapannya sendiri. Dalam hati dia menyalahkan dirinya, mengapa dia selalu berfikir kalau Jaejoong cantik. Walau sebenarnya Jaejoong lebih cocok dibilang cantik daripada tampan.

"Benarkah? Lalu apa yang dia lakukan?" tanya Jaejoong antusias.

"Ya dia hanya menghentak-hentakkan kakinya ke tanah dengan wajah kesal, seperti orang tidak waras saja, hahaha!" tawa Shindong yang besar langsung menggelegar ke penjuru kelas.

"Sebenarnya, ada lagi yang dia lakukan." Kibum menutup buku; yang entah buku apa itu dengan mimik wajah misterius layaknya detektif. "Aku yakin, dia berusaha mencelakakanmu Jae. Aku dengar pembicaraan Tiffany, Yuri, dan Sooyoung tadi saat sedang berjalan menuju toilet." Ucapnya datar.

"Mencelakakanku? Memang apa yang akan mereka lakukan padaku?"

"Aku tidak tahu. Yang aku dengar hanyalah 'Pasti Jaejoong itu akan kapok dan tidak akan mendekati Yunho oppa lagi!'. Dengan kalimat itu, aku bisa menyimpulkan kalau mereka merencanakan sesuatu yang tidak baik padamu. Makanya, seharian ini kau harus dijaga ketat oleh kami! Begitupun besok ataupun lusa!" kata Kibum serius.

"Maksudmu, kita akan menjadi bodyguard Jaejoong? OH MAAF, AKU TIDAK MAU!" kata Kyuhyun tak terima. "Masih banyak yang akan kulakukan untuk membuat Changmin hyung tunduk dan menyerahkan cintanya kepadaku!" tambahnya lagi dengan cara bicara berlebihan. Tentu saja dia belajar berbicara seperti itu lewat drama.

"Aku juga! Aku jadi mengincar Yoochun hyung akhir-akhir ini!" kata Junsu.

"Kalian ini teman yang baik bukan sih? Aku juga mengincar Siwon hyung, tapi aku bisa menunda kegiatan untuk mendekatinya!" kata Kibum.

"Ah, kasihan sekali kalian...aku sih tidak pelru repot-repot. Aku sudah mempunyai jodoh...atau lebih tepatnya pacar, hahaha!" ucap Shindong bangga, membuat teman-temannya yang lain melongo. "Kau...kau sudah berpacaran? Dengan siapa?" ucap mereka serempak.

"Hmmm..kasih tahu tidak ya?" kata Shindong membuat teman-temannya penasaran. "Inisialnya adalah N..."

Semua memutar otak. N? Banyak sekali inisial N di Tohoshinki School.

"Yeoja atau namja?" tanya Junsu.

"Yeoja! Dia adalah yeoja yang sangat cantik!" jawab Shindong.

"Apakah seangkatan dengan kita? Yeoja dari kelas mana?" tanya Junsu lagi.

"Ya, dia ada di kelas 8A~"

"Wah, itu artinya dia sekelas dengan si yeoja menyebalkan itu dong?" kata Kyuhyun.

"Begitulah!"

"Hmm...siapa ya? Nana yang temannya Kahi itu bukan?" tebak Kyuhyun.

"Salah!"

"Hmmm..bagaimana dengan TaeyeoN? Atau SeohyuN?" tebak Kyuhyun makin kacau dengan penekanan huruf N di akhir.

"Atau...JiyeoN?" tambah Jaejoong.

"Eh, jangan bilang kalau...TiffaNy?" kali ini tebakan Junsu-lah yang paling kacau.

"Ya ampun! Semuanya salah! Huruf N nya ada di depan! Bukan di belakang, terlebih lagi di tengah-tengah seperti Tiffany!"

"Aku tahu..." sahut Kibum disaat semuanya sedang memutar otak kembali. "Jung Nari kan?" katanya yakin.

"Bagaimana kau bisa tahu?" Dan kini terkuak sudah, Shindong memang berpacaran dengan Nari.

"Hmm...kasih tahu tidak ya?" ucap Kibum meniru perkataan Shindong sambil menjulurkan lidahnya.

"KAU BERPACARAN DENGAN NARI? WAH, CHUKKAE!" Jaejoong, Junsu, dan Kyuhyun langsung memeluk Shindong dengan erat. "Mengapa tidak pernah cerita? Memang kami bukan temanmu?" ucap Junsu kesal.

"Hehe, aku malas saja, lagipula kan sekarang kalian sudah tau. Nah, bagaimana nanti sepulang sekolah ku traktir makan siang? Oke?" dan ajakan Shindong langsung mendapat anggukan senang dari 4 temannya.

Meanwhile...

3 orang yeoja dengan wajah cantik dan tinggi semampai sedang berjalan di koridor sekolah dengan sombong. Kedua tangan mereka disilangkan, sesekali memandang remeh orang-orang yang lewat di depan maupun samping mereka. Saat tengah berjalan anggun, seorang yeoja yang merupakan adik kelas mereka ber 3 datang menghampiri mereka sambil menunduk. Tangannya menggenggam sesuatu. Yeoja tersebut pun menyodorkan benda yang ada di genggamannya tadi ke arah 3 orang yeoja di depannya yang ternyata adalah Tiffany, Yuri, dan Sooyoung. 3 siswi paling populer dan cantik di Tohoshinki School.

Yeoja adik kelas mereka itu mendongakkan kepalanya, berhubung tingginya yang lebih pendek dari Tiffany, Yuri, dan Sooyoung. Dia tersenyum kecil, "Unniedeul..." ucapnya ramah sambil tersenyum malu. Tiffany melirik ke arah name tag yang ada di bagian kiri seragam sekolah yeoja itu. "Choi Sulli..." gumamnya pelan.

"Ada apa?" tanya Tiffany sinis. Sementara itu Yuri dan Sooyoung yang berjalan di belakangnya malah mengagumi adik kelas yang bernama Sulli ini, terbukti dengan ucapan mereka yang di dengar oleh Tiffany seperti "Aigoo, anak ini amat manis!", dan "Andaikan saja dia adikku!".

"Ehm, aku...aku sangat mengagumi unniedeul, andaikan saja aku punya wajah secantik kalian!" ucapnya agak gugup, tapi senyuman di wajahnya tidak sama sekali memudar. "Oh ya, aku juga membuatkan kue kering ini untuk kalian, dan aku menganggap kalian seperti idolaku sendiri!" tambahnya lagi. Senyuman mengembang di wajah Tiffany.

"Jadi, maumu apa?" tanya Tiffany lebih ramah dari sebelumnya. Sulli menunduk sambil tersenyum, "A-aku..ingin sekali bergabung dengan kalian, unniedeul. Andai saja itu dapat terjadi, aku akan sangat senang.." jawab Sulli.

"Tentu saja boleh! Kami dengan senang akan menerimamu!" sebelum Tiffany yang merupakan 'ketua' mereka menjawab, Yuri dan Sooyoung malah menanggapi Sulli terlebih dahulu. Tiffany langsung membalikkan badannya kebelakang dan memelototi Yuri dan Sooyoung. "Keputusan hanya ada di tanganku!" desisnya.

Menyadari situasi yang kurang enak, Sulli bertanya lagi. "Jadi...bagaimana unniedeul? Aku juga tak akan marah jika kalian tidak menerimaku" katanya.

"Kau bisa bergabung dengan kami..." ucap Tiffany sambil tersenyum licik, dan itu sangat terlihat menyeramkan bagi Sulli. "Tapi ada syaratnya!"

"Apa itu unnie? Sebisa mungkin aku akan melaksanakannya!" ucap Sulli yakin. Dia sudah terlanjur terobsesi masuk ke kelompok Tiffany, jadi apapun akan dia lakukan.

"Hmm, kau tahu Kim Jaejoong?" tanya Tiffany memelankan volume suaranya, takut kalau ada yang mendengar.

Sulli mengangguk pasti, "Tahu unnie, yang tampan itu kan? Murid kelas 8B kan? Aku melihatnya tadi pagi!"

Tiffany, Yuri, dan Sooyoung sweatdropped.

"BICARA APA KAU TADI?" bentak Tiffany keras tepat di hadapan wajah Sulli sambil berkacak pinggang, layaknya bos yang sedang memarahi bawahannya. Sulli yang ketakutan langsung berjalan mundur sambil menundukkan kepalanya.

"Tiff! Kau menakutinya!" teriak Sooyoung sambil menarik bahu Tiffany agar beranjak mundur dari hadapan Sulli. Yuri pun berjalan mendekat ke arah Sulli dan merangkulnya dengan ramah. "Sudah, jangan takut. Dia memang biasa begitu.."ucap Yuri menenangkan Sulli yang masih shock diteriaki oleh sunbaenya di sekolah.

"Huh, mendengar namanya saja aku sudah emosi!" kata Tiffany. Sementara Yuri dan Sooyoung hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah 'ketua' mereka.

"Jadi begini ya...Sulli-sshi, aku ini sangat benci Kim Jaejoong. Sekalipun aku dibayar untuk tidak lagi membencinya, aku juga tidak mau. Jadi tugasmu adalah melaksanakan apa saja perintah kami untuk membuat Jaejoong menderita. Kalau kau membantah, aku tak akan segan mengeluarkanmu dari kelompok ini!" ucap Tiffany tegas. Sulli mencerna perkataan Tiffany, maka dari itu dia tak langsung mengangguk tanda setuju.

"Mengerti tidak?" tanya Tiffany agak keras.

"A-apakah aku boleh bertanya?" tanya Sulli sambil memberanikan diri menatap Tiffany. Sebelum mendapat persetujuan, Sulli langsung mengajukan pertanyaan.

"Kenapa unnie membenci Jaejoong oppa?" tanya Sulli ragu-ragu, dia takut dimarahi lagi.

"Karena...dia merebut Yunho-ku!" jawab Tiffany dengan percaya diri menyebut Yunho itu miliknya. "Kau tahu kan seberapa sakitnya jika sesuatu milikmu direbut orang lain?" tanya Tiffany, dan dijawab anggukan oleh Sulli.

"Maka dari itu, laksanakanlah perintah kami. Arasso?"

"Ah, oke..Baiklah unnie"

"Nah, bagus. Sekarang kembalilah ke kelasmu, bel sebentar lagi akan berbunyi!" suruh Tiffany sambil mengambil kotak kue kering dari Sulli. Sulli mengangguk dan meninggalkan mereka dengan perasaan senang. Tidak sepenuhnya senang sebetulnya, karena diam-diam Sulli juga mengagumi ketampanan Jaejoong yang dia lihat tadi pagi. Maka dari itu dia sedikit merasa tidak enak kalau disuruh melakukan kejahatan pada Jaejoong, padahal Jaejoong tidak bersalah. 'Sudahlah, aku kan harus menuruti perintah Tiffany unnie' batin Sulli sambil terus berjalan menuju kelasnya yang ada di lantai 1.

"Haha, dasar anak polos!" ucap Tiffany sambil tertawa. "Mau saja kusuruh melakukan ini-itu pada Jaejoong! Dia tak tahu saja kalau Jaejoong punya 'pasukan' yang siap menyerbunya dikala dia melaksanakan perintah kita.." tambahnya lagi tanpa rasa kasihan.

"Ckck, kau ini sangat kejam! Aku takkan tega melihatnya luka-luka akibat dipukuli teman-teman Jaejoong nanti!" ucap Sooyoung prihatin.

"Menurutku juga lebih baik kita ikut melaksanakan misi kita sendiri. Dia terlalu polos untuk melakukan itu semua. Perlahan-lahan dia akan membocorkan kalau semua hal yang dilakukannya pada Jaejoong adalah perintah kita!" jelas Yuri.

Tiffany terkekeh pelan, "Biarkanlah dia melaksanakannya sendiri dulu. Kalau dia melaksanakannya dengan baik tanpa membocorkan siapa yang menyuruhnya melakukan hal hal itu, kita tidak usah ikut-ikut!" Tiffany pun berjalan lagi menuju kelas meninggalkan 2 temannya yang masih tertinggal di belakangnya.

.

.

.

.

.

Semua pemain dalam klub drama sudah berkumpul di ruang auditorium sekolah. Sang koordinator, Jessica Jung sedang menerangkan alur cerita drama yang akan mereka mainkan, yaitu Time Slip Dr. Jin.

"Jadi, nanti saat Kim Kyung Tak sedang menyelamatkan Hong Young Rae ke hutan, ada seorang prajurit kerajaan yang berhasil menembakkan pelurunya ke arah Kim Kyung Tak. Dan saat itu juga, Dr Jin yang baru saja masuk ke dinasti Joseon melihat kejadian itu. Nah, disaat itulah Kim Kyung Tak dan Dr Jin bertemu. Dr Jin dengan keahlian medisnya dari zaman modern menyembuhkan Kyung Tak yang terkena luka tembak" jelas Jessica panjang lebar sambil berjalan mondar-mandir di depan anak-anak anggota klub drama.

"Ooo begitu..." ucap anggota klub drama serempak. Salah satu dari mereka pun mengacungkan tangannya ke atas. "Ada yang ingin ditanyakan?" tanya Jessica pada anak itu.

"Yang akan berperan sebagai Dr. Jin dan Hong Young Rae siapa, seonsaengnim?" tanya anak yang bernama Onew tersebut. Jessica segera menepuk jidatnya setelah Onew mengajukan pertanyaan.

"Ya ampun, padahal semalam aku sempat mencari-cari siapa yang cocok untuk memerankan mereka, tapi saking lelahnya aku lupa" ujarnya menyesal. "Hmm...siapa ya? Kau mau jadi Dr Jin, Onew?" tawar Jessica.

"Hah? Kenapa aku? Aku ingin menjadi banditnya seonsaengnim!" tolak Onew.

"Yasudah, kau yang jadi Young Hwi si bandit ya, berarti kau akan adu pedang dengan Jaejoong nanti! Hmm...siapa ya yang menjadi Dr. Jin dan Young Rae?" Jessica mengedarkan pandangannya ke seluruh anak anggota klub drama yang sedang duduk di depannya.

"Dr. Jin tampan...Young Rae cantik..AH AKU TAHU!" setelah bergumam, akhirnya dia berteriak cukup keras. "Siapapun itu yang Jum'at kemarin aku suruh membantu meletakkan properti, suruh dia yang menjadi Dr. Jin!" perintahnya. Sementara anggota klub saling bertanya-tanya siapa yang dimaksud Jessica.

"Maksud seonsaengnim, Yunho hyung?" tanya Jaejoong yang beberapa hari yang lalu melihat Yunho sedang menggeser pohon triplek.

"Oh ya, aku baru ingat. Jung Yunho! Ya, suruh dia yang memerankan Dr. Jin!"

"DIA YANG AKAN MEMERANKAN DR. JIN? JINJJA?" Jaejoong langsung bangkit dari duduknya karena terlalu bahagia. Dia akan bermain satu drama dengan Yunho! Itu artinya, dia mempunyai kesempatan lebih banyak untuk mendekati namja bermata musang itu. Tak Jaejoong sadari, semua mata telah tertuju padanya, tak terkecuali 4 sahabatnya yang sudah terkikik geli melhat tingkahnya.

"Kenapa? Tidak setuju?" tanya Jessica sambil cengar-cengir. Tentu saja Jessica tahu kalau Jaejoong menyukai Yunho, itu terlihat dari sikap Jaejoong.

"Ah..ani, aku setuju kok" Jaejoong menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, lalu kembali duduk di kursinya.

Jessica tertawa, "Nah, sekarang tinggal mencari pemeran Young Rae..ah! Bagaimana kalau kau, Krystal?" tanya Jessica pada murid yang bernama Krystal itu. Dia duduk di kelas 7.

"Umm, baiklah seonsaengnim" katanya tanpa penolakan.

"Bagus, sekarang tokoh utamanya sudah mempunyai pemeran. Tinggal mencari pemeran untuk tokoh lainnya saja" ucap Jessica. Dia mengambil setumpuk kertas yang merupakan naskah dari drama, lalu membagi-bagikannya ke anggota klub.

"Oh ya, mulai besok, kalian akan setiap hari berlatih drama. Sekarang kalian hapalkan saja dulu naskahnya, lalu kita coba latihan" jelas Jessica.

"Dan ini," Jessica menyerahkan sebuah naskah sisa ke arah Jaejoong. "Berikan pada Yunho, dan jangan lupa suruh dia latihan besok!"

Jaejoong menerima naskah itu sambil melongo.

"Ehm..." ucap Kibum memecah lamunan Jaejoong. Tapi Jaejoong tak sadar-sadar.

"Sudahlah, biarkan dia tenggelam dalam lamunanya, huahahaha" ujar Shindong.

.

.

.

.

.

5 orang yang tentunya kita sudah tahu siapa saja sedang berjalan menuju area parkir motor Tohoshinki School. Jaejoong yang tadi mendapat tugas dari Jessica untuk menyerahkan naskah kepada Yunho mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru area parkir untuk mencari Yunho, tapi tidak ketemu.

"Kalian jangan pulan dulu! Aku masih harus menyerahkan ini!" ucap Jaejoong saat melihat ke 4 temannya sudah duduk dan menyalakan mesin motornya masing-masing.

"Sudah sore Jae, besok saja!" ujar Junsu malas.

"Lagi pula, mungkin saja Yunho hyung sudah pulang!" tambah Shindong.

"Belum pulang! Tuh, masih ada motornya!" tunjuk Jaejoong ke arah motor merah yang terparkir di pojok area parkir.

"Jadi kau mau menunggu sampai dia pulang?" tanya Kibum dan dibalas anggukan dari Jaejoong. "Siap-siaplah menunggu lama! Ara noona sering bercerita padaku kalau Yunho hyung itu sering pulang sore karena main bola!" kata Kibum iseng, sengaja membuat Jaejoong patah semangat.

"Aku bersedia menunggu sampai kapanpun!" ucap Jaejoong keras penuh dengan keyakinan. Kalau sudah begini, yang lain tidak bisa apa-apa. Mau tidak mau, mereka harus mengikuti kemauan Jaejoong.

"Yasudah..." kata Kyuhyun melemah. Dia terpaksa meninggalkan episode terakhir drama City Hunter yang ditayangkan sore ini. Dan semua ini karena Jaejoong!

"Bagaimana kalau kita menunggunya di kursi depan lapangan bola?" tawar Jaejoong. Tanpa menunggu persetujuan yang lain, Jaejoong langsung berlari meninggalkan 4 temannya menuju lapangan bola.

Mereka ber 5 menghempaskan tubuhnya ke kursi yang ada tepat di depan lapangan bola. Disini bisa terlihat jelas siapa saja yang bermain bola saat itu. Ada Yunho, Changmin, Hyunjoong, Siwon, dan Yoochun. Yunho yang merupakan kapten tim sepakbola sekolah dengan lihainya menggiring bola dengan kakinya. Walau banyak orang yang menghadang jalannya untuk memasuki bola kedalam gawang, tapi bola itu tetap aman dalam kendalinya. Jarak semakin dekat antara bola dan gawang, dengan pasti Yunho menendang bola itu dengan keras.

GOL!

Yunho berhasil menambah skor timnya. Seperti yang terlihat di papan skor, tim Yunho menang dengan skor 2-0.

Jaejoong yang sedari tadi memerhatikan wajah Yunho menelan ludahnya. Yunho terlihat sangat...seksi di matanya. Keringat mengalir di kening dan pelipisnya, lalu...(berhubung author gamau puasanya batal jadi gausah dilanjut lagi penjelasannya yah-_-)

Jaejoong tertunduk seolah tidak kuat melihat keadaan Yunho yang seperti itu. Yunho terlalu tampan. Apalagi saat bermain bola. Ingin sekali Jaejoong berlari dan mengelap keringat yang mengalir di kepala Yunho, tapi sayang dia tidak punya handuk (?)

Tak Jaejoong sadari, saat dia menunduk, Yunho memandangnya. Sambil tersenyum. Untung saja Jaejoong tidak melihat, kalau dia melihatnya, dijamin dia akan mati ditempat sekarang juga.

"Teman-teman, aku duluan ya?" ujar Yunho.

"Yah, cepat sekali! Mau kemana?" tanya Hyunjoong sambil menepuk bahu Yunho. "Hehe, ada sesuatu.." kata Yunho sambil tertawa. "Yasudah, besok main lagi ya!"

"Jae, Yunho hyung sudah mau pulang tuh. Kita ke parkiran saja yuk?" ajak Junsu sambil menarik-narik lengan Jaejoong. Mereka ber 5 pun meninggalkan area lapangan untuk menuju parkir.

Sementara itu, Yunho yang berniat untuk menghampiri Jaejoong yang sedang duduk di depan lapangan bola bergumam, "Lah, baru saja mau aku datangi, kok malah pergi?-_-"

Yunho meraih tasnya yang ada di pinggir lapangan, hendak menuju parkir. Dan saat sudah berada di area parkir kini dia melihat lagi Jaejoong yang sedang berdiri di samping motornya. Tanpa pikir panjang, dia langsung menghampiri Jaejoong.

"Ehm.." Yunho berdehem, menyadarkan Jaejoong yang sedang membaca naskah milik Yunho.

"E-eh? Sudah datang ya? Aku..aku disuruh menyerahkan ini" ucap Jaejoong gugup sambil menyodorkan naskah drama ke arah Yunho. Yunho pun mengambilnya.

"Memangnya aku ikut drama ini? Bukannya aku hanya mengurus properti saja?"

"Aniyo, kau ikut. Kau menjadi Dr Jin, Yunho hyung" Jaejoong agak malu ketika menyebut nama Yunho. Langsung saja dia berpura pura memainkan kukunya agar tak terlihat gugup.

"Ooh, jadi aku akan menyelamatkanmu ya nanti?" tanya Yunho sambil membaca naskah drama di halaman depan.

"Ya begitulah..." jawab Jaejoong pelan. Yunho memasukkan naskah drama itu ke tas ranselnya, "Kapan mulai latihan?"

"..."

"Hei.." ujar Yunho sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Jaejoong. Jaejoong terlalu serius memerhatikan wajah Yunho rupanya.

"e-eh? Tadi hyung tanya apa?" kata Jaejoong yang semakin gugup. Keringat dingin sudah mengucur di tubuhnya.

"Kapan mulai latihannya?" ulang Yunho sambil menahan tawa. Ekspresi Jaejoong saat menatapnya sangat lucu. Untung saja Yunho berkonsentrasi, kalau tidak, dia juga akan bisa memandang Jaejoong seperti cara Jaejoong memandangnya.

"Besok hyung" jawab Jaejoong pasti.

"Ah, oke.." kata Yunho.

...Hening. Tak satupun dari mereka yang berbicara. Jangan tanyakan tentang Kyuhyun, Junsu, Shindong, dan Kibum. Mereka sengaja meninggalkan Jaejoong berdua dengan Yunho. Sebenarnya sih, tidak berdua...

"Oh iya.." ucap Yunho memecah keheningan yang dia anggap membuatnya sedikit canggung. "Kau tidak pulang?"

"..." Jaejoong tidak menjawab. Yah, sepertinya dia terlalu terpesona akan seorang Jung Yunho.

"Kau tidak pulang?" tanya Yunho lagi lebih keras. Aneh, biasanya dia akan marah jika pertanyaannya tidak dijawab oleh orang lain. Tapi kenapa jika Jaejoong yang melakukannya dia tidak merasa marah? Malah, Yunho sangat senang dengan keadaan Jaejoong yang memandang wajahnya seperti orang terkesima itu.

"A-ah! Aku baru saja ingin pulang!" Jaejoong yang sadar kembali pun membuka kantong samping tas ranselnya, berniat untuk mencari kunci motor.

'Kok tidak ada ya?' batin Jaejoong. Dia segera mencari lagi ke kantong samping kiri tas ranselnya, tapi juga tak ditemukannya kunci motornya.

'Mungkin terselip dengan buku..' Jaejoong mencari lagi. Dan hasilnya nihil. Semua kantong dan isi tasnya sudah dia periksa, tapi dia tetap tak menemukan kunci motornya. Lalu bagaimana dia bisa pulang?

"Ada apa Jae?" tanya Yunho yang melihat ekspresi tidak enak dari wajah Jaejoong.

"Itu, kunci motorku tidak ada.."

"Mungkin ketinggalan?"

"Tidak. Aku tidak pernah mengeluarkan kunci motorku dari tas" jelas Jaejoong.

Ini adalah kesempatan, pikir Yunho. Kesempatan membuat Jaejoong (semakin) jatuh hati padanya. Terlebih lagi Jaejoong sudah berubah sekarang, tanpa kacamata, tanpa kulit kusam, dan Yunho sangat mengagumi itu semua.

"Bagaimana kalau kau pulang denganku saja?" tawar Yunho sambil memberikan senyuman. Dengan senyuman seperti itu, siapa yang bisa menolak?

"Kau yakin hyung?" tanya Jaejoong berusaha mengendalikan diri. Bisa saja kalau dia lepas kendali dia akan berteriak-teriak saking senangnya.

"Tentu saja!" Yunho menaiki motornya, lalu menyalakan mesin motor itu, "Ayo naik!" ajak Yunho.

"Tapi..motorku?"

"Sudah, disini kan aman. Besok kita cari lagi kunci motormu" jawab Yunho.

'kita...kita...KITA?' Jaejoong tersenyum, menampilkan sederet giginya yang dipasangi kawat gigi. Oh, ternyata dia lupa kalau saat itu Kibum memberitahukannya jika Yunho tidak suka orang berkawat gigi.

"Eh? Kau pakai kawat gigi?" tanya Yunho sambil mengernyitkan dahinya.

DEG.

"I-iya..." jawab Jaejoong. Asal tahu saja, Yunho memang BENAR-BENAR tidak suka orang yang berkawat gigi.

"Ooh. Yasudah, ayo naik!" ajak Yunho agak lebih dingin dari sebelumnya. Mungkin moodnya langsung 'down' begitu melihat orang yang membuatnya tertarik; lebih tepatnya orang yang disukainya memakai kawat gigi. Jaejoong pun langsung naik dan duduk di belakang Yunho.

Sebelumnya, author sudah bilang kalau mereka tadi tidak hanya BERDUA saja. Mau tahu siapa orang ketiganya? Mari kita lihat di bagian belakang pagar kawat yang mengelilingi area parkir Tohoshinki School. Disana terdapat Choi Sulli, yang sambil tersenyum menggenggam kunci motor milik Jaejoong.

"Itu tadi romantis sekali! AAA!" setelah Yunho dan Jaejoong pergi, Sulli yang sedari tadi menahan dirinya untuk berteriak kini berteriak sekencang-kencangnya sampai dia puas. Maklumlah, Sulli diam-diam adalah seorang fujoshi. Dan tak ada seorangpun yang tahu akan hal ini.

"Nah, yang penting aku sudah melaksanakan perintah unniedeul. Pulang ah!" dia langsung meninggalkan tempat itu dengan hati gembira, sambil mengantongi kunci motor Jaejoong yang menurutnya sangat berharga.

Sementara itu, Kyuhyun, Junsu, Kibum, dan Shindong bergidik ngeri mendengar teriakan bak nenek lampir yang terdengar di area parkir.

"Ih..pulang saja yuk!" kata Kyuhyun yang sangat takut, apalagi langit sudah berwarna oranye ditambah ungu, tanda sudah senja.

"Ayo! Apalagi sekolah sudah sepi, sepertinya hanya kita yang tersisa disini!" tambah Junsu.

"Tapi tunggu! Itu kan motornya Jaejoong!" tunjuk Kibum kearah satu motor yang masih terparkir di sebelah motornya.

"Sudahlah, paling dia pulang dengan Yunho hyung!" kata Junsu santai.

"Oh iya! Benar juga ya!" perkataan Junsu barusan disetujui Shindong. Dan mereka semua pun pulang, meninggalkan motor berwarna putih milik Jaejoong sendirian di tengah-tengah area parkir..

TO BE CONTINUED!


Poor Jae~~ wkwk cepet lepas behel dong makanya!

Jae: lo yang bikin gue kayak gini kenapa lo yang protes? *emosi*

Ailee: sabar oppaaa lagi puasa nih gaboleh marah marah.

Jae: oh.

Huahahaahahaaa si Sulli-_- ternyata oh ternyata...dirimu fujoshi wakakakakk

*balasan review chap 3*

thepaendeo: wahaha, congrats yah (?) makasih reviewnya :)

ELFishy123: ini udah lanjut, makasih reviewnya :)

baby quila: halo lagii! hehe seneng deh ada yg mau review bbrp chap berturut turut *terharu* :'D kayanya ada deh, hahaa, aku baru kepikiran yg taemin minta foto itu, makasih udh ngingetin^^ dan makasih reviewnya :)

Bloody Evil From Heaven: hehe iyaa, sip deh, makasih reviewnya :)

lee minji elf: okeee ;) ini udh lanjut, makasih reviewnya :)

Tha626-: hahaa, iya tuh yunho lelet, kan emg ceritanya jeje yg usaha banget disini udah lumayan 'bergerak' kan yunho nya?XD makasih reviewnya :)

jung hana cassie: kata yang lain sih cantik, hahaha XD okedeh, tp ini ada yang aku tambah-tambahin, yg kayak ada sulli gt gt itu sebenernya gaada di film-_- oalaah, kukira apaan, makasih reviewnya :)

gracecyndiana: iyaa gpp :D udh berubah kok, makasih reviewnya :) *peluk balik*

HyunLeeMin: huahahaa, pdhl yunho td udh sempet terpesona eh jeje msh pake behel-_- iyaa jae fighting! *bawa spanduk yunjae* makasih reviewnya :)

cassielf: iya :D ini udh lanjt, makasih reviewnya :)

Owkayy akhir kata ditunggu kiriman reviewnya (yang banyak*maksa*) dari para readers, kalo mau kirim album sexy free and single juga boleh kok :') (ps: usahain yang photocardnya kyuhyun^^)

x

Ailee Hamasaki